Pagi hari yang cerah, secerah kulit artis iklan facial wash yang sering lewat di televisi.
Lagi-lagi Shintarou dapat jadwal kuliah siang, jadi dia memutuskan untuk meluangkan waktu yang lumayan panjang ini untuk dirinya sendiri. Me time, istilah kerennya. Mumpung Kazunari dapat jadwal kelas pagi, dan hidupnya dinyatakan bebas gangguan sampai malam nanti.
Semoga saja.
Sekarang ini dia sedang duduk di kedai bubur ayam dekat kampus yang pamornya lumayan tinggi di kalangan anak Diponegoro. Letaknya dekat fakultas FEB, lumayan jauh juga dari kos tempat Shintarou tinggal. Tapi dengan rasa yang sedap dibandrol harga terjangkau, Shintarou jadi merasa kaya begitu selesai makan di sini. Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mendapatkan semangkuk bubur dan teh hangat.
Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam atau karena lokasinya strategis, Shin?
Shintarou masih betah memainkan ponselnya sejak beberapa menit yang lalu. Kedai ramai pengunjung, dan pesanannya belum juga datang. Tak apa lah, lagipula ia juga belum begitu lapar. Teh hangat yang dipesannya juga masih mengepulkan uap, kebetulan sekali Shintarou tak suka minum saat masih panas.
"Eh, Shintarou?"
Tapi sepertinya dunia sedang tak ingin melihatnya tenang. Sepasang manik merah yang tampak terkejut justru tertangkap dalam jarak pandangnya ketika mendongak.
Lah?
"Eh?"
LAH?
"Seijuurou?"
Shintarou mendadak ingin menggebrak meja.
"Kamu lagi ternyata." Seijuurou terkekeh ketika namanya disebut. Langkahnya mantap mendekati Shintarou yang meremang di tempatnya duduk, terlebih ketika Seijuurou menarik kursi di hadapannya, "boleh duduk di sini?"
"B—boleh," Shintarou memaksa dirinya untuk menjawab meski sedikit tergagap, "kamu ngapain di sini?"
Makan bubur lah yekali menanam jagung, tanpa sadar Shintarou mengutuk dirinya dalam hati. Lagian buat apa dia nanya tujuan Seijuurou yang jelas-jelas duduk di kedai bubur ayam?
"Sarapan, lah. Hari ini aku dapat jadwal kuliah pagi." Masih untung Seijuurou tak mencemooh pertanyaannya, hingga diam-diam Shintarou menghela napas lega. Diamatinya penampilan Seijuurou sekarang, rapi dengan kemeja lengan pendek dan kaus hitam yang jadi dalaman, jauh berbeda dengan dirinya yang hanya pakai kaus santai dan celana olahraga.
"Oh gitu," Shintarou manggut-manggut sambil memegang cangkir tehnya, masih sedikit panas walau tak terlalu menyengat seperti tadi, "udah pesen bubur?"
"Udah, kok. Tapi lagi rame banget ya? Mungkin nanti datengnya belakangan." Seijuurou meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu tersenyum pada penjual bubur yang memberikan segelas teh padanya. Tak lupa mengucapkan terima kasih, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Shintarou yang kini mengaduk tehnya dengan sendok, "kamu sendiri? Kayaknya udah duduk dari lama, belum dateng juga buburnya?"
"Belum," Shintarou angkat bahunya sebagai jawaban, merasa yakin kalau tehnya sudah bisa diminum saat ini. Jadi ia mendekatkan cangkirnya ke mulut, bersiap mengambil sesapan pertamanya sambil sesekali melirik Seijuurou yang kini bertopang dagu dengan sebelah tangan, "katanya tadi ada yang pesan sampai dua puluh bungkus, jadi harus nunggu dul—PUHHH!"
"Eh?!" Seijuurou sungguhan terkejut ketika teh Shintarou mendadak tersembur dari mulutnya (untung semburan itu tak sampai ke wajah Seijuurou yang kini melotot tidak santai), "Shin, kamu kenapa?"
"Hahash hahet hastaha." —panas banget astaga. Shintarou batuk-batuk, meletakkan kembali gelasnya di atas meja, sadar diri kalau kini semua pasang mata mengarah padanya. Mati mati mati, Shintarou rasanya ingin tenggelam saja di dasar bumi. Seijuurou tak tinggal diam, ia meraih selembar tisu dari meja untuk diserahkan pada Shintarou yang menerimanya dengan wajah merah padam.
"Pelan-pelan minumnya," kata Seijuurou, netranya lekat memandangi Shintarou yang menepuk-nepuk mulutnya dengan tisu, "padahal tadi masih kelihatan uapnya, loh? Masih panas banget pasti. Kamu haus, ya? Mau dipesenin air putih?"
Tepat ketika Seijuurou selesai bicara, si penjual yang sedari tadi berkutat dengan bubur pelanggannya tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Air mineral yang dia bawa dalam gelas sedikit berceceran terkena beberapa lonjakan kecil yang diciptakan kala ia berlari.
"Mas, gak apa-apa?" Gelas air diletakkan bersebelahan dengan teh Shintarou yang kini hanya tersisa separuh, "tadi batuk keras sekali, hati-hati minum tehnya."
Shintarou mengernyit, sedikit mendongak ketika Seijuurou menatapnya sambil tersenyum geli. Shintarou balas senyumnya dengan raut muka masam, lalu mengalihkan perhatiannya pada si penjual dengan wajah dibuat sok ramah, "iya, gak apa-apa. Makasih ya."
Penjual itu hanya manggut-manggut menimpali ucapan Shintarou, "pesanannya saya antar habis ini. Lengkap, 'kan? Kalau mas yang ini?"
Perhatiannya teralih pada Seijuurou yang tak kuasa menahan tawa, "lengkap juga, tapi tanpa kacang, ya."
"Siap, bos!"
Lalu keduanya bertatapan kala penjual itu kembali menuju tempatnya. Wajah Shintarou masih masam, dan sudut-sudut bibir Seijuurou yang terangkat tampak sedikit bergetar.
"Ketawa aja, jangan ditahan." Kata Shintarou, ketus. Diremasnya kuat-kuat tisu itu sebagai pembalasan dendam, lalu diinjak dengan kaki ketika dijatuhkan ke tanah.
"Enggak kok," Seijuurou memang tak tertawa, tapi senyumnya melebar hingga nyaris seperti menyeringai, "harusnya ditiup dulu tadi. Shintarou nggak tahan sama yang panas-panas, ya?"
"Iya, begitulah." Si penjual datang lagi, kali ini membawa nampan berisi dua mangkuk bubur yang dia letakkan di atas meja. Satu mangkuk dipindahkan ke hadapan Shintarou, dan satunya lagi ditempatkan di depan Seijuurou yang senyumnya sudah kembali normal.
"Silakan dimakan, tapi masih panas buburnya. Hati-hati ya, mas." Lagi-lagi air muka Shintarou berubah masam. Netranya melirik Seijuurou, bersiap pulang saja kalau si Merah itu masih ingin menertawainya. Namun alih-alih tersenyum atau kembali menyeringai, Seijuurou malah menarik mangkuk buburnya mendekat.
"Makan dulu, yuk? Keburu jam sembilan."
"Oh, iya." Shintarou mengangguk. Ikut-ikutan meraih mangkuk bubur, juga kecap dan toples sambal yang tak jauh dari tangannya. Sedikit banyak ia bersyukur karena pakaiannya tidak basah, untung juga refleksnya bagus dengan langsung memalingkan muka ketika ingin menyemburkan tehnya. Sumpah, Shintarou tengsin. Malu banget.
Shintarou menghela napas dalam-dalam. Ada rasa terbakar yang tertinggal si lidahnya, tapi bodo amatlah yang penting sekarang dia bisa sarapan. Shintarou mengambil sendok, lalu mengaduk buburnya dengan sepenuh hati—
"Loh?"
—lalu mendongak ketika suara Seijuurou menginterupsi kegiatannya. Suara dan raut pemuda bersurai merah itu tampak terkejut, lebih-lebih ketika Shintarou sadar sepasang rubi itu mengarah pada mangkuk buburnya yang belum diaduk sempurna.
"Shintarou, buburmu diaduk?"
...
Lah.
Shintarou cengo.
"Iya," ada nada menggantung yang sengaja ia gunakan, terlebih ketika menundukkan kepala dan menyadari bubur Seijuurou sudah habis seperempat dan sama sekali tidak diaduk, "loh..."
KOK AKU JADI IKUT-IKUTAN KAGET?! jeritnya dalam hati.
"Kamu pasti tim bubur diaduk, ya?" Seijuurou cepat menarik kesimpulan. Terlebih ketika Shintarou menggaruk kepalanya heran, lalu mengangguk kaku untuk mengiyakan pertanyaan Seijuurou, "iya. Kok buburmu gak diaduk? Apa gak ditambah kecap atau sambal?"
"Aku agak gak suka sih." Dua alis Seijuurou terangkat. Iris-iris merahnya lurus menatap bubur Shintarou dengan sangat serius. "Tapi bubur diaduk gitu enak, ya? Kayaknya malah jadi berantakan, gak ada unsur estetikanya sama sekali."
"Enak-enak aja kok," kening Shintarou berkerut. Nada bicara yang digunakan Seijuurou memang tidak ofensif, tapi entah mengapa Shintarou jadi merasa terhina. "Kamu sendiri? Kok bisa-bisanya makan bubur polosan? Bukannya nanti malah jadi hambar ya rasanya?"
"Hah? Enggak," yang tak disangka Seijuurou justru tertawa, suaranya ringan hingga Shintarou nyaris merasa terbang, "rasanya sama aja kok, tapi ya mungkin bakal kerasa hambar sih kalau kamu dari awal lebih suka diaduk. Oh, atau kamu mau coba punyaku aja?"
Shintarou mengerjap ketika Seijuurou selesai bicara. Sudah mengira kalau ia sedang halusinasi, terlebih ketika sendok yang digenggam Seijuurou terangkat dan diarahkan ke wajahnya.
Hah. Apah.
Shintarou terlonjak. Hampir terjungkal ke belakang kalau saja tangannya tak lebih cepat memegang sisi meja karena itu sendok Seijuurou mengarah padanya, ke wajahnya, ke dia—
Shintarou ingin berteriak. Dia disuapin bidadari nih ceritanya?!
"Shintarou?"
Oke, tahan tahan. Shintarou menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Eh, kalo mau nyoba sendiri gak apa-apa sih—"
"Iya bentar ini aku coba." Shintarou bahkan terkejut ketika nada yang digunakannya terdengar sedikit tidak santai. Dadanya bergemuruh, salah tingkah sendiri ketika membungkukkan tubuh dan membuka mulut untuk menerima suapan Seijuurou.
Mati. Mati. Mati.
Kening Shintarou berkerut, mengecap rasa bubur ayam yang tak pernah dibayangkannya akan seenak ini tanpa perlu diaduk dengan kecap dan sambal. Ini emang enak atau senang karena disuapin, Shin?
"Gimana?" Seijuurou menurunkan sendok setelah Shintarou kembali menarik diri. Menatap lelaki itu dengan sorot mata serius, sementara Shintarou memaksakan tampang berpikir untuk menyembunyikan kegugupannya yang nyaris membuat tangan bergetar di bawah meja.
Panik. Shintarou panik.
"E—enak," meski sedikit gagu, Shintarou tetap menyunggingkan senyum tipis ketika dilihatnya raut Seijuurou berubah jadi lebih lega, "mungkin lain kali aku juga mau coba yang gak diaduk."
"Kayaknya harus," Seijuurou mengangkat alis, lalu tertawa setelahnya. "Aku juga kapan-kapan mau nyoba bubur diaduk, deh. Ayo lanjutin makannya? Bentar lagi aku mau berangkat."
Shintarou mengangguk kaku. Ingin sekali berteriak kesetanan, namun gagal atau nanti dia malah didepak dari kedai bubur karena dikira kesetanan sungguhan.
Senin berkah, katanya dalam hati. Kapan lagi disuapin sama si doi.
Halah, modusmu Shin.
.
.
.
.
.
.
Gara-Gara Kahitna! #02 © midoakas
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Seijuurou bahkan tak memberi waktu bagi Shintarou untuk menimpali perkataannya. Lelaki itu masih bertahan pada posisinya semula, menunduk seperti orang linglung dengan selembar tiket tergenggam di telapak tangannya.
Tuhan, bisiknya dalam hati. Terharu. Aku habis melakukan kebaikan apa saja, sih?
.
.
.
.
.
.
Matahari rasanya makin meninggi saja, begitupula dengan rasa lelah Shintarou yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Sekarang sudah jam setengah dua, dan mata kuliahnya juga sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Itu berarti masih ada waktu setengah jam bagi Shintarou untuk duduk tegak di kursinya dengan pandangan lurus ke depan, sok-sokan fokus dengan penjelasan dosen padahal pikirannya sedang meliar entah ke mana. Tentang apa yang akan ia lakukan sepulang kuliah nanti, makanan apa yang akan ia beli untuk dinikmati ketika malam tiba—
"Ssst, Shintarou."
—atau bisikan setan yang tiba-tiba menyebutkan namanya padahal Shintarou pikir daritadi dia juga diem diem bae.
Oh, apa aku kebanyakan melamun? Batinnya ngaco.
"Sssst, heh. Shintarou." Shintarou mengernyit ketika lagi-lagi namanya dipanggil. Lelaki itu baru sungguhan menoleh ketika sikunya ditoel-toel pakai ujung bolpoin milik seseorang yang duduk di sebelahnya—oh. Teppei. "Dipanggil daritadi kenapa gak respon, sih?"
"Pelajaran," jawabnya kalem, entah mengapa jadi ikut-ikutan berbisik padahal posisi duduk mereka ada di tengah ruangan yang bisa saja minim diperhatikan dosen. "Kenapa panggil-panggil? Mau pinjam bolpoin?"
"Gak, kemarin aku habis beli baru. Dapet promo dua gratis satu loh di toko buku," —lah terus kenapa kamu malah curhat, batin Shintarou dalam hati. Sedikit merasa julid karena sumpah dia gak nanya kapan dan bagaimana Teppei beli bolpoinnya, tapi kalimat terakhir yang ia ucapkan begitu menggelitik telinga Shintarou hingga tak sadar membuatnya tersentak ketika kawannya itu kembali bicara, "kemarin kamu habis jalan bareng sama Seijuurou ya?"
Hah.
Loh.
Apah.
Shintarou sudah ingin berteriak 'KOK TAHU?' tapi takut kalau nanti imagenya tercoreng secara instan hingga dikeluarkan dari kelas. Jangan sampai. Sebagai gantinya, Shintarou berdeham ringan. Memasang tampang sok cool meski dalam hati ia sudah sangat ingin menggigiti pinggiran meja, "tahu dari mana?"
"Aku juga habis main ke Gramed, loh." Teppei tersenyum lebar, menopang dagu dengan satu tangan sambil sesekali lirik-lirik ke dosen supaya mereka tak keciduk ngobrol di tengah pelajaran, "pas lewat rak novel ada kepala hijau sama merah lagi duduk sebelahan. Sekali lihat juga tahu kalau itu kalian, mau panggil tapi kayaknya lagi fokus banget baca buku. Gak jadi deh."
Shintarou merasa tubuhnya melemas. Ingin sekali menggaruk meja namun lagi-lagi niatnya diurungkan. Shintarou memilih diam, memutar otak, mencari-cari alasan yang sekiranya logis untuk menimpali perkataan Teppei tanpa menunjukkan kesan bahwa mereka habis kencan kemarin. Anjay... Kencan gak tuh.
"Oh, iya. Sei ngajak cari buku bareng, dan kebetulan aku juga ada jurnal yang mau dicari."
Lelaki itu manggut-manggut. Shintarou sudah menyiapkan mental kalau-kalau dia ditanyai yang hal-hal yang aneh, namun Teppei justru memasang tampang berpikir sebelum akhirnya menjentikkan jari dan merogoh saku celananya.
"Eh, hampir lupa. Tadinya aku panggil kamu buat ngasih tahu soal ini, tapi kenapa malah bahas yang lain ya?" Teppei jadi terkesan bermonolog pada dirinya sendiri sembari mengutak-atik ponsel. Shintarou memilih diam, menunggu, takjub juga karena orang ini kenapa berani sekali membuka ponsel di tengah jam pelajaran? "Kamu suka Kahitna, 'kan?"
Shintarou mengernyit, dalam hati sudah waspada kalau-kalau Teppei malah menyinggung kesukaannya seperti yang biasa Kazunari lakukan. Namun alih-alih tersenyum mengejek, Teppei malah menyodorkan ponselnya ke arah Shintarou supaya bisa melihat artikel yang tadi ia sebutkan, "aku nemu ini di berita, terus langsung inget kamu. Kahitna mau konser di Semarang, loh. Kamu udah tahu belum?"
Shintarou menggumam 'hah' pelan, lalu sedikit merundukkan tubuh untuk membaca kalimat demi kalimat yang muncul di headline ponsel kawannya. Kahitna bakal konser di Semarang? Shintarou jelas mau nonton, tapi dia paling anti dengan yang namanya keramaian. Apalagi kalau datang sendiri, bisa pusing dia terjebak di antara orang-orang yang berjoget sambil menyanyi.
Eh, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tapi 'kan ada Seijuu—
"Shintarou Midorima, Teppei Kiyoshi? Ngapain kalian bisik-bisik begitu? Ponselnya mau saya ambil?"
Tubuh Shintarou dan Teppei sama-sama menegang ketika suara itu menginterupsi perbincangan mereka. Wajah dosen yang tengah mengajar di depan kelas tampak suram ketika ia menoleh, dan Shintarou sudah suudzon kalau dosennya itu habis mengalami hal yang tak menyenangkan ketika akan berangkat mengajar.
Mahasiswa gak ada akhlak.
"Nggak kok pak," Teppei sudah keburu menjawab sebelum Shintarou sempat membuka mulut. Diam-diam lelaki itu menghela napas lega karena ia tahu Teppei dari sananya memang jago ngeles, "tadi lagi nunjukin Shintarou hasil hitungan dosis log dari 2 sin cos tan 100 derajat Kelvin. Iya, 'kan?"
Kening Shintarou berkerut, total heran karena ini kenapa si Teppei bisa niat banget mikir sampe sana?! Namun ketika menyadari bahwa tatapan seisi kelas kompak mengarah pada mereka, Shintarou tak memiliki pilihan lain selain menaikkan kacamatanya—yang sama sekali tidak merosot—lalu mengangguk untuk menimpali perkataan Teppei, "iya, pak. Bahasan kita masih berhubungan kok sama pelajaran."
"Yakin?" Si bapak bertanya lagi untuk memastikan. Shintarou melirik Teppei yang mengangguk mantap untuk mengiyakan, lalu ikut-ikutan mengangguk setelahnya. "Ya sudah, simpan diskusi kalian buat nanti. Teppei juga, simpan ponselnya kalau gak mau saya ambil."
"Siap, pak!"
Shintarou menghela napas lega ketika dosennya itu kembali balik badan. Dalam hati merutuki Teppei yang nyaris membuat fokusnya berantakan, tapi tak bisa menyalahkan lelaki itu karena... Shintarou juga butuh informasinya.
"Teppei," yang dipanggil kembali menoleh ketika Shintarou menyebut namanya. Tubuhnya sedikit dicondongkan ke samping, memudahkan Shintarou untuk berbisik di telinganya, "nanti pas pulang kasih tahu aku selengkapnya, ya."
"Oke—"
"Shintarou, Teppei..."
"SIAP, PAK!"
Tuh 'kan, keciduk lagi.
Ketika kelas mereka berakhir, Shintarou dan Teppei sungguhan pulang bersama.
Bukan pulang bersama secara harfiah, karena Teppei berangkat naik motor dan Shintarou lagi-lagi jalan kaki, malas mengeluarkan motornya yang terjebak di antara kendaraan kos lainnya. Tapi gak apa-apa, memang Shintarou dari dulu suka jalan kaki ke mana-mana. Sehat, bos. Bisa mengurangi polusi juga kata dia.
"Nih, artikelnya. Baca sendiri aja," Shintarou menerima ponsel yang disodorkan Teppei setelah menganggukkan kepala. Membaca kalimat demi kalimat yang tertera di halaman berita itu dengan cermat, namun masih membagi fokusnya pada suara Teppei yang memberinya spoiler kalau-kalau kelewatan baca, "tapi masih dua bulan lagi, kok. Lumayan lama kalau kamu masih belum ada persiapan."
"Persiapan apanya? Aku juga gak yakin mau datang buat nonton." Shintarou mendengus pelan, lalu mengembalikan ponsel itu kembali pada Teppei yang tertawa saat menerimanya, "gara-gara gak ada temen, ya?"
Shit.
"Ya gak juga," kata Shintarou dengan nada menggantung, otaknya lagi-lagi dipaksa berputar lebih cepat untuk menemukan alasan yang dapat diterima akal sehat, "tapi aku memang gak suka ramai-ramai. Kayak, ngapain sih berjubel desak-desakan buat liat orang nyanyi? Nonton di ourtube nanti 'kan juga bisa."
"Tapi sensasinya beda banget loh, Shintarou." Teppei mengedikkan bahu ketika Shintarou mengembalikan ponselnya. Ponsel itu dimasukkan ke saku celana, lalu mengeratkan tali ransel yang ia panggul di bahu kanan dengan jemari, "aku pernah sekali nonton konsernya Katon Bagaskara di cafe, seru banget deh pokoknya! Dijamin kamu gak akan nyesel, atau ajak Kazunari juga bisa, 'kan?"
Mendengar nama Kazunari disebutkan, air muka Shintarou mendadak berubah jadi masam, "males banget. Dia sukanya ngejek selera musikku, bilang aku kolot lah apa lah. Mana tahu dia kalau preferensi orang tentang musik itu beda-beda?"
"Loh? Hahaha! Kazunari memang begitu ya orangnya?" Teppei refleks tertawa ketika sadar nada yang digunakan Shintarou berubah jadi lebih kesal, namun sedikit banyak ia juga paham bagaimana rasanya diejek terus-terusan. "Omong-omong, anak teknik sipil jadi mau buat acara? Bintang tamunya udah dikasih tahu, belum?"
"Ya mana aku tahu," Shintarou mendengus, memalingkan muka. Teringat kalau pesan dari Kazunari belum ia buka sejak kemarin, atau bintang tamu yang secara absurd Shintarou request pada kawannya, "...tapi kayaknya udah ada, deh."
Shintarou mana bisa lupa kalau saat itu di pikirannya hanya ada Kahitna, atau Seijuurou yang membuatnya terus mengingat Kahitna bahkan sampai saat ini?
"Oh, ya?" Teppei menaikkan kedua alisnya, lalu tertawa pelan. Shintarou jadi menduga-duga kenapa lelaki satu ini bisa sangat murah senyum bahkan pada orang yang tidak ia kenal dengan baik, "kalau misal ternyata Kahitna yang datang, kamu mau nonton nggak?"
"Gak lah," jawab Shintarou langsung. Tak mempedulikan suaranya yang terdengar sedikit lebih ngegas, atau volume tawa Teppei yang meningkat ketika ia selesai bicara, "yang buat festival aja aku males, apa lagi ini. Mending tidur aja di kosan."
"Hahaha, yakin? Awas jangan ngomong kayak gitu, nanti malah beneran nonton loh."
Shintarou memilih untuk tidak menjawab. Ia memalingkan muka, menatap bayangan diri yang bergerak seiring dengan langkah kakinya.
(Sebenarnya ia ingin, ingin sekali tertawa. Namun refleksi tawa Seijuurou yang tiba-tiba berkelebat di pikirannya membuat Shintarou sukses mengurungkan niat).
Masa iya dia beneran nonton konser?
Gak mungkin.
.
.
.
"Loh, Pak Kiyoshi gak tahu? Kemarin Shintarou tiba-tiba blokir kontakku, loh! Padahal aku juga gak ngapa-ngapain."
"Oh, ya? Shintarou memang agak sensian orangnya, kemarin tumben-tumbenan keluar pas weekend pakai baju rapi. Katanya mau beli buku, tapi saya cium kok ada hawa-hawa kencannya, ya?"
Shintarou baru saja memegang pagar kos ketika samar-samar namanya disebut dari dalam. Keningnya berkerut, menduga-duga siapa oknum yang malah membicarakannya ketika belum pulang kuliah. Kok kayak kenal, ya...
"Tapi yang kontakmu diblokir itu beneran, Kazu? Sama pesanmu yang mendadak dikacangin habis dia buka blokirnya?"
Shintarou facepalm.
Lah ini mah Pak Kiyoshi sama Kazunari lagi gibahin dia.
Shintarou sudah tidak memberi kotoran (i don't give a shit, terjemahannya), hampir balik badan untuk pergi dari sana ketika tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang.
"Loh, Shintarou? Baru pulang kuliah?"
Yang dipanggil menoleh ke belakang.
Bang Shun.
Sementara itu, dari dalam pagar, terdengar jeritan histeris beserta gelas plastik yang berklontangan jatuh dari meja.
Shintarou facepalm kuadrat. Gagal kabur, deh.
"Tapi serius loh, Pak Kiyoshi! Jadi anak teknik itu seru, cuma ya tugasnya gak ngotak aja."
Dan di sinilah Shintarou sekarang. Duduk bersisian dengan Kiyoshi sambil menyesap es jeruk yang Bang Shun bawakan dari kampus. Seger, sih. Mana cuacanya panas pula. Shintarou sudah memantapkan diri untuk gak ikut-ikutan ngobrol ketika Kiyoshi menyenggol bahunya, lalu mengedik ke arah Kazunari yang lagi cengengesan sambil makan jeruk.
Kok perasaannya jadi gak enak begini, ya.
"Si Kazu bilang anak teknik sipil mau adain acara, loh. Udah tahu belum kamu?"
"Udah." Shintarou sedikit menjauhkan sedotan dari mulutnya ketika menjawab, "gak mau dateng juga."
"Saya belum nawarin?!"
"Shin-chan memang begitu orangnya pak," Shintarou mendelik ketika Kazunari menyahut tiba-tiba, "gak tahu aja dia bintang tamunya siapa, hahaha. Paling kalau tahu juga gelagapan pengen nonton."
"Jangan ngaco," kata Shintarou, kalem. "Nonton lewat internet juga cukup buatku."
"Dih, mana seru nonton lewat internet?" Shintarou menghela napas ketika Kiyoshi malah ikut bergabung dalam pertikaian, "saya udah tahu bintang tamunya siapa, loh. Kalau bisa malah pengen nonton ke sana."
"Ya ke sana aja, pak," kata Shintarou dengan nada tak berminat, "reservasi tempat kalau perlu, biar bisa nyanyi bareng di atas panggung—"
"Kamu juga udah tahu belum kalau Kahitna bakal konser di festival bulan depan?"
"Dua bulan lagi, pak," timpal Kazunari setelah menelan jeruknya, "acara fakultasku bulan depan. Eh, tapi minggu depan udah masuk bulan depan, ya?"
"Jadi rentang waktu acaramu sama yang itu selisih satu bulan?"
"Iya, di awal sama di akhir."
"Kalian ini ngomongin apa, sih?" Potong Shintarou jengkel. Kzl dia gak paham apa-apa sama bahasan dua makhluk ini. "Kalau gak penting aku mau ke atas aja. Capek, mau tidur."
"Ya udah naik aja gak apa-apa," kata Kazunari dengan muka songong, lalu menoleh dan menganggukkan kepala ketika Kiyoshi balas menatapnya. Shintarou memutar mata, yakin betul kalau bapak kos dan kawannya ini akan terus menggibah dirinya meski tanpa sepatah katapun diucapkan. "Tapi lima belas menit lagi bakal ada kejutan, loh. Ini tentang bintang tamu yang bakal dateng ke acaraku minggu depan. Kalau kamu kepo, cek aja akun instagram fakultasku. Tahu namanya 'kan?"
"Ya terus—"
"—jangan lupa kalau kemarin kamu bilang sesuatu ke aku loh ya, Shin-chan." Shintarou mendelik ketika sadar raut muka Kazunari berubah jadi lebih sengak. Sudut-sudut bibirnya terangkat, memamerkan seringai bagai ibu-ibu antagonis yang sering berseliweran di televisi, "jangan sampe nyesel loh ya. Aku udah ingetin kamu."
"Gak bakal nyesel lah hahaha dia 'kan berhati batu." Shintarou mendengus ketika bapak kosnya malah ikut-ikutan julid. Dengan cepat ia berdiri, lalu mengedikkan bahu seraya memutar tubuh untuk meninggalkan teras yang makin lama makin tercium aroma maksiatnya.
"Udah ah, aku mau naik dulu. Dah."
Meski begitu, Kazunari dan Kiyoshi masih betah diam-diaman bahkan sampai Shintarou menghilang dari pandangan. Meninggalkan sunyi yang sontak terpecah ketika Kazunari tiba-tiba tertawa kencang—begitu kencang hingga membuat Kiyoshi mau tak mau ikut tertawa ketika mendengarnya.
"Pfftt—BWAHAHAHA! Aku tahu Shintarou itu semacam ketinggalan zaman, tapi gak gini juga dong pak cara mainnya?!"
"Hahahaha, biarin aja dulu," Kiyoshi menarik napas, air matanya yang mengalir diusap akibat terlalu banyak tertawa. "Tapi menurut saya dia malah udah sadar sama perasaannya, loh? Gimana cara kita buat dia biar lebih peka ya, Kazu?"
"Itu urusan gampang, pak." Begitu tawanya mereda, Kazunari menjawab mantap. Postur tubuhnya dimundurkan dengan punggung bersandar pada kursi. Iris-iris matanya berkilat cemerlang, melempar seringai pada Kiyoshi yang malah tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Shin-chan memang udah paham sama perasaannya, kok. Dari lama malah. Sekarang kita tinggal tunggu gimana perasaan Sei-chan ke dia. Hahaha, aduh. Gimana sih. Kok aku rasanya gak rela mereka jadian, ya? Mending Sei-chan sama aku aja deh."
Sementara itu, di salah satu kamar yang terletak di lantai dua, Shintarou malah asyik rebahan dengan mata fokus menatap langit-langit ruangan.
Shintarou jadi merasa sad boy.
Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Seijuurou beberapa waktu lalu, berikut kencan mereka ke toko buku dan requestnya terhadap bintang tamu di acara fakultas Kazunari bulan depan. Shintarou jadi tengsin sendiri kalau misalnya nanti, dia malah ngebet pengen nonton konsernya dengan Seijuurou...
Kalau kamu kepo, cek aja akun instagram fakultasku. Tahu namanya 'kan? Jangan sampe nyesel loh ya. Aku udah ingetin kamu.
Shintarou mengernyit ketika suara Kazunari kembali terngiang di pikirannya. Apa-apaan sih, memang kenapa kalau aku menyesal? Rutuknya dalam hati. Tapi mungkin Shintarou memang benar masokis—alias kepo—karena tangannya malah meraih ponsel dan membuka aplikasi instagram yang jarang dibukanya. Ibu jarinya bergerak mengetikkan sesuatu di atas layar. Menelusuri akun fakultas Kazunari, dalam hati berharap-harap cemas semoga bintang tamu yang diundang bukan...
Kahitna.
Hah.
Shintarou mengerjap.
Loh.
Shintarou mengklik foto terakhir yang terpajang di sana. Berharap kalau ia salah lihat dan bukan Kahitna yang akan datang besok, atau ia akan sungguhan menyesal karena sedari tadi pikirannya hanya diisi dengan Seijuurou, Seijuurou, Seijuurou.
Mata Shintarou menyipit. Postingan ini baru saja dikirimkan lima belas menit yang lalu, itu berarti...
Shintarou syok.
INI MAH BENERAN KAHITNA YANG DATENG ANJIR APA-APAAN MAKSUDNYA.
Tepat pada saat itu, Shintarou merasa separuh jiwanya melayang.
Anjir...
Belum sempat memproses kenyataan yang menamparnya secara kejam, Shintarou dikejutkan lagi dengan notifikasi pesan masuk dari Kazunari. Shintarou lemas luar dalam, seolah tak memiliki tenaga untuk membaca pesan tersebut. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri dengan membuka notifikasi itu, lalu menjerit frustasi dalam hati karena si Takao kampret Kazunari malah meledeknya secara terang-terangan,
Takao K. : Hahaha aku tau kamu pasti bakal tetep buka akunnya
Shintarou facepalm.
Takao K. : Gimana? Kaget kan? Aku berbaik hati bilangin pesenanmu ke ketua panitia loh, dan ternyata bisa langsung di acc soalnya Kahitna juga lagi senggang bulan depan
Takao K. : Terima nasib aja ya. Gak perlu deh HAHAHA aku yakin kamu juga gak akan nyesel. Pembelian tiket bakal diadain mulai nanti malam sampai minggu depan, yang penting tetap semangat ya Shin-chan~!
Nyelekit abis.
Shintarou menghela napas. Bakal tengsin kalau ternyata dia malah beneran nonton konser, mau ditaruh mana mukanya kalau harus berhadapan dengan Pak Kiyoshi atau Kazunari nantinya?
Ya udah lah, batinnya nelangsa. Terima nasib aja kamu, Shintarou.
.
.
.
Hari-hari berikutnya, Shintarou menjalani kehidupannya seperti biasa.
Bangun pagi-pagi, cari sarapan, atau balik lagi ke kos buat rebahan dan bersih-bersih kamar kalau dapat kelas siang. Atau malah kegiatannya berjalan terlalu biasa, karena Kazunari jadi sibuk dengan kegiatannya di kampus hingga mereka jarang beremu. Pak Kiyoshi juga jarang menyapanya karena sering bolak-balik ke kos Pak Yuuya yang sedang di renovasi. Shintarou memang merasa lega, namun sedikit banyak... harinya berubah jadi kosong juga.
Duh, bentar. Pak Yuuya, ya. Shintarou jadi teringat sesuatu.
Seijuurou bakal nonton konsernya gak ya?
(Terlebih, setelah perjalanan mereka ke toko buku di hari minggu berakhir, ia dan Seijuurou tak lagi bertukar pesan bahkan sampai saat ini).
Shintarou menghela napas. Ngenes. Ya udah lah memang takdirnya aku nonton lewat ourtube.
"Heh, Shintarou."
Shintarou tersentak ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Dih, aku melamun? Batinnya dalam hati. Shintarou juga baru sadar kalau mendadak ada aroma bakso tertangkap indra penciumannya, lalu bertanya-tanya dalam hati kalau kayaknya aku tadi lagi rebahan di kamar—
"Kamu kenapa, sih?"
Shintarou menoleh ketika merasa seseorang mengajaknya bicara, lalu mengerutkan kening ketika melihat Teppei yang kini duduk di sebelahnya sambil menyedot es teh lewat sedotan.
Oh iya lupa. Dia 'kan lagi makan bakso sama Teppei di kantin fakultas sambil nunggu kelas.
"Kenapa apanya?" Meski ragu merambati hatinya, Shintarou tetap memaksakan diri untuk menjawab.
"Dari kemarin kuperhatiin kamu jadi sering melamun." Teppei kembali menaruh gelas es tehnya di atas meja, lalu menaruh perhatian sepenuhnya pada Shintarou yang kini pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain, "kenapa? Lagi berantem ya sama Kazunari? Kalian jarang ketemu juga, padahal biasanya nempel terus kayak anak kembar."
"Jangan bilang gitu dong, males banget sih." Shintarou mendengus. Kegundahan dalam hatinya sedikit meluap ketika ibu-ibu kantin menaruh semangkuk bakso di atas meja, "makasih, bu. Dan aku gak apa-apa. Perasaanmu aja kali."
"Perasaanku gimana?" Teppei sukses tergelak mendengar ucapan Shintarou yang rasanya penuh akan kebohongan, "bukan cuma aku yang ngerasa loh. Shirabu juga bilang kalau kamu jadi lebih banyak diam kemarin. Lagi ada masalah ya?"
Shintarou diam, tak berselera untuk menjawab.
"Masalah cinta-cintaan?"
Kening Shintarou berkerut, "heh—"
"Seijuurou, ya?"
...
Shintarou melongo.
"Kok?" Shintarou menautkan kedua alisnya. Berusaha tetap stoic meski dalam hati ia sudah kebakaran jenggot, "kenapa kamu bisa sebut Seijuurou?"
"Asal tebak aja sih." Shintarou sudah hampir memutar mata ketika Teppei malah senyum-senyum sendiri. Botol kecap diraih, lalu dia tuangkan ke atas mangkuk bakso yang masih mengepulkan uap. "Kamu sama Seijuurou kayaknya beneran deket, ya? Aneh aja gitu lihat kamu keluar berduaan sama orang lain pas di toko buku kemarin. Setahuku, Sei juga suka Kahitna loh. Bisa dapet banyak topik kalau kalian ngobrol."
Mendadak, Shintarou merasa selera makannya menghilang.
Gak tahu, sih. Tapi kok rasanya kalimat Teppei yang barusan ini terlalu mengekspos ya.
"Perasaanmu aja kali, aku sama Seijuurou cuma temen biasa kok."
Hahaha temen biasa, tanpa sadar, Shintarou malah mentertawakan dirinya sendiri dalam hati. Iya lah temen biasa, memang aku siapanya?
"Oh, gitu? Apa gak mau berubah jadi yang gak biasa aja?"
"Heh." Shintarou mendelik, gagal menyendok baksonya yang pertama ketika Teppei malah tertawa kencang setelah merasa berhasil menggodanya. Setan sekali dia suka buat orang kesal. "Ya gak bisa, lah. Kita 'kan—"
"Oi! Ada Shintarou di dalam?" Shintarou batal melanjutkan kalimatnya ketika mendengar seseorang menyeru dari luar kantin. Keduanya menoleh bersamaan, mendapati Ogiwara Shigehiro—teman sekelas mereka—melangkah masuk ke dalam sambil celingukan, lalu menjentikkan jari ketkka Teppei menunjuk Shintarou sambil melambaikan sebelah tangannya. "Oh, kamu di sini? Ada yang nyariin tuh di luar."
"Siapa?" Tanya Shintarou dengan kening berkerut. Tumben banget ada yang nyariin dia.
"Gak tahu siapa namanya, tapi mukanya manis. Rambutnya merah—"
Sret.
Teppei membelalak kaget ketika Shintarou mendadak bangkit dari kursinya. Sekejap kemudian, ia tersenyum. Geli melihat Shintarou yang lagi-lagi batal makan bakso ketika tahu yang menghampirinya adalah Seijuurou, Akashi Seijuurou, yang herannya bisa nyasar sampai ke sini padahal jarak antar fakultas mereka itu jauh sekali.
Duh, Shintarou. Batinnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kalau beneran jadi, aku mau minta PJ ah.
Sosok Seijuurou yang tampak rapi dengan setelan semi-formalnya siang ini menyambut Shintarou begitu keluar dari kantin. Masing-masing telinganya disumpal earphone dan kepala merah itu menunduk fokus menatap layar ponsel. Shintarou jadi ragu mau menghampiri, bagaimana pula caranya menyapa Seijuurou tanpa harus melakukan sesuatu yang mengagetkan? Menarik earphone-nya kah, atau sok akrab main tepuk bahu sambil teriak "yo man!"?
"Oh? Shintarou, kamu di sini."
Kedua opsinya langsung dibatalkan ketika sepasang manik merah Seijuurou menatap Shintarou tepat di mata. Senyum canggung terukir, terlebih ketika Shintarou sadar kalau temannya ini kelewat peka dengan kehadiran seseorang. Bakal peka juga gak ya sama perasaan orang?
Shintarou jadi ingin gali kubur untuknya sendiri. Ngapain juga aku mikir beginian.
"Halo, Sei." Shintarou balas menyapa. Suaranya agak bergetar, dan ia ingin berteriak ketika Seijuurou malah terkekeh—sepertinya sadar akan kegugupan Shintarou saat ini. "Kok jauh banget sampai sini? Ada urusan?"
"Iya," Seijuurou mengangguk. Tatapan yang dipancarkan oleh sepasang netranya seolah mengingatkan Shintarou pada kucing yang dipeliharanya lewat tamagochi ketika masih sekolah dasar. "Aku cari kamu, tapi gak bisa dihubungi. Ponselmu mati, ya?"
Hah?
Shintarou mengerjap, mengingat-ingat. Lupa kalau ponselnya memang mati karena harus hemat baterai (kuliahnya akan berlangsung sampai sore, dan Shintarou lupa mencharge ponselnya sebelum berangkat tadi). Alhasil, sebuah ringisan kecil ia hadiahkan pada Seijuurou sambil mengusap tengkuknya—grogi, atau malah merasa bersalah. "Iya, ponselku mati. Habis baterai. Maaf, ya?"
"Loh? Kenapa minta maaf?" Bukannya mengiyakan permintaan maaf itu, Seijuurou malah tertawa. Memaklumi alasan Shintarou sambil kibas-kibas tangan, meski yang bersangkutan jadi merasa seperti seekor lalat yang tengah diusir dari atas meja makan. "Gak masalah kok, kebetulan aku juga pengen jalan-jalan tadi. Oh iya, Shintarou. Langsung aja ya? Aku mau kasih ini buat kamu."
Shintarou menunggu dengan sabar. Menatap Seijuurou yang jadi sibuk merogoh tasnya, mencari-cari sesuatu yang tampak susah didapat. Mungkin terkubur di antara tumpukan binder? Bisa jadi. Tapi Shintarou bisa dengar decak kepuasan ketika Seijuurou menengadah, menarik sebuah benda dari dalam tas dan menyodorkannya ke hadapan Shintarou—
"Temenin aku ke acaranya Kazunari, yuk?"
—hah.
Shintarou mengerjap.
Acaranya Kazunari, dia bilang?
Shintarou mematung. Gagal paham ketika menunduk dan menelanjangi dua lembar tiket konser yang masih mengambang di udara. Tiket konser. Tiket konser yang akan diadakan oleh fakultas Kazunari beberapa minggu yang akan datang...
"Shintarou, halo?" Shintarou merasa kembali ditarik menuju kenyataan ketika suara Seijuurou memanggilnya, "kenapa diem aja? Gak bisa, ya?"
"Bukan gitu." Tanggap, Shintarou menjawab (bahkan kali ini suaranya terdengar jauh lebih ngegas). Masih berusaha tetap cool meski diam-diam keringat dingin mengaliri pelipisnya, juga perasaan aneh yang meledak-ledak di dalam hati ketika Seijuurou malah memiringkan kepala sambil menatapnya, "kok... kamu tiba-tiba malah ngajak aku? Udah dapet tiketnya lagi."
"Oh? Yang itu?" Seijuurou menyempatkan diri untuk mengangkat alis, lalu tertawa kecil sebelum memberikan jawaban yang Shintarou inginkan. "Kemarin temenku pesen dua tiket. Karena masih awal dan kebetulan mereka—panitianya buka promo buy one get one, jadilah dua yang lain dikasih ke aku. Aku juga gak tahu mau kasih ke siapa lagi, tapi aku tiba-tiba inget kamu."
Sounds fake but ok, Shintarou manggut-manggut. Dalam hati menyeru kepada Tuhan kenapa ia dilimpahi banyak berkah selama seminggu terakhir ini—padahal kerjaannya tiap hari cuma sambat sambat dan sambat.
"Kalau kamu gak bisa, ya gak apa-apa sih. Nanti aku—"
"Aku bisa." Potong Shintarou cepat. Tak lagi peduli pada suaranya yang bergetar ketika menyela perkataan Seijuurou, atau pada degupan jantungnya yang seolah habis dibuat lari jarak jauh, "aku... bisa."
"Wah, serius?" Alis-alis merah Seijuurou terangkat. Sorot matanya memancarkan kelegaan ketika Shintarou diam-diam memalingkan muka, menyembunyikan rasa panas yang malah merambati kedua sisi wajahnya dengan begitu memalukan. "Syukur deh, aku udah takut kalau nanti tiketnya malah kadaluarsa. Oh iya, ini buat kamu."
Shintarou menunduk. Menerima selembar tiket yang disodorkan Seijuurou sebelum si merah itu kembali berbicara, "bulan depan tanggal lima, ya. Buat selengkapnya kita bahas nanti aja, aku mau kelas dulu sekarang. Dah, Shintarou!"
Seijuurou bahkan tak memberi waktu bagi Shintarou untuk menjawab perkataannya. Lelaki itu masih bertahan pada posisinya semula, menunduk seperti orang linglung dengan selembar tiket tergenggam di telapak tangan.
Tuhan, bisik Shintarou dalam hati. Terharu. Aku habis melakukan kebaikan apa saja, sih?
.
.
.
— bersambung.
HAI! maaf ya ngaret bangeeeet updatenya, janji mau buat twoshoot tapi malah nambah satu chapter lagi gara-gara rasanya masih kepanjangan *emot patah hati*
chapter depan beneran end, kok! omong-omong, sekarang saya juga aktif nulis di twitter juga loh. ada banyak midoaka dan otp lainnya~ kalau mau mutualan cek usernamenya di profile aja ya *digeber*
sampai jumpa di chapter berikutnya! *emot hati* *emot hati* *emot hati*
