Mouth and Heart

Disclaimer: DMM

Warning: OOC parah, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event bunalember 2020.


Day 16: Crossover

Day 22: Happiness


Kedatangan itu langsung menggubah dan menyentuh segenap atmosfer di ruangan ini menjadi segala yang baru, ketika benar-benar tidak diduga bahkan oleh Dazai Osamu yang sampai merasa; ia tahu bagaimanakah berterima kasih kepada hidup.

Tamu spesialnya adalah Nakajima Atsushi, bukan karena ia berulang tahun atau menggendong momongannya yang terlelap dalam kehangatan. Langit bagai mengutus cahaya ilahi, ketika ia datang dengan sekujur raga yang menyiarkan emas. Satu jam yang lalu kehadirannya menghanyutkan seisi agensi. Apalagi ia tiba-tiba menempati kursi kosong secara mulus, yang berada tepat di samping meja kerja Dazai.

"Silakan duduk, Nakajima-sensei. Maaf jika ruanganku acak-acakan."

Tampak botol-botol sake berserakan yang Dazai bersihkan dengan sembarang; hanya dikumpulkan di satu sudut ruangan tanpa benar-benar dibuang. Pemuda yang dipanggil Nakajima-sensei itu menunjukkan gestur sungkan dengan kedua tangan yang bergoyang. Langsung mengunjungi salah satu dari ruangan teman barunya saja, ia berpikir berterima kasih sebanyak-banyaknya adalah perasaan yang wajib dimiliki.

"Maaf telah merepotkanmu, Dazai-san. Anda tidak perlu menyediakan apa pun, kok!" Makin paniklah ia mendapati Dazai sibuk mengubek-ubek kulkas, walau hanya tersisa embusan dingin yang kosong. Haruskah dia mengutang beberapa manisan di supermarket? Apa Kunikida Doppo tak mau memberikannya sepeser uang, ya?

"Saat Sensei memanggilku 'Dazai-san', itu benar-benar mengingatkanku pada Atsushi-kun yang kukenal. Tidak usah terlalu formal. Bukannya Sensei lebih tua daripada kami semua?"

"Baiklah. Dazai-san sendiri ingin dipanggil apa jika begitu?"

"Dazai-chan lucu, lho~" Seribu untung Dazai ingat untuk mengecek laci di bagian atas. Stoples berisi daun teh hijau kini terasa seperti harta karun, yang berhasil ditemukan dalam lembah terganas. Dazai menyeduhnya. Banyak-banyak berdoa saja supaya tak membikin Nakajima-sensei diare.

"Harus Dazai-chan?"

"Canda, Sensei, canda~ Bagaimana kalau Dazai-kun? Osamu boleh, lho. Meski Sensei kelihatannya akan menolak."

"Dazai-kun saja, ya. Omong-omong terima kasih atas tehnya. Padahal sudah kubilang tidak perlu."

Haruskah Dazai memperingati Nakajima-sensei akan potensi keracunan yang mungkin menusuknya dari belakang? Namun, tatkala Dazai menyesap teh yang ia seduh menggunakan air panas seadanya, rasa yang tertinggal di lidah cukup menyamankan kepala. Nakajima-sensei memujinya enak. Dazai benar-benar menganggapnya seperti Atsushi yang merupakan muridnya, meski memang rasa hormat lebih Dazai taruh pada Nakajima-sensei, dicampur sedikit keusilan.

"Masih saja mengejutkan buatku. Awalnya kupikir agensi kami kena azab."

"Benar-benar maaf soal itu. Saya juga tidak tahu bakalan heboh." Kepalanya menunduk dalam-dalam, bahwa ia sungguh-sungguh tak enak hati. Tawa ringan berderai dari Dazai. Tangannya mengibas-ibas, mengakui ia hanya mengisengi Nakajima-sensei.

"Sensei tegang banget, sih. Justru kami merasa itu keren. Tiba-tiba seseorang yang mirip Nakajima Atsushi-kun datang dari perpustakaan nan jauh. Pakai kacamata, bahkan punya bulu harimau yang mewah. Dari langit lagi. Untung enggak dari tanah."

Tentu ngeri, dong, apabila Kunikida yang sibuk mondar-mandir tiba-tiba menginjak kepala manusia. Harusnya pula terdapat tujuh orang lainnya, jika saja Kunikida yang di dunia ini berambut pirang kusam tak menyuruh; memaksa Dazai agar menyambut tamu. Katanya mereka sudah menghubungi Atsushi agar pulang dari kota asing yang dikunjunginya. Sekitar senja hari Nakajima-sensei bisa bertemu Atsushi, lalu sedikit bercakap-cakap sebelum berpisah.

"Untuk membalas kebaikanmu, apa Dazai-kun ... tidak ingin bertanya-tanya?" Sewaktu memanggil Dazai menggunakan sufiks –kun, kegugupan tersurat dari Nakajima Atsushi. Gestur berpikir Dazai pasang. Pikiran-pikiran acak memenuhinya, dan lebih menarik hati ketimbang sesuatu yang terlalu pasti seriusnya.

"Dari bukumu sendiri, quotes apa yang Nakajima-sensei sukai?"

Selalu menenangkan Dazai untuk melihat Nakajima-sensei benar-benar merenungkan perasaannya, agar kata-kata yang ia bangun menggunakan kaki-tangannya sendiri tahu, apa yang sudah diperbuatnya supaya orang lain baik ketika mendengarnya.

"Kurasa dari Sangetsuki. Biarkan segala keadaan mengalir apa adanya, tanpa kita perlu memikirkan apa alasan yang melatari keadaan tersebut, dan jalani hidup dengan masa bodoh. Namun, quotes, 'Pikiran bisa salah, tetapi tidak dengan darah' ternyata cukup terkenal. Apa yang Anda pikirkan soal itu?"

"Jujur saja saya terkejut~ Soalnya dulu Atsushi-kun pernah mengatakan, 'Pikiran bisa salah, tetapi tidak dengan darah.' Berarti dia membaca bukunya sendiri, dong, lucu banget."

"Saat pertama kali datang ke sini melalui buku putih, saya juga kaget karena banyak nama-nama yang saya kenali. Izumi-san adalah wanita paling membuat saya terkejut. Namun, entah di dunia saya atau di sini, mereka ... sama-sama manis."

Pipi Nakajima-sensei memerah. Anggukan Dazai menjawab dengan antusias, bahwa Nakajima-sensei menyatakan kebenaran mutlak. Perihal buku putih itu tentu sudah dibahas, dibarengi oleh tugas Nakajima-sensei untuk membasmi taint yang mencemari karya-karya sastrawan. Sebelumnya banyak yang mencoba delving. Bisa dibilang ia menjadi satu-satunya yang berhasil.

"Jadi, pas itu ada organisasi dari Amerika bernama Guild yang datang untuk menghancurkan Yokohama. Tentunya kami sangat kesulitan, soalnya mereka semua kuat. Nah, di situlah Atsushi-kun memberitahu quotes tersebut. Setelahnya dia meminta tolong kepada Port Mafia."

"Port Mafia? Terdengar jahat. Memangnya mereka mau?"

"Baik itu agensi maupun Port Mafia, tujuan kami adalah melindungi Yokohama. Atsushi-kun berhasil mengambil kesimpulan tersebut, makanya ketika ia bilang padaku, saya langsung setuju."

"Pasti karena Anda adalah guru yang hebat. Melihat dari dua sisi yang berbeda tak melulu dapat dilakukan secara baik." Rasa malu yang nyata membuat Dazai menggaruk belakang kepalanya, kendatipun tiada gatal yang menjanggalkan rasa. Waktu mungkin telah melampaui kalender. Akan tetapi jam dinding yang mati membuat waktu seolah-olah tak pernah bergerak di sini.

"Hehehe ... Sensei bisa saja. Saya … bukan orang sehebat itu, kok."

Mendengar jawaban itu Nakajima-sensei sejenak membeku di tempat, sementara senyumannya meleleh lebih dulu digantikan horizon. Di matanya Dazai bukan semata-mata merendahkan hati. Untuk sebuah perasaan, menurut Nakajima-sensei sendu yang Dazai tawarkan sangat aneh. Aneh seolah-olah kesedihannya tidak tahu, mengapa sekelilingnya kelabu sekali? Meski lebih tepatnya …

Sedihnya menolak tahu ia ini sendu. Mati-matian membantah ada yang tidak baik-baik saja darinya, selama ini.

"Ah, iya. Boleh saya bertanya, bagaimanakah diriku di dunia ini? Saya tidak tenang jika tidak bisa mempersiapkan diri dengan baik." Di awal-awal Nakajima-sensei tak sempat mengulik informasinya. Sewaktu dalam perjalanan menuju asrama agensi pula, Dazai cenderung berceloteh mengenai kesehariannya yang kerap menggelitik dada.

"Seratus persen saya yakin, pasti sekarang ini Atsushi-kun juga berpikir demikian. Wataknya mirip-mirip Sensei. Kalau kalian makan berdua, kujamin Sensei dan Atsushi-kun ribut, siapa yang harus memesan duluan?"

"Dia juga memiliki kemampuan khusus, atau hanya staf seperti Naomi-san?"

"Punya, dong~ Begitu-begitu dia bisa berubah jadi harimau putih. Jangan-jangan bulu yang selalu Sensei bawa ke mana-mana itu, mungkinkah bulunya Atsushi-kun?"

"E-eh? Tapi saya belum bertemu dengannya, dan mana mungkin saya berani menguliti–", "Hahaha ... seenggaknya Sensei benar, karena kalian saja belum bertemu. Bagaimana mau melakukan itu pada Atsushi-kun?" potong Dazai yang kurang tahan untuk mengisengi lebih lama. Ekspresi bercanda Dazai terasa serius sekali. Ia benar-benar tampak mencurigai Nakajima-sensei, dan akan menyeretnya seumur hidup di neraka.

Dua dunia yang berbeda dan sejenak saling bersandar, tentu menjadikan kemenarikan tidak bermakna monoton. Sebagai ungkapan kekaguman mereka, Miyazawa Kenji paling pertama mempertontonkan kemampuannya. Dengan mudah ia mengangkat sofa membuat Nakajima-sensei tercengang. Melepas plang pun dapat Kenji perbuat, dan ia sangat ingin menunjukkannya, tetapi Nakajima-sensei sempat-sempatnya mengkhawatirkan bahu Kenji.

Dari situlah Edogawa Ranpo menebak pekerjaan Nakajima-sensei di masa lalu, yakni guru di sekolah khusus wanita di Yokohama. Akan tetapi berhenti sampai di situ. Mereka bertarung dengan adil dan baik dalam adu cepat menemukan petunjuk, di sebuah kasus pembunuhan yang pelakunya masih berkeliaran.

Sementara Kyouka yang betul-betul menjelma gadis muda, memanggil Yasha Shirayuki untuk memotong sampah-sampah kertas sebesar lima sentimeter. Telunjuk Dazai hanya iseng menyentuh pundak Kyouka pun Yasha Shirayuki hilang. Sengit yang Kyouka pancarkan sekira-kiranya memang mengingatkan Nakajima-sensei pada Izumi-san yang ia kenal.

Lantas giliran Yosano Akiko yang tak sungkan-sungkan mengeluarkan pisau dagingnya. Nyaris saja Tanizaki Juunichiro menjadi korban. Ketika diceritakan oleh Kenji agar pasien Yosano sembuh, ia harus memperparah lukanya terlebih dahulu, Nakajima-sensei buru-buru bilang Yosano jangan repot-repot. Ia adalah kembang gula tanpa rasa manis yang palsu, sewaktu merentangkan tangannya di depan Juunichiro.

Menggunakan Sasame Yuki, Juunichiro kira-kira menggambarkan seperti apakah wujud Atsushi. Tinggi mereka yang sepantaran menjadi favorit Nakajima-sensei yang pertama. Kunikida yang biasanya menolak menyemarakkan aksi dan reaksi rekan-rekannya, tahu-tahu menenggelamkan diri sendiri. Puisi Doppo menciptakan sebilah pena sebagai bukti, manusia hidup karena kenang-kenangan yang baik.

"Kira-kira apa yang ingin Sensei lihat dari kemampuan Atsushi-kun? Bagaimana kalau atraksi? Aku akan menyuruhnya bertransformasi penuh, dan dia melompat melewati lingkaran api." Makin meriah dengan warna dari panas yang menjalar ke mana-mana. Bunuh diri bertiga di dalam kobaran api mungkin romantis juga, pikir Dazai.

"Bermain dengan hal-hal seperti itu bahaya jika tidak profesional. Saya takut ekor Atsushi-san terbakar."

"Berdiri di atas bola dengan satu kaki, terus melakukan juggling? Namun masih dalam wujud harimau. Keren banget pasti."

"Saya hanya bisa membayangkan bolanya meletus. Padahal sudah saya bilang juga, kalian semua jangan repot-repot." Bukan berarti Nakajima-sensei membenci kebaikan yang ditujukan padanya. Bukankah wajar ia canggung lebih-lebih terhadap Dazai? Rasa-rasanya Nakajima-sensei langsung diperlakukan layaknya raja. Raja yang pernah hilang dan kembali lagi, entah mengapa. Kesenduan yang aneh itu.

"Harimau yang bisa mengetik laporan pasti keren! Dengan begitu laptopku rusak. Enggak perlu mengurus pekerjaan dari Kunikida-kun~"

"Benda yang bisa dilipat dan ditutup itu, ya? Kunikida-san selalu memperhatikannya dengan serius."

Laptop milik Dazai yang tidak berada jauh dari jangkauan diambilnya. Terdapat aplikasi word yang membentangkan persegi putih. Dazai menjelaskan Nakajima-sensei dapat mendongengkan imajinasinya sebanyak-banyaknya, dan tak perlu meremukkan kertas lagi. Jari-jari Nakajima-sensei mencoba menjadi irama di atas tuts. Ia menyukai suara ketikan yang berasal dari jemari Kunikida. Sangat teratur sekaligus utuh tanpa celah.

Bagaimana jika Dazai-kun yang menulis? Menurutku Anda punya imajinasi yang bagus.

"Heee?! Sensei, kan, lebih ahli. Baca ceritaku bikin sakit kepala yang ada."

"Semua orang bisa menulis, Dazai-kun. Bahkan seseorang yang berpenyakitan sepertiku bisa merasa bebas, ketika memikirkan cerita di atas kertas."

Tanpa memperpanjang pikirannya lagi Dazai mengambil alih laptop. Mungkin ia bisa membayangkan sebuah cerita terlampau singkat. Tentang hidup yang berkeluarga dengan sesaat? Menaruh pengalaman pribadi? Orang lain yang bercerita, dan mereka yang selanjutnya samar Dazai perjelas seenak dengkul? Nakajima-sensei kaget Dazai menanggapinya. Ia tidak bermaksud apa-apa. Ia hanya jujur seperti yang telah dilakukannya.

"Dazai-san?" Cara memanggilnya salah pun Nakajima-sensei mengabaikannya total. Sekarang Nakajima-sensei kembali kepikiran, mengapa Kunikida menyuruh Dazai yang menjamu dia? Sebenarnya Kyouka sempat mengajukan diri. Namun Kunikida bersikukuh yang alasannya entah mengapa, enggan Nakajima-sensei bongkar.

Sering berpindah-pindah tempat membuat Nakajima-sensei tidak tahu, bagaimanakah rasanya pulang dan menyebutnya sebagai rumah. Ketika hidup masih di genggamannya pun Nakajima-sensei tak memikirkannya. Ia tinggal hidup sebaik mungkin yang artinya terbatas, yakni hanyalah berjuang melawan dirinya sendiri yang penyakitan.

Semenjak menemukan orang-orang perpustakaan yang baik hati, ia berpikir begitulah merindukan serta dirindukan yang merupakan arti kepulangan baginya. Sebab Nakajima-sensei merindukan hati yang baik, juga ia dirindukan beberapa sosok yang mau mengenalinya sebagai sahabat, itulah arti kepulangan untuknya. Oleh karenanya Nakajima-sensei dikatakan selalu membantu kesukaran. Bahwa Nakajima-sensei sekadar ingin merasa direpotkan lebih banyak.

Karena dulu ia penyakitan dan gampang asma, Nakajima-sensei lah yang selalu menyusahkan sekitarnya. Walaupun sekalinya bertemu Dazai ia adalah Dazai yang bukan berambut merah, dan mereka berpisah lebih cepat dibandingkan apa pun, rumusan bahwa Nakajima-sensei cenderung berharap direpotkan tetap berlaku untuk Dazai. Kendatipun ia bukan warga perpustakaan.

"Sudah selesai, Sensei. Silakan dibaca~ Kurasa enggak jelas, sih. Menulis cerita susah ternyata."

Cerita tersebut tidak memiliki judul. Nakajima-sensei lebih dulu menarik napas, agar minimal ia jangan mengawang-awang di tengah kebaikan seseorang.

Aku adalah mulut yang menyukai hal-hal menyenangkan, sedangkan hati merupakan gumpalan kegelapan yang sangat muram. Kami sering bertengkar. Misalnya saat hati merasa ia marah terhadap sesuatu atau seseorang, aku justru berkata, "Tidak apa-apa". Kenapa aku mengkhianatinya saja ia tak pernah mencoba mengerti, maka apa artinya aku memikirkan, mengapa hati selalu sedikit-sedikit sensitif?

Pada suatu hari akhirnya aku melakukan pengkhianatan terbesarku. Hati benar-benar tak membiarkanku, sampai-sampai pemilik kami menangis.

"Kenapa kau masih bilang baik-baik saja ke dia? Jelas-jelas dia meminta kita bercerita. Dia adalah seseorang yang penting bagi Tuan."

Dia adalah seseorang yang berharga bagi pemilik kami. Aku tidak ingin mendengarkan hati yang gelap itu. Sejujurnya ia mengerikan. Seharusnya ia yang memikirkan, kira-kira kenapa aku melakukan semua ini. Tentu saja agar kita tak dijauhi. Orang-orang hanya ingin mendengarkan yang terdengar enak. Meskipun hanya satu kesedihan yang dikatakan, tetap saja sudah terlalu banyak untuk didengarkan.

"Untuk apa?

Inilah aku, mulut yang egois. Mulut yang suatu hari menginginkan hati yang lebih baik serta bersih.

Hasil dari sifat keras kepala itu adalah sosok yang pemilik kami cintai meninggal, dan di pemakamannya aku tak bisa mengatakan apa-apa, sebab selama ini sedih tidak pernah kubiarkan mengambil kata-kata yang ia inginkan.

Itu adalah cerita yang menyedihkan. Kental dengan ironi yang sederhana sekaligus rumit, di mana tidak berbicara yang diharapkan dapat mempertahankan seseorang, justru menjadi penyesalan karena seolah-olah ia tak memiliki apa-apa, untuk orang ini. Senyuman Dazai agak kaku. Amatiran menulis di hadapan sastrawan jelas-jelas gila.

"Boleh saya tahu kenapa Dazai-kun menulis ini?"

"Cuma kepikiran itu. Ternyata menjadi penulis sulit, ya. Enggak sekadar menulis, tapi hanya itu yang bisa kulakukan. Cara Sensei menulis selama ini bagaimana?"

"Kebanyakan tulisanku terinspirasi dari Franz Kafka. Menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan." Entahlah. Yang Dazai ketahui hanyalah ia diam dan mendengarkan. Semenjak tulisan itu dibaca, Dazai sudah merasa takut yang entahlah ini apa, meski yang pasti bukan karena mengkhayalkan komentar Nakajima-sensei.

"Dazai-kun ... lagi sedih, ya?"

Netra Dazai mengerjap-ngerjap, mendengarkan kata sedih yang Nakajima-sensei ucapkan dengan kelembutan yang berhati-hati. Pandangan Dazai lari ke mana saja asalkan jauh. Kenapa ia sedih? Hanya senyumannya yang sedari tadi Nakajima-sensei ketahui. Tiada air mata yang Dazai miliki, atau seolah-olah akan Dazai jadikan titik-titik garis yang menggambarkan hujan miliknya sendiri.

(Ia tidak memiliki apa pun untuk bersedih, bukankah menakutkan Dazai masih bisa luka di sana-sini karena hatinya pecah, berhamburan, dan serpihannya menancap di mana-mana?).

"Sedih kenapa? Sensei ada-ada saja."

"Tulisanmu, Dazai-kun. Saya tidak akan mengomentari caramu menulisnya atau apa pun. Bahkan saya sendiri sebenarnya kurang percaya diri dengan tulisanku."

"Mengejutkan, ya. Padahal Sensei sudah memiliki bukumu sendiri."

"Banyak yang sepertiku, kok. Di perpustakaan banyak sastrawan hebat. Dewa novel. Dewa literatur ... saya yang sangat jarang mempublikasikan karya, tentu kalah dibandingkan mereka. Malah sebelum sempat menjadi penulis baru, saya meninggal duluan gara-gara asmaku semakin parah."

Tak menangis pun banyak yang pecah dari Dazai. Matanya sangat menyakiti dirinya sendiri, sebab kendatipun ada hal-hal kasatmata yang lain di sekitarnya, hanya Nakajima-sensei yang terlihat dan itulah sumber luka Dazai. Kali itu Dazai melihat Nakajima-sensei, seperti darinya ia lebih mengenali duka, walaupun mereka hanya bersukacita. Ia bersedih untuk Nakajima-sensei. Namun, entah kenapa terlihat Dazai menemukan sosok lain yang bukan Nakajima-sensei.

"Namun tidak apa-apa. Itu tak menjadi penyesalanku." Kepala Dazai ditepuk-tepuk oleh Nakajima-sensei, sambil senyumannya tersenyum lembut. Tangan Nakajima-sensei juga terulur bersamaan. Siapa tahu Dazai butuh pelukan. Hanya sosok yang menerima lukanya, entah memahaminya atau tidak, karena yang terpenting yang melapangkan dadanya tersebut tahu Dazai sangat sakit.

"Kenapa ... tidak menyesal?"

"Setidaknya saya sudah menulis, dan sekarang saya bahkan membuat seseorang menulis. Boleh kutambahkan sesuatu?"

Pelukan yang hendak Nakajima-sensei ciptakan belum Dazai sambut, hanya tak apa, karena Dazai boleh mengambilnya kapan saja. Nakajima-sensei membutuhkan waktu cukup lama menyelesaikan ketikannya. Memperlihatkan itu kepada Dazai yang membacanya dengan cepat, tetapi kesingkatannya menjadi ingatan yang seketika lupa artinya lupa.

Kesedihan sudah bisu selamanya, dan tidak pernah tahu apa itu kata-kata. Namun, aku bisa tetap menyimpannya sebagai yang lengkap. Bahwa orang itu adalah kebahagiaan pertamaku dan kesedihan terakhirku.

Setelah ini karenanya aku bisa kembali bahagia. Terima kasih.

"Agak berakhir bahagia, bukan? Setidaknya ia bisa menyimpannya sampai akhir. Meski menyesal karena tak banyak bicara saat orang itu hidup, bukan berarti ia berhak menyesal selama–"

Bukan berarti sang mulut harus menyesal selama-lamanya, karena jika jatuh ia selalu berhak berdiri, begitu pun sebaliknya. Dazai bahkan memeluk Nakajima-sensei, dibandingkan mengambil kesempatan untuk direngkuh Nakajima-sensei. Tahu-tahu Dazai terlelap, ketika menangis dalam bisu tidak benar-benar menghilangkan sendu secara nyata. Nakajima-sensei memutuskan membaringkannya di atas tatami. Senja dan Kunikida melihatnya bersamaan yang keluar dari ruangan Dazai.

"Sore, Kunikida-san. Sekarang Dazai-kun sedang tidur." Anggukan singkat ditunjukkan bahwa Kunikida paham. Langit sudah banyak-banyak menyebarkan awan yang jingga. Helaan napas lolos dari Nakajima-sensei, terpikirkan bagaimana caranya balik ke perpustakaan. Juga … dirinya yang lain di mana sekarang ini? Dazai belum menyuguhkan kabar terbaru.

"Omong-omong Kunikida-san kenapa di sini? Ada perlu dengan Dazai-kun?"

"Sebelumnya maaf, tetapi tolong ikut saya untuk menemui Atsushi."

"Kebetulan saya juga ingin menemuinya, kok. Tolong tunjukkan jalannya, Kunikida-san."

Penantian milik Izumi-san pasti khawatir. Setelah berbasa-basi sedikit Nakajima-sensei akan pulang. Namun, suasana yang redam dan angin yang redup tidak mengenakkan rasa. Seolah-olah terdengar air mata yang tak sampai kepada, sebuah nama yang menjadi alamat. Selama-lamanya mencari yang hilang, padahal. Mata Nakajima-sensei pun terbelalak mendapati tempat yang Kunikida maksud.

"Kubu … ran …?"

"Di sinilah Atsushi berada, Sensei. Dia pasti sadar Atsushi sudah meninggal, tetapi tak bisa menerima kenyatannya. Jadilah kami berbohong Atsushi masih di luar kota, dan Dazai percaya."

Nama "N. Atsushi" terlukis sendu pada nisan yang mati rasa. Wajah Kunikida juga pucat melihat kenyataan yang tidak bisa ia selamatkan ini, ditambah lagi Atsushi adalah rekan agensi yang berharga. Nakajima-sensei sudah tak memiliki kata-kata. Pikirannya berdesing seperti peluru, dan hanya kata "pulang" yang mencuat yang terdengar berisik, lalu tahu-tahu tangannya ditelan kerlipan putih; bagaikan menyaksikan dandelion yang siap menjadi mimpi.

"Jangan panik seperti itu, Kunikida-san. Saat saya berpikir ingin pulang di depan makam Atsushi-san, mungkin ini adalah caranya kembali ke perpustakaan. Maaf. Harusnya kita bisa bertukar beberapa kata lagi."

"Tidak apa-apa, Sensei. Kapan-kapan berkunjunglah lagi. Dazai pasti senang."

"Kunikida-san tahu? Tadi Dazai-kun membuat sebuah cerita tentang mulut dan hati. Kurasa sekarang saya mengerti dia membicarakan siapa."

Yaitu dirinya sendiri, dan seseorang yang dikatakan setiap di depannya mulut bilang ia baik-baik saja, adalah Atsushi. Sendu tersebut bukan untuk bersimpati pada kisah Nakajima-sensei akhirnya. Hanya kesadarannya yang tahu ia berbincang dengan Nakajima -sensei, tetapi selama ini yang hati Dazai lihat adalah Nakajima-sensei sebagai Atsushi. Sangat bertentangan membuat Dazai letihnya semakin rumit.

Mungkin karenanya Dazai langsung akrab dan membuka diri. Nakajima-sensei adalah Atsushi di matanya. Nakajima-sensei harus menjadi Atsushi bagaimanapun caranya. Berarti dia tidak dianggap, bukan? Itu … kenapa Nakajima-sensei agak sedih, ya? Padahal Dazai juga kasihan. Banyak kerinduan yang belum ia katakan pada Atsushi.

"Akhirnya kau pulang. Apa yang terjadi di da–"

Sebuah tangan yang menepuk bahunya ditepis oleh Nakajima-sensei, menyebabkan Izumi-san terkejut walau diam saja. Kepribadian Nakajima-sensei yang lain kini ikut campur. Giginya bergemeletuk seiring riuh yang mengepungnya kian bertalu-talu. Penasaran mengenai apa yang terjadi di dalam buku putih berjudul, "Nakajima Atsushi" tersebut. Identitasnya yang tercetak, bertetapan dengan Nakajima -sensei yang keluar dari sana, tentu menarik sekali.

"Tak akan kubiarkan kau bertemu orang itu lagi. Kau adalah Nakajima Atsushi yang tidak bisa disamakan dengan siapa pun, walau ada Nakajima Atsushi yang lain."

Apabila Nakajima-sensei bertemu lagi dengan Dazai yang cokelat, maka ia tak akan dilihat sebagai dirinya sendiri. Jadinya tidak boleh, dan sang alter ego bersumpah untuk tidak membiarkannya menjadi seperti itu.


Tamat.