Disclaimer : Moonton
Warning : Sho-ai (bl)
Tentang Lancelot yang baru menyadari kalau calon adik iparnya tampak lebih memesona dibanding calon istrinya sendiri
.
.
.
Pemuda itu tampak terdiam setelah ia mendapati sebuah bingkisan kecil dari balik jendela kamarnya. Sebuah mawar tergeletak di atas meja kayu dari pohon mahoni. Heran, ia berpikir keras apa ada orang yang sengaja meletakkan bunga itu di balkon kamarnya? Sangat tidak mungkin kalau bunga tersebut jatuh begitu saja dari langit 'kan? Tak ingin terlalu memedulikannya ia memilih untuk tidak melakukan apa-apa pada benda indah berwarna biru tersebut dan beranjak pergi tanpa menceritakan kejadian itu pada siapapun, termasuk sang kekasih Guinevere yang kelak akan menjadi pendampingnya.
Seharian itu ia habiskan hanya bersama Guinevere, mendengarkan cerita gadis itu dan menemaninya berjalan-jalan disekitar mansion. Sesekali ia bertegur sapa dengan para penjaga dan pelayan yang melintas dengan sikap hormat, sementara Guinevere melemparkan senyuman mengembang, membuatnya paras semakin cantik. Andai diibaratkan dengan bunga, gadis itu bagaikan mawar merah yang merekah indah. Namun, tiba-tiba ia jadi teringat akan mawar biru yang pagi tadi dilihatnya. Membuat hatinya menjadi agak gelisah.
"Gusion, kau tidak apa-apa?" Suara Guinevere membuatnya tersadar. Dengan cepat ia menggeleng dan melempar senyum.
"Oh, aku kira ada yang kau pikirkan karena sedetik tadi kau tampak melamun," balas Guinevere dengan lega.
.
.
Keesokan paginya ia kembali mendapati mawar biru itu persis diposisi yang sama. Keningnya mengerut, ia tahu ini bukan kebetulan, pasti ada orang lain yang sengaja meninggalkannya disini.
'Siapa sih yang iseng?' Ucap batinnya terheran akan maksud semua ini.
Ia memutuskan untuk membuka jendela dan mengambil bunga itu kedalam kamar. Indah dan eksotis, mawar biru itu seolah menyiratkan keindahan yang misterius dan menghipnotis siapapun. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari ada secarik gulungan kertas kecil terselip di antara kelopak mawar.
'Apa kau menyukainya?'
"Apa aku menyukainya?" Gusion bergumam, mengulang kembali kalimat yang ia baca. 'Jadi bunga ini memang untukku? Tapi, siapa? Apa Guin? Ah, tapi tidak mungkin, ini bukan tulisan tangan Guin. Kalau bukan Guin lalu siapa?'
Akhirnya selama seharian itu pikirannya tak dapat lepas memikirkan siapa sang pengirim bunga dan motifnya.
.
.
Sejak hari itu, setiap paginya ia selalu mendapati bunga yang sama dan seperti sudah menjadi kebiasaan baginya mengumpulkan bunga-bunga itu ke dalam satu vas. Bila sudah ditotal sudah ada 10 bunga hingga saat ini. Semua mawar itu datang bersamaan dengan secarik kertas dengan pesan yang beragam. Mulai dari pesan menanyakan kabarnya, makanan kesukaannya hingga sebuah pesan yang mampu membuat wajahnya panas.
'Kau memiliki keindahan yang sama dengan bunga ini.' Kalimat itu sukses membuatnya tak bisa tidur semalaman, dan hari berikutnya ia jadi merasa sedang dirayu oleh sang pengirim.
.
.
Malam itu keluarga Baroque mengadakan sebuah pesta pertunangan antara Guinevere, putri satu-satunya dari keluarga Baroque dan Gusion putra ketiga dari keluarga Paxley.
Semua orang berbahagia menyambutnya dan masing-masing dari mereka mengucapkan selamat. Akhirnya dua keluarga besar dipersatukan. Mereka sangat mengharapkan pertunangan ini agar tidak kembali gagal seperti yang dialami Lancelot, anak tertua dari keluarga Baroque.
Guinevere sedang duduk bersebelahan dengan Gusion, dan beberapa orang sahabat ikut duduk melingkari meja, juga Lancelot yang tampak bosan. Ia hanya tersenyum kecut saat mendengar celetukan salah satu temannya yang berkata, "seandainya saat itu kau tunangan dengan Putri Odette pasti keadaan jadi lebih meriah dari sekarang!"
Lancelot bersikap tuli, ia sudah bosan mendengar ucapan yang demikian. Hey, bukan dia yang memutuskan hubungan, tetapi Odette. Disaat ia mengira gadis itu sangat mencintainya, kabar mengenai kedekatan sang kekasih dan Ratu Moniyan yang baru semakin menguar. Ia sudah tidak tahan dan memilih melepaskan cintanya agar bebas dari belenggu untuk memilih. Siapa yang mengira kalau Odette akan benar-benar meninggalkannya, memilih Ratu Moniyan itu.
Sementara teman-temannya masih mengungkit masa lalu itu, ia dapat melihat Guinevere mencoba menghentikan topik yang sensitif bagi sang kakak, dan pemuda di sebelahnya hanya menatap datar.
"Ah, kira-kira bucket bunga apa yang kalian inginkan?" Miya menyela, merasa jengah juga dengan topik yang menyeret hubungan Odette dan Lancelot yang sudah kandas. Untuk suatu alasan itu membuatnya teringat akan hubungannya dan Alucard yang tak berjalan sesuai kehendaknya.
"Eh, apa ya? Aku belum memikirkan hal itu!" Guinevere tampak bingung dan beralih memandang Gusion seakan meminta jawaban.
Gusion yang mengerti maksud dari pandangan Guinevere mencoba untuk menjawab. "Mungkin mawar Me--" namun kalimatnya terpotong oleh Lancelot yang tiba-tiba saja berceletuk, "mawar biru cocok untukmu."
Hening, semua orang seakan terpaku di tempat termasuk Gusion sendiri. Mereka tidak menyangka Lancelot akan berkata demikian, terutama pandangan yang ia berikan pada sang calon adik ipar, terlihat begitu intens dan penuh makna.
Sementara Guinevere menjadi canggung. Entah kenapa ia merasa sang kakak sedang menggoda calon suaminya. Ia ingin marah sekaligus menangis. Di sampingnya Gusion benar-benar membisu dengan tatapan lekat mengarah pada sang kakak.
"Sekarang kau sudah tahu 'kan." Entah kalimat itu ditujukan untuk suatu pertanyaan apa pernyataan. Lancelot bergegas berdiri meninggalkan meja makan, membiarkan semua orang di sana dengan tanda-tanya besar.
The End
a/n : hallo saya author baru disini
mencoba meramaikan fandom mobile legend, maaf kalau banyak salah.
yang mau request pairing silahkan PM
