Disclaimer
Sekotengs (c) Lifina
Tranquility (c) Lifina
Warning
Contains BL, bondage, (maybe) exhibitionism, no plot only smut
Timeline di cerita ini adalah saat sekotengs sedang berlibur di Bali (komik Tranquility, disarankan untuk baca komik tersebut di karyakarsa)
"Fuah, aku kenyang banget," ucap Ezra sambil merebahkan dirinya di ranjang.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Raka.
"Belum terlalu, sih. Memangnya kenapa?"
"Um ... sebenarnya aku mau mencoba sesuatu yang baru selama kita liburan."
"Kamu mau mencoba apa?" tanya Ezra.
"Shibari," jawab Raka.
"Shiba ... apa itu?" tanya Ezra.
"Um, itu ... rope bondage art dari Jepang," jawab Raka sambil memperlihatkan ponselnya.
Ezra pun melihat ponsel Raka. Dia melihat ada beberapa foto orang yang diikat menggunakan tali. Namun, bukan sembarangan diikat, ikatannya terlihat indah dan tidak terlihat asal-asalan.
"Ohh ..." Ezra ber-oh-ria, "jadi, Raka mau kita 'begituan' sambil aku dalam keadaan terikat, ya?" tanya Ezra dengan polos.
"E-eh, bukan," sanggah Raka, "aku hanya mau foto-foto saja, kok."
'Walaupun, aku ga menolak juga, sih,' batin Raka.
"Ohh .." Ezra kembali ber-oh-ria, "kamu mau foto-fotonya kapan?"
"Sekarang saja," jawab Raka, "mumpung Dean dan Vino bilang mau langsung tidur," katanya sebelum beranjak menuju kopernya.
Raka membuka kopernya dan mengambil 2 utas tali jute yang sudah di-treatment agar tidak mengiritasi kulit.
"Ayo, Zra," ajak Raka.
Ezra pun beranjak dan membuntuti Raka yang menuju kolam renang. Mereka berjalan dengan perlahan supaya tidak membangunkan 2 manusia lain yang berada di resort.
Sesudah mereka sampai di kolam renang, Raka pun menaruh talinya di kursi santai dan duduk di sana. Sementara, Ezra melihat-lihat pemandangan terlebih dahulu.
"Whoa, indah sekali pemandangannya kalau malam-malam," ujar Ezra.
Raka terkekeh pelan, "kalau sudah puas melihat pemandangannya, kamu ke sini ya."
"Oh iya, aku hampir lupa tujuan kita ke sini, hehe."
Ezra mendekati Raka dan duduk di sebelahnya.
"Aku harus apa?" tanya Ezra.
"Kebelakangkan kedua tanganmu. Bagian pergelangan tangan kirimu harus menempel di lengan kananmu, begitu juga sebaliknya."
Ezra pun mengikuti instruksi Raka, "seperti ini?" tanya Ezra sambil membelakangi Raka.
"Iya, betul," jawab Raka, "aku mulai ya," katanya sambil menutup mata Ezra dengan sebuah kain.
Ezra kemudian merasakan Raka mulai melingkarkan tali ke tangannya dan mengikatnya. Tekstur talinya tidak sekasar yang Ezra bayangkan.
"Kalau terlalu kencang, kamu bilang aja ya," ucap Raka di telinga Ezra.
Ezra pun menganggukan kepalanya.
Setelah selesai mengikat tangan Ezra, Raka pun melingkarkan talinya kebagian atas dada Ezra. Raka melingkarkan talinya dengan kencang sekaligus nyaman bagi Ezra. Raka kemudian menarik Ezra ke pelukannya dan mencium pipi Ezra. Raka menyelesaikan ikatannya sambil sesekali memberikan kecupan ke Ezra.
"Kamu merasa terlalu kencang ga, Zra?" tanya Raka.
"Enggak, kok, Rak," jawab Ezra.
"Ya sudah, kita mulai foto-fotonya, ya."
Raka mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret Ezra. Raka mengutuk dirinya karena lupa membawa kamera. Sesekali, Raka meminta Ezra untuk berpose. Mereka juga pindah tempat, misalkan di pinggir kolam atau menghadap ke laut.
Raka sebenarnya benar-benar menahan dirinya untuk tidak 'menyerang' Ezra. Terkutuklah pikirannya yang mudah kotor.
Setelah merasa puas dengan hasil foto-fotonya, Raka kemudian mendekati Ezra dan menggendongnya ala bridal. Terlihat semburat merah di pipi Ezra. Raka meletakkan Ezra dengan perlahan di kursi santai.
"Ezra ..." bisik Raka di telinga Ezra, "aku kangen."
"Hah? Kamu kangen apa?" tanya Ezra yang masih belum mengerti maksud Raka.
"Kamu," jawab Raka sebelum mencium daun telinga Ezra.
Ezra langsung mengerti perkataan Raka, "kita mau melakukannya di luar? Kalau ada yang lihat gimana?"
"Gapapa. Resort ini privat. Dean dan Vino pasti juga sudah tidur."
Ezra tiba-tiba merasakan bibir Raka menempel di bibirnya. Ezra langsung membalas ciumannya. Kemudian, Ezra membuka bibirnya dan membiarkan lidah mereka beradu. Sambil berciuman, Raka membuka kancing kemeja Ezra dan menyibaknya. Lalu, Raka melepaskan ciumannya.
"Hosh ... hosh ..." terdengar deru nafas Ezra setelah Raka melepaskan ciumannya.
"Aaahhh ... ahhnn ..." desah Ezra saat merasakan ciuman di lehernya.
Raka pun menjilat leher Ezra dan menghisapnya pelan. Tangannya juga mulai memainkan puting Ezra.
"Eenngghhh, aaahhh ... Raka," erang Ezra kenikmatan.
Setelah puas membuat kissmark di leher Ezra, Raka kemudian menurunkan ciumannya ke dada Ezra. Raka memainkan lidahnya di putih Ezra. Tubuh Ezra meregang karena perbuatan Raka.
"Aaahhhh, Raka, eeenggghhh ..."
Ezra kemudian merasakan tangan Raka mengelus paha bagian dalamnya sebelum menurunkan resleting celananya.
END (eh, belum, kok)
"Haduh, gue kok susah tidur ya?" keluh Vino.
"Kayaknya gue butuh udara segar."
Vino pun memutuskan untuk mencari udara di kolam renang. Belum dia membuka pintu, dia sudah mendengar suara desahan Ezra secara samar-samar.
'Hm? Suara apa itu?' batinnya penasaran.
Akhirnya, Vino membuka pintunya.
WHAT IN THE NANI?!
'Astagfirullah, berdosa banget gue'
Tiba-tiba, Raka menengok ke arahnya sambil memberikan tatapan tajam ke Vino. Tanpa disuruh, Vino pun segera masuk lagi dan menutup pintunya pelan-pelan. Setelah itu, dia langsung menuju kamar Dean.
DHOK! DHOK! DHOK!
"Dean! Dean!" panggil Vino sambil terus menggedor pintunya.
Cklek.
"Apaan sih, Vin? Gue udah mau tidur, tahu!" omel Dean.
"Dean, please banget, biarin gue tidur bareng lo," Vino memohon ke Dean.
"Hah? Emangnya kenapa? Lo abis liat setan?"
"Enggak, lebih ngeri dari setan. Gue takut dibunuh sama Raka."
"Emangnya lo ngapain sampe Raka marah sama lo?"
"Pokoknya lo ga mau tahu tuh 2 bocah tadi lagi ngapain."
'Astaga, pasti tuh 2 bocah lagi berbuat mesum trus Vino ga sengaja liat'
END
Author's Note: sebenernya Kak Lif udah confirm kalau Raka itu diem-diem piktor alias pikiran kotor alias mesum, tapi masih agak aneh ya :') mungkin karena kebiasaan ngeliat Raka yang cool di komik Sekotengs :')
