Title : Mikrokosmos

Genre : Romance, BxB, Warn!Mpreg

Rating : NC 21+

Length : 7 Chapters, 1 Prologue, 1 Epilogue

Cast : Nakahara Chuuya, Dazai Osamu, Mori Ougai, Fyodor Dostoevsky, Kunikida Doppo, etc

[DISCLAIMER]

All the characters are made by Kafka Asagiri and Harukawa35. Pitik hanya buat FFnya saja, ehe!

Chapter 3

"Oi, Dazai," panggil Chuuya.

Lelaki itu sudah bersiap dengan setelan kantornya. Sementara itu Dazai masih mengerjap di atas ranjangnya. Semalam mereka masih tidur berdua, hanya saja Chuuya terjaga lebih larut.

Dazai merasakan telapak tangan Chuuya tengah menempel di dahinya. Satu-satunya alasan mengapa si sinoper melakukan itu adalah memastikan apakah ia dapat berangkat ke kantor dengan tenang.

Jawabannya tidak.

"Aku seperti baru saja memiliki seorang anak," ujar Chuuya pelan.

Dazai mengerang pelan. Ia merasa tidak ingin beranjak dari ranjang. Lelaki itu menarik selimut hitam Chuuya sampai menutupi sebagian wajahnya, "Pergilah bekerja!"

"Kau akan kehabisan napas kalau tidur seperti itu," omel Chuuya sambil menurunkan selimutnya agar tidak menutupi hidung dan mulut Dazai.

"Kau membuatku menunggu di luar seharian," protes Dazai.

"Salahmu keluar malam-malam dan mengunci pintunya."

"Aku sedang tidak ingin berdebat," urung Dazai seraya membalikkan badannya memunggungi Chuuya.

"Kau yang memulai," balas Chuuya melipat kedua tangannya.

"Aku rasa aku akan mati," keluh Dazai dengan suara parau.

Chuuya mendengus pelan. Ia melepas kemeja kantornya, menyisakan kaus putih polos di tubuhnya. Kemudian ia merogoh ponsel di dalam tasnya. Samar-samar Dazai bisa mendengar suara Chuuya yang berjalan ke dapur, "Mori-san. Aku mengambil cuti hari ini. Maaf."

Dazai menatap pintu kamar lekat-lekat. Chuuya tidak jadi meninggalkannya sendiri. Demam sangatlah tidak enak. Kepalanya amat pusing, selain itu tubuhnya terasa lemas. Saat menelan ludah pun terasa pahit dan sakit.

"Kau tidak akan mati bila makan dengan benar," omel Chuuya setelah beberapa menit.

Lelaki itu masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur dan air putih, "Rasanya pasti tidak enak. Jangan kau pikirkan."

Dazai mengangguk paham. Seenak apapun makanan, apabila seseorang yang akan memakannya sakit, rasanya akan hambar. Dengan malas ia menggenggam sendoknya dan memakan bubur itu dengan tempo lambat.

Chuuya sendiri sudah pergi sejak tadi. Ia menuju ke dapur lagi untuk menghabiskan sisa bubur di panci. Setelah itu mencari-cari obat demam di kotak P3K. Menengok ke dalam kamar, Dazai masih berkutat dengan bubur dan wajah masamnya. Tapi tangannya masih terus menyuap bubur.

"Habiskan," celetuk Chuuya sambil menaruh obat di nakas sebelah ranjangnya, "Aku tidak mau tertular virus."

"Kejamnya. Kau tidak tahu betapa susahnya menghabiskan bubur hambar," protes Dazai.

"Aku menambahkan garam tadi." Gantian Dazai yang mendengus.

Chuuya naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Dazai, "Kau tahu aku cuti karena kau sakit?"

"Aku tahu," balas lelaki itu singkat.

"Jangan membuat cutiku sia-sia. Gajiku sudah pasti akan berkurang bulan depan."

"Ya, ya," pasrah Dazai.

Chuuya memperhatikan bubur di mangkuk Dazai. Lelaki amnesia itu baru menghabiskan separuhnya.

"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak berangkat ke kantor?" tanya Dazai, "Aku bukan anak kecil."

Chuuya memalingkan wajahnya, ganti menatap pintu kamar yang masih terbuka, "Mencegahmu melakukan percobaan bunuh diri."

"Hm?"

"Kau bisa saja membiarkan dirimu tidak makan dan minum selama sakit. Dan kau akan melanggar janjimu untuk menghalau teroris itu dari halaman rumahku," alasan Chuuya.

"Itu alasanku terpaksa menghabiskan bubur tidak enak ini sekarang," balas Dazai tidak mau kalah, "Lagipula menunda makan itu sangat menyiksa."

Azure Chuuya menatap tajam ke arah Dazai. Gaya bicaranya sama seperti biasa, menyebalkan. "Cepat makan," gemas Chuuya melirik sendok penuh bubur yang belum dilahap Dazai.

Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke belakang sambil menghembuskan napas kasar, "Aku menyerah."

"Tidak boleh," lawan Chuuya sambil mengambil alih mangkuk di hadapan Dazai. Ia menyendok buburnya dan mengantarnya ke depan mulut Dazai.

"Aku bukan anak kecil," kesal Dazai.

"Dazai-chan, buka mulutmu," goda Chuuya.

Yang dipanggil memasang raut masam. Dazai membuka mulut dan membiarkan Chuuya menyuapinya. Lelaki itu mengunyahnya lama, walaupun bubur tidak membutuhkan waktu untuk segera ditelan.

"Dazai-chan," goda Chuuya lagi.

Dazai menelan buburnya cepat-cepat.

"Jangan memanggilku seperti itu," dengusnya. Tapi kemudian Dazai tetap membuka mulutnya, membiarkan Chuuya menyuapinya sampai mangkuk kosong.

"Anak pintar," puji si sinoper menepuk-nepuk kepala Dazai.

Chuuya menaruh mangkuk kosongnya di atas nakas, kemudian mengambil pil obat penurun panas untuk Dazai.

"Minum," ujarnya sambil menaruh sebuah pil ke tangan Dazai, serta memberikan segelas air setelahnya.

"Tidurlah. Kau akan cepat sembuh bila tidak menyebalkan."

Dazai merosot turun dan menarik selimut. Kali ini tidak sampai menutupi wajahnya. Pandangannya tertuju pada jendela kamar yang terbuka. Chuuya sudah mengangkat kemeja dan jas panjangnya.

Satu hari sudah berlalu lagi.

.

.

.

Pagi berganti sore ketika Dazai terbangun dan merasakan tubuhnya banjir oleh keringat. Ia menyingkirkan selimutnya karena gerah, kemudian menurunkan kedua kakinya di lantai. Suhu tubuh sudah tidak sepanas sebelumnya. Tidur ekstra membuat Dazai merasa lebih baik.

"Sudah bangun?" sapa Chuuya. Lelaki itu menghampiri Dazai dan duduk di sebelahnya, memberikan segelas air lagi.

"Terima kasih," gumam Dazai lalu meminum pemberian Chuuya. Ia banyak berkeringat, wajar Chuuya menyuruhnya minum setelah bangun tidur.

"Cepat mandi! Aku akan memasak makan malam," Chuuya merebut gelas dari tangan Dazai dan beranjak keluar kamar.

"Chuuya," panggil Dazai kemudian.

Yang dipanggil menghentikan langkah dan menengok ke belakang. Bibir Dazai terkembang, membentuk sebuah senyum.

"Apa kau seorang carrier?"

Wajah Chuuya merah padam saat pertanyaan itu terlontar lagi. Rasanya sulit untuk memberikan jawaban. Lelaki itu pun hanya membeku di tempatnya tanpa bicara apapun.

"Sepertinya itu bentuk lain dari 'iya'," simpul Dazai.

"A-aku-,"

"Biasanya seorang carrier akan bersikap lebih lembut dengan orang yang ia sukai. Kau mungkin melakukannya," Dazai tersenyum lagi.

Chuuya memalingkan wajahnya malu. Ia merasa panas hanya dengan godaan yang diberikan lelaki amnesia itu.

"H-hentikan," tolak Chuuya tanpa memberikan jawaban. Lelaki itu bergegas keluar dari kamar sebelum Dazai mendesaknya lebih jauh.

Yang ditinggal terkekeh pelan. Ia beranjak dari ranjang Chuuya dan mengambil setelan baru dari lemari. Dazai berniat mandi setelah banjir keringat ini, menuruti suruhan pemilik rumah tempatnya menumpang.

Chuuya dengan cepat pergi menyibukkan dirinya. Ia menaruh hasil belanjanya di meja dapur dan mulai memasak. Ia membeli wortel dan kentang untuk membuat kari. Tidak akan terlalu pedas untuk malam ini, karena Dazai baru saja pulih dari demam.

Dalam waktu singkat bahan-bahan telah selesai dipotong. Chuuya sudah terbiasa memasak mengingat ia tinggal sendirian dan sering malas beranjak dari rumah untuk sekedar makan. Dazai cukup beruntung.

Lelaki bersurai sinoper itu bersenandung sambil mengaduk masakannya, mengusir keheningan sementara Dazai pergi mandi. Rumah itu memang selalu sepi. Karena Chuuya tidak pernah mengajak siapapun menginap. Dazai orang pertama yang terpaksa ia terima.

Sejak malam kedatangan Dazai, Chuuya sadar bahwa ketenangan rumah ini bisa saja hilang. Tapi biarkanlah, setidaknya ia telah menyelamatkan sebuah nyawa.

Tiba-tiba ia merasakan aroma sabun mandinya sendiri, pekat seperti baru saja dipakai. Disertai sebuah pelukan melingkar di perutnya.

"Sepertinya enak," gumam Dazai sambil menyandarkan dagunya di pundak Chuuya. Ia melongok masakan yang dibuat pemilik rumah dan menelan air liurnya sendiri.

"Oi," interupsi Chuuya. Tidak seperti saat pertama Dazai melakukan hal ini, Chuuya tampak tenang-tenang saja. Dazai tersenyum dan mengeratkan pelukannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chuuya.

"Memberikan pelukan."

"Untuk apa?"

Dazai tidak menjawab. Chuuya juga ikut terdiam. Selang beberapa detik, ia mematikan kompornya. Sudah saatnya makan malam.

Dan saatnya bagi Dazai untuk melepas pelukannya.

"Apa kau tidak lapar?"

Tanpa menyahut, Dazai melepaskan Chuuya. Ia membiarkan lelaki itu memindahkan panci kari ke atas meja makan. Sementara Chuuya menyiapkan mangkuk nasi, Dazai mengambil botol minuman beralkohol dari dalam kabinet.

Chuuya sontak menengok ke belakang. Yang tertangkap basah hanya tersenyum tanpa dosa.

"Karena itu kau memelukku?" dingin si sinoper.

Dazai terkekeh pelan, "Ini hari Jumat. Besok akhir minggu dan kau sudah berjanji padaku."

Chuuya mengernyitkan dahinya, "Kau baru saja sembuh. Lagipula aku tidak pernah bilang kau boleh minum bersamaku."

"Baiklah, besok juga tidak apa-apa," urung Dazai kemudian menaruh botolnya kembali ke dalam kabinet. Chuuya menghela lega. Satu botolnya terselamatkan hari ini.

Dazai duduk di hadapan Chuuya dan memulai makan malamnya. Lelaki bersurai hitam itu makan dengan lahap. Chuuya cukup lega Dazai makan lebih lahap dibanding tadi pagi.

"Apa biasanya seorang carrier pandai memasak?" celetuk Dazai saat Chuuya melahap makanannya. Ia hampir saja tersedak bisa tidak dapat mengontrol diri.

"Jawab aku, Chuuya-kun," desak Dazai.

"Aku ingin makan dengan tenang," dingin Chuuya kemudian melanjutkan makannya.

"Aku hanya ingin menebak apa yang akan kau rasakan ketika aku pergi," alibi Dazai.

"Lebih cepat kau pergi, lebih baik," tegas Chuuya.

Dazai mendengus pelan, "Kukira eksperimen sosialku berhasil."

"Eksperimen sosial?" Dazai tersenyum melihat ekspresi bingung Chuuya.

"Akan kuberitahu saat menemukan hasilnya."

"Kau menjadikanku objek eksperimen? Jangan bilang ingatanmu sudah kembali dari kemarin dan kau berbohong lagi," tuduh Chuuya sambil membanting sendoknya ke atas mangkuk.

"Hei, aku tidak pernah berbohong padamu."

Azure Chuuya balas menatapnya tajam, "Kau selalu membuatku jantungan."

Sejenak meja makan itu hening karena tidak ada yang berbicara lagi. Chuuya berdehem singkat untuk menetralkannya. Ia kembali mengambil sendok dan menambahkan kari ke dalam mangkuknya.

"Chuuya," panggil Dazai.

"Apa?" galak si sinoper.

Dazai tersentak sesaat. Ia menunggu beberapa detik sampai emosi Chuuya mereda, agar perkataannya dapat terdengar dengan jelas.

"Apa kau bisa menyetir?"

.

.

.

Hari pertama dalam rentetan akhir minggu, Sabtu. Chuuya mendapatkan liburnya setelah seharusnya 5 hari bekerja. Tapi lelaki di sebelahnya ini membuat ia harus cuti.

"Jadi ke mana kita akan pergi hari ini?" tanya Dazai. Chuuya sedang menyetir mobil pinjaman di sampingnya.

"Semalam kau bilang untuk tidak berada di rumah saat akhir minggu," omel Chuuya, "Kau yang memegang ponselku semalaman dan mengurus semuanya jadi mengapa kau bertanya pada-,"

Mendadak kakinya menginjak rem karena lampu merah. Sesaat kemudian terdengar suara klakson beruntun dari belakang. Chuuya balas menekan klakson mobilnya keras-keras.

"Sialan," umpat Chuuya.

"Kalau aku bisa menyetir aku akan duduk di kursi kemudi. Kau bisa marah-marah sepuasnya di tempat penumpang tanpa membunyikan klakson," komentar Dazai.

"Dengan kemungkinan kau akan menabrakkan mobil ini ke bahu jalan untuk bunuh diri? Tidak, terima kasih," balas Chuuya sarkas.

"Aku bukan masokis. Menabrakkan mobil ke bahu jalan belum tentu akan membuatku mati," Dazai tak mau kalah.

Chuuya membuang napas kasar. Ia perlahan melepas pijakan remnya saat mobil di depannya maju. Ekspresi lelaki bersurai sinoper itu sangat serius ketika menyetir.

"Ngomong-ngomong, di mana kau memesan penginapan?" tanya Chuuya.

Dazai mengangguk, "Kalau kau mau aku bisa membuka petanya sekarang."

"Nanti saja," tolak Chuuya, "Lagipula sekarang kita masih berada di tengah kota."

Perjalanan mereka mayoritas dihabiskan untuk mendengarkan lagu di radio. Chuuya yang memutarnya, menetralkan suasana. Dazai beberapa kali terlelap dan terantuk saat Chuuya mengerem. Berakhir dengan lelaki itu protes dengan betapa buruknya Chuuya dalam menyetir.

"Kalau tidak bisa menyetir, jangan banyak omong," sembur Chuuya.

Dazai hanya mendengus pelan, kemudian melanjutkan tidur siangnya.

Dua lelaki itu sampai di pinggiran kota dengan lancar. Untungnya Dazai langsung bangun begitu Chuuya membunyikan klakson. Dengan gerutuan ia memasang peta melalui ponsel Chuuya. Tak lupa Dazai juga menghidupkan fitur suara agar ia bisa kembali tidur.

"Tukang tidur," ejek Chuuya dibalas sergahan kasar.

Chuuya tertawa pelan, urung untuk mengganggu lelaki yang sedang ingin bermimpi itu. Ia memperhatikan jalan sambil sesekali melirik ke mana petanya menuju.

.

.

.

Pesisir pantai menyapa mereka dengan hangat. Chuuya bisa melirik pemandangan laut di belakang Dazai. Lelaki itu masih tertidur dengan pulasnya. Peta yang disetel Dazai menyebutkan bahwa mereka akan sampai di penginapan kurang dari setengah jam.

"Dazai," panggil Chuuya.

Ia sudah memarkir mobilnya di basement penginapan. Tinggal menurunkan barang-barang dan pergi ke dalam untuk check in. Namun Chuuya tidak mungkin meninggalkan Dazai di parkiran.

Lelaki itu menepuk-nepuk wajahnya agar sadar. Dazai mengerjap pelan, menemukan Chuuya tengah menatapnya hangat. Tidak biasanya.

"Apa aku tertidur selama perjalanan?" gumam Dazai sambil meregangkan tubuhnya. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan ikut turun bersama Chuuya.

"Kau lupa ingatan lagi," sahut Chuuya, membuka bagasi belakang dan mengeluarkan tas pakaian mereka.

Dazai menghampiri Chuuya dan membawa barangnya sendiri. Untunglah lelaki itu cukup peka dan bertanggung jawab. Ia juga yang mengurus pemesanan kamarnya. Chuuya tinggal bersantai di sofa lobi dan merelakan Dazai menguras uangnya.

"Lantai 5, kamar 158," lapor Dazai sambil memamerkan kartu kunci.

Chuuya beranjak dari kursinya dan mengekor Dazai menuju lift. Penginapan yang dipesan Dazai agak ramai. Beberapa orang lalu lalang di lobi selama Chuuya menunggu tadi.

"Apa kau mengajakku keluar rumah hanya karena mengantisipasi teroris?" tanya Chuuya di dalam lift.

"Pelankan suaramu," bisik Dazai seraya menekan tombol 5.

Chuuya terdiam, kemudian ia menelan ludahnya sendiri karena gugup.

"Kau berharap aku memiliki maksud lain, carrier?" tanya Dazai balik. Ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.

Chuuya membuang muka, "Aku hanya bertanya."

Dazai terkekeh pelan. Chuuya balas menengok ke arahnya sebal. Hanya sebentar karena lelaki itu menunjuk sebuah poster yang ditempel di dinding lift. Festival kembang api malam ini.

"Aku tidak memilih tempat ini tanpa alasan. Setidaknya aku harus balas budi dengan membuatmu terhibur," bangga Dazai.

"Kau beruntung aku tidak fobia kembang api," balas Chuuya membuat harga diri Dazai mendadak jatuh.

Dazai mendengus pelan bersamaan dengan pintu lift terbuka. Chuuya keluar duluan dan menarik tangan Dazai. Lelaki itu tersentak kaget.

Chuuya tersenyum jahil, "Tadi balasan karena kau selalu membuatku kesal."

"Setidaknya berikan penghargaan pada usahaku," protes Dazai

Dazai tertegun ketika genggaman di tangannya mengerat. Semburat merah muncul di pipi Chuuya.

"Terima kasih, Dazai," gumam Chuuya singkat seraya memalingkan wajahnya.

Selain karena pertanyaan seputar carrier, Dazai baru kali ini melihat Chuuya malu. Ia sangat ingin menggodanya lagi, namun mereka masih berada di koridor.

Setibanya di dalam kamar, Dazai dan Chuuya disambut dengan pemandangan laut biru. Lebih indah dari yang Chuuya lihat saat menyetir. Daerah berlibur yang dipilih Dazai memang berdekatan dengan laut. Chuuya berdiri di depan jendela, mengagumi keindahan yang terhampar.

Ia melangkah mundur dan duduk di atas ranjang, mendesah puas. Dazai menghampirinya dan merebahkan tubuh. Lelaki itu menempatkan kepalanya di atas paha Chuuya.

"Dazai-,"

"Izinkan aku tidur lagi," potong Dazai.

"Penginapan menyediakan bantal agar kau tidak perlu membuat pahaku kebas," protes Chuuya.

"15 menit."

"Terlalu lama."

"10 menit," tutup Dazai langsung memejamkan matanya. Chuuya mendengus pelan, menatap keluar jendela lagi sambil menunggu lelaki di pangkuannya ini terbangun.

Tiba-tiba si sinoper tersentak. Dazai baru saja menarik tangan kiri Chuuya, menempatkannya di atas dahinya.

"Kau bercanda," kekeh Chuuya membaca penempatan itu dan mengelus surai Dazai.

Chuuya berkesempatan untuk memandangi fitur wajah lelaki itu sekarang. Betapa rupa itu tampak menawan terlepas sifat menyebalkannya. Terkadang pertanyaan berulang Dazai masih terlintas di benaknya. Namun Chuuya belum memastikan akan menjawabnya atau tidak.

Apakah ia seorang carrier, seseorang yang bisa memberikan keturunan layaknya omega dalam kisah fiktif, atau bukan.

"Dazai," sebut Chuuya pelan. Tapi yang disebut jutsru menggumam balik, tanda bahwa ia tidak sedang tidur.

"Menyebalkan," protes Chuuya, kontras dengan perlakuannya. Dazai balas tersenyum dan membuka mata, menatap wajah sosok di atasnya hangat.

"Kalau ingatanmu sudah kembali, segeralah pergi," ujar Chuuya masih mengelus surai Dazai.

"Apa kau tidak takut merindukanku?"

"Aku takut bila harus mendengar kata-kata narsistik itu lagi," sarkas Chuuya.

Dazai beranjak dari pangkuan Chuuya, bangun dari ranjang itu walaupun 10 menitnya belum tercapai. Ia berdiri di depan Chuuya, gantian mengacak-acak rambut lelaki itu sebelum pergi menuju tas pakaian mereka.

"Aku akan membeli makan siang sendiri. Kau bisa menikmati kamar ini tanpaku," pamit Dazai sambil mengambil beberapa lembar uang dari dompet Chuuya.

"Cepat kembali!" seru Chuuya sebelum Dazai menutup pintu kamar mereka.

.

.

.

Satu jam menunggu di dalam kamar, Chuuya hanya menyalakan televisi dan menonton acara langganannya di akhir minggu. Beberapa kali perutnya keroncongan karena menantikan makan siang dari Dazai.

Menjawab rasa laparnya, Chuuya mendengar suara ketukan pintu. Dengan semangat lelaki itu melompat turun dan berhambur ke depan, membukakan pintu yang sejak tadi ia kunci.

Namun Chuuya menemukan sosok lain, laki bersurai kelam dan kulit pucat. Ia masih mengenakan pakaian hangat berwarna putih, persis kali pertama Chuuya melihatnya.

Si pengantar bom.

Tubuh Chuuya gemetar. Alasan ia berada di penginapan adalah untuk menghindari sosok ini. Tapi ia justru bertemu dengannya di depan pintu kamar.

"Selamat siang," sapanya dengan sebuah senyum ramah, justru membuat Chuuya semakin waspada.

"Aku tidak sedang membawa bahan peledak. Keamanan area ini diperketat karena festival," jelasnya.

Chuuya bergeming. Ia tidak melakukan apapun selain berdiri dan gemetar.

"Aku berpikir Dazai pasti tidak memberitahumu siapa dia sebenarnya dan aku ingin menggantikannya untuk memberitahumu."

"K-kau salah orang," gagap Chuuya.

"Aku teroris," balas sosok itu tetap lanjut bicara, "Dan Dazai―,"

Azure Chuuya terbelalak. Mendengar nama lelaki amnesia itu disebut, membuatnya tidak tenang.

"―adalah teman baikku."

.

.

.

To be continued