Summary: Ketika tiga buku yang masing-masingnya dark, sad ending, dan angst digabung, mungkinkah bisa menjadi sebuah kisah bahagia?
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
Shuusei menatap tiga buku yang berjejer di atas meja. Tiga novel dari tiga penulis berbeda, yang bergantian kena shinshokusha dalam selang waktu tidak terlalu lama.
Sakura no Hana no Mankai no Shita, karya Sakaguchi Ango. Tokoh utamanya adalah bandit gunung yang bebas, benar-benar bebas, sebelum akhirnya memulai ikatan dengan seorang perempuan.
Jigokuhen, tulisan Akutagawa Ryuunosuke. Tokoh utamanya adalah pelukis hebat yang di ujung cerita mesti melihat putri kesayangannya dibakar hidup-hidup.
Ningen Shikkaku, dibuat oleh Dazai Osamu. Dari awal sampai akhir, bisa dibilang isinya dipenuhi kegelisahan, konflik batin, dan rasa terasing yang terlampau kental.
"Shuusei, lagi ngapain?" Shimazaki tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. "Hmm, nyusun buku, kah?"
"Iya," Shuusei membenarkan. "Buku-buku yang baru-baru ini kena shinshokusha, ceritanya pada sedih, ya."
"Iya juga ~" Shimazaki turut mengamati. "Tapi untung semuanya bisa selamat, ya." katanya.
"Uhm, benar-benar syukurlah, ya."
"Nee, Shuusei, kalau cerita-cerita di buku itu digabung, mungkin bisa jadi bahagia, lho."
"Eh?"
"Kepikiran tidak? Misalnya begini ..."
Di jalan setapak pegunungan itu, ada kabar tentang bandit tak bernama, yang tidak segan-segan membunuh siapa pun yang lewat sana, setelah lebih dulu merampas barang bawaan mereka.
"Ayah, kau yakin mau ke sana?"
"Bunga yang diminta untuk dilukis, hanya tumbuh di sana." Akutagawa--alias Yoshihide--menenteng peralatan lukis seadanya.
"Tapi ..."
"Aku akan kembali sore nanti." Menegaskan demikian, pria itu beranjak pergi.
Putri semata wayang Yoshihide itu menatap cemas ayahnya, lalu menyusul cepat-cepat.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku mau ikut!"
"Jauh, lho."
"Tidak apa-apa, aku mau lihat juga bunganya, secara langsung."
Akutagawa tidak lanjut melarang. Ayah anak itu berjalan beriringan, melewati jalan setapak yang menanjak dan kiri kanannya dipenuhi belukar.
"Masih jauh ...?" Beberapa puluh menit kemudian, putri Akutagawa bertanya, memastikan. Keringat sudah mulai membasahi wajahnya yang biasa seharian menunggu di rumah.
"Sudah kubilang jauh, kan?" Akutagawa tersenyum kecil. "Yah, tapi, ayo istirahat dulu." Dia sendiri sebenarnya sudah cukup lelah juga.
Saat mereka berdua duduk dan minum itulah, seorang pria muncul dari semak-semak. Dia menenteng pedang yang berlumuran darah, sambil mengunyah onigiri yang tersisa setengah.
"Woah, ada orang rupanya," kata bandit tanpa nama itu, berjalan mendekat.
"Hmm?" Akutagawa masih tetap duduk di tanah. "Siapa kau?"
"Ayah! Dia bandit yang dibicarakan orang-orang itu!" Putri Akutagawa menarik tangan ayahnya, berusaha mengajaknya lari. Namun, Akutagawa malah sibuk memungut alat-alat lukisnya terlebih dahulu.
Ango, anggaplah panggilannya itu, mengamati dua orang calon korbannya dengan ekspresi bosan.
"Kalian tidak punya apa-apa, huh?"
"Ka-kalau kau mau, ambil saja bekal makan siang ini." Satu-satunya perempuan di tempat itu mengambil inisiatif, menyodorkan kotak bekal yang mestinya jatah Akutagawa.
"Hmm, aku baru pertama lihat yang beginian." Ango menghabiskan masakan rumahan itu dalam beberapa suap saja.
"Bisa tolong biarkan kami pergi dengan aman?" pinta perempuan itu, nada penuh harapnya ketika memohon itu ternyata meluluhkan Ango.
"Boleh juga, mulai sekarang kau jadi istriku.
"Mana bisa begitu!" Akutagawa spontan menanggapi.
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh."
Ango menarik pedangnya.
"Ja-jangan!" Putri Yoshihide menangkupkan tangannya dengan panik.
Pedang Ango batal diayunkan, karena sesuatu menabraknya dari belakang dengan kecepatan sedang. Cukup untuk membuat bandit itu tersungkur ke tanah, sehingga Akutagawa sempat mengambil alih pedangnya.
"Aduh, aduh, maaf." Si penabrak yang juga jatuh tertelungkup, mengusap-usap kepalanya.
"Siapa kau?" Ango mengernyit. Niatnya untuk membalas dengan satu atau dua pukulan, jadi hilang karena ekspresi yang dilihatnya itu murni menggambarkan ketidaktahuan dan kebingungan.
"Aku ..." Dazai menatap sekeliling, lalu terperanjat melihat Akutagawa memegang pedang. "Dia itu samurai?!" katanya sambil bersembunyi di balik punggung Ango. "Hei, gawat! Dia mau nyerang pakai pedangnya?!"
Ango mengerjap bingung. Daripada salah pahamnya Dazai yang kelewatan parahnya, dia malah lebih terkesan dengan perasaan asing yang muncul ketika tangan itu kuat-kuat mencengkeram pakaiannya.
Makanan hangat seperti bekal pemberian putri Yoshihide adalah hal baru bagi bandit itu. Reaksi Akutagawa yang masih lebih mementingkan peralatan lukis daripada keselamatan nyawanya juga sangat aneh. Lalu bagaimana seseorang tiba-tiba berlindung di balik punggungnya, adalah pengalaman pertama dia merasa dibutuhkan.
"Oke, oke, kali ini kalian enggak kubunuh." Ango melepaskan pegangan Dazai dengan canggung.
"Heeee?!" Menyadari situasi yang sebenarnya, anak berambut merah itu buru-buru mundur.
"Beneran, nih?" Akutagawa masih ragu untuk mengembalikan pedang, sementara Ango sudah mengulurkan tangannya.
"Iya, tapi dia jadi istriku."
Dia masih belum berubah pikiran, ternyata.
"Aku menolak."
Akutagawa juga sama saja tegasnya.
Dazai menghampiri putri Yoshihide yang kelihatan bingung. "Anda sendiri bagaimana?" tanyanya.
"Aku ... tidak mau berpisah dari ayahku."
Dazai berkedip, lalu mengangguk paham. "Tuan Bandit, ada cara yang mudah untuk mendapatkan izin Tuan Pelukis, lho!"
Ango menoleh, beralih dari kegiatannya adu ketahanan mengulang kata dengan Akutagawa. "Apa, tuh?"
"Pertama-tama, bagaimana kalau bekerja jadi asistennya?" Dazai mendekat, lalu berbisik, "Dengan begitu Tuan bisa tinggal di rumahnya, dan akan lebih dekat dengan gadis itu."
"Kenapa aku harus pakai cara yang bertele-tele begitu?" keluh Ango.
"Tidak apa-apa, kan, pasti lebih seru, hehe~"
Selanjutnya Dazai beralih membisiki Akutagawa, "Terima saja orang itu jadi asisten. Membawa-bawa peralatan lukis itu cukup berat, kan? Kemampuan pedangnya juga bagus untuk sekaligus jadi pengawal."
"Pengawal? Untuk apa hal begituan?"
"Penjagaan, dong."
"Bisa-bisa aku, yang duluan ditebas."
"Hmm, dia menyukai putri Tuan, jadi sepertinya tidak akan."
Akutagawa mengusap dagunya, kelihatan masih keberatan, tetapi tidak seenggan tadi. "Baiklah, baiklah."
"Sip!"
"Ngomong-ngomong, kau itu siapa? Tahu-tahu muncul seperti ini ..."
Dazai tertawa canggung. "Ah, itu ... Tadi aku benar-benar terguncang, jadi spontan berlari jauh-jauh sampai tidak sadar sudah masuk hutan."
"Kau berlari menaiki jalan menanjak yang lumayan sulit ini secara tidak sadar? Sebenarnya semenakutkan apa, sih?" Akutagawa tidak habis pikir.
"Hoo, aku jadi penasaran juga. Apa yang membuatmu terguncang?" timpal Ango.
"Hehe," Dazai Lagi-lagi tertawa santai dan mengalihkan topik. "Jadi, jadi, kalian mau ke mana? Boleh ikut tidak?"
"Jawab dulu, woi!" Akutagawa dan Ango kompak menjitak kepalanya.
"A-aku dari sekolah." Dazai mengusap kepalanya. "Jadi, tadi itu pelajaran olahraga ..." Kadang-kadang curhat sama orang asing jauh lebih mudah.
"Kau setakut itu cuma gegara ketahuan pura-pura payah?" Akutagawa mengerutkan dahi. "Ah, masuk akal, sih. Itu image yang susah payah kau bangun, ya."
"Iya, kan? Iya, kan!" Dazai jadi bersemangat karena merasa dimengerti.
"Merepotkan banget tapi."
"Ugh ..."
Putri Yoshihide berusaha menghibur, menjelaskan bahwa ayahnya sebenarnya kurang memiliki hubungan sosial yang baik dengan para tetangga.
"Sekolah tuh apaan?" tanggap Ango yang dari awal sepertinya tidak paham. "Ayo ke sana, tinggal tebas saja orang itu agar diam selamanya, kan?"
"Bukan begituu!" Dazai buru-buru melarang. "Dalam situasi ini, satu-satunya cara yang mungkin untuk memastikan orang itu diam, adalah dengan menjadi temannya."
"Hah? Kok malah begitu?"
"Tahu, ah! Yang jelas begitu!" Menjelaskannya pada bandit yang tidak tahu semengerikan apa kehidupan sosial, Dazai jadi tambah pusing.
"Aku mau lanjut." Akutagawa berkata dengan datar. Bunga yang dicarinya masih jauh di puncak.
Tiga puluh menit pertama, Ango masih menenteng peralatan lukis Akutagawa saja. Tiga puluh menit setelahnya, dia juga harus membawa Dazai di punggungnya.
"Staminamu payah."
"Ya, maaf. Aku memang sejak kecil sakit-sakitan."
"Tahu begitu napa bisa sampai ke sini?"
"Ini juga di luar rencana. Tadi sudah kubilang, deh."
Selagi Akutagawa melukis dan putrinya mengamati bunga-bunga, Ango dan Dazai mengobrol di bawah pohon soal cara-cara memperlakukan wanita.
Setelah hari itu, Ango tinggal bareng Akutagawa dan putrinya, jadi asisten sekaligus tukang bantu-bantu. Dia dengan mudah mengangkut air, menangkap buruan, dan membelah kayu. Sementara Akutagawa masih selalu menatapnya waspada setiap mantan bandit gunung itu ngobrol lama-lama dengan putrinya.
Dazai sesekali berkunjung, beralasan bahwa dia ingin belajar melukis pada pelukis terbaik di daerah ini, Yoshihide. Akutagawa membiarkan saja, kadang-kadang berkomentar bahwa anak itu punya bakat.
Sampai akhirnya hari itu tiba. Hari di mana utusan dari pejabat tahu-tahu datang untuk membawa pergi putri Yoshihide.
"Ja-jadi gimana?" tanya Shuusei, ketika tiba-tiba Shimazaki berhenti bercerita.
"Apanya?"
"Kelanjutannya lah!"
"Oh, Shuusei mau happy ending atau sad ending?"
"Tadi katamu mau bikin cerita yang bahagia, kan!"
"Hmm ..."
Bersambung ...(mungkin)Tentang bunalember day 16 ...Ini crossxover kan?Crossxover kan ya ~
