Title : Mikrokosmos

Genre : Romance, BxB, Warn!Mpreg

Rating : NC 21+

Length : 7 Chapters, 1 Prologue, 1 Epilogue

Cast : Nakahara Chuuya, Dazai Osamu, Mori Ougai, Fyodor Dostoevsky, Kunikida Doppo, etc

[DISCLAIMER]

All the characters are made by Kafka Asagiri and Harukawa35. Pitik hanya buat FFnya saja, ehe!

Chapter 1

Dalam satu malam, penghuni rumah Nakahara Chuuya bertambah satu. Lelaki asing yang ia temukan di samping tempat pembuangan sampah dengan luka di tubuhnya. Sangat aneh.

"Dazai-san, aku harus berangkat ke kantor pagi ini," sebuah sapaan mengusik lelaki amnesia itu.

"Kau bisa memasak di dapur. Aku masih memiliki beberapa bahan di kulkas. Kalau ingin mandi kau bisa meminjam pakaianku di lemari," Chuuya mengatakannya dengan cepat sambil memakai sepatunya.

Dazai menyeret kedua kakinya ke ruang tengah, menatap Chuuya dengan raut setengah sadar.

"Aku sudah bolos kerja kemarin. Jadi aku harus pergi sekarang," pamit Chuuya sambil menutup pintunya.

Dazai mengerjap pelan. Ia menoleh ke sekeliling rumah bingung.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lagi dengan kepala Chuuya menyembul di sela-selanya.

"Kalau kau ingin keluar rumah, jangan lupa kunci pintunya," itu pesan terakhir Chuuya sebelum pintu ditutup untuk kedua kalinya.

Dazai masih mematung di tempat. Ia belum mengenakan atasan. Hanya perban yang menutupi lukanya. Celananya juga belum berganti sejak kemarin.

Lelaki itu berbalik, berjalan menuju halaman belakang rumah. Kemeja dan jas panjangnya sudah bertengger di jemuran. Robek di bagian bekas lukanya.

Dazai meraba kemeja putih itu pada bagian lubangnya, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia berada di sini. Apa alasan dari luka-lukanya.

Mendadak kepalanya terasa amat pening. Matahari belum bersinar terik. Chuuya berangkat ke kantor sebelum pukul 8. Sedangkan panas matahari baru terasa lepas pukul 9.

Mungkin pening itu penyebab amnesianya. Mungkin. Itu asumsi Dazai yang bahkan melupakan nama lengkapnya.

Hanya 'Dazai' yang diingatnya. Tidak lebih.

.

.

.

Kembali dalam kehidupan kantornya, Chuuya disibukkan dengan surat dan laporan yang datang silih berganti. Ia memaksakan kedua matanya untuk fokus pada monitor komputer sambil sesekali menyesap kopi di mejanya.

"Terlalu serius juga tidak baik, Chuuya-kun," interupsi Mori Ougai, pimpinan divisinya.

"Aku ingin pulang cepat," balas Chuuya tanpa sedikitpun melirik pria di depan mejanya.

Mori mengambil kursi dan duduk di hadapan Chuuya, memperhatikan lelaki itu sambil bertopang dagu.

Selang beberapa menit, Chuuya mendesah puas. Itu selebrasi yang biasa dilakukannya ketika selesai mengerjakan tugas.

"Mau menemaniku ke kantin?" celetuk Mori.

Chuuya melirik rekan kerjanya itu bingung.

"Ke kantin?" ulangnya.

Chuuya mengangguk paham, "Karena aku sudah menyelesaikan tugasku, jadi ayo."

Mori tersenyum senang. Chuuya mungkin satu-satunya pegawai yang bisa bicara dengan normal. Kajii itu maniak kerja dan Tachihara terlalu misterius.

Mereka berdua duduk di kursi kantin. Sementara Mori memilih-milih menu, Chuuya sudah menulis pesanannya.

"Udon?" tanya Mori. Chuuya balas mengangguk. Itu menu langganan yang selalu dipesannya di kantin.

Pelayan sudah mengambil pesanan mereka. Hanya perlu menunggu beberapa menit sampai makan siang mereka siap.

"Hei, Chuuya," yang dipanggil lekas mendongak, "Tidak biasanya kau bersemangat dengan tugas."

Chuuya memasang raut serius. Mori sampai tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran rekan kerjanya itu.

"Apa akhir-akhir ini ada pengumuman orang hilang?" tanyanya tiba-tiba.

Mori mengernyitkan dahi. Pertanyaan juniornya itu sangat acak. Chuuya sendiri tinggal jauh dari keluarganya. Ia juga jarang bersosialisasi dengan orang selain pegawai kantor. Mengasumsikan bahwa lelaki itu peduli dengan orang hilang sangat tidak mungkin.

"Apa yang ada di dalam kepalamu?"

"Aku hanya bertanya. Kalau tidak ada, bukan masalah bagiku," balasan yang terkesan dipaksakan.

"Apa hubunganmu dengan orang hilang itu? Apa adikmu hendak berkunjung dan hilang di jalan?" balas Mori imajinatif.

"Mori-san, berhenti mengkhayal. Aku tidak punya adik," ralat Chuuya.

"Benar yang punya adik itu Ryuunosuke."

Chuuya memijat keningnya pelan, tampak seperti orang frustasi. Mori terlalu banyak berpikir dan berakhir gagal menebak jalan pikiran lelaki itu.

"Ceritakan masalahmu. Kau tahu, aku bisa menjaga rahasia," tawar Mori.

Chuuya mendengus pelan, "Aku bertemu dengan lelaki amnesia di jalan."

"Tinggalkan saja, seperti biasanya."

"Tidak bisa," Chuuya menggelengkan kepala, "Dia terluka parah."

"Dan kau menampungnya di rumahmu?"

Chuuya mengangguk.

"Dan kau meninggalkannya ke kantor?"

Dua kali anggukan.

Mori memukul meja kantin, membuat beberapa pegawai menoleh ke arah mereka. Chuuya ikut terkejut karenanya.

"Maaf, terbawa suasana," dehem Mori kemudian.

"Bagaimana?" frustasi Chuuya sambil menyandarkan kepala di atas meja.

"Chuuya-kun ternyata seratus persen bodoh," ejek Mori.

"Ha?!" Chuuya mendongak dengan wajah kesal. Ia membutuhkan pencerahan dan atasannya malah mengejeknya.

"Kau baru saja mempercayakan rumahmu. Harta berhargamu dikuasai orang asing," tekan Mori, "Itu modus pencurian."

Chuuya terbelalak. Ia baru menyadari fakta itu detik ini. Dazai bisa saja berbohong soal amnesianya. Ia juga bisa saja mengambil barang-barangnya dan pergi. Chuuya juga meninggalkan kunci di rumah. Kalau Dazai benar-benar jahat, ia bisa saja membuat Chuuya menjadi gelandangan.

Hidupnya juga hancur dalam semalam.

"M-Mori-san, bisakah aku pulang sekarang?" gugup Chuuya.

Mori menunjuk dirinya sendiri bangga, "Mulai sekarang anggap aku atasan yang pernah menyelamatkan hidupmu. Aku mengizinkanmu-,"

"Terima kasih, Mori-san," potong Chuuya cepat seraya berlari keluar kantin.

Mori masih tersenyum bangga sampai pelayan datang dengan dua mangkuk udon.

"Aku lupa kita berada di kantin."

.

.

.

Chuuya kalang kabut. Ia hanya membawa dompet dan ponselnya saja. Tanpa laptop. Ia meninggalkan barang besar itu di kantor.

Untungnya bus datang dengan cepat. Ia tidak perlu menunggu bermenit-menit di halte. Ketika turun, lelaki bersurai sinoper itu berlari kesetanan. Ia mengambil jalan pintas, gang tempatnya menemukan Dazai tempo hari.

Pintu rumahnya tak terkunci ketika Chuuya berhambur masuk. Pelipis dan keningnya penuh dengan keringat. Kemeja kerjanya juga basah.

Tepat di hadapannya orang baru itu masih ada, Dazai. Dia tidak sedang mencuri barang berharga seperti asumsi Mori. Tapi ada tali yang tergantung di penyangga atas langit-langit serta kursi di bawah kakinya. Dazai sedang memegangi tali itu di sekeliling lehernya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Chuuya.

Dazai balas menatapnya polos, "Bunuh diri."

"TURUN!" paniknya.

Lelaki yang masih terbalut perban itu melepaskan tali yang melilit lehernya dan turun dari kursi.

Azure Chuuya menatap Dazai penuh amarah. Ia tidak habis pikir dengan situasinya. Beberapa detik sebelumnya ia sempat mengira Dazai adalah seorang pencuri. Pada kenyataannya ia malah mencoba bunuh diri. Itu sangat merepot- tunggu.

"Dazai-san," panggil Chuuya sambil menyandarkan tangan pada bahu kiri Dazai yang tidak terbalut perban.

"Apa ingatanmu sudah pulih?" Kalau sudah kembali, artinya Chuuya bisa segera mengusirnya.

Lelaki itu menggeleng pelan, "Belum."

"Ha?!" Chuuya mendongak kesal. Bunuh diri bukan sesuatu yang akan dilakukan tanpa berpikir panjang.

Dazai meraih tangan Chuuya, menatap lelaki itu kosong.

"Tapi aku merasa harus melakukannya."

Chuuya mengerjap pelan, "Kenapa?"

Dazai terdiam sejenak. Rautnya menunjukkan bahwa lelaki itu tengah berpikir keras.

Sesaat kemudian Dazai tersenyum hangat, "Karena aku menyukainya."

.

.

.

Sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terbayang oleh Nakahara Chuuya sejak ia lahir adalah mengizinkan seorang yang mengaku maniak bunuh diri tinggal di rumahnya. Chuuya memutuskan untuk tidak kembali ke kantor setelah izin yang diberikan Mori. Ia akan berjaga di rumah saja, memastikan satu nyawa itu tidak melayang dengan sia-sia.

"Kau sebenarnya siapa?" interogasi Chuuya di meja makan. Dazai duduk di hadapannya, menatap lelaki itu dengan tenang.

"Aku tidak ingat."

Chuuya mengacak-acak rambutnya sendiri. Jangan-jangan Dazai bukan orang hilang, melainkan pasien rumah sakit jiwa yang kabur.

"Jangan katakan padaku kalau kau menembak dirimu sendiri," racau Chuuya.

Dazai menggeleng. "Aku bukan masokis. Kalau ingin bunuh diri, aku akan menembak kepalaku, bukan bahuku."

Ia mengusap perban yang terpasang di bahu kanannya, "Lagipula kalau terkena luka tembak, pelurunya masih akan bersarang di tubuhku."

Chuuya berjengit. Ia hanya memberikan obat luka biasa dan membalutnya dengan perban. Ia tidak bisa mengambil peluru keluar dari luka- lebih tepatnya tidak berani. Raut Dazai tampak sangat serius. Ia tidak tampak seperti pasien gangguan jiwa.

"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Chuuya lagi.

Dazai coba sedikit menggerak-gerakkan bahunya, "Bahuku sudah lebih baik."

Lalu ia beranjak dari kursinya, "Aku juga sudah bisa berdiri dan berjalan."

Chuuya mendongak sejenak, kemudian balik menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Baguslah," gumamnya pelan sambil memejamkan kedua matanya.

Sesaat kemudian ia merasa kepalanya dielus. Pelakunya jelas Dazai. Tidak ada orang lain di rumah itu selain mereka berdua.

"Tidur di meja akan membuat lehermu sakit. Pindahlah ke kamar," ujarnya pelan.

Chuuya mengerjap. Ia mengurungkan niat untuk tidur saat itu juga dan memilih untuk patuh. Kedua tungkainya berjalan menuju ke ranjang. Tanpa berpikir dua kali ia merebahkan tubuh di atas sana, mencoba melepaskan pusing yang melanda pikirannya.

Dazai mengekor di belakangnya. Sejak tadi ia hanya tersenyum memperhatikan Chuuya berjalan setengah sadar. Lelaki bersurai brunette itu mulai berpikir bahwa ia tumbang di tempat yang tepat.

Di luar sana kemeja dan jas panjangnya masih tergantung di tali jemuran. Dazai menunduk dan memperhatikan tubuhnya sendiri, masih mengenakan celana hitamnya kemarin. Ia tidak mengenakan atasan apapun, hanya perban.

"Sepertinya aku perlu mandi dan berganti baju," gumam Dazai sambil mengusap tengkuknya.

Chuuya benar-benar terlelap di atas kasur. Lemari pakaian terletak di sebelahnya. Pemilik rumah mengizinkannya untuk mengambil baju apapun tadi pagi. Dazai akan menggunakan izin itu sekarang.

Ia mengambil setelan lengan panjang putih dan celana gelap. Chuuya ternyata menyimpan beberapa baju besar yang cukup untuk ukurannya.

Dazai juga mengambil handuk dan beberapa peralatan mandi dari dalam lemari. Ia merasa seperti penghuni baru berbagi kamar dengan Chuuya. Tidak ada yang salah dalam pernyatan itu. Hanya saja Dazai tidak mengeluarkan uang. Ia hanya tinggal.

Ia melepaskan perbannya sebelum mandi, berencana untuk membersihkan luka di tububnya dengan air dan mungkin sabun- kalau Dazai tidak memikirkan rasa perihnya. Lelaki itu juga membersihkan rambutnya dengan sampo.

Sekeluarnya dari kamar mandi, Chuuya masih terlelap. Entah karena bekerja atau terjaga semalaman, tapi pasti lelaki itu lelah. Dazai memilih untuk mengabaikannya dan mengobrak-abrik kotak obat, mencari perban untuk menutupi lukanya lagi. Ia menemukan satu kotak dan membawanya ke atas kasur.

Ia menggulung celananya dan menutupi luka di kakinya. Juga menggigit ujung bajunya agar leluasa menutupi luka di pinggangnya.

Dazai melepas gigitannya dan menengok keluar. Matahari sudah terbenam. Pakaiannya masih berada di luar sana. Lelaki itu mendengus pelan.

Memasang perban di bahu berarti ia harus melepas atasannya lagi. Merepotkan. Harusnya Dazai tidak perlu repot-repot berpakaian setelah mandi.

Lukanya sudah lebih baik dibanding kemarin. Baju putih Chuuya tidak terkena noda darah walaupun sempat ia pakai. Dazai mengeluarkan satu gulung perban dan mencoba untuk menutup bahunya.

Tapi sulit. Bahunya memang sudah bisa bergerak dengan baik, namun tetap saja sakit. Dazai tidak ingin ambil resiko dan membuat lukanya terbuka lagi.

"Menyebalkan," dengusnya sambil menengok keluar jendela.

"Dazai?" panggil Chuuya dengan suara seraknya. Ia bangun tidur tepat saat sore sudah berakhir.

Yang dipanggil menengok ke belakang, menemukan pemilik rumah tengah terduduk sambil mengucek matanya. Setelah kegiatan singkat itu, Chuuya menatap Dazai sayu, khas orang yang masih mengantuk.

Dazai berdehem, "Bisa membantuku?"

Chuuya mengerjap pelan, "Apa?"

"Ini," Dazai mengangkat gulungan perban di tangannya, "Ke bahuku."

Lelaki bersurai sinoper itu mengangguk pelan. Ia merebut gulungan di tangan Dazai dan mulai memasangkan perbannya. Melingkarkannya ke dada Dazai terlebih dahulu sebelum menutup luka bahunya. Chuuya seakan melakukan sebuah pelukan pada lelaki amnesia itu.

"Sudah," balas Chuuya merapikan sisa perban kembali ke kotak obat.

Dazai masih terduduk di atas kasur sampai Chuuya kembali menghampirinya. Setelah perbannya terpasang, tatapannya belum lepas dari sosok bersurai sinoper itu.

"Aku berpikir untuk pergi setelah ingatanku pulih," ujar Dazai beranjak dari tempatnya.

Chuuya langsung mengangguk, "Aku baru ingin mengatakan itu. Tapi syukurlah kau sadar duluan."

"Tapi sekarang aku ingin makan," lanjut Dazai sambil memegangi perutnya dan tersenyum lebar.

Chuuya memicingkan kedua matanya. Ia belum melakukan apapun selain menginterogasi Dazai dan tidur sepulang dari kantor tadi siang.

"Aku ingin mandi," balas Chuuya, secara tidak langsung berkata bahwa Dazai perlu menunggu untuk memuaskan rasa laparnya.

"Baiklah," lesunya.

Dazai kembali duduk di atas kasur, menatap jendela yang masih terbuka, menenggelamkan dirinya dalam kenyamanan rumah Chuuya. Ia merasa betah berada di tempat ini terlepas keinginan kuat bunuh diri yang dirasakannya.

"Nakahara Chuuya," gumam Dazai pelan.

Suara air terdengar dari kamar mandi. Pintunya pasti sedang terbuka karena Dazai bisa menangkap bunyinya dengan jelas.

"Dazai," seru Chuuya.

Yang dipanggil menyahut dengan gumaman. Chuuya mengintip dari balik pintu. Melihat dari rambut basahnya, lelaki itu pasti belum menyelesaikan mandinya.

"Kau bisa memasak makananmu sendiri. Aku mengizinkanmu menggunakan dapur."

Dazai tersenyum tanpa dosa, "Tapi aku tidak ingin memasak."

Berakhir dengan bantingan pintu dan suara air yang semakin samar. Menunggu bukanlah sesuatu yang besar, setidaknya bagi Dazai.

.

.

.

To be continued

Sudah lama tidak update ini karena ketahuan karbitan sama Ziandra Amaela hehe...