"Udah tua, bukannya tobat, masih aja selingkuh."

Kim Mingyu menoleh, mendapati bos besar yang duduk anteng disebelahnya membuat Ia tersentak kaget. "Loh, pak bos? Sejak kapan anda disitu?"

Si bos besar melirik Mingyu, sejenak kemudian kembali fokus ke televisi plasma yang menggantung di dinding sisi kanannya. "5 menit yang lalu... mungkin?" Ujarnya dengan nada tak yakin, matanya terfokus pada acara tv tersebut. Akibatnya, karyawan yang duduk di satu meja bersamanya merasa terkaget-kaget, tak pernah menyangka jika si bos besar tertarik dengan acara 'membosankan seperti itu'.

"Selingkuh sana-sini. Menanam benih sana-sini, tidak mikir dampak kedepan apa ya. Kalau udah tua siapa yang mau urus? Manusia kan gak selamanya muda." Komentar si bos, sembari menyeruput es jeruk pesanannya.

"Itu kalau tidak segera tobat, bisa sengsara masa tuanya." Sambungnya, dengan mata yang terfokus pada acara tv tersebut.

Beberapa mata saling lirik, meskipun mereka tahu jika si bos itu ramah, bukan berarti mereka terbiasa ketika pak bos mendadak sok akrab seperti ini. Mereka memang dekat dengan si bos, akan tetapi hanya kedekatan antar karyawan dan atasan. Tak lebih dari itu.

"Pak bos, suka nonton catatan hati seorang istri ya?" Mingyu bersuara, membuat si bos yang bernama Kim Taehyung itu menoleh dengan tatapan polos. "Maksudnya?"

"Itu judul acaranya catatan hati seorang istri."

"Iyakah? Saya baru pertama kali ini nonton." Ungkapan Taehyung membuat orang-orang dimeja itu kembali saling lirik. "Loh, selama ini pak bos nonton apa kalau di jam istirahat?" Mingyu kembali bersuara, rasa penasarannya memang cukup tinggi, apalagi mengenai kehidupan pribadi si bos yang jarang diekspos.

Setiap istirahat, Taehyung memang jarang keluar dari ruang kerjanya. Hanya saat Ia mau saja. Jika sedang bosan diruangan maka Ia akan keluar sembari menenteng bekal buatan sang istri untuk dimakan di kantin.

"Biasanya sih, vc sama anak istri. Saya itu jarang nonton tv, baru ini aja bisa nonton. Tadi pas nelfon istri, Dia bilang baru belanja bulanan di supermarket. Jadi ya gak bisa vc." Jelasnya santai.

Sekotak bekal sudah kosong, segelas es jeruk sudah mengurang setengah. Mingyu berasumsi jika sejak tadi pak bos sudah ada di kantin. "Pak bos makan dimana?"

"Dipojok sana. Tadinya mau langsung pergi, tapi gak sengaja lihat acara tv itu, kok seru, yaudah sih saya nonton aja." Mingyu hanya mengangguk, untung si bos terkenal dengan sifat ramah dan baik. Jika tidak, sudah dipastikan Ia akan mendapat surat peringatan saking banyak bicaranya.

Ngomong-ngomong soal istri bos. Mingyu jadi penasaran dengan rupa pendamping bos baiknya ini. Banyak rumor yang beredar jika istri bos itu buruk rupa, cacat, bahkan tak jarang pula yang mengatakan jika sebenarnya istri bos itu memiliki sifat yang jelek, tukang selingkuh, kasar, dan sebagaianya. Makanya si bos yang berhati malaikat tak pernah mengekspos apa-apa mengenai istrinya.

"Bos. Mau tanya boleh?" Gencatan pertama dilayangkan. Orang-orang dimeja itu melirik Mingyu penuh tanya. Merasa penasaran hal apa yang akan ditanyakan oleh si pemilik gigi taring itu.

"Tanya apa?"

"Bos pernah dengar rumor dikantor?"

"Rumor yang mana?"

"Yang... Soal istri bos itu...?"

Taehyung tak lekas menjawab. Menyeruput es jeruknya lebih dulu untuk menyegarkan tenggorokan yang mendadak kering. "Oh, yang itu. Dengerlah." Jawabnya santai.

"Terus... Apa pendapat bos?"

"Maksudnya?"

"Ya pendapat bos mengenai rumor itu." Ujar Mingyu belibet. Taehyung terdiam sejenak, mengetuk-ketuk atas meja dengan ujung kuku telunjuknya. Memikirkan jawaban apa yang bagus untuk memuaskan rasa penasaran karyawannya itu.

"Saya mau kasih klarifikasi dari beberapa rumor mengenai istri saya."

Serentak mereka yang satu meja dengan Taehyung menajamkan rungu. Mendadak rasa penasaran Mingyu menular ke satu meja itu. "Pertama, istri saya itu menawan, tidak jelek atau buruk seperti rumor yang beredar. Kedua, fisik istri saya lengkap, tidak cacat. Ketiga, istri saya sosok yang lembut, baik, dan dewasa. Dialah salah satu faktor kenapa Victory bisa berkembang sampai detik ini. Dan keempat, istri saya gak suka kehidupan 'normal'nya diusik oleh media. Kalian paham sendirikan, seganas apa media dalam memberitakan sesuatu. Apalagi kalo istri saya udah terkenal di media, bakalan ada undangan acara reality show dan segala macemnya tuh nanti. Istri saya itu pemalu, tidak cocok diundang dengan acara seperti itu."

Banyak pertanyaan memenuhi kepala mereka. Ingin menyuarakan namun rasa sungkan menjadi alasan mengapa tetap bungkam. "Jujur ya... Saya sakit loh, saat orang-orang membicarakan sesuatu yang tak baik mengenai istri saya. Tapi, istri saya sendiri mengatakan jika tak perlu menanggapi omongan orang lain. Pernah waktu itu Saya izin mau bungkam orang-orang yang berkata buruk mengenai dirinya, tapi dia menahan saya. Katanya, 'Gak apa-apa. Aku gak bakal depresi kok. Ada gaknya rumor itu Aku tetep jadi istri yang sayang kamu, lagipula mereka hanya melihat dari sudut pandang mereka. Jadi ya gak heran mereka komentar kaya gitu. Karena mereka hanya mau membicarakan sesuatu sesuai apa yang mereka lihat. Aku gak masalah, bagiku komentar Mereka masih wajar. Dan juga, ini konsekuensi yang harus didapet, karena gak ekspos penikahan kita.'

Saat itu Saya gak ngerti, hal apa sih yang pernah Saya lakukin dimasa lalu? Singga dapet pendamping yang sehebat istri saya saat ini."

Mereka terdiam. Tak tahu harus berkomentar apa lagi. Beruntung keheningan itu tak berakhir lama, karena Mingyu kembali bersuara. "Pak bos pernah mengalami masa sulit gak?"

"Wahh, sering. Dulu saat saya masih kuliah S1 semester 7, saya dikasih pilihan oleh orang tua saya. Btw, saya persingkat aja ya ceritanya. Soalnya panjang kalau nyeritainnya detail." Usai mendapat anggukan antusian dari karyawannya, Taehyung pun berdehem guna memulai sesi ceritanya.

"Waktu itu saya ditanya. Mau lanjut kuliah sampai S3 atau buka usaha sendiri? Ya saya pilih opsi yang kedua. Buka usaha sendiri. Saya muak dengan siklus kuliah yang itu-itu saja, makanya saya mau pilih jalan yang beda dari saudara-saudara saya."

"Bodohnya saat itu sih, saya terlalu sombong dan sembrono terhadap diri sendiri. Saya gak ada skill wirausaha sama sekali. Kuliah seputar berangkat-pulang-kencan. Gitu terus, gak ada pengalaman ikut organisasi. Makanya, ketika nekat terjun ke bisnis, jalan 2 bulan langsung bangkrut. Yaaa... faktornya banyak sih, salah satunya foya-foya, sudah diperingati pacar yang sekarang menjadi istri tapi gak dengerin.

Sebelum-sebelumnya dia banyak ngasih masukan. Tapi dasarnya dulu saya bebal dan egonya baru di titik maksimum, ya jadinya jarang matuhi omongannya.

Saat itu orang tua gak mau ngasih Saya modal lagi, itu sebagai hukuman karena uang yang harusnya muter malah saya habiskan. Jadi, mau gak mau saya open joki tugas yang ada kaitannya sama prodi saya. Banyak yang minat, dan syukur sekali hasilnya lumayan. Jalan beberapa minggu udah ke kumpul uang banyak, tapi ya minusnya kuliah saya yang keteteran.

Uang yang udah kekumpul itu saya jadikan modal usaha, Saya udah gak open joki lagi dan mulai terjun ke bisnis clothing. Istri waktu itu ngasih masukan banyak banget, dan saya nurut apa yang dia bilang. Btw, izin minum bentar ya, seret nih." Tanpa menunggu respon karyawannya Taehyung menyeruput es jeruknya dengan pelan, tenggorokannya terasa kering. Lelah juga ngomong sedari tadi.

"Lanjut ya. uhm.., dimasa itu saya benar-benar jaya, tapi selang 4 bulan kemudian. Saat saya mulai sibuk-sibuknya skripsi, kinerja saya mulai menurun."

Waktu istirahat sudah habis, banyak karyawan meninggalkan kantin, yang masih tinggal adalah karyawan di bangku Taehyung. Saking asyiknya menyimak cerita pak bos, tidak ada satupun dari mereka yang bermain ponsel sama sekali. "Waktu itu karena saya merasa superior dan putus dari istri."

"Loh, kok bisa? Penyebabnya apa pak?"

"Saat itu saya dan istri sama-sama sibuk. Jarang banget komunikasi, dia sibuk kuliah dan ngurus bisnis restorannya sendiri, sedangkan Saya sibuk ngurus usaha sendiri juga. Singkat cerita, gak tau setan apa yang nempel dipikiran saya. Saya selingkuh, dengan teman wanita yang biasa jadi model clothing saya. Cakep sih, body goal juga. Giamana gak tertarik coba."

Meskipun nadanya penuh jenaka, namun manik Taehyung menerawang jauh, seolah melihat cuplikan dirinya yang menjadi sosok kurang ajar nan menjengkelkan.

"Istri tau saya selingkuh, akhirnya kita berantem. Dia nangis mohon buat gak putus, tapi Saya kekeh putus. Saya bener-bener terlena sama pacar baru, bahkan saya gak sadar kalo sebenarnya saya nyemplung di hubungan yang toxic. Banyak temen yang gak setuju saya pacaran sama si pacar baru, tapi ya... saya masa bodoh. Terus, masuk bulan keempat pacar baru tiba-tiba minta putus, gak tau alasannya apa. Dan yea... Saya nolak, bahkan sampai sujud-sujud mohon buat gak putus. Akhirnya kita gak jadi putus. Nah, 2 minggu terlewati, saya mulai ngerasa ada keanehan di perekonomian saya.

Pemasukan saya makin lama makin menurun, ngerasa kalo kekurangan uang terus. Selama 3 minggunan saya evaluasi diri, dan ternyata ada dua faktor penyebabnya. Pertama, karena si pacar baru. Alasannya sih sepele, dia morotin saya, nyuruh saya beliin barang-barang mahal, Dia juga selalu ngambek kalo Saya lagi sibuk kerja. Pengennya Dia itu Saya perhatian terus ke Dia, disisi lain Dia gak mau Saya miskin. Dan faktor kedua di orang yang saya tunjuk sebagai perwakilan saya kalo Saya lagi sibuk. Ternyata kinerja kerja Dia itu buruk. Bodohnya saya malah baru sadar, karena udah terlanjur jadinya banyak yang komplain dan kecewa.

Beberapa hari setelah itu. Saya tengkar sama si pacar baru, karena Saya mulai sibuk skripsi sekaligus meluruskan kembali kendala-kendala di bisnis clothing. Kita adu mulut tuh, lama banget, dan hasilnya putus. Waktu Saya mulai fokus ke bisnis, mendadak para investor nyabut inves mereka.

Yang inves saat itu kebetulan teman, tapi bisa dibilang kami gak bener-bener deket. Alesan dicabutnya dana inves karena, ada yang bilang saya korupsi, buktinya udah ada. Dan saya akui nih, kalo emang sempet korupsi karena mau ngasih suatu barang yang mahal ke pacar baru diwaktu hubungan kami masih anget-angetnya. Terus ada juga yang bilang, kinerja kerja saya udah gak bagus. Mungkin faktor ngurus skripsi kali ya, jadi pikiran saya bercabang kemana-mana. Karena alasan abc itu, merekapun kecewa dan gak percaya sama saya lagi. Satupun gak ada."

"Pak, maaf menyela. Kok bisa gitu sih, harusnya satu dua orang masih mau ngasih kesempatan ke bapak?" Wendy menyela dengan kernyitan dahi dalam. Membuat beberapa karyawan disana mengangguk setuju dengan ucapannya.

"Yang saya fikirkan saat itu sih, mungkin ada permaianan dari pihak lawan. Makanya beberapa investor pada nyabut inves mereka."

Taehyung terdiam sejenak. Ingatan pedih itu kembali terbuka. Saat dimana Ia sedang berada dititik terpuruknya. Nampak kekacauan terjadi disana-sini, kebangkrutannya, skripsi yang sedang pada masa puncaknya, hingga rasa sesal akibat melepas pacar lamanya, yang ternyata adalah istri dimasa depannya.

Teman satu tongkrongan dengannya hanya menatapnya pedih tanpa bisa menolong secara finansial. Karena saat itu, ekonomi mereka juga tak stabil. Hanya kalimat semangat yang bisa mereka berikan, sesekali makanan diantar keapartemen Taehyung. Karena waktu itu Kim Taehyung benar-benar ada di titik rendahnya.

"Saya gak bilang sama orang tua kalo bangkrut. Jujur, Saya malu. Tapi tuhan emang banyak cara buat mainin emosi manusia, diambang hidup dan mati itu, istri saya alias pacar lama dateng. Ohya, waktu itu kita emang beda kampus. Semenjak putus, saya gak tau lagi kabar dia gimana.

Istri dateng karena dapet kabar dari salah satu temen kalo Saya lagi kesusahan. Posisinya itu Dia udah selesai skripsi, tinggal wisuda. Harusnya saya juga selesai, tapi karena ada masala skripsi saya gak kelar-kelar" Taehyung menghela napas, manik nya perlahan mencerah. Sebelum lanjut bercerita, dia menyeruput es jeruknya lagi.

"Istri saya dateng, kita cerita ini itu. Terus Dia mutusin buat nginep di apartemen Saya. Waktu itu, dia benar-benar ngelakuin banyak hal biar Saya bangkit, mulai dari meluk, support untuk selalu semangat, ngasih masukan positif dan gak pernah ninggalin saya sama sekali. Ada kali 2 mingguan saya terpuruk, dan healingnya ya si istri saya itu. Selama keterpurukan itu dia yang nanggung jawab kerjaan saya. Waktu itu istri punya 5 toko yang cukup besar, nah dijual 2 dari kelimanya buat ngasih pesangon karyawan saya, bayar perpanjang skripsi, dan segala macemnya. Dan ternyata jatah uang pesangon untuk karyawan masih kurang, yaudah satu tokonya di jual lagi."

Mereka tertegun. Sebegitu bucin itukah istri bos, sampai rela menjual 3 restoran untuk melunasi hutang pak bos? Padahal, status saat itu adalah mantan. Wow, benar-benar tak terduga.

"Istri saya sangat bertanggung jawab. Karyawan yang kerja di tiga toko itu dikasih pesangon full, terus juga dicarikan kerjaan lain biar mereka gak nganggur.

Dia selalu bilang ke saya kalau semua akan baik-baik saja. Dia yang bakal nemenin sampai saya berani melangkah lagi. Dia juga ngasih pikiran positif ke Saya, salah satunya begini 'gak papa, semua bakal membaik. Dijadiin pembelajaran untuk kedepannya ya. Jangan ngerasa terbebani sama semua ini. Ayo bangkit, Aku yang bakal bantu Kamu bangkit. Kita jalan bareng sampe Kamu sukses. Dan setelah itu, terserah Kamu mau gimana, yang penting Kamu udah sukses. Udah gak terpuruk lagi.' itu adalah kalimat healing yang benar-benar meresap sampai rusuk saya. Jadinya, saya nangis dipelukan dia.

Dia bener-bener menuhi janjinya, tiap hari support saya, nenangin saya, ngerawat saya dengan sabar. Hingga saya benar-benar berani untuk menghadapi kenyataan."

Wendy sedikit berkaca. Mendadak hatinya berdenyut sakit. Ia merasa tersentuh, perjuangan istri bosnya nyaris habis-habisan.

"Saya gak mau terjun ke bisnis clothing lagi, trauma. Dan milih untuk terjun ke start up, waktu itu saya merintis karir bareng pacar kakaknya. Namanya Park Jimin, yang sekarang Jabatannya adalah CTO dan orangnya lagi izin gak masuk karena demam." Semua karyawan di meja itu mendadak terkekeh akibat nada jenaka diakhir kalimat Taehyung.

"Bisnis yang awalnya kecil-kecilan, karena ya... masih nyoba-nyoba, waktu itu lagi skripsi juga. Tapi setelah 3 tahun, usaha rintisan saya dengan Jimin makin berkembang. Saat itu saya sibuk ngurusi abcd, belum ada niatan mau nikah. Modal juga belum ada, usaha masih dilevel biasa. Tapi syukur sekali status balikan sudah didapatkan. Berselang 3 tahun saya mulai ada niatan nikah, karena bisnis makin hari makin sukses aja. Satu tahun kemudian saya nikah dengan istri. Selang 2 bulanan habis nikah, istri hamil, dan perusahaan saya makin jaya sampai sekarang."

Semua nampak lega. Perjuangan pak bos berbuah manis. Kisah yang tak pernah terekspos akhirnya dapat mereka ketahui. Namun, diantara rasa kepuasana itu, ada satu orang yang merasa sedikit janggal.

"Pak. Maaf mau tanya. Bapak jurusan informatika kan?" seorang dengan nama Im Nayeon bertanya dengan nada sopan.

Taehyung mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa gak dari awal aja buat bisnis yang sesuai sama bidang bapak?"

Seketika meraka nampak menyadari sesuatu. Apa yang dikatakan Nayeon memang benar. Kenapa tidak dari awal saja Taehyung merintis start upnya?

"Ya karena waktu itu Saya gak ada minat ke sana. Ilmu saya kurang, kemampuan ngoding masih dibawah 30%, tau seluk beluknya Artificial Intelligent aja juga enggak. Bahkan dulu, saya sempet mikir kalo skripsi mau joki aja. Males buat sendiri, saking gak mudeng apa yang dipelajari. Nah, waktu joki tugas, saya dikit-dikit paham sama jurusan saya. Klimaksnya di pertengahan skripsi, saya ada niatan tuh mau buat start up kalo usaha clothing saya udah bener-bener mateng. Eh ternyata, takdir berkehendak lain. Tapi syukur aja sih, keinginan buat start up bener-bener kejadian. Meski ya... harus ngelewati banyak rintangan."

"Sebentar pak, terus alasan bapak nyemplung di informatika itu apa?"

"Karena dari pandangan saya, informatika itu keren. Hehehe. Bego banget ya. Tapi tenang, itu dulu. Waktu jati diri saya masih dalam tahap pembentukan." Raut tak percaya mendominasi, membaut Taehyung terkekeh geli. Ia tidak tersinggung kok, karena memang itulah yang terjadi.

"Gak nyangka. Orang sehebat bapak ternyata sempet mikir gituan juga."

"Ya kan saya juga manusia." ujar Taehyung enteng yang mendapat kekehan dari mereka.

"Pak." Satu tangan terangkat keatas, menarik berpasang-pasang mata dengan tatapan tanya. "Dulu waktu terpuruk, bapak gaada suntikan uang dari orang tua?"

"Gaada. Semenjak usaha clothing maju, orang tua gak ngasih uang. Ya karena sebelumnya saya bilang untuk stop ngasih uang ke saya. Waktu itu juga orang tua gak tau kan kalo saya terpuruk."

Park Yeri terdiam, namun tak selang lama kembali memuntahkan pertanyaan. "Terus, orang tua dari istri bapak kok bisa setuju aja sama tindakan istri bapak. Kan, waktu itu kalian udah putus. Mana putusnya gak secara baik-baik pula." Sepertinya Yeri memiliki banyak nyawa sampai berani berucap dengan nada sarkastik seperti itu. Banyak pasang mata menatapnya tak percaya, karena tindakan beraninya itu.

Taehyung tersenyum kecil, dirinya tidak tersinggung kok akibat pikiran kritis dari Yerin. Dirinya malah senang, sekaligus tersanjung karena ditanyai seperti itu. Itu berarti ada pihak yang benar-benar mencermati ceritanya kan?

"Orang tua kami gaada yang tau kalo kami putus. Disisi lain orang tua istri saya tahu mengenai bangkrutnya saya, dan mereka ngebesain istri untuk bantu saya. Mereka juga gak keberatan untuk nutupi masalah saya dari orang tua saya. Waktu itu, saya baru sadar kalau ternyata dikelilingi sama orang-orang yang baik."

"Bapak gaada niatan mau selingkuh lagi kan?" Lagi-lagi Yeri bertanya penuh selidik. Sepertinya wanita itu sedikit sensitif mengenai topik perselingkuhan.

"Gak lah. Semenjak bangun dari keterpurukan, dan ngelihat perut istri dibedah untuk ngelahirin anak. Saya janji sama diri sendiri, gak akan selingkuh-selingkuh lagi." Yeri nampak puas dengan jawaban mantab dari Taehyung. Sorot matanya tak setajam tadi, senyum kecil telah terbit dibibir tipisnya. 'Syukurlah, bu bos tidak bernasib seperti diriku.' batinnya tanpa bisa didengar oleh orang lain. Namun sorot matanya nampak jelas terbaca oleh Taehyung.

"Pak bos, gak ada niatan mau nunjukin foto istri? Kita penasaran loh..." Ujar Mingyu dengan tidak tahu dirinya. Namun pada akhirnya disetujui juga oleh karyawan lainnya.

"Iya pak. Penasaran nih."

Taehyung nampak berfikir sejenak. Lantas tersenyum kecil, mengangguk pelan, menyanggupi permintaan karyawannya. "Hmm. Yaudahlah, sekali-kali saya mau banggain istri"

Taehyung mengeluarkan ponsel samsung warna ungu dari saku jasnya. Membuat beberapa orang disana memekik kaget. Saking tak percayanya.

"Loh pak! Itukan ponsel limited edition dari samsung! Bapak suka bts ya?" Pekik Yerin dengan nada tak santai. Yang mana mendapat tatapan bingung dari Taehyung.

"Gak tau. Ini hadiah dari istri karena ponsel sebelumnya sempet mati kecemplung toilet."

"Bapak punya hp dua? Saya lihat kemarin gak itu deh pak." Kim Mingyu ikut menimpali. Jika diibaratkan angka, maka Mingyu mendapat skor 9,99 sebagai orang yang memiliki rasa ingin tahu tinggi.

Mingyu, Mingyu, untung pak bos tipikal orang ramah, baik, dan tak memandang rendah derajad orang lain. Bisa mati dikeluarkan kau nanti jika pak bos tak berwatak demikian.

"Iya. Yang satu untuk kerjaan, yang satunya lagi untuk bucin anak istri. Hehehe." Semua nampak menahan senyum, merasa gemas dengan ekspresi si bos yang malu-malu.

"Bentar, saya cari dulu... Nah, ini..." Taehyung segera menunjukkan potret seseorang. Seorang pemuda yang tersenyum manis menghadap kamera.

"Ini waktu honeymoon di paris." Jelas Taehyung, seraya meletakkan ponsel itu ditengah meja. Membiarkan karyawannya puas melihat foto sang istri. "Ya ampun pak, ini pipinya kenapa mbul banget ya? Gemes saya liatnya." Ujar Nayeon dengan ekspresi menahan gemas.

Taehyung hanya terkekeh tanpa tanggapan, pipi Jungkook memang segemuk itu, sekaligus mulus halus putih bersih tanpa jerawat. Bahkan pori-porinya sangat kecil. Tak heran sih, itu hasil perawatan yang mengeruk kocek banyak.

"Pak, kasih tips dong, biar dapet pendamping hidup sehebat istri bapak. Mendadak saya mau pasangan hidup yang seperti istri bapak."

Senyuman hangat terukir, namun tak ada balasan penuh arti. Membuat mata karyawan disana menatap heran Taehyung.

"Pak...?"

"Tipsnya gampang. Kalian harus jadi seperti saya dulu." ujarnya penuh teka-teki. Sekaligus mengakhiri pertemuan dikantin hari itu.