"Adore U"
.
Rate: T
.
Bwabwabwii
_
"Oh? Ini Yoon Jeonghan yang sok cantik itu kan?"
Bae Joohyun, mantan pacar Seungcheol. Jeonghan membalik tubuhnya, ia harus pergi dari tempat itu sekarang. Mendadak ia tidak ingin buang air kecil lagi.
"Mau kemana?" Tanya Joohyun menahan tangan Jeonghan. Jeonghan melepas tangan Joohyun tanpa membuka mulutnya, ia menyingkirkan rambut panjang yang menutupi pandangannya
"Gausah gangguin gue, gue ga ada perlu ya sama lo" kata Jeonghan menghindari kontak mata dengan Joohyun.
"Tatap kalo orang lagi ngomong, Yoon Jeonghan..! Mana sikap lo?!" Teriak Joohyun. Jeonghan masih diam di tempatnya. Joohyun berjalan mendekati Jeonghan, mengelus rambut panjangnya. "rambut lo bagus banget ya.."
Tiba-tiba Joohyun menarik rambut Jeonghan kasar dan menariknya ke toilet perempuan. "Lo pasti susah ngurusinnya kan? Sini gue bantu creambath-in rambut lo yang cantik ini..~"
"Joohyun! Joohyun lepas! Bae Joohyun lepasin gue!" Jeonghan berusaha melepas tangan Joohyun yang menarik rambutnya kasar. Ia rasa rambutnya banyak yang rontok.
Usaha Jeonghan sia-sia, dia selalu kalah jika dihadapi dengan perempuan. Orang tuanya selalu mendidik agar dirinya menghormati perempuan, tidak memperlakukan perempuan seenaknya. Itu yang membuat Jeonghan ragu untuk membalas Joohyun.
"Loh? Mana Jeonghan-hyung?" Tanya Wonwoo masuk ke kelas Seungkwan.
"Eoh hyung.. gatau, Jeonghan-hyung ke toilet tadi, belom balik.. hyung kesini sama siapa?" Tanya Seungkwan.
"Itu, sama Minghao sama Jihoon"
"Hai Seungkwan!" Sapa Minghao narik bangku buat duduk di deket Seungkwan. Jihoon sama wonwoo juga narik bangku di sekitar mereka.
"Muka lo bete banget Ji, napa?" Tanya Wonwoo. Jihoon menghela nafasnya berat. "Soonyoung" balasnya.
"Napa lagi tu hamster satu? Ga berhenti gangguin lo?" Tanya Wonwoo lagi. Jihoon mengangguk pelan. "Lah, bukannya lo suka sama dia dulu?"
Jihoon menggeleng, "Dianya ga suka sama gue nu, die cuma suka godain gue doang.. bete. Lagi juga gue udah lupain semuanya, gue ga mau nganggep si monyong crush gue lagi"
Seungkwan mengangguk menyetujui. "Dari pada ga ada kejelasan, mending tinggalin aja ya hyung.. boleh tuh"
"Samlekum Seungkwaaaan maen kuii.." ada yang dateng ke kelas Seungkwan.
"Hyung!"
Lee Seokmin, anak padus yang otaknya sejalan sama Seungkwan. Orangnya cerah banget dan easy going jadi gampang berbaur kemana-mana.
"Ayo karokean, Moonbin yang bayar" ajak Seokmin. Seungkwan tersenyum lebar, "Kui laah~ hyung-hyung, duluan yaa bai~" Seungkwan pergi dari sana berdua dengan Seokmin.
"Ye yang punya kelas balik.." kata Wonwoo.
"Sekarang kita ngapain?" Tanya Minghao.
"Eh iya! Jeonghan-hyung! Gue ga liat dia dari pagi" kata Jihoon.
"Aneh, ini hpnya Jeonghan-hyung ada di gue tapi ga ada orangnya.. ayo cari Jeonghan-hyung" ajak Wonwoo pergi ke luar kelas. Karena Seungkwan bilang kalau Jeonghan lagi ke toilet, mereka cari di semua toilet cowok yang ada di sekolah, namun nihil. Jeonghan tidak ada dimana-mana.
Mereka jalan ke loker Jeonghan dan buka lokernya. Terlihat ada banyak sampah kertas dan daun kering disana. Wonwoo, Jihoon, dan Minghao saling tatap.
"Joohyun"
Mereka berlari berkeliling sekolah mencari keberadaan Joohyun. Namun seperti dasi dan topi yang selalu hilang di hari senin, Joohyun tidak ada saat mereka cari.
Mereka berkumpul di lobby saat sudah selesai mengecek lokasi-lokasi tertentu di sekolah mereka.
"Ada tanda?" Tanya Jihoon. Dua orang lainnya menggeleng. "Cuma ada satu tempat yang belom kita cek.." Jihoon nunjuk pintu dibelakangnya.
"Toilet cewek?" Tanya Minghao.
"Gila lo! Ya kali gue masuk ke toilet cewek Ji!" Tolak Wonwoo.
"Siapa tau aja nu! Jeonghan-hyung punya rambut panjang, bisa aja dia dikira cowok kan ama bocah lain" kata Jihoon.
Mau ga mau akhirnya mereka cekin toilet perempuan satu-satu.
"Maafin Hao ya anak-anak cewek" kata Minghao sebelum ngebuka pintu toiletnya.
"Hyung!!" Jihoon menemukan Jeonghan yang duduk bersender di samping mulut kloset yang terbuka. Pakaian Jeonghan sudah berantakan dan basah, rambut panjang indahnya acak-acakan dan kusut.
"Hyung!" Wonwoo dan Minghao ikut bantu Jihoon mengangkat dan memindahkan tubuh Jeonghan.
"Hyung.. Hyung sadar.." Minghao menepuk pipi Jeonghan yang termenung, hilang di dunianya sendiri.
"Ah.. eh.. kalian.." kata Jeonghan yang sadar.
"Hyung.. Joohyun ngelakuin ini lagi ke hyung?" Tanya Wonwoo. Jeonghan tertawa renyah, "Siapa lagi sih musuh gue kalo bukan dia"
Mereka bantuin Jeonghan ganti seragamnya dengan sweater milih Wonwoo dan membantu Jeonghan membersihkan dan merapikan rambutnya.
"Tega banget Joohyun kaya gini ke hyung.."
Jeonghan tertawa, "Dia masih ga percaya kalo Seungcheol mutusin dia, terus pake alesan kalo Seungcheol suka sama gue.. haha.. padahal gue sama Seungcheol deket aja enggak.. gila si Seungcheol emang.."
Wonwoo, "Terus kenapa hyung ga bilang kalo itu cuma boongnya si Seungcheol doang hyung?!"
Jeonghan tertawa lagi, "Gue cuma mau liat sampe mana Seungcheol mau nyiksa gue begini.."
.
.
Sudah pusing dengan masalah Jeonghan, Wonwoo kembali di buat pusing dengan keberadaan anak anjing di depan rumahnya.
Kim Mingyu, berdiri di depan rumahnya dengan membawa sebuket bunga.
"Ngapain lo?" Tanya Wonwoo. Mingyu terkejut, ia menyembunyikan buket bunganya dan menjawab dengan gugup, "H-hyung baru balik..?"
"Ck" Wonwoo menarik Mingyu menjauh dari pintu rumahnya.
"Mau lo apaan sih? Lo berdiri di depan rumah gue ngapain? Nungguin gue nyambut lo di depan gitu? Najis!" Omel Wonwoo. Mingyu hanya menunduk mendengarkan. Buket bunga yang ia bawa hampir jatuh dari tangannya.
"H-hyung.. plis gue mohon kasih gue satu kesempatan lagi hyung.. kali ini gue beneran, ga ada taruhan atau apaan itu ga ada.. kali ini murni dari hati gue hyung.." pinta Mingyu pelan.
"Ga" jawab Wonwoo singkat. Mingyu mengangkat kepalanya, menatap Wonwoo kecewa. "K-kenapa hyung..?"
"Ya itu.. gue udah ga percaya sama lo lagi.. ada ya manusia kaya lo Ming.. orang kaya gue lo jadiin barang taruhan.." kata Wonwoo membuka lembaran lamanya dengan pemuda di depannya ini.
"Gue udah percaya banget sama lo Ming.. gue mau lu anter jemput, gue mau lo ajak makan di luar.. gue rela di bully cewek-cewek sekolah buat lo Kim Mingyu! Tapi apa yang gue denger dari temen lo? 'Taruhannya udah mau selesai, lo sama Wonwoo mau putus kapan?' enak ya lo sama temen lo ngomong kaya gitu.." Wonwoo sudah stres dengan situasi di depannya. Ia sebenarnya sudah tidak mau membuka lembar lama itu lagi, namun Mingyu membuatnya mengingat semua memori itu kembali.
"Hyung.. itu ga bener hyung.."
"Bagian mana yang ga bener Kim Mingyu? Bagian mana??"
"Hyung gue--"
"Pergi!"
"Hyung--"
"Pergi gue bilang!" Wonwoo mengambil buket bunga yang dibawa Mingyu, melemparnya ke wajah yang lebih muda. Setelah itu Wonwoo langsung kembali kedalam rumahnya. Ia berlari masuk ke kamarnya, bersembunyi dibalik selimut, menumpahkan semua emosinya.
.
.
"Mom! Aku gamau sekolah di Korea! Kenapa baru sekarang sih?!" Vernon melipat tangannya didepan dada. Wajahnya nampak sangat kesal.
"Kamu harus sekolah disana! Kamu juga harus tau gimana sekolah di negara ayah kamu!" Balas ibunya.
"But mom! Aku udah seneng disini! Disana? Emangnya aku bakal langsung dapet temen?"
"Choi Hansol dengerin ibu kamu" kata ayahnya yang duduk di kursi bacanya.
"Oke! Oke! Tapi kalau aku ngerasa ga nyaman disana, aku langsung balik lagi kesini dan ga akan balik ke korea buat sekolah! Deal?" Tawar Vernon.
Ayahnya mengangkat satu alisnya, kelihatan berpikir sebentar. ".. Oke"
.
.
.
Tbc!!
kritik dan saran yang membangun sangat di terima!
