Haikyuu belong to Furudate Haruichi. Tapi fic ini punya saya.

Warning : Ini adalah tentang Nishinoya dan tiga pemuda yang mengejarnya. Siapakan dari tiga pangeran ini yang akan mendapat hati sang kesatria? DLDR

Dia yang Patah Hatinya

.

"Noya-san, aku minta putus."

"K-kenapa?"

"Tidakkah kau berpikir bahwa dua lelaki yang berkencan itu menjijikkan?"

"Tapi Tsukishima, kita sudah menjalaninya selama satu tahun-"

"Aah~ ya, satu tahun itu cukup untuk membuatmu senang kan? Sekarang bebaskan aku dari rasa malu ini. Selamat tinggal."

Punggung Tsukishima adalah hal terakhir yang ia lihat berikutnya. Pemuda pirang berkacamata itu tidak kembali dan juga tidak menoleh lagi saat pergi. Nishinoya terpaku sendirian, mengumpulkan kesadaran untuk tidak melakukan hal konyol apapun. Seperti menangis dan meraung. Tapi kemudian ia menggeram, menahan emosi yang membuat dadanya sesak.

"AAARGGGGHHHH!!" Nishinoya beranjak dari tempat, berlari dengan sangat cepat sambil berteriak. Itulah Nishinoya, pertama kali dalam hidupnya mengalami patah hati.

"Hah ... hah ... hah ..." Napasnya terengah setelah sekian jauh ia berlari. Mendung di langit begitu tebal, sentimentil perasaan Nishinoya muncul. Ia hanya nyengir seorang diri sambil melanjutkan langkahnya menuju ke tempat kerja.

Nishinoya Yuu, tahun kedua di universitas yang juga bekerja di sebuah kedai kopi untuk menunjang studinya. Ia sudah memikirkan hidup tenang dan nyaman versi dirinya. Pemuda yang tingginya tidak berubah dari 159 cm itu bahkan punya seorang kekasih yang tingginya hampir dua meter. Atau saat ini sosok itu sudah menjadi mantan. Keuangan selalu menjadi bagian yang sulit dalam hidupnya, tapi Nishinoya pantang menyerah. Ia punya kekasih yang mendukungnya. Atau saat ini, itu disebut sebagai mantan. Mantan. Manis diingatan. Seingat Nishinoya, dirinya tidak punya salah apapun. Tidak mengganggu waktu belajar kekasihnya, bertemu saat keduanya sedang waktu luang, saling terbuka masalah apapun.

"Kenapa tidak pernah bilang kalau berkencan dengan laki-laki adalah beban? Padahal dia sendiri yang menembakku duluan! Argh! Sial! Sial!" Sementara Nishinoya merutuki nasibnya, awan hitam mulai menurunkan tetes airnya ke bumi. Nishinoya berhenti, mengulurkan tangannya untuk memastikan bahwa itu benar-benar air hujan. Itu benar-benar air hujan, belum deras tapi masih pertanda bahwa akan ada hujan dengan butiran yang lebih besar. Tidak berpikir dua kali, menjaga kesehatan adalah yang utama saat ia masih harus bekerja. Nishinoya kembali ke tempat tinggalnya.

Sebuah kamar kecil dengan fasilitas kamar mandi serta dapur minimalis yang ia sewa untuk dirinya sendiri. Berada di lantai dua, dimana Nishinoya seringkali berlari naik turun hingga kena tegur tetangganya. Salah satu alasan kenapa dia tidak bertambah tinggi. Mungkin.

Payung sudah di tangan, dan benar saja baru beberapa langkah meninggalkan apartemen hujan deras turun. Agaknya sia-sia karena tubuhnya tetap saja basah. Jaket hoodie berwarna merah menyala menjadi gelap saat terkena air. Berapa banyak area yang menjadi gelap adalah banyaknya air yang mengenai tubuhnya. Saat seperti ini cocoknya ia juga menggunakan mantel dan boot.

Tapi ia tetap melenggang, selama kepalanya tetap kering maka ia tak khawatir akan kesehatannya. Di kedai tempat ia bekerja ada pakaian ganti miliknya. Pikiran Nishinoya seringan langkahnya saat ini, meski tidak dengan hatinya. Terlihat dari beberapa kali ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar dalam lima menit terakhir.

Hujan tampaknya semakin berat dengan bunyi air turun yang membuat orang-orang lebih memilih menepi. Nishinoya adalah satu dari sekian orang nekat yang berada di tengah hujan saat ini. Lalu seorang lagi yang terduduk tepat di depan pintu.

Pemuda pirang yang tanpa sengaja beradu pandang dengan Nishinoya. Dari arah pintu terdengar gelak tawa beberapa anak laki-laki. Pemuda itu menggeram kesal dan mencoba bangkit tapi kemudian salah seorang yang tertawa tadi menginjak kaki si pemuda pirang.

"Lihat, tikus ini tidak berdaya sekarang," kata ia yang tengah menginjak kaki si pemuda pirang. Ia menggunakan payung untuk dirinya sendiri, lalu melemparkan tas yang Nishinoya kira adalah milik si pemuda pirang tersebut. "Akui, tanpa kembaranmu kau hanya pecundang. Ha ha ha!"

"Hoi hoi, membully di tengah hujan itu BERBAHAYA!!" Nishinoya berseru sambil melayangkan tinjunya hingga ia yang tengah mengolok-olok pemuda pirang tadi tersungkur kembali ke depan pintu. Payungnya terpental, ia dan beberapa orang yang tergelak tadi kicep di tempat saat menatap sorot mata menakutkan dari Nishinoya. Tanpa sadar ia melampiaskan sakit hatinya.

Nishinoya memungut tas milik si pirang sambil memberikan tumpangan payung untuknya.

"Ini, kau baik-baik saja?" tanya Nishinoya. Tas tersebut disahut dengan cepat.

"Tch!" decak si pemuda pirang tersebut. "Kau menangis? Hah!"

Nishinoya meraba wajahnya sendiri dan langsung menyadari airmatanya. Segera ia usap dengan kasar sambil menggeleng kasar. "Ahaha tidak. I-ini air hujan. Nah! Jangan hujan-hujanan. Walau sudah basah pakai payung ini. Daa~" Kasar dan memaksa. Nishinoya menyerahkan payung pada si pemuda pirang tersebut. Ia langsung berlari menerobos derasnya hujan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.

Tidak ada yang bisa ia dengar, baik seruan ataupun suara klakson kendaraan. Hanya derasnya air yang mengalir dan membasahi tubuhnya. Dingin pun tidak terasa bahkan berapa banyak air mata yang ia keluarkan tidak bisa diperkirakannya. Nishinoya sedang mencoba untuk menjadi kuat, namun perasaannya tidak bisa dibohongi.

'Tring'

Bunyi lonceng di pintu kedai kopi berbunyi saat Nishinoya masuk.

"Furuya-san. Maaf aku terlambat."

"Noya-chan!! Kau basah kuyup."

Nishinoya menaikkan alisnya mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Harusnya pada jam seperti ini hanya ada dia dan si pemilik kedai. Tapi kemudian yang ialah lihat adalah sosok seniornya saat SMA. Tapi mereka beda sekolah.

"Oikawa-san? Kenapa ada di sini?" tanya Nishinoya setengah tidak niat. Ia cukup tahu kalau Oikawa sedikit atau sebenarnya sangat berlebihan. Walau dalam kondisi serius ia bisa sangat serius.

Kedai sepi saat hujan. Pelanggan terakhir pastilah memilih untuk segera beranjak sebelum hujan turun. Tampaklah hanya ada Nishinoya yang kebasahan dan Oikawa yang sigap dengan handuk untuk membantu mengeringkan tubuh Nishinoya. Mereka berdiri di sudut ruangan dekat dengan pintu keluar-masuk karyawan.

"Aku terkejut loh kau mendaftar di kampusku. Kalau aku ingat-ingat harusnya kau sudah masuk tahun kedua 'kan? Mendaftar lagi sebagai mahasiswanya baru, ada apa dengan kampus lamamu?" celoteh Oikawa sambil membantu Nishinoya melepaskan pakaiannya yang basah, sementara Nishinoya sibuk mengeringkan kepalanya dengan handuk.

"Karena ... biaya. Aku pindah untuk mengejar beasiswa."

Berdiri di hadapan Oikawa adalah Nishinoya yang sepenuhnya melepas baju. Hanya dengan celana pendeknya dan handuk di kepala, Nishinoya menunduk. Lama ia memegangi sisi handuk di kepalanya tanpa diusap lagi. Pikirannya terbelah dan kesunyian menguasai keadaan. Sedikit mengejutkan saat tepukan lembut mendarat di kepalanya.

"Hari yang berat eh? Pakai bajumu, aku siapkan coklat hangat. Dan ini, aku yang bawa untuk di keringkan. Ayo sana!"

Nishinoya pasrah di dorong ke belakang, ke ruangan khusus karyawan untuk berpakaian. Sementara baju basah miliknya sudah dalam penanganan Oikawa.

Hujan di luar kedai masih terdengar sangat deras, saat Nishinoya kembali ke kedai sudah ada sebuah mug di tangan Oikawa tak lupa dengan senyum playboynya. Sedikitnya itu membuat sudut hati Nishinoya lega, bahwasanya ia tidak sendirian di saat patah hati seperti ini.

Mug berisi coklat hangat berpindah dari tangan Oikawa ke Nishinoya. Mereka duduk bersandingan di sofa panjang di sudut kedai tersebut.

"Terima kasih," kata Nishinoya dan mulai menyeruput minuman hangatnya. Aromanya menenangkan, rasa yang sedikit pahit dan manis itu memanjakan lidah Nishinoya. Helaan napas lega keluar dari bibirnya setelah beberapa kali seruputan.

Oikawa tersenyum, menyadarkan Nishinoya tentang bagaimana pemuda itu bisa ada di kedai. Wajah bertanya-tanya itu nampak jelas di wajahnya dan menuai tawa kecil Oikawa.

"Kedai ini milik sepupuku. Kakak sepupu, dia sedang err ... berkencan. Mungkin. Lalu tiba-tiba hujan dan ... hanya ada kita berdua di sini. Setidaknya sampai hujan reda dan yang lain akan datang," jelas Oikawa tanpa diminta. Nishinoya hanya mengangguk dan menghabiskan setengah isi mugnya.

"Noya-chan?" panggil Oikawa.

"Y-ya?"

"Melamun eh?"

"Ah, maaf. Aku sedang tidak fokus. Tapi aku mengerti semua ucapanmu. Jadi, kita hanya perlu menunggu hujan reda dan yang lain akan segera datang."

Oikawa menghela napas. Nishinoya menjadi kikuk dan meletakkan mugnya di meja terdekat. Matanya menjadi berat, akibat hujan dan juga airmata yang keluar tanpa perintah tadi. Tidak ada lagi ucapan yang keluar baik dari Nishinoya maupun Oikawa. Mereka tenggelam dalam keheningan. Suara hujan sudah tak lagi sederas tadi, mata Nishinoya semakin berat hingga tanpa sadar ia kehilangan kesadaran.

"Tsuki ..." gumam Nishinoya menuju mimpi.

'Tring'

Denting pintu kedai terdengar, sang pemilik baru saja kembali dengan sedikit kebasahan. Oikawa dengan cepat meletakkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar tidak mengganggu tidur Nishinoya yang tanpa sadar bersandar di bahu Oikawa.

"Terlambat."

Si pemuda dengan surai abu menggendikan bahu tidak peduli atas protes kembarannya. Ia membawa dua payung, satu dipakainya sendiri dan satu masih terlipat.

"Aku tidak berniat menjemputmu. Ngomong-ngomong itu payung yang bagus Tsumu," katanya sambil sesekali menguap.

Hujan sudah reda, mereka berdua merasa tidak ada gunanya menggunakan payung.

"Dan oh, kau terlalu mengandalkanku. Padahal kau kakak."

"Berisik Samu! Ayo pulang. Aku sedang kesal."

Yang diseru Samu hanya mengikuti langkah kembarannya. Ia menutup payung dan mencoba mensejajarkan langkah.

"Ah- Kau basah kuyup. Mau aku keringkan setelah sampai rumah?"

"Berisik!"

Nishinoya berulang kali harus meminta maaf pada Furuya selaku pemilik kedai. Ia tertidur sampai jam kerjanya habis. Meski kedai belum tutup, Nishinoya diminta untuk pulang.

"Furuya-san, sekali lagi aku minta maaf," kata Nishinoya sambil membungkuk dalam-dalam.

"Tidak apa-apa, Yuu. Tooru akan mengantarmu pulang? Dia sangat khawatir, kalau-kalau kau terkena demam. Nah kan Tooru?" kata Furuya Sambil iseng menyenggol bahu adik sepupunya.

"Hentikan itu Nii-san. Tidak lucu," balas Oikawa dengan wajah cemberut.

"Aku bisa pulang sendiri. Terimakasih sudah repot-repot mengurusku."

Pelanggan mulai bertambah saat matahari benar-benar hilang dari peraduan. Karyawan lain disibukkan dengan beberapa pesanan. Melihat situasi, Furuya menepuk bahu Oikawa. "Antarlah dia pulang. Alasan kau kemari karena tahu dia akan masuk ke kampusmu kan? Beri sedikit bimbinganmu, senpai. Da, aku harus melayani pelanggan. Hati-hati di jalan Yuu." Setelah berkata demikian Furuya meninggalkan Nishinoya dan Oikawa berdua.

"Aku akan mengantarmu pulang. Ayo," kata Oikawa. Ia berlalu lebih dulu menuju pintu belakang kedai. Nishinoya akhirnya mengekor dan untuk beberapa saat begitu keduanya mencapai jalanan Noshinoya mensejajari langkahnya dengan Oikawa.

Beberapa kali Nishinoya membuka mulut tapi kemudian mengatupkannya lagi tanpa mengucapkan apapun. Di jalanan yang dingin dan sepi setelah hujan, tindakan Nishinoya sangat jelas diperhatikan oleh Oikawa. Agaknya itu membuatnya sedikit kesal.

"Kau tidak perlu mengatakan apapun jika tidak ingin. Aku akan mengantarmu sampai rumah tanpa berkata apapun," ucap Oikawa kemudian.

"Ha??! Bukannya itu aneh? Jarak ke rumahku cukup jauh dan kita hanya berjalan kaki berdua tanpa bicara apapun. Bukankah itu aneh?" Nishinoya membantah.

"Aih, kau ini yang aneh." Gemas, Oikawa mengacak rambut Nishinoya yang tidak sedang berdiri seperti biasanya akibat kehujanan tadi. "Jadi, apa yang ingin kau obrolkan padaku?"

"Pertama aku mau berterima kasih. Oikawa-san sampai harus repot-repot karenaku. Tapi aku juga penasaran, kenapa kau mau repot-repot bertemu denganku hanya karena aku akan masuk ke kampusmu?"

"Ah~ itu ya. Hmm~ darimana aku harus menjelaskan ya~ kebetulan saja aku sudah melihatmu sejak lama bekerja di kedai milik Nii-san. Dan aku sama sekali tidak tertarik. Lalu kemarin aku melihat daftar nama mereka yang ikut orientasi mahasiswa baru. Kebetulan aku panita di sana, dan ada namamu. Sungguh, kebetulan loh. Setelah mendengar alasanmu tadi, aku paham. Kampusku punya banyak keunggulan tentang beasiswa. Ngomong-ngomong, kenapa kau masuk jurusan keguruan?"

"Tentu saja karena aku ingin menjadi guru. Ada yang aneh dengan itu? Mengulang satu tahun pun tak masalah daripada harus berhenti di tengah jalan."

"Ya, kau benar. Kau kuat seperti biasanya, Nishinoya. Dan ngomong-ngomong ... sesuatu terjadi dengan Tsukishima?"

Nishinoya berhenti melangkah demi mendengar nama mantan kekasihnya disebut. Ia menarik kerah jaketnya lebih tinggi mencoba untuk menutup perasaannya.

"Noya-chan??!!" Oikawa berseru terkejut saat melihat Nishinoya tiba-tiba berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. "Kau tidak apa-apa?" tanya Oikawa dengan panik, ia membungkuk memastikan bahwa pemuda yang setahun lebih muda darinya itu tidak sedang menuju pingsan akibat kehujanan.

"Tsukishima ... Tsukishima ... " gumam Nishinoya lirih, Oikawa harus menanamkan pendengarannya untuk itu. "Aku putus dengannya beberapa saat yang lalu." Ia terdongak dengan wajah memerah sepenuhnya. Ada air yang menggantung di sudut mata Nishinoya tapi ia tidak sedang menangis.

'Aaa- rupanya dia patah hati. How cute.' batin Oikawa.

"Baiklah, kau bisa cerita denganku. Ayo bangun, atau mau aku gendong?" Oikawa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nishinoya. Ia menolak tawaran gendong tadi tapi tidak menolak untuk menceritakan apa yang ia alami tepat sebelum hujan turun.

"Nah Oikawa-san, berkencan dengan laki-laki ... begitu menjijikkan?" tanya Noshinoya di akhir kisahnya. Ia menghela napas, terlebih saat menyadari Oikawa hanya diam sejak ia mulai bercerita.

"Itu tempat tinggalku, terimakasih sudah mengantar. Dan ... dan ceritaku tadi lupakan saja. Ha ha ha."

Mereka berdua berhenti tepat di tempat dimana Nishinoya menunjukkan tempat tinggalnya. Oikawa menepuk pelan kepala Nishinoya. Seniornya ini sudah bertambah tinggi sehingga ia merasa begitu kecil saat ini.

"Noya-chan? Jangan-jangan ini pertama kalinya kau punya pacar ya?" tanya Oikawa.

Nishinoya hanya mengerjapkan mata, lalu mengangguk pelan.

"Dan sejauh mana kalian melakukan hubungan?"

"Sejauh ... mana? Umm, bertemu saat waktu luang, pergi menonton, atau makan bersama."

"Bagaimana dengan menginap?"

"Tidak pernah."

"Ano ... aku penasaran satu hal sekarang." Oikawa mendekat selangkah ke arah Noshinoya. Dengan sedikit menunduk Oikawa memandang sejurus tepat di kedua irisnya. "Kalian pernah berciuman?"

"Eh? Eeeh? Eeeeeh?"

"Hm! Sudah kuduga. Alasannya dia memutuskanmu bukan karena itu menjijikkan. Tapi karena dia bosan. Yah, ini Noya-chan. Tidak bisa bicara pengalaman bercinta dengannya. Ha ha ha!"

"Oikawa-san, jelaskan padaku."

Ada antusias di mata Nishinoya saat ia menarik lengan baju Oikawa dan balas menatap pemuda itu. Minat belajarnya pada apapun memang tinggi, tapi yang tidak ia suka dari sorot mata yang berbinar ingin tahu adalah harapan bahwa mungkin ia bisa kembali pada sang junior.

"Tidak Noya-chan. Aku tidak akan memberikanmu tapi ..." Oikawa meraih belakang kepala Nishinoya dan memberikannya kecupan singkat di dahi pemuda itu. "Aku akan mengajarimu semuanya, jika kau mau berkencan denganku."

Pegangan Nishinoya di lengan baju Oikawa terlepas perlahan, Oikawa melepaskan tangannya dari kepala Nishinoya. Perlahan ia mundur memberi jarak untuk mereka berdua.

"Selamat malam," ucap Nishinoya dan ia berbalik tanpa menoleh lagi sambil menunduk. Ia mengusap dimana kecupan Oikawa mendarat dan wajahnya menghangat karena itu. Adalah pertama kalinya mendapat kecupan dari seseorang. Yang bahkan tidak pernah ia dapat dari orang tuanya.

TBC