Usai menyelesaikan kegiatan wajibnya, Jungkook menata beberapa barang yang akan ia bawa ke taman kota. Diantaranya; satu stel pakaian si balita, bekal makan, bekal buah, susu 2 botol, air minum satu botol, bedak bayi, minyak telon, gendongan, dan tentunya dompet. Semua ditata serapi mungkin kedalam ransel hitamnya.

Ponsel yang dicas ia cabut. Ikut dimasukkan kedalam bagian kecil ransel itu.

Si manis bercermin sebentar, memastikan kembali penampilannya. Terlihat rapi atau tidak. Usai mendapat hasil yang sesuai, Iapun membawa diri untuk mendekat ke tempat balitanya berada. "Hoonie sudah siap?"

"Dahh!" balitanya menyahut semangat sembari bangun dari posisi duduknya. Terlihat sepatu mungil warna kuning nampak lucu melindungi kaki gemuknya.

"Hoonie siap! Yuk maa! Belangkattt!"

Si mama terkekeh pelan, merasa gemas dengan tingkah balitanya. Tak mau membuang waktu lama, Ia dengan perhatian menuntun Jihoon untuk keluar rumah. Setelah mengunci pintu dan gerbang rumah, keduanya beriringan menapaki trotoar khusus pejalan kaki.

Jihoon tampak semangat, mata bundarnya menatap penasaran akan hal-hal yang tak ia temui saat didalam rumah.

"Ma, tu apa?" tunjuknya pada burung camar yang terbang bebas di langit biru.

"Itu burung."

"Buyung?"

"Yup burung."

"Mau dong jadi buyung. Bial bica telbangg."

"Hoonie gak harus jadi burung biar bisa terbang "

"Calanya?"

"Naik pesawat?"

"Cawat?"

"Pe-sa-wat."

"Pe-ca-wat?"

Anggukan dari sang mama membuat balita itu memekik senang. Seolah habis menyelesaikan misi yang sulit. "Mauu. Ayo naik pecawat!"

"Nanti kalo yayah udah libur ya."

"Yayah kapan libul?"

"Nanti."

"Nanti kapan?"

"Nanti kalo kerjaannya udah selesai nak."

"Kapan celecai?"

"Nanti sayang. Sabar ya, yayah cari uang biar Hoonie bisa minum susu."

Balita itu nampak termenung, sedang memikirkan sesuatu. Namun kemudian mengangguk saja. Menyerah akan pemikiran rumit mengenai korelasi antara pekerjaan yayah dengan susu favoritnya. "Ote. Nanti."

Si mama tersenyum kecil, diusaknya helai arang milik sang balita lembut. Dengan nada keibuan iapun berujar perlahan, "Hoonie yang sabar ya. Nanti kalau yayah pulang kita main bareng. Hoonie mau main kemana?"

"Kemana aja yang penting cama yayah."

"Sabar ya sayang... Kerjaan yayah emang baru banyak."

"Mmm. Hoonie sabal kok, kan anak yayah!"

"Eiyy, anak yayah aja nih?"

"Nda kok! Anak mama juga. Mama nomel catu! Hoonie cayangg mama cebecal ini!" dengan kedua tangannya, Jihoonie memperagakan pola lingkaran yang berukuran sangat besar. Bermaksud agar sang mama mendapat gambaran sebesar apa rasa sayangnya untuk sosok yang telah menemaninya selama 24 jam penuh itu.

"Ihh masa."

"Iyaaa. Nda pelnah boong Hoonie mah."

"Yaudah sih. Kalo mama nomer 1, Yayah nomer berapa?"

"Cama-cama nomel catu! Kan ndak boleh pilih kacih!"

Jungkook terkekeh ringan. Jihoonie adalah representasi dari anak yang menggemaskan. Mulai pola pikirnya, caranya dia bicara, bahkan sampai cara berjalannya saja menggemaskan. Semuanya. Menggemaskan.

Hmmmm. Jungkook jadi penasaran. Dimasa mendatang, apakah sisi menggemaskan anaknya ini masih bertahan? Atau malah berubah 180 derajat? Menjadi cool misalnya?

Namun seperti apa figur anaknya kelak, rasa sayangnya tak akan mengurang. Jungkook tetap menjadi penunjuk arah dan tempat pulangnya sang anak kala lelah atau bingung tengah menghampiri putra kecilnya.

Menjadi tempat bermanja disaat jodoh masih belum menampakkan batang hidungnya. Atau menjadi tempat curhat kala pikiran serta hati sedang diterpa gundah. Apapun itu, Jungkook akan seberusaha mungkin untuk menjadi orang tua yang baik dimata putra kecilnya.

"Ma... Tu apa?"

"Itu pohon beringin."

"Becal ya?"

"Iya. Umurnya udah puluhan tahun tuh. Makanya besar banget."

"Hoonie bisa gak yaa cebecal pohon tu."

"Ya nyeremin dong sayang kalo sebesar pohon itu."

"Ihh. Lucu tau. Ultlamen aja becal tapi tetep lucu."

"Ya... terserah mu lah nak." Jungkook mengangguk saja, membiarkan si balita berimajinasi sesuka hati. Asal masih dalam tahap wajar, Jungkook akan membiarkan saja.

"Mama cayang Hoonie?"

"Sayang dong."

"Kenapa cayang Hoonie?"

"Karena Hoonie imut."

"Kalo gak imut. Gak cayang?"

"Gak lah, buat apa..." nadanya penuh jenaka. Namun malah dianggap serius oleh si balita.

"Ih. Kalo gitu Hoonie halus imut telus. Bial dicayang mama. Hoonie macih imut kan ma?"

"Masih."

"Kapan Hoonie gak imut?"

"Gak tau."

"Nanti kalo Hoonie gak imut, bilang ya ma. Bial Hoonie belucaha jadi imut."

"Gimana caranya?"

"Nda tau—aaaaa mama! Jangan gendong-gendong ndadak dong! Kan Hoonie kaget."

Kecupan dibubuhi pada pipi gempalnya, sesekali menggigit kecil saking gemasnya. Si balita hanya terkekeh, tidak merasa terusik. Malah semakin menyamakan diri di lengan kanan mamanya, seraya mengalungkan tangan ke leher putih tersebut. Aw, ini posisi favorit kedua menurut Jihoonie.

"Hoonie... Ayo ucapkan rrrrr."

"Lllllel"

"Rrrrrrrrr sayang rrrrrrrr."

"Lellelelell."

Dan sepanjang jalan menuju halte bus, si manis mercecoki balitanya untuk mengucap huruf r.

.

.

.

"Ma... Yayah."

Tarikan lembut membuat Jungkook menoleh. Lantas mengikuti telunjuk mungil si balita yang mengarah pada papan iklan yang terdapat potret Taehyung.

"Iya... Itu yayah."

"Ada oppa papa oppa. Mama lenlen. Telus ada... Capa itu nda tau. Itu juga nda tau. Itu juga... Nda taulah, Hoonie cuma tau yayah, oppa papa oppa sama mama lenlen aja."

Jungkook lagi-lagi terkekeh ringan. Kembali mengecup pipi gemuk si balita, usai puas, iapun mendongak untuk menatap lembut papan iklan yang memuat 10 pasang potret para enterpreneur tersukses di negara mereka. Dimana posisinya terapit oleh papan iklan yang berisi potret beberapa idol yang tengah menjadi perbincangan hangat.

Tidak lama kemudian bus yang mereka tumpangi kembali melaju ketika beberapa menit lalu sempat terjebak di lampu merah.

"Ma. Yayah kangen gak ya cama Hoonie."

"Kangenlah. Mama aja tiap hari kangen Hoonie."

"Ihh. Hoonie imut ya. Jadi mama kangen telus."

"Imut lahh. Rasanya mau mama mam. Amm!"

"Ihh jangan di mam. Nanti nda imut lagi." Jungkook lagi-lagi tergelak. Berada di sisi Jihoon memang selalu membuatnya bahagia.

Melihat tumbuh kembang sang anak dan segala tetek bengeknya memiliki kesan tersendiri bagi Jungkook. Hari-harinya yang berwarna makin bertambah warna sejak adanya Jihoonie.

'Sukses terus ya... You deserve it, baby.' hati Jungkook untuk terakhir kali sebelum potret Taehyung benar-benar hilang dari sorot matanya.