Semarang panas!
Kalau diingat lagi, sudah hampir setiap hari Shintarou menggerutu. Entah itu tentang udara Semarang yang makin lama makin gila panasnya, atau jalanan macet yang kadang membuatnya kesulitan menyeberang. Ada lagi masalah lain yang datang dari kehidupan kampusnya, tugas-tugas yang datang silih berganti, praktikum anak kedokteran yang bikin kepala nyaris pecah, dan ramalan primbon yang menyatakan kalau keberuntungannya luput di waktu tertentu.
Iya, kalian tak salah baca. Begini-begini Shintarou rajin mengecek peruntungannya di primbon online untuk jaga diri. Satu dari sekian alasan yang membuat orang bilang Shintarou itu frik, mungkin kolot atau malah cenderung tak normal. Hari gini, masih percaya ramalan? Huh. Sangat tidak realistis.
Sebenarnya kalau dilihat-lihat, Shintarou tidak sefrik yang orang bicarakan. Minus tinggi badan abnormal yang bahkan sering membuatnya terbentur kusen pintu saat masuk kelas, atau rambut hijau mencolok seperti warna sabun cuci piring. Sebenarnya Shintarou juga tak tahu bagaimana rambut hijau itu jadi ciri khas di keluarganya, padahal ia yakin kalau klan Midorima tersayangnya -uhuk- bukanlah kelompok vegetarian.
Tidak nyambung.
Selain penampilannya yang tampak nyentrik, sebagai mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama di Semarang, kemeja yang lengannya digulung sesiku dan jas almamater selalu jadi ootd favoritnya. Satu dan lain hal yang membuat Shintarou sering dicela karena selera modenya mirip bapak-bapak, tidak seperti anak zaman sekarang yang lebih suka pakai hoodie atau t-shirt merk ternama.
Bukan berarti cowok berkacamata itu tak bisa gaya. Menurut teman sekelasnya, Shintarou bisa saja tampak lebih tampan kalau rambutnya yang biasa menutup dahi itu disisir ke belakang pakai pomade. Tapi dia hanya... malas. Atau dengan kata lain, pakai pomade dan hoodie itu bukan Shintarou banget.
Halah, ngeles aja terus.
Kalau masalah pertemanan, Shintarou merasa dirinya tak ansos-ansos amat. Meski orang bilang dia tsundere meter kubik sejak lahir (yang tentu saja disanggahnya dengan dengusan dan jari kikuk mengangkat kacamata), Shintarou dengan mudah diterima lingkungan sekitar waktu ospek. Entah karena otaknya yang encer atau pribadinya yang tiba-tiba menghangat, Shintarou tak mau tahu. Bahkan beberapa kakak tingkat terang-terangan mengincarnya untuk dijadikan anggota BEM karena riwayat prestasinya naik pesat, nyaris sempurna waktu SMA.
Tapi semua undangan itu ditolak Shintarou, alasannya ingin fokus kuliah hingga lulus dengan IPK tinggi supaya orang tuanya bangga. Memang sasuga Shintarou ini kalau sudah berhubungan dengan keluarga.
Walau begitu, Shintarou tak benar-benar punya teman dekat yang bisa diajak nongkrong atau pergi belanja buku bersama. Bukan karena dia individualis, tapi memang Shintarou dari dulu suka ketenangan—
"SHIN-CHAN apa-apaan aku ditinggal di belakang, oh iya habis ini aku ada rapat fakultas ADUH AKU CAPEK BANGET DEH RASANYA!"
Shintarou mendadak ingin pulang.
Memang iya kalau dia tak benar-benar punya teman dekat, tapi ada satu manusia super yang sukanya mengenalkan diri ke orang-orang kalau dia ini teman dekatnya Midorima Shintarou, anak FK, iya yang rambutnya kayak lumut itu, bahkan sejak pertama mereka bertemu. Shintarou pusing, terlanjur kehabisan akal untuk menolak pernyataan kalau dia dan Takao Kazunari, anak teknik sipil, iya yang mulutnya lebar banget kayak layar bioskop itu, adalah sahabat dekat sejak mereka masih maba.
Bodo amatlah. Mau diusir sampai bulu matanya yang asoy jadi botak sekalipun, Kazunari takkan mau jauh-jauh dan terus menempeli -coret- merecoki -coret- hidupnya.
Tiba-tiba Shintarou merinding. Kok homo banget ya kedengarannya.
Karena diam itu emas, Shintarou memilih untuk mengatupkan mulut rapat-rapat dan menaikkan volume lagu yang didengarnya lewat earphone. Terlebih ketika bak-buk-bak suara langkah Kazunari yang rusuh mulai menyamai dirinya, Shintarou cuma bisa berharap langit tiba-tiba terbelah dan menarik si belah tengah itu keluar dari bumi. Primbon bilang kalau peruntungan Cancer sedang buruk hari ini, posisinya ditendang oleh Scorpio yang menempati urutan pertama (yang mana dia tahu kalau zodiaknya Kazunari itu Scorpio dan itu jadi satu dari sekian alasan mengapa Shintarou ingin cepat pulang dan bergelung nyaman dibalik selimut di kamar kos).
Tuhan, tolong selamatkan aku dari neraka ini selama beberapa jam ke depan, begitu ratap Shintarou dalam hati.
"SHIN-CHAN APA-APAAN KOK AKU DICUEKIN oh ternyata kamu lagi dengerin lagu ya?" sret. Shintarou melotot panik ketika ponselnya berpindah tangan. Ditarik Kazunari. Belum sempat ia merebut ponselnya kembali, Kazunari lebih cepat merepet dengan mata membola kaget, "OALAH KAHITNA LAGI KAHITNA LAGI kamu ini seleranya kolot amat sih kaya kakek-kakek, padahal anak muda seumuran kita ini biasanya lebih suka BMTH atau Metallica ya meskipun tahunnya udah lama banget sih, tapi seenggaknya jiwa metal kita bisa bangkit tiap denger Enter Sandman—SHIN-CHAN JAHAT KOK AKU DITINGGAL?!"
Shintarou cepat-cepat merebut ponselnya dari tangan Kazunari dengan wajah merah padam, lalu ambil langkah seribu tanpa menghiraukan temannya yang kembali ricuh macam ibu-ibu kecopetan. Dalam hati bersumpah kalau dia gak kenal sama Takao Kazunari, anak teknik sipil, iya yang rambutnya belah tengah kayak vokalis ST12 itu, atau mereka BUKAN sahabat sejak maba seperti yang orang-orang tahu. Kadang Shintarou juga heran, jarak antara fakultas teknik dan kedokteran 'kan jauh, harus naik motor dulu. Darimana bocah ini bisa mengenalnya?!
Yang lebih mengejutkan lagi (kalau kata Shintarou horor abis sampai dia tak mau mendengar apapun dari sinopsis gosipnya orang-orang), fakta kalau Takao Kazunari adalah anggota BEM kesayangan universitas membuat Shintarou mendadak sawan. Pakai pelet apa sampai kating mau memasukkan dia ke badan eksekutif univ almet biru yang elit. Astaga Tuhan.
Mana Kazunari itu wibu, kalau ngomong kadang suka disempilin bahasa Jepang, seenak jidat panggil orang pakai imbuhan -chan bahkan pada Shintarou yang dari segi fisik dan wajahnya tidak imut sama sekali.
"Berisik, Takao." Akhirnya Shintarou mengalah. Mau tak mau menimpali perkataan Kazunari yang nantinya akan meluber kemana-mana kalau tak cepat ditanggapi. Terlebih kalau si Bakao mulai membawa selera musiknya yang tak sesuai dengan taste anak zaman sekarang, Shintarou bukannya kolot, tapi mendengarkan musik rock yang keseringan diisi orang teriak dan betotan bass itu bukan Shintarou banget.
Secara pribadi dia lebih suka mendengarkan lagu lama seperti punya Kahitna, Dewa 19, dan segelintir musisi lainnya. Satu dari sekian hal yang membuat para manusia laknat itu makin gencar mengatai Shintarou kolot. Terserah.
"Terus kenapa kalau aku suka dengerin Kahitna," jeda, "toh itu bukan urusanmu. Aku download lagu juga gak pakai kuotamu, memorinya pakai punyaku sendiri, aku tahu Kahitna juga bukan dari bapakmu—"
"HAHAHAHAHA kok malah sensi sih 'KAN AKU CUMA NANYA," telinga Shintarou berdenging, demi Tuhan, sebentar lagi kepalanya bisa pecah, "tapi pernah sih aku dengerin lagunya Kahitna. Yang apa ya. Oh iya yang Cantik kalau gak salah. Lumayan kok lagunya, recommended banget lah buat yang mau nembak orang."
"Hm." Shintarou stay cool menanggapinya dengan gumamam. Dalam hati berharap kalau tiba-tiba UFO muncul dan menangkap Kazunari, dibawa ke ruang angkasa, dan dia bisa hidup bahagia tanpa gangguan. Lain cerita kalau Kazunari yang sudah jadi alien turun lagi ke bumi untuk balas dendam dengannya, gak, Shintarou gak mau tahu. Lagian ini kenapa sih gerbang depan kok rasanya jauh sekali.
"Oh iya Shin-chan, sebentar lagi anak teknik sipil mau adain event konser loh. Enaknya siapa ya yang jadi bintang tamunya nanti?" Belum sempat Shintarou memikirkan jawaban, Kazunari sudah lebih dulu menyela dengan ekspresi dibuat bingung, "ah kalau kamu mah pasti bakal jawab Kahitna, atau mungkin Dewa 19. Tapi gila ya pasti kalau ngundang mereka biayanya banyak banget."
Bacod, batin Shintarou menjawab keki. Gak usah nanya kalau nanti bakal jawab sendiri.
"Ah tapi bisa dipikir nanti, 'kan acaranya juga masih lama," akhirnya Kazunari jadi terkesan bermonolog, semua karena Shintarou yang tak sudi membuka mulut untuk menimpali perkataannya. Udah ah, Shintarou capek, "tapi kalau nanti Shin-chan mau request datengin siapa masih bisa kok bilang ke aku."
"Gak," kata Shintarou datar, yang dimaksud Kazunari itu konser musik, 'kan? Mana mau Shintarou berjubel desak-desakan buat nonton orang nyanyi, "gak peduli. Gak suka juga dateng ke acara gituan."
"JAHAT BANGET padahal seru loh liat orang perform, mana pernah anak FK nyelenggarain yang begituan," hebatnya Kazunari masih bisa membalas tanpa merasa tersindir sama sekali, "tapi pasti kamu mau datang kalau bintang tamunya Kahitna, berani jamin deh, atau kalau perlu kamu langsung naik ke panggungnya buat nyanyi bareng—"
PLAK! Shintarou berjengit sambil melirik ngeri saat Kazunari tahu-tahu menepuk dahinya sendiri sambil melotot horor, "oh iya aku sampai lupa mau rapat sama yang lain buat bahas konsernya bulan depan terus KOK AKU JADI IKUT KAMU PULANG? Ya udah deh gak peduli juga, kamu pulang sendiri aja ya Shin-chan aku mau balik lagi, dadah!"
Setelahnya Kazunari putar balik dan berlari dengan langkah seribu untuk memasuki wilayah kampus. Padahal tinggal setengah jalan lagi dan mereka sampai di gerbang utama. Shintarou cengo sambil menatap ke belakang, tapi bodo amatlah namanya juga Kazunari yang sudah awam dengan lika-liku kebodohan. Akhirnya dia kembali membenahkan letak earphone di telinga, menyimpan ponsel di saku celana, lalu lanjut berjalan untuk pulang ke kosnya.
Sumpah, Shintarou capek. Mau rebahan aja.
.
.
.
.
.
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Gara-gara Kahitna! #01 © midoakas
[A Midorima Shintarou x Akashi Seijuurou's fanfiction.]
College!Semarang!AU. Ide spontan yang muncul ketika lagu Project Pop dengan judul yang sama lewat di radio, dan kepikiran gimana jadinya kalau midoaka jadi anak kuliahan yang sama-sama ngefans Kahitna dan mereka nonton konser bareng AHAHAHA lucu banget pasti.
Harap berhati-hati dengan typo atau karakter yang ooc parah, juga kata kasar yang bertebaran dimana-mana. Last but not the least, happy reading!
.
.
.
.
.
.
Ada dua hal yang sudah Shintarou hapal di luar kepala ketika menarik pintu gerbang kosnya.
Pertama, Miyaji Kiyoshi sang bapak kos yang galak dan hobi lempar buah, pasti lagi duduk di teras depan sambil jaga warung atau menunggu anak-anak kosannya yang baru pulang kuliah. Kedua, pasti ada radio kecil yang diletakkan di atas meja, memutar lagu campursari atau kadang keroncongan yang cocok didengar sambil ngeteh dan menatap birunya langit sore.
Kelamaan ditempelin Kazunari bikin Shintarou jadi banyak drama. Cuih.
Tapi ada satu hal yang tak biasa waktu gerbang itu benar-benar dia buka. Kiyoshi memang duduk di sana, juga radio kecil yang hobinya nemplok di atas meja. Ada satu entitas lain yang tampak asing di mata Shintarou, rantang yang letaknya bersisian dengan radio, atau sosok pemuda berambut merah yang duduknya juga bersisian dengan Kiyoshi. Keduanya tampak larut dalam perbincangan seru, momen langka dimana Kiyoshi tertawa-tawa tanpa nanas yang disembunyikan di belakang tubuhnya. Sumpah, ini keren banget sih. Meski kagum, Shintarou tak bisa bohong kalau sedikit banyak romanya malah merinding disko.
"Oh, nak Shin, sudah pulang?" Kiyoshi jadi yang pertama kali menyadari kehadirannya, disusul dengan si pemuda yang ikut-ikutan menoleh. Secara tak sengaja mata mereka bertemu. Shintarou mendadak salting.
Hah. Apah.
"I—iya, gak ada tugas jadi aku langsung pulang," kata Shintarou, meski di awal ia agak gagu. Tatap-tatapannya dengan si merah masih berlanjut ketika Shintarou benar-benar masuk ke halaman kos, tapi segera diputus olehnya untuk beralih melihat Kiyoshi yang duduk bersandar di kursi, "yang baru datang cuma aku, pak?"
"Iya, yang lainnya mungkin masih mau ngerjain tugas. Di sini cuma ada Moriyama sama Izuki yang kuliahnya kosong dari pagi, tapi mereka juga gak kelihatan batang hidungnya," lalu Kiyoshi berdiri, tangannya meraih pegangan rantang dan menoleh pada pemuda yang tadi duduk di sebelahnya, "oh iya Seijuurou, nanti bilang ke Yuuya, kata Pak Kiyoshi makasih udah dikirimin opor ayam, maaf sampai ngerepotin kamu segala. Ini opor ayamnya dipindah dulu biar rantangnya bisa kamu bawa pulang—oh iya Shintarou, daripada bengong di kamar mending duduk sini terus temenin Seijuurou ngobrol, bapak gak akan lama kok."
Sepeninggal Kiyoshi, Shintarou masih loading. Baru ketika punggung bapak kosnya menghilang dari pandangan, sinyal Shintarou langsung connected. Syit. Mendadak dia hebring sendiri, tidak tahukah Kiyoshi kalau Shintarou bukan tipe orang yang easy going macam Kazunari? Yang bisa langsung ngobrol seru sama orang tak dikenal? Shintarou capek, rencananya buat rebahan auto bubar jalan.
Meski begitu dia tetap duduk di sana, di bekas tempat Kiyoshi, di sebelah pemuda yang bapak kosnya panggil Seijuurou tadi. Mereka masih betah diam-diaman. Awkward abis. Lagian ngapain sih Kiyoshi kuker banget nyuruh mereka ngobrol, Shintarou mulai bermonolog dalam hati.
"Oh iya," untung saja keheningan itu dipecah tak lama kemudian, Shintarou menoleh dan mendapati netranya bersirobok dengan sepasang batu rubi yang tersenyum saat menatapnya, "kamu anak Diponegoro juga?" Lalu telunjuk kanan pemuda itu terangkat, mengacu pada jas biru tua yang belum Shintarou lepas dari tubuhnya.
"Iya," balas Shintarou kaku, 'juga' katanya? Jadi anak ini satu univ dengannya? "Midorima Shintarou, anak FK. Mungkin gak banyak yang tahu aku siapa."
"Bohong," secara tak disangka pemuda itu malah tertawa, "ini Midorima Shintarou yang rambutnya hijau kayak lumut itu, 'kan? Hahaha, sori, gak maksud ngejek. Tapi kayaknya, semua orang, dari ujung fakultas sampai ke ujung lainnya, udah pada tahu kamu siapa. Temen deketnya Takao Kazunari sejak masih maba, iya 'kan?"
Fak, Shintarou sukses mengumpat keras dalam hati. Tentang bagaimana si Bakao menyebarkan berita yang tidak-tidak tentangnya dan seberapa terkenal sih dia di lingkungan kampus?!
"Gak, dia yang bohong," menyadari perubahan di nada suaranya jadi sedikit lebih ngegas, Shintarou buru-buru berdeham untuk menetralkan tenggorokan, "padahal aku gak pernah sekalipun ngerasa kalau temenan sama dia. Jangan sampai kemakan sama gosip."
"Ah, yang benar?" Dua sudut bibir pemuda itu malah menarik sebuah senyum simpul. Entah mau percaya yang mana, Shintarou atau Kazunari, yang bersangkutan tak sudi ikut campur, "jadi bingung mau percaya yang mana. Tapi temenan sama orang kayak Takao sebenernya enak, kok."
"Hmph. Kalau saja mulutnya itu mingkem dan ga banyak omong—" eh tunggu bentar, Shintarou melanjutkan monolognya dalam hati, jadi si Seijuurou ini temennya Kazunari? "Kalau kamu?"
"Akashi Seijuurou, anak FEB," senyum yang semula memoles wajah si rambut merah pelan-pelan ditarik lebih lebar, "wah, lumayan jauh juga jaraknya. Tapi masih jauhan Takao sih, kadang suka heran dia suka kelayapan sampai ke fakultasku cuma buat numpang ketawa."
"Gak heran," dengan begitu Shintarou memutuskan untuk tak lagi memikirkan Akashi Seijuurou anak FEB yang ternyata temenan sama Takao Kazunari anak FT, padahal jarak fakultas mereka jauh banget kaya Sabang sampai Merauke, "ngomong-ngomong, kamu ngekos di mana? Bukannya kepo ya, tapi aku gak pernah liat kamu di daerah sini."
"Di tempat Pak Yuuya, adiknya Pak Miyaji, yang punya kosan di ujung jalan itu. Tahu 'kan?" Ooohh, Shintarou cuma angguk-angguk sebagai jawaban, "tadi aku baru pulang kuliah, tapi disuruh Pak Yuuya buat ngasih opor ke kakaknya. Ya sudah, akhirnya sekalian main. Kasihan Pak Kiyoshi tadi ngegalau sendiri."
Daripada ngebahas galaunya Pak Kiyoshi yang terkesan tidak penting, Shintarou justru fokus ke Pak Kiyoshi dan Pak Yuuya 'kan kakak adik, kandung, saudaraan, kenapa malah bikin kos kepisah ya? Bukannya lebih enak kalau jadi satu aja? Memang terkesan tidak penting, tapi entahlah namanya juga Shintarou yang otaknya kadang suka acak kaya habis dishuffle mode.
Kemudian hening. Mereka sama-sama diam. Radio yang masih menyala kini memutar lagu Green Days—sebenarnya Shintarou tak tahu menahu tentang lagu semacam ini, semua karena ulah Kazunari yang kadang suka nyanyi waktu jalan dengannya. Shintarou mendadak jiper. Selera musiknya Seijuurou serem juga.
Lah bentar deh ngapain aku ngurusin selera musiknya segala, lagi-lagi Shintarou bermonolog dalam hati.
Belum sempat keduanya cari topik buat lanjut ngobrol, tiba-tiba Moriyama muncul dari dalam sambil bawa-bawa rantang. Atensinya jatuh pada Shintarou yang disapa ringan, lalu beralih pada Seijuurou dengan mata sedikit berbinar, "Dek Sei! Lama ga ketemu ya. Ini rantangnya, bapak kos masih ribet di belakang. Lagi sembelit kayanya."
"Oh, iya? Kasihan Pak Kiyoshi," Seijuurou menimpalinya dengan tawa. Dia berdiri, menerima rantang yang disodorkan Moriyama masih dengan senyum merekah, "kalau begitu aku pulang dulu, ya. Dah, Kak Moriyama," yang tak diduga bola rubi itu bergeser menuju Shintarou yang juga menatapnya hingga mata mereka bertemu, "dah, Shintarou."
Sepeninggal Seijuurou, Shintarou masih loading. Baru ketika Moriyama merangkulnya dari samping, sinyal Shintarou langsung connected. Bikin kaget aja.
"Kenapa dipelototin, Shin?" Tanya Moriyama dengan nada menggoda, telunjuknya ditusuk-tusukkan pada pipi Shintarou yang langsung mengernyit jengkel, "Seijuurou manis, ya? Sampai gak kedip gitu lihatnya."
"Apaan sih kak." Shintarou menepis tangan Moriyama yang melingkar di bahunya. Ia berdiri, menaikkan bingkai kacamata yang posisinya sedikit melorot dari hidung, lalu berjalan menjauh dari Moriyama yang malah cengar-cengir aneh tanpa menyampaikan salam perpisahan. Udah ah, Shintarou capek. Pengen rebahan.
.
.
.
Setelah kejadian itu, Shintarou bertemu lagi dengan Seijuurou dua hari berikutnya.
Lokasi pertemuan mereka bukan lagi di kosan Kiyoshi, melainkan di pom bensin dekat kampus tempat Shintarou isi angin ban. Hari ini jadwalnya kuliah siang, dan karena malas jalan kaki seperti biasa, Shintarou memilih untuk naik motor yang jarang dia pakai. Meskipun bannya jadi sedikit kempes, tapi tak apa lah daripada nganggur di kosan.
Sebenarnya Shintarou sempat ragu kalau yang dilihatnya itu bukan Seijuurou, tapi dari surai merah yang tampak mencolok di antara rambut hitam atau kecokelatan yang umumnya dimiliki orang-orang, ia jadi memantapkan diri untuk melangkah mendekati sosok itu. Sosok yang sedang duduk di depan kontainer penjual kebab sambil memeluk sesuatu. Entah helm atau tas, Shintarou tak bisa melihatnya dengan jelas karena posisinya kini berada di belakang -yang diduga- Seijuurou.
Tunggu tunggu tunggu. Tahu-tahu Shintarou berhenti ketika jaraknya dengan -yang diduga- Seijuurou tinggal dua langkah lagi. Ngapain juga aku nyamperin dia?! Mau ngajak ngobrol? Sksd? Lagian kita juga gak deket. Sok asik banget sih lu Shintarou udah pulang aja.
Baru saja Shintarou akan putar balik dan pergi dari sana, tiba-tiba -yang diduga- Seijuurou malah lebih dulu memutar kepalanya ke belakang.
Shintarou mendadak ingin cosplay jadi tangki bensin.
"Loh, Shintarou?" Diam-diam Shintarou menghela napas, setengah lega kalau dia tak salah orang dan setengahnya lagi kalap ketika Seijuurou, yang sungguhan Seijuurou, malah tersenyum saat menatapnya, "ngapain di sini?"
"Anu, tadi habis isi angin. Mau berangkat kuliah tapi bannya kempes." Dalam hati ingin balik menanyai Seijuurou namun segera diurungkan, matanya mendarat pada helm bogo yang sedang dipeluk si merah itu. Seijuurou pakai helm bogo? Lucu banget sih.
Hah. Apah.
"Oh, kuliah siang ya? Aku malah baru pulang kuliah, pulang kumpul sih. Sama anak BEM," senyum Seijuurou masih belum luntur saat membalas, "tapi mampir dulu ke sini gara-gara temenku kebelet. Padahal tadi mau langsung pulang."
Shintarou hanya menimpali dengan oooh pelan, sedikit takjub karena Seijuurou berbaik hati menjelaskan tanpa diminta, "memang sebentar lagi mau ada event ya? Sampai anak BEM rapat segala." Sejenak pikirannya malah melayang ke Kazunari, kalau anak BEM rapat, berarti dia ikut juga dong?
"Oh, ga ada kok, bukan rapat penting juga sebenernya. Cuma ngumpul biasa buat ngob—"
"Sei-chaaaaan!"
Suara ini...
Shintarou menoleh patah-patah ke arah kiri.
Itu Kazunari.
Mampus.
"Sei-chan maaf lama tadi antriannya panjang banget—loh ada Shin-chan juga?" Pandangan si belah tengah yang baru datang justru terfokus pada Shintarou yang berdiri kaku di depan Seijuurou, "mau berangkat kuliah? Motormu mana?"
Mampus mampus mampus, "tadi... habis isi angin." Shintarou merutuk dalam hati, setengah lagi berpikir kalau ternyata Seijuurou sama Kazunari beneran temen dan mereka sama-sama anak BEM?!
"Bohong banget, tempat isi angin sama Sei-chan 'kan jauh, jangan-jangan kamu sengaja mampir ke sini waktu liat dia?"
Anjirlah Takao berisik banget, "gak gitu—"
"Kazu, daripada kamu ngomong yang aneh-aneh, mending ambil motor dulu sana," akhirnya Seijuurou berbaik hati menyela, menyelamatkan Shintarou dari ocehan Kazunari yang sama sekali tak berbobot. Saku jas dia rogoh dengan tangan yang tak memegang helm, lalu menyodorkan sebuah kunci pada Kazunari yang langsung menerimanya, "jangan ocehin dulu Shintarou-nya, kasihan nanti telat berangkat kuliah."
"Oke," Shintarou rasanya ingin sembah sujud, tapi niat itu gagal total saat Kazunari malah melirik dan melemparkan senyum aneh padanya, "Shin-chan, habis ini aku chat kamu ya. Kita ngobrol."
Firasat Shintarou mendadak buruk.
"I—iya udah sana kamu pergi aja." baru ketika Kazunari benar-benar pergi, Shintarou mengalihkan perhatiannya pada Seijuurou yang masih duduk di kursi. Gugup. Suasana mendadak canggung.
"Shintarou ternyata nggak beneran dekat sama Kazu, ya?" Alis-alis merah Seijuurou terangkat, lalu terkekeh pelan, "tapi jadinya lucu malah."
"HAH lucu darimana coba," Shintarou jaw drop, kacamatanya dinaikkan untuk mengatasi kegugupan, "sudah jam setengah satu, aku duluan ya, nanti keburu telat."
"Oke," Seijuurou cuma angguk-angguk, toh saat melirik ke parkiran tadi, Kazunari sudah selesai ambil motor, "oh iya, Shintarou?"
Shintarou batal melangkah ketika Seijuurou memanggil namanya, "ya?"
"Boleh minta id line kamu?"
Hah.
HAH?!
Shintarou sadar kalau sekarang ia melotot tidak santai, "b—buat apa?"
"Buat nambahin kontak aja," heh alasan Seijuurou minta id line-nya juga gak masuk akal, "kalau ga boleh, gapapa sih—"
"Midorima06."
Kalau tadi alis Seijuurou terangkat, kali ini giliran keningnya yang berkerut, "gimana?"
"Midorima06," ulang Shintarou cepat, pandangannya dialihkan ke arah lain, "itu idnya. B—bukan berarti aku mau kasih id line ke kamu secara cuma-cuma ya, tapi gak enak aja kalau ga ngasih 'kan kamu sendiri yang minta."
Seijuurou masih menatapnya dengan raut tak terdefinisi. Shintarou sudah bodo amat, berdoa dalam hati supaya kilat menyambar tiba-tiba dan dia sungguhan dikutuk jadi tangki bensin, "hahaha."
Kali ini Shintarou menoleh, kok Seijuurou malah ketawa?
"Hahaha, ternyata bener ya kata Kazu, Shintarou orangnya tsundere," Seijuurou masih tertawa, namun segera surut beberapa saat kemudian, "nanti sampai di kos aku add, deh. Sana kalau mau berangkat, nanti keburu telat loh."
Bertepatan dengan itu, Kazunari datang dengan motornya. Dia berhenti di sebelah Shintarou yang cuma mengangguk dan melambaikan tangan—menyempatkan diri untuk menatap tajam ke arah Kazunari yang tak mengetahui apa-apa (ah masa?)—lalu bergegas pergi ke motornya yang masih di parkir dekat pompa angin. Bodo amatlah. Shintarou capek, pengen pulang aja.
.
.
.
Sudah jam tiga, Shintarou juga sudah pulang kuliah. Notifikasi ponselnya belum berbunyi, belum ada permintaan teman yang masuk dari line, bahkan ketika ia sampai di kamar kos dan rebahan di atas kasurnya. Shintarou tak henti-henti menatap layar, berharap kalau tiba-tiba ada notif dari Seijuurou yang menambahkannya sebagai teman...
Tunggu tunggu tunggu. Shintarou syok. Buat apa juga aku nungguin notif dari dia?!
Shintarou baru saja meletakkan ponsel itu ke atas meja saat tiba-tiba notifikasinya berbunyi.
Panik, Shintarou raih lagi ponselnya yang sempat terabaikan.
Dari operator.
Setan.
Shintarou sudah hampir bodo amat ketika ponselnya berbunyi lagi, sedikit malas sih siapa tahu dari operator yang mengingatkan kalau paket datanya sudah mau habis—
[LINE] Akashi Seijuurou added you as a friend by line id.
—hah.
Shintarou syok.
SEIJUUROU BENERAN NGE-ADD DIA DI LINE ANJIR APA-APAAN NIH MAKSUDNYA.
Mencoba untuk stay cool namun gagal ketika nama Seijuurou langsung muncul di notifikasinya, itu berarti Seijuurou mengiriminya pesan,
Akashi Seijuurou : Halo, Shintarou.
FAAAAAAAAK.
Shintarou mendadak engap. Buru-buru bangkit dari posisi berbaringnya semula.
Niat hati ingin mengabaikan pesan itu namun gagal saat jarinya terpeleset dan roomchat Seijuurou terpampang indah di depan matanya, istilah kerennya, kepencet.
Shintarou langsung bernafsu untuk merubuhkan tembok kamar.
Midorima : Iya, Seijuurou?
Pasrah, Shintarou lebih memilih untuk mengetikkan jawaban, lagian bego banget sih ini 'kan sudah pasti Seijuurou.
Tak sampai satu menit, balasan dari Seijuurou masuk lagi ke ruang obrolannya.
Akashi Seijuurou: Ngetes aja kok, siapa tahu salah orang, hehe.
Kriminal banget ya aku ini, dikira ngasih nomor palsu apa, batin Shintarou nelangsa.
Midorima : Iya kok beneran Shintarou, 'kan aku ngga kasih nomor palsu.
Shintarou mencoba melucu. Garing anjir.
Namanya juga usaha.
Akashi Seijuurou : Kuliahnya sudah selesai? Kazunari tadi balik lagi ke kampus habis nganter aku pulang. Kirain ketemu kamu.
Midorima : Ngga kok, 'kan jarak antar fakultasnya jauh.
Lagian ngapain sih kamu nanyain dia, gak guna, lanjut Shintarou dalam hati.
Akashi Seijuurou : Ohhh, siapa tahu ketemu di jalan.
Tahu-tahu percakapan mereka mengalir begitu saja. Lancar sekali. Seijuurou enak juga diajak ngobrol, dan Shintarou jadi tahu kalau selera mereka hampir serupa. Tadi Shintarou iseng cerita kalau dia suka main ke Gramedia buat belanja buku, dan Seijuurou juga cerita kalau dia suka melakukan hal yang sama.
Wow banget 'kan ya. Mereka sama-sama suka novel misteri seperti Murder on the Orient Express-nya Agatha Christie, suka mampir dulu di dunkin habis belanja buku, suka pergi kemana-mana sendirian. Shintarou sudah berpikir, wah bisa nih kapan-kapan ajakin Sei buat pergi bareng...
Hah. Apah.
Shintarou gatal ingin menampar dirinya sendiri. Apaan sih gaje banget mau ngajakin hunting buku bareng segala.
Ting.
Shintarou baru akan menekan tombol home ketika notifikasi lain masuk ke ponselnya. Bukan dari Seijuurou, tapi Kazunari.
Anjir.
Shintarou cepat-cepat menandainya dan mencari opsi report. Tapi tidak jadi, kasihan kalau ternyata penting.
Sejak kapan semua yang berhubungan sama Kazunari itu penting.
Takao K. : Shin-chan.
Cuma memanggil. Jari-jari Shintarou bergerak untuk membalas.
Midorima : Hm.
Magadir dasar, orang manggil baik-baik malah dijawab 'hm.'
Takao K. : Tadi Sei-chan minta id line kamu ya?
Shintarou jaw drop. Kok Kazunari bisa tahu kalau dia sama Seijuurou tukeran id line?
Midorima : Tau drmn.
Takao K. : Sei-chan sendiri yang bilang, katanya dia senang, akhirnya ada teman buat nyari buku bareng.
Hah? Kening Shintarou berkerut. Temen buat nyari buku bareng? Gak salah?
Belum sempat Shintarou mengetikkan balasan, masuk lagi notifikasi pesan dari orang lain. Oh, dari Seijuurou. Shintarou menurunkan bagian atas layar, mengecek pesan Seijuurou lewat bar notifikasi dan membacanya lamat-lamat dalam hati...
Akashi Seijuurou : Besok Minggu temenin aku nyari buku, yuk?
Hah.
HAH.
Rahang Shintarou terjun bebas.
APA-APAAN INI KOK SEIJUUROU BENERAN NGAJAK DIA NYARI BUKU.
Cepat-cepat Shintarou keluar dari ruang obrolannya dengan Kazunari, berpindah menuju pesan Seijuurou yang belum dia buka, lalu mengetikkan balasan di sana.
Midorima : Ke mana?
Balasan datang tak lama kemudian.
Akashi Seijuurou : Ke Gramed. Mau nyari buku punya Irham Fahmi, buat referensi tugas.
Ting!
Muncul lagi notifikasi dari Kazunari, mungkin protes karena pesannya hanya dibaca. Shintarou bodo amat. Boleh juga sih menerima ajakan dari Seijuurou, toh dia juga butuh jurnal tentang cadaver yang akan dipelajarinya beberapa minggu lagi.
Midorima : Oke.
Sent.
Midorima : Hari Minggu jam sembilan, ya.
Shintarou menghela napas, lega. Menekan tombol back, lalu mengerutkan kening saat melihat pesan Seijuurou yang belum dia buka.
Lah terus tadi dia ngirim chat ke siapa, matanya melirik ke atas. Kazunari.
"..."
AAHHHHHH.
Shintarou hebring. Cepat-cepat membuka roomchat Kazunari dan bersiap menarik pesan nyasar yang baru saja dia kirimkan, kalau saja si belah tengah itu tak lebih cepat mengirimkan balasan.
Takao K. : HAH perasaan tadi aku nanya gimana cara kamu sama Sei-chan kenal terus kenapa kamu malah ngajak aku ketemuan.
Hening. Shintarou keringat dingin. Syukurlah Takao gak konek—
Ting!
Kekhawatiran Shintarou membuncah ketika bunyi notifikasi ponselnya mendadak ricuh, dan pesan dari Kazunari yang naik turun karena capslocknya jebol bertebaran memenuhi layar.
Takao K. : OH JANGAN BILANG kamu mau keluar sama Sei-chan? Berdua? Nyari buku?
Takao K. : YA AMPUN SHIN-CHAN PERKEMBANGANMU PESAT BANGET ASTAGA YA DEWA AKU BANGGA.
Takao K. : Tapi ini terlalu cepat, Shin-chan. TERLALU CEPAT. Kalian baru kenal dua hari dan kamu udah ajak dia kencan? HAH?!
Bacot Takao bacot, Shintarou merasa jari-jarinya dingin. Ia berkeringat. Pantas saja jarinya gampang kepeleset di layar dan malah kepencet notifnya Kazunari yang kebetulan muncul di atas.
Midorima : Berisik, Takao.
Takao K. : SHIN-CHAN AKU GAK NYANGKA TERNYATA KALIAN BENERAN DEKET HUHUHU GEMES BANGET AKU MAU BERDOA DEH SEMOGA KALIAN PUNYA ANAK LIMA.
Fak, Shintarou mengumpat keras-keras dalam hati. Kalau saja ia dilahirkan kembali sebagai superhero, ia ingin menjadi hero dengan kekuatan menampol orang lewat layar ponsel. Lebih spesifiknya, nampol mulut Kazunari.
Midorima : BERISIK, Takao.
Takao K. : KALIAN MAU KENCAN DI MANA EMANG oh biasanya Sei-chan sih pergi ke toko buku yang deket alun-alun itu, jangan-jangan kalian mau ke sana ya? UWUUU GEMES BANGET DEH KALIAN INI UHUHUHU
Shintarou lelah. Paham betul kalau Kazunari masih akan heboh meracau sana sini, jadi dia berbaik hati menekan tiga titik di pojok kanan atas dan lanjut menekan sesuatu,
Takao K. has just blocked by you.
Bodo amat.
.
.
.
Hari Minggunya, mereka benar-benar ketemuan di toko buku.
Seijuurou menolak ajakan Shintarou untuk berangkat bersama karena ada urusan di rumah temannya yang kebetulan dekat toko buku, jadi dia berangkat duluan. Shintarou sih oke oke saja, naik bus trans karena malas bawa motor dan sampai di toko satu jam kemudian. Macet parah dan Seijuurou juga belum sampai. Akhirnya Shintarou memilih untuk berdiri di samping pintu toko dan memainkan satu-satunya game yang terpasang di ponselnya, candy crush.
Cupu abis.
"Shin!" Shintarou mendongak ketika namanya dipanggil. Sedikit terperangah melihat Seijuurou yang tumben tampil santai dengan hoodie putih dan celana pendek selutut, juga sepatu putih yang melekat di kakinya. Manis banget.
Hah. Apah.
"Halo," Shintarou membalasnya dengan senyum kaku. Ponsel dimasukkan kembali ke dalam saku celana, "urusannya sudah selesai?"
"Sudah," Seijuurou juga tersenyum, namun tampak lebih tulus dan mendadak Shintarou merasa kalau matahari berada lebih dekat dengannya, "ayo masuk?"
"Hm."
Seijuurou masuk lebih dulu, diikuti Shintarou yang berjalan di sebelahnya. Bercakap ringan sambil menaiki tangga menuju lantai dua, lalu berpisah untuk mencari buku yang mereka butuhkan. Sepakat untuk saling berkirim pesan kalau salah satu di antara mereka selesai, dan bertemu di tempat yang sudah ditentukan. Langkah Shintarou jelas langsung belok ke rak buku kesehatan, mencari judul jurnal yang dia perlukan. Oh, ada beberapa. Tapi beli dua aja lah sisanya buat novel baru.
Selesai mengambil buku, Shintarou lanjut berjalan ke rak novel. Yang membuat dia terkejut, Seijuurou juga ada di sana, posisinya jongkok dengan mata fokus memilah judul buku.
"Seijuurou?" Shintarou memanggil namanya pelan. Seijuurou menoleh, senyumnya merekah ketika didapatinya Shintarou juga ada di sana, "halo, Shin. Bukunya udah ketemu?"
Angguk sekali, "udah," selanjutnya Shintarou memutuskan untuk mendekat dan ikut berjongkok di sebelah Seijuurou, "dapat dua, kamu dapat berapa? Irham Fahminya ada?"
"Aku dapat tiga, Irham Fahminya nggak ada. Mungkin nanti aku cari pdfnya di internet," jawab Seijuurou, atensinya kembali berpindah pada jajaran buku yang tersusun rapi di atas rak, "Shintarou mau cari novelnya siapa?"
"Tere Liye. Belum sempat beli seri terbarunya, gak ada waktu," yang tak Shintarou sangka, Seijuurou justru tersentak dan menoleh cepat ke arahya, "kamu tahu Tere Liye?"
"Ya siapa juga yang gak kenal Tere Liye," kening Shintarou berkerut, "kamu juga tahu Tere Liye?"
"Semua orang pasti tahu dia siapa," Seijuurou tertawa renyah, "tapi aku lebih suka baca Dee Lestari. Kemarin datang ke sini mau nyari Aroma Karsa tapi tokonya kehabisan stok, jadi aku datang lagi, siapa tahu bukunya udah ada."
"Oh, bagus deh." Shintarou menggumam pelan, mulai bersemangat saat menemukan novel incarannya. Jemarinya lincah memilah tumpukan novel itu, menarik keluar sebuah buku yang tidak disegel, biar jadi contoh kalau orang-orang mau lihat isinya.
"Shin?" Tapi Seijuurou malah menatapnya dengan alis bertaut, "kamu mau baca itu di sini?"
"Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Shintarou malah balik bertanya. Posisinya yang semula jongkok diubah menjadi duduk, bersandar pada rak buku yang berdiri di belakangnya, "semua orang juga pernah begini. Jangan bilang kamu kalau ke toko buku cuma masuk-nyari-ambil-bayar terus langsung pulang?"
Di luar dugaan, Seijuurou malah mengangguk. Shintarou langsung terperangah. Ternyata Seijuurou tipe orang yang suci tiap datang ke toko buku. Shintarou jadi merasa kotor.
"Coba dulu saja baca di sini. B—bukannya aku mau ngajak kamu baca bareng, tapi sayang 'kan sudah sampai sini tapi gak ngintip isi novelnya."
Kening Seijuurou masih berkerut saat menatapnya, namun tak lama kemudian, dia malah mengambil judul novel lain yang segelnya terbuka dan mengambil tempat duduk di samping Shintarou, "boleh dicoba, tapi pakai judul lain ah biar bebas dari spoiler."
Diam-diam Shintarou tersenyum tipis saat Seijuurou mengikuti ajarannya. Lumayan, bisa ngadem bentar.
Lalu acara ngadem mereka diakhiri Shintarou saat novel yang dia baca sudah habis setengah halaman. Seru ceritanya, niat Shintarou untuk membeli juga semakin mantap. Jadi dia mengambil buku lain yang masih dipasang plastik segel, mengajak Seijuurou yang langsung menurut dan berdiri, mengekori Shintarou ke kasir untuk membayar buku-buku yang mereka bawa.
"Habis ini mau ke mana?" Shintarou memulai percakapan di antara mereka saat menuruni tangga, "bukannya mau ngajak kamu jalan-jalan, tapi aku malas pulang sekarang. Hawanya panas, mana tadi pas berangkat macet parah. Gimana kalau kita ngadem dulu aja?"
"Ngadem lagi?" Seijuurou membalasnya dengan kerutan kening, lalu terkekeh pelan, "boleh juga. Gimana kalau mampir ke dunkin dulu? Sekalian ngemil donat."
Begitu Seijuurou selesai bicara, kaki mereka secara bersamaan menapak di lantai dasar. Shintarou hanya menimpali dengan anggukan, tanda setuju, dan mereka langsung menuju dunkin yang letaknya di dekat pintu masuk. Shintarou menghela napas lega ketika angin air conditioner menyambutnya, udara Semarang yang lagi panas-panasnya memang tak ada yang bisa menandingi.
"Shintarou kepanasan, ya?" Tak disangka Seijuurou melirik, bibirnya membentuk sebuah senyum geli, "mirip beruang kutub."
"Hmph. Memang kamu gak kepanasan? Matahari lagi terik-teriknya tapi malah pakai hoodie," Shintarou mendengus, memalingkan muka, kacamatanya yang sedikit melorot dinaikkan dengan dua jari. Nampan yang berada di dekat tangan diraih dengan cepat, lalu menoleh lagi untuk menatap Seijuurou, "nampannya jadi satu aja. Ayo pilih donatnya dulu."
Donat tertata di piring, dua es cokelat juga siap di atas meja. Plastik tempat buku mereka digantung di kursi, dan empunya asyik bercakap mengenai novel yang mereka beli tadi. Perbincangan mereka berjalan lancar, sesekali diselingi dengan gigitan donat atau topik tentang kuliah.
Memang, semuanya berjalan lancar. Terlalu lancar malah. Tidak sampai suara lagu muncul memecah obrolan mereka, dan dua netra berbeda warna itu bertatapan dalam diam.
Hey..hey hiye hiyeee..!
Ini lagu siapa...
Tunggu tunggu tunggu. Kening Shintarou berkerut, kaya kenal suaranya.
Berawal dari mata indahnya sapamu
Mengapa harus resah
Berawal tatap mata hangatnya sapamu
Mengapa jadi gundah
Hening. Satu alis Seijuurou terangkat, "Shintarou, ponselmu bunyi?"
"..."
FAK IYA 'KAN INI SUARA RINGTONE PONSELNYA.
Shintarou hebring, buru-buru merogoh saku celana dan mengecek layar ponsel. Panggilan masuk dari Kazunari. Mampus. Mampus! Shintarou reflek memencet tombol reject, napasnya memburu, hampir saja menjatuhkan ponsel karena tangannya bergetar.
"Dari siapa?" Shintarou mendongak patah-patah ketika suara Seijuurou terdengar. Bukan apa-apa, tapi pikiran Shintarou mendadak memutar kilas balik pertemuan pertamanya dengan Seijuurou di kos Kiyoshi beberapa waktu lalu. Radio yang memutar lagu Green Days. Shintarou bukannya jiper, tapi dia tak suka saja kalau nanti Seijuurou ikut-ikutan menyebutnya kolot seperti Kazunari dan beberapa orang lainnya begitu tahu dia suka Kahitna...
"Telepon nyasar." Kata Shintarou, cepat. Berusaha kalem, padahal hatinya mencak-mencak. Aduh gimana nih gimana nih gimana nih.
"Itu tadi..." Seijuurou menopang dagunya di atas meja. Kepalanya sedikit menengadah, menatap Shintarou yang duduk diam di hadapannya, "Cerita Cinta?"
Hah. Apah.
Shintarou cengo.
"Lagunya Kahitna?" Tahu-tahu Seijuurou bertanya lagi. Shintarou yang bingung cuma bisa mengangguk. Heran. Kok bisa-bisanya Seijuurou tahu Kahitna? "Shintarou juga suka Kahitna?"
"Iya, suka," Shintarou ragu-ragu menjawab. Bodo amatlah kalau harga dirinya mendadak anjlok di mata Seijuurou gara-gara suka musisi lawas, "kamu... tahu Kahitna?"
"Memang siapa yang gak tahu Kahitna?" Shintarou syok begitu tawa Seijuurou mengudara, "aku juga suka dengerin Kahitna, terutama yang Cantik. Jarang-jarang loh ada yang suka Kahitna kayak aku, makanya kadang merasa minoritas waktu teman-teman di kelas muter lagu pop atau yang metal-metal begitu."
Shintarou sudah tak bisa menghitung berapa kali Seijuurou membuatnya terperangah. Serius nih Seijuurou juga suka Kahitna?
"Iya," akhirnya Shintarou bicara dengan nada lemas. Bingkai kacamatanya dinaikkan untuk mengatasi kegugupan, "sama, sih. Orang-orang bahkan sering bilang aku kolot cuma karena beda genre sama mereka."
"Serius? Wah, kalau itu sih terlalu berlebihan," Seijuurou menelengkan kepala, dan Shintarou sukses menahan napas. Anak ini kenapa sih tingkahnya manis banget, "padahal setiap orang 'kan seleranya beda-beda. Mereka suka rock, ya sudah biarin aja. Beda sama kita yang lebih suka lagu lama. Iya 'kan, Shintarou?"
Sudah sejauh ini, dan Shintarou lagi-lagi tak bisa menghitung berapa kali Seijuurou membuatnya terperangah.
Hari ini, pukul dua siang, di dunkin Gramedia, dan Midorima Shintarou sukses jatuh cinta.
Begitu pulang dan sampai di kamar kosnya, Shintarou langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Mendongak, netranya fokus memandang langit-langit. Memikirkan apa yang telah terjadi dengannya dan Seijuurou hari ini, acara ngadem mereka di toko buku, Seijuurou yang ternyata juga suka Kahitna...
Hening. Jari-jari Shintarou merogoh saku celana, meraih ponsel yang masih ditaruhnya di sana. Membuka aplikasi line, membuka blocknya pada Kazunari dan mengetikkan beberapa kalimat di ruang obrolannya,
Midorima : Takao.
Midorima : Aku mau minta tolong.
Balasan datang lebih cepat dari yang dia duga.
Takao K. : SHIN-CHAN APA-APAAN SIH MAIN NGEBLOCK AKU AJA PADAHAL 'KAN AKU NGGA SALAH APA-APA.
Anjirlah Kazunari capslocknya, Shintarou mengumpat dalam hati.
Takao K. : Mana matiin telfonku tadi, pasti kamu lagi berduaan ya sama Sei-chan? Huh!
Takao K. : Btw kamu mau minta tolong apa kok tumben banget. Aku jadi takut.
Bacod, batin Shintarou membalas keki. Bodo amat.
Midorima : Bintang tamu buat konsermu udah disusun?
Takao K. : Udah, tapi rahasia dong aku gak mau bocorin ya gara-gara tadi kamu reject telfonku.
Bodo amat.
Midorima : Aku masih bisa request, nggak?
Takao K. : Oh, masih bisa kok. Masih sisa satu slot gara-gara artis yang mau diundang mendadak cancelled, nanti aku bilangin deh ke ketua panitianya
Takao K. : Kamu mau request artis siapa memang?
Jari-jari Shintarou berhenti bergerak di atas layar. Pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Seijuurou siang tadi.
'Aku juga suka dengerin Kahitna, terutama yang Cantik...'
Haruskah Shintarou melakukannya?
Bodo amatlah, Shintarou jadi pusing sendiri. Jemarinya kembali bergerak di atas layar, mengetikkan pesan balasan untuk Kazunari,
Midorima : Kalau masih sisa slotnya, aku mau request Kahitna aja. Makasih.
Begitu pesan terkirim, Shintarou cepat-cepat mematikan data. Mengantisipasi kalau nanti Kazunari malah jadi heboh dan merecokinya dengan capslock yang jebol sana sini. Ibu jarinya bergerak di layar utama, mencari folder musik dan mencari-cari lagu yang ingin didengarkannya.
Project Pop, Gara-gara Kahitna.
Pas banget sih ini sama suasana hati Shintarou.
Setahun kemarin aku enggak ngerti
Gaya merayuku tak sebebas merpati
Ketika ku dengarkan lagu karangan Yovie
Kini aku tahu cara menyatakan cinta
Shintarou meletakkan ponselnya di samping kepala. Matanya masih lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya ikut melanglang buana.
Ku bilang bukan ku ingin mengganggumu
Ijinkan lah aku menyayangimu
Gara-gara Kahitna
Kita pun punya cerita cinta
Gara-gara Kahitna
Bergolak rasa di dada
Tadinya oh tadinya
Aku hampir hampir insomnia
Gara-gara Kahitna
Kau jadi kasih tercinta
Tunggu sebentar. Kening Shintarou mendadak berkerut. Pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Seijuurou sesaat sebelum mereka berpisah tadi,
"Kalau Shintarou juga tahu Project Pop, nggak?"
"Tahu. Suka dengerin yang Ingatlah Hari Ini sama Gara-gara Kahitna."
"Waaah, bagus tuh! Aku juga suka dua-duanya!"
Gara-gara Kahitna
Kita pun punya cerita cinta
Gara-gara Kahitna, bergolak rasa di dada
Tadinya oh tadinya, aku hampir hampir insomnia
Gara-gara Kahitna
Kau jadi kasih tercinta
'Kita' yang dimaksud itu... cuma Shintarou saja, atau Seijuurou turut merasakan hal yang sama?
.
.
.
.
— bersambung.
Jadi saya datang bawa MidoAka lagi, hehehe. Tadinya mau dijadiin oneshoot tapi kok kesannya kepanjangan ya, yaudah deh potong aja jadi dua bagian biar ga juling bacanya. Eniwei, minal aidzin wal'faidzin ya kawan-kawanku semuanya~ *telat woi* Terima kasih sudah menemani midoakas sampai sejauh ini!
Last, RnR?
