Title : Mikrokosmos
Genre : Romance, BxB, Warn!Mpreg
Rating : NC 21
Length : 7 Chapters, 1 Prologue, 1 Epilogue
Cast : Nakahara Chuuya, Dazai Osamu, Mori Ougai, Fyodor Dostoevsky, Kunikida Doppo, etc
[DISCLAIMER]
All the characters are made by Kafka Asagiri and Harukawa35. Pitik hanya buat FFnya saja, ehe!
Chapter 4
Dua kotak bento sudah di tangan. Dazai memilih lauk secara acak karena Chuuya tidak pernah memberitahu apapun soal preferensi makanan. Tidak terlalu mahal, uang Chuuya yang ia ambil tadi masih sisa. Kalau ingatannya sudah pulih nanti, Dazai berencana mengembalikan semuanya. Kecuali seorang Chuuya meminta sesuatu yang lebih dari itu.
"Oi, Dazai," sapa seseorang saat lelaki itu tengah menuju penginapan.
Dazai menoleh dan mendapat sosok yang ia temui malam itu, saat ia mendengar suara tembakan di dekat rumah Chuuya. Terlepas cuaca panas siang itu, ia malah mengenakan pakaian tebal.
"Kita bertemu lagi, orang aneh" balas Dazai kemudian berlalu tanpa menggubrisnya lagi.
"Aku terluka kau selalu mengabaikanku."
Dazai menoleh, menatap sosok itu tajam, "Habis kau terlalu aneh. Kau juga tidak terlihat ingin membantuku."
Sosok itu mengendikkan bahu, "Memang tidak."
"Jadi, selamat tinggal!" tutup Dazai sambil melambaikan sebelah tangannya.
Sosok berpakaian tebal itu masih berada di sana, tersenyum puas.
"Ternyata kau benar-benar menyukai sinoper," gumamnya membuat Dazai tersentak.
Dengan cepat ia berlari menuju penginapan. Orang aneh itu pasti sudah bertemu dengan Chuuya, bicara tentang sesuatu yang hilang dari ingatannya. Dan Chuuya pasti menganggapnya telah berbohong.
Lelaki bersurai kelam itu mengetuk pintu kamar mereka dengan was-was. "Chuuya," panggil Dazai kemudian.
Selang beberapa saat, pintu terbuka. Chuuya menyambut Dazai dengan ekspresi tak terbaca. "K-kenapa lama sekali?" Suaranya sedikit bergetar.
Dazai balas tersenyum lebar, "Ayo makan!" Lelaki itu memamerkan dua kotak bento yang ia beli dengan uang Chuuya. Si sinoper membiarkan Dazai masuk dan membuka salah satu kotak makannya di atas meja.
Mereka duduk berhadapan di samping jendela. Keduanya sama-sama makan dengan tempo lambat. Dazai yang larut dalam dugaan bahwa Chuuya baru saja bertemu dengan orang aneh itu dan Chuuya dengan dugaan bahwa ingatan Dazai telah kembali.
"Chuuya." "Dazai."
Dazai berdehem sejenak, "Kau duluan."
Chuuya balas menghela napas. Entah, sulit untuk menguraikan pemikiran rumitnya. Tapi ia harus mencobanya. Karena ini menyangkut hidup dan mati.
"Apa ingatanmu sudah pulih?" rangkum Chuuya.
Dazai menelan ludahnya sesaat. Ia tidak akan berbohong, namun kejujurannya ini bisa jadi dianggap sebuah kebohongan. Manik cokelatnya mengerjap, "Aku masih bersamamu dan sesuai perjanjian, aku akan pergi ketika mengingat semuanya."
"Maksudmu kau belum mengingat apapun lagi?" Dazai menggeleng sebagai jawaban.
"Kau ingin bilang apa barusan?" Chuuya menatap lelaki itu lekat-lekat, membuatnya sadar akan perasaan khawatir dan takut. Mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Chuuya barusan, orang aneh itu pasti membocorkan masa lalunya. Bagian buruk yang membuat azure Chuuya gemetar.
"Aku sudah menaruh kembalian makan siangnya di dalam tasmu," ujar Dazai, sangat jauh dari topik yang ingin ia bahas. Chuuya ber-oh ria terlepas biasanya ia akan mengamuk saat Dazai membuat suasananya berubah secara kontras.
"Mengapa kau terlihat sangat gugup sejak membuka pintu?" tanya Dazai balik, mencoba bersikap seolah tidak tahu apapun.
"Aku gemetar karena belum makan," balas Chuuya sambil memalingkan wajah.
"Habiskan bentomu," omel Dazai sambil memindahkan dua lauknya ke kotak Chuuya.
"Oi," protes Chuuya hendak mengembalikan omelet dan tempura namun ditahan Dazai.
"Setidaknya aku tidak memberimu bubur hambar. Bersyukur dan habiskan saja!" tegas Dazai. Ia merasa lega bisa membalas perlakuan Chuuya saat ia sakit.
Chuuya memakan tempuranya setengah hati. Ungkitan Dazai sangat menyebalkan. Padahal hambar itu karena indera pengecapnya sendiri terganggu.
"Apa aku perlu menyuapimu?" tawar Dazai sambil mengacungkan sepotong tempura lagi ke depan Chuuya.
"Aku bukan anak kecil," protes lelaki itu.
"Tapi kau memang lebih kecil," ejek Dazai menjurus pada postur tubuh Chuuya.
"Aku tersinggung kau menemukan ejekan baru," balas Chuuya melahap bentonya dengan cepat.
"Chuuya kecil," gumam Dazai.
Berakhir dengan tendangan keras di kakinya. Dazai sempat menghentikan makannya selama beberapa saat untuk meratapi nasib. Setidaknya atmosfer di antara mereka tidak lagi tegang, Dazai bisa bersyukur sambil memikirkan apa yang mungkin diberitahukan orang aneh itu pada Chuuya.
Sesuai rencana Dazai, mereka berdua pergi menuju festival kembang api sore ini. Chuuya bisa melihat berbagai stand di sana. Azurenya membulat senang terlepas ancaman yang datang padanya siang tadi. Dazai berjalan di sisinya, kadang tertinggal saat Chuuya melangkah lebih cepat.
"Kau tidak lapar?" tanya Chuuya sambil menunjuk kumpulan stand makanan.
"Kau akan tambah gemuk kalau makan. Sebaiknya kau melompat-lompat supaya tambah tinggi," balas Dazai sambil menunjuk wahana trampolin yang dikerubungi anak-anak.
Perempatan kesal muncul di dahi si sinoper. Ia mendecih dan mengurungkan niat makannya, "Sialan."
Dazai terkekeh pelan. Ia cukup lega Chuuya tampak baik-baik saja. Sekarang lelaki itu hanya berharap orang aneh itu tidak membuat keributan di festival. Lebih baik lagi kalau sama sekali tidak muncul dan membuat teman sekamarnya ini gemetar.
"Ayo beli itu!" Chuuya tersentak saat Dazai menarik tangannya. Lelaki itu menariknya ke depan stand permen kapas.
"Kau ingin membeli ini?" ragunya dibalas anggukan yakin.
"Satu," pesan Chuuya kepada penjual.
Dazai memasukkan kedua tangannya dalam saku dan memperhatikan bagaimana ekspresi Chuuya saat melihat pembuatan permen kapas itu. Raut penasaran yang sangat lucu.
"Dazai," panggil Chuuya mengacungkan pesanan laki-laki itu.
"Untukmu," timpal Dazai.
"Aku tidak ingin permen kapas. Lagipula ini bukan kencan anak sekolah," protes Chuuya.
"Kau membelinya dengan uangmu. Kau yang memakannya."
"Terserah," sergah Chuuya kemudian memakan sedikit permennya.
Dazai menunjuk sebuah bangku panjang di pinggir festival, memberi kode Chuuya agar mereka berdua duduk di sana. Sekali lagi lelaki itu menurut, tidak ingin mengira-ira apa yang direncanakan Dazai.
Ia menggigit permen kapasnya lagi dan menemukan manik cokelat Dazai tepat di hadapannya. Pipi Chuuya merona merah. Ia mundur dan memalingkan wajahnya.
"Sudah kubilang ini bukan kencan anak sekolah," protes Chuuya lagi.
"Tidak ada salahnya nostalgia."
"Cih." Chuuya merengut kesal dan memakan bagian besar permennya.
"Oi, Chuuya," suara menyebalkan itu tertangkap lagi di telinga, "Apa kau pernah kencan saat sekolah?"
"Tentu saja pernah," sewot si sinoper.
Dazai menaruh tangannya di sandaran bangku, diam-diam merangkul pundak Chuuya, "Seperti apa dia?"
"Seseorang yang tidak menyebalkan," sindirnya.
"Aku bertanya serius," kesal Dazai.
"Dia satu-satunya orang yang tahu kalau aku adalah carrier di sekolah," cerita Chuuya sambil tertawa kecil, "Habis dia orang yang paling meyakinkan untuk kuberitahu, sih."
Dazai menoleh ke arah Chuuya, memperhatikan raut senangnya ketika menyebutkan teman kencan sekolahnya itu. Sedikit banyak menjelaskan seperti apa tipe idaman carrier itu, seseorang yang bisa dipercaya.
"Apa kau berencana untuk kencan dengannya lagi?" tanya Dazai sambil mencomot permen kapas di tangan Chuuya. Lelaki itu merengut kesal. Tapi kemudian ekspresinya kembali normal, terbiasa dengan sifat menyebalkan Dazai.
"Aku kehilangan kontak setelah lulus."
"Kata lain dari tidak," timpal Dazai.
Chuuya menundukkan kepalanya. Ia mendengus pelan seiring mengiyakan ucapan lelaki brunette itu. "Ya, sayang sekali."
Dazai melirik sinoper itu, membaca ekspresi yang tergambar di wajahnya. "Berarti masih ada kesempatan untukku."
"Kesempatan apa?" Sepasang azure menatap Dazai polos, menimbulkan perasaan terpikat. Ia tidak dapat melepas pandangan selagi berpikir jawaban apa yang harus dilontarkan. Pertama, agar tidak terlalu kentara. Kedua, agar tidak terdengar remeh.
"Kesempatan untuk tinggal di rumahmu lebih lama."
Perempatan kesal muncul di dahi Chuuya, "Kau ingin amnesia seumur hidup, ya?"
"Kalau aku tinggal di rumahmu, maka semuanya akan jadi lebih mudah," simpul Dazai sambil mengacungkan telunjuknya.
"Kalau kau ingin punya pembantu gratis, aku tidak sudi," tolak Chuuya sambil menghabiskan permen kapasnya.
Dazai mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, "Tapi akan sangat disayangkan kalau seorang carrier hanya menjadi pembantu saja."
Chuuya beranjak dari bangku panjang itu, jengah. Ia membuang stik permennya di tong sampah lalu kembali menghadap Dazai dengan raut kesal.
"Apapun yang kau rencanakan, aku tidak ingin ikut. Pergilah kalau ingatanmu pulih," sinoper itu melipat kedua tangannya, "Kau menyusahkanku!"
Baru saja sinoper itu akan berbalik badan, Dazai tiba-tiba saja berhambur memeluknya. Ia membuat Chuuya berpindah dari posisinya. Lelaki itu baru tersadar begitu mendengar bunyi ting dan menemukan sebuah peluru tergeletak di bawah bangku. Tanpa suara senapan. Pelukan itu bukan sesuatu yang dilakukan tanpa alasan.
"D-Dazai," cekatnya.
"Beri tahu apa yang teroris itu katakan padamu," bisik Dazai.
Chuuya tersentak, "Aku tidak-,"
Pelukan di tubuhnya semakin erat. Seandainya sinoper itu bisa melihat betapa tajam tatapan si brunette, ia akan tahu bahwa jawaban pertanyaan barusan amatlah penting.
"Chuuya," bisik lelaki itu lagi, "Apakah kau percaya padaku?"
Sinoper itu memejamkan kedua matanya. Dadanya berdesir, campuran antara rasa gugup dan takut.
"Jawab aku," mohon Dazai.
Hembusan napas menerpa bahunya. Chuuya, si pelaku, memutuskan untuk menceritakan semua. Menepis dilema yang ia rasakan sejak Dazai mengetuk pintu kamar mereka siang tadi.
"Apa kau berteman baik dengan teroris?" balas Chuuya dengan volume rendah, sebuah sinyal keraguan.
"Teroris adalah buronan negara. Ia tidak akan aman di manapun. Begitu pula teman baiknya," jelas Dazai mencoba menenangkan lelaki itu.
"Lalu kenapa kau menolak untuk pergi ke rumah sakit waktu itu?"
"Itu karena-," Dazai dengan cepat melepas pelukannya dan menggenggam tangan Chuuya erat-erat, "-rumah sakit membuat semuanya lebih rumit."
Tanpa aba-aba, Dazai menariknya berlari. Chuuya tidak tahu ke mana dan dari apa mereka berlari. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah percaya pada Dazai Osamu, lelaki amnesia yang ia rawat beberapa hari ini.
"Dazai," panggilan itu dibalas dengan deheman pelan. Chuuya bisa mendengarnya meskipun tipis.
"Apa kau benar-benar akan melindungiku?"
Chuuya tidak menerima sahutan apapun. Namun Dazai memberikan sesuatu yang lebih meyakinkan daripada itu, sebuah pangutan di bibirnya. Memberitahukan carrier itu agar tidak terlalu khawatir dengan semuanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati," tutup Dazai, mengusap bekas ciumannya sendiri.
Chuuya terpaku di tempat, sebuah celah di antara stand dengan Dazai berdiri di hadapannya. Ketika itu kembang api meledak di udara, bersamaan dengan perasaan geli saat Dazai merapikan surai sinopernya.
"Sementara ini kita akan bertahan," ujarnya, "Aku tidak memiliki senjata untuk menyerang balik."
Jemari Dazai masih sibuk mengelus surai sinoper Chuuya, sementara pandangannya meneliti situasi dengan waspada.
"Apa sebaiknya kita segera kembali ke rumah?" bingung Chuuya.
"Pilihan yang buruk. Di saat ramai, lebih baik menyembunyikan diri di antara kerumunan."
"Kenapa kau selalu membuat analisis?" Sinoper itu sedikit mendorong lelaki di hadapannya, "Siapa kau sebenarnya?"
Dazai melempar senyum ke arah Chuuya, "Kalau kau bisa menebak dengan benar, semuanya tidak akan terasa samar. Aku yakin kalau pekerjaanku berhubungan dengan militer dan pemerintahan. Agen rahasia, mungkin?"
"Aku bertaruh kau hanya berangan-angan saja," ketus Chuuya.
Dazai menepuk puncak kepala carrier itu, kemudian mendekapnya erat. "Mungkin," bisik brunette itu sesaat, kemudian ia melepaskan pelukan dan menatap si sinoper lekat-lekat.
Chuuya tidak habis pikir berapa kali
Dazai harus membuatnya jantungan. Tapi untuk kasus ini, ia akan membiarkannya saja. Kecuali untuk ciuman barusan.
Dazai tidak serius melakukannya, bukan?
"Orang aneh itu pasti sedang merencanakan sesuatu," tebaknya, mengalihkan pikiran Chuuya.
"Tapi apa?"
Dazai terdiam sejenak. Berpikir adalah dasar untuk memecahkan masalah genting ini.
"Aku berpikir soal kembang api dan peledak," cetusnya.
"Dia akan meledakkan kita?"
"Bukan. Kalau mau, dia bisa melakukannya dari kemarin. Kurasa itu hanya pengalih perhatian."
Chuuya tercengang. Membuat ledakan sebagai pengalih perhatian bukanlah hal sepele. Hanya orang-orang tanpa belas kasihan yang akan melakukan hal itu.
"Bagaimana dengan kita?"
"Kembali ke penginapan."
"Ha?!"
"Kita akan kembali ke penginapan. Kau harus istirahat karena besok kau akan mengemudi," Dazai melepas dekapannya, menatap wajah kebingungan Chuuya selepas usutan mendadaknya.
Sinoper itu masih tetap ragu ketika Dazai menarik tangannya kembali ke penginapan. Langkahnya menjadi lambat dan tertatih.
"Kau yakin kita kembali ke penginapan? Bagaimana kalau teroris itu meledakkan hotel? Bagaimana kalau ternyata ada bom yang terpasang di kamar?" panik Chuuya.
"Tidak ada di antara kepanikanmu itu yang akan terjadi. Terlalu cepat baginya untuk membunuh kita berdua," balas Dazai sesampainya di halaman hotel.
Walaupun festival sedang ramai-ramainya, penginapan mereka tidak sepi. Beberapa pengunjung malah membuat kerumunan sendiri di depan dan dalam hotel. Lobi masih tampak sibuk.
"Orang aneh itu tidak mungkin meledakkan penginapan kecuali ia ingin tertangkap polisi militer," jelas Dazai lagi, menarik tangan Chuuya menuju lift.
Lift itu berisi tujuh orang, keluar di lantai yang berbeda. Saat Dazai dan Chuuya turun ke lantai lima, masih ada tiga orang lain yang menuju ke atap. Dazai merogoh saku celananya, mencari kartu kamar mereka. Chuuya mengekor di belakangnya. Sinoper itu menarik lengan pakaian Dazai seperti anak kecil yang dibawa ke pusat informasi saat terpisah dari orangtuanya.
Mereka masuk ke dalam kamar penginapan. Dan seperti tebakan Dazai, tidak ada apapun di dalam sana. Semuanya sama persis seperti ketika mereka pergi ke festival. Chuuya pergi membersihkan diri terlebih dahulu, juga mengganti pakaiannya menjadi piyama. Lebih nyaman tidur dengan setelan itu. Sekeluarnya dari kamar mandi, Dazai sudah membereskan tempat tidur, menyiapkan tempat kosong bagi carrier itu tepat di sebelahnya.
"Kau tidak tidur?" khawatir Chuuya.
Si brunette hanya terduduk, menatap jendela kamar mereka yang tirainya masih terbuka. Masih dengan pemandangan laut, hanya saja gelap. Sedikit lebih cerah dengan ledakan kembang api di udara.
"Aku akan berjaga. Tidurlah," balasnya.
Chuuya berbaring dengan berat hati. Ia memposisikan dirinya menghadap Dazai, mencari rasa aman yang dijanjikan lelaki itu.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" ujar Chuuya pelan.
Dazai balas bergumam, mempersilakan sinoper itu. Sebagai tambahan ia mencoba memberikan rasa nyaman dengan mengelus surainya.
"Apakah kau menyukaiku?" lontar Chuuya. Kemudian ia menarik selimut hingga menutupi pipi merahnya. Pertanyaan itu sungguh konyol.
Lelaki yang tengah berjaga itu tersenyum lembut, masih mengelus surainya sambil memberikan sebuah jawaban.
"Daripada menyukaimu, ingin melindungimu setiap saat adalah jawaban yang lebih tepat," Dazai menutupnya dengan sebuah kecupan di kening Chuuya.
Malam ini, alih-alih sinoper itu menghabiskannya dengan rutukan, Dazai membuatnya merasa berharga. Juga membuat jantung Chuuya berdegup lebih kencang.
"Mimpi indah, dunia kecilku."
.
.
.
To be continued
Mikrokosmos (judul) artinya dunia kecil wkwk, itu lagunya BTS hehe :)
