FemMadara.
Red Moon RE
Special Thanks
Ex999 dan Paijo Payah yang telah setia dengan Fic ini :)
Chapter 4
Kuoh
"Hmm... kota ini sudah banyak berubah dari terakhir kali aku melihatnya..." guman seorang wanita yang sekarang berdiri diatas gedung. Wanita itu memiliki rambut hitam panjang, berkulit putih dan memakai kaos hitam dan celana jeans hitam.
Dia menikmati dirinya sendiri ketika angin menerpa wajahnya, dan sambil melihat hamparan gedung dan bangunan didepanya. Sementara dia berfikir.
"apakah Kuroka dan Shirone sekarang baik-baik saja?" Tanyanya pada dirinya sendiri, 10 tahun dia telah menitipkan Kuroka dan Sirone kepada Yasaka. Dan 10 tahun itu dia belum bertemu dengan mereka.
" Aku percaya Yasaka dapat menangani mereka berdua" dia berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan.
"yah.. walaupun mereka sangat manja terhadapku" gumannya sambil tersenyum. Kemudian dia menghilang dari tempat itu, meninggalkan kepulan asap putih dan menghilang dalam kesunyian.
.
.
.
Di salah satu gang kecil di kota tersebut, muncul asap putih yang cukup besar dan ketika asap putih itu menghilang, sesosok wanita berjalan di dalamnya.
"Aku lapar, aku ingin makan sesuatu" ucap wanita itu.
Dia melihat sekeliling sambil memikirkan tempat makanan ringan yang pas untuknya. "Hmm... ketemu" ucap wanita cantik itu dengan gembira.
"Toko Dango aku datang" teriaknya, sementara orang-orang disekitarnya menatapnya dengan aneh, sementara ada beberapa pasangan tua yang tersenyum melihat betapa cerianya dia.
"Gadis yang ceria bukankah begitu tsuma?.
"Ahh...Benar anata... di jaman sekarang...jarang sekali ada gadis yang seperti itu".
.
.
~Toko Dango~
.
.
"Satu permen Dango... tolong"
"Sebentar... ahh bisa saya bantu nona muda?"
"Ahh..iya paman". Balas Madara sambil tersenyum, entah kenapa Madara sangat menyukai makanan manis ini, dia ingat setiap habis berlatih dengan adik-adiknya, ibunya sering membuatkan makanan manis ini, dia selalu ingat rasanya dan itu adalah tradisi keluarganya.
"Uangnya ada diatas meja paman" teriak Madara kepada pemilik toko kecil itu.
"Ahh..Arigatou nona, silahkan datang lagi" balas pemilik toko itu dengan senyuman diwajahnya.
Madara hanya tersenyum menanggapinya, ketika dia ingin berbalik , ada seorang gadis menabraknya dari belakang.
*Brukk*
"Ittai..m-maafkan aku, a-aku tidak melihatmu" Ucap orang itu yang ternyata seorang gadis sekolah sambil membungkuk meminta maaf.
Madara hanya bisa melebarkan matanya saat pernen Dango yang dipegangnya jatuh ke lantai.
"D-Dango ku"
"Sabar Madara, kau harus sabar kau tidak perlu membunuhnya hanya karna hal seperti ini"
"A-ano Onee-san?"
".. tidak apa-apa" kata Madara sambil menghela nafas.
"Sekali lagi saya meminta maaf onee-san". Gadis itu membungkuk sekali lagi. kemudian gadis itu pergi, Madara hanya mengangguk menanggapinya.
"Malaikat jatuh...kah?...Aneh, kenapa mereka ada disini?".
Dia menaikkan alisnya, ketika ada aktivitas Mereka di kota ini, dia juga merasa curiga dengan gadis itu. Walaupun itu bukan urusanya dia tidak masalah dengan hal itu.
"Yah.. itu bukan urasanku" ujarnya sambil mengangkat bahu, namun kemudian dia sadar akan sesuatu sambil melihat kelantai.
"Dih... sial Dango-ku"
.
.
.
Beberapa menit kemudian ketika Madara sibuk dengan pikiranya, sebuah energi aneh menerpa wajahnya, dia bisa merasakan energi ini milik salah satu mahkluk supranatural. Dia bisa merasakan energi ini ada di sebuah taman didekat tempat dia berdiri.
Tanpa disadari semua orang yang ada ditempat itu, Madara telah menghilang dari tempat tersebut, beberapa detik kemudian dia telah sampai ditaman tempat keluar energi tadi.
"Hmm..sebuah kekkai kah?!" Madara kemudian mengaktifkan sharingan-nya dan menggunakan Kamui untuk masuk kedalam kekkai tanpa terdeteksi.
Ketika dia masuk kedalam Kekkai, dia bisa melihat ada seorang remaja berambut coklat, yang terkapar dengan genangan darah diperutnya, dan seorang gadis bersayap gagak dan berpakaian aneh, dengan senyum arogan diwajahnya.
Lalu gadis itu terbang dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
"Jadi gadis yang menabrakku tadi yang membunuhnya ?, Hmm..apa itu?... jadi seperti itu... Menarik" batin Madara sambil memperhatikan bocah itu menggunakan Sharingan-nya.
"Benda itu bisa berguna untukku". Madara tidak peduli dengan bocah itu, dia hanya tertarik dengan sesuatu yang ada pada dirinya.
Ketika Madara hendak mengambil tubuh remaja yang terkapar ditempat itu, dia berhenti ketika sebuah lingkaran sihir merah muncul didekat tubuh remaja tersebut, menampilkan 3 sosok gadis remaja.
"Iblis?"
yang Pertama memiliki rambut merah terang dengan dada yang besar, Kedua seorang gadis yang memiliki rambut hitam, dengan dada yang lebih besar dari gadis yang pertama, yang ketiga membuat Madara terkejut.
.
.
.
"Shirone?"
.
.
.
"Shirone?...apa yang sebenarnya terjadi?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. Ketika Madara hendak menghampirinya, sebuah lingkaran sihir merah telah menelan mereka berempat dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Ck..iblis-iblis keparat..."
.
.
.
Dia sekarang memikirkanya, apa yang membuat dia bisa menjadi Iblis reinkarnasi dan kenapa dia bisa meninggalkan Kyoto? Apakah Yasaka lalai... itu tidak mungkin, Madara cukup kenal Yasaka dan tidak mungkin Yasaka membiarkanya begitu saja.
Jadi jika Shirone menjadi Iblis Reinkarnasi, apakah Kuroka juga bernasib sama? Dia harus memastikan sendiri.
"Jika aku melihat seragam mereka."
"jika dugaanku benar...Hanya satu cara untuk mengetahuinya..."
.
.
.
.
Disebuah bangunan tua yang memiliki tampilan cukup terawat, dan disalah satu jendela dibangunan tersebut, terlihat seorang gadis berambut merah sedang menatap seseorang, yang sedang berjalan di lapangan Sekolah.
"Kau tau Buchou"
"Hm?"
"Aku dengar akan ada murid baru disekolah kita" kata seorang gadis berambut hitam pony tail yang bernama Akeno.
Rias menghela nafas panjang ".aku tidak tau Akeno..hari ini entah kenapa aku tidak bersemangat sama sekali"
"Kamu terlalu memikirkan Issei-kun, Rias..."
"Yah...kamu mungkin benar, entah kenapa akhir-akhir ini setelah aku membangkitkanya menjadi Iblis, seolah sesuatu yang besar akan terjadi" ujar Rias tanpa melihat kearah Akeno.
Rias menatap langit dan merenung, mungkin dia Khawatir akan Pionnya atau sesuatu yang lain.
"Ara... mau bermain Catur untuk menghilangkan pikiran burukmu Rias...?" Tanya Akeno tersenyum sambil mendekat kearahnya.
"Tentu..kamu tidak bisa mengalahkanku" balasnya sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
Brakk
"Dengar... hari ini kita akan kedatangan murid baru" ujar wali kelas kepada murid-muridnya sambil menggebrak meja.
Seketika siswa dan siswi yang berada dikelas itu , mendadak diam dan patuh.. mereka tidak menyangkal hal itu, wali kelas mereka bisa menjadi menyeramkan jika dia serius.
"Bagus...aku harap kalian bisa menjaga sikap kalian, dan berteman baik denganya...Izuna-san silahkan masuk"
Begitu wali kelas mengucapkan namanya, seorang remaja tampan berkulit putih dan berambut hitam, masuk kedalam kelas dengan sedikit tersenyum.
Yang awalnya kelas senyap dan sunyi, sekarang mendadak menjadi ramai oleh teriakan para siswi dan tatapan tak pecaya dari para siswa..
"Diam" bentak wali kelas kepada siswa dan siswinya.
"Dasar kalian ini...melihat orang tampan sedikit saja, mata kalian menjadi hijau.."
"Ah... lupakan apa yang Ibu katakan... perkenalkan ini Izuna murid baru kita"
"Salam kenal Izuna-san" sapa para Siswa dan Siswi dikelas itu. Izuna tersenyum pada mereka dan menganggukkan kepalanya.
"Izuna-san kamu boleh duduk disebelah Keneko" ucap ibu wali kelas sambil tersenyum manis padanya.
.
.
.
.
"Ahh...ya Koneko-chan angkat tanganmu" kata wali kelas sambil menatap Koneko. Koneko mengangguk dan mengangkat tangan kananya ke udara.
"Nah..Izuna-san kamu boleh duduk disebelah Koneko-chan"
Izuna hanya mengangguk menanggapinya, dia menatap Koneko dan tersenyum kepadanya.. kemudian dia menghampirinya dan duduk disebelahnya. Koneko menatapnya sebentar dan kembali menatap papan tulis didepanya.
"Jadi namanya berubah heh..."
"Baiklah anak-anak jika sudah selesai, lanjutkan pelajaran yang ibu sampaikan tadi, buka halaman 69" perintah ibu wali kelas yang mendapatkan geraman dari para siswi, dan sorakan dari para Siswa.
"Yosh...pelajaran tentang Mantap-mantap" teriak salah satu siswa botak dengan seringai bejat diwajahnya .
.
.
.
.
"Hmm... jadi Koneko-chan...emt..apa boleh aku memanggilmu begitu? Ucap Izuna mencoba membuka suasana. Koneko meliriknya sesaat dan mengangguk.
Madara yang menyamar menjadi Izuna, sedikit bingung mau membicarakan apa, apalagi dia juga seorang wanita, dan juga melihat tatapan Koneko terhadapnya juga membuatnya merasa aneh.
Madara menyadari bahwa Koneko atau Shirone, telah berubah 180°. Dulu waktu dia masih kecil bersama Kuroka dia tidak seperti ini, dia periang seperti Kakaknya, tapi apa yang membuatnya seperti ini?.
Apa iblis yang melakukan ini?...apa mereka yang telah menculiknya dari Yasaka?... Dan apakah mereka yang mencuci otaknya?... Tapi kenapa?... Madara juga tau sifat Iblis, mereka licik, malipulator, dan serakah. Semua sifat buruk ada pada diri mereka.
Tapi apakah harus... membuat Shirone menjadi Iblis?
"Aku harus mengungkap ini, jika mereka terbukti bersalah...Kita lihat saja Mekkai akan rata dengan tanah"
Uchiha... nama itu menunjukan arti dari Cinta sesungguhnya, Cinta yang melebihi Senju.. Menurut Madara Yokai hampir mirip dengan Shinobi dalam artian energi mereka, Yokai memang menggunakan Chakra, tapi Chakra yang mereka gunakan berbeda dengan Shinobi.
Alih-alih menggunakan Chakra sebagai Ninjutsu, mereka menggunakanya sebagai Sihir, yang menurut Madara suatu hal yang tidak berguna.
Tunggu... dia lupa bagaimana mereka bisa memperoleh Chakra? Bukankah Chakra berasal dari pohon Shinju?. Bukankah pohon Shinju hanya ada satu?. Dan bahkan Shinju ada pada dirinya..mungkin ada penjelasan lain tentang ini?, Mungkin.
"Jadi Izuna-senpai... boleh aku memanggilmu begitu?" Tanya Koneko menghentikan lamunan Izuna. Izuna tersentak dan menganggukkan kepalanya.
"Apa yang membuat Senpai bersekolah disini?" Tanya Koneko sambil menatapnya.
Entah kenapa bagi Koneko, dia merasa sangat tenang berada di dekatnya, seolah dia begitu mengenal Izuna. Namun dia tidak tau mengapa ,Itu tidak biasa baginya.
Dia menghela nafas "Baiklah...jujur aku tidak tau...sebenarnya aku sedang mencari kedua adik perempuanku, sudah lama aku tidak melihat mereka" .
Koneko menatap Mata Izuna yang terlihat sedih "maaf Senpai aku tidak bermaksud untuk..." kata Koneko.
"Tidak apa-apa, aku hanya berharap aku bisa bertemu dengan mereka" katanya sambil tersenyum, Koneko menatapnya dan membalasnya dengan senyuman kecilnya.
.
.
.
.
"Apa ini? aku belum pernah melihat Koneko-chan tersenyum"
"Pstt..hei kalian berdua...botak dan si mesum 4 mata..." bisik Issei memanggil sahabat bejatnya Matsuda dan Motohama..
"Apaan sih.. Nolep Cabul..berisik"
"Kalian juga Cabul...asw"
"Issei dan kalian berdua Matsuda dan Motohama, Ibu tau ini adalah pelajaran favorit kalian tapi...tolong jangan berisik, Ibu sedang mengajar disini" teriak ibu walikelas dengan menggebrak meja didepanya. Membuat Mereka bertiga takut seketika.
"Hai sensei.."
Izuna menatap mereka, dan memperhatikan bahwa bocah yang telah tewas di taman, tempat ia menemukanya telah menjadi iblis reikarnasi.
"Sudah kuduga mereka licik, mengambil keuntungan dari menderitanya seseorang..Shirone dan bocah ini..."
Issei yang merasa diperhatikan oleh Izuna, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arahnya dan membalasnya dengan pandangan Sinis.
"Apa yang kau lihat pangeran tampan?...tidakkah kau sadar hidupku telah semakin buruk setelah kau ada disini" teriaknya sambil menangis dan merasa gagal untuk menjadi raja Harem.
"Dulu Kiba sekarang ini, apakah tidak ada tempat untuk orang sepertiku ini?" Batin Issei sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
Izuna menatapnya dan entah kenapa, ketika Issei melihat tatapan Izuna malah semakin takut dan jijik.
.
.
.
.
"Loginus...kah? Bocah yang menarik bukan begitu Shinju.."
.
.
.
Sekolah telah berakhir 5 menit yang lalu, Madara atau Izuna sekarang berjalan ditengah lapangan sekolah dengan santai, dibelakangnya ada Issei dan dua sahabatnya Matsuda dan Motohama.
Mereka bertiga sedang mengawasi Izuna, pangeran tampan baru dan musuh baru Issei dalam mendapatkan Harem. Ketika mereka ada digerbang sekolah, Matsuda dan Motohama meninggalkan Issei sendirian.
"Dasar kalian tidak berguna" batin Issei menatap para sahabatnya yang telah lari meninggalkanya.
.
.
.
Ketika Izuna melewati taman, Dia sengaja berjalan di belakang pohon didepanya, Ketika Issei sendirian mengikuti Izuna dia tidak sadar bahwa Izuna telah ada dibelakangnya dan mengagetkankanya.
"Mau apa kau mengikutiku?"
Issei kaget dan hampir berteriak " Bagaimana kau ada..." namun kata-katanya terputus, ketika Izuna bertanya sekali lagi kepadanya.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Issei gelagapan ketika melihat tatapan datar Izuna, dia harus mengakui tatapan itu membuatnya terganggu. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya seolah tenggorokanya tercekat.
Izuna kemudian sadar, dia sudah terlalu lama disini, dia harus pergi ada banyak urusan yang harus diselesaikan daripada berurusan dengan bocah tidak berguna ini.
"Lupakan apa yang aku katakan" ketika Izuna megatakan itu, dia berjalan melewati Issei yang memiliki tatapan bingung di wajahnya.
.
.
.
Madara sekarang berada di rumah pribadinya, dan sekarang dia tidak menggunakan henge untuk berubah menjadi Izuna, dia duduk dan meminum secangkir Teh ditanganya.
Dia sekarang hanya mengenakan Tank Top hitam yang melindungi dada berisi miliknya, dan celana jeans Hitam faforitnya, sedangkan rambut hitam panjangnya di biarkan tergerai kebelakang.
"Hah... hari yang melelahkan"
"Selalu bermalas-malasan seperti biasa Madara"
"Shinju...? apa itu kau?" Tanda tanya muncul di kepala Madara.
"Bukan ini orang lain...tentu saja ini aku"
"aku hanya bercanda , begitu saja kau baper, Shinju" ucap Madara sambil terkikik.
"Hah...terserah kau saja...jadi apakah ada petunjuk tentang Kaguya... Madara?" Tanya Shinju dalam mode seriusnya.
"Aku tidak terlalu yakin...prasasti batu yang aku temukan di Kyoto, hanyalah prasasti biasa yang hanya membahas hal-hal yang tidak berguna. Jelas mereka belum tau tentang Kaguya" Kata Madara sambil menghela nafas.
"Jadi apakah kau ingat sesuatu Shinju?..kau telah lama mengenal Klan Otsutsuki dan kemampuan mereka, apakah kau tau sesuatu" Lanjut Madara.
Shinju menutup Matanya dan mulai mengingat sesuatu" ...Dia mengatakan bahwa tujuan dia menciptakan Zetsu putih adalah, untuk membuat sebuah tentara."
"Dan untuk kekuatan mereka...aku tidak terlalu yakin..sebagian besar kekuatan Kaguya adalah untuk memanipulasi ruang dan waktu...jika dugaanku benar Mereka kurang lebih sama dalam hal itu...namun kau harus hati-hati Madara..kau masih selamat melawan Kaguya karna dia tidak terlalu memiliki pengalaman bertarung yang murni...Itu mungkin juga alasan Kaguya membuat tentara Zetsu putih untuk menjadi pagar depanya...." jelas Shinju dengan panjang lebar.
Madara menutup matanya dan mengangguk.."Dan dia mengatakan bahwa "mereka" sesuatu yang belum kita ketahui kekuatanya, maksudku apakah ada manusia yang memiliki kekuatan luar biasa selain Otsutsuki?". Bukanya mendapat jawaban, mereka malah membuat banyak pertanyaan di kepala mereka.
Otsutsuki adalah misteri, jika hanya Kaguya saja sudah membuat Madara kerepotan, apalagi ditambah Mereka yang belum tentu jumlah mereka, apalagi kekuatan Mereka.
.
.
.
"Jika saja sebagian ingatanku kembali , mungkin akan lebih mudah" batin Shinju sambil menutup Mata tunggalnya.
.
.
Keesokan paginya, kebetulan ini adalah hari minggu jadi Madara tidak perlu pergi kesekolah, jadi dia punya banyak waktu untuk mengawasi Shirone atau melakukan sesuatu yang berguna.
Seperti.
"Sial...aku benar-benar bosan.. tidak akan ada yang bisa aku lakukan didunia ini...tanganku juga sudah gatal ingin menghancurkan wajah seseorang" katanya sambil berbaring di atas kasur King size nya. Sementara wajahnya yang cantik ditutup dengan bantal miliknya.
Dia telah menggunakan Moku-Bunshin-nya untuk melakaukan sebagian besar perkerjaanya. Seperti mengawasi Shirone, membasmi iblis liar di kota ini atau sesuatu yang perlu dilakukan..
"Hm..mungkin berkunjung menemui Yasaka atau bertemu dengan Dewa Shinto...itu tidak terlihat membosankan" batinya sambil melirik jendela disampingnya.
.
.
.
.
Madara kemudian bangun dari tempat tidur sambil menggosok rambut panjangnya, dan kemudian Dia mengambil handuk dan berjalan kearah kamar mandi, untuk melakukan rutinitas.
Sekitar 30 menit berlalu, Madara telah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Kemudian dia berjalan kearah lemari tempat dimana dia menyimpan Baju dan senjata miliknya.
Dia memilih baju favoritnya, yaitu Kaos hitam lengan panjang dengan lambang Klan Uchiha di punggungnya, dan sebuah celana jeans hitam, setelah itu dia memakai sepatu santai berwarna hitam. Sementara rambutnya dibiarkan tergerai kebelakang, dengan poni yang menutupi mata kananya.
Bagi Madara warna hitam dan merah adalah warna Favoritnya, walaupun terlihat agak Dark, menurut pendapat banyak orang, tapi dia tidak peduli
.
..
"Sudah saatnya"
.
.
Bersambung.
Author tau bahwa Koneko berbeda kelas dengan Issei, tapi author membuatnya menjadi satu kelas dengannya agar lebih mudah. Tapi umur mereka sama seperti di Canon.
Madara-Chan terlalu OCC :)
Author juga bingung dengan sifat Fem Madara. Bagusan OCC atau ke sifat Asli seperti Canon ? Menurut Reader bagus yang mana? JikaOcc nya menggangu, Author akan mengubahnya di Chapter yang akan datang.
Dah lah itu saja untuk Chapter ini...
Author minta maaf jika Chapter ini pendek...Dan Maaf jika Reader yang menunggu lama untuk ini...
Oh ya author telah menonton anime berjudul Bikini Warrior, dan author sangat suka Karakter Mage, Gadis kecil imuet dengan TT Gede :)
.
.
Thanks
L
