UNUSUAL STORIES
Disclaimer: Naruto Shippuden by Masashi Kishimoto
Story : Leopard2RI
Rated : T/M ( Tergantung story per Chapter )
Selamat Membaca!!!
Siang hari yang panas di Jakarta. hari biasa yang penuh kemacetan dan hiruk pikuk manusia manusia Urban di Provinsi terpadat se Indonesia itu. pada jam ini lebih banyak manusia yang menghabiskan waktunya di luar rumah untuk jalan jalan atau sekedar rehat dari aktivitas kerja yang melelahkan
Seorang pria keluar dari gedung kantornya dengan malas. kantung sehitam panda di kelopak matanya menyiratkan kalau pemuda berambut panjang itu kesulitan tidur.
Ia meliak liuk menembus trotoar kota yang padat. sesekali ia harus mengatur langkahnya agar tidak menyenggol orang atau sepeda yang menggunakan akses trotoar.
iris Lavendernya menatap sekeliling mencari sebuah restoran Chinese langganannya dari kecil. pelipur lara ketika ia lapar dan pengingatnya akan masa pahit ketika jatuh cinta di bangku SMA.
Masa lalu yang pahit, sepahit kisah asmaranya sekarang, di umur 27 tahun.
Tanpa pasangan, gebetan apalagi Istri.
Padahal kurang menarik apa dia di mata para gadis dan wanita seumurannya? Ganteng, Mapan, Sopan lagi. idaman mertua banget pokoknya.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya dan mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya, lebih memilih fokus melihat jalan yang mulai disesaki para pengguna Trotoar dan pesepeda yang hendak menjemur diri.
Setelah hampir 15 menit berjalan kaki dari Kantornya akhirnya ia sampai ke tikungan jalan terakhir menuju Restoran. namun Neji tak akan pernah sampai ke Restoran pada siang hari itu. karena di tikungan jalan tersebut ia bertabrakan dengan seseorang yang akan mewarnai hidupnya.
Selamanya..
.
Karakter utama kita adalah Neji Hyuuga atau bisa kita panggil Neji. adalah seorang Pria berdarah Jawa-Jepang yang kini tinggal di ibu kota Provinsi sekaligus Ibu kota Negara Republik Indonesia—Jakarta.
Pekerjaannya sebagai penulis sekaligus editor sebuah majalah Militer menjadi mata pencaharian utamanya di Metropolitan ini. gaji yang lumayan besar dan kerja kerasnya selama 4 tahun mampu ia belikan sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan.
Kini pria itu tengah berada dalam masalah. masalah yang melibatkan ia dengan orang lain. bukan, bukan masalah kriminal seperti kecopetan, bukan pula dibegal atau diperkosa...
Tapi ia menabrak seorang gadis, yang tampaknya masih menduduki bangku SMA.
Gadis itu ia tidak sengaja ia tabrak ketika hendak berbelok di suatu gang kecil ketika hendak mencari jalan pintas menuju restoran langganannya.
"Brengsek..!! Lo liat jalan pake mata anjing..!!" umpat gadis itu kasar padanya. sekujur tubuh gadis itu berantakan karena noda dari makanan yang ia bawa tumpah. sedangkan Neji yang masih separuh sadar terbawa emosi ikut membalas tak kalah pedas.
"Lo yang harusnya ngaca goblok. anak tolol. belok main belok aja. ini jalan bukan jalan bapakmu, Kimcil tolol..!!!!"
Sang gadis tersulut juga. ia menarik kerah jumper yang Neji katakan lalu menariknya hingga wajah mereka berdua saling berdekatan.
"Lo ngomong apa tadi..? gua gak denger.." tanya gadis itu mengintimidasi.
"Kimcil tolol, udah tolol budeg lagi anjing..!!"
Gadis itu tiba tiba menendang betis Neji hingga kakinya terbuka lebar. lalu dengan kekuatan penuh ia menyepak selangkangan pria itu dengan kaki bagian luar yang ia kenakan sepatu Kets.
"AARRGGGHHHHHH..!!!!"
Neji berguling guling di tanah sambil memegangi selangkangannya. rasa ngilu bercampur di selangkangan dan perut. menimbulkan efek ngilu bercampur mules menjadi satu. sedangkan sang gadis malah merebut tas Neji dan menatapnya remeh.
"Segitu aja nih..? pake rok aja lo.."
Neji menatapnya nyalang. ia berdiri lalu mencoba menerjang gadis itu.
"Eiitt, mau nyerang gua..? silahkan. tapi tas lu gua buang ke got..." ucap Gadis itu sambil menunjukkan tas Neji yang ia bawa dan sebuah got berisi air selokan bau yang cukup dalam.
Neji menghembuskan nafasnya.
Sial
Neji memakan sup ayamnya dengan khidmat. setelah pertengkaran dengan gadis yang tadi ia tabrak akhirnya ia berhasil makan siang dengan selamat di restoran langganannya ini.
Tapi ia tak sendiri. di depannya sedang duduk seorang gadis yang tadi ia tabrak. gadis itu sedang sibuk menghabiskan mangkuk kedua bakmi nya dengan khidmat sama seperti Neji.
Lho, bukannya masalah sudah selesai..?
Ya, gadis itu mengancam Neji untuk mengganti bekalnya yang tumpah karena mereka bertabrakan kalau tidak ia akan meneriaki Neji sebagai pelaku pelecehan seksual. tentu Neji memilih mengganti bekal gadis itu ketimbang harus berakhir diamuk massa.
Neji juga memikirkan pekerjannya. Gadis itu sampai sekarang masih membajak tas berisi Laptop dan dompet miliknya. untuk jaga jaga agar Neji tidak lari ketika harus bayar tagihan katanya.
"Kakak kerja dimana..?" Gadis itu bertanya dengan nada lembut padanya. tidak seperti saat mereka adu mulut tadi. kasar dan kurang ajar.
Namun Neji. sebagai pemuda dengan harga diri tinggi yang barusan dianiaya oleh sang Gadis tentu tidak sudi menjawab. urusan mereka hanya ada di ganti rugi.
"Kak, kakak tuli ya..?"
Neji geram.
"Dengar ya Panda..! urusan kita cuma sebatas pada ganti rugi. selain itu adalah urusan pribadi. sekarang cepat habiskan makanan mu karena aku harus balik ke kantor 1 jam lagi.." hardik Neji.
Gadis itu menghentikan acara makannya dan menopang dagu. ia lalu mengambil Ponsel di kantungnya dan malah sibuk memainkan ponsel itu.
"Hei Panda..!! dengar tidak sih!!?"
Gadis itu meliriknya malas. "Namaku Tenten, bukan panda.."
Tenten—gadis yang disebut panda oleh Neji itu memainkan Ponselnya tanpa mempedulikan perkataan Neji.
"Terserah namamu siapa..." balas Neji kesal. "Tapi tolong habiskan makananmu segera dan kembalikan tas ku. aku harus kembali ke kantor siang ini..."
Tenten hanya menaikkan salah satu alisnya ke atas—tanda tak mengerti. "Kok kakak yang malah ngatur sih..?"
Lha..?
Ngatur? ngatur darimana..?
Tenten melipat tangannya. "Kakak lupa ya? kakak kan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang kakak perbuat tadi.." ucap gadis itu ambigu dengan intonasi sedikit, keras. cukup keras untuk didengar pelanggan lain di sekitar mereka.
Beberapa pelanggan di sekitar meja mereka berbisik bisik. tentu saja mereka berpikiran liar soal hubungan Neji dengan Gadis itu.
"Bertanggung jawab..? apa Neji telah menghamili gadis itu..?" mungkin itulah kira kira isi pikiran liar mereka ketika Tenten menuntut tanggung jawab Neji.
Neji memijit pangkal hidungnya. Gadis itu membuat ia tampak seperti pria hidung belang brengsek yang meninggalkan seorang gadis belia polos setelah ia nodai semalam.
Bagus sekali!!
"Baik-baik, maumu apa sekarang..??!!" balas Neji kasar. sumpit yang ia pegang di tangannya sudah hampir patah karena ia genggam terlalu erat.
Tenten tersenyum penuh kemenangan. ia memang pandai memanipulasi keadaan. memang jahat, tapi bodoamat lah..
"Kakak harus mentraktir ku sampai aku puas. sebelum aku puas maka jangan harap Laptop kakak kembali.."
Neji menggeram kesal. sial! gadis ini benar benar memerasnya. ingin sekali ia membalikkan waktu kembali ke saat ia masih ada di Kantor. ia lebih baik makan Indomie rebus jika tahu perjalanannya ke Restoran akan berakhir seperti ini.
Tenten tiba tiba berdiri dari bangkunya. merogoh tas Neji yang ia sita, lalu memindahkan sebuah laptop dari dalam tas itu ke tas ransel berwarna pink miliknya. kemudian ia mengembalikan tas itu pada Neji.
"Nih tas punya kakak. aku cuma butuh Laptop kakak saja.." ucap Tenten. ia juga menyerahkan secarik kertas berisi nama dan nomor teleponnya pada Neji. "Kalau kakak ingin Laptop kakak kembali. hubungi nomor ini.."
Neji hanya bisa cengo. dengan bodohnya ia menerima tas itu begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. sedangkan Tenten meminum Ice Lemon Tea yang ia pesan sebelum hengkang dari bangku tempat ia dan Neji makan. juga tanpa pamit atau mengucapkan terimakasih.
"Sial..!!"
Neji segera menuju kasir untuk membayar makanannya. ia kemudian berlari untuk menyusul Gadis berambut Cepol itu. setidaknya ia bisa bernegosiasi agar laptopnya bisa kembali. ia benar benar membutuhkan Laptop itu untuk presentasi siang ini di Kantor.
Neji melihat gadis itu di sebuah jalan menuju sebuah SMA Negeri. gadis itu berjalan sendirian. tidak seperti kawan kawannya yang lain yang mana mereka kebanyakan berangkat ber kelompok. ia segera menyusulnya.
Tangan Neji menangkap lengan gadis itu. membuat Tenten terkejut.
"Hei, kita harus bicara..!!" paksa Neji.
"APA APAANSIH KAKAK INI..??!!!" jerit kecil Tenten. ia merasa tidak nyaman ketika tangan kasar Neji mencengkram Lengan nya erat.
Neji menatapnya memelas. "Kembalikan Laptopku, akan kuganti dengan uang. kumohon..."
Tenten menarik lengannya kasar—melepaskan diri dari tangan Neji sebelum kemudian berlari menuju gerbang masuk SMA nya. Neji berlari mengejarnya. Laptop itu harus ia dapatkan dengan cara apapun, ia heran kenapa gadis itu begitu keras kepala dan malah memerasnya dengan menyandera laptopnya.
Tenten masih berlari kencang. ia harus segera masuk ke area SMA nya sebelum Neji bisa menangkapnya lagi. Iris coklatnya tertuju pada 2 orang berseragam dinas lapangan Polisi yang sedang lewat di depannya. sebuah ide muncul di kepalanya.
"Maaf pak, saya minta tolong..." ucapnya ketika ia menghampiri kedua orang Polisi itu.
Kedua anggota Polisi itu mengernyit heran melihat Tenten yang terengah-engah kelelahan, seperti dikejar sesuatu.
"Ada apa ya dek..?" tanya seorang dari mereka. menyadari jika Tenten sedang dalam masalah.
Telunjuk Tenten menunjuk sosok Neji yang masih berlari mengejarnya. "Tolong pak, pria itu terus mengejar saya dari tadi.."
Kedua Polisi itu melihat Neji dari kejauhan. "Kenapa pria itu mengejarmu..?" tanya seorang dari mereka pada Tenten.
"Pria itu hendak melecehkan saya. saya berhasil lari waktu dia lengah.." kilah Tenten. tentu saja itu semua bohong. namun saat itu Tenten tidak berpikir panjang, ia lebih memikirkan cara lepas dari kejaran Neji yang laptopnya sedang ia sandera itu.
Kedua Polisi itu mendelik tajam. mereka menyarankan Tenten untuk segera masuk ke masuk ke SMA nya. kedua anggota Polisi itu lalu menghampiri Neji yang berhenti berlari karena kelelahan. ia terduduk lemas di trotoar. merutuki nasibnya dan Laptop nya yang telah raib disandera Tenten, gadis yang ia tabrak tadi pagi.
Tak berapa lama Neji merasakan ada orang yang berdiri di belakang tubuhnya. ia memutar kepalanya mendongak keatas. disana, ia melihat dua orang anggota Polisi sedang berdiri sambil menatapnya.
"Selamat siang mas..." sapa salah seorang dari mereka. "Bisa ikut kami ke kantor sekarang...?"
Neji menaikkan salah satu alis matanya. "Maaf, ada urusan apa pak..?"
"Sudah, jangan banyak bicara. kamu ikut kami ke Kantor dulu.." seorang Polisi menangkap kedua tangan Neji dan memelintir nya ke belakang.
Neji berontak. emosi karena kelelahan membuat ia tak mau kooperatif. "APA SALAH SAYA, KENAPA KALIAN MENANGKAP SAYA..???!!!!" bentaknya pada 2 anggota Polisi itu.
Kedua anggota Polisi itu sedikit kualahan menghadapi Neji yang diluar dugaan berhasil melepaskan diri. ia sampai harus dilumpuhkan dengan cara dijatuhkan ke tanah dan diborgol oleh mereka.
Kejadian itu menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar yang lewat, tak terkecuali para Siswa dan Siswi SMA Negeri 2 termasuk Tenten. dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Neji yang tengah dibekuk oleh Polisi karena laporan palsu darinya.
Ia sadar bahwa tindakannya sudah keterlaluan. Pria itu hanya ingin Laptopnya kembali. bukan memperkosanya. Tenten ingin menghampiri para Polisi itu dan memberitahu kejadian sesungguhnya antara dia dengan Neji.
Tapi ia tidak bisa, ia terlalu takut.
"Tenten, sedang apa kau bengong disini? ayo masuk. jangan lihat penjahat itu terus." sebuah teguran dari Siswi berambut pirang berkuncir kuda mengalihkan perhatiannya. Tenten melirik Siswi itu. mengangguk perlahan sebelum ikut masuk bersamanya ke halaman gedung SMA tempat ia bersekolah.
Iris coklatnya sempat melirik ke arah Neji yang sudah diamankan oleh Polisi di mobil Patroli untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia tak terlihat, menghilang di tertutup kerumunan Siswa yang berkumpul di halaman sekolah.
"KAU DIAMANKAN KE POLRES???!!!!"
Suara cempreng seorang Pria berambut kuning memecah keheningan yang tercipta di sebuah kafe di daerah Jakarta Selatan. beberapa pengunjung nampak terganggu dengan teriakan pria ini dan mulai mengutuknya dalam hati.
Sementara lawan bicaranya. seorang pria berambut hitam panjang yang ia ikat rapi ke belakang hanya bisa menutup wajahnya erat erat. menahan malu dari mulut ember pria yang adalah temannya itu.
"Bisakah kau tidak berteriak? setidak-tidaknya jangan membocorkan rahasiaku di depan pelangganmu!!"
Pria berambut kuning itu menutup mulutnya. Neji, lawan bicara pria berambut kuning, menghembuskan nafas berat sambil mengacak muka dengan geram. tujuan ia datang kesini adalah untuk Curhat bukan membeberkan aib pada publik.
"Tapi serius kau dibawa ke Polres tadi? kau tidak sedang bercanda kan..?" bisik pria berambut kuning itu pada Neji.
"Menurut mu aku diperlakukan seperti penjahat seksual di depan warga dan baru bisa pulang jam 8 malam karena diinterogasi di Polres oleh 4 Polisi yang berbeda tanpa dikasih makan adalah hal yang lucu untukmu, Naruto..?"
Neji menggigit potongan besar daging di pisaunya dengan Brutal sambil menatap pria yang bernama Naruto itu.
Naruto memundurkan bangkunya selangkah ke belakang. berjaga jaga jika sewaktu-waktu Neji kalap dan memangsanya.
"Ya aku kan tidak tahu.." balas Naruto.
"Mangkanya kuberitahu kau sekarang, goblok!!"
Naruto sebagai kawan dan calon adik ipar yang baik, pengertian dan sayang nyawa memutuskan untuk diam sejenak. Neji yang terlalu emosi dan mulut ember Naruto adalah perpaduan yang pas untuk menimbulkan pertumpahan darah di kafe itu. lebih baik fokus memakan hidangan yang sudah mereka pesan di depan mata sebelum dingin dan anyep.
"Mana Hinata..?" tanya Neji memecah kebisuan diantara mereka.
"Hinata...?" tanya balik Naruto. "Ia ada di dapur mengurus pegawai dan mengawasi stok bahan makanan, apa kau mau kupanggilka—..."
Neji tiba tiba mencengkram kerah baju Naruto dan menariknya sampai wajah mereka berhadapan. "Kau menyuruh Adikku bekerja keras di dapur bersama anak buah mu sementara kau duduk makan enak disini dengan ku?" ucapnya emosi.
Naruto menggelengkan kepalanya. kicep melihat Neji yang sedang marah.
"Dia tidak bekerja dan memasak, dia hanya mengawasi saja. sumpah broooo..."
Neji menodong Naruto dengan garpu yang ia ambil dari wadah. menatap iris Sapphire itu dengan penuh amarah. garpu di genggaman nya bisa ia daratkan kapan saja di jidat pria itu bila ia mau.
Namun pertikaian mereka terpaksa berhenti karena getokan sendok sup pada masing masing kepala keduanya mengalihkan perhatian Neji dan Naruto. pelakunya adalah seorang gadis berambut indigo beriris lavender seperti Neji.
Hinata, gadis itu, pacar Naruto sekaligus adik kandung Neji Hyuuga. memandang kesal 2 insan laki-laki paling ia sayangi setelah ayahnya tersebut. "Kalian bertengkar lagi??!!!" bentaknya pelan, agar tak terdengar pelanggan lain.
"Kami hanya bermain lomba tatap mata, benar kan Naruto??!" kilah Neji sambil tersenyum.
Di bawah meja, Naruto bisa merasakan kakinya yang beralaskan sendal diinjak kuat dengan sepatu kets Neji yang tajam.
Ia sempat mengerang sebelum Neji memberikan tanda untuk diam dengan menginjak kembali kakinya. kini dengan kaki sebelah kiri.
"I-iya... kami sedang bermain lomba tatap mata. dan pemenang nya adalah kakakmu, Hinata..." terang Naruto sambil meringis kesakitan. Ia bersumpah kaki kanannya yang diinjak Neji tadi mengeluarkan darah sekarang.
Hinata mengangguk paham. "Kupikir kalian sedang bertengkar.."
"Tidak mungkin kami bertengkar, iya kan Naruto..?"
Lagi lagi kaki kanan Naruto yang jadi korban injakan Neji.
"Iiiiyyaaaaaaa..." jawab Naruto sambil menjerit pelan rasa sakitnya tak lagi bisa dibendung.
Hinata merasa ada yang tidak beres. tapi ia memilih acuh saja dan mengambil tempat duduk di samping Neji, sang kakak, yang langsung merangkul dan mencium pucuk kepala gadis itu dengan sayang.
"Ei ei..!!!" tegur Naruto sambil meringis menahan perih. "Hinata harusnya duduk di sampingku oi"
"Gak, mending duduk sama kak Neji saja. aku merasa lebih aman dan nyaman ketimbang sama kamu" jawab Hinata.
Neji tertawa ngakak.
Rupanya Kakak-Adik ini sama saja. sama sama sering menyiksa batin Naruto.
"Brengsek.." ujar Naruto pelan. ia mengacungkan jari tengah pada Neji secara tersirat agar Hinata tak melihat. Neji yang tahu, balik mengacungkan 2 jari tengah sekaligus pada Naruto. double hit.
"Oh iya kak. kau kemana saja tadi sore? kutelepon tidak aktif. apa kau ada rapat lagi di kantor..?" tanya Hinata padanya.
Naruto hendak bersuara sebelum injakan kaki Neji membuat ia bungkam. "Iya tadi ada rapat sebentar. rencananya Minggu depan kami akan mengadakan proyek besar jadi proyek itu dibahas Minggu ini" jawab Neji berbohong.
Neji tentu tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada adiknya kalau ia baru saja terseret kasus hukum di Polres.
Hinata ber-OH ria mendengar alasan Neji.
"Perhatikan jam pulangmu. Ayah sangat khawatir padamu dan aku." ucap Hinata. "Ia sering menanyakan posisimu padaku bila kau telat pulang"
"Aku tahu..." desah Neji. "Katakan padanya aku selalu sehat. agar ia tak kepikiran.."
"Terserahmu lah.." balas Hinata singkat. "Kau ini dari tadi kenapa sih Naruto?!!"
Gadis itu sedari tadi risih melihat tingkah pacarnya yang memegangi kakinya sambil meringis kesakitan.
"Tidak, tidak ada apa apa..." jawab Naruto sambil menampilkan cengiran lebar khasnya. cengiran Naruto membuat Hinata sedikit tersipu. wajah tampan Naruto yang tersenyum bodoh pun mampu meluluhkan hati dan perasaan gadis Hyuuga itu.
Neji mendengus pelan. dasar Playboy cap Lele
Pembicaraan ketiga insan itu berlanjut. mulai dari hal hal tidak penting seperti Kehidupan sehari-hari dan hobi sampai entah bagaimana caranya masuk ke bahasan Politik.
"Aku pegang PDI-P yang mengusung Tobirama Ikhsan sebagai Gubernur kita selanjutnya!!" seru Naruto pada mereka ketika ditanya Gubernur yang ia akan pilih di Pilgub tahun depan.
Hinata mendecih. "Poros Golkar-Demokrat tidak mungkin bisa dikalahkan PDI-P.." Hinata meminum Latte nya sedikit. "Lagipula PDI-P sudah kalah di Jakarta Utara. mana mungkin mereka bisa mengambil suara di Jakarta Selatan??!!"
Naruto dan Hinata adalah pasangan unik menurut Neji. mereka punya banyak sekali perbedaan sifat yang mencolok dan sangat bertentangan. Naruto adalah seorang Protestan sedangkan Hinata adalah Katholik. Naruto pendukung setia Jokowi sedangkan Hinata adalah Prabowo. Naruto Kapitalis sedang Hinata adalah pengagum Che Guevara dan Sosialismenya. Naruto orang yang sangat remeh sedang Hinata orang yang sangat teliti.
Namun Neji tak pernah melihat mereka bertengkar hebat hingga saling perang dingin. hanya perdebatan kecil contohnya saat ini mengenai Politik. Hinata juga tak pernah sekalipun mengadu pada Neji soal kelakuan Naruto. ia bisa menghandle hubungan mereka agar tetap harmonis. mereka berdua malah sukses membentuk bisnis cafe dan outlet makanan kecil kecilan di seantero Jakarta hingga 7 cabang.
Mungkin karena kedua pasangan itu sudah saling kenal dari SD dan pacaran sudah 5 tahun sejak Kuliah semester awal.
"Alah ngomong aja calonmu didukung Buzzer kan? hahahaha..."
Naruto cemberut karena Cagub pilihannya diejek Hinata. "Gak ah, gak ada Buzzer itu. Buzzer kan dari pihak yang kamu dukung Hinata!!"
"Mana, coba buktikan??!"
Naruto mengeluarkan I Pad nya. ia membuka suatu web link berita, dan menunjuknya pada Hinata. berita itu berisi tentang penangkapan salah satu akun pendukung salah satu Paslon Gubernur yang dinilai menyebarkan isu SARA ke Publik.
"Ini kan Aoba Murdani, Buzzer Pemerintah yang terkenal itu. bagaimana mereka bisa melacak nama asli dan alamat rumahnya? selama ini kan dia pakai akun palsu di Twitter..." tanya Hinata keheranan ketika membaca isi berita itu.
Naruto membaca kronologi beritanya. "Dia sendiri yang salah sih, saat berdebat dengan salah satu Netizen di Twitter, dia memberikan nomor telepon pribadinya dan menantang orang itu untuk datang ke rumahnya langsung untuk baku hantam" sambungnya sambil terus men scroll halaman berita di I Pad miliknya itu.
"Canggih ya, dilacak pakai nomor Telepon saja alamat kita langsung diketahui.." Hinata bergidik ngeri. "Gak usah bahas macem macem lah di Internet kamu, kena tangkap Polisi baru tahu rasa!!"
"Lho kok saya??!!" balas Naruto tak terima.
Selama mereka berdua berdebat, Neji hanya mendengarkan. ia tak suka dengan Politik dan tetek bengek urusan negara. menurutnya Politik itu seperti sampah, semuanya berbeda beda tapi diakhir tetap jadi sampah untuk masyarakat.
Namun satu pembahasan mengenai nomor telepon menarik atensi pria berumur 25 tahun itu.
"Apa benar pemilik suatu nomor telepon bisa dilacak alamat dan tempat tinggalnya, seperti Banser yang kalian bahas itu?" tanya Neji.
"Buzzer kak, bukan Banser, kalau Banser mah ormas." Hinata tertawa geli mendengar Neji salah mengucapkan istilah Buzzer.
"Bisa kok, selama nomor telepon pengguna aktif dan ia menggunakan perangkat Internet maka ia bisa dilacak.." terang Naruto. ia mengambil sebatang rokok dan mulai menyesapnya setelah dinyalakan.
"Dan juga, setahuku kakak bisa melacaknya pakai suatu Aplikasi. kebetulan aku memasang Aplikasi tracking mobile pada ponsel Hanabi melalui nomor Telepon agar aku tahu dia ada dimana sekarang.." Hinata memperlihatkan sebuah Aplikasi seperti GPS yang ada di Ponsel Pintarnya.
"Lihat, titik ini adalah letak ponsel Hanabi sekarang.."
Titik yang Hinata tunjuk terletak di suatu daerah yang merupakan daerah perumahan tempat tinggal mereka. pasti Hanabi, adik bungsunya itu sudah tidur di rumah malam ini dan Ponselnya berada di cabinet samping ranjangnya.
Neji tersenyum puas mendengar penjelasan Hinata. akhirnya ia bisa mencari keberadaan seseorang yang sudah membuatnya menderita seharian ini.
"Bisa kau unduh kan aplikasi itu di Ponselku Hinata..?"
Di dalam sebuah rumah berukuran minimalis yang terletak di suatu perumahaan di jantung Jakarta Selatan terlihat seorang gadis mondar mandir tak tenang di ruang keluarga. di depan nya ada sebuah Laptop yang ia letakkan di atas meja. Laptop itulah sumber masalah bagi gadis itu hari ini.
"Siallll... Tenten kau bodoh sekali, bodooohhh..." rutuknya pada diri sendiri sambil menjambak kedua rambut hitamnya yang kini tergerai hingga melewati pundak.
Ia menatap Laptop itu dengan tatapan frustasi. semua ini berawal ketika ia pulang sekolah tadi ,ia menerima informasi dari salah satu kawan laki lakinya kalau pria yang ditangkap oleh Polisi tadi pagi di depan sekolahnya kini sudah berada di Polres dan dalam proses penahanan. tentu kabar itu membuatnya terkejut setengah mati.
Karena pria yang ditangkap Polisi itu adalah pemilik Laptop yang sedang ia bawa sekarang ini.
Dan juga pria itu ditangkap oleh Polisi karena laporan palsu dari Tenten. bagaimana bila Pria itu beneran ditahan untuk kejahatan yang tidak pernah ia lakukan? atau yang paling buruk, bagaimana jika pria itu menuntut balik dirinya karena ia mefitnah pria itu?
Demi Tuhan, Tenten benar benar panik sekarang. ia tak lagi sempat memikirkan makan malam. hanya ini yang ia pikirkan sejak tadi sore setelah ia pulang sekolah.
Bahkan ia belum berganti pakaian dan mandi!!
Tenten menggebrak meja. ia baru saja menemukan solusi terbaik untuk masalah. solusi yang akan menyelamatkan hidupnya kedepan dan membebaskan nya dari tanggung jawab pada Pria itu.
"Aku hancurkan dan buang saja Laptop ini.."
Terdengar jahat memang, tapi Tenten tak punya pilihan lain. ia tak bisa dengan polosnya menyerahkan diri ke Polisi atau menunggu Polisi menangkapnya. setidaknya ia bisa mengelak dengan menghancurkan barang bukti terlebih dahulu.
Tenten menyambar sebuah jaket yang tergantung di pintu kamarnya. sebuah kresek ia ambil dari dapur. tak lupa sebuah palu dan korek api bawa dari gudang. Laptop milik Neji ia masukkan ke dalam kresek agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ia keluar dari rumah dengan terburu buru. berkali kali ia menengok kesana kemari menunggu lingkungan rumahnya sepi. sebuah masker ia kenakan dengan kepala tertutup tudung jaket. setelah memastikan lingkungan rumahnya aman dan sepi ia langsung menaiki sepeda Gunungnya dan mengayuhnya ke suatu tempat.
Tempat yang ia tuju adalah perkebunan di belakang perumahan tempat ia tinggal. perkebunan itu sudah lama ditinggalkan dan terkenal angker. namun hal itu tak berlaku untuk gadis bercepol ini. kebun kebun gelap dan angker itu sudah jadi tempat mainnya waktu kecil.
Persetan dengan hantu, penjara lebih menyeramkan dari para makhluk bermuka jelek itu!!
Tenten perlahan menghentikan kayuhan pada pedal sepedanya ketika ia melihat sebuah semak semak rimbun di tengah tengah kebun pisang. tempat yang cocok untuk melenyapkan barang bukti.
Tenten turun dari sepeda. ia melemparkan Laptop yang ia bawa dalam kresek dengan kasar ke tanah. dengan cekatan ia menimbun laptop itu dengan beberapa kayu bakar yang sempat ia pungut di tengah jalan. terakhir, dia mengambil korek api dari kantungnya. hendak membakar Laptop itu hingga tak tersisa.
"Maafkan aku kak, aku terpaksa melakukan ini..."
Ia memantik sebatang korek api. dengan tangan bergetar ia mengarahkan korek api itu ke Laptop Neji. ia masih ragu ragu untuk membakarnya. sesekali tangan yang sudah ia julurkan ia tarik lagi. dan itu terjadi berkali-kali.
Sudah 6 batang Korek api yang padam sia-sia karena Tenten tidak segera membakar kumpulan kayu bakar itu.
"Apa yang aku lakukan??" keluh Tenten. "Kenapa aku masih ragu??"
Puluhan pertanyaan muncul di kepalanya tiba tiba. seakan mencegah nya membakar dan menghancurkan Laptop milik Neji. sedangkan dalam otaknya, ia tahu menghilangkan barang bukti berupa Laptop ini dapat membebaskan nya dari tanggung jawab hukum.
Ia menyerah. Tenten mengambil kembali tas Kresek berisi Laptop itu. ia membuang semua kayu bakar yang ia kumpulkan, dan mulai mengayuh sepedanya menuju rumah.
Tenten memutuskan untuk pulang.
Di sepanjang jalan pulang kepalanya terasa sangat berat. beban pikiran dan dilema yang ia rasakan lebih dari cukup menyiksa batinnya. disaat dimana dia seharusnya bisa setidaknya melepaskan diri dari kejaran hukum ia malah kembali pulang. disaat ia seharusnya mengembalikan Laptop sialan ini ketika Neji sudah berniat mentraktir nya sebagai ganti rugi malah ia jadikan sandera untuk memeras pria berambut panjang itu.
Sebuah karma dari perbuatan jahatnya hari ini.
Tenten masuk ke halaman rumahnya dengan gontai. sepeda gunung miliknya sudah ia masukkan garasi di luar. ia melepas maskernya dengan kasar hingga tali benda itu putus. tangan kirinya merogoh rogoh kantung jaket mencari kunci rumah.
Ketika ia sampai di teras ia dikejutkan dengan sosok pria sedang duduk di kursi teras. pria itu tampak menatapnya—setidaknya itu yang Tenten pikirkan karena wajah pria itu terhalang oleh kegelapan malam akibat lampu teras yang tidak Tenten nyalakan sebelumnya.
"SIAPA KAMU, KENAPA KAMU DUDUK DISITU!!??" dengan cekatan Tenten mengeluarkan pisau lipat dari belakang celananya. menghunuskan ujung pisau yang lancip ke arah pria yang masih tak mau beranjak dari duduknya itu.
Pria itu berdiri. kedua tangannya berada di saku celana. dengan santai ia menghampiri Tenten yang sudah memasang kuda-kuda bertarung. Pria itu terlihat tak takut dengan peringatan maupun pisau yang Tenten acungkan padanya.
"JA-JANGAN BERGERAK... ATAU KU BUNUH KAU!!!!" nafas Tenten memburu. ia memegang erat gagang pisau lipat milikinya. ia bersumpah bila pria ini sekali lagi mendekat kearahnya maka Tenten akan melumpuhkannya. atau membunuhnya kalau perlu.
Namun tak sampai 5 detik setelah ancamannya pada pria itu ia ucapkan Tenten malah membeku di tempat. pegangannya pada pisau lipatnya melemah sebelum akhirnya jatuh tepat di depan kakinya.
Pria yang duduk di terasnya itu. adalah Neji Hyuuga. pria yang tadi pagi menabraknya ketika hendak berangkat sekolah dan juga pria yang mengejar ngejar Tenten karena laptopnya ia sandera hingga akhirnya dibawa ke Kantor Polisi oleh Polisi setempat karena ia tuduh sebagai pelaku pelecehan seksual.
Tubuh Tenten bergetar hebat. bagaimana Neji bisa lolos secepat itu? apa dia berhasil membuktikan bahwa ia tak bersalah dan tak dipenjara? dan juga yang paling penting ;
BAGAIMANA PRIA ITU TAHU DIMANA ALAMAT RUMAHNYAAAA????!!!!!"
Neji tersenyum melihat ekspresi Tenten yang terlihat seperti hendak dicabut nyawanya oleh Malaikat maut. ia mengambil lagi selangkah kaki ke depan untuk mendekati gadis bercepol yang nampak ketakutan itu. ia juga membungkuk untuk mengambil pisau lipat Tenten yang terjatuh.
"I-ini...Ka-kakak yang pagi tadi itukan..? tanya Tenten terbata bata sambil menunjuk batang hidung Neji.
Neji menganggukkan kepalanya pelan. "Dan kau... nona Panda, adalah orang yang melaporkan ku ke Polisi atas tuduhan pelecehan seksual bukan..?" sindirnya tajam.
Tenten kembali terdiam. ia memundurkan langkahnya ke belakang. berusaha menjaga jarak dengan pria itu. hingga akhirnya entah karena apa Tenten memutuskan untuk melarikan diri.
Sayang, Neji sudah membaca pola geraknya untuk lari. ketika Tenten hendak menghadap belakang untuk kabur ia sudah terlebih dahulu mencengkram kerah belakang jaket Tenten dan ia tarik hingga tubuh keduanya saling menempel. ia lalu menangkap kedua lengan gadis itu dan menyatukannya ke belakang. membuat gadis itu meronta-ronta kesakitan.
"TOOO—HMMMMPPPPHHHHHJ" Neji membekap mulut Tenten yang hendak berteriak minta tolong pada tetangga. namun hal itu makin membuat Tenten berontak. kini gadis itu mencoba menggigit jari tangan Neji yang membekap mulutnya.
Tanpa diduga Neji melayangkan sikutnya ke ulu hati gadis itu, membuatnya tersentak. Tenten lalu merasakan sakit luar biasa di bagian dadanya disusul rasa sesak dan nyeri di sekujur badan. hingga akhirnya ia terjatuh—lepas dari kungkungan Neji.
Neji menatap datar Tenten, yang masih mengerang kesakitan, menekuk tubuhnya di lantai sambil memegangi dadanya yang sakit karena disikut. ia lalu mengambil kunci pintu rumah yang terjatuh di lantai dan membuka pintu depan. kemudian ia mengangkat tubuh Tenten dengan gaya bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setidaknya, ia dapat menyelesaikan masalahnya dengan Tenten tanpa harus melibatkan Tetangga sekitar.
"Ini Laptop milik kakak..."
Tenten menyerahkan sebuah Laptop berwarna hitam legam bermerek ASUF dengan stiker Kapal Perang di bagian bodinya pada Neji. pria itu mengambil Laptop miliknya dari tangan Tenten dan mulai memeriksanya satu satu. ia juga mencoba menyalakan benda itu untuk memastikannya masih berfungsi.
"Kenapa banyak ranting ranting kecil di sekitar Keyboard Laptop ini? kau hendak membuang Laptopku ke Hutan?"
Tenten mengelak. "Tidak, aku tidak tahu darimana ranting itu berasal kak..." kilahnya. rasa sakit di dada masih sesekali menyerang walau Neji sudah mengobati nya tadi.
Neji menatap Tenten penuh kecurigaan. tentu ia tahu Tenten berbohong. ia tak percaya Tenten tega membuang laptop miliknya agar bisa bebas darinya. terlebih lagi, Gadis itulah biang kerok masalah yang menimpa dirinya hari ini.
"Terserah kau mau alasan apa.." ucap Neji. "Tapi aku hanya ingin Laptopku kembali dengan utuh dan menyerahkan ini padamu.."
Neji menaruh sebuah amplop berisi surat di atas meja tempat mereka berbincang di ruang tamu. Tenten menatap surat itu penuh tanda tanya. Entah kenapa feeling-nya buruk soal surat ini. tapi ia tetap memaksa untuk membuka surat itu.
"Ini surat apa ya kak..?" tanya Tenten
"Buka dan baca. bisa membaca kan..?" balas Neji sarkastik.
Tenten mengambil surat yang ternyata surat resmi berkop Kepolisian Republik Indonesia itu dari amplop. ia kemudian membaca seluruh isi surat itu dari paragraf awal sampai ke konklusi dan keputusan yang membuatnya kembali Shock. ia kini menatap Neji dengan perasaan sedih dan marah di satu waktu.
"KENAPA KAKAK TEGA MELAKUKAN INI PADAKU..???!!!"
Jeritan Tenten tidak menggetarkan hati Neji. masih menatap gadis itu dengan datar.
"AKU KAN SUDAH MENGEMBALIKAN LAPTOP KAKAK!! KENAPA SEKARANG AKU DILAPORKAN KE POLISI??!!" tubuh Tenten bergetar tak stabil setiap ia kali ia berteriak emosi pada Neji. "KENAPAA??!!!!" ia kembali berteriak sebelum akhirnya jatuh terduduk lemas, kehabisan energi sambil menutup wajahnya.
"Karena kau memberi laporan palsu pada Polisi dan aku merasa kau rugikan karena kejadian itu.." jawab Neji singkat.
Hening beberapa saat. baik Neji atau Tenten hanya saling pandang. keduanya masih berusaha saling berdiplomasi untuk kepentingan sendiri.
"Tunggu sebentar..."
Tenten tiba tiba bangkit berdiri dan keluar dari ruang tamu. Neji hanya mengawasinya dengan tenang. Tenten tak mungkin kabur karena pintu rumahnya sudah ia bawa.
Setelah beberapa menit, Tenten kembali ke ruangan, tapi bukan dengan tangan kosong. tapi setumpuk dokumen dan buku tabungan yang ia langsung taruh di meja.
"Ini semua tabungan, deposito dan dokumen Rumah milik ku.." Tenten seolah mengetahui kebingungan Neji dalam hati. " Semuanya senilai total 900 juta lebih. kakal bisa membawanya sebagai jaminan asal kakak tidak melaporkan aku ke Polisi.." sambungnya lagi. nada bicara gadis itu sedikit bergetar karena takut.
Neji mendecih pelan. apa apaan gadis ini?!! dikiranya Neji mata duitan apa? ia tidak datang jauh jauh dari Cafe milik Naruto sampai tersasar di Kuburan dan hampir saja diteriaki maling karena salah mengawasi rumah orang hanya untuk menagih duit pada Tenten sebagai ganti rugi atas kesalahannya.
Neji ingin Tenten melakukan sesutu lebih dari sekedar membayar uang.
"Aku tidak mau menerima ini semua, Panda.." Neji menyingkirkan semua dokumen dan buku tabungan itu dari hadapannya.
"A-apa masih kurang kak..?"
Tenten kembali frustasi. hanya ini seluruh harta berharga yang ia punya. dan pria itu masih menolaknya, apalagi yang harus ia berikan pada Neji agar pria itu tak melaporkannya ke Polisi?
Atau jangan jangan, Neji menginginkan... dirinya?
"Jangan bilang kalau..." Tenten menyampaikan pikiran liar yang sedari tadi lalu lalang di kepalanya. "Kakak ingin aku menyerahkan keperawananku..?" Tenten sontak menutupi bagian dada dan tubuhnya yang sedikit terbuka dengan kedua tangannya.
Sebuah gulungan majalah mendarat mulus di jidat Tenten.
"Kau pikir aku lelaki macam apa, HAH??!!!" bentak Neji kasar.
"Habisnya, terus aku harus apa agar kakak tidak melaporkan ku ke Polisi?"
Neji menyeringai mendengar keluhan Tenten. akhirnya setelah menunggu momen yang tepat ia dapat segera mengatakan hal ini pada Gadis bercepol itu.
"Aku ingin kau jadi asisten pribadi dan pembantuku selama 1 bulan penuh tanpa bayaran.." jelas nya sambil mencomot salah satu biskuit kaleng diatas meja. "Hitung-hitung kau belajar menghargai seseorang yang umurnya lebih tua darimu kan TEN-TEN..?"
Tenten hanya diam tak membalas. otaknya masih mencerna kata kata Neji yang barusan masuk ke telinganya. Pembantu? Ia jadi pembantu pria itu selama sebulan??
Yang benar saja!!!???
Tapi ia tidak bisa memprotes apa apa. toh sekarang Neji yang punya kuasa atas dirinya. masih bagus Neji bukan tipe pria hidung belang yang suka tubuh tubuh cewek belia seperti Tenten. dan juga ia tidak harus membayar uang sepeserpun untuk menyewa pengacara dan menyuap Neji agar menarik laporannya.
"Kok diam? tidak mau? ya sudah, kita ketemu di pengadilan Minggu depan.."
"Tidakkkkk..!!" teriak Tenten histeris. "ya-ya aku mau, aku mau jadi pembantu kakak selama sebulan"
Neji tertawa mengejek. Gadis kurang ajar yang tadi pagi semena-mena dengannya kini hanya bisa pasrah dan patuh dengan ancamannya. tentu saja Neji tidak akan menjadikan Tenten budak seks atau malah ia jual ke sindikat perdagangan manusia. tapi ia hanya ingin gadis itu mengerti apa yang terjadi bila kau macam-macam dengannya.
"Baik, besok kau datang jam 2 siang. nanti kuberitahu alamatnya lewat SMS. jangan sampai tidak datang! ingat, kau sudah dalam pengawasanku sekarang"
Bersamaan dengan itu Neji bangkit dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tenten yang terduduk lemas tak berdaya.
Ia sempat mendengar suara motor Sport digeber kencang di depan rumahnya. rupanya pria itu sudah menunggunya sejak tadi ia berangkat ke kebun. memang ia sempat berpapasan dengan sebuah motor sport di pertigaan depan komplek. bahkan dengan bodohnya ia mengacungkan jari jempol pada pengendara motor itu, apresiasi pada motor nya yang keren.
"SIAAALLLLLLLL!!!!!"
Tenten kini menyesal kenapa ia harus berhubungan dan kini diperbudak oleh seorang bernama Neji.
TBC
