Summary: Dazai yang takut cahaya, menyembunyikan dirinya dalam gelap. Gelap yang cukup pekat untuk menjauhkan Odasaku dari niatan untuk masuk lebih jauh, dan mengeluarkannya.
Bungou Stray Dogs milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango
Ango duduk diam di depan komputer, jarinya berhenti mengetik karena tiba-tiba hanyut dalam lamunan.
Beberapa hari lalu adalah malam di mana Dazai secara mengejutkan menunjukkan sisi lain dirinya. Terlepas dari kedudukan sebagai eksekutif termuda Port Mafia, Dazai selalu bertingkah jenaka dan kekanakan selagi di bar. Namun, saat itu dia benar-benar menunjukkan ekspresi hampa.
'Semua yang kuinginkan untuk selamanya ada, pasti langsung lenyap dalam sekejap mata.'
Apakah itu berarti, bukan hanya Ango yang jatuh terlalu jauh dalam pertemanan mereka, tapi Dazai juga?
'Cukup Ango, jangan diteruskan.'
Dan ketika dia dengan jujur mengutarakan keinginannya untuk terus terhubung, apa kesungguhannya itu malah semakin menyakiti mereka? Ango tidak pernah benar-benar berteman sebelumnya. Dia tidak sadar suatu ikatan bisa serumit ini jadinya.
Bunyi ringtone panggilan masuk membuyarkan lamunan pria berkacamata itu. Diliriknya nomor yang terpampang di layar, lalu buru-buru diangkatnya meski sedikit ragu.
"Halo, Dazai-kun ...?"
Apa Dazai mau bilang bahwa dia sudah dikepung? Sekali pun Mori menjamin keamanannya, siapa yang bisa menghentikan pemuda itu ketika dia benar-benar niat?
"... Ango, tolong ..."
Suara Dazai putus-putus, seperti orang yang kehabisan napas setelah lari. Tetapi tidak ada bunyi langkah kaki berdurasi cepat, yang artinya Dazai tidak sedang di tengah kejaran.
"Tolong apa?"
Ango spontan bangkit dari tempat duduknya. Dazai terdengar begitu panik, yang itu sangat jarang terjadi, sampai dia tidak ingat apakah pernah.
"Beritahu aku lokasi persembunyian Ketua Mimic. Odasaku tidak mau dengar. Aku sedang ke tempat Bos, tapi ..."
Ango terbelalak, baru mengerti cara yang mungkin ditempuh Mori untuk melenyapkan Mimic dari Yokohama tanpa pengorbanan besar.
"Bos mungkin tidak akan mengirimkan bantuan, Dazai-kun."
"Eh?"
"Tadi pagi aku yang jadi moderator pertemuan Bos dengan Ketua Taneda ..." Ango tahu dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar ketika lawan bicaranya adalah Dazai.
"Begitu ..."
Lihat? Dia langsung mengerti situasinya hanya dengan informasi sesedikit itu. Ango menyebutkan sederet alamat yang diingatnya sebagai salah satu markas Mimic, lalu Dazai menutup telepon begitu saja.
"Dazai-kun, tunggu! Jangan bilang kau--"
Ango mengeplak dahi, sadar kalau suaranya tidak akan sampai ke Dazai. Dia menoleh sebentar ke komputer, menekan control S, lalu bergegas lari ke luar, mengabaikan tatapan heran beberapa rekannya ketika berpapasan.
"Odasaku!" pekik Dazai, yang sampai di lokasi duel tepat sebelum tembakan terakhir penyelesaian.
"Dazai ..." gumam Oda, tertegun kaget dengan kemunculan orang yang baru saja dia bicarakan.
"Pakaian itu, orang mafia, ya?" Gide mengarahkan moncong senjatanya kepada Dazai, yang tanpa gentar melangkah maju,
"Mundur, Dazai!" bentak Oda.
"Pada akhirnya kita tidak pernah saling mendengar dengan benar, 'kan, Odasaku?"
Ketika salah satu dari mereka berkeras untuk pergi, teriakan dari belakang tidak akan punya ruang untuk dituruti. Sampai saat ini selalu begitu.
Dazai berlari maju, menembakkan pelurunya nyaris tanpa jeda. Sepertinya targetnya bukan benar-benar untuk mengenai Gide, karena jelas saja menembak sambil berlari itu akurasinya sampah, kalau skill yang dimiliki sejak awal sudah pas-pasan.
Tep,
Dazai menggapai lengan Gide, bertaruh kalau-kalau pistol si Ketua Mimic lebih dulu bicara. Namun, sepertinya Gide cukup kaget dengan tindakan--setengah putus asa--Dazai, sehingga spontanitasnya menurun.
Dor!
Penyelesaiannya dilakukan oleh Ango, yang tahu-tahu sudah berdiri beberapa langkah di belakang Oda. Kontak fisik yang dilakukan Dazai melenyapkan kemampuan Gide, sehingga tembakan Ango sama sekali gagal dia prediksi.
"Ups, nyaris saja, waktunya pas ya, Ango." Dazai melepaskan tangan Gide, menatap tanpa ekspresi pria yang sedang terbelalak pada kematian itu. "Kau juga selamat ya, mati lebih dulu dariku," gumamnya muram. Membalikkan badan, eksekutif termuda itu berjalan lambat-lambat menghampiri rekan-rekannya.
"Dazai ..."
Odasaku merasakan kejanggalan dari ekspresi pemuda itu, yang kian rumit seiring langkahnya memangkas jarak. "Kenapa kalian ke sini ...?"
Kenapa bagian paling 'enak' nya malah secara curang diambil alih oleh mereka berdua?
Ango masih belum beranjak dari tempat awalnya menembak, dia berusaha menahan diri untuk tidak secara lancang maju dan berdiri di sebelah Oda, seolah mereka bertiga masih teman satu organisasi.
"Odasaku, selanjutnya kau akan bagaimana?" tanya Dazai dengan nada rendah.
Oda terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Lebih tepatnya, dia memang tidak punya jawaban. Balas dendam, lalu mati, hanya itu yang memenuhi isi kepalanya sejak menyaksikan anak-anak asuhnya meledak bersama bus, hingga tidak bisa dikenali lagi.
"Odasaku, kalau kau tidak tahu jawabannya, biar aku yang jawabkan untukmu, oke?"
"Huh?"
Dazai menghela napas, lalu mengangguk kecil. "Keluarlah dari Port Mafia. Sekarang tidak ada yang menghalangimu, kan?"
Oda mengeratkan kepalan tangannya. Benar juga, alasan dia bekerja pada mafia adalah untuk menghidupi anak-anak asuhnya, yang sekarang sudah tiada.
Tapi ...
"Dazai, bagaimana denganmu?"
Oda teringat pemikiran paling jujurnya di tengah duel melawan Gide. Soal penyesalannya karena tidak pernah mencoba menarik Dazai keluar dari gelap.
"Aku?" Dazai menunjuk dirinya sendiri dengan keterkejutan yang entah asli atau pura-pura.
"Apa kau akan tetap di sini? Tidak akan ada yang bisa mengisi kekosonganmu di dunia macam ini." Oda tidak ingin temannya terus mencari alasan hidup secara sia-sia. "Kau juga mengetahui itu, kan?" Dazai pasti tahu usahanya tidak akan mencapai hasil yang diinginkan, makanya setiap saat dia menunjukkan ekspresi lelah dan putus asa dalam tatapan Oda.
"Iya, aku tahu."
Rupa-rupanya Dazai pun tidak menyangkal.
Mori menyeretnya masuk dalam kegelapan Port Mafia dengan memamerkan pada anak 15 tahun itu cahaya 'kemanusiaan', yang muncul sepersekian detik sebelum kematian.
Dazai yang penasaran setuju untuk bergabung, dan melalui macam-macam neraka hanya untuk menonton dari dekat perihal kebobrokan manusia.
"Kalau kau sudah tahu, maka--! "
"Aku tidak bisa keluar," potong Dazai, sebelum Oda benar-benar menyelesaikan kalimatnya.
Cahaya kemanusiaan yang terlalu silau itu menakutkan bagi Dazai, yang melewati sekian tahun kehidupan dengan memikul julukan 'iblis'. Dia tidak menyukai Chuuya, yang terlalu sering menampilkan sisi manusianya secara naif. Dia iri pada rekannya itu, yang telah diakui sebagai manusia oleh orang lain. Bahkan Akutagawa yang dikiranya mirip dengannya, ternyata jauh lebih manusia dibanding Dazai sendiri.
"Dazai-kun, kalau kau mau ... aku bisa membantumu hidup di luar Port Mafia." Ango berkata dengan canggung. "Kau dan Odasaku-san, kalian bisa keluar dari Port Mafia dan hidup secara normal." Dengan begitu, mereka bertiga bisa menjadi teman lagi, seperti harapannya.
Dazai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak suka gagasan untuk membohongi mereka berdua, tetapi kalau terus begini, kedua orang itu pasti tidak akan berhenti berusaha menariknya ke luar, ke cahaya yang akan membakarnya.
"Odasaku ... anak-anak asuhmu itu, aku bukannya tidak terlibat dalam kematian mereka." Dazai memainkan nada bicaranya sehingga kedengaran begitu serius. "Aku memindahkan mereka ke 'tempat yang lebih aman' bukan? Apa kamu tahu bahwa itu sudah dalam rencana?"
"Maksudmu?"
"Aku dengan sengaja mengumpankan anak-anak itu pada Mimic. Aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Hentikan Dazai. Kebohonganmu kali ini terlalu memaksa." Oda mengepalkan tangannya.
Dazai tersenyum, tidak tampak seperti setuju untuk menutup mulutnya. "Odasaku punya prinsip untuk tidak membunuh, kan? Aku tidak menyangka itu tekad yang bisa hancur dengan mudah." Tawa pahit keluar dari mulutnya. "Jadinya tidak seru lagi. Odasaku akan hancur kalau tetap di sini, jadi pergilah."
"Kau melakukan itu semua cuma untuk mengujiku?" Oda bertanya dengan emosi ditahan.
"Iya." Dazai menjawab sederhana. "Sekarang mengerti, 'kan? Aku tidak akan pernah bisa ikut dengan kalian." Pemuda itu membalikkan badan dengan perasaan hampa. Dipungutnya mantel yang tadi jatuh karena berlari, lalu melangkah semakin jauh, meninggalkan kedua pria yang membeku di belakang.
Oda membuka pintu kantor agensi, menenteng map kertas berisi beberapa lembar berkas standar untuk melamar pekerjaan.
"Wah, ketemu lagi!" Ranpo melambai. "Kenapa kau bisa tidak mati? Prediksiku gagal jadinya, kan!"
Oda mengerjap. "Maaf ..."
"Ranpo," tegur Fukuzawa, tapi tidak mengatakan apa pun setelahnya begitu yang disebut namanya buru-buru merengut. Direktur Agensi itu beralih pada Oda, langsung teringat perkelahian kecil mereka sekian tahun silam. "Kau ... berubah, ya."
Dari yang awalnya pembunuh bayaran, jadi mafia rendahan, lalu dipromosikan oleh Ketua Taneda untuk bergabung dengan Agensi Detektif Bersenjata. Alur yang cukup rumit.
"Kenapa kau berhenti membunuh?" uji Fukuzawa.
"... Aku tidak yakin." Oda menampilkan ekspresi ragu. "Anak-anak yatim yang kuasuh, terbunuh gara-gara seseorang yang kuberi tahu jawabannya, ingin menguji alasanku itu. Rasanya ... aku jadi takut untuk menyuarakannya lagi."
Dia tidak ingin mengumbar pada siapa pun lagi, soal keinginannya menjadi penulis. Tentang pandangannya bahwa menulis tentang sebuah kehidupan tidak layak dilakukan oleh tangan yang digunakan untuk merenggut nyawa.
"Baiklah. Kau boleh mulai bekerja dengan sebulan masa percobaan. Kalau macam-macam, tahu sendiri konsekuensinya."
Oda mengangguk pelan. Dia sebenarnya punya banyak alternatif pekerjaan, mengingat skill-nya terlatih untuk bekerja serabutan. Hanya saja, ketika dia mengutarakan niat untuk membuka kedai kare atau jadi pelayan kafe, Ango menentang, dan malah menyeretnya menemui pejabat penting kementerian.
Lantai teratas markas Port Mafia, malam setelah pertempuran melawan Mimic berakhir. Eksekutif Port Mafia, Dazai Osamu, melenggang masuk begitu saja. Sepenuhnya abai pada empat penjaga yang secara spontan menodongkan senapan ke kepalanya.
"Bos,"
"Oh, Dazai-kun rupanya. Ada angin apa, jarang sekali kau berinisiatif datang tanpa disuruh?"
"Anda sungguh kshdjgzh"
"Jangan bikin password masuk Zoom, Dazai-kun."
"Itu maksudku sensor, lho, Mori-san."
Dazai duduk di sofa, berhadapan dengan Mori. Dituangnya teh ke cangkir kosong, dan menyesapnya sekali banyak.
"Ya ampun, hari yang melelahkan."
"Tapi bayarannya seimbang, kan," Mori melambaikan amplop hitam tebalnya kementrian. "Berkat ini semua kegiatan Port Mafia menjadi legal."
"Tapi bukan dengan cara mengorbankan anak-anak asuhnya Odasaku, Mori-san." Dazai mengisi cangkir lagi, kali ini untuk dia tuangkan isinya ke kepala Mori, yang sama sekali tidak protes.
"Ngomong-ngomong, Dazai-kun. Sakaguchi-kun memang punya jaminan untuk tidak disentuh. Tapi soal Oda-kun ..."
"Biarkan Odasaku bebas."
"Sepuluh misi sulit untuk bulan ini, oke?"
"Sepakat."
Usaha bunuh diri Dazai tidak berakhir, tentu saja. Suatu hari dia menghanyutkan diri di sungai, karena lompat ke laut sudah terlalu sering dihentikan anggota mafia lainnya.
Dia diselamatkan seorang pemuda berpenampilan berantakan, Nakajima Atsushi. Yang meski tak terurus sekalipun, tampak terlalu silau bagi Dazai.
Sedikit berbincang, dan Dazai langsung tahu soal kemampuan khusus Atsushi, yang orangnya sendiri belum sadar.
"Aku sarankan padamu untuk datang ke alamat ini." Dazai memberitahu alamat lengkap agensi. "Di sana, ada orang-orang yang bisa membantumu." Dia tahu sedikit soal kemampuan para anggota agensi, termasuk Fukuzawa Yukichi.
"Ke-kenapa aku malah harus ke sini?" Atsushi sungguh-sungguh ragu. Normalnya, perkataan orang yang baru menenggelamkan diri memang tidak bisa begitu saja dituruti.
"Sudah, percaya saja. Serahkan kertas ini pada mereka." Dazai menulis sedikit di kertas lusuh yang kebetulan dia pungut dari atas rumput. Agaknya kertas memo seseorang terbang oleh angin sampai ke tepi sungai. Dilipatnya kertas itu, lalu digenggamkan ke tangan Atsushi sambil tersenyum. "Kamunya jangan baca."
"Eeeh?!"
"Ayolah, percaya saja ~ "
"Kalau begitu, siapa namamu?" Atsushi merasa setidaknya dia harus mengantongi identitas, kalau-kalau sedang ditipu.
"Namaku Dazai, Dazai Osamu. Tapi ... rahasiakan itu, oke?"
Setelahnya, Dazai membalikkan badan dan pergi. Malam nanti ada rapat eksekutif. Yang sekalipun biasanya dia bolos, Mori kali ini menekankan agar dia datang.
"Baik ..."
Atsushi mengerutkan kening. Namun, daripada tidak ada tujuan, dia memilih untuk mengikuti instruksi Dazai. Kertas tersebut dia serahkan pada sekretaris berkacamata, yang memintanya untuk menunggu sebentar di ruang klien.
"Permisi, Shachou ... " Haruno mengetuk pintu. "Ada anak yang bilang dia dititipi kertas ini dari seseorang misterius."
"Ancaman lain untuk agensi, huh?" Fukuzawa menadahkan tangan, meminta agar kertas itu segera diserahkan padanya.
Anak ini adalah 'harimau pemakan manusia' yang baru-baru ini menghebohkan Yokohama. Dia anak baik, jadi besar kemungkinan kalian bisa memanfaatkannya dengan benar.
"Panggil anak itu ke sini ..."
Fukuzawa sudah tahu desas-desus tentang harimau itu, yang sore ini sedang diselidiki Kunikida. Siapa sangka mereka malah mendapat penyelesaian lebih cepat. Masalahnya ...
"Siapa yang menulis ini?" tanya Fukuzawa, menginterogasi Atsushi yang bingung bagaimana harus menjawab, sementara dia sudah diminta merahasiakan.
"A-aku tidak boleh bilang ..."
Oda masuk tiba-tiba, menggenggam stempel tanda tangan yang tadi siang dia pinjam. "Oh, ada tamu?" gumamnya, berkedip bingung karena jarang-jarang ada klien yang langsung menghadap Shachou.
"Oda, bisa kau lacak ini tulisan siapa?" Fukuzawa menunjukkan kertas tadi, tidak benar-benar berharap akan ada jawaban yang konkrit melihat sedikitnya petunjuk. Namun, bisa jadi Oda diam-diam punya kemampuan membaca kepribadian dari tulisan tangan.
Oda mengamati sejenak, lupa untuk mengembalikan stempel ke laci paling atas. "Ini ... Dazai?" gumamnya.
"Kok tahu?!" pekikan Atsushi mempertegas kebenarannya.
"Dazai Osamu?" Fukuzawa terperanjat, dia pernah mendengar nama itu disebut-sebut sebagai calon penerus bos Port Mafia. "Apa ini jebakan?"
"Kurasa tidak." Oda menggeleng. "Kalau memang dia ada niat menjebak, harusnya kita tidak akan menyadarinya secepat ini."
Fukuzawa menghela napas, agak lega. "Atsushi, kau pernah dengar nama 'Dazai Osamu' sebelumnya?"
Atsushi menggeleng kuat-kuat. "Aku baru sampai di Yokohama ini ..."
"Sebelumnya dari mana?"
"Diusir panti asuhan ..."
"Di mana kamu bertemu dengan Dazai?"
"Aku melihatnya hanyut di sungai, lalu menolongnya. Katanya dia sedang ..."
"Usaha bunuh diri." Oda melanjutkan kalimat yang terlalu canggung untuk diselesaikan Atsushi. Mengerjap karena sendirinya kaget, Oda menutup mulutnya buru-buru dengan telapak tangan.
"Kalian dulunya teman, ya?" tanggap Fukuzawa, menilai seberapa tepat dugaan Oda dari reaksi jujur Atsushi..
"Bukan teman pun, hobi bunuh diri Dazai sudah jadi rahasia umum." Oda mengangkat bahu. Sampai sekarang, dia tidak pernah tahu bagaimana harus menganggap Dazai, setelah pengakuan ringan anak itu tentang keterlibatannya dalam insiden bus.
"Kunikida, ada panggilan entah dari siapa ..." Yosano memegang gagang telepon dengan kening berkerut. "Dia minta anggota agensi untuk datang segera ke lokasi 0864 pelabuhan. Kode apa itu?"
"Apa, ya?" Kunikida membolak-balik buku catatannya.
"Aku agak khawatir karena bukannya Tanizaki bersaudara dan si anak baru sedang menyelidiki ke sekitar pelabuhan?" gumam sang dokter agensi.
"0864 ...?" Oda merasa familiar dengan deretan angka barusan. "Aku tahu tempatnya." Bangkit dari kursinya, Oda buru-buru pergi.
Port Mafia menamai tiap lokasi sekitar pelabuhan dengan kode tertentu, untuk mempermudah pertemuan rahasia dan urusan pekerjaan lain. Bahkan setelah empat tahun minggat, Oda masih ingat ketentuannya.
Sampai di lokasi, situasi yang ditemuinya cukup parah. Tanizaki dan Naomi yang berlumuran darah, serta Atsushi yang menelungkup dengan celana robek hingga lutut. Sementara itu, Dazai menyandar ke dinding sambil bersenandung pelan.
"Apa-apaan ini?!" Oda menghampiri mereka buru-buru, memeriksa seberapa parah luka rekan-rekannya.
"Tenang saja, dengan dokter super kalian, harusnya nyawa mereka semua bisa terselamatkan." Dazai berkomentar. "Lama tak bertemu ya, Odasaku. Apa kabar?"
"Kau yang melakukan ini semua, Dazai?" Oda mengacuhkan sapaan pembuka, serta ekspresi kecewa Dazai setelahnya.
"Akutagawa-kun, lebih tepatnya. Dia masih saja terlalu bersemangat seperti biasa."
"Apa yang kalian inginkan?"
"Hmm, rapat kemarin membahas tentang target baru Port Mafia, harimau pemakan manusia." Dazai menuturkan, "... yang tampaknya akan memicu perang tiga penjuru."
Waktu itu, Oda sama sekali tidak mengerti mengapa perebutan Atsushi bisa memicu pertempuran pada skala yang lebih besar. Baru ketika seisi kota kacau oleh kutukan Q, dia teringat kembali dengan prediksi Dazai.
"Oda-san, Dazai-san yang baru saja menetralkan kutukannya," lapor Atsushi kala dipapah Oda setelah terjun dari Moby Dick.
"Hm, kerja bagus untuk membawa turun bonekanya." Oda mengacak pelan rambut Atsushi.
"Gimana kalau agensi bekerja sama dengan Port Mafia? Kurasa ... mereka tidak sepenuhnya orang-orang jahat."
Oda membeku sesaat. Ide itu di luar perkiraannya. Dia belum siap untuk bertemu lagi dengan bos, atau Dazai. Mereka yang mengorbankan anak-anak tak berdosa hanya untuk mencapai keinginan tertentu. Mereka yang mempermainkannya dan Ango seperti boneka tali. Mereka yang ...
"Oda, untuk mengatur pertemuannya, kuserahkan padamu."
Suara tegas Fukuzawa yang tidak menawarkan celah untuk mengelak, membuatnya tidak punya pilihan lain.
"Haai, Odasaku, ada apa meneleponku? Bikin kaget lho, kepiting kalengku hampir jatuh!"
"... Kami ingin mengadakan pertemuan antar pimpinan organisasi." Oda hampir saja kelepasan mengomentari gaya hidup tidak sehat Dazai.
"Oke deh, ntar kusampaikan ke bos ~"
"Kutunggu jawabannya."
Oda buru-buru menutup panggilan, sebelum Dazai mengoceh panjang lebar, yang akan membuatnya kembali ingat tentang seberapa kekanakannya si lawan bicara. Tentang seberapa banyak Oda tidak bisa benar-benar membencinya.
Lima detik kemudian, Dazai menghubunginya balik.
"Taman Yokohama, besok, jam sepuluh pagi. Masing-masing membawa tiga anggota." Berbeda jauh dengan sebelumnya, Dazai kali ini bicara serius tanpa rona ceria.
Bagaimana pun, jeda yang terlalu singkat ini membuat Oda berspekulasi pada dua kemungkinan. Antara Dazai dan Mori sudah mendiskusikan masalah ini bahkan sebelum Atsushi kepikiran, atau kedua orang itu memang baru saja bertelepati.
Terlepas dari yang mana pun itu, Oda segera menyampaikan jawaban tersebut pada Fukuzawa, yang kemudian menunjuknya sebagai salah satu dari anggota pertemuan, bersama Tanizaki dan Kunikida.
Awalnya Oda mengira Dazai akan ikut dalam pertemuan tersebut, tapi nyatanya tidak. Yang datang bersama Mori adalah trio Black Lizard. Entah kenapa ini membuatnya sedikit lebih rileks.
Perundingan berjalan dengan menegangkan. Kesimpulannya adalah agar mereka untuk sementara tidak saling serang, agar bisa fokus kepada Guild.
"Oda-kun," panggil Mori di ujung pertemuan. "Aku tidak tahu Dazai-kun mengatakan apa padamu, tapi dia sama sekali tidak terlibat dalam rencana melawan Mimic, lho."
Oda menegakkan kepalanya, menciptakan senyum tipis di bibir Mori melihat ekspresi yang dia tampilkan.
"Dazai-kun bahkan menyanggupi beberapa misi sulit sebagai pertukaran agar Port Mafia tidak mengejarmu."
Kata-kata Mori memaksa Oda untuk mengingat kembali ocehan menyedihkan Dazai, senja bertahun silam.
'Aku dengan sengaja mengumpankan anak-anak itu pada Mimic'
'Hentikan Dazai. Kebohonganmu kali ini terlalu memaksa.'
Ah ... Bukankah waktu itu Oda sudah sadar kalau Dazai hanya membual belaka? Namun, ketika Dazai lanjut bicara, luka hatinya semakin menganga dan membuatnya lupa fakta kecil itu. Bahwa Dazai tidak pernah menyangkal kalau yang sedang dia tuturkan hanyalah kebohongan semata.
Kalau diingat lagi, Dazai juga sampai menjatuhkan mantelnya saking terburu-buru. Orang yang mengkhawatirkan dirinya sedalam itu hampir tidak mungkin malah sengaja jadi dalang.
"Huh, apa yang kau lakukan malam-malam begini di kantor?" Ranpo menyembulkan kepala dari pintu, heran melihat Oda masih menekur di meja. Tampaknya tidak bergerak sedikitpun sejak terakhir dia lihat siang tadi, sepulang dari pertemuan.
"Kau juga kok balik?"
"Baru ingat ada wafer yang sisa setengah. Daripada buat semut, mending kujemput."
"Oh ..."
Ranpo menghampiri laci mejanya, meraba-raba bagian dalamnya, dan berhasil menemukan cemilan yang dia maksud. Pria itu melompat ke atas meja Oda, dan mulai mengunyah wafer sambil mengamat-amati ekspresi datar orang di hadapannya.
"Oda, ada yang ingin kau lakukan, bukan?"
"Hm, tapi hasil pertemuan tadi adalah tentang agensi dan mafia tidak boleh saling ganggu."
"Hee ~ tapi kau ingin ke sana." Ranpo menyimpulkan. Oda terdiam. "Atau, biar kukatakan, kau harus ke sana." Tangan yang belepotan cokelat itu Ranpo tepukkan ke kepala Oda. "Atau tidak akan ada kesempatan lain lagi."
Prediksi Ranpo seringnya tepat, itulah kenapa Oda jadi merinding dengan kalimatnya barusan, walaupun diucapkan begitu ringan.
"Aku pergi."
Pertempuran melawan Lovecraft baru saja berakhir. Ketika Oda sampai di sana, yang dilihatnya adalah lubang-lubang acak di tanah, dan gelimangan orang-orang bersenjata utuh.
Dazai duduk, mengatur napas dengan sebelah tangan patah dan darah mengalir dari kepala. Di depannya, Chuuya terbaring memejamkan mata, tampaknya tidak akan bangun untuk beberapa hari ke depan.
"Dazai!" Oda menghampiri pemuda itu, yang mengerjap kaget kala menangkap sosok detektif agensi tersebut.
"Odasaku ...? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menemuimu."
"Eh?"
"Sebelum itu, kalian baik-baik saja? Tampaknya tidak, yah." Oda menjawab sendiri pertanyaannya.
"Nah, agak sulit menyeret Chuuya dengan sebelah tangan." Dazai mengakui. "Mau telepon Hirotsu-san, bateraiku habis."
"... Boleh kubantu?"
Dazai tergelak kecil. "Ada apa, Odasaku? Tiba-tiba berubah perlakuan itu agak menakutkan."
"Apanya. Kau yang paling tahu cara berbohong itu lebih menakutkan."
"Sebenarnya, aku selalu ketakutan bahwa suatu hari kebohonganku itu tidak dipercaya lagi."
"Anggap hari itu telah datang, sekarang."
Dazai menghela napas. Lelah di wajahnya bertambah sekian kali lipat. "Kalau begitu bisakah kau pura-pura harinya itu besok saja, badanku sedang sakit semua. Odasaku."
Egois memang, karena Oda ingin bicara lebih banyak lagi sebenarnya. Namun, Dazai dengan sungguh-sungguh memilih bungkam.
"Aku ... tidak akan memaksamu lagi untuk ikut denganku."
Oda ingat alasan omong kosong Dazai waktu itu, adalah karena dia mulai bicara tentang meninggalkan dunia gelap.
"... Benar?"
Dazai menatapnya lekat-lekat dengan secercah harapan. Membuat Oda tercenung karena menyadari seberapa serius pemuda itu ketakutan terhadap gagasan tersebut.
"Daripada itu, ayo rawat luka kalian dulu."
Oda tidak berani menjanjikan, untuk tidak mengusik Dazai dengan topik tersebut. Jadi untuk sementara dia sepakat, untuk menunggu besok.
Besok dan besoknya lagi, mereka berdua sama-sama sibuk sendiri. Konfrontasi dengan Guild benar-benar menyita waktu.
Suatu hari di ujung pekan, Port Mafia dan Agensi Detektif Bersenjata sama-sama dihubungi oleh Divisi Khusus Pengawas. Atau lebih tepatnya, Ango menelepon Dazai dan Oda.
"Kami berhasil meretas komputer Guild dan mengetahui langkah selanjutnya yang akan mereka ambil!"
"Hee, bagus dong?" sorak Dazai.
"Mereka akan menjatuhkan Moby Dick di atas Yokohama sore ini!" Berita dari Ango sama sekali tidak santai.
"Apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya?!" sambar Oda, benar-benar tidak ingin membuang waktu.
"A-aku juga tidak punya gambaran!" Ango sama paniknya. "Dazai-kun, kamu ada?"
Dazai tertawa renyah setelah diam selama 3 detik. "Apakah kalian berpikir aku tidak punya?"
Detik itu pula, kedua pria lainnya menghela napas lega. Dazai masih tetaplah Dazai. Eksekutif Jenius Port Mafia yang tidak perlu diragukan isi kepalanya.
"Tapi ... dalam solusi ini, akan ada yang mati."
Sorakan tanpa suara Oda dan Ango kontan saja jadi sirna. Dalam hati yang mendadak jadi mencelos, mereka merutuki Dazai yang tidak bisakah menyampaikan kabar baik itu jangan selisih satu detik dengan berita buruk?
Bersambung ~ (mungkin)
Sebenarnya ini ditulis untuk day 1 BSD Angst Week beberapa bulan lalu. Terinspirasi dari kata-kata Dan, 'Bagi Yozo, kemanusiaan adalah cahaya terang yang membakarnya. Meskipun tahu akan terbakar, tetapi dia terus berusaha menggapai cahaya itu.'
(kira-kira artinya begitu?)
Ketika mencari file cerita lain, malah nemu ini, dan baru ingat ~
Belakangan aku terlalu banyak bikin WIP yak ...
