Title : Mikrokosmos
Genre : Romance, BxB, Warn!Mpreg
Rating : NC 21+
Length : 7 Chapters, 1 Prologue, 1 Epilogue
Cast : Nakahara Chuuya, Dazai Osamu, Mori Ougai, Fyodor Dostoevsky, Kunikida Doppo, etc
[DISCLAIMER]
All the characters are made by Kafka Asagiri and Harukawa35. Pitik hanya buat FFnya saja, ehe!
Chapter 5
Sebuah panggilan yang terus menghantui Chuuya sejak semalam, dunia kecilku. Dazai perlu menjelaskannya karena sinoper ini tengah merasa terombang-ambing. Perjalanan darat mereka saat ini malah didominasi keheningan. Chuuya memutuskan untuk menyalakan radio agar mobil lebih ramai.
Sejak keluar dari penginapan, Dazai sudah meminta izin untuk tidur setelah memakai sabuk pengaman. Si brunette pasti kelelahan. Chuuya menemukannya masih terjaga ketika ia bangun pagi ini. Lelaki itu menyapanya dengan senyuman, hangat seperti saat menghantarkannya tidur.
Sekarang, Chuuya sesekali melirik wajah tidur Dazai ketika lampu merah. Kegiatan itu membuatnya terjaga selama mengemudi. Ketika berangkat tempo hari, yang membuatnya terjaga malah adu argumen dengan lelaki itu. Sosoknya amat berbeda ketika tidur.
Lebih tenang. Lebih menawan. Lebih tidak menyebalkan. Lebih disukai Chuuya.
Lampu lalu lintas berubah hijau, bersamaan dengan bunyi klakson kendaraan di belakang mereka. Sinoper itu tersentak dan menjalankan mobilnya. Dazai di sebelah kursi kemudi, mengerang pelan.
Ia membuka kedua matanya sayu sambil bergumam, "Berisik."
Chuuya menghela napas pelan. Mobil mereka melaju dalam kecepatan normal. "Maaf," sahutnya.
"Aku tidak memprotesmu," Dazai tersenyum setengah sadar. Matanya kembali terpejam saat membalas permohonan Chuuya.
"Kau bisa membunyikan klakson sepanjang jalan dan aku akan tetap terlelap, menjadikannya sebagai pengantar tidurku."
"Jangan meracau dan tidurlah," omel Chuuya, menepis semua kekagumannya terhadap seorang Osamu Dazai.
Yang diomeli menurut dan kembali bersandar di kursi. Suasananya kembali tenang seperti sedia kala. Sampai mereka sampai di rumah. Chuuya memarkir mobilnya di depan pagar, membangunkan Dazai, dan menurunkan barang-barang mereka.
"Tidurlah di kamar! Aku akan mengembalikan mobilnya," ujar sinoper itu, memperhatikan hitam di bawah mata Dazai.
Namun lelaki itu hanya menaruh barang-barang di ruang tamu. Ia mengunci pintunya kembali dan berjalan menghampiri Chuuya.
"Aku tidak bisa membiarkan seorang carrier berpergian seorang diri," ujar Dazai kembali masuk ke dalam mobil.
"Kata-kata seseorang yang membuatku melompati pagar untuk berangkat kerja," cibirnya sambil menyusul Dazai.
Lelaki itu tidak lagi tertidur di sebelah kursi kemudi. Ia tengah bersantai, berpangku tangan di pintu mobil. Persewaan mobil tidak jauh dari rumah Chuuya, hanya saja tetap perlu melewati beberapa blok perumahan. Mereka akan kembali pulang dengan berjalan kaki.
Setelah Chuuya membayar ongkos sewa, Dazai langsung mengajaknya ke supermarket. Dalam perjalanan sinoper itu sempat bilang kalau tidak ada apapun di dalam kulkas.
"Kau tidak ingin menepati janjimu?" celetuk Dazai sewaktu Chuuya tengah memilih bahan makanan.
"Janji apa?" carrier itu berbalik sejenak.
"Minum bersama," balas si brunette sambil menunjuk dua ekor kepiting untuk diambil pelayan supermarket.
"Besok hari Senin. Aku harus pergi ke kantor," tolak Chuuya.
"Besok hari Senin ketiga di bulan Juli, hari laut, hari libur nasional," balas Dazai sambil menerima bungkus plastik berisi kepiting segar.
"Hei, apa yang kau beli?" azure Chuuya memicing tajam.
"Untuk memperingati hari laut, kita harus memasak makanan laut," alibi Dazai.
"Kepiting?"
"Ya, aku menyukai kepiting." Si brunette tersenyum sambil memamerkan kepiting segarnya.
Chuuya menghela napas sejenak. Mengurus orang yang banyak mau memang agak sulit. Belanja sore itu berakhir dengan kepiting segar kesayangan Dazai. Chuuya memutuskan untuk merebusnya malam ini. Lalu memakannya bersama minuman di dalam kabinetnya.
Mereka menaiki bus untuk sampai kembali ke rumah. Chuuya melimpahkan semua barang belanjaannya pada Dazai. Sejak tadi lelaki itu terus menguras uang, si sinoper sekedar menagih tanggung jawab.
"Setidaknya malam ini bisa minum," hibur Dazai pada dirinya sendiri.
.
.
.
Langit musim panas dominan cerah. Begitu pula malam ini. Saat Chuuya sibuk menyiapkan makan malam di dapur, Dazai pergi ke halaman belakang. Ia menggelar tikar di dalam gudang, membersihkannya untuk piknik kecil-kecilan.
Chuuya yang hilir mudik di dalam rumah membiarkan lelaki itu berlaku sesuka hatinya. Ia sudah lelah beradu argumen dengan Dazai dan lebih memilih mengurus kepiting.
Dazai sedang terduduk di atas tikar ketika aroma masakan tercium dari pintu belakang. Chuuya mengantarkan makan malam mereka. Si brunette menyambutnya girang. Sementara itu Chuuya kembali ke dapur dan mengambil alat makan.
"Siapa yang memberimu ide untuk piknik di halaman belakang?" tanya Chuuya di tengah santap malam mereka.
Dazai memonopoli capit kepiting, bagian yang memiliki lebih banyak daging. Ia menatap Chuuya polos dengan mulut masih mengunyah makanan. Sinoper itu tertawa kecil. Siapa yang mengira Dazai menyebalkan bisa memasang raut selucu ini.
"Kenapa- mm- kau tertawa?" gumam Dazai dengan mulut penuhnya.
Chuuya memukul kaki si brunette gemas, "Telan!"
Yang dipukul barusan menurut dan menelan makanannya. "Inisiatif," ujarnya kemudian untuk membalas pertanyaan Chuuya.
Sinoper itu berhenti berebut kepiting dengan Dazai, membiarkan lelaki itu menghabiskan makanan favoritnya. Ia bersandar di tanah dan mendongak ke langit yang cerah. Malam ini bulan dan bintang tampak jelas di atas Yokohama.
"Masakan seorang carrier memang selalu memuaskan," puji Dazai sambil mengusap mulutnya.
Chuuya memalingkan wajah, pipinya merona merah, "Memangnya berapa banyak carrier yang kau makan masakannya?"
"Satu orang," Dazai tersenyum lebar seraya beranjak dari tempatnya, membawa panci serta piring kotor ke dalam rumah. "Tunggu di sini," perintah lelaki itu.
Chuuya mengangguk pelan, menuruti permintaan si brunette itu untuk tetap tinggal di halaman belakang. Tak lama kemudian Dazai muncul di ambang pintu, membawa dua botol minuman dari dalam kabinet. Sinoper itu tersenyum, akhirnya mengizinkan lelaki itu mengakses kabinetnya secara bebas.
"Aku akan bersikap tahu diri sekarang," ujar Dazai duduk di sebelah Chuuya, memberikan satu botol di tangannya, "Aku hanya akan minum satu. Kecuali kau memintaku mengambil lagi di kabinet."
Sinoper itu membuka botolnya, meminum separuh isi minuman itu sekali teguk. "Dazai," panggilnya. Dazai balas bergumam setelah meminum sedikit isi botolnya.
"Bagaimana kalau kita bertanding?" Si brunette balas memasang raut bertanya-tanya.
Chuuya mengacungkan botol di tangannya, "Yang bertahan lebih lama boleh meminta apapun."
"Kau yakin ingin bertanding denganku?" goda Dazai.
"Aku sudah mengantisipasi kekalahan."
"Untuk apa ikut pertandingan saat tahu kau akan kalah?"
"Entahlah," Chuuya menyandarkan tubuhnya pada bahu kanan Dazai.
"Kau berubah," celetuk Dazai sambil menekuk kaki kirinya dan merangkul pundak Chuuya agar sandaran carrier itu berpindah ke dadanya.
"Aku hanya berusaha untuk mempercayaimu," balas sinoper itu, meneguk isi botolnya lagi.
"Kau tidak bisa dengan mudah mengabulkan keinginan seseorang laki-laki sepertiku," bisik Dazai.
"Apa yang kau inginkan?"
"Chuuya."
"Hm?" sahut carrier itu.
"Aku menginginkanmu."
"Kau bercand-," ucapan si sinoper terpotong ketika sebuah ciuman sampai di bibirnya. Ia bisa mengecap samar rasa alkohol yang diminum Dazai. Cairan yang candu. Benaknya linglung, masih memproses alasan dibalik ciuman kedua mereka. Sementara keinginan lelaki itu barusan terus terngiang dalam pikirannnya.
Dazai yang melepas tautan bibir mereka, kemudian melayangkan tatapan hangat ke arah azurenya. Ada sebuah kesungguhan yang berkilat di sana, membuat Chuuya semakin gugup.
"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu," surai sinoper itu diusap lembut, "Dan mengulangnya kembali hari-hari berikutnya."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Dazai.
Chuuya urung menjawab. Ia masih terdiam pada posisinya, bersandar di dada si brunette. Telinganya bisa menangkap detak jantung Dazai, tidak beraturan, juga suara hembusan napasnya. Suasana ini terasa nyaman. Kekurangannya hanyalah Chuuya tidak tahu sampai kapan ia dapat merasakan perasaan ini.
"Aku ingin ingatanmu cepat kembali," ucap Chuuya pada akhirnya, "Agar aku tidak perlu mengurusmu lagi."
Dazai bergumam pelan, "Beruntung keinginan kita tidak sama. Pertandingan ini jadi lebih bermakna."
"Kau tahu? Aku mudah mabuk. Kau harus bersiap-siap menggendongku ke kamar," Chuuya memperingatkan seraya berhenti bersandar pada Dazai.
Sinoper itu beranjak dari halaman belakang, membawa botol alkohol kosong bersamanya ke dapur. Dazai menyusul setelah membereskan tikar yang digelarnya. Chuuya tengah duduk di meja makan, meneguk botol keduanya. Wajahnya merah padam.
"Semakin banyak minum, keinginanmu tidak akan terkabul," ujar Dazai merebut botol di tangan Chuuya dan menghabiskan sisanya.
Si carrier beranjak dari kursinya, hendak mengambil satu botol lagi dari dalam kabinet. Namun belum seperempat jalan, ia terhenti, bertumpu pada pinggiran dapur. Dazai mendengus pelan seraya menghampiri Chuuya.
"Aku menang," klaim Dazai dibalas senyum setengah sadar. Chuuya menggapai lengan Dazai, mengganti tumpuannya. Si brunette langsung menangkapnya, membuat Chuuya bersandar lagi di dadanya.
"Kau- hik- curang," racau sinoper itu dalam dekapan Dazai.
"Agar aku bisa menikmati malam ini-," si brunette mendudukkan Chuuya di atas meja dapur dan berdiri di antara tungkainya, "-kau harus tetap terjaga."
"Aku masih bangun," balas Chuuya sambil memegangi bahu Dazai erat-erat.
"Tapi kau tidak akan menyadari apa yang kulakukan nanti," Dazai memainkan surai sinopernya yang tergerai.
"Lakukan saja," ujar Chuuya dalam racauannya. Ia melingkarkan tangannya di tengkuk Dazai.
Tangan kiri si brunette bersandar pada dinding dapur, sementara tangan kanannya perlahan menyusup di antara tungkai Chuuya, menekan area di depan celananya. Carrier itu tersentak, menaikkan tungkainya, malahan membuat posisi Dazai semakin leluasa. Tanpa izin, lelaki itu menurunkan karet celananya dan menyusupkan jemarinya ke dalam.
"Sial- hh," racau Chuuya ketika jemari si brunette bermain-main dengan kemaluannya. Ia memberikan sentuhan lembut di sana, membuat carrier itu menegang.
"Permintaanku tidak hanya berlaku malam ini," bisik Dazai memberikan sebuah seringaian nakal. Ia menempelkan dahinya pada dahi Chuuya dan menatap kedua mata yang terbuka sayu itu. Si carrier tengah menggigit bibirnya sendiri, membuat Dazai tidak tahan untuk menyergap.
"Esok hari-," jemari lelaki itu menyusuri abdomen si sinoper, naik dan menyibak kaus yang dikenakannya, "-juga hari-hari selanjutnya-,"
Chuuya melenguh pelan saat Dazai mengecup dan menyesap puncak dadanya. Sekujur tubuhnya seakan baru saja terkena kejutan listrik. Carrier itu tidak menolak sentuhan Dazai, hanya saja pengalaman ini amat baru. Ia belum terbiasa.
"-aku ingin menyentuhmu lagi dan lagi," bisik Dazai, menurunkan kaus Chuuya kembali dan mengelus pipinya.
Keduanya saling menatap lama. Mendengarkan klaim Dazai, pikiran Chuuya seolah ditarik untuk sadar kembali. Azurenya terbuka lebar, bertemu dengan manik cokelat di hadapannya.
"Setelah ingatanmu kembali," si carrier membuang tatapan, "Apa kau akan tetap pergi?"
Dazai menaruh anak rambut sinoper itu ke belakang telinga, kemudian memberikan kecupan singkat pada dahi Chuuya, "Aku akan menyia-nyiakan keinginanku bila pergi begitu saja."
"Kalau begitu jangan pergi," mohon si sinoper, menatap wajah itu lekat-lekat.
"Berikan aku alasan untuk kembali, Chuuya," sahut Dazai menghirup aroma samponya dalam-dalam.
Lelaki itu turun dan mengecup perut si sinoper singkat, "Sebagai seorang carrier."
Sebuah pukulan melayang ke pundaknya. "Dazai sialan," umpat Chuuya.
Pukulan kedua si sinoper berhasil ditahan oleh Dazai. Lelaki itu menggamit jemarinya, membuat Chuuya urung untuk melampiaskan amarahnya lagi.
"Sudah kubilang, kau tidak bisa dengan mudah mengabulkan keinginanku," tegas Dazai kemudian melepas gamitannya dan meninggalkan si carrier.
Chuuya masih terduduk di atas meja dapur dengan kaus kusut dan celana basah, serta puluhan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutnya. Dazai baru saja memacu hormonnya, tetapi sialnya ia berhenti di tengah jalan.
"Apa ini malam yang ingin kau nikmati?" serunya dengan napas terengah.
Dazai mengurungkan niatnya untuk pergi, namun ia masih belum berani berbalik. Berdiri membelakangi Chuuya sepertinya keputusan yang tepat untuk menetralkan hawa nafsunya.
"Apa kau akan meninggalkanku begitu saja?" serunya lagi.
Sisi egois Dazai perlahan bangkit. Jauh sebelum malam ini, ia sudah bersusah payah menahannya. Menahan perasaan ingin memiliki sinoper itu. Sebagai ganti, ia berusaha membuatnya benci dengan perbuatan-perbuatan menyebalkan.
Sayangnya pertanyaan Chuuya barusan membuat dindingnya runtuh.
"Jawab aku," bibir Chuuya bergetar, begitu juga kedua tangan yang sedang berpangku pada pinggiran meja.
"Apa yang kau inginkan?" lirih Dazai menoleh ke arah si carrier.
Sepasang azurenya menatap kesal, "Selesaikan yang sudah kau mulai, bodoh!"
Dazai tersenyum getir, "Seharusnya kau tidak usah memukulku."
Lelaki itu kembali menghampiri Chuuya, meninggalkan seluruh rasa bersalah yang akan menghantui di kemudian hari dengan mendekap tubuh kecilnya.
"Aku akan menggunakan izinmu dengan baik," bisik Dazai di telinga si carrier. Terakhir ia memberikan gigitan pelan di sana, membuat warnanya berubah merah.
Chuuya sendiri membiarkan rasa geli hinggap di tubuhnya. Sentuhan demi sentuhan si brunette membuatnya melayang. Ketika jemari lelaki itu menyusup ke dalam pakaian dan menjelajahi permukaan punggungnya sensual, bersamaan dengan kecupan demi kecupan yang didaratkan sepanjang leher. Dazai meninggalkan bekas kemerahan di sana, hasil dari sesapan bibirnya. Sementara itu, Chuuya hanya bisa mengeluarkan desah tak beraturan.
"D-Dazai- hh," racau si sinoper saat jemari Dazai masuk lagi ke dalam celananya. Kali ini meremas kedua pipi bokongnya. Chuuya memeluk lelaki itu erat-erat, memberikannya ruang agar tidak tertindih. Sebagai gantinya Dazai harus menopang sebagian berat tubuhnya.
Dengan cekatan si brunette menurunkan pakaian yang menutupi paha mulusnya itu, juga melepaskan dalaman yang melindungi area vitalnya. Chuuya bisa merasakan dinginnya keramik saat Dazai mendudukkannya kembali. Celananya lolos dari tungkai dan tergeletak di lantai dapur. Dazai juga melepaskan kaus yang dikenakan Chuuya, ikut menjatuhkannya bersama bawahan sinoper itu.
"Kau kedinginan?" tanya si brunette memeluk carrier-nya erat-erat. Chuuya bergumam pelan sebagai balasan, juga balas melingkarkan tangannya di tengkuk Dazai.
Perlahan tapi pasti, Chuuya merasa Dazai mengangkat tubuhnya. Ia refleks ikut melingkarkan tungkainya dan memanjat naik.
"Kau tidak seberat yang kukira," ujar Dazai sambil melempar senyum hangat. Chuuya merasa nyaman menyandarkan dagunya di pundak lelaki itu, meskipun geli ketika tubuh polosnya bersentuhan langsung dengan Dazai. Selain itu, ia bisa merasakan kejantanan yang menegang di bawah sana.
Si brunette membaringkan Chuuya di atas ranjang. Kemudian melepaskan pakaian agar impas dengan pasangan malamnya. Hampir sebagian permukaan tubuh lelaki itu tertutup perban, membuat kekhawatiran Chuuya muncul.
"Hanya bekas luka," jelas Dazai sambil membelai rambut sinopernya, "Kau boleh membukanya kalau kau mau."
Tatapan si carrier beralih pada bagian tubuh Dazai yang menegang di bawah sana, "Kau menahannya."
Dazai terkekeh pelan, "Lama sekali." Ia mengelus kejantanannya sendiri, mencoba untuk mengurangi tegang. "Mungkin dia juga ingin kau sentuh."
Gantian Chuuya yang tertawa kecil, jemarinya menyentuh kepemilikan lelaki itu dan mengusapnya pelan. Ia merasakan cairan hangat membasahi tangannya, tanda bahwa lelaki itu sangat menginginkan penyatuan tubuh. Si brunette berberapa kali meloloskan desahan saat Chuuya memijat kejantanannya.
"Lebih menyenangkan bila memasukkannya ke tempat yang tepat," usul Dazai sambil merangkak maju, memerangkap tubuh si carrier.
Ia menatap azure itu lekat-lekat, meminta persetujuan untuk keinginan selanjutnya. Chuuya tidak menjawab apapun, hanya saja tangannya kini mencengkram pergelangan Dazai. Entah tanda ketakutan atau kegugupan.
"Apa kau menerima segala resikonya?" tanya si brunette, ganti meraih jemari carrier itu dan menggamitnya.
"Seperti?" Sepasang azure berkilat polos sementara Dazai merasakan daya yang balas mengunci jemarinya erat.
Chuuya meringis saat milik Dazai mendesak masuk ke dalam celah selatannya. Sebelah tangannya menarik tengkuk si brunette, memangkas jarak di antara mereka agar penyatuan dapat terjadi dengan sempurna.
"Rasa sakit," Dazai menyeka air mata yang tanpa sadar sudah mengalir di pelupuk Chuuya. Lelaki itu bisa mendengar napas tersengal si carrier dengan jelas, juga merasakan kejantanannya yang sedikit demi sedikit terhimpit.
Dazai melayangkan sebuah ciuman di bibir Chuuya, berusaha mengalihkan rasa sakit sinoper itu. Chuuya menyambut tautan bibir itu dan mengizinkan si brunette mengecapnya berulang kali, mengacaukan pikirannya sendiri.
Terasa menggelitik saat cairan keluar dari kepemilikan Dazai. Membuat seprai penutup ranjang tempat mereka bersenggama juga ikut basah.
Chuuya tersentak dan melepas ciuman mereka. "Dazai- hh, Dazai," rintihnya sambil menyebut nama sang dominan. Keringat mengucur deras di dahinya saat lelaki itu mengguncang tubuhnya semakin cepat.
"P-pelan- hh- pelan," lirih Chuuya seraya memeluk Dazai erat-erat, memohon agar tempo mereka semakin lambat.
Dazai menurut, tetap menjaga pikirannya dari nafsu dan perlahan berhenti bergerak. Air mata bercampur peluh membasahi pundaknya, membuat lelaki itu urung untuk beranjak di sela-sela ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan Chuuya ketika celahnya masih terisi.
"Tanggung jawab," sebut Dazai kemudian, balas memeluk erat Chuuya dan membalik posisi mereka.
"Kau juga- hh- bertanggung jawab," Chuuya mendongak, menatap manik cokelat di hadapannya.
Dazai merapikan surai sinoper itu sambil melempar senyum hangat, "Tanggung jawabmu lebih banyak." Si brunette perlahan menarik kepemilikannya keluar dari tubuh Chuuya, menimbulkan helaan lega dari bibir carrier itu.
"Bangunlah," suruhnya pada Chuuya. Sinoper itu duduk di atas pahanya. Dazai menyusul dan membuat posisi Chuuya berpangku padanya.
"Aku tidak bilang kita hanya akan melakukannya satu kali," sebuah seringai nakal terbentuk di bibirnya.
Chuuya langsung menyingkir dari atas Dazai dan bergeser ke samping. Sementara lelaki itu mengejarnya dan kembali memerangkapnya di antara dinding.
"Sakit," protes Chuuya, kedua matanya masih sembab hasil menahan perih.
Dazai mengelus kepemilikan Chuuya, bermain dengannya seperti saat menggoda carrier itu di atas meja dapur. "Kali ini tidak akan sakit. Percaya padaku," si brunette menutup provokasinya dengan sebuah kecupan di bibir Chuuya.
Setelahnya lelaki itu terus menghujani tubuh si sinoper dengan kecupan. Mendarat di puncak dadanya juga turun menuju area kemaluannya. Chuuya mengusap surai brunette itu ketika ia berhenti di sana, membuat lenguhan demi lenguhan meluncur dari bibir si carrier.
Tidak ada rasa sakit, hanya kenikmatan yang menggelitik dan menciptakan kejutan di tubuhnya.
"Dazai- hh," sebut Chuuya seraya menarik surai si brunette, memaksa lelaki itu menghentikan agenda memanjakan tubuhnya. Ia tidak lagi mengecup dan menyandarkan kepala di sana.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ingatanmu pulih nanti?"
Yang ditanya memejamkan kedua matanya sejenak, memikirkan jawaban terbaik yang sesuai dengan keinginannya.
"Tidak ada."
.
.
.
Pagi di hari laut memang benar-benar basah. Chuuya tidak ingat berapa kali ia keluar dan mengotori seprai. Salahkan si brunette karena memanjakan tubuhnya dengan service semalaman. Ia tidak bercanda saat mengatakan 'ingin menghabiskan malam bersama'.
Ketika si carrier terbangun, Dazai menyambutnya dengan pejaman mata dan senyuman. Lelaki itu masih tertidur pulas. Chuuya bisa melihat betapa terangnya sinar matahari dari balik tirai, namun ia enggan membangunkan Dazai.
Berada di atas ranjang lebih lama tidak begitu buruk. Apalagi ditambah pelukan posesif si brunette. Chuuya membenamkan kepalanya di dada tertutup perban itu, berencana untuk kembali ke dunia mimpi.
Namun ia tersadar kembali ketika sebuah kecupan mendarat di keningnya. "Selamat pagi, dunia kecilku," sambutan yang begitu hangat dan menyenangkan.
"Kenapa memanggilku dengan sebutan itu?" gumam Chuuya.
"Hanya kulakukan ketika kau tenang," balas Dazai mengelus surai sinopernya, "Itu mengandung ejekan, lho."
Carrier itu tersadar ketika mengingat kata 'kecil' dalam 'dunia kecil'. Akhir-akhir ini Dazai memang selalu mempermasalahkan tinggi badannya.
"Dasar," ketusnya, kontras dengan apa yang dilakukan Chuuya sekarang.
Dazai terkekeh pelan sambil menarik selimut agar menutupi tubuh mereka berdua.
"Lalu, apa yang kau maksud dengan 'dunia'?"
"Chuuya," sahut si brunette cepat.
"Kau adalah 'dunia'ku," satu kecupan lagi mendarat di puncak kepalanya, "Kau adalah segalanya bagiku."
.
.
.
To be continued
Sebenarnya FF ini tuh crosspost dari wattpad dan di sono udh kelar dan aq rada mager posting ulang di sini. Tapi ternyata ada yg nungguin juga di mari :")
Selamat membaca~
