Tegami

Diamond no Ace by Yuji Terajima

Miyuki menemukan sebuah surat bewarna coklat tua yang tampak lusuh. Tak ada pengirimnya namun surat tersebut ditujukan kepadanya. #MiyukiDay #17November

.

*Terinspirasi dari lagu Tegami - Angela Aki

-SELAMAT MEMBACA-


"Akhirnya sampai juga," Miyuki menatap bangunan didepannya. Cukup tua dan tampak tak terurus, namun itu tak menghentikan kakinya untuk bergerak menuju bangunan itu. Disekitarnya terdapat banyak sekali tanaman liar yang tumbuh ditanah gersang, merambat melalui dinding-dinding hingga menuju pintu; mengharuskan Miyuki untuk menyingkirkan beberapa agar dapat mendorong pintu tersebut, membuatnya dapat masuk kedalam bangunan tua itu.

Hal yang ditangkap Miyuki saat memasuki bangunan tersebut adalah kegelapan. Tak ada cahaya ataupun suara, tapi masih terdapat sisa-sisa kehidupan yang menyambutnya. Hanya sedikit.

Melepas sepasang sepatu kets hitam polos yang terpasang dikedua kakinya, lalu meletakkannya ke rak sepatu yang berada disampingnya sebelum melangkah lebih jauh. Netra karamelnya menatap sekeliling. Tak ada seorang pun selain dirinya disana, mungkin ada beberapa serangga yang merayap dan terbang kesana kemari, namun hal itu semakin memperjelas Miyuki bahwa hanya dirinya seorang yang berada didalam bangunan itu.

Ada banyak foto yang terpajang didinding. Kebanyakan dari mereka berupa foto sebuah keluarga yang bahagia. Senyum yang terpatri dimasing-masing rupa memperlihatkan bahwa mereka merupakan keluarga yang harmonis, yang selalu dipenuhi dengan senyuman didalam hidupnya.

Tangannya ia bawa untuk menyentuh salah satu foto itu, mengusapnya dengan hati-hati, takut timbul sebuah goresan maupun sobekan disana. Dengan rasa kerinduan yang mendalam dapat terlihat jelas dari binar matanya. Foto itu adalah foto tua. Ada seorang pria, wanita, dan jangan lupakan bayi yang dibungkus menggunakan kain putih tertidur digendongan wanita itu.

Latar belakang pada foto adalah sebuah taman yang Miyuki ingat merupakan taman bermain yang sering dikunjunginya dulu. Dulu taman didaerahnya merupakan tempat yang penuh dengan anak-anak khususnya yang sedang dalam masa hiperaktifnya; itu seperti taman pada umumnya. Namun semakin Miyuki tumbuh dewasa, ia sudah tidak bermain ditaman itu lagi. Sesekali berkunjung, tapi tak sesering sebelumnya.

Dan entah karena apa, taman itu ditutup. Penutupan taman itu menimbulkan banyak protes dari orang-orang khususnya ibu-ibu yang mempunyai anak dirumah. Dan sekarang apabila Miyuki ingin mengunjungi taman itu kembali, kini hanya tersisa pohon sakura tumbuh yang dapat dilihat.

Mungkin aku akan mengunjunginya nanti, pikir Miyuki dalam hati.

Kakinya berjalan menaiki tangga kayu. Tangga itu sudah hampir rapuh, yang apabila dia melangkah satu anak tangga akan menimbulkan suara-suara yang terdengar mengerikan. Miyuki tak memperdulikan hal semacam itu, ia tetap berjalan dengan santai. Sesekali memandangi coretan di sepanjang dinding yang sudah mengelupas, terlihat pudar namun cukup jelas untuk diketahui jenis apa gambar itu. Kenapa gambar ini masih ada disini? Ia menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kayu yang bertuliskan nama 'Kazuya' disana.

Tangan kanannya ia bawa untuk memutar gagang pintu lalu membukanya secara perlahan, sedikit kesulitan dikarenakan pintu ruangan itu jarang sekali dibuka. Seekor tikus keluar melewatinya menyebabkan Miyuki tersentak jijik. Tikus adalah hewan kedua yang paling dia benci setelah kecoa. Tiap kali Miyuki bertemu dengan mereka, dia akan menahan jeritannya di dalam hati. Tapi dia tidak pernah menunjukkan rasa takutnya kepada yang lainnya, berpikir dia akan ditertawakan apabila melakukannya.

Ruangan didalamnya membuat Miyuki terkesima. Angin yang berhembus dari balik jendela yang terbuka, mengakibatkan tirai putih berkibar dengan lembut, menyajikan sejuknya udara yang dapat Miyuki nikmati.. Jangan lupa cahaya yang berasal dari matahari membuat siluet yang indah dengan semburat oranye. Jika Miyuki merupakan seorang seniman, sudah pasti dirinya akan mengabdikan pemandangan ini sebagai obyek menggambarnya.

Ia mulai berkeliling mengelilingi ruangan. Segalanya berantakan dan tak terurus, debu-debu menempel pada setiap benda. Ada sebuah ranjang kecil yang tampak nyaman dengan laci kecil disampingnya, bergerak beberapa langkah akan bertemu dengan lemari yang memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan cermin yang menampakkan Miyuki disana.

Dibukanya lemari itu, "Uhuk uhuk," Miyuki terbatuk hebat akibat debu yang timbul. Sambil menetralkan pernafasannya, netranya menatap potongan kain yang ada didalam lemari tersebut.

Pakaian-pakaian lama yang tampak lusuh menciptakan rasa nostalgia. Merah, kuning, dan hijau; seolah penggambaran lagu anak-anak yang diketahuinya, terlipat rapi disana. Ia meraih salah satu kaos merah dan mengangkatnya. Terdapat beberapa robekan disetiap sisinya yang pasti membuat seseorang terlihat seperti gelandangan apabila memakainya. Namun tersimpan banyak kenangan yang dapat diingat disana.

Ia melipatnya kembali dan memasukan ke tempat semula, menutup lemari kayu tersebut tanpa meninggalkan celah. Kali ini Miyuki memilih untuk mencari tahu apa yang ada didalam laci disamping tempat tidur. Laci itu sangat kecil dan tak ada apapun diatasnya. Ia membuka laci tersebut dan tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah surat dengan pembungkus bewarna coklat tua yang tampak lusuh.

Warnanya tampak pudar layaknya gambar yang didinding sebelumnya ketika menuju kemari. Dan tampilannya yang terdapat robekan seperti yang ditemukannya dilemari. Miyuki tidak tahu surat siapakah itu -dan yang terpenting untuk siapa?

Membalikkan surat itu dan menemukan tulisan Untuk Miyuki Kazuya yang tertulis rapi di sisi atas kertas. Mengangkat satu alisnya bingung. Pasalnya seingat Miyuki tak ada seorang pun yang dekat dengannya disini semenjak orang tuanya meninggal. Bahkan ketika dirinya melanjutkan karir baseballnya sebagai Pro, tak ada siapapun yang mengetahui tempat tinggalnya –Miyuki terlalu tertutup untuk memberitahu hal semacam itu.

Lantas siapakah yang meninggalkan surat ini disini?

Tak ingin mengambil pusing, Miyuki membuka surat itu dengan hati-hati, takut akan robek sehingga tak dapat dibaca. Diambilkannya kertas putih yang terlipat didalamnya, sedangkan untuk sampul surat dia letakkan diatas laci.

Matanya menatap penasaran sekaligus takut pada apa yang ada dalam tulisan. Ini adalah surat yang dikirimkan untuknya namun pengirimnya pun tidak diketahui. Kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini membuat dirinya cemas, sehingga terciptalah rasa enggan untuk membacanya. Tapi seperti biasa presentase penasaran mengalahkan presentase dari rasa takutnya.

Ia membuka lipatan pada kertas dan mulai menelusuri tulisan yang ada. Tulisan itu sendiri tersusun cukup rapi, tak berantakan, dan mudah untuk dibaca. Rasa familiar membuatnya aneh.

Akhirnya dia membaca kalimat pertama yang tertulis disana.

Hai, kamu yang sedang membaca surat ini. Dimana dan apa yang sedang kau lakukan?

Miyuki bingung. Jika pengirim ingin mengetahui hal apa yang dilakukannya bukankah lebih baik dia mendatanginya langsung dan mengobrol bersama? Jika seperti ini, bagaimana dia akan menjawab?

Lanjut dikalimat berikutnya. Masih dengan tulisan yang sama namun pengertiannya berbeda –tentu saja_-

Kau mungkin bingung siapa aku ini.

"Iya, aku bingung siapa kau yang tiba-tiba menaruh sebuah surat dirumah lamaku."

Kau tidak tahu? Hahaha sepertinya kau sudah menjadi kakek tua saat membaca ini. Berapa usiamu, kakek?

Tangannya memegang surat itu dengan sangat erat. Ingin sekali dia menghajar orang yang menulis surat ini. Lagipula jika dilihat dari penampilan, bukankah Miyuki tak terlihat seperti orang tua walau hampir menginjak usia 30 tahun? Setiap kali dia berpergian, Miyuki akan selalu dikelilingi oleh para kaum hawa yang menyebabkan jeweran pada telinga dari sang kekasih. Bahkan saat ini pun telinganya masih mempunyai bekas kemerahan yang cukup jelas. Miyuki merinding mengingatnya, namun berganti menjadi amarah ketika menyadari surat yang sedang dipegangnya.

"Bukankah menyebutkan namamu akan lebih baik dibandingkan harus menulis sesuatu yang dapat menyebabkan orang darah tinggi seperti ini?" Kata Miyuki tak tahu diri.

Aku akan memberitahumu namaku. Aku Miyuki Kazuya diumur 15 tahun.

Miyuki mengangkat alis.

Mungkin kau sudah lupa dengan ini, atau mungkin yang membaca surat ini adalah orang lain mengingat betapa pelupanya kau ini.

"Hei hei, apa kau mengejek masa depanmu sendiri? Dasar bocah." Sekarang Miyuki menyadari perasaan yang dirasakan orang lain ketika berbicara dengan dirinya. Rasanya seperti ingin memukuli seseorang. Ia mendesah kasar, berusaha untuk mengendalikan ketenangannya dan kembali fokus membaca. Lagipula yang menulisnya adalah dirinya 15 tahun lalu, jadi kekesalan macam apa yang dirasakan itu adalah perbuatannya sendiri.

Jadi aku tak peduli siapa yang membaca surat ini. Aku hanya ingin melampiaskan perasaanku kedalam kertas karena itulah satu-satunya pilihan.

Di sini, banyak hal yang mengecewakan sekaligus membuatku marah akan takdir. Kecelakaan dibulan Desember merupakan salah satunya.

Deg. Nafasnya tercekat membaca kalimat tersebut. Pada bulan Desember dengan putihnya salju, namun tiba-tiba dinodai dengan warna merah darah yang mengalir. Suara tangisan anak kecil yang sibuk membangunkan ibunya yang sudah mati. Miyuki mengingat semua yang ada didalam memori nya.

Segala ingatan yang dikuburnya dalam-dalam, mimpi buruk yang datang tiap malam, dan ketakutan terbesarnya. Keterpurukan terbesar yang pernah Miyuki alami. Tak ada yang lebih buruk dari ingatan itu. Diingatkan kembali membuat Miyuki berdebar-debar, bukan karena kekasihnya mengatakan 'Aku mencintaimu' atau memujinya dipertandingan. Bukan semacam itu. Ini adalah….semacam trauma.

Ia menghirup udara disekitarnya lalu mengeluarkannya secara perlahan. Mengulangi hal itu beberapa kali untuk menjaga ketenangan. Mata merahnya mulai mengalihkan perhatian pada surat yang dibawanya kembali.

Aku tahu itu membawa ingatan buruk yang sudah kau simpan. Namun aku takkan menceritakan sampai disini saja, ada banyak hal yang ingin kusampaikan.

Dan untuk bulan Desember tadi, aku akan membantumu mengingat semuanya. Kau dapat mengatakan bahwa aku adalah seorang penjahat yang kejam. Jika kau tidak suka dengan sikapku ini, kau bisa meletakkan surat ini kembali ke laci dan melupakan segalanya.

Tapi ingatlah bahwa aku adalah dirimu dimasa lalu.

"Mana mungkin aku akan meletakkan surat ini kembali ketika rasa penasaran semakin meninggi?"

Jadi kau lebih memilih untuk membacanya lagi?Terima kasih, aku senang.

Dan seperti yang aku tulis sebelumnya, aku akan menceritakannya.

Jadi, satu hari sebelum natal adalah awal dari segalanya. Ayah menyetir dengan keadaan mabuk dan ibu mencoba untuk menghentikannya. Alhasil mobil bergerak tak terkendali sehingga truk besar menabrak kami. Itu terjadi begitu singkat, bahkan aku tak dapat membayangkan bahwa ayah dan ibu akan meninggal tepat dihadapan mata. Didepanku, namun aku tak bisa menolong mereka.

Dia amat sangat teringat akan kejadian itu. Apa yang diucapkan dirinya yang dulu bukanlah suatu kesalahan. Orang tuanya mati dihadapannya, tapi yang bisa dia lakukan hanyalah menangis keras tanpa usaha untuk meminta bantuan dari rumah sakit terdekat.

Dan setelah pemakaman ibu dan ayah, keluarga terdekat mulai datang untuk berdiskusi mengenai siapa yang akan mengasuhku. Diantara banyaknya keluarga besar yang datang, tidak ada satupun orang yang merawatku, bahkan bibi Keiko mengatakan bahwa aku sudah dewasa dan tidak membutuhkan pengasuh lagi.

Bibi Keiko adalah bibi yang disukai oleh Miyuki. Setidaknya itu dulu. Sekarang hubungan mereka memburuk semenjak kematian ayah dan ibunya. Ternyata selama ini bibi Keiko mengincar harta dari ibu Miyuki atau dapat disebut kakaknya iparnya sendiri. Namun dengan cepat ditolak oleh Miyuki mengingat betapa pentingnya harta itu, cincin emas yang merupakan hadiah dari sang ayah. Miyuki takkan memberikan benda semacam itu kepada orang lain, walau dia merupakan saudaranya sendiri.

Akhirnya hubungan mereka terputus sesudah bibi Keiko mengomel kepadanya untuk pertama dan yang terakhir. Miyuki tak tahu harus kecewa ataupun senang. Setidaknya dia bisa menyaksikan sifat asli yang keluar dari bibi nya itu.

Akhirnya nenek dan kakek lah yang mengambil alih asuhku. Kupikir dengan iu hidupku akan tenang dan dapat keluar dari semua keterpurukan ini. Namun realita tak sesuai ekspetasi.

Semuanya mulai menunjukkan sifat asli mereka.

Ia menganggukkan kepalanya, dia mengetahui dengan sangat jelas bagaimana perasaannya pada saat itu. Dengan ditinggalnya orang tua dan diasuh oleh saudara yang dikiranya baik, justru diperlakukan dengan buruk. Miyuki ingat ada sewaktu-waktu dirinya tidak diperbolehkan ikut makan malam padahal perutnya sudah tak terisi sejak pagi. Alhasil Miyuki pun memutuskan untuk pindah sekolah di Seidou Hinghschool, sekolah yang menawarinya beasiswa dulu.

Pada awalnya keputusan tiba-tiba itu ditentang oleh kakeknya yang berkata bahwa sekolah yang sekarang lebih baik. SMA Rikyousei juga merupakan sekolah yang mempunyai peringkat tertinggi dalam bidang pendidikan. Tim baseball yang pun tidak dapat diremehkan, mereka sangat kuat dengan bentuk posisi pertahanan yang dipimpin oleh Ace mereka.

Namun, semua hal itu tidak menarik perhatian Miyuki. Seiringnya berjalannya waktu segala hal semakin membosankan. Mencoba hal terbaru merupakan sebuah pilihan. Dan Seidou merupakan tempat yang tepat untuk itu.

Tapi apakah Miyuki Kazuya yang ini sudah memutuskan untuk ke Seidou?

Diriku ini kecewa, ingin menangis apabila merasakan betapa kesepiannya aku ini. Tapi daku bisa apa? Meneteskan air mata hanya akan memperluas ejekan. Tak ada siapapun. Sendirian.

"Sendirian ya…"

Terima kasih telah membaca surat ini. Miyuki Kazuya di masa depan.

Ia berkedip melihat kertas putih yang kosong tanpa ada tinta hitam disana. Sudah selesai? Waktu berjalan terlalu cepat atau hanya Miyuki saja yang terlalu memakai emosinya disini?

Tapi Miyuki samar-samar dapat melihat dirinya diusia 15 tahun, dengan tubuh yang kecil sendirian berdiri diruangan gelap, meneriakkan tangisan permintaan tolong namun tak ada yang menjawab. Tak ada yang mengulurkan telapak tangan yang dapat Miyuki raih disana. Semuanya gelap dan menyedihkan.

"Huh merepotkan."

Tangannya bergerak merogoh bolpoin yang berada disaku celana. Mencoretkan beberapa kata pada kertas sebelumnya lalu melipatnya dengan rapi. Selanjutnya dia meninggalkan ruangan itu dengan senyum berkembang diwajahnya.

Terima kasih atas suratnya

Dan ada beberapa hal yang ingin kusampaikan kepadamu,

Miyuki Kazuya berusia 15 tahun

Apa tujuanmu dalam hidup ini?

Temukan itu dalam hatimu maka kamu akan menemukan jawabannya

Mengarungi badai di lautan masa muda tidaklah mudah

Namun teruslah berlayar menuju pantai masa depan dengan perahu kerja kerasmu

Putus asa, menangis, dan jangan kehilangan jati dirimu

Teruslah melangkah dan tetap percaya pada suara hatimu

Aku yang dewasa disini pun sering terjatuh dan terluka

Tapi itulah kehidupan

Jadi keputusan apapun yang kau buat,

tetaplah bahagia.

-End-