Lavender

By melukis_senja

SASUHINA

.

.

"Sasuke-kun."

Entah sejak kapan, ungu terlihat sangat menarik di mata Uchiha Sasuke. Apalagi ketika sang ungu berjalan melewatinya dengan kepala tertunduk. Aroma sabun lavender membuat Sasuke tak berhenti memandangi entitas yang kini tengah mengobrol dengan Naruto yang duduk dibelakang meja Hokage.

Tetap mengamati, mengabaikan sorot tajam Neji dengan byakugan teraktivasi yang siap menebas mati sang pemuda Uchiha yang kini tersenyum geli.

"Apa kau pikir aku akan membunuhnya?"

Neji tidak memiliki rasa hormat pada pria 28 tahun yang pernah menjadi buronan tersebut. Fakta jika dia sekarang berbalik loyal pada Naruto tidak membuatnya lantas menganggap Uchiha Sasuke adalah teman.

"Tch." Dengus Neji luar biasa sinis. Sasuke sedikit terkejut. Neji meskipun dari klan Hyuuga yang terkenal bengis itu setahu dia dari kecil tidak akan melirik sinis seperti saat ini. Ia menyeringai. Bibirnya bergumam, yang sontak membuatnya harus melompat keluar sejauh mungkin sebelum jyuuken milik Neji menghantam tubuhnya.

"Akan kubuat Hinata menjadi milikku."

.

"Sasuke-kun.."

"Sa... suke-kunnhh.."

Sraakk!

Bajingan. Sasuke mendengus kasar. Suara Hinata benar-benar mengganggu pikirannya. Ia tidak tahu kalau ternyata jatuh cinta semenyusahkan ini. Ditambah sosok yang ia beri atensi justru menyukai sahabatnya sendiri. Meskipun kini, Naruto sudah bersama Sakura. Tapi, dia tidak yakin jika Hinata bisa mengubah perasaan yang telah lama ia miliki pada sang Jinchuuriki Kyuubi.

"Arrggh!" ia mengerang frustasi. Yakini, Itachi tengah menggelengkan kepala dari alam sana melihat kelakuan sang adik yang tengah dilanda dilema.

Sasuke memandang datar rembulan yang bersinar terang dari jendela, benda langit itu mengingatkannya pada Hinata.

"Ck." Ia berdecak, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencari angin segar.

Ya, angin segar yang dimaksud Sasuke adalah Hyuuga Compound. Dimana para pengguna Byakuugan berada, dimana cintanya tumbuh menjadi sosok jelita.

Duduk diatap salah satu bangunan, memandang ke arah salah satu ruangan yang gelap karena pemiliknya sudah terlelap. Sasuke merasa bodoh saat ini. Sangat menyayangkan kenapa Hinata lahir dikalangan Hyuuga yang terkenal sebagai klan terbengis, bukan Uchiha. Menyisihkan fakta jika Uchiha terkenal sebagai klan paling sadis. Apalagi kelakuan Moyang mereka, Uchiha Madara, yang masih gagal move on dari penobatan Hashirama sebagai Hokage pertama. Menganggap dirinya tersisih, dan dengan ceroboh mengikrarkan dendam pada Desa yang membesarkannya.

"Hinata..."

"Sasuke-kun.."

Sasuke memejamkan mata, sepertinya ia mulai gila. Suara Hinata bahkan bisa ia dengar dengan seksama.

"Sasuke-kun..?"

Sasuke menarik nafas panjang. Berusaha menghilangkan suara yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Sepertinya kita harus menyadarkannya, Hinata-sama."

Neji sudah bersiap mentotok aura Sasuke yang suram dengan hakke rokujuuyon sho. Namun sayang, Uchiha memiliki reflek yang sangat bagus –meskipun rada lamban ketika jatuh cinta.

"Ah, keburu sadar."

Sasuke tetap memasang ekspresi tidak peduli meskipun urat di pelipisnya sudah keluar ketika melihat semburat chakra dari jari jemari Neji. Hinata tersenyum, Sasuke merasa ada semilir angin yang meneduhkan.

"Sasuke-kun, kenapa disini?" pertanyaan Hinata menyadarkan Sasuke dari pikiran 'bagaimana cara mengenyahkan Hyuuga Neji dari sisi Hinata Hyuuga'.

"Hanya mencari angin segar." Dingin, seperti biasa. Berusaha keren didepan Hinata, meskipun hatinya sudah terobrak-abrik melihat senyum gadis itu sejak pertama.

"Mencari angin segar dirumah orang, hm." Neji mendenguskan cibiran, "Hinata-sama, sebaiknya anda segera istirahat. Ini sudah larut."

Hinata mengangguk, "Ne, Nii-san... selamat malam, Sasuke-kun." Hinata tersenyum lagi. Ia hendak melompat turun ketika Sasuke memanggilnya. Neji mendesis tak suka.

"Ne, Sasuke-kun?"

Sasuke terdiam, barusan dia reflek memanggil Hinata. "Em, selamat malam." Ujarnya sambil memandang ke samping.

Hinata tertawa kecil lalu melompat turun menuju rumahnya. Neji mengawasi hingga gadis itu masuk ke dalam rumah. Kemudian beralih pada Sasuke yang tengah menatapnya juga, memandang galak.

"Pulang sana. Tidak seharusnya seorang Uchiha ada di atap rumah orang larut malam begini. Kecuali ada niat tertentu."

Sasuke menatapnya dalam, sepertinya sesuatu dalam hatinya akan keluar dan ia tidak bisa menahannya lagi. Mengabaikan ucapan Neji barusan, dia mencengkram bahu Neji dengan erat, "Menurutmu, apa Hyuuga-san akan menerimaku sebagai menantunya?"

"Hah?!"

.

"NGGAK!"

Sasuke mengusap wajahnya kasar. Penolakan Neji tadi malam membuatnya kesal tak karuan. Tadi malam, pertama kali mereka bicara panjang meskipun isinya benar-benar menyudutkan Uchiha. Bahkan sampai bawa-bawa jumlah anak!

"Mana mungkin Hiashi-sama akan menerimamu! Apa kau lupa hubungan antara Uchiha dan Hyuuga tidak pernah akur sejak dulu?! Lagipula, Uchiha sedang mengalami kepunahan, sudah pasti kau akan membuat Hinata-sama melahirkan banyak anak untuk memperbanyak keturunan."

Omongan pedas Neji jelas menusuk relung hatinya. Apalagi cinta membuat hatinya jauh lebih sensitif. Memang kenapa kalau dia meminta banyak anak?! Bukannya banyak anak itu sama dengan banyak rejeki? Uchiha Sasuke percaya hal itu.

"Na –Naruto, kau yakin dia baik-baik saja?" Shikamaru tampak khawatir, apalagi aura suram yang keluar dari pemuda yang kini tengah duduk di sofa pojok ruang Hokage dengan gaya khasnya, memandang lurus kedepan, dan kedua siku bertumpu pada paha.

Naruto menoleh, "Oy, Teme!"

"YOSH!" Sasuke yang tiba-tiba berteriak semangat dengan wajah yang sumringah membuat Naruto terjengkang dari kursinya. Shikamaru berancang-ancang dengan kage mane no jutsu, barangkali tiba-tiba Sasuke berniat untuk menjadi Hokage seperti katanya saat Perang Dunia Shinobi ke Empat enam tahun yang lalu. Lalu berinisiatif mengenyahkan Naruto.

Dan sesaat Sasuke sudah menghilang dari balik pintu ruang Hokage.

"Hee..." Naruto tidak menyangka Sasuke bisa tiba-tiba bersemangat seperti itu. Shikamaru apalagi, melihat Sasuke yang suram dengan awan hitam disekelilingnya tiba-tiba berganti latar menjadi pink bunga-bunga jelas bukan hal yang bagus. Ia mengurut keningnya, "Mendokusai.."

.

Kakashi sedang bersantai di teras halaman belakang rumah tatkala Sasuke muncul didepannya. Hampir dia melempar buku icha icha tactics yang sedang dibacanya.

"Bisa muncul dengan normal, Sasuke-kun?" keluhnya sambil membuka lagi buku yang sempat ia tutup. Sasuke menatapnya datar kemudian duduk disampingnya.

"Aku butuh bantuanmu, Kakashi."

Cuma Sasuke yang bisa memanggil gurunya tanpa embel-embel sensei. Kakashi tak masalah, Itachi pun dulu tidak memanggilnya dengan embel-embel senpai.

Tunggu sebentar, ada apa dengan sopan santun keluarga ini?!

"Bantuan? Kau butuh uang?"

Twitch!

Pertigaan siku-siku muncul di pelipis Sasuke yang tertutup poni. Ah, model rambut Sasuke mengingatkan Kakashi pada sosok Madara. Apa Uchiha tidak pernah dikenalkan pada salon?! Ia jadi lebih suka melihat potongan ekor bebek, meskipun gaya rambut sekarang membuat Sasuke tampak lebih dewasa. Setidaknya, bisa nggak dia ikuti gaya rambut Itachi saja?

"Bukan. Aku..."

Sasuke yang tampak bingung membuat Kakashi menutup bukunya. Sepertinya muridnya itu sedang mengalami hal serius.

"Kau kena tumor?"

"Sembarangan!"

Kakashi segera menyingkir ketika Sasuke hampir menebasnya.

"Jadi apa?"

"Aku butuh bantuanmu untuk mendapatkan hati seorang gadis."

Kakashi membeku. Ia merasa baru saja terkena genjutsu yang serius. Apa katanya? Apa dia sedang jatuh cinta? Gadis itu pasti sedang bernasib sial.

"Aku menyukai Hinata Hyuuga."

Oh, Hinata.

Eh?!

"HINATA?!"

Hinata yang sedang berlatih taijutsu dengan Neji bersin sebentar.

Kakashi menatap horor. Bisa-bisanya dia menaruh hati pada sang Hyuuga Heiress. Memang dia tidak tahu seperti apa pandangan Hiashi tentang Uchiha?

"Kau mau kukirim ke dimensi mana?" Sasuke hampir mengaktifkan rinnegannya, ketika sebuah buku laknat menghantam wajahnya cukup keras. Ia mendelik bengis pada pelaku pelemparan yang langsung menutup pintu rumah meninggalkan dia sendirian.

Sasuke menatap jijik buku laknat karangan Jiraiya itu. Mengela napas pelan sebelum akhirnya menyingkir dari sana.

.

"Kau tidak bersama Neji, Hinata?"

Hinata terkekeh, sambil mengeluarkan beberapa lembar uang, ia menggeleng.

"Tidak, Ino-san.. Neji-kun sedang sibuk.."

"Ahh, begitu.." Ino mengikat beberapa bunga menjadi satu kemudian memberikannya pada Hinata, "Terima kasih, omong-omong untuk siapa bunganya?"

Hinata memandang sendu seikat bunga lily putih yang ia beli. Ia tersenyum hangat, "Aku akan mengunjungi Mama.."

Ino terdiam. Bisa dirasakannya sorot kerinduan Hinata pada wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Ia tersenyum, menepuk bahu Hinata.

Hinata pamit pergi, keluar dengan sebuket bunga lily di tangan. Berjalan santai menuju area pemakaman keluarga dimana Ibunya berada.

Saat melewati taman, ia melihat sosok berjubah hitam tengah duduk di pinggir sungai. Ia melihat bunga lily di genggaman, hendak menghampiri, namun teringat wejangan Neji sebelum ia pergi.

"Kalau ada seseorang dari klan Uchiha, tolong usahakan menjauh, Hinata-sama."

Hinata menggenggam erat bunganya, kemudian melanjutkan kembali langkah menuju pemakaman. Mengabaikan sosok penyendiri itu di taman.

Sudah hampir 1 jam Sasuke membaca buku yang disebutnya laknat dan menjijikan. Tak ada satupun yang ia pahami. Hampir saja ia melempar buku tersebut ke tengah sungai jika saja tidak ingat Kakashi bisa saja memutilasinya menjadi 10 bagian.

"Sasuke-kun,"

Sasuke menoleh dan mendapati sosok pujaan hati berdiri tak jauh sambil tersenyum manis.

Kontan ia menyembunyikan buku bersampul hijau itu ke dalam jubahnya. Ia tidak mau di cap mesum, apalagi oleh Hinata. Bisa hancur berserakan harga diri yang ia junjung tinggi.

"Hinata, ada apa?" Sasuke beranjak. Hinata tampak gugup ketika pemuda itu menghampiri. Ia teringat pesan Neji yang sudah ia ingkari. Tapi, ternyata dia juga tidak bisa mengabaikan sosok yang beberapa malam terakhir ini menghantui mimpi.

Hinata mundur selangkah, ketika Sasuke sudah berada didepannya. Di genggamannya, setangkai bunga lily tampak masih segar.

"Hinata?" Rasanya Sasuke gemas. Mungkin hal lain kenapa Naruto sangat menyayangi Hinata bukan hanya karena gadis itu temannya, tetapi esensi Hinata memang bisa menarik setiap makhluk untuk tidak mengabaikannya.

"Em, ini."

Hinata menyodorkan bunga lily tersebut. Sasuke sempat membulatkan mata, namun kembali berubah seperti biasa. Ia menerimanya, "Arigatou." Sudut bibirnya terangkat, dinotis oleh Hinata yang tampak terpana. Gadis itu segera menyadarkan diri.

"Ne. Kalau begitu aku pulang dulu, Sasuke-kun.." Hinata berbalik, bergegas pergi dari situasi yang semakin tidak ia mengerti.

Namun, entah gaya fisika macam apa yang membuat Sasuke lantas melangkah mengikuti ketika Hinata berjalan seorang diri menjauh darinya. Gadis itu seperti medan magnet.

Hinata sadar, Sasuke berada dibelakangnya. Namun, ia tak mau terlalu percaya diri menganggap pria itu tengah mengikutinya. Ia tak mau patah hati dua kali. Ya, ia tidak tahu tepatnya, tapi ia mulai menaruh hati pada mantan teman sekelasnya itu.

Hinata cemas, Sasuke benar-benar mengikutinya. Bahkan ketika ia sampai didepan gerbang Mansion Hyuuga, Neji yang sudah berdiri didepan gerbang sudah siap-siap dengan byaakugan.

"Ne- Neji-nii?"

"Untuk apa seorang Uchiha sampai mengikuti Hinata seperti ini? Apa kau berusaha melakukan sesuatu padanya?" sindir Neji sambil menarik Hinata ke belakang punggungnya. Memproteksi Hinata dari sosok yang ia anggap kurang dapat dipercaya. Sasuke menghela nafas, "Tidak ada. Aku hanya memastikannya sampai rumah dengan selamat. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih. Sampai jumpa."

Sasuke melompat menjauh dari sana diiringi tatapan sendu Hinata.

.

Sasuke melempar buku pinjaman Kakashi ke pojok ruangan. Menghempaskan punggung ke ranjang empuk. Rumah tampak dingin. Sebenarnya sudah lama, tapi saat ini menjadi terasa sangat sunyi. Mata jelaga memandang tajam bunga lily digenggaman, kemudian mengela napas lelah. Akhir-akhir ini dia sering kali membuamg nafas. Lengan ia letakkan diatas dahi.

Sepertinya dia harus menyerah saja atas cintanya.

Tuk! Tuk! Ia menoleh, bisa ia lihat Naruto berdiri didepan jendelanya dengan cengiran lebar.

Dan disinilah mereka berada, diatas puncak monumen Hokage. Memandang langit malam yang gelap.

"Kau menyukai Hinata-chan?"

Suara Naruto memecah sunyi yang sempat terjadi, Sasuke menarik nafas. "Ya.. Kakashi pasti memberi tahumu."

"Bukan. Neji yang memberi tahu."

Sasuke mengernyit, "Neji?"

Naruto terkekeh. Di tepuknya cukup keras bahu sahabat suramnya itu.

"Aku tidak menyangka kau menyukai Hinata. Pantas Neji menjadi lebih overprotective."

Sasuke menahan diri untuk tidak men- chidori sahabat oranyenya yang kini tertawa terbahak-bahak. Ia melirik ketika tawa Naruto berhenti, "Kenapa?"

"Kau bilang tadi Kakashi-sensei? Untuk apa kau bertemu dengannya? Dan berarti Kakashi-sensei tahu jika kau menyukai Hinata?" Naruto mendadak curiga. Sasuke pias, bahaya jika Naruto sampai tahu dia meminjam buku icha icha tactics milik Kakashi.

"Kau—" Naruto menelisik wajah Sasuke yang terus menghindari bersitatap dengannya. Mata birunya membelalak, "JANGAN BILANG KAU MINTA SARAN DARINYA?!"

Sasuke mendelik mendengar teriakan Naruto, "Kau tidak perlu berteriak, Dobe."

Naruto mengatupkan bibir, berusaha menahan tawa. Kemudian dia menjadi serius saat Sasuke tampak diam.

"Kau sudah mengakuinya pada Hinata?"

"Belum.." Sasuke mendesah, dia ingin mengakuinya tetapi dia takut. Takut akan penolakan.

Bugh!

"Naruto..." Sasuke mendelik pada Naruto yang baru saja memukul bahunya. Namun, ia terpana saat Naruto menatapnya dalam-dalam.

"Sasuke, kalau kau memang mencintainya, katakan segera, kalau dia menerimamu itu berarti dia memang mencintaimu. Hinata adalah gadis paling jujur selama aku mengetahuinya. Tapi, jika dia menolakmu, jangan bersedih, kau bisa meminta orochimaru membuatkan ramuan pemikat.."

Sejak kapan Orochimaru beralih profesi jadi dukun?

Sasuke menatap Naruto yang tengah menerawang. Dia yang dulu selalu ditolak mentah-mentah oleh Sakura, kini justru bisa memilikinya berkat semangat 45 Naruto yang tak pudar mengejarnya. Ah, dia pasti bisa lebih dari itu. Tampang, oke. Harta, okelah, warisan dari orangtuanya banyak. Badan, apalagi proporsional. Tinggi dan sixpack.

Semangat Sasuke kembali, senyumnya naik 2 senti. Dia beranjak, "Ayo. Kutraktir ramen.."

YOSHAA !!

.

Pegal. Mungkin itu yang dirasakan sepasang kaki yang berlutut ke belakang. Namun, seorang Uchiha tidak mungkin mengeluhkan hal itu. Apalagi didepan pria yang akan menjadi calon mertuanya. Meskipun sudah hampir 2 jam dia di posisi tersebut, ia masih akan tetap tabah demi Hinata-nya.

Hiashi yang mulai tampak tua dengan rambut memutih sibuk menyesap teh hijaunya.

"Jadi kau suka putriku?"

103. Pertanyaan ke 103 yang harus Sasuke jawab dengan lantang.

"Ya, Hyuuga-san. Sekali lagi aku memang mencintai putri Anda." Sejujurnya, ia dongkol. Ingin rasanya dia mengirim Hiashi ke dimensi manapun atau sekiranya meminta bantuan Ino untuk memanipulasi pikiran pria itu.

"Hm.." Hiashi tampak berpikir. "Aku sangat mencintai putriku," ujarnya berterus terang.

Sasuke terdiam.

"Aku tidak ingin dia terluka," lanjut pria itu sambil menatap dalam mata Sasuke. "Tolong rambutmu itu singkirkan. Kau mengingatkanku pada Madara." Keluh Hiashi sebal. Ingin rasanya ia menguncir rambut pemuda itu kebelakang. Memangnya dia tidak bisa mengikuti gaya rambut Itachi atau Obito saja begitu?

Sebenarnya, dia ingin menolak. Tapi saat tahu sesuatu yang mengejutkan dari Neji tentang perasaan Hinata pada Sasuke atau tentang Sasuke yang tiap malam selalu berada diatap Hyuuga Compound. Atau mungkin juga soal Sasuke yang memesan ramuan pemikat pada Orochimaru.

Orochimaru beneran dukun? Apa dia bisa membuat ramuan awet muda? Hiashi tipe yang menolak tua sebenarnya.

Lagipula, Hinata terus-terusan menolak rencana perjodohannya dengan para bangsawan di berbagai desa. Padahal dia mau segera menimang cucu. Neji tidak bisa diandalkan. Pemuda itu juga menolak untuk menikah sebelum Hinata menikah. Padahal Hiashi sudah melepaskannya dari tanggung jawab menjaga Hinata.

Sasuke semakin kesal, Pria didepannya malah melamun.

"Aku mau cucu perempuan..."

"Hah?"

Hiashi mendelik mendengar jawaban Sasuke yang Cuma sebatas Hah.

"Semua kembali pada Hinata apa dia mau atau tidak menikah denganmu," dengusnya. "Kalau dia mau, ya sudah..."

Ko kayak yang tidak rela?

"Hanabi, panggil Hinata." Titahnya pada Hanabi yang sebenarnya sedang mencuri dengar pembicaraan Hiashi dan Sasuke dari balik pintu ruang tamu.

"N- Ne!" gadis itu lantas meluncur menuju ruangan dimana sang Kakak tengah berlatih dengan Neji.

Sasuke merasa percaya diri, dia yakin Hinata akan menerimanya. Entah kenapa. Tangannya mengepal dengan senyum yang mengurva. Hiashi bisa melihat raut bahagia di wajah stoic pemuda itu.

Tak lama, Hinata muncul. Neji berdiri di belakangnya, membungkuk hormat pada Hiashi. Sasuke tidak berani menghadap ke belakang. Ia bahkan menahan nafasnya selama beberapa detik.

"Ne, Otou-sama.."

"Uchiha-san hendak meminangmu, apa kau menerimanya?"

Hembusan semilir angin dari jendela membuat udara sedikit dingin. Bisa Sasuke dengar bisikan, 'Jangan terima, Hinata' atau 'Tolak, Hinata-sama. Berbahaya jika kau menerimanya!' dan juga 'Terima saja Nee-sama, Uchiha-san punya banyak warisan'

Oke, yang terakhir membuatnya tersenyum meskipun sangat matrealistis. Tak masalah. Akan dia berikan apapun pada Hinata-nya.

Hinata memandang punggung yang membelakanginya. Ia mengerjap perlahan, ada sedikit air di sudut matanya. Ia tersenyum lebar.

"Ya, Otou-sama."

"Iya apa? Iya kau menolaknya, kan?"

Oy! Mata Sasuke membola. Masa gitu, sih?!

"A- Aku menerimanya, Otou-sama." Hinata semakin gugup. Jawabannya membuat dua pasang mata mendelik. Tapi, kan dia juga mau menikah, sama orang yang mencintai dan dicintainya!

"Apa kau sedang berada dibawah ancaman, Hinata? Uchiha ini lebih suka daging dibanding sayuran, lho."

Sasuke menyipitkan mata, menatap Hiashi yang membuang muka.

"Tidak," Kali ini Hinata benar-benar tegas mengatakan, membuat Sasuke semakin berbunga. Neji mengela nafas. Hiashi-pun.

"Baiklah." Hiashi merengut. Ia gagal menggagalkan lamaran Sasuke. Harusnya dia menyuruh Neji saja melakukan Henge menjadi Hinata.

Sasuke tersenyum lebar. Dalam hati sudah menjerit puas.

"Kau," ia langsung menatap tajam Sasuke yang tak berhenti tersenyum. Ia bergidik ngeri sendiri. "Bawa walimu padaku untuk menentukan tanggal pernikahan."

Hiashi berdiri, "Jangan sampai melukai putriku. Jika aku tahu dia terluka, kau akan menerima resikonya." Imajiner dua katana yang saling bersilang dengan geledar petir menyambar membuat ancaman Hiashi semakin menyeramkan.

Sasuke berdiri, "Tenang saja, Hyuuga-san. Kupastikan Hinata akan bahagia. Dan kau ingin cucu perempuankan?" seringai kecil membuat Hiashi berdecih.

.

Hari pernikahan tiba. Sasuke tampak rupawan dengan pakaian tradisional Konoha. Hinata jadi semakin cantik dengan gaun kimono bermotif lavender.

Banyak orang yang mengeluhkan kenapa Hinata harus bersanding dengan Sasuke. Menyalahkan Hiashi dan mengatakan bahwa pria itu telah membuat keputusan yang salah. Menjerumuskan gadis polos itu ke Neraka. Atau yang lebih bar-bar, sudah menjual Hinata.

Sepertinya, tidak dimana-mana Sasuke selalu jadi korban rasisme. Salahkan tampang judes dan jarang tersenyumnya yang membuatnya selalu tampak jahat dimanapun.

Sasuke memandang Hinata yang berdiri disebelahnya, gadis itu menoleh. Ia segera menunduk dengan wajah memerah.

Pemuda 28 tahun tersenyum, wajah memerah yang dulu selalu tertuju pada Naruto kini ditujukan untuknya.

Ia menepuk surai Hinata, membuat gadis itu kembali memandangnya. Sasuke tersenyum manis.

"Terima kasih, Hinata-chan."

Wajah Hinata semakin memerah. Matanya berair, ia menunduk. Tangannya meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya pelan.

"Aku... terima kasih.."

Sasuke diam.

Hinata benar-benar menggemaskan, ya?

"Hinata,"

"Ya?"

"Mau ke kamar sekarang?"

WOY!

-- END --

Ya, ini fiksi ya wkwkwk