Title : Mikrokosmos
Genre : Romance, BxB, Warn!Mpreg
Rating : NC 21+
Length : 7 Chapters, 1 Prologue, 1 Epilogue
Cast : Nakahara Chuuya, Dazai Osamu, Mori Ougai, Fyodor Dostoevsky, Kunikida Doppo, etc
[DISCLAIMER]
All the characters are made by Kafka Asagiri and Harukawa35. Pitik hanya buat FFnya saja, ehe!
Chapter 2
"Jangan pernah berpikir menggunakan pisau buah untuk menyayat tanganmu!" seru Chuuya ketika menyiapkan makan malam.
Dazai menaruh bendanya kembali dalam keranjang buah kemudian mengekori Chuuya. Lelaki itu mengikutinya meskipun hanya bergeser beberapa langkah.
"Tidak bisakah kau duduk saja? Aku tidak setega menaruh racun dalam makananmu. Jadi tenanglah dan jangan mengikutiku," omel Chuuya.
Alih-alih menurut, Dazai justru menyandarkan dagu di ceruk leher Chuuya. Membuat lelaki pemilik rumah menjadi tegang sendiri. Tangannya yang sedari tadi memotong sayuran seketika terhenti.
"Sepertinya enak," gumam Dazai, terdengar jelas di telinga Chuuya karena jarak dekat mereka.
"Menyingkir," usir Chuuya.
Dazai menurut dan mengambil satu langkah mundur sementara Chuuya melanjutkan kegiatan memotong sayurnya. Ia akan memasak soba untuk makan malam. Terserah Dazai akan menyukainya atau tidak. Sejauh ini belum ada protes yang melayang.
Chuuya memasukkan sayuran ke dalam panci. Sesekali ia menengok ke belakang, memastikan Dazai tidak melakukan sesuatu yang aneh. Lelaki itu hanya bersandar di meja makan sambil memperhatikan seisi dapur.
"Apa kau tidak menyimpan minuman apapun selain air?" tanya Dazai. Ia kembali berjalan menghampiri Chuuya- atau mungkin kabinet di atas kepalanya.
"Tepat sekali," gumam Dazai sambil mengambil satu botol minuman beralkohol.
Chuuya ingin sekali menyikut lelaki amnesia itu, namun teringat tangannya sedang memegang botol kaca kesayangan. Kalau botol itu pecah, maka dapurnya akan berantakan.
"Serasa rumah sendiri, hum?" sindir Chuuya sambil menatap Dazai sinis.
"Soba sangat cocok dengan isi botol ini," komentar Dazai, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Chuuya mendengus pelan. Ia mematikan api kompornya dan memindahkan masakannya ke atas meja makan.
"Aku harus bekerja besok. Minum akan membuat konsentrasiku buyar."
"Aku tidak bilang kita akan minum bersama," Dazai menaruh botol kaca itu di atas meja, "Chuuya-san."
"Tapi itu milikku," balas Chuuya sambil memicingkan kedua matanya.
Dazai mengambil tempat di meja makan dan membuka botolnya, meminumnya langsung. Chuuya melihat bagaimana Dazai menghabiskan setengah isi minumannya.
"Aku mengurungkan niat memberi soba ini untukmu," kesal Chuuya. Ia ikut duduk di hadapan Dazai dan menatapnya jengkel.
Dazai menyodorkan botol minuman itu ke arah Chuuya, "Setengah untukmu."
Chuuya terdiam sejenak sementara Dazai menarik panci sobanya mendekat, "Setengah untukku."
Desahan puas terdengar beberapa saat setelahnya. Dazai menikmati separuh sobanya dengan cepat.
"Oi," interupsi Chuuya.
Dazai melirik azure itu sekilas. Kemudian kembali menuntaskan jatahnya.
"Setengah itu jumlah yang cukup adil," ujar Dazai setelah mengusap mulutnya.
Chuuya menyandarkan dagu di atas meja, "Apa ingatanmu sudah kembali?"
"Belum," balas Dazai singkat.
Chuuya merebut panci sobanya. Ia merasa lapar sejak memasak tadi dan Dazai baru saja merusak suasana hatinya. Lelaki itu menghabiskan sisa sobanya dengan perasaan dongkol.
"Chuuya-san."
Yang dipanggil mendongak sebal.
"Apa kau seorang carrier?"
Chuuya tersedak sobanya sendiri. Pertanyaan itu sangat sensitif. Jarang ada orang yang akan menanyakan hal seperti itu.
"Mengapa aku harus menjawabnya?" wajahnya memerah.
"Hanya ada satu kasur di rumah ini. Korban luka ini tidak mau tidur di kursi," alibi Dazai.
Terdengar logis, sangat logis.
"Aku tidak masalah tidur denganmu," balas Chuuya cuek. Ia memfokuskan dirinya untuk menghabiskan sisa soba.
Dazai mengangguk paham, "Baiklah."
Lelaki itu mengambil kembali minuman berakohol di hadapan Chuuya. "Kau benar-benar tidak ingin menghabiskannya?"
"Besok konsentrasiku akan buyar. Lebih baik meminumnya saat akhir minggu," balas Chuuya.
"Oke, akhir minggu," sahut Dazai beranjak dari kursi. Ia mengembalikan minumannya kembali ke dalam kabinet.
"Apa maksudmu?" sahut Chuuya bingung.
"Kau menjanjikanku minum di akhir minggu."
"Aku tidak-,"
"Secara tidak langsung. Kau tidak mungkin menyimpan banyak botol di kabinetmu kecuali kau menyukainya," serang Dazai.
Chuuya membanting sumpitnya ke atas panci, "Terserah." Lelaki itu tidak mau berdebat lebih jauh dengan Dazai.
Sebagai pemilik rumah yang menjunjung kebersihan Chuuya mengangkat panci bekas sobanya ke bak cuci. Ia membersihkan peralatan makannya sebelum menutup hari dengan tidur. Dazai hanya menatap Chuuya dari jauh, menunggu si sinoper selesai dengan kegiatannya.
Chuuya pergi ke kamar mandi, melakukan bersih-bersih rutin sebelum tidur. Penghuni baru rumah kembali mengekorinya. Dazai ikut mengambil pasta gigi dan menyikat giginya di sebelah Chuuya.
Pemilik rumah asli menatapnya sinis. Ia dengan cepat berkumur dan meninggalkan Dazai sendiri di kamar mandi.
Chuuya merebahkan badannya di atas kasur. Tanpa menunggu Dazai, ia langsung memejamkan kedua matanya. Persetan dengan apa yang akan dilakukan Dazai. Ia hanya ingin tidur dengan tenang.
Tak lama Dazai menyusul di sebelahnya. Ia menarik selimut yang dipakai Chuuya, memaksa pemilik rumah untuk memberikan izin. Chuuya sendiri tidak peduli. Ia langsung terlelap tanpa merasa terusik.
Dazai berbaring membelakangi Chuuya dan semakin lama kehilangan kesadarannya. Ia ikut tertidur di kamar itu.
.
.
.
Bunyi tembakan mengusik istirahat panjangnya. Suasana yang sangat mengancam bagi seseorang. Dazai terbangun dan beranjak dari ranjangnya. Chuuya masih terlelap tanpa ada tanda-tanda sadar.
Lelaki itu lantas mengendap-endap keluar rumah. Tak lupa ia juga mengunci pintunya, memastikan tidak ada apapun yang akan memasuki rumah itu.
Sekalipun ingatannya belum pulih benar, Dazai masih bisa mendeteksi situasi berbahaya. Ia juga memiliki inisiatif untuk mengatasinya.
Langit masih gelap. Mungkin sudah menginjak dini hari. Suhu di luar rumah cukup dingin, membuat Dazai harus memeluk dirinya sendiri sambil berjalan. Kaus lengan panjang tidak mampu untuk menyimpan panas tubuhnya.
Dazai tidak menggumamkan apapun. Pandangannya menyisir area sekitar rumah Chuuya, mencari hal yang mencurigakan- mungkin sumber suara tembakan barusan.
"Oi," panggil seseorang.
Dazai memilih abai, namun langkah kakinya semakin lambat. Ia ingin memastikan apakah sahutan itu ditujuan pada dirinya.
"Oi, Dazai Osamu," panggil orang itu lagi, seseorang yang sedang berjalan di belakangnya.
Dazai menoleh dan mendapati lelaki dengan surai legam. Kulitnya putih pucat. Ia mengenakan pakaian tebal berwarna putih, senada dengan miliknya sekarang.
"Kukira kau sudah kehabisan darah dan mati," ujarnya, "Persis seperti impianmu."
Dazai memasang ekspresi kosong. Sosok ini jelas tahu nama lengkap juga keinginannya untuk mati. Ia pasti kunci mengapa dirinya bisa berakhir terluka di samping tempat sampah.
"Siapa kau?" lontar Dazai.
Lelaki itu balas tertawa lepas. Seakan pertanyaan Dazai hanyalah lelucon retoris yang tidak perlu ditanggapi.
"Aku tidak mengharapkan sambutan seperti ini," balas sosok itu.
Menurut teori umum, seorang musuh pasti akan memancarkan aura jahat. Ia tidak akan melakukan hal baik tanpa alasan.
"Kau berada di kubu teman atau musuh?"
Sosok itu tersenyum hangat, "Statusku tidak sesederhana itu."
Ia berjalan mendekati Dazai, berhenti tepat di sebelahnya. Bibirnya kembali terkembang saat Dazai menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Kau akan mengetahuinya setelah ingatanmu pulih-," sosok itu menepuk pundaknya, "-teman baikku."
"Kau bukan orang yang berarti bila aku tidak mengingatmu," balas Dazai.
"Apa warna langit favoritmu?" bisik laki-laki itu.
Dazai menoleh bingung.
"Hitam? Biru?"
Dazai tidak bereaksi.
"Mungkin sesuatu yang lebih jarang. Jingga?"
"Kau menuduhku suka pada warna fajar?" tanya Dazai balik.
"Bukan," sosok itu mengusap dagunya, "Kurasa sinoper lebih tepat untuk menggambarkan warna."
.
.
.
Chuuya mengerang pelan. Ia meregangkan tangannya, kebiasaan selepas bangun pagi. Tirainya masih tertutup walaupun Chuuya bisa melihat terang yang tertahan. Tapi Dazai tidak ada di sebelahnya.
Entah laki-laki itu bangun duluan atau terjatuh ke bawah ranjang, Chuuya tidak peduli. Yang jelas ia akan bersiap-siap ke kantor. Dazai harus mencari sarapan sendiri.
Hanya butuh lima belas menit bagi Chuuya untuk bersiap. Ia mengenakan setelan kantor lainnya dan berjalan ke arah pintu rumahnya.
"Terkunci," sadar Chuuya. Lelaki itu menggeram rendah. Pasti penguncian ini adalah ulah Dazai.
Biasanya Chuuya akan tetap meninggalkan kuncinya tertancap di lubang pintu, namun benda kecil dengan gantungan berbentuk topi itu lenyap pagi ini. Bersama tersangka.
"DAZAI," seru Chuuya memanggil nama itu keras-keras. Namun tidak ada yang menyahut, bahkan di menit-menit selanjutnya.
Chuuya mendengus kasar. Ia benar-benar tidak suka dipermainkan seperti ini. Jarum jam masih terus berjalan di tengah kekesalannya. Chuuya terpaksa menggunakan cara ekstrim untuk keluar rumah.
Lelaki bersurai sinoper itu membuka pintu belakang rumahnya dan menguncinya. Tak lupa ia mengambil tangga di garasinya dan memanjat pagar dengan benda itu. Tubuhnya tidak cukup tinggi untuk melompati pagar belakang rumahnya. Chuuya melompat turun dengan mudah dan menyelesaikan masalah paginya.
.
.
.
Pagi berganti sore, dan Chuuya kembali pulang dari pekerjaan kantornya. Seharian ini ia merasa konyol. Ketika Mori mendengarkan ceritanya, pria itu hanya tertawa terbahak-bahak dan menyuruh Chuuya mencari tukang kunci untuk membuat yang baru.
Saat sampai di rumah, Chuuya harap Dazai sudah kembali. Bersama dengan kunci yang ia bawa. Lelaki bersurai sinoper itu turun dari busnya dengan kesal. Ia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya di tanah. Chuuya memasang tampang penggerutu sambil terus berjalan ke rumahnya.
Ia baru saja akan berbelok ke gang pintas, tapi mendadak pundaknya ditepuk oleh seseorang. Chuuya refleks menghindar dan menengok ke belakang. Seorang lelaki berkulit pucat menyapanya. Ia mengenakan pakaian tebal berwarna putih.
Chuuya tidak mengatakan apapun, namun mengarahkan tatapan tajam ke arahnya.
"Aku salah orang," ujarnya, "Maaf."
Chuuya langsung berbalik dan berlalu. Ia tidak membalas perkataan itu dan mengabaikannya. Menanggapi orang asing bukanlah gayanya. Chuuya akan selalu mengabaikan mereka.
"Tunggu," seru sosok itu lagi.
Chuuya menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang. Lelaki itu tengah memamerkan sebuah kunci dengan gantungan berbentuk topi.
"Aku menemukannya di jalan," ujar sosok itu, "Apakah ini milikmu?"
Kedua matanya terbelalak. Dazai menyebalkan itu pasti ceroboh menjatuhkan kuncinya di sembarang tempat. Di tengah pelariannya, mungkin.
"Terima kasih," balas Chuuya sambil merebut kunci dari tangan orang asing itu.
"Kembali," tutupnya seraya berpaling dari hadapan Chuuya.
.
.
.
Satu lagi masalah terselesaikan. Akhirnya kunci rumah kembali ke tangannya. Selain itu, Dazai juga tidak tampak lagi. Artinya setelah ini, Chuuya akan terbebas dari lelaki amnesia menyebalkan yang gemar mengambil barang-barangnya itu.
Kakinya melangkah ke depan rumahnya, memasuki pagar depan. Namun ia mendadak berhenti di depan pintu.
Dazai justru berada di sana, duduk bersila sambil beberapa kali bersin. Chuuya mengernyitkan dahinya kesal.
"Kenapa kau berada di sana?" interogasi Chuuya dengan nada kesal.
Dazai mengusap hidungnya, "Teganya kau menelantarkan korban luka di luar rumah."
Chuuya naik pitam, "Teganya kau pergi tanpa izin dan menghilangkan kunci rumahku! Kau tahu aku harus melompati pagar untuk keluar dari rumahku sendiri. Itu merepotkan!"
"Apa boleh buat?" Dazai memalingkan wajahnya.
Chuuya mendengus kesal, "Kalau tidak ada orang baik yang mengembalikan benda ini, aku akan langsung mengusirmu dari rumah."
Dazai mendongak bingung. Ia mencari petunjuk atas kata-kata Chuuya.
"Ini," balas Chuuya sambil memamerkan kunci rumahnya.
Dazai terbelalak.
"Sekarang kau sadar apa kesalahanmu. Biarkan aku hidup dengan tenang dan jangan berbuat onar sampai ingatanmu-,"
Mendadak Dazai merebut kunci itu dari tangan Chuuya dan melepas gantungannya. Ia melempar gantungan itu ke halaman, agak jauh dari tempat mereka berdiri.
Chuuya baru saja akan mengamuk lagi, namun mengurungkan niatnya setelah melihat nasib gantungan kuncinya.
Meledak, menciptakan lubang selebar satu meter di tengah pekarangan.
"Sialan," umpat Dazai.
Chuuya menatap laki-laki itu, bercampur antara bingung dan curiga.
"Dazai-,"
"Terkadang aku bersyukur dengan sifat banyak omongmu," potongnya sambil membuka kunci rumah Chuuya. Dazai langsung memasuki rumah itu sementara Chuuya masih mematung di luar.
"Kau tidak ingin masuk ke rumahmu sendiri?"
"Siapa kau sebenarnya?"
Dazai ber-oh ria, "Tadi aku mengingat nama lengkapku, Dazai Osamu. Sebuah kemajuan."
"Tidak. Pasti lebih dari itu," tekan Chuuya. Ia tidak yakin Dazai mengetahui keberadaan bom di gantungan kuncinya tanpa analisis apapun.
Lelaki itu menarik tangan Chuuya untuk masuk ke dalam, juga menguci pintunya kembali. "Aku tidak bisa menceritakan sisanya padamu. Semuanya hanya asumsi. Aku belum memastikannya," bisik Dazai.
Chuuya merasa jengah. Bisa-bisanya Dazai bersikap seolah ia tidak memiliki masalah yang besar yang berhubungan dengannya.
"Oi Dazai, jawab aku!" Dazai menoleh. Azure Chuuya menangkap ekspresi serius.
"Apa kau mengenal laki-laki yang memberikan kunci padaku?"
"Tidak," balas Dazai, sebuah jawaban yang mustahil. Laki-laki ini sudah dipastikan berbohong.
"Dazai sialan, jawab pertanyaanku!" marah Chuuya sambil menarik baju Dazai.
Dengan tenang Dazai menangkap tangan Chuuya. Ia menatap azure itu lurus-lurus.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi aku bisa menebak kalau diriku berada dalam kondisi kritis sebelum amnesia."
Chuuya memasang raut skeptis.
"Hal lain yang aku tahu sekarang adalah bahwa kau dan rumah ini tidak lagi aman."
Chuuya mengerjap cepat sebagai balasannya. Dazai sama sekali tidak gemetar atau takut ketika menjelaskannya.
"Lalu aku harus pindah rumah? Begitu maksudmu? Aku tidak ingin pindah. Kau harus bertanggung jawab karena membuatku menjadi buronan -,"
Terhenti karena Dazai tiba-tiba menggamit tangannya. Sorot matanya berubah khawatir di saat yang bersamaan.
"Aku akan melindungimu."
Chuuya tersentak. Kalimat barusan membuatnya tertegun. Seorang Dazai yang menyebalkan dan tidak bertanggung jawab baru saja mengatakan hal itu.
"Dazai-,"
Dazai mengaitkan kelingkingnya dengan milik Chuuya, mengangkatnya agar si sinoper dapat melihat, "Percayalah padaku."
.
.
.
To be continued
