Disclaimer

Sekotengs (c) Lifina

Retrograde (c) Lifina

Warning

Contains BL, bondage, sadism, no plot only smut


Timeline di cerita ini adalah saat Ezra dan Raka sudah berpacaran, tapi masih dalam masa pre-klinik (belum koas)


Dingin. Gelap. Tidak bisa bergerak bebas. Itu lah 3 hal yang sekarang sedang Ezra rasakan. Dia sekarang hanya memakai celana dalamnya, matanya ditutup kain, dan tangannya diikat di kepala ranjang.

Siapa sih yang tega berbuat seperti itu ke Ezra yang suci tanpa soda? Tentu saja Raka. Siapa lagi yang berani berbuat macam-macam ke Ezra? Bisa-bisa orang tersebut disantet oleh Raka kalau berani berbuat macam-macam ke Ezra.

Pasti bukan tanpa alasan kenapa Raka melakukan hal ini ke Ezra. Jadi, mari kita lihat apa yang terjadi di antara mereka beberapa hari lalu.


"Raka, aku masih belum ngerti, nih!" keluh Ezra kepada Raka.

"Hm? Kamu belum ngerti di bagian mana?" tanya Raka.

"Semua."

Raka pun menggelengkan kepalanya, "ya sudah, aku jelaskan dari awal lagi ya?"

Raka pun kembali menjelaskan materi ke Ezra. Raka sebisa mungkin menjelaskan materi ke Ezra secara pelan-pelan.

"Bagaimana? Sekarang kamu udah ngerti?" tanya Raka.

"Udah, sih, tapi aku masih sedikit bingung," jawab Ezra, "aku jadi ragu kalau nilaiku bisa di atas B."

Wajah Raka terlihat kaku, tetapi sebenarnya dia sedang berpikir dengan keras.

"Gini deh, Zra. Kalau di ujian nanti kamu dapat nilai di atas B, aku akan kasih reward. Kalau di bawah B, aku akan kasih punishment."

Tiba-tiba Ezra pun bersemangat, "yang benar, Rak?"

Raka pun mengangguk pelan.

"Kalau gitu, reward-nya aku mau martabak keju ya!" ujar Ezra dengan semangat.

"Baiklah, kalau begitu, punishment-nya ..." Raka membisikkan kelanjutannya ke Ezra.

Tiba-tiba, wajah Ezra langsung memerah setelah mendengarkan bisikan dari Raka.


Beberapa hari kemudian, nilai Ezra dan Raka pun sudah keluar.

"Jadi, kamu dapat nilai apa, Zra?" tanya Raka.

"Raka, nilaiku 69,5 ..." jawab Ezra, "padahal kurang poin 0,5 lagi biar jadi nilai B."

Raka sebenarnya ingin sekali senyum-senyum, tetapi dia tahan karena nanti jadi out of character. Jadi, dia sebisa mungkin menahan wajah kaku ala kanebo keringnya.

"Baiklah, jadi, kamu harus menerima punishment-mu akhir pekan ini ya."


Hari Sabtu malam di apartemen Raka ...

Sekarang, Ezra sedang duduk di ranjang Raka. Sementara, Raka sedang mengambil 'peralatan' yang akan mereka pakai. Terlihat jelas, kalau Ezra sedang tegang karena ini adalah pertama kali mereka melakukan ini. Yah, walaupun Ezra dan Raka memang pernah beberapa kali melakukan hal terlarang di ranjang, tetapi tidak pernah melakukan yang kinky.

Raka pun mendekati Ezra sambil membawa sebuah tas. Dia pun menaruh tas tersebut di ranjangnya dan duduk di sebelah Ezra.

"Kamu sudah siap?" tanya Raka.

Ezra hanya menangguk pelan.

Raka kemudian, mendekatkan wajahnya ke wajah Ezra, "kalau kamu ingin aku mengurangi intensitasnya, katakan 'acute', ya. Kalau kamu ingin benar-benar berhenti, katakan 'chronic', ya."

Ezra kembali mengangguk. Dia tidak bisa berbicara lagi saking malunya.

Raka pun mengelus pipi Ezra dan mencium bibir Ezra. Ezra pun membalas ciuman Raka. Awalnya, ciuman tersebut hanyalah ciuman biasa, tetapi lama-kelamaan, menjadi ciuman yang panas. Raka mulai menidurkan Ezra di kasurnya sambil mengambil sebuah kain. Dia kemudian menutup mata Ezra dengan kain tersebut.


Jadi, sekarang, beginilah keadaan Ezra. Matanya ditutup kain, hanya ada celana dalam yang menutupi tubuhnya, dan terikat.

Raka mulai mendekatkan wajahnya ke leher Ezra dan menciumnya.

"Ah ... Raka," desah Ezra.

Ezra memang sudah sering menerima ciuman di leher oleh Raka, tetapi sensasi yang dia rasakan berbeda daripada sebelumnya. Dengan ditutup matanya, indra-indranya yang lain menjadi lebih sensitif.

Raka pun menurunkan ciumannya ke dada Ezra. Raka melihat puting Ezra mengeras dan mulai merasakan ada sesuatu menonjol yang menyentuh perutnya. Raka mulai memainkan jarinya di puting Ezra.

"Aaahhh, ahhhh," Ezra kembali mendesah.

Setelah puas, Raka memutuskan untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Terlihat dirinya sedang mengambil sebungkus jepitan kayu. Raka mengambil 1 jepitan kayu tersebut dan mencobanya di dadanya terlebih dahulu. Sesudah yakin jepitannya tidak terlalu kencang, Raka pun menjepitkan jepitan kayu tersebut ke dada Ezra dekat dengan putingnya.

"AH, RAKA!" pekik Ezra.

"Kenapa? Kamu kesakitan?" tanya Taka dengan wajahnya yang khawatir.

Ezra pun menggeleng, "aku hanya kaget."

"Ya sudah, aku lanjutin, ya."

Raka pun kembali menjepitkan jepitan kayunya ke tubuh Ezra. Ezra yang awalnya memekik, kini mulai mendesah. Rasanya memang sakit, tetapi rasa sakit itu lah yang membuat dirinya makin bergairah.

Setelah yakin kalau Ezra sudah siap, raka kembali mengambil jepitan kayu dan menjepitkannya di puting Ezra.

"AKH, RAKA!" pekik Ezra lebih keras dari sebelumnya.

Rasanya jauh lebih sakit ketimbang sebelumnya, tetapi juga lebih menggairahkan.

"Apa kamu kesakitan?" tanya Raka.

Ezra menggelengkan kepalanya.

"Jadi, kalau begitu, rasanya enak?" tanya Raka lagi.

Ezra pun menganggukkan kepalanya dengan malu.

"Huh? Apa jawaban kamu? Aku tidak bisa dengar."

"Ra-rasanya enak," jawab Ezra dengan malu-malu.

Raka pun mengelus kepala Ezra, "good boy," katanya sebelum mencium bibir Ezra.

Sambil mencium bibir Ezra, Raka mulai melepaskan jepitan kayu di tubuh Ezra. Ezra pun kebingungan dia harus bernafas lega karena sudah tidak kesakitan lagi atau harus kecewa karena tidak ada yang membuatnya bergairah lagi.

Setelah selesai melepaskan semua jepitan kayu dari tubuh Ezra, Raka pun melepaskan ciumannya. Kemudian, Raka mengambil sesuatu dari tasnya. Kali ini, benda yang dia ambil adalah sebuah benta yang bentuknya mirip sekali dengan microphone. Raka langsung mencolokkan kabel benda tersebut ke stop kontak dan menyalakannya. Terlihat benda tersebut bergetar. Raka pun menempelkan vibrator tersebut ke puting Ezra.

"Ssshhh ... aaahhh," desis Ezra.

Raka pun tersenyum tipis dan mulai menaikkan speed vibrator-nya.

"Aaaahhhh ... aaaaahhhhh," desah Ezra.

Salah satu tangan Raka mulai mendekati puting Ezra yang lain dan memainkannya dengan jari-jarinya. Sementara, Raka mulai menurunkan vibrator-nya ke selangkangan Ezra.

"AKH, RAKA!"


"Hosh ... hosh ..."

Terlihat Ezra yang masih terikat dan matanya ditutup sedang mengatur nafasnya. Baru kali ini dia merasakan orgasme tanpa harus berhubungan badan. Sensasinya beda sekali saat dia melakukan hal tidak terpuji(?) ini dengan cara yang biasa saja.

Ezra merasakan ikatan tangannya mulai dilepas. Setelah terlepas semua, penutup matanya pun dibuka. Terlihat wajah Raka yang tersenyum kecil kepadanya.

"Good boy," ucap Raka kepadanya sambil mengelus rambutnya, "aku bangga padamu."

Raka pun memberikan kecupan di bibirnya.

"Raka, aku jadi malu," kata Ezra sambil menutup wajahnya.

Raka pun tertawa pelan, "aku siapkan air untuk kita mandi ya," katanya sebelum beranjak.

Raka pun masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan air hangat di bathtub-nya dan memuangkan shower gel. Setelah merasa cukup, Raka pun mematikan keran airnya. Lalu, Raka keluar dari kamar mandi dan melihat Ezra yang sedang tiduran di kasurnya. Raka pun mendekati Ezra dan menggendongnya ala bridal.

"Eh, Ra-raka, ga perlu sampe segininya, kok," kata Ezra.

"Ssstt ... kamu kan masih lemas."

Raka memasuki kamar mandi dan menaruh Ezra secara perlahan di bathtub. Saat Raka mau membuka baju, tiba-tiba ponselnya menyala. Raka pun melihat ponselnya.

"Ezra, kamu tunggu sebentar, ya. Aku mau ambil sesuatu," pinta Raka sambil melangkah keluar dari kamar mandi.

Cklek. Blam.

Terdengar Raka keluar dari apartemennya.

'Raka lagi mau ambil apa ya?' batin Ezra.

Tak lama kemudian, terdengar Raka sudah kembali. Setelah menaruh 'sesuatu' yang dia ambil di meja luar, Raka kembali masuk ke kamar mandi. Raka pun mulai melepaskan pakaiannya dari tubuhnya. Setelah semuanya terlepas, Raka memasuki bathtub bersama dengan Ezra.

"Raka, tadi kamu ambil apa?" tanya Ezra.

"Nanti kamu lihat saja."


Setelah puas berendam, Raka dan Ezra memutuskan untuk selesai. Raka langsung mencabut sumbatan bathtub-nya sambil mengambil sebuah handuk. Dia kemudian mengeringkan rambut dan badan Ezra. Setelah semuanya kering, Raka mengambil salep di kotak obatnya dan mengoleskannya ke bagian tubuh Ezra yang memar karena perbuatannya tadi. Setelah itu, Raka baru mengeringkan tubuhnya sendiri. Lalu, Raka memakaikan bathrobe ke Ezra dan juga dirinya.

"Fuah, segarnya," ucap Ezra setelah keluar kamar mandi.

"Apa kamu lapar?" tanya Raka.

"Iya, aku lapar nih," jawab Ezra.

"Kalau begitu, ayo makan. Aku sudah belikan makanan untukmu," ajak Raka.

Mereka berdua pun keluar kamar. Saat melihat meja makan, betapa terkejutnya Ezra saat melihat sekotak martabak keju.

"Loh? Itu martabak keju, Rak?" tanya Ezra.

"Iya," jawab Raka.

"Bukannya perjanjiannya itu ..."

Sebelum Ezra menyelesaikan perkataannya, Raka sudah menepuk kepalanya, "itu reward karena kamu tadi tidak nakal."

Wajah Ezra pun memerah.

"Makasih banyak ya, Raka," katanya sebelum memcium pipi Raka.

END (belum, kok)


"Oh ya, Zra," Raka memecah keheningan saat mereka sedang makan.

"Iya, ada apa, Rak?" tanya Ezra.

"Um ... gimana kalau kita melakukan perjanjian itu setiap kali kita ada ujian?" Raka bertanya balik.

"Eh, jangan, Rak. Aku ga mau," tolak Ezra.

"Kamu ga suka ya?"

"Bukannya aku ga suka, tapi ..." wajah Ezra mulai memerah, "tapi aku takut ga kepengen dapet nilai tinggi lagi," jawab Ezra dengan malu-malu.

END


Author's note: maaf ya Kak Lif, kalau misalkan ini OOC banget :')