Summary: Berawal dari pengamatan Odasaku sebagai asisten pustakawan, beredar gosip di Toshokan kalau Akutagawa dan Dazai bertukar tubuh.

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

"Dazai-kun, baca apa?" Oda mengintip buku yang dipegang Dazai dengan usil. Hari itu dia bertugas jadi asisten pustakawan, dan melihat rekannya yang biasa meriah itu sedang serius menghadapi dua tumpuk buku, dia jadi penasaran.

"Eh? Ini ..." Oda mengerjap heran, kala mengenali judul-judul buku yang dipilih Dazai. "Bukunya Kikuchi-sensei? Tumben, biasanya kamu cuma reread bukunya Akutagawa-sensei ...?"

Oda sering berkeliling pustaka, jadi dia banyak mendengar percakapan antar bungou. Dia tahu soal Haruo yang mengeluh tidak mau terlibat lagi soal rekan buraihanya itu, atau Ibuse yang menyinggung masalah statusnya sebagai guru Dazai, di mana muridnya tersebut lebih sering membaca buku Akutagawa, tanpa pernah tampak menyentuh karyanya.

"Ah, itu ... tenang saja! Aku tadi bangun lebih awal, jadi sudah selesai reread buku Akutagawa-sensei untuk hari ini!"

Dazai memang seserius itu.

Oda manggut-manggut saja. Dia mengecek lagi tumpukan buku di hadapan Dazai, dan kembali heboh saat menemukan judul karangan Shiga.

"Dazai-kun baca bukunya Shiga-sensei?!"

"Diam, dong, Odasaku!"

Reaksi Oda sebenarnya cukup wajar. Mengingat Dazai sehari-harinya rajin menghujat Shiga, tentu saja terasa janggal melihatnya membaca karya si Dewa Novel. Belum lagi ketika mereka ribut perkara Shayou yang kena shinshokusha, Dazai sempat berargumen kalau tidak ada yang bisa mengerti tulisan Shiga, makanya dia bisa dapat julukan itu.

"Dazai-kun salah makan? Kamu keluar ruang perawatan sebelum pulih, ya? Luka gegara pertarungan terakhir itu masih ngaruh, kah?" Oda panik sendiri. Kalau ada Ango pasti lebih heboh, tapi kebetulan pria berkacamata itu sedang shensho ke bukunya Miyoshi.

"Bukan gitu, Odasaku!" Dazai menyangkal semua spekulasi yang memang rada-rada mirip satu sama lain.

Rasa penasaran Oda belum terjawab, ketika Shuusei tahu-tahu datang dan bilang kalau Dazai dipanggil oleh Kanchou.

Masih dengan kening berkerut, Oda lanjut bertugas. Di salah satu rak paling ujung, dia bertemu dengan Akutagawa yang membaca sambil lesehan di depan rak.

"Akutagawa-sensei, enggak ke meja?" sapanya, berasa seperti petugas toko buku Gramedia.

"Ah, Oda-kun, tadi niatnya cuma baca sebentar." Akutagawa bangkit, mengembalikan buku itu ke rak. Oda menyempatkan diri untuk membaca judulnya.

Rashoumon.

Akutagawa sudah keluar dari ruangan, sementara Oda masih terpaku. Dazai yang membaca buku Shiga, lalu Akutagawa membaca bukunya sendiri? Kejadian yang baginya terbilang langka itu membuat pikirannya jadi kemana-mana.

Maka tidak sampai siang, gosip baru sudah beredar di kalangan bungou yang lumayan dekat dengan dua orang itu.

Akutagawa Ryuunosuke dan Dazai Osamu bertukar tubuh.

Pertama-tama Oda hanya membicarakan hipotesanya itu pada Ango, yang menganggapnya menarik, jadi setuju-setuju saja. Pembicaraan mereka terdengar oleh Shimazaki, yang langsung tertarik untuk ikut mewawancarai orang-orang terkait soal ada tidaknya kejanggalan dari sikap mereka berdua.

Yang pertama-tama ditanyai, tentu saja anggota fraksi masing-masing.

"Jadi begitulah, apa ada yang aneh dari Akutagawa?" Shimazaki menandaskan, setelah mengulang penuturan Oda.

"Dazai baca bukuku? Aneh juga," Kan tercenung. "Tapi kalau kesimpulan kalian benar, berarti Ryuu yang baca bukuku, buat apa?"

"Soal keanehan Akutagawa-kun," Kume bergumam. "Ini tidak tahu aneh atau bukannya, sih, tapi kemarin sore aku bertemu dia di dekat pemandian."

"Beneran? Dia baru mandi dua hari lalu padahal!" Kan langsung ikutan heboh.

"Aku yakin tidak salah lihat."

"Segitunya kah?" Kafuu yang numpang lewat jadi turut mendekat. "Kalau aku jadi Akutagawa-kun, aku bakal sedih lho mendengarnya."

"Habisnya dia biasa mandi itu paling cepat setelah seminggu, lho!" Kalau mau pergi ke perkumpulan yang diadakan Natsume Souseki, misalnya, Kan menukas dengan sungguh-sungguh. "Ah, harus dipastikan, nih. Di mana Ryuu?"

"Nyari Ryuu?" Shiga tahu-tahu muncul bareng Musha. "Tadi pagi kami papasan, katanya dia dipanggil ke ruangan Kanchou."

"Lho, Dazai-kun juga!" cetus Oda.

Shiga menampilkan ekspresi 'lalu memangnya kenapa?', yang berubah begitu mendengar spekulasi soal tukar tubuh.

"Hei, hei, yang benar saja. Mana mungkin bisa begitu?"

"Tapi, kemarin mereka habis delving bareng! Kadang-kadang bisa ada kejadian aneh begitu, kan?" Ini Ango yang meski terlihat serius, tampak jelas kalau dia sedang menikmati.

"Dazai mungkin saja baca bukuku untuk nyari-nyari kesalahannya saja, kan." Shiga beropini.

"Jangan meremehkan Dazai-kun," tukas Oda dengan tegasnya, "mana mungkin dia punya ide untuk melakukan hal yang pintar begitu!"

Ini yang meremehkan sebenarnya siapa, sih?

"Ah, jadi, mereka sama-sama dipanggil Kanchou?" Musha memastikan. "Tidak coba tanya ke Kanchou langsung?"

"Pintunya dikunci dari tadi." Shimazaki yang menanggapi.

Hmm ...

Para bungou itu kali ini kompak memasang raut curiga.

"Odasaku,"

"Ya, Shimazaki-sensei?"

"Tadi katamu, Shuusei yang manggil Dazai-kun?"

"Iya!"

"Sekarang, di mana Shuusei?"

Terlepas dari Dazai dan Akutagawa yang tidak kelihatan sejak pagi, sekarang yang lain baru baru pada nyadar kalau Shuusei juga ikutan lenyap.


Bersambung ... (mungkin).