Chapter 5

Red Moon

Kyoto kota yang indah, salah satu kota bersejarah di Jepang dan menjadi salah satu pusat kegiatan parawisata bagi turis luar. Kota yang mengingatkannya akan kampung halamanya, dia juga bisa melihat berbagai kuil Shinto disetiap sudut kota.

Dia bekedip beberapa kali ketika dia melewati pohon yang sangat besar dan tinggi di tengah-tengah kota.

"Jika ingatanku benar,bukankan 10 tahun yang lalu pohon ini sekitar 2 meter, tapi kenapa sekarang pohon ini hampir sekitar 50 meter?" Dia berfikir namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia sadar kalau bukan itu tujuannya kemari, namun dia berkunjung karena ada sesuatu.

Dia berjalan dengan diam ketika dia melihat seekor kucing yang sedang bermain dengan kucing lainnya. Seketika ingatan-ingatan masalalu memenuhi kepalanya.

.

.

"Onee-chan lihat ini ada seekor kucing"

"Wah..lucu sekali kucingnya...Izuna"

"Onee-chan aku ingin kucing itu..."

"Baiklah...tapi onee-chan ada satu syarat"

"Apa itu onee-chan?"

Namun gadis kecil itu hanya tersenyum kepada anak kecil yang memanggilnya Onee-chan tersebut.

.

.

"Izuna!" Gumam wanita itu dengan wajah sedih, dia menggelengkan kepalanya dengan lembut, mencoba menghilangkan kenangan-kenangan masalalu yang mengganggu pikirannya. Dia mendongak menatap langit mendung, yang secara perlahan meneteskan airnya.

Dia merasakan air yang menerpa wajah dan tubuhnya, kemudian mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang sedang berdo'a.

"Di dunia ini, akan ada sesuatu yang membuat kita merasa kehilangan, ketidakpuasan akan sesuatu, manusia telah menjadi mahkluk mengerikan, yang mementingkan ego dunia"

.

.

.

"A-ano Onee-san"

Wanita itu menghela nafas, dia kemudian berbalik menatap seseorang dibelakangnya, dia mengangkat alis ketika yang memanggilnya adalah seorang gadis kecil yang menggunakan sebuah payung untuk menghalau air hujan yang membasahi tubuh mungilnya .

"Hmm..?"

Gadis kecil itu tersenyum padanya."Onee-san nggak kedinginan?" Kata gadis kecil itu dengan senyuman diwajahnya.

Wanita itu tersenyum lalu membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan gadis kecil itu, kemudian menyentuh dahi gadis kecil itu dengan jari telunjuknya.

Gadis kecil itu menggosok dahinya seraya menatap wanita itu dengan mengerucutkan bibir.

"Onee-san lagi olahraga jadi kamu gak usah khawatir"

Namun Gadis kecil itu memiringkan kepalnya bingung, "Onee-san nanti malah sakit loh.."

"...Onee-san sudah terbiasa" balas wanita itu tersenyum untuk meyakinkan gadis kecil itu.

"Emt...baiklah Onee-san.. kalau begitu aku pergi dulu ya..!" Pamit gadis kecil itu sambil berjalan dan melambaikan salah satu tangannya kearah wanita itu.

.

.

.

"Lembut seperti biasa ehh, Madara?" Sebuah suara berat dan kasar mengejutkanya.

"Shinju?...tidak bisakah dirimu untuk tidak mengagetkanku?" Balas Madara dengan suara kasar di pikirannya, Namun itu memiliki efek sebaliknya ketika Shinju malah terkekeh dengan suara beratnya.

"Apa ada yang lucu...?" Ketus Madara dengan menyilangkan lengan dibawah payudaranya.

"Tidak ada..hanya saja akhir-akhir ini setelah perang, entah firasatku atau apa, kau sangat lembut dengan seseorang , terutama terhadap gadis kecil"

"Itu hanya perasaanmu"

"Yah..mungkin itu hanya firasatku..tapi aku hanya berharap...jika di pertempuran kau jangan menunjukan sifat lembut itu Madara"

"Aku tau apa yang harus dilakukan...Shinju"

Shinju menyeringai, Madara adalah sosok wanita yang mengerikan jika berbicara soal pertempuran, dia berfikir jika Reinkarnasi dari salah satu anak dari Rikudou Sennin, Indra Otsutsuki, memiliki sifat yang sama dengan leluhurnya Indra.

Namun ada satu hal yang berbeda dengan Madara, Dia mulai sedikit Khawatir jika Madara membuat keputusan bodoh. Dengan kekuatan sebesar ini, dia khawatir Madara menjadi Kaguya kedua, yang gila akan kekuatan dan kekuasaan, bukan tidak mungkin...itu bisa saja terjadi.

Walaupun kekuatan Shinju belum lengkap sepenuhnya, namun dia tidak terlalu khawatir dengan hal itu, dia hanya khawatir akan Madara.

.

.

.

Hujan masih mengucur dengan deras membasahi kota, Madara berlari-lari kecil di tengah jalanan yang mulai terendam air, itung-itung ini sebagai latihan kecil untuk meregangkan ototnya.

.

.

.

Kunou gadis kecil dengan sembilan ekor emas, anak dari Yasaka no Kyubi, dia terlihat melamun di kamarnya, dia merenung ketika dia melihat sebuah foto yang memperlihatkan seorang gadis kecil berambut hitam, dan gadis kecil berambut putih di gendongannya, dan seorang wanita cantik berambut hitam panjang disampingnya.

Dia tersenyum dan kemudian memeluk foto itu dengan lembut.

"Kuroka onee-chan, Shirone-chan dan bibi Madara, kapan aku akan bertemu dengan kalian?" Dia merenung dengan sedih, kemudian air mata kecil terbentuk Dimata emasnya yang Indah.

Kunou melihat ke arah jendela dan memperhatikan seseorang berlari kecil di jalanan kota Kyoto yang tergenang air karna hujan, dia menyipitkan matanya namun seketika matanya melebar.

"Bukankah itu..."

.

.

.

"Hmm..Kunou?"

Kunou melebarkan matanya dan tersentak, dia berbalik dan menatap sesosok wanita yang baru saja dia perhatikan namun dengan sekejap mata wanita itu tiba-tiba ada didalam kamarnya.

Dia berhenti dari keterkejutannya dan kemudian menutup mulutnya lalu setetes air mata keluar dari mata emasnya.

"Bi-bibi Madara!" Dia berlari kearah Madara dan kemudian memeluknya, Madara tersenyum dan membalas pelukan Kunou dengan hangat, dan mengusap rambut emasnya dengan lembut.

"Kamu masih memanggilku seperti itu, Kunou"

"Bi-bibi Madara (hiks) Kunou sangat merindukan Bibi (hiks)" dia hanya bisa terisak dipelukan Madara, dia menguatkan pelukannya seolah dia tidak ingin, Madara meninggalkannya.

Madara tersenyum lembut ,dan secara perlahan melepaskan pelukan darinya. "Bibi tau..Bibi juga merindukanmu..Kunou"

*Tuk*

"I-ttai..bibi selalu seperti itu" rengeknya dengan suara lucu. Madara terkekeh dan kemudian berdiri.

"Jadi...Kunou dimana Ibumu?" Tanya Madara sambil menyilangkan lengannya di bawah payudaranya.

Kunou berhenti merengek sambil mengusap dahinya, dan kemudian senyum lebar diperlihatkannya padanya.

"Okaa-sama lagi ada urusan dengan beberapa tetua, tapi Kunou tidak tau urusan apa itu"

Madara mengangguk "bibi mengerti...nee Kunou? Bisakah kamu menemani bibi menjelajahi istana ini?"

Kunou mengangguk dengan cepat "Hai...tapi bibi harus menggendong Kunou?" Katanya sambil tersenyum hangat kearah Madara.

Madara menghela nafas, sifat Kunou yang kekanak-kanakan tidak pernah bisa berubah jika Dia ada didekatnya. Madara mengangguk dan kemudian mengangkat Kunou dan meletakkanya di punggungnya.

"Yai..asik" Kunou tertawa dengan gembira, dia mengingat kenangan-kenangan bersama Madara, Kuroka dan Shirone bersamanya, sementara ibunya akan menatap mereka dengan senyum manis diwajahnya.

Ingatan-ingatan itu adalah suatu hal yang menyenangkan bagi Kunou, dia tidak menyangkal hal itu, dia ingat sebelum Kunou bertemu Madara, dia hanya bisa bermain dengan pengasuhnya Ahri.

Namun setelah kedatangan Madara seolah hidup Kunou berubah drastis, dia menjadi periang dan murah senyum, tapi setelah Madara memutuskan untuk pergi, kehidupan Kunou kembali seperti sebelumnya.

Madara juga maklum terhadapnya, Kunou juga jarang bisa bermain bersama ibunya Yasaka, sebagai seorang ibu sekaligus pemimpin Yokai, Yasaka terpaksa harus mengurangi waktu bersama anaknya dan harus memprioritaskan Fraksi Yokai.

Dan bagi Madara, Kunou adalah sosok anak yang sangat menyayangi ibunya, seperti dirinya ketika masih kecil. Namun berbeda dengan dirinya, Kunou tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya setelah Kunou dilahirkan. Yasaka juga memberitahukan kepadanya bahwa ayah Kunou telah pergi entah kemana setelah mengetahui Yasaka hamil.

Madara mengerti perasaan Yasaka sebagai seorang wanita, dia bisa mengerti karena dia juga seorang wanita. Namun Madara dapat menghilangkan perasaan Cinta yang selama ini berkecamuk di hati dan otaknya.

Cinta dan kasih sayang suatu yang berbeda, Memang Madara menyayangi keluarganya lamanya dan keluarga barunya. Dan terutama dia sangat menyayangi almarhum Ibunya dan almarhum adiknya Izuna.

Jika kalian bertanya apa dia merasa sedih kehilangan keluarganya?.. Jawabannya adalah iya, Hashirama pernah mengatakan bahwa hanya Cinta yang bisa membawa perdamaian. sedangkan bagi dirinya Kekuatan yang bisa membawa perdamaian.

Tapi setelah berlalunya waktu dia akhirnya sadar dan mengerti bahwa Cinta dan Kekuatan dibutuhkan untuk membawa perdamaian.

Madara adalah reinkarnasi Indra, sedangkan Hashirama adalah reinkarnasi Ashura, Yin dan Yang suatu energi penyeimbang. Namun Madara terlah mendapatkan dua energi itu sekaligus, sebagai Uchiha terakhir dan sebagai seorang wanita apa perlu dia untuk mencari cinta sekali lagi?.

Itu mungkin pertanyaan yang sulit bagi Madara, karna dia menolak ide tentang Cinta yang sering dibicarakan Hashirama dan almarhum Ibunya. Tetapi setelah kejadian-kejadian yang terus menimpanya, akhirnya dia sadar kekuatan bukanlah segala hal.

.

.

.

"Bibi..Bibi..Bibi"

Madara tersentak dari lamunannya dan kemudian menoleh ke kiri, sedangkan Kunou yang berada di gendongan Madara, hanya menatapnya dengan khawatir.

"Hmm..ada apa Kunou?"

"Bibi baik-baik saja?..Kunou khawatir dengan bibi!"

"bibi baik-baik saja". Ini membingungkan bagi Madara, apa yang membuat akhir-akhir ini selalu membuat dia melamun. Itu tidak biasa baginya sebagai seorang kunoichi.

.

.

.

"Bibi...Kunou ingin mendengar sebuah cerita..." Kunou berteriak ditelinga Madara, Madara memiringkan kepala mencoba mengurangi efek suara cempreng Kunou.

"Kunou...suaramu menyakiti telinga bibi..."

Kunou terkikik canggung "maaf bibi..hihi".

Madara menghela nafas panjang, "hah baiklah, bahkan jika aku menolaknya pasti kamu akan mengganggu bibi" dia menutup Matanya dan kemudian Madara tersenyum kecil.

"Yai..." Kunou berteriak dengan gembira sambil menggoyang-goyang kakinya.

"Pada jaman dahulu sebelum manusia memiliki kekuatan, mereka hanyalah manusia fana yang tidak berdaya, namun hal itu tidak bertahan lama. "

"Bertahun-tahun kemudian mereka menemukan sebuah pohon yang mereka anggap suci, manusia memanfaatkan energi pohon Suci untuk memenuhi kehidupan mereka, namun karna sifat manusia yang serakah mereka berperang satu sama lain untuk mengklaim pohon suci itu"

"Jadi apa yang terjadi dengan pohon itu bibi?" Dia bertanya dengan penasaran.

Madara tersenyum dan kemudian melanjutkan "Bertahun-tahun perang belum berakhir, akhirnya seorang Dewi yang melihat itu geram akan perbuatan mereka, Dewi itu turun kebumi untuk mengambil buah pohon suci yang hanya berbuah seribu tahun sekali, "

"Namun pohon suci itu tidak terima akan perbuatan sang Dewi, pohon suci pun berubah menjadi mahkluk yang menyeramkan untuk mengambil buah miliknya yang telah di ambil sang Dewi".

" Namun karna sang Dewi tergiur oleh buah itu, akhirnya dia memakan buah pohon suci tersebut. tanpa disadarinya dia memiliki kekuatan untuk mengontrol pohon suci tersebut. "

"Tak lama kemudian sang Dewi melahirkan 2 anak lelaki, bertahun-tahun sang Dewi membesarkan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Namun ada sesuatu yang mengganjal dipikiran sang Dewi."

"Apa itu bibi?"

"Sang Dewi menyadari bahwa kedua anaknya akan lebih kuat darinya, sang Dewi takut akan hal itu. akhirnya sang Dewi terpaksa harus mengambil kekuatan kedua anaknya untuk menjadi jauh lebih kuat."

" namun kedua anaknya menyadari hal tersebut, kedua anak sang Dewi menyadari bahwa ibu mereka telah gila akan kekuatan dan berniat untuk menguasai dunia.

"Akhirnya pertarungan sang Dewi dan kedua putranya terjadi, mereka bertarung sampai tiga bulan lamanya sampai membuat bumi hampir hancur oleh mereka,akhirnya Sang Dewi dan kedua putranya mengalami kebuntuan. "

''Kedua putra sang Dewi akhirnya memutuskan untuk menyegel Ibu mereka di bulan. Namun cepat atau lambat sang Dewi akan bangkit kembali." Madara memutuskan mengakhiri ceritanya, jika dia melanjutkan sampai selesai, sampai besok pun tidak akan selesai.

"Jadi Kunou apa pelajaran yang kamu dapatkan dari kisah ini?" Madara bertanya kepadanya namun sekian lama tidak ada jawaban, Madara melirik kebelakang kearahnya.

"Zzzzzzz zzzz"

Madara swetdrop jadi selama ini dia tertidur digendongnya, namun dia tersenyum lembut mungkin memang benar ceritanya membosankan.

"Hah dia ngiler di pundak ku"

"Zzzz zzzz "

.

.

.

"Berhenti di tempatmu!" Sebuah suara feminim muncul tepat dibelakang Madara, Madara berhenti dan melirik kebelakang.

"Apa yang kau lakukan terhadap Kunou-ojousama?, Apa kau menculiknya?" Teriak suara feminim tersebut dengan aura yang mulai menguar dari wanita dibelakang Madara.

Madara masih membelakangi wanita tersebut, namun dia menyeringai dan mulai tertawa kecil. wanita dibelakangnya menyipitkan matanya seolah sedang mengamati wanita yang ada didepannya..

"Chakra mengerikan macam apa ini? Jauh lebih kuat dari Yasaka-Sama"

"Kau sudah melupakanku? Heh,,,,Ahri?"

.

.

.

*Deg*

Ahri membelalakkan matanya ketika Wanita didepannya menyebutkan namanya. " Siapa dia sebenarnya?" Dia mengeraskan kepalan tangannya.

Sebagai tangan kanan Yasaka dan pengasuh Kunou, Ahri ditekankan untuk menjaga Kunou dan menghentikan apapun terhadap ancaman yang mengincar Kunou bahkan jika itu mengorbankan nyawanya.

Namun dia semakin terkejut ketika wanita didepanya membalikan tubuhnya.

"K-kau..."

"Apa kabar...Ahri"

"M-Madara-Sama"

.

.

.

Berhenti dari keterkejutannya, Ahri kemudian mendekati Madara dan Kunou yang ada didendonganya.

"Maaf Madara-Sama, saya telah lancang" kata Ahri sambil membungkuk hormat.

Madara tersenyum dan menyentuh pundaknya, "tidak usah dipikirkan, itu memang kewajibanmu sebagai tangan kanan Yasaka"

"Hai...sekali saya minta maaf"

Madara mengangguk dan mengambil Kunou dipunggungnya. "Kunou tertidur di gendongan ku, jadi aku meminta bantuanmu untuk membawanya ke kamarnya"

Ahri membungkuk sekali lagi dan kemudian mengambil Kunou dengan pelan dari Madara. "Hai..pasti susah untuk menangani Kunou-Chan ,,Madara-Sama"

Madara menghela nafas "yah...kau yang paling tau sifat Kunou, Ahri" ucap Madara sambil menatap Kunou yang masih tertidur pulas di gendongan Ahri.

"Oh...ya dan satu hal lagi!"

"Hm?...ada yang bisa saya bantu Madara-sama?"

"Jangan memberitahukan Yasaka, jika aku berada disini, kamu mengerti maksudku Ahri?"

"Hai...saya mengerti"

"Yosh..aku mengandalkamu.. Ahri"

Dan setelah mengatakan itu Madara telah menghilang dari hadapan Ahri yang memandang kepergian Madara dengan tatapan sendu.

"Kunou-chan pasti akan sedih, ketika Madara-Sama telah pergi"

.

.

.

*Kruyuk*

"Uhh...perutku..pasti ada sesuatu untuk dimakan" Madara mengusap perutnya dengan pelan, rasa lapar yang tak tertahankan membuat suara-suara aneh didalam perutnya.

"Hm...Dango?.. Ahh membosankan" ucap Madara dengan wajah lesu, memang dia sangat menyukai Dango, tapi dia juga memiliki rasa bosan akan makanan.

Dia melirik beberapa toko makanan, dari makanan tradisional sampai makanan cepat saji. Dia berhenti ketika dia melihat kedai makanan yang bertuliskan Ichiraku Ramen.

"Ramen?...bukankah itu makanan kesukaan Obito?" Dia memutuskan untuk masuk kedalam kedai, didalam kedai dia bisa melihat ruangan sepi, sederhana yang cukup untuk menampung lima pelanggan.

"Selamat datang Nona...bisa saya bantu" ucap seorang pria tua sekitar umur 60an, yang Madara asumsikan sebagai pemilik kedai.

Madara mengangguk menanggapinya, "aku pesan Ramen special" kata Madara sambil duduk disalah satu bangku sederhana.

"Baik..satu ramen special akan datang" kata pemilik kedai sambil tersenyum diwajah tuanya.

Madara belum pernah memakan ramen dia hanya penasaran bagaimana rasanya. Obito pernah mengatakan jika Ramen makanan yang sangat nikmat, (sifat femMadara terhadap Obito berbeda dengan di Canon) jadi dia sangat penasaran dengannya.

"Ramen special telah siap...selamat menikmati nona"

Madara menatap mangkuk yang berisi ramen special dengan wajah tertarik, dia menghirup baunya dan bisa mencium berbagai rempah didalamnya.

"Menarik"

.

.

.

Bersambung

Sifat Madara terlalu kalem?