Tak Pernah Ternilai
by KunikidaDerai
Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa
Play Song :
Last Child - Tak Pernah Ternilai
Nikmati lagu, nikmati cerita.
Happy Reading.
Tanpa sadar, atau mungkin sudah tahu, kematian Oda menyiksa Ango dengan kejam. Menyiksa Ango dengan rasa bersalah yang seakan membunuh pria berkacamata itu secara perlahan.
Sedangkan Dazai, selalu menghindari Ango yang ingin menjelaskan semuanya. Sudah pasti Dazai paham apa yang terjadi, namun mengapa pria berambut cokelat itu tak mau menatap mata Ango yang seakan jelas mengatakan ikut menyesal.
Mau berapa kali pun Ango meminta maaf, maaf itu sama sekali tak pantas untuk Dazai dan Oda. Semua terbukti dengan Dazai yang tak pernah menganggapnya ada dan seakan tak mengenal dirinya.
Namun setidaknya Ango pernah ikut berjuang, menghapus jejak kriminal Dazai bukanlah hal yang mudah. Meski semua itu tak pernah ternilai di mata Dazai.
Setidaknya Ango juga ikut menanti, berdiri di depan makam Oda dengan penuh rasa menyesal. Terus melawan rasa sepi di hati yang terus-menerus terasa sesak. Meskipun begitu, hati ini tak bisa berhenti untuk mencintai kedua sahabatnya dulu.
Dazai menghukum hatinya, walau pada nyatanya pemuda itu pernah yakin bahwa baiknya hati Ango takkan pernah mengecewakannya.
Tapi, Ango bukanlah manusia berhati baik.
Sedangkan Oda, memutuskan untuk pergi. Menghadap maut yang sudah tentu terlihat dengan jelas. Padahal Ango belum sempat, untuk setidaknya memohon hingga mengemis agar pria berambut merah bata itu untuk tetap disini.
Tetap hidup dan menghadapi kenyataan bersama.
Penyesalan itu, membuat Ango sadar, ia membuat Dazai membenci sebenci-bencinya pada dirinya. Hingga walaupun Ango berada di depan mata pemuda itu, tetap saja terlihat tak ada di mata Dazai sendiri.
Tapi, setidaknya Ango pernah ikut berjuang, memberi peringatan dengan tetap datang ke bar Lupin walau dirinya dalam bahaya. Namun, memangnya pernah ternilai di mata Dazai?
Ango juga ikut menanti, merasa kesepian yang entah sampai kapan ujungnya. Dengan membawa seonggok hati yang juga terluka, namun tak bisa berhenti menyayangi sosok yang sudah tak memiliki nyawa.
Hingga pria berkacamata itu bertanya-tanya, apakah yang dilakukannya itu salah? Apakah pilihannya itu salah? Ango hanya menjalankan tugas, dan awalnya pun ia menolak kebaikan Oda dan Dazai yang diberikan kepadanya.
Namun siapa yang bisa bertahan menolak saat diberi sebuah ketulusan? Dan benar, semuanya hancur karena tugas yang diembannya.
Membuat Ango terus-menerus dibenci oleh Dazai atas matinya Odasaku.
Tapi, setidaknya Ango juga berjuang. Meski sama sekali tak pernah ternilai di mata Dazai, Oda, dan semua orang yang menganggapnya pengkhianat.
Ango juga ikut menanti, hingga lelah terkapar melawan sepi di hati. Menyerah dan membiarkan penyesalan menelannya begitu saja.
Setidaknya diriku pernah berjuang.
"Ango!"
"Odasaku-san?! Kenapa kau disini?! Pergilah! Ini jebakan!"
Meski tak pernah ternilai dimatamu.
"Jadi kau bukan mata-mata dua arah, tapi mata-mata tiga arah?"
"Ya ... itu pekerjaan yang sangat tidak pas untuk gaji yang pas-pasan."
Setidaknya ku pernah menanti.
"Ango. Cukup."
Foto diletakkan di bawah gelas, Ango bangkit dan pergi keluar begitu saja.
Terkapar melawan sepi hatiku.
Ango berdiri dengan menatap sendu sebuah nisan, rasa penyesalan yang mungkin takkan dilihat oleh semua orang, termasuk Dazai.
Yang tak pernah bisa berhenti, mencintaimu.
"To the stray dogs."
Gelas terangkat, diikuti dua gelas lainnya. Tak lama suara dentingan pun terdengar, disusul suara tiga orang bicara bersamaan.
"To the stray dogs."
End
:) gak tau ngetik apa.
