Maaf soal update yang lama,

FemMadara

Red Moon

Chapter 3

"Madara-Onechan, apa Nechan punya makanan? dan sepertinya Shirone-chan sedang lapar!" tanyanya sambil melihat adiknya, Madara menaikkan salah satu alisnya, makanan?, ngomong-ngomong soal makanan dia belum makan lebih dari 500 tahun sejak pertarungan terakhirnya melawan kedua bocah itu.

Madara menoleh kearah Kuroka, "sepertinya aku tidak membawanya" katanya datar. Kuroka cemberut, dia dan Shirone telah menghabiskan bekal terakhirnya dan mengingat Shirone masih berumur 3 tahun jadi harus diberi makanan yang teksturnya lembut.

Tapi Sepertinya Dewi fortuna masih peduli pada mereka. " Ne..sepertinya keberuntunganmu Kuroka" kata Madara tiba-tiba, Kuroka mendengar itu menjadi bingung tapi kebingungan itu dijawab olehnya.

"Lihat disana" katanya sambil menunjuk dengan jarinya, terlihat sebuah pohon pisang yang berbuah masak cukup banyak didepanya , Kuroka yang melihat itu melebarkan senyumanya dia kemudian menggedong Shirone dari gerobak kecil yang dibawanya ke arah pohon itu, Wanita itu tersenyum melihat antusias Kuroka "dia mengingatkanku pada diriku dan Izuna" batinya terkekeh.

Dia sepertinya tidak perlu menggunakan mode ini lagi, dia sudah lama tidak menonaktifkanya dan terakhir kali dia menggunakan kekuatan ini untuk membunuh Sasuke dan Naruto serta melawan Kaguya.

Kuroka yang melihat Madara berubah pun takjub, dihadapanya kini bukan wanita putih pucat dengan bola hitam mengambang di belakangnya, dengan rambut putih dan mata ungu aneh, tapi dihadapanya kini adalah seorang Gadis terlihat berumur 20 tahunan, berambut hitam panjang, kulit putih tapi bukan pucat, dan ada sedikit garis vertikal di dahinya dan matanya kini berwarna hitam dan memakai kaos hitam dengan lambang Klan Uchiha dipunggungnya dan memakai celana jeans hitam yang tidak terlalu ketat.

Kuroka tersenyum lebar kearah Madara, "Neechan cantik sekali", teriaknya dengan mata berbinar, Madara tersenyum mendengarnya.

"Hashirama apa ini yang dinamakan kebersamaan bersama keluarga? aku telah menghancurkan persahabatan kita hanya karena ke egoisanku," .

"apakah ini takdir? untuk mengubahku untuk menjadi lebih baik?, aku mungkin tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan tapi aku yakin aku bisa berubah, dan sepertinya aku memiliki tujuan baru sekarang yaitu melindungi mereka berdua" .

Madara menatap Kuroka yang masih tersenyum dan kemudian dia duduk disebelahnya, lalu menggendong Shirone yang sedang makan dengan lahapnya.

~~(Ditempat lain)~~

Terlihat awan berwarna ungu dengan tanah berbatu dan gunung-gunung menjulang tinggi, terlihat dua orang misterius sedang berbicara, "Jadi dia gagal, eh?" tanya sosok itu kepada sosok disebelahnya, "benar tuan" jawab sosok itu yang memiliki tubuh yang lebih besar.

"ini lebih mudah dari yang aku kira'"

"Tapi salah satu keturunanya membawa kekuatanya tuan" kata sosok itu kepada tuan-nya. "hm?..tidak masalah bagaimanapun kita akan mengambilnya" kata sosok itu dengan datar. "tapi, masalahnya dia tidak di dunia itu lagi tuan" kata sosok itu, Dia pun menaikkan salah satu alisnya "jadi dia menjelajahi dimensi lain? ini semakin menarik".

~~(Dengan Madara)~~

Menghela nafas panjang, dia mengambil daun yang terjatuh dari atas menggunakan tangan kananya."entah kenapa firasatku mengatakan akan ada sesuatu yang buruk".

kemudian Madara melepaskan daun itu, membiarkannya jatuh ke tanah. dia kembali diam, membiarkan suara-suara alam memenuhi telinganya, sementara dia menatap Shirone yang tertidur setelah makan digendonganya, kemudian dia menatap Kuroka yang memakan Pisang dengan lahapnya.

"Hmm..sepertinya bukan Shirone yang lapar, tapi kamu yang lapar Kuroka" .kuroka yang mendengar itu hanya cengengesan yang membuat ekor kucingnya bergelayutan.

Terlihat hari sudah menjelang sore, Madara memutuskan untuk tinggal dihutan ini sampai pagi tiba, "Kuroka sepertinya kita akan tidur dihutan malam ini" katanya sambil melihat Kuroka yang bermain bersama Shirone yang telah terbangun.

Kuroka pun menoleh kearahnya dan dia pun bertanya "tapi Neechan bagaimana dengan Shirone?" Kuroka tidak masalah jika dia tidur dihutan, tapi masalahnya Shirone masih terlalu kecil untuk tidur diluar. Madara mengerti kemudian tersenyum.

"tidak di luar sini Kuroka".

"maksudnya Neechan?" tanyanya dengan bingung.

"kamu mungkin harus melihatnya Kuroka" dia pun membuat segel tangan "Mokuton: Renchūka no Jutsu" dari dalam tanah muncul kayu berwarna coklat yang membentuk sebuah rumah khas klan Uchiha. yang cukup untuk mereka bertiga, ketika itu Kuroka menjatuhkan mulutnya tidak percaya apa yang dilihatnya.

"Woah.. luar biasa Neechan " Madara terkekeh didalam hati. dia belum pernah menggunakan mokuton milik Hashirama untuk hal-hal seperti ini. Kuroka pun bertanya "apakah aku bisa menggunakan chakra seperti milik Niichan?" tanyanya, dia berpikir jika itu jutsu yang sangat keren.

Madara menggelengkan kepalanya melihat itu Kuroka menjadi cemberut. "hanya orang-orang istimewa yang bisa menggunakan jurus ini" Madara menjelaskanya sambil menyilangkan tanganya dibawah payudaranya kepada Kuroka. Madara tidak bisa mengambil resiko dengan memberinya sel Hashirama karena energi Kuroka berbeda.

Dia juga bisa melihat jika Kuroka dan Shirone akan menguasai senjutsu seperti Hasirama dan dirinya, jika senjutsu didunia ini membuat gila penggunanya yang tidak bisa mengusainya. mungkin Senjutsu disini tidak semurni di dunia Shinobi, berbeda dengan senjutsu didunianya.

Senjutsu didunianya akan membuat penggunanya berubah menjadi patung atau hewan, jika penggunanya tidak bisa menguasainya, itulah alasanya dia tidak memberinya sel Hashirama dan satu hal Kuroka adalah Yokai. "jadi Kuroka ayo kita masuk, dan bawa adikmu ke kamar" kuroka yang mendengar itu tanpa basa-basi langsung masuk kerumah itu.

Dan beruntungnya dia bisa mengendalikan energi itu dengan sekali coba, itu adalah sebuah rekor, jika bukan karena sel Hashirama mungkin entah apa yang akan terjadi padanya. menggunakan senjutsu praktis membuat indranya lebih sensitif, dan beberapa informasi baru. dunia ini memiliki mahkluk-mahkluk yang menurutnya hanyalah mitos.

Jika didunianya dulu Rikudou Sennin adalah orang yang di anggap Dewa, didunia baru ini, Dewa disembah oleh orang-orang penganut ajaranya, Madara merasa miris melihat itu bahkan dewa juga memiliki rasa takut, takut karna hal sepele yaitu kematian.

walaupun mereka abadi dalam artian memiliki umur yang sangat panjang, tapi mereka tidak bisa menghindari kematian tapi masalahnya bagaimana cara membunuh mahkluk sekaliber mereka?, dia mungkin mencintai pertempuran tapi jika bukan karena alasan yang logis, itu sama saja dengan kekonyolan orang yang gila pertempuran.

"Neechan belum tidur?" tanya Kuroka yang melihat Madara masih duduk diruang utama, Madara menoleh ke arah Kuroka, "kamu tidurlah dulu dan temani Shirone, Niichan belum mengantuk" perintahnya.

"Kuroka mengerti, selamat malam Neechan" Madara hanya mengangguk menanggapinya dan kemudian Kuroka menuju kekamarnya bersama Shirone. "Entah kenapa aku tidak bisa tidur" .

"Memikirkan masa lalu.. ehh" Madara yang mendengar itu tersentak.

"Shinju?"

"kau seharusnya tidak usah terlalu memikirkanya itu adalah takdir, dunia kita hancur bukan karena kesalahanmu" Madara yang mendengar itu hanya diam, mungkin yang dikatakan Shinju memang benar tapi tidak mengubah fakta bahwa dia membunuh ribuan orang hanya karena tulisan batu sialan itu.

Mungkin yang dikatakan Hashirama memang benar, perdamaian bukan karna kekuatan tapi karna adanya ikatan dan cinta, tapi yang menjadi pertanyaanya sampai kapan ikatan itu akan tetap bertahan?.

Dan faktanya bahwa banyak orang-orang yang ingin menghancurkan perdamaian, perang termasuk bagian dari Ekonomi tanpa adanya perang negara tidak bisa bekembang, itulah yang dia baca dari sejarah dunia ini, negara yang besar menjarah negara yang lebih kecil, negara yang besar menjadi lebih makmur sedangkan negara yang kecil menjadi menderita. itulah alasan "Mugen Tsukuyomi" tercipta.

"Aku akan berkeliling sebentar mencari udara segar" Madara kemudian menuju kekamar Kuroka untuk memastikan dia telah tertidur, setelah memastikan Kuroka dan Shirone tertidur, Madara kemudian keluar untuk berkeliling sekaligus membuat dua Moku-bunshin untuk menjaga mereka berdua tetap aman.

Setelah berjalan cukup jauh Madara mendengar suara di pikiranya "Kau merasakanya Madara?" Tanya Shinju kepadanya. Madara mengangguk "Sangat jelas, energi ini milik para Mahkluk hina itu" katanya datar.

"Kita harus melihatnya untuk memastikan mereka tidak mengincarmu atau anak-anak itu", Shinju harus mengakui jika Madara telah banyak berubah, dia akan mengikuti apa yang akan Madara tuju dan membantunya apapun yang terjadi karena mereka adalah 'Teman' memang itu rumit tapi karena melihat tekad dimatanya diapun setuju. salahkan pak tua itu yang membuatnya seperti ini , Madara mengangguk mengerti kemudian dia melompat keatas pohon mencari sumber energi itu.

Energi itu semakin dekat dia bisa melihatnya dengan Sharingan-nya, walaupun ini malam hari dia masih bisa melihat dengan jelas berkat matanya, ada lima energi yang menuju kearahnya dengan cukup cepat.

*wush-duag*

Tiba-tiba ada bentrokan antara Madara dengan salah satu energi itu dan salah satu di antara mereka terpental karena tendangan Madara.

"Iblis" desis Madara, mereka yang melihat itu melebarkan matanya, "Manusia ini apakah dia yang dibicarakan pemimpin kami?" Kemudian ketua itu bangkit dari tendangan Madara tadi, "aku tidak pernah mengharapkan tendangan seperti itu!" Kata ketua itu sambil menyeka darah dibibirnya,

"jelaskan jutuanmu Iblis"

"heh...kau yang baru menendangku dan sekarang meminta penjelasan?,khukhu tidak semudah itu wanita", kata ketua itu.

Madara menatap datar mereka "sepertinya aku akan memaksa kalian".

"heh... cobalah kalau kau bisa ,,,, Hmm anak-anak tangkap dia setelah itu kita nikmati tubuh sexy nya" kata ketua itu sambil menyeringai.

Mereka pun mengangguk, keempat iblis itu menerjang Madara sedangkan ketua mereka menunggu di belakang, salah satu melempar pukulan tapi dia dapat menghindarinya, iblis yang kedua menerobos dari belakang, Madara yang menyadarinya melompat keatas menghindar serangan dari belakang, tapi tiba-tiba dari atas dua iblis menyerangnya menggunakan Demoic Power, Madara hanya menatap datar serangan yang datang kearahnya.

"Menyedihkan" dia pun membuat serangkaian segel tangan "Katon: Goryuka no jutsu" seketika serangan mereka menghantam naga api yang dibuat Madara.

Duarrr

Mereka yang melihat itu melebarkan matanya serangan mereka dapat di halau dengan mudahnya?. kedua Iblis itu pun turun menuju kearah rekan mereka, mereka pun bingung ketika Madara sudah tidak ada di depan mereka.

"dibelakangmu".

"S-sejak kapan dia?"

"Menyingkir", ke-empat iblis itu langsung melompat menghindari Madara. melihat itu Madara merentangkan ke dua tanganya, ketika itu pula ke empat Iblis hina itu tertarik oleh energi tak terlihat. "a-apa i-ini" "tubuhku tidak bisa bergerak" (Wusss-Jrasss) tanpa disadari oleh mereka puluhan akar muncul dibawah kaki Madara menusuk ke-empat iblis itu, Ketua mereka melebarkan matanya anak buahnya mati dengan mudahnya?, "a-apa apaan ini" kata ketua itu dengan gemetar.

Madara yang mendengar itu melirik karahnya, ketua itu gemetar ketakutan 'a-aku harus pergi dari sini aku harus melaporkan kepada pemimpin kami,,,, t-tunggu a-aku tidak bisa bergerak' "a-apa ini". dia seperti tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Dia tidak akan bisa melupakan ini, ia melihatnya... mata itu, mata Ungu pola riak air yang bercahaya di malam hari.

Madara mendekatinya memegang kepala iblis itu seperti sampah "katakan padaku iblis, apa tujuanmu?" Tanya Madara dingin.

Iblis yang tadi monyombongkan dirinya sekarang tidak lebih dari mahkluk menjijikan dihadapan Uchiha, Iblis itu tidak bisa menjawab karena terlalu takut untuk berbicara. "tidak mau bicara? Baiklah". seketika itu pula energi hijau keluar dari telapak tangan Madara yang memegang kepala iblis itu. lalu sebuah informasi baru muncul di kepalanya, "jadi seperti itu, keluarga Kuroka telah dibantai oleh fraksi iblis lama!". ini mengingatkanya tentang klan Uzumaki yang dibantai oleh negara-negara besar karena takut akan kemampuan mereka.

"Jadi sekarang sudah jelas" . lalu tangan Madara menarik sesuatu seperti Roh dengan tanganya dan iblis itu mati sebelum memudar menjadi debu.

"Jadi itu alasan kedua anak itu mencari keluarganya".

Madara mengangguk untuk menanggapinya, "bahkan mereka tidak tau jika keluarga mereka sudah tidak ada" kata Madara miris. kemudian Madara melihat bulan yang berwarna merah, dinginya udara malam tidak membuatnya kedinginan dan dia harus kembali memastikan Kuroka dan Shirone selamat. walaupun Moku-Bunshin-nya memiliki kemampuan lumayan, tapi tetap saja dia sedikit Khawatir.

"Aku tidak tau jika Uchiha Madara bisa khawatir seperti ini" kata Shinju sambil terkekeh, Madara hanya mendengus mendengarnya.

Shinju harus mengakui jika Madara adalah sosok Wanita yang mengerikan, bukan hanya rencananya yang Extrime, dengan membuat semua orang terperangkap kedalam genjutsu Mugen Tsukuyomi. Ia mengingatkanya dengan pak tua Hagoromo entah kebetulan atau apa dia tidak tau.

Ketika sampai Madara langsung menuju kamar mereka untuk melihat keadaan Kuroka dan Shirone, dia tersenyum ketika melihat mereka masih tertidur dengan nyenyaknya, "Mereka masih tertidur" kata Shinju, Madara tersenyum.

"Kau benar Shin"

Bersambung

Voline kembali, dengan chapter-3 entah ini buruk atau bagus author serahkan kepada kalian.,

Itu saja untuk Chapter ini...

Thanks..