AMAZING
.
.
.
.
.
Hadiah untuk Miyuki Kazuya yang sedang berulang tahun!
.
.
.
Happy Birthday, MIYUKI KAZUYA!
.
.
.
"Iris keemasannya mengingatkanku akan kehangatan. Bolehkah aku merasakan kehangatan itu lagi?"
…
"KAU … Kau baik-baik saja? Ada yang masih sakit?"
Manik coklatnya menatap seorang pria yang menatapnya dengan khawatir. Ia mengerang sebagai jawaban. Seluruh tubuhnya sakit dan ngilu. Ingatannya mundur ketika ia berusaha melarikan diri dari penyerangan di markas. Gila. Sungguh gila. Hujan peluru di mana-mana, selongsong berjatuhan menciptakan bunyi, bau amis darah, rekan-rekannya yang berjatuhan. Pelarian yang hampir saja menewaskannya—kalau saja orang ini tidak membantunya.
Ia menggulingkan matanya, mengedarkan ke segala arah. Segalanya buram. Sial. Di mana kacamatanya? Apakah ia menjatuhkannya saat dalam pelarian atau hilang saat ia di bawa oleh pria ini?
"Uh-oh … kacamata? Kau mencari kacamata? Tunggu sebentar…" terdengar nada bersalah dari pria itu, di susul suara berisik grasak-grusuk dari sampingnya. Beberapa saat kemudian, pria itu memberikan benda padanya.
Ia menyipit kemudian berusaha duduk di bantu pria itu. Ia berkedip lambat kemudian memakai kacamatanya. Ini terasa aneh ketika ia memakainya. Kacanya retak dan ada bekas perbaikan yang kasar. Ia menoleh, pria di sampingnya duduk di atas kursi dengan pandangan cemas sekaligus bersalah ke arahnya.
"Ma … Maaf … aku mencoba memperbaikinya, tapi malah gagal…" pria muda itu menunduk, poni rambutnya menghalangi sebagian wajahnya.
Ia berkedip lagi. "Boleh … minta air?" tanyanya dengan suara serak.
Pria muda itu tersentak, matanya melotot memperlihatkan iris keemasannya yang luar biasa indah. Ekspresinya memucat bersalah. "Aduh! Apa yang kau lakukan bodoh!" serunya pada diri sendiri. "Maaf, maaf. Aku akan mengambilkan air hangat secepatnya!"
Setelah pria itu melesat pergi. Ia memandang ke jendela di samping kirinya yang memancarkan sinar bulan. Meski kedua telapak tangannya di perban—ia masih bisa memegang sedikit demi sedikit. Perut dan beberapa luka di kakinya juga di perban. Tetapi ia baik-baik saja sekarang. Kembali ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruang kamar yang tidak terlalu besar ini. Hanya ada sebuah ranjang yang ia pakai, lemari kayu dua meter di depannya, laci kecil di samping kanannya yang berdempetan dengan ranjang, kemudian meja belajar lengkap dengan kursi yang dipakai pria tadi—berada di samping nakas. Ini kamar yang nyaman dan sederhana. Lebih baik daripada beralaskan kardus di luar sana.
"Maaf menunggu lama," pria muda itu datang dengan segelas air di tangan kanannya dan sepotong kue diatas piring kecil di tangan kirinya. Pria muda itu menaruh piring diatas nakas kemudian membantu ia meminum airnya. "Apa terlalu panas?" tanya pria muda itu dengan cemas ketika ia selesai menguyup sedikit air.
Ia menggeleng. "Tidak … ini hangat. Terima kasih." suaranya lebih baik daripada tadi. Ia melihat pria itu tersenyum padanya.
"Sama-sama! Apapun untuk Anda, Tuan…"
Ia terdiam sejenak, pria itu seolah menanyakan namanya. "Miyuki," katanya dengan jelas. "Miyuki Kazuya."
Senyum pria itu semakin mengembang. "Tuan Miyuki Kazuya! Namaku Sawamura Eijun. Salam kenal!" serunya dengan bising tanpa melihat hari sudah malam.
Kazuya tersenyum kecil. "Terima kasih sudah membantuku, Sawamura." ia ingin melihat senyuman Eijun secara menyeluruh, apalagi ketika Eijun memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Sayangnya kacamatanya retak dan ia tidak bisa melihat dengan jelas.
Senyum Eijun tidak luntur. Ia memajukan posisi duduknya sampai Kazuya benar-benar bisa melihatnya dengan jelas. "Bukan masalah," jawab Eijun santai. Ia kemudian mengambil piring kecil berisi sepotong kue. "Apa kau ingin kue? Aku baru saja membelinya ... ka-kalau tidak mau, tidak apa-apa." terdengar nada ragu di akhir kalimat.
Kazuya memandangi kue itu. Apa rasanya manis? Ia bukan pemuja makanan manis. Ia cukup anti dengan makanan manis. Tapi melihat ekspresi segan sekaligus takut milik Eijun, Kazuya menjadi tidak tega. "Sepotong saja," mulutnya bekerja tanpa memikirkan apakah itu manis atau tidak. Yang penting ia tidak membuat pria di depannya merasa kecewa. "Kupikir untuk mengganjal perut."
Eijun tersenyum. Ia memotong kecil kue itu dengan sendok. "Ittadakimasu," katanya pelan seraya memberi suapan untuk Kazuya.
Ia mengernyit ketika kue itu masuk ke dalam mulutnya namun sedetik kemudian ekspresinya menjadi biasa saja sebab kue itu tidak terlalu manis. "Mm, ini enak." Kazuya mengunyah kemudian menelan kue itu. "Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup."
Eijun meletakkan piring itu kembali ke tempatnya. "Hmm, sama-sama. Apa kau butuh sesuatu? Selimutmu cukup hangat? Kau ingin tidur lagi?" tanya Eijun beruntun. Ia memajukan wajahnya dengan ekspresi cemas.
Kazuya tertegun sejenak. Sudah berapa lama pertanyaan itu tidak ia dengar? Selama ini ia tidak pernah mendengar pertanyaan dengan nada penuh kasih sayang dan khawatir seperti tadi. Ia bukan lah pria melankolis. Ia bukan lah pria lemah. Tapi kenapa ketika mendengar pertanyaan itu membuat matanya panas? Kazuya memaksa diri untuk tersenyum dan menekan diri agar tidak menangis. Ini sama sekali bukan dirinya. "Aku ingin seperti ini dulu," ia menjawab. "Ngomong-ngomong, aku sudah tidur berapa hari?"
"Tiga hari." Eijun menjawab dengan singkat. "Tidurmu cukup nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu … dan lagi … kau mengatakan tidak ingin aku membawamu ke rumah sakit."
Ah, tiga hari … Kazuya mengangguk paham. Ingatannya mundur ketika Eijun membantunya.
Saat itu ia tengah berlari menuju gang sempit. Yang ternyata di sana ada Sawamura Eijun sedang dipukuli oleh tiga orang. Dan karena kesal melihat mereka memukul seseorang yang berteriak menyuruh mereka menghentikan pukulan—Kazuya menembakkan pelurunya ke jalanan membuat tiga orang itu berlari ketakutan. Setelah itu, Eijun membantunya ketika luka di perutnya semakin melebar. Ia sempat mengatakan pada Eijun bahwa ia tidak ingin di bawa ke rumah sakit sebelum ia pingsan.
Hari itu benar-benar menegangkan. Apakah selama tiga hari itu penyerangan sudah selesai? Apakah rekan-rekannya terbunuh semua? Apakah dengan ini hanya ia saja yang tersisa?
"Tapi aku masih heran, kenapa kau berlari membawa luka? Maksudku aku tahu mungkin ini urusanmu … tapi aku hanya penasaran saja. Dan saat itu kau memakai topeng. Ah, topengmu aman bersamaku kok!"
Kazuya berkedip kemudian terkekeh pelan mendengar suara cerewet Eijun. Ia berusaha untuk menjadi tamu baik yang tidak diundang. "Ini sedikit rahasia. Tapi aku benar-benar berterima kasih karena kau sudah menolongku." ia menundukkan kepalanya dengan hormat.
Eijun mengibaskan tangan kirinya di udara. "Kubilang tenang saja, Miyuki-san. Itu rahasia ya? Berarti rahasiamu aman bersamaku! Aku—Sawamura Eijun—selalu mengunci bibirku rapat-rapat meski aku cerewet!"
Kazuya terkekeh mendengar kalimat formal Eijun. "Terima kasih. Aku menghargai itu." ia kemudian kembali diam dan berekspresi cemas ke luar jendela. Mengingat rekan kerjanya satu per satu mati terbunuh di depan matanya membuat ia khawatir. Jantungnya berdebar kencang tidak beraturan.
"Uh, um … kau ingin sendiri dulu? Aku bisa keluar kamar … dan, oh, ya, aku butuh mandi karena aku baru pulang kerja. Kau ditinggal dulu, tidak apa-apa 'kan?" iris keemasannya menatap Kazuya cemas.
Kazuya mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa. Maaf, aku butuh sendiri dulu."
"Baiklah. Kalau butuh sesuatu, cukup panggil aku saja."
Setelah Eijun pergi dari kamar ini, pintunya tertutup rapat. Ia dikelilingi kesunyian yang familiar bagi dirinya. Kamar ini sedikit remang karena Eijun menyetel lampunya tidak terlalu terang agar Kazuya tidak terganggu. Ia diam memandang ke luar jendela. Hanya ada sepi di sekelilingnya, suara televisi samar-samar dari luar kamar terdengar. Kemudian di susul suara air menyala. Eijun sedang mandi. Ia baru pulang kerja. Kazuya bahkan baru tahu Eijun merupakan seorang pekerja. Ia kira Eijun anak kuliahan.
Dan mungkin, setelah ini ia harus tidur dan esok harinya mencari keberadaan rekan-rekannya.
…
Setelah lima hari berlalu ia mulai bisa beraktivitas dengan leluasa. Tangannya kini sudah pulih, begitu juga dengan luka di perut dan di kakinya. Sebagai timbal balik, Kazuya membantu Eijun dengan masak di rumah—meski pemilik rumah ini selalu pulang malam karena bekerja. Kazuya baru tahu bahwa Eijun merupakan karyawan shift di konbini dan sore hingga malamnya ia bekerja di restoran keluarga. Pantas saja Eijun sering pulang malam dan terlihat jelas raut letih di wajahnya.
Kazuya menyadari bahwa Eijun merupakan seseorang yang hidup tidak berkecukupan. Dinding rumahnya mengelupas di beberapa titik, rumahnya tidak terlalu besar tetapi cukup untuk ditinggali seorang diri. Televisinya sering rusak dan akan baik dengan sendirinya, kursi sofanya sudah tua dan usang, ia hanya memiliki satu kamar saja, dapurnya kecil, kamar mandinya cukup terurus. Tidak ada ruangan untuk menjamu tamu, jadi ketika pintu rumahnya di buka maka akan disambut dengan satu sofa panjang yang menghadap televisi, lalu sebuah ruangan yang merupakan kamar tidur, sebelah ruang kamar ada kamar mandi, kemudian satu ruangan lagi merupakan dapur.
Ini adalah apartemen kumuh yang setiap harinya berisik. Kazuya hampir saja emosi ketika mendengar tetangga Eijun yang menyetel lagu metal dengan volume kencang. Eijun langsung menghentikan Kazuya dan mengatakannya untuk mencoba sabar. Entah Eijun yang tidak berani menegur karena takut berakhir babak belur atau memang Eijun tidak peduli dengan kegiatan tetangganya.
"Bagaimana bisa kau masak dengan kacamatamu yang retak?" Eijun bertanya ketika ia baru selesai mandi.
Mereka kini duduk di bawah beralaskan karpet tipis di depan televisi dan di belakang mereka terdapat sofa—hal lumrah yang mereka lakukan ketika makan malam bersama meski sudah tengah malam—karena Kazuya merasa akan lebih menyenangkan jika makan bersama.
"Aku punya insting," Kazuya menjawab santai dengan wajah sombong dan seringainya. "Aku sering masak, jadi aku tahu."
Eijun mencebik. "Sombong," ia menjawab ketus, sedikit kesal karena Eijun sendiri tidak bisa memasak. Eijun baru tahu bahwa sifat Kazuya benar-benar menyebalkan. Untung ia masih punya hati untuk menampung Kazuya di rumahnya.
Kazuya tertawa menyebalkan. Mereka mulai makan sambil menonton televisi. Kazuya diam-diam mencuri pandang ketika Eijun makan, ekspresinya rileks, perlahan ia bisa melihat gurat kelelahan itu hilang dari wajahnya. Kazuya tersenyum kecil. Tanpa sadar ia mulai memerhatikan Eijun, baik itu hal kecil atau pun hal besar. Ia selalu khawatir Eijun pulang larut dari jam biasanya, tetapi ketika Eijun pulang dengan makanan sisa dari restoran—hal itu membuat ia lega sekaligus senang.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Kazuya disela makannya.
Eijun menghentikan sumpitnya di udara. "Maksudnya?" kemudian ia memasukan nasi ke dalam mulutnya, matanya masih menatap Kazuya dengan tanda tanya.
Kazuya mengendikkan bahu. "Pekerjaan," jelas Kazuya. Ia kembali mengunyah nasinya. "Kau bekerja dua. Pagi sampai sore dan sore sampai tengah malam. Apa kau tidak lelah?" Kazuya tahu itu pertanyaan yang bodoh. Tapi ia ingin mendengar langsung dari Eijun sendiri. Eijun tidak pernah menceritakan tentang pekerjaan padanya.
Eijun berkedip lambat kemudian tertawa seolah pertanyaan itu bukan apa-apa baginya. Tawa itu mengundang kerutan di dahi Kazuya. "Aku sudah biasa. Kalau kau ingin tahu aku pernah bekerja sambil sekolah. Pagi sampai sore aku sekolah kemudian sore sampai tengah malam aku bekerja," jelasnya pada Kazuya. Tapi tampaknya Kazuya masih tidak mengerti. Wajah Eijun mengatakan untuk melihat seisi rumahnya. "Kau lihat sendiri tempat tinggalku. Di Tokyo aku sendirian, orang tuaku sudah meninggal, tidak ada kerabat. Jadi aku menghidupi diri sendiri dengan bekerja."
"Maaf aku…" Kazuya buru-buru meminta maaf karena tidak tahu kejadian yang sebenarnya. "Aku tidak tahu…"
Eijun mengibaskan tangannya di udara. "Tidak apa-apa. Bukan topik sensitif." jawabnya santai.
Kazuya juga besar tanpa orang tua. Ia dibesarkan dengan senjata di tangannya dan dilatih untuk menjadi senjata organisasinya. Masa kecilnya penuh tekanan tentang cara melindungi diri dari serangan musuh, menyerang musuh tanpa suara, membunuh musuh tanpa bukti yang tertinggal. Dan segalanya tentang dunia hitamnya.
Iris emas itu terlihat berkilau tanpa cela, menatap layar televisi acara komedi malam hari. Eijun tampak menikmati makan malamnya. Sesekali bibir itu melengkung membentuk senyum alih-alih tergelak geli. Atau kadang dahi itu terlihat mengerut ketika tidak mengerti bahan candaan di acara komedi tersebut.
Meski hanya lima hari ini, Kazuya merasakan dadanya berdetak tidak karuan ketika ia melihat Eijun atau menunggu Eijun pulang. Eijun lebih muda tiga tahun darinya, banyak kemiripan diantara mereka, salah satunya adalah mereka hidup tanpa orang tua. Bedanya Eijun tinggal dalam cahaya sedangkan Kazuya tinggal dalam kegelapan. Setiap melihat Eijun, Kazuya selalu merasa bahwa Eijun bercahaya hangat.
"Apa bahan makanan di dapur sudah habis?" Eijun bertanya ketika ia membantu mencuci piring. Televisi sudah di matikan tetapi mereka harus menunggu satu jam kemudian setelah itu tidur.
Kazuya menggeleng. Dapur ini terasa lebih sempit ketika mereka berdua. "Sedikit lagi … mungkin cukup untuk besok?"
Eijun mengangguk paham. Ternyata menambah satu orang di rumah ini cukup membuat tabungannya terkuras. Tapi ia tidak ingin mengecewakan Kazuya dengan fakta itu, ia tidak ingin Kazuya merasa tidak diinginkan dan merasa terusir. "Pulang dari konbini aku akan membawakan makanannya. Kebetulan lagi ada diskon, aku akan memisahkannya."
Setelah itu mereka duduk di atas sofa dengan keheningan diantara mereka. Terdengar suara berisik dari tetangga Eijun yang menyalakan musik dengan volume kencang. Tapi Kazuya masih bisa menahannya sebab Eijun tidak ingin ada keributan.
Selama ini Eijun tidak pernah menanyakan latar belakang Kazuya. Darimana ia berasal, siapa ia sebenarnya dan apa yang terjadi dengannya ketika Eijun menemukan Kazuya dengan luka.
Hebatnya Eijun, ia masih bisa membopong Kazuya sampai rumahnya ketika ia sendiri babak belur. Dan Eijun seolah sudah biasa dengan senjata, pistol dan topeng milik Kazuya tersimpan aman di dalam nakas kayunya. Kazuya sendiri tidak mempermasalahkannya selagi Eijun tidak bertingkah aneh.
"Kau yang hari ini tidur di kamar dan aku tidur di atas sofa." Kazuya mengingatkan. Eijun mengangguk.
Dan sudah lima hari ini mereka bergantian tidur di kamar dan di sofa. Hal itu adalah keputusan mutlak dari sang pemilik rumah dan atas ketidak enakan Kazuya.
…
Hari ke tujuh, ketika Eijun pulang dengan sekantung bahan makanan di dapur dengan wajah cerahnya, mengatakan bahwa restorannya sedang disewa oleh seseorang yang mengadakan acara lamaran. Hanya sebagian pelayan yang bekerja, dan Eijun termasuk dalam sebagian yang diliburkan.
"Kupikir saatnya kita melakukan sesuatu terhadap kacamatamu, Miyuki-san." Eijun berucap ketika Kazuya mengatur letak makanan di dalam kulkas Eijun. Eijun—sebagai pemilik rumah—menyilakan Kazuya untuk mengatur dapurnya.
Kazuya mengadah kemudian kembali mengatur makanan kaleng. "Untuk apa? Begini juga cukup." masalahnya ia tidak memiliki uang untuk membeli. Semua uangnya berada di dalam rekening. Jika ia memakainya, musuhnya pasti akan tahu ia masih hidup. Dan ia takut ada musuh yang mencarinya di luar sana.
Eijun berjongkok di samping Kazuya. "Kulihat kau hampir salah menaruh tempat piring, Miyuki-san. Aku hanya takut penglihatanmu makin parah."
Kazuya mendengkus geli. "Sangat romantis,"
Eijun merotasi matanya sebal. "Aku serius. Ayo pergi ke luar. Sesekali kau harus menghirup udara segar bukan?"
Selesai menata makanan. Kazuya memandang Eijun dengan ragu. Jantungnya berdebar—entah karena ia takut pergi ke luar atau karena wajah mereka yang berdekatan. "Kau yakin?" tanyanya. Ia merasa hembusan nafasnya menerpa wajah Eijun.
Eijun mengangguk. "Aku yakin!" iris emasnya berkilau penuh keseriusan dan semangat yang membara.
…
Akhirnya mereka pergi ke luar. Seolah tahu, Eijun memberikan Kazuya masker untuk menutupi wajah serta topi hitam dan jaket milik Eijun. Sementara Eijun berpakaian seperti biasa. Memakai kaus hitam lusuhnya yang masih terlihat bagus daripada baju-baju lainnya.
Kazuya melihat kembali dunia luar setelah seminggu berada di rumah Eijun. Ia melihat lautan manusia yang berjalan. Mereka hendak menuju optik untuk memeriksa mata Kazuya dan membeli kacamata. Kazuya melihat kacamata yang hampir serupa dengan miliknya—frame hitam kotak. Tetapi ketika melihat harganya, hal itu membuat ia tidak jadi membelinya.
Eijun melihatnya dengan jelas. Ekspresi Kazuya terlalu terbaca. "Tolong yang ini saja." Eijun menunjuk kacamata yang dipegang Kazuya barusan dengan santainya.
Kazuya melotot dan menatap Eijun dengan panik. "H-Hei? Sudahlah, kacamataku masih baik-baik saja. Minusku masih sama dan tidak ada hal yang perlu di khawatirkan—tolong tidak usah, aku tidak jadi." katanya pada karyawan yang melayani mereka.
"Tidak apa-apa, tolong pasangkan kacanya. Kami akan menunggu." Eijun menyela pada karyawan itu
Kazuya menatap Eijun secepat kilat ketika tahu karyawan itu hanya mendengarkan apa kata Eijun. "Sawamura!"
"Miyuki-san," Eijun kini menatap Kazuya. Tatapannya tidak tergoyahkan, iris emas itu menatap Kazuya penuh keseriusan. Ia tidak mengatakan apapun lagi, tapi tatapan itu mampu membuat Kazuya diam dan pasrah.
Setelah menunggu beberapa menit, kacamata Kazuya selesai. Eijun membelinya dengan uang cash yang membuat Kazuya makin tidak enak. Bahkan setelah uang yang cukup banyak itu hilang dari kantung Eijun, pria itu masih bisa tersenyum seperti biasanya dan menyuruh Kazuya langsung memakainya.
"Ini tidak—ayolah, Sawamura…"
"Kau tampak bagus!" Eijun menjawab dengan seruan ketika melihat Kazuya memakai kacamata itu.
Kazuya merasa penglihatannya kembali membaik. Memang. Ia sekarang memiliki kacamata baru. Tapi apa yang Eijun lakukan untuknya justru membuat Kazuya risih. Eijun terlihat tidak peduli dengan tatapan protes Kazuya atau tentang ekspresi Kazuya yang masam. Eijun hanya berceloteh tentang apapun yang ia lihat selama perjalanannya.
"Kenapa kau lakukan ini?" Kazuya memotong celotehan Eijun karena ia sudah tidak nyaman melihat Eijun yang merasa seperti tidak terjadi hal apapun.
Eijun berbalik menatap Kazuya yang masih memakai masker dan topinya. Dahi Eijun mengerut. "Apanya?"
Kazuya berjalan mendekat. Ekspresinya mengeras dari balik maskernya. "Jangan berpura-pura tidak tahu, Sawamura Eijun." tekannya pada Eijun.
Eijun berkedip. Ia menghela nafas panjang kemudian berbalik. "Kebetulan ada pelanggan di restoran yang memberikan tip lumayan banyak untukku." jelasnya.
Tip? Kazuya berjalan lagi dan berhenti di samping Eijun. Mereka masih berdiri dan tidak beranjak pergi. "Untuk apa? Aku hanyalah orang asing yang merepotkanmu. Aku bukan kerabat atau bahkan keluargamu." tanya Kazuya masih keheranan dengan sikap Eijun padanya.
Eijun menatap Kazuya dengan cepat. Ekspresinya mengerut tidak suka. "Jangan katakan begitu! Aku tidak merasa direpotkan! Sebenarnya aku cukup senang karena akhirnya memiliki teman bicara di rumah." ia menjelaskan maksudnya. Yang selama ini membuat Eijun senang ketika ia pulang, ia menemukan seseorang yang menunggu kepulangannya. Hal kecil yang membuat Eijun senang dan hangat. Rumahnya kini tidak terasa dingin lagi. Ia bisa mendengar suara berisik di dapur ketika pagi hari—atau ketika Kazuya berusaha membangunkannya untuk berangkat kerja. Ia memiliki teman untuk saling ribut kemudian kembali berbaikan.
"Tapi … ini berlebihan."
"Tidak." Eijun menggeleng. "Aku pernah membelikan mainan untuk anak kecil yang tersesat karena kehilangan orang tuanya di taman. Dan hal itu bukan apa-apa bagiku."
"Aku bukan anak kecil!"
Eijun mendengkus geli. "Tentu saja."
"Sawamura…"
Eijun memberikan senyum padanya. "Ayo kembali berjalan. Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi. Tip itu masih ada sisa, tenang saja." ekspresinya menjadi tenang kembali.
Kazuya menggeleng pelan. Ia mengusap tengkuknya. Bung, ia adalah salah satu anggota terbaik di organisasinya. Kenapa hanya dengan tatapan mata emas tidak tergoyahkan milik Eijun membuat ia tidak berkutik? Seolah Eijun ingin memanjakan adiknya, seolah ia merupakan orang berharga bagi Eijun, seolah mereka adalah teman lama yang kembali bertemu setelah sekian abad. Ia berjalan dengan Eijun disampingnya.
Mereka menembus lautan manusia dan berjalan tanpa arah, membiarkan kaki mereka memimpin. Mengunjungi setiap sudut kota Tokyo yang jarang mereka lewati. Tanpa sadar, hal itu membuat Kazuya semakin nyaman dengan keberadaan Eijun.
…
Kazuya mencuci perabotan bekas masaknya. Sambil mendengarkan televisi yang menyala bagaikan radio dan tenggelam dalam kegiatannya. Sudah seminggu lebih ini ia tidak mendengar kabar rekannya, ia pula tidak pernah memakai senjata lagi. Terkadang ia teringat akan misi bersama teman-temannya, sebuah ingatan yang menelusup ke otaknya tanpa permisi. Membuat Kazuya kembali dirundung rasa bersalah. Apa mereka selamat? Tidak—ada beberapa diantara mereka yang mati didepan mata kepalanya sendiri.
Ini tidak benar. Ia harus segera pergi dari sini dan kembali dengan dunianya. Tapi bagaimana jika musuh memasang jebakan ketika ia pergi ke markasnya? Tapi jika ia berada di sini, ia akan membuat rekan-rekannya yang tersisa menunggu keberadaannya.
Suara berisik pintu terbuka membuat Kazuya sadar. Ini baru jam sepuluh malam, tidak biasanya Eijun pulang lebih awal. Biasanya Eijun akan pulang tengah malam lebih karena harus menutup restorannya. "Kau sudah pulang, Sawamura? Tumben, tidak biasanya…" kalimatnya tersendat di ujung lidah, mengecil di akhir kalimat begitu melihat siapa yang masuk dan mengedarkan pandangannya ke seisi rumah milik Eijun. Matanya melotot tidak percaya. "Ku—Kuramochi?"
Kuramochi Yoichi berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan berada di sakunya. Terlihat perban di kepalanya. Kemudian matanya bertemu Kazuya, memasang smirk andalannya. Setelan jasnya agak lusuh dan berantakan. "Yo! Miyuki."
Kazuya mendekati Yoichi. "Kau…" ia memandang Yoichi dari atas kebawah dengan rasa cemas. Salah satu rekannya terlihat baik-baik saja kecuali kepalanya yang diperban. "Bagaimana kau bisa mengetahui tempat ini?" tanya Kazuya merendahkan nadanya. Seingatnya ia belum memberitahu siapapun tentang keberadaannya.
Yoichi tidak langsung menjawab. Ia tertawa dengan nada kecil sambil menatap kekurangan-kekurangan di rumah ini. "Sejak kapan kau mau tinggal di rumah lusuh begini?" Yoichi bertanya balik. Senyum miring tidak luntur dari bibirnya. "Setahuku kau paling anti dengan tempat kumuh."
Tempat kumuh. Kalimat itu bergema di dalam kepalanya. Ia merasa tersinggung. Sawamura Eijun mengatakan padanya bahwa ia sudah tinggal di rumah ini bertahun-tahun sejak ia bersekolah. Rumah ini adalah satu-satunya yang berharga milik Sawamura Eijun. Kazuya menarik kerah Yoichi dengan merah. Iris coklatnya tajam menatap Yoichi seolah ingin melubangi kepala Yoichi. "Jangan katakan itu, brengsek!" geramnya pada Yoichi.
Sebelah alisnya terangkat naik. "Kenapa kau jadi marah?" Yoichi tidak habis pikir dengan Kazuya. Ia kemudian mengangkat tangannya ke atas tanda tidak ingin mencari keributan. Toh, bukan itu niatnya kemari. "Sudahlah, lepaskan. Aku tidak berniat bertengkar denganmu."
Kazuya berdecak melepaskan kerah Yoichi. "Rumah ini lebih baik daripada berada dibalik jeruji." ia menjawab dengan jujur. Benar. Itu lebih baik daripada ia berakhir menjadi tahanan.
Yoichi mendengkus, ia tidak peduli dengan jawaban Kazuya barusan. "Sudah saatnya kembali, Miyuki," katanya mengutarakan niatnya. Ia menatap Kazuya dengan tatapan seriusnya. "Kita sedang membangun kembali organisasi. Bos sudah tiada."
Sebaliknya, Kazuya menatap Yoichi dengan perasaannya yang terbelah menjadi dua. Antara ingin pergi atau tetap menunggu kepulangan Eijun. Dan Kazuya juga tahu diantara kedua itu ia harus memilih salah satu.
…
Ketika ia pulang ia tidak bisa menemukan keberadaan Kazuya. Hanya ada makanan hangat yang tersaji diatas meja kecil di dapur. Jaket miliknya yang pernah dipakai Kazuya tidak ada di tempatnya—mungkin pria itu sedang keluar, karena ia menemukan topeng dan senjata milik Kazuya masih berada di lacinya. Eijun mengelus topeng itu, ada sebuah nama. Eijun tahu, Eijun mengerti, Eijun sudah biasa. Ia tidak memperdulikan siapa Kazuya. Karena ia sudah terbiasa dengan semua ini.
Eijun menghela nafas pelan. Ia kembali duduk di atas sofa dan mendengarkan suara televisi bagaikan radio rusak. Perutnya sudah bergema meminta asupan dan matanya mulai terkatup sedikit demi sedikit, kepalanya menunduk sehingga poni menyembunyikan setengah wajahnya. Kesunyian menyelimutinya malam ini. Tidak ada suara berisik dari tetangganya. Sangat langka mendengar bahwa lorong apartemen kumuh ini benar-benar sunyi bebas dari gangguan.
Ketika ia mulai bermimpi tentang masa kecilnya yang cukup suram. Teriakan Ibunya yang menyuruhnya pergi dan teriakan Ayahnya yang melindungi anaknya. Semua itu bergejolak di dalam dirinya. Ingatan bagai badai menyerang di malam hari.
Pintu terbuka. Kazuya masuk dengan wajah masamnya. Ia membuka maskernya dan mendapati Eijun duduk di atas sofa, kedua tangannya memeluk kakinya yang menekuk keatas. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Eijun. Ia kemudian mendekati Eijun dan duduk di sampingnya, memastikan gerakan itu tidak membangunkan Eijun. Tangannya menyingkirkan poni Eijun dan melihat kedua matanya yang terpejam karena tidur.
Kazuya menggigit bibir bawahnya. Perasaannya tidak menentu ketika ia mengunjungi markas mereka. Benar-benar rusak parah, gedung itu tampak hangus terbakar. Dari sekian banyak rekan dan orang-orang di organisasinya, hanya tersisa setengahnya—itupun dengan luka-luka di setiap bagian tubuh mereka.
"Bos sudah mengamanatkan pada kami bahwa kau yang akan memimpin Seidou ketika ia sudah tiada," kata Watanabe Hisashi dengan perban di tangan kanannya. Wajahnya teduh dan tersenyum padanya. "Kita akan membangun ulang Seidou kembali seperti semula. Mengambil kembali apa yang mereka rebut dari kita. Tapi sebelumnya kita harus memperbaiki keuangan dan posisi, bukan?"
Adalah Yuki Tetsuya dan Takigawa Chris Yuu yang tersenyum padanya seolah setuju dengan keputusan mendiang bos mereka. "Kau dilatih dan dibesarkan untuk menjadi pewaris Seidou selanjutnya, Miyuki," kata Chris pada Kazuya dengan mata yang berkilat karena semangat.
"Itu benar." Tetsuya menyetujui Chris. "Sudah saatnya kita bangun dan berdiri kembali. Kejatuhan organisasi adalah hal yang menyedihkan. Tapi bukan berarti kita kalah. Semua orang yang ada disini menunggu perintah darimu, Miyuki."
Terdengar erangan pelan lolos dari bibir Eijun. Kazuya langsung menoleh secepat kilat. Kazuya terpaku pada kelopak mata Eijun yang terbuka sedikit demi sedikit, menampilkan iris manik keemasannya. Kazuya selalu terpaku dan memuja bagaimana manik mata itu berbeda dari milik yang lain. Emasnya berkilau-kilau membuat Kazuya candu.
"Hnng, Miyuki-san? Oh … sudah pulang?"
Kazuya mengulum bibirnya. Ia sedikit menggeserkan duduknya dan tersenyum kecil. "Maaf aku pergi tanpa mengatakan apapun."
Eijun menggosok matanya lalu menggeleng pelan. Masih mengumpulkan nyawa, ia tersenyum pada Kazuya. "Tidak apa-apa. Asal kau tahu jalan pulang itu masih baik-baik saja."
Jalan pulang. Hati Kazuya teriris sakit. Kalimat barusan adalah seolah-olah Eijun sudah terbiasa hidup bersama Kazuya. Seolah-olah Eijun selalu menanti kehadiran Kazuya di rumah. Seolah-olah rumah ini juga merupakan rumahnya. Rumah mereka berdua.
Kini Eijun sudah sadar sepenuhnya. Kepalanya miring dan ia tersenyum pada Kazuya. "Okaeri, Miyuki-san." matanya sedikit menyipit karena senyumannya yang lebar.
Kazuya merasakan denyut di jantungnya meningkat. Ia merasa berbeda. Ia merasa kepulangannya dinantikan oleh Eijun. Ia merasa … berharga. "Tadaima, Sawamura." wajahnya sedikit memerah karena ia baru pertama kali mengatakan hal itu. Kalimat yang ingin ia katakan pada seseorang yang selalu menunggu kepulangannya.
"Mari makan. Perutku sudah lapar, lho."
"Hahaha. Tentu saja. Ayo kita makan, Sawamura."
…
Akhir-akhir ini Kazuya menyempatkan diri untuk pergi ke markasnya ketika Eijun tidak ada di rumah. Ia memastikan tidak ada yang mengikutinya. Chris mengatakan butuh beberapa bulan atau bahkan satu tahun untuk memulihkan gedung markas mereka. Sementara itu Kazuya masih belum bisa membuat keputusan. Jika ia menerima permintaan mendiang Bosnya, ia akan pergi dari rumah Eijun. Rumah kecil yang hangat itu. Jika ia bersikeras berada di rumah Eijun—Kazuya yakin bahwa hal buruk akan terjadi. Cepat atau lambat.
"Kau tahu konsekuensinya bukan?" Yoichi membuka suara dan mengganti topik ketika mereka berada di ruangan mendiang bos mereka. Tempat ini kosong melompong, barang-barang yang hangus terbakar sudah dibawa keluar, temboknya menghitam, begitu pula dengan lantainya yang rusak. "Jika kau dekat dengan orang yang bukan dari organisasi manapun, musuh akan mengincarnya cepat atau lambat."
"Aku sudah tahu." Kazuya menjawab acuh tak acuh.
Yoichi mendengkus pelan. "Jadi dia ya? Orang yang sekarang kau anggap berharga," Yoichi mengingat ketika ia tidak sengaja menemukan Kazuya berjalan santai bersama seorang pria muda yang bersemangat. Hal itu lah yang membuat Yoichi membuntuti mereka yang kebetulan sedang berjalan pulang. "Dia anak yang menyebalkan. Senyum lebarnya membuatku sakit mata. Telingamu tidak pengang mendengar ocehannya sepanjang jalan?"
Kazuya tahu bahwa Yoichi sedang membicarakan Eijun. Harusnya ia kesal karena Yoichi seenaknya saja mengatai Eijun. Tapi entah kenapa hal itu membuat ia geli dan tersenyum kecil. "Ya, dia cerewet dan menyebalkan."
Yoichi memerhatikan Kazuya diam-diam. Setiap titik perubahan ekspresi dan emosi di wajah Kazuya membuat Yoichi yakin bahwa Kazuya merasakan sesuatu yang baru. Ia tersenyum miring. "Kau sudah masuk perangkap Tuhan, Miyuki."
Kazuya menatap Yoichi selama beberapa detik dengan ekspresi masa bodonya. "Siapa peduli?" ia sudah terjebak. Terjebak akan iris keemasan milik Eijun yang memberinya kehidupan yang selalu ia dambakan sejak lama. Seseorang yang berharga. Seseorang yang membuat hatinya hangat. Seseorang yang tersenyum padanya sepanjang waktu.
"Buat semua itu menjadi lurus, Miyuki. Dia orang baik, dan kehadiran kita bisa membuat kehidupannya menjadi lebih buruk."
…
"Tadaima!"
"Okaeri," Kazuya menoleh ketika Eijun masuk dengan ekspresi menahan kesalnya. Dahinya mengerut. Tidak biasanya Eijun pulang dengan kesal seperti ini, atau lebih jelasnya Eijun tidak pernah pulang dengan kesal. "Apa hari ini begitu buruk?" tanya Kazuya.
Eijun melepaskan sepatu, tas dan jaketnya dan menaruhnya asal ke atas sofa. Ekspresinya masih sama—guratan kekesalan tidak luntur. "Sangat buruk!" jawabnya sedikit melotot marah, Eijun menahan diri agar tidak terlalu emosi. Ia duduk disamping Kazuya. "Ada pelanggan yang merepotkan di restoran! Dia selalu mengatakan pesanannya salah—padahal, demi Tuhan! Aku sudah menulis sesuai keinginannya!" teriak Eijun kesal. Ia menatap Kazuya. Emas di matanya berkilat. "Dan kau tahu? Aku hampir saja dimarahi! Kalau pelayan lain tidak tahu kejadian yang sebenarnya mungkin aku sudah dipecat! Beruntung mereka memihakku!"
Kazuya tersenyum kemudian terkekeh pelan. "Benarkah? Sangat menyebalkan sekali." responnya.
Eijun mengangguk beberapa kali sambil mendengkus. "Ya! Sangat menyebalkan melebihimu!"
"Hei, hei."
"Dia bertindak seakan-akan dia adalah Raja! Dia menyebalkan sekali! Suaranya yang memerintahkanku seolah ingin memberikan hukuman mati padaku! Sial! Aku ingin mencekiknya saat itu juga!"
Senyum Kazuya berubah menjadi masam. Alisnya menaik keatas. "Raja?" kalimat itu sangat sensitif baginya dan mengingatkan ia tentang sesuatu yang membuat emosinya menaik. Tapi ia berusaha menahan diri agar Eijun tidak menyadarinya.
Eijun mengangguk lagi. "Raja!" ulang Eijun. "Dia … Dia tampak seperti orang luar negri? Rambutnya pirang, aku hampir mengira dia beruban … lalu dia memiliki mata biru. Anehnya dia bisa bahasa Jepang dengan lancar! Itulah yang membuatku kesal padanya, sialan!" seru Eijun menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Kazuya memasang senyum kaku. "Itu … sangat menyebalkan. Jika aku adalah kamu pasti aku akan langsung membuang makanan ke wajahnya." jawab Kazuya asal. Ekspresinya menjadi dingin dan pucat.
"Ide bagus." Eijun mengangguk setuju. Dahinya mengerut melihat ekspresi Kazuya. "Kau kenapa? Ah, lupakan! Aku mau mandi dulu! Hari ini aku akan mandi air dingin!" ia berdiri kemudian meninggalkan Kazuya sendirian dengan beragam pertanyaan di kepalanya.
Kazuya mengepalkan tangannya dengan penuh kebencian. Kilatan matanya terlihat sangat menakutkan. Narumiya Mei!
…
Eijun kembali bercerita tentang pekerjaannya. Ada dua cerita. Satu; pelanggan menyebalkan itu datang ke konbini tempatnya bekerja dan menyuruhnya untuk mencari barang-barang yang ia butuhkan, bahkan sampai membuat Eijun naik darah. Dua; orang itu kembali datang ke restoran dan hanya ingin Eijun yang melayaninya. Sepanjang jalan ia mengomel pada Kazuya betapa menyebalkannya orang itu. Bahkan semua pelayan hanya bisa memandang Eijun iba tanpa berani membantu.
Kazuya sudah tahu apa arti dari perlakuan orang itu. Narumiya Mei! Musuh bebuyutannya. Perlakuan Mei pada Eijun seolah mengatakan pada Kazuya bahwa 'aku-tahu-orang-yang-berharga-bagimu'. Kazuya tidak yakin darimana Mei tahu keberadaannya. Tapi mau bagaimanapun Mei adalah Mei yang selalu tahu di mana ia berada.
Kini mereka sedang berjalan menuju taman. Eijun disuruh mengambil cuti oleh bosnya di restoran karena merasa kasihan tentang pelanggan menyebalkan itu. Kazuya berusaha tersenyum mendengar celotehan Eijun, sedangkan pikirannya melayang tentang bagaimana cara ia mengakhiri hal ini. Mau bagaimanapun ia tidak mau membahayakan nyawa Eijun. Eijun adalah orang baik dengan segala sifat naifnya, ia adalah sinar bagi Kazuya, ia adalah segalanya bagi Kazuya. Eijun adalah seseorang yang menghidupkannya kembali.
"Sawamura," Kazuya memanggil, ia berdiri di depan Eijun yang sedang duduk di bangku taman sambil menikmati udara.
Saat ini di taman sedang berwarna oranye dan coklat. Sangat cocok dengan sifat Eijun yang hangat. Daun-daun berguguran terbawa angin kecil. Eijun memejamkan mata menikmati semua itu. Lalu membuka matanya ketika Kazuya memanggilnya. "Ya, Miyuki-san?"
Kazuya menatap Eijun kemudian menunduk. Ia menggosok tengkuknya pelan. "Terima kasih atas bantuanmu dan sudah bersedia menampungku,"
Eijun memiringkan wajahnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan merasa tahu arah pembicaraan ini. Kedua tangannya terkepal pelan diatas paha.
"Aku tidak bisa selamanya berada di sini, aku harus kembali ke tempatku."
Eijun tercekat. Tapi ia berusaha baik-baik saja. Ia tersenyum pada Kazuya. "Kau sudah menemukan tempat tinggal?" tanyanya.
Kazuya menggeleng. "Ini tempat tinggal lamaku." jawabnya dengan serak.
"Oh … oke," Eijun mengangguk paham. Ia mengambil nafas dan berusaha untuk tidak melankolis. "Itu bagus. Aku khawatir kau sendirian di sini." katanya diakhiri kekehan pelan
Kazuya mengadah ketika mendengar nada suara Eijun yang terdengar baik-baik saja dan tidak terlalu mempermasalahkan kepergiannya. Ia bisa melihat senyum Eijun lebar yang terlihat tenang. Hatinya teriris seketika. "Aku … Ada temanku juga…"
Eijun mengangguk lagi. "Itu bagus,"
"Kau … tidak ingin tahu siapa aku?"
Eijun memiringkan kepalanya sekali lagi dengan ekspresi keheranan. "Untuk apa?"
"Bukankah setiap orang pasti akan penasaran dengan seseorang yang dia tolong?"
Eijun terkekeh pelan. "Aku bukan orang yang pemaksa," jawabnya dengan tenang. "Sebagian orang ada yang merasa tidak nyaman ketika seseorang meminta menjelaskan siapa dirinya. Dan aku menghargai setiap privasi yang disimpan orang-orang."
Kazuya tediam. Itu alasannya. Itu adalah alasan Eijun tidak pernah penasaran tentang dirinya. Ia adalah pria yang baik, naif, cerewet dan menghargai privasi setiap orang. Tidak peduli barang apa yang Eijun temukan pertama kali ketika menolongnya, Eijun tetap tutup mulut dan tidak pernah bertanya-tanya tentang siapa Kazuya sebenarnya.
"Barang-barangmu sudah diambil? Apa kita pulang dulu?" tanya Eijun masih terdengar tenang.
"Aku sudah membawanya." Kazuya menjawab setelah jeda beberapa saat. Ia mengangkat kepalanya. Ekspresinya kini sudah rileks dan ia tersenyum kecil pada Eijun. Ketika ia hendak melepaskan jaket milik Eijun yang menempel di tubuhnya, Eijun berdiri dan menghentikannya. "Kenapa?"
"Untukmu saja, anggap sebagai kenang-kenangan karena aku pernah membantumu." Eijun tersenyum lalu terkekeh pelan seolah menganggap ucapan barusan sangat lucu. "Serius. Pakai saja." ia menunduk, kekehan itu terdengar parau sekarang. Tangannya mencengkram lengan jaket yang dipakai Kazuya.
"Sawamura…"
Bahu Eijun bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengambil nafas kuat-kuat. Setelah itu Eijun mengadah dan tertawa. "Beberapa minggu ini sangat menyenangkan karena kehadiranmu, Miyuki-san." ia kemudian memeluk Kazuya dengan hangat. "Sekarang kita akan berpisah. Aku harap kita menjadi teman selamanya, mau dimanapun kau dan aku berada."
Kazuya mengangguk. "Pasti, Sawamura." ia membalas pelukan itu dengan singkat sebelum ia merasakan kosong di hatinya. Keduanya berpisah. Eijun berdiri di tengah taman sementara langkah Kazuya mulai membuat jarak diantara mereka.
Kazuya meninggalkan Eijun dengan hatinya yang pecah berkeping-keping. Melebur bersama udara. Dan ia akan kembali menjadi Miyuki Kazuya yang seharusnya. Tempatnya bukan bersama Eijun yang dikelilingi cahaya dan kehangatan. Tempatnya adalah tempat yang gelap dan dingin bersama bau mesiu dan amis darah.
Tanpa mereka saling sadari, mereka menahan tangis dan luka.
…
Organisasi perlahan memulihkan diri. Kazuya mengunjungi setiap kawasan yang dikuasai oleh Seidou dan memeriksa apakah ada kerusakan di sana. Ketika tahu semuanya baik-baik saja. Ia kembali ke markas dan bertemu para anak buahnya. Ketika masuk ke dalam, ia disambut dengan bungkukkan hormat. Sekarang; Miyuki Kazuya adalah bos Seidou dan semua orang akan tunduk padanya.
Seperti inilah kehidupan ia sebenarnya. Bermain-main dengan senjata di tangannya, bukan bermain keluarga-keluargaan. Beginilah seharusnya. Tempat ia berada.
Kazuya membuka topinya dan menaruhnya diatas meja. Ia duduk santai diatas kursi empuk miliknya. "Kuramochi, kumpulkan pasukan yang kita milikki. Kita akan menyerbu Inashiro sebagai balas dendam dan mengambil kembali adik Ryo-san."
Kuramochi Yoichi mengangguk dan berbalik meninggalkan ruangan Kazuya. Meninggalkan Kazuya dengan rencana-rencana di kepalanya.
…
Eijun memegang sebuah benda berbentuk kalung. Sebuah dog tag di tangannya. Ia merasakan tulisan-tulisan bahasa Inggris yang menyembul dari sana. Ini milik Kazuya yang tidak sengaja tertinggal. Ia sudah tahu sejak pertama kali siapa Kazuya sebenarnya. Darimana Kazuya berasal dan apa pekerjaannya.
Yakuza; pekerjaannya. Miyuki Kazuya. Diasuh langsung oleh Kataoka Tesshin sang bos besar Seidou. Dan ulang tahunnya adalah tanggal tujuh belas November.
Ia memandang kalender yang terpasang di temboknya. Hari ini tanggal empat belas November. Itu berarti tiga hari lagi ia ultah. Mungkin ia bisa memberi hadiah padanya sekaligus ingin bertemu dengan seseorang?
Kini, ia kembali pada kegiatan awalnya. Makan dengan mie instan dan pulang dengan rumah yang dingin. Oh, betapa ia merindukan kehadiran Miyuki Kazuya!
…
"Bajingan itu menginginkan sebagian wilayah milik kita dan menukarnya dengan pembebasan Kominato Junior." jelas Yoichi kesal dengan informasi yang baru saja ia peroleh. Giginya bergeser tajam, kedua tangan berada di sakunya. Ekspresinya mengeras ngeri.
Kazuya masih tenang. Ia duduk di kursi utama, sementara Yoichi, Chris, Ryosuke, Tetsuya, Jun, Hisashi, Norifumi dan Shinji berdiri di depannya dengan ekspresi serius seperti Yoichi. Ia mengambil nafas kemudian membuangnya. Semua wilayah yang dimiliki oleh bos sebelumnya berjalan dengan baik—ekonomi dan keamanannya. Tentunya tentang jual beli obat-obatan yang terlanjur bersih sehingga tidak ada polisi yang bisa mengendusnya. Jika sebagian wilayah milik Seidou jatuh ke tangan Inashiro itu artinya Kazuya tidak bisa menjadi pemimpin yang baik.
Ia harus mencari cara. Ia ingin mengambil kembali adik Ryosuke dan menjaga wilayahnya tetap aman. Jika saja ia sempat membawa kabur rekan-rekannya yang lain—terutama Kominato Haruichi—pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Tiga minggu dia disekap di Inashiro. Aku harap ketika melihatnya ia tidak terlihat buruk." kata Ryosuke dengan tenang menerka-nerka bagaimana fisik adiknya. Ekspresi itu bahkan kelewat tenang untuk seukuran kakak yang adiknya diculik.
Chris hanya memberikan helaan nafas lelah. Tidak habis pikir dengan Ryosuke. Kemudian ia menatap Kazuya dengan serius lagi. "Kita janjikan saja apa yang dia inginkan. Lalu kabur setelah mendapatkan Kominato Junior."
Kazuya mengangguk. "Itu juga apa yang aku pikirkan, Chris-san," jawabnya dengan pasti. "Tapi keamanan Inashiro sungguh luar biasa. Kita harus memakai akal kita untuk menyusup ke sana." jelasnya. Ia kemudian berdiri dan berjalan mengintari meja, setelah itu Kazuya duduk diatas meja dengan ekspresi seriusnya. "Aku dan Kuramochi akan masuk untuk mengalihkan mereka. Dan kalian menyusup untuk melepaskan Kominato Junior."
Mendengar namanya disebut, Yoichi tidak masalah. Tapi ia ragu kalau semuanya akan berjalan dengan lancar mengingat mereka pernah dibantai oleh Inashiro. "Dan apakah kau tahu di mana dia disekap?" tanya Yoichi.
Kazuya mengendikkan bahunya acuh tidak acuh. "Aku pernah menjadi mata-mata di sana dan tahu ada penjara bawah tanah tempat mereka menahan orang-orang yang bermasalah dengan Inashiro."
Yoichi mengangguk. Ia hampir lupa kalau Kazuya pernah dikirim ke Inashiro menjadi mata-mata. Tentu saja karena hal itu Kazuya memiliki hubungan buruk dengan seseorang yang disebut sebagai 'King'. "Baiklah, semuanya menjadi jelas."
"Aku dan Kuramochi akan masuk menemui bos Inashiro," jelas Kazuya lagi. "Chris-san, Nori dan Kanemaru serta bawa pasukan kalian untuk melumpuhkan penjaga mereka. Lalu Ryo-san, Tetsu-san dan Jun-san; aku ingin kalian pergi ke penjara bawah tanah tempat Kominato Junior disekap. Dan Nabe, aku ingin kau, Toujo dan Furuya mengamati dari jauh. Bawa beberapa pasukan kalian untuk jaga-jaga semisalnya ada pertumpahan darah lagi."
Mereka semua mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana tentang keinginan Inashiro tentang wilayah kita?" tanya Tetsuya.
Kazuya mendengkus. "Aku akan—" kalimatnya terhenti ketika ponsel di dalam saku celananya berbunyi. Hebatnya ponsel milik Kazuya selamat karena ditemukan oleh Yoichi tepat ketika penyerangan terjadi. Kazuya mengambil ponselnya dan melihat nomor tidak dikenal menelponnya.
Tidak ada siapapun yang mengetahui nomor teleponnya kecuali rekan-rekannya saja. Dahinya mengerut. Ia mengangkat telepon itu lalu menaruhnya di telinga. Ia tidak mengatakan apapun dan menunggu si penelpon bersuara.
"Halo~ Kazuya~"
Kazuya melotot dengan kebencian di dalam dadanya. Ia tahu suara siapa ini. "Mei." Kazuya menggeram, matanya berkilat tidak suka.
Semua yang ada di sana tahu sejarah antara Kazuya dan Mei. Jadi mereka lebih memilih untuk diam.
"Oh, jangan begitu!" Mei berseru diujung sana. "Kau tidak rindu dengan teman lama?"
Ingatan tentang Mei yang membabat habis rekan-rekannya kemarin membuat amarahnya tersulut. Ketika wajah mereka menampilkan ekspresi menyakitkan, mata melotot, darah bercucuran dan teriakan kesakitan mereka. Ketika mereka dalam ambang hidup dan mati, ia dengan bodohnya berlari menyelamatkan diri sendiri.
Kazuya mengambil nafas kemudian membuangnya. Ia berusaha mengontrol emosinya. Ia tahu Mei hanya ingin menyulut emosinya saja. "Ada apa kau menelponku?" tanya Kazuya tidak sabar.
"Kudengar kau jadi bos baru Seidou ya? Wah wah, selamat ya, Kazuya~ Berterima kasih lah padaku karena kami secara tidak langsung mengangkat jabatanmu~"
Kazuya menyipit. Ia berdiri membuat semua orang disana penasaran apa yang musuh mereka katakan pada Kazuya. Tubuhnya tegang dan penuh amarah terpendam. Ia mengepalkan tangannya. "Jika hanya itu yang kau katakan, pergilah ke neraka."
Mei tergelak geli diujung sana. "Jangan kasar begitu, Kazuya! Hahaha … aku memiliki kejutan untukmu karena kau sekarang sudah menjadi bos."
"Mei…" Kazuya menggeram marah. Tawa Mei benar-benar menyebalkan. Tangannya sudah gatal ingin menghajar wajah itu.
Suara krasak-krusuk terdengar. Samar-samar Kazuya mendengar Mei berbicara pada seseorang dengan pelan. "Ayo bicara! Katakan sesuatu padanya sebagai kalimat selamat dariku!" Mei berseru. Terdengar suara erangan kesakitan selama beberapa detik. Kazuya mengerutkan dahinya. "Cepat bicara sialan!"
Jantung Kazuya berdebar. Darahnya berdesir. Apa yang erangan itu milik Kominato Junior? Adik dari Ryosuke. Kalau itu benar, Kazuya akan langsung melakukan operasi penyelamatan sekarang juga.
"Haahh," helaan nafas panjang penuh kesakitan terdengar. "Miyuki-san? Tolong…"
Kazuya melotot. Jantunganya berpacu lebih cepat. Amarah dan emosi menguasai dirinya. Ia mengepalkan tangannya dengan marah hingga buku jarinya memutih. "Sawamura!" seru Kazuya dengan marah.
…
Ketika teleponnya mati. Mei langsung menukikkan alisnya dan berdecak sebal. "Cih, langsung dimatikan." Mei mendengkus kemudian memasukan ponsel ke dalam saku celananya.
Eijun merotasi matanya melihat kelakuan orang yang menculiknya beberapa jam yang lalu. Kedua tangannya diikat ke belakang, terdapat sedikit darah yang mengering di kepalanya. Ia ingat ketika sedang dalam perjalanan pulang habis membeli kue ulang tahun, ia tiba-tiba diculik.
"Tu-Tunggu! Ini aku mau diculik ya?! Kalau begitu tolong pegang kue ini baik-baik! Aku tidak ingin kue ini rusak!"
Dan entah bagaimana, antek-antek Mei yang menculiknya malah menuruti apa kata Eijun yaitu memegang kue tersebut agar tidak rusak. Sepanjang jalan ia hanya memikirkan kenapa antek-antek Mei menuruti kalimatnya. Apa mereka akan menurutinya juga ketika ingin dilepaskan? Oh pastinya tidak. Eijun heran. Yang bodoh disini siapa sih?
Eijun masih memasang ekspresi tenangnya. Ia merasa simpul tali di tangannya sangat kencang. Dua orang pria tinggi besar berdiri di belakangnya mengamati Eijun agar tidak bisa melarikan diri. Iris keemasannya menatap ke kardus kue yang ditendang Mei ke sudut ruangan. Eijun ingin marah, tapi beruntung kue itu tidak menghantam tembok. Mungkin hanya krimnya saja yang rusak.
Mei menatap Eijun dengan tajam. Ia menangkup kasar pipi Eijun dan melihat wajahnya dari semua sisi. "Apa sih yang Kazuya lihat tentang kamu? Kau miskin, bodoh, lugu! Setahuku Kazuya tidak pernah jatuh cinta dengan seseorang!" serunya.
Tiba-tiba Eijun tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya sedikit memerah—sempat lupa kalau ia sekarang sedang diculik. "Tu-Tunggu! Miyuki-san jatuh cinta?! Dengan siapa dia jatuh cinta?!" tanya Eijun dengan panik ketika Mei melepaskan cengkraman kasarnya.
Mei menatap Eijun dengan datar dan tidak percaya. "Kau lebih bodoh dari yang kukira ternyata."
"HEII!"
Mei meringis menutup telinganya. Sekarang ia merasa keputusannya untuk menculik Eijun itu salah. Pria ini benar-benar menyebalkan! Teriakannya yang cempreng membuat telinganya pengang! "Pikir sana sendiri!" Mei balas berteriak dengan kesal.
"AAAHH! Kau pelit! Kau pelit! Dasar Tuan Penculik sialaaan!"
Dor!
Mei dengan segera menembak. Nyaris mengenai Eijun—beruntung peluru itu meleset dari pipinya. Mei menatap Eijun dengan tajam dan dingin. "Tidak bisakah kau diam, sialan."
Bibir Eijun terkatup. Ia menatap Mei tidak kalah tajamnya. Iris keemasannya berkilat dingin dan gelap. "Kau pikir aku takut?" Eijun menggeram marah. Benar-benar berbeda dengan ekspresi biasanya.
Mei menaikan sebelah alisnya. Menarik. Eijun sangat menarik. Ia kemudian tersenyum miring. "Ekspresimu benar-benar menarik. Aku menyukai itu!"
Eijun mendengkus geli. Ekspresinya kembali seperti tadi. Tersenyum lebar penuh semangat dan malu-malu. "Terima kasih!" serunya.
Mei merotasi matanya. Satu sisi ia berpikir bahwa menculik Eijun adalah hal yang salah. Tapi di satu sisi ia berpikir bahwa Eijun sangat menarik. Ada ekspresi dan emosi yang belum pernah Mei lihat sebelumnya selama ia bertemu dengan Eijun. Bahkan ketika Mei mencoba menyulut emosi Eijun di restoran saat itu—Eijun masih bisa bersikap sopan meskipun ekspresi protes tercetak jelas di wajahnya.
"Hei … apa benar … bos Seidou sebelumnya sudah wafat?" tanya Eijun masih penasaran tentang informasi yang baru ia terima beberapa saat lalu.
Mei menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Tentu saja, bosku yang membunuhnya."
Eijun menghela nafas panjang. Ia sedikit menurunkan wajahnya dan menatap Mei dengan tajam. Ekspresinya kembali gelap dan dingin. "Aku merasa kasihan dengan Kataoka-san yang dibunuh oleh cecunguk seperti kalian." geramnya.
Selanjutnya Eijun tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia hanya ingat bahwa ia dipukul hingga pingsan.
…
Mobil itu memacu begitu kencang di jalanan luas. Tidak peduli pada kendaraan lainnya atau peraturan sialan. Ia hanya ingin sampai ke tempat di mana Mei menculik Eijun dengan cepat. Dibelakangnya terdapat beberapa mobil besar lainnya. Deruman kencang dan tajam berlomba-lomba di jalanan, menyalip kendaraan lainnya sehingga mendapatkan sumpah serapah.
Semuanya berekspresi tegang ketika Kazuya tiba-tiba mengamuk seperti badai yang tenang. Dia memang tidak membanting barang disekitarnya. Ia hanya langsung memberi perintah bahwa ia akan menghabisi Mei. Adalah Kuramochi Yoichi yang tetap tenang seperti biasanya dan bersemangat ketika melihat Kazuya marah. Yoichi baru pertama kali melihat Kazuya seperti ini. Ia jadi penasaran seperti apa Sawamura Eijun dari dekat. Ia ingin menilai pria yang membuat Kazuya seperti ini secara langsung.
Kazuya mencengkram erat setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya sudah campur aduk. Apa yang kira-kira Mei lakukan pada Eijun? Apa pria itu baik-baik saja? Tidak, tidak mungkin baik-baik saja. Ia tahu seperti apa Inashiro. Tidak usah dijabarkan ia sudah tahu bagaimana keadaan Eijun. Jantungnya berdebar kencang. Orang yang ia hormati dan berharga bagi hidupnya telah tiada. Jika Eijun—orang yang berharga baginya—juga meninggal di tangan Inashiro. Kazuya berjanji akan membunuh mereka semua, menguliti, mencincang daging mereka dan dibuang ke perairan. Kazuya berjanji akan membunuh mereka sampai titik darah penghabisan.
"Sangat jarang melihat Miyuki seperti ini," kata Chris pada Tetsuya yang satu mobil dengannya.
Tetsuya mengangguk setuju. "Tampaknya 'Sawamura' ini adalah orang penting bagi Miyuki."
"Ku dengar dari Kuramochi, Sawamura adalah orang yang menyelamatkan Miyuki ketika pelarian." jelas Chris mengingat Yoichi pernah bercerita padanya tentang orang yang menampung Kazuya. "Ku pikir itu alasan kenapa Miyuki menjadi seperti ini."
Dua jam kemudian mereka sampai di sebuah gedung kosong terbengkalai. Kazuya melihat gedung itu dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Cukup sepi. Mei mengirimnya lokasi tempat ia menyandera Eijun dan Haruichi sebelum Kazuya berangkat.
Mobil Yoichi datang beberapa saat kemudian. Sementara Mobil yang dikendarai Ryosuke, Tetsuya, Jun, Chris, Norifumi dan Shinji disembunyikan di tempat yang aman. Masih dengan rencana milik Kazuya; Ryosuke, Tetsuya dan Jun akan mengendap masuk mencari Haruichi dan Eijun. Sementara Chris, Norifumi dan Shinji akan berjaga di luar termasuk beberapa orang yang merupakan bawahan Chris. Selanjutnya Kazuya dan Yoichi akan masuk ke dalam. Kemudian Hisashi, Hideaki dan Satoru mengawasi markas Inashiro dari jauh. Karena gedung terbengkalai dan markas Inashiro memiliki jarak yang cukup jauh.
Yoichi melirik Kazuya kemudian mereka masuk ke dalam gedung terbengkalai itu. Ada dua orang penjaga di sana yang langsung menatap mereka. Dengan manik mata tajamnya ia mengedarkan pandangannya.
"Di mana Mei?" Kazuya langsung bertanya pada seseorang yang ia yakini merupakan anak buah Mei. Ekspresinya sudah mengeras karena setiap langkahnya ia selalu menerka-nerka seperti apa Eijun ketika ia bertemu dengannya nanti.
Salah satu orang bertubuh kekar itu menaruh kedua tangannya didalam saku kemudian memberi gestur bahwa mereka harus mengikutinya. Sementara yang satunya lagi tetap di depan gedung mengawasi sekitar.
Kazuya dan Yoichi berjalan dibelakangnya. Yoichi langsung menggarukkan kepalanya alih-alih memencet earpiece yang ia sembunyikan. Ia kemudian bersin kecil beberapa kali. "Astaga, debu dimana-mana. Apa Inashiro tidak bisa mencari tempat yang lebih bersih?" gumamnya pelan. Ketika orang itu menatapnya, Yoichi hanya mendelik. "Itu kenyataan. Maaf saja aku ini anti dengan debu-debu."
Kazuya tidak mengindahkan protesan Yoichi. Ia hanya diam dengan ekspresinya yang mengeras. Berusaha sabar agar tidak mengamuk.
…
Satu hantaman di pipi membuat ia terbangun tiba-tiba. Ia mengerang pelan. Jantungnya langsung berdebar kencang. Ketika sadar, ia sudah tidak duduk di kursi lagi melainkan diatas lantai. Ia mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menoleh ke samping dan berusaha duduk. Seorang pria seumuran dengannya juga terikat, bedanya wajahnya sudah memiliki banyak luka, bajunya juga lumayan berantakan dan banyak luka lebam dimana-mana.
"Sudah bangun, Puteri Tidur?"
Eijun menggeram pelan. Pukulan di pipinya lumayan sakit. Ia menatap Mei penuh amarah namun tidak mengatakan apapun. Ia menoleh lagi ke samping—lumayan jauh—pria itu dalam keadaan terikat, wajahnya menunduk, rambut mencoloknya terlihat berantakan seperti kemeja putihnya yang sobek di beberapa bagian. Eijun meringis di dalam hati. Pasti sakit. Akhirnya Eijun mendongak melihat Mei. "Apa yang sebenarnya kau mau dariku?"
Mei diam sejenak. Ia berjongkok di depan Eijun. "Aku ingin membunuh Kazuya. Hanya itu." ungkapnya dengan ekspresi datar, namun iris birunya berkilat penuh nafsu membunuh.
Eijun menatap Mei beberapa saat. "Miyuki-san maksudmu?"
"Tentu saja dia."
Ia mengendurkan wajahnya lalu mendengkus. "Sepertinya kalian dekat sekali," katanya dengan geli. Ia memandang Mei culas.
Mei langsung menjambak Eijun dari belakang sehingga kepala Eijun mengadah ke atas. Mei mendekatkan wajahnya dengan marah. "Kami sama sekali tidak dekat." ia menjawab dengan geraman pelan dan penuh kebencian.
Eijun tidak terpancing ataupun takut. Jutsru ia memberi dengusan geli lagi. "Buktinya kau memanggil nama depannya." ledek Eijun menghasut Mei.
Mei menggeram marah. Ia semakin menjambak Eijun kemudian melepaskannya begitu saja membuat Eijun terjungkal. Mei berdiri kemudian menjauhi mereka. "Diam disitu, bocah. Kau melarikan diri, aku pastikan kepalamu dipajang di menara Tokyo."
Eijun memerhatikan Mei pergi dan menutup pintu dengan kencang lalu menguncinya. Ia menggeram kemudian meringis ketika berusaha duduk dengan kedua tangannya yang terikat. Eijun kemudian melirik kearah pria itu—pria yang ia tidak ketahui namanya bersandar ke tembok dengan mengenaskan. "Hei, ssst, kau dengar aku? Oii, kau pria penuh luka!" seru Eijun tertahan karena tidak ingin membuat keributan.
Pria itu sedikit bergerak. Dengan gerakan patah-patah dan mengerang pelan.
Eijun semakin ngeri mendengarnya. "Uh … ini pertanyaan bodoh, tapi, apa kau baik-baik saja? Kau begitu banyak luka…"
Pria itu mengerang lagi. Wajahnya mulai terlihat jelas oleh Eijun. Ya, seperti yang Eijun lihat tadi, penuh dengan luka lebam. Merah dan ungu disetiap sisi. "Yah…" suaranya serak dan terdengar menyakitkan. "Aku baik-baik saja, tenang…"
"Tentu saja tidak, dasar Eijun bodoh." Eijun merotasi matanya seraya merutuki dirinya sendiri. Eijun mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sedikit remang karena ruangan ini tidak memiliki banyak jendela. Ada dua buah jendela di sudut paling atas ruangan—terbuka lebar dan tidak mungkin mereka memanjat. Jika dilihat dari langitnya, Eijun yakin ini bukan lantai satu atau dua. Pastinya diatasnya lantai empat atau lima. Eijun terpaku pada sebuah kotak yang merupakan kue ulang tahunnya. Ah, ini sudah malam, sudah jam berapa? Ia berdecak pelan ketika tahu jam tangan ataupun ponselnya tidak ada dimana-mana. Pasti si pendek sialan tadi yang mengambilnya.
Pria yang belum Eijun ketahui namanya itu terkekeh pelan, suaranya terdengar menyakitkan dan membuat Eijun meringis ngeri. Iris oranye itu menatap Eijun seolah meneliti. "Siapa kau? Belum pernah aku melihat wajahmu … kau pasti berurusan dengan Inashiro?" suaranya serak dan patah-patah.
Eijun berkedip. "Aku … ah, aku Sawamura Eijun," jawabnya dengan pelan dan hati-hati. "Kalau pertanyaan yang terakhir … ini hanya … sulit untuk dijelaskan tapi si pendek barusan menggunakanku untuk memancing Miyuki-san."
Pria itu mengubah posisi duduknya sambil menahan sakit membuat Eijun iba.
"Jangan banyak bergerak." kata Eijun mengingatkan
Pria itu mendengkus. "Ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan latihan mental yang diberikan oleh Aniki," jawabnya pada Eijun. "Miyuki-san maksudmu Miyuki Kazuya?" tanya pria itu.
Eijun mengangguk.
"Kau berurusan dengan orang yang rumit."
"Mm, benar juga. Tapi … aku sudah biasa."
Kedua matanya sedikit menyipit berusaha mencerna apa yang Eijun katakan barusan. Tapi ia cepat-cepat mengganti topik karena tidak terlalu paham. "Namaku Kominato Haruichi," ia memberikan senyum miring yang tipis.
Eijun tersenyum. Ketika ia hendak menjawab. Suara pintu terbuka membuat Eijun terlonjak sementara Haruichi hanya mengerang pelan. Eijun menatap ke pintu di mana Mei masuk bersama seseorang yang lebih tinggi darinya. Tidak lama kemudian ia mendengar suara baku tembak yang samar-sama. Siapa itu? Apa itu Kazuya?
"Dia berlagak hebat," Mei mengomel menaikan dagunya. "Masih seperti rencana yang Bos inginkan. Tapi…" iris birunya menatap Eijun dengan bengis, "sepertinya aku akan bermain-main sedikit."
Orang tinggi berkulit hitam itu mendengkus geli. Ia berjalan mendekati Eijun dan mencengkram pipinya dengan kasar membuat Eijun berusaha menjauhkan wajahnya. "Hmm, benar juga, dia mainan yang bagus ternyata."
Mei merotasi matanya. "Lepaskan tanganmu dari sana, Carlos."
Carlos melepaskan pipi Eijun dan kembali berdiri. Ia menaruh kedua tangan di sakunya. Ketika baku tembak kembali terdengar nyaring, Carlos mendengkus. "Tidak kaget lagi ketika aku tahu Seidou adalah sekumpulan orang bodoh yang gila." katanya.
Eijun menggerakkan tangannya, berusaha lepas—namun begitu sulit. Tapi ia yakin ia bisa melepas simpul tali ini. Namun tidak lama kemudian ia terpaksa berhenti karena Mei mendekat kearahnya dan membawanya duduk ke kursi, begitu juga dengan Carlos yang memaksa Haruichi dengan kasar agar duduk di kursi.
Haruichi terengah, ia mendengkus geli. "Aku mendengar suara dari surga," racaunya dan langsung dihadiahi pukulan telak di perutnya. Haruichi memuntahkan darah membuat Eijun mengerutkan hidungnya ngeri.
"Kau kasar sekali!" seru Eijun menatap marah Carlos.
"Kau bocah diam saja." Mei menyaut kasar, menjambak rambut Eijun. Sekilas ingatan tentang Kazuya yang membunuh rekannya—Tadano Itsuki—membuat Mei semakin marah dan benci. Ia meremas rambut Eijun. "Kau tahu, Nak? Kazuya sudah membunuh banyak orang, tangannya penuh darah dan dosa bertumpuk banyak di kedua pundaknya."
Eijun berdecih. "Untuk apa kau mengatakan hal ini padaku?"
Mei tersenyum miring. "Nyawa dibalas dengan nyawa. Kau tahu artinya itu? Kazuya sudah membunuh rekanku, sekarang giliranku membunuh seseorang yang berharga bagi Kazuya," ia semakin menarik rambut Eijun. Mei kemudian berbisik. "Dan orangnya adalah kau, Bocah."
Eijun berusaha menarik dirinya terbebas dari genggaman Mei lalu meludah ke atas lantai. Ia menatap Mei dengan tajam. "Coba bunuh aku, Tuan."
Mei tertawa. Ia menaruh kedua tangan di pinggangnya. "Kau akan mati, tenang saja, tenang. Kau akan segera di akhirat tidak lama lagi, Nak."
Eijun menatap tajam ke arah Mei. Ketika ia hendak mengatakan sesuatu. Seseorang—lagi-lagi—menghentikannya. Tapi ia segera melotot setelah itu. Suara ini adalah milik Kazuya! Kazuya datang! Ia menatap Haruichi yang juga menatapnya dengan dengusan pendek dan nafas yang patah-patah, sementara baju dan celananya sudah berlumuran darah. Tatapan Haruichi padanya seolah-olah mengatakan 'aku-mencium-bau-bau-kemenangan'.
"Narumiya Mei!" Kazuya berteriak, suaranya bergema di sepanjang lorong.
Mei tidak terkejut, malah ia membalas dengan tawa. "Itu dia! Dia datang!" Mei berseru senang. Ia kemudian mengambil pistol dan mengarahkannya ke pelipis kiri Eijun, sementara tangan kanannya menjambak rambut Eijun. "Mari kita lihat pahlawan berkuda putih kalian, Nak." bisik Mei.
Suara pintu terbuka-tertutup-dibanting mendekat sedikit demi sedikit. Eijun merasa bahwa Kazuya sedang mencari Narumiya Mei di sepanjang ruangan yang ia lewati. Jantung Eijun berdebar ketika suara langkah tergesa-gesa mulai mendekat. Bagaikan gerakan slow-motion, ia melihat Kazuya berhenti di ambang pintu dengan kemeja putihnya yang berantakan dan lengan jasnya ada yang sedikit robek.
Itu dia, Miyuki Kazuya, seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai. Kini ia bisa melihat wajahnya lagi, sedikit mengerikan, ada kantung mata yang terlihat jelas, kacamatanya sedikit miring dan ia menggenggam sebuah pistol di tangannya.
Kazuya menatap Eijun dengan terkejut. Jemarinya bergetar karena emosi, melihat moncong pistol berada di dekat pelipis Eijun. Lalu kemudian Kazuya mengalihkan pandangannya ke arah Haruichi yang keadaannya sudah buruk. Kazuya menggertakkan giginya. Ia berjalan maju selangkah.
"Ha-Hai, Miyuki-san," Eijun menyapa dengan canggung dan gugup. Sudut matanya menatap moncong pistol itu. "Kita ketemu lagi, hehe."
"Oh, pertemuan yang sangat indah," Mei berkata sarkas. Ia kemudian tersenyum miring. "Tampaknya kau sudah menembus mereka ya. Benar-benar Bos yang hebat~"
"Diam." Kazuya mengangkat pistolnya ke udara dan mengarahkannya pada Mei. Sementara Carlos melakukan hal yang sama seperti Mei pada Eijun. Ia menatap Haruichi yang tampak mengerikan, ia bisa melihat pergerakan kecil yang menandakan Haruichi masih hidup dan bernafas.
"Dia masih hidup," Mei menjawab meski Kazuya tidak bertanya.
"Apa ini tentang wilayah dan kekuasaan Seidou, Mei?" Kazuya bertanya dengan nada serius. Diam-diam ia kecewa pada dirinya sendiri karena membiarkan Eijun tahu seperti apa dunianya dan pekerjaannya. "Menculik seseorang dan menjadikannya taruhan untuk kekuasaan wilayah, sangat tidak elite sekali. Mei."
Mei mendengkus. "Kau pasti tidak lupa tentang kejadian beberapa tahun yang lalu bukan? Aku yakin kau masih ingat," Mei tersenyum miring, ia semakin menekan moncong pistol itu ke pelipis Eijun membuat Kazuya langsung bersiap. "Kau membunuh Itsuki didepanku, darahnya mengucur dari perutnya, matanya menatapmu dengan shock, mulutnya terbuka lebar dan darah keluar dari sana. Kau menghabisinya karena menganggap ia adalah ancaman untuk Seidou."
Kazuya mencengkram erat pistolnya. "Karena pada dasarnya dia memang ancaman bagi kami," Kazuya menjawab tanpa beban. Namun matanya berkilat tidak suka ketika ia tahu apa yang Mei maksud. Mata dibalas dengan mata dan nyawa dibalas dengan nyawa. "Kau tahu Mei? Itu sudah bertahun-tahun yang lalu dan hal itu bagiku sudah basi."
Mei menggertakkan giginya. "Bagimu sudah lama, tapi bagiku itu seperti kemarin!" Mei berseru marah. Matanya berkilat karena emosi masa lalu yang bercampur aduk di dalam hatinya. Saat itu ia masih begitu muda dan langsung merosot jatuh ketika melihat Itsuki terbujur kaku karena dibunuh oleh Kazuya. "Kau akan benar-benar mengerti rasanya!" Mei membungkukkan badannya kemudian semakin menekan moncong pistolnya. "Seperti ini contohnya; dia adalah pria yang berharga bagimu 'kan?" desis Mei pada Kazuya.
"Lepaskan, Mei!"
Mei semakin tersenyum lebar. Ia semakin menjambak rambut Eijun. "Oh! Betapa senangnya aku mengetahui kelemahanmu, Miyuki Kazuya!" seru Mei.
Kazuya berdecak. Bibirnya membentuk garis tipis protes, ia melirik Eijun yang tengah menahan sakit karena rambutnya dijambak. "Lepaskan dia, Mei," perintah Kazuya dengan tajam dan tegas. "Dia tidak ada hubungannya dengan kita."
Eijun berkedip pelan. Ia menatap Kazuya dari sudut bawah matanya. "I-Ini bukan apa-apa kok, Miyuki-san. Jangan hiraukan aku." katanya dengan pelan. "Lebih baik, Harucchi, tolong lepaskan dia saja … dia tampak kesakitan." lanjutnya seraya menatap Haruichi dari sudut matanya. Nafas pria itu mulai patah-patah kesakitan karena Carlos menekan lehernya.
Kazuya mencengkram pistolnya. Ia harus memilih keputusan. Antara Haruichi atau Eijun. Sialan. Semua rekannya tertahan di bawah karena orang-orang Inashiro. Bahkan tadi Yoichi yang berjuang bersamanya memutuskan untuk menyilakan Kazuya pergi duluan. Ia berdecak. Ketika dilanda kebingungan, seseorang datang dan langsung menembakkan bahu Carlos. Kazuya menoleh, di sana ada Chris dan Ryosuke. Chris yang menembak langsung ke bahu Carlos.
"Sial." Mei berdecak pelan ketika melihat Ryosuke datang mendekati Haruichi. Ia menembak lantai sebagai peringatan bahwa Ryosuke tidak boleh mendekat lebih jauh lagi. "Berhenti di situ, kuso!"
Ryosuke berdecih. Ia melihat Carlos yang mengerang kesakitan jatuh ke lantai. Ia mundur mendekati Kazuya ketika Mei masih mengarahkan pistol padanya. Manik matanya menatap Haruichi yang tampak kesakitan tetapi berusaha tersenyum padanya. Adik bodoh, benar-benar bodoh.
"Ano, Narumiya-san," Eijun menatap Mei dengan bulir keringat jatuh dari pelipisnya. "Kau bilang kau ingin membunuh Miyuki-san, bukan? Kau juga menjadikanku pancingan agar Miyuki-san datang kemari … jadi … karena Miyuki-san ada di sini, maka keberadaanku tidak dibutuhkan lagi bukan?" jelas Eijun dengan lugas tanpa ada kegugupan di setiap nada suaranya.
Kazuya masih mengamati dengan jelas bagaimana ekspresi Eijun yang mengatakan hal itu. Serius? Semudah dan seringan itu Eijun mengatakannya? Apa Eijun tidak masalah jika ia di bunuh? Tunggu … ia dibesarkan oleh bos besar Seidou—harusnya ia tidak mudah dikalahkan dan disingkirkan, bukan? Ia tidak boleh terhasut oleh pemikiran bodoh seperti itu. Ia masih meneliti baik-baik wajah Eijun, bagaimana ekspresi pria itu sangat tenang tanpa sedikitpun keraguan di dalam matanya.
Iris biru mudanya mengedarkan pandangan alih-alih berpikir. "Mmm, kau ada benarnya juga," Mei menatap Eijun kemudian tersenyum miring. Perlahan ia melepaskan Eijun lalu melebarkan senyumannya. "Ya sudah, kau ku lepaskan, Nak~"
Eijun tersenyum miring, ia langsung melangkah maju membuat Mei melotot karena keteledorannya. Sialan. Eijun bisa membuka simpul tali di tangannya! Kena kau! Eijun berseru di dalam hati. Ketika ia melangkahkan kakinya ingin mengambil kue, tiba-tiba suara tembakan terdengar.
"Sawamura! Awas!" Kazuya berseru dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk Eijun.
Eijun melotot. Ia melihat dari balik bahu kanannya bahwa Kazuya yang terkena tembakan. "Mi-Miyuki-san!" Eijun berseru dan langsung berbalik menahan tubuh Kazuya yang ambruk ke lantai.
Chris dan Ryosuke melotot. Chris langsung mengacungkan pistolnya untuk menembak Mei, namun seseorang menembaknya duluan—itu Carlos—dia berusaha menembak—dan peluru panas itu bersarang di lengan Chris.
"Chris, sial!" Ryosuke langsung membalas—menembaki Carlos. Bersamaan dengan itu, dua suara tembakan terdengar. Ryosuke menembak Carlos dan Mei berhasil menembaki Ryosuke. Pria yang memiliki warna rambut sama dengan Haruichi itu melorot jatuh.
Eijun menggelengkan kepalanya pelan. Ia melihat Kazuya yang jatuh tertidur. Darah menetes dari perutnya. Setetes air mata turun ke pipi. "Tidak, tidak, tidak … Miyuki-san? Miyuki-san, jangan mati dulu!" Eijun berseru. Ia menepuk kedua pipi Kazuya. Jantungnya berdebar-derbar tidak karuan. Ini salahnya, ini salahnya karena seenaknya saja melangkah dan tidak menghitung keberuntungan. Eijun mendongak dan menatap Mei tajam. "Kau … Narumiya Mei!" Eijun berseru pada Mei. Ia berdiri dan melangkah maju.
Mei merasakan aura yang tidak biasa dari Eijun. Ia menelan ludah. Iris emas itu menatapnya tajam. Matanya semakin menyipit dengan penuh dendam. Kedua tangannya terkepal di pinggang. Mei kemudian mendengkus menutupi rasa ragunya. "Mau melawanku bocah?" ia langsung mengacungkan pistol pada Eijun.
Eijun menggeram. Mei langsung menembakkan peluru, namun Eijun berhasil menghindar dan langsung berlari ke arah Mei, mengambil tangannya dan menendang perut Mei dengan lutut kanannya. Hal itu membuat pistol jatuh dari tangan Mei.
Mei berhasil melepaskan diri dan mereka akhirnya bertarung dengan tangan kosong. Mei terengah-engah ketika ia berusaha mengalahkan Eijun. Berkali-kali ia terlempar—namun akhirnya bisa bangun lagi—kemudian membalas Eijun dengan pukulan yang berhasil ditangkis oleh pria itu.
Eijun berusaha memberi Mei bogem mentah di pipinya, namun Mei berhasil menghindar. Namun dengan sepersekian detik itu, Mei menggunakan waktunya untuk memukul perut Eijun telak. Hal itu membuat Eijun mundur beberapa langkah, ia memegang perutnya—lumayan sakit karena ia hampir lupa perasaan itu. Matanya masih menatap Mei tajam dengan garis bibirnya yang menggeram marah.
Sudah cukup. Ia tidak mau siapa pun mati karena harus melindunginya. Pertama adalah kedua orang tuanya dan sekarang Kazuya. Ia tidak mau kehilangan Kazuya. Atau setidaknya, ia ingin Mei mati. Eijun bernafas kasar. Ia berusaha mengumpulkan kekuatannya dan berlari mendekati Mei. Ia kembali melancarkan serangannya yang bertubi-tubi sehingga ia bisa mengunci kedua tangan Mei dan membuatnya pingsan.
"Mei-san!"
"Sawamura—hei!"
Eijun menoleh. Ia bisa melihat Kazuya sedang melumpuhkan seseorang yang baru saja datang dengan tangan kosongnya. Kazuya begitu lihai dan dengan mudah melumpuhkan orang barusan. Eijun melotot dengan terkejut, sementara Chris dan Ryosuke berusaha melepaskan Haruichi. "Mi-Miyuki-san…"
Kazuya bangun kemudian ia mengarahkan pistolnya ke arah orang itu, menembaki punggungnya sekali sebelum akhirnya menoleh pada Eijun. Ia mendekati Eijun dengan cemas. "Kau tidak apa-apa, Sawamura?"
Eijun berkedip kemudian menggeleng cepat. "Jangan khawatirkan aku! Pikirkan dirimu! Tadi … aku yakin kau tertembak…" ia menatap darah di perut Kazuya yang mengucur deras. "Eeeh! Ini darah lho, darah!" seru Eijun terkejut. Ia heran darah itu masih mengucur sementara Kazuya saja masih bisa berdiri dengan benar.
Tanpa sadar Kazuya tertawa geli. Ia mengusap kemejanya yang bolong karena timah panas. "Aku memakai rompi dan ada darah palsu yang dipasang oleh Kuramochi," jelas Kazuya membuat Eijun mengangguk paham. "Tapi tetap saja, tembakan barusan membuatku terkejut."
Eijun mendengkus. Ia menangkup wajah Kazuya kemudian memeluknya dengan erat. "Aku … Aku khawatir denganmu, tahu! Aku tidak mau … seseorang rela membuang nyawa hanya untuk menyelamatkanku…" Eijun menggigit bibirnya menahan tangis. Ketika tahu Kazuya tertembak, seluruh tubuhnya seolah lemas tidak berdaya. Ketakutan menjalar di tubuhnya, tapi ketika tahu Kazuya baik-baik saja membuat Eijun lega.
Kazuya membalas pelukan itu dengan senang hati. Ia tersenyum kecil. "Aku di sini, Sawamura. Aku di sini." katanya dengan pelan.
"Mhm," Eijun mengangguk kemudian melepaskan pelukannya ketika seseorang berdehem. Itu Chris. Ia hanya tersenyum pada pria yang belum ia tahu namanya.
Tiit, tiit, tiit
Suara khas yang familiar di telinga mereka membuat mereka terkejut. Termasuk Ryosuke dan Chris yang jelas mendengarnya. Itu bom! "Di mana? Di mana bomnya?!" Ryosuke berseru sementara Chris berusaha mencari asal suara dengan sebelah tangannya yang kesakitan.
"Aniki…" Haruichi berkata lemah. "Pergi dari sini, bawa diri kalian sejauh mungkin…" lanjutnya dengan suara serak yang tidak bersaya, ia menunduk berusaha menunjuk perutnya.
Semua yang ada di sana melotot. Kazuya melangkah maju dan merobek kemeja Haruichi. Benar saja, sebuah bom di pasang di tubuh Haruichi. Waktu mundurnya masih satu menit. Dan satu menit itu bukanlah waktu yang lama.
"Sialan! Miyuki! Kami menemukan beberapa bom yang dipasang di tubuh Inashiro!" Yoichi berseru di earpiecenya.
Tidak hanya satu, tapi banyak! "Lepaskan itu dan buang sejauh mungkin!" seru Kazuya memberi perintah. Ia berusaha melepas bom yang dipasang di perut Haruichi. Ia melirik sekitar dan tidak ada jendela sama sekali. Namun kemudian Eijun langsung merebutnya dan membawanya ke luar. "Sa-Sawamura!"
"Aku akan meleparnya ke luar!" Eijun menjawab dengan seruan. Ia berlari menggenggam bom di tangannya yang mengeluarkan suara sialan—berisik—membuat Eijun gemetar. Ketika menemukan jendela, waktu mundur mulai dari lima. Ia memosisikan dirinya untuk melempar, seolah-olah melempar bola baseball yang dapat membuatnya bernostalgia ketika masih bersekolah. Ketika kakinya menyentuh tanah, ia melempar bom itu ke udara lepas dan meledak di sana secara bersamaan—dengan bom-bom lainnya yang dilempar oleh rekan Seidou yang lain.
Bagaikan kembang api di udara. Kazuya melihatnya dengan jelas. Jantungnya hampir saja berhenti. Jadi ini adalah rencana asli Mei. Pria sialan itu membuat mereka berkumpul di sini, lalu ketika di penghujung acara, ada bom yang akan meledakkan mereka.
Kazuya menggertakkan giginya. Ia berbalik melihat Tetsuya dan Shinji yang baru saja datang. "Bunuh para Inashiro tanpa sisa! Jangan biarkan mereka hidup!" perintahnya dengan tegas dan mutlak. Iris karamelnya menatap nyalang dan penuh kebencian.
…
Setelah pembantaian itu terjadi, mereka pulang menuju markas. Kazuya sudah tidak peduli lagi bagaimana Eijun berpikir tentangnya. Yang ia fokuskan hanya satu; yaitu keselamatan Eijun. Ia tidak peduli jika Eijun membencinya karena pekerjaannya sebagai Yakuza, ia juga tidak peduli jika Eijun memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Tapi ketika tahu bahwa Eijun masih memeluknya setelah Kazuya menghabisi seseorang di depan mata kepalanya membuat Kazuya ragu kalau Eijun akan membencinya.
Iris karamelnya menatap Eijun yang tertidur di kursi di sampingnya dengan memangku sebuah kotak diatas pahanya. Ia bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya ada di dalam kotak itu? Mengapa Eijun rela mengambilnya ketika ia langsung dilepaskan oleh Mei? Apa isi di dalam kotak itu sangat berharga? Dan kenapa Kazuya jadi sangat penasaran?
Kazuya menghentikan mobilnya ketika ia sampai di markas. Ia memandang Eijun sekali lagi. Menggerakkan bahu Eijun dengan pelan sehingga Eijun langsung mengerang dan mengerjapkan matanya. "Sawamura? Kau sudah bangun?"
Eijun mengerang pelan lalu mengucek kedua matanya dengan kasar. "Ini di mana?" suaranya serak dan terdengar lucu. Matanya yang sedikit memerah itu mengedarkan pandangannya ke luar kaca mobil. "Ini bukan di sekitar rumah, Miyuki-san."
Rumah. Kalimat itu membuat Kazuya tersenyum kaku. Apa Eijun berharap mereka kembali tinggal bersama? "Ini markas kami,"
"Ah, markas…" Eijun kemudian melihat tanggal yang tersedia di mobil Kazuya. Ia melotot. "Sudah lewat jam dua belas! Tunggu! Malah ini jam tiga pagi!" Eijun berseru heboh membuat Kazuya mengerut kebingungan.
"Kau kenapa?" sebelum pertanyaan itu benar-benar selesai dari mulut Kazuya, Eijun lebih dulu menyelanya dengan membuka kotak itu dengan hati-hati.
Ekspresinya gembira dan malu-malu, samar-samar pipinya memerah, beruntung lampu mobil Kazuya tidak seterang itu sehingga Eijun merasa bersyukur. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati. Perasaan gembiranya yang membuncah itu berangsur-angsur luntur ketika tahu sebagian kue yang ia beli hancur, krimnya meleleh, ia bahkan tidak bisa melihat huruf-huruf yang tertera di sana sebelumnya. "Yah … kuenya hancur…" jantungnya berdebar, ia merasa hatinya remuk seketika. Gagal sudah acara surprisenya.
"Huh? Kue?" Kazuya menjulurkan kepalanya dan melihat isi kotak itu. Akhirnya rasa penasarannya terbayarkan. "Kue … untuk?"
Eijun mendongak dengan ekspresi tidak percayanya. "Untuk? Untukmu Miyuki Kazuya!" seru Eijun melupakan rasa kecewanya. Ia lebih ke 'tidak-percaya' ketika Kazuya hanya mengerutkan dahinya. "Jangan bilang kau tidak ingat!" tebak Eijun membuat Kazuya mengangguk.
"Tidak penting juga bagiku," jawabnya malas. Namun ketika tahu ekspresi Eijun berubah menjadi kecewa. Ia buru-buru mengoreksi. "Aku heran darimana kau tahu ulang tahunku." memang benar, hari ini tanggal tujuh belas November. Kazuya berusaha biasa saja, tapi jujur saja jantungnya seperti akan meledak sekarang.
Eijun menggigit bibir bawahnya. "Dog tag itu masih tersimpan di kamarku, aku tahu dari sana." ia kemudian mendongak. "Selamat ulang tahun, Miyuki Kazuya … meski kau lupa, aku hanya ingin mengucapkannya padamu saja…" ia tersenyum tulus dengan kedua matanya yang menyipit seperti bulan sabit.
Kazuya terdiam membatu. Ucapan selamat yang dikatakan oleh Eijun langsung bergema di dalam kepalanya. Sekali lagi, ia mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Matanya memanas. Sudah lama ia ingin mendengar seseorang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Sudah lama ia mengharapkan hal itu. Sayangnya, Kataoka Tesshin tidak begitu peduli dengan ulang tahun sehingga ia tidak pernah bisa merayakannya dengan spesial.
"Miyuki-san?" Eijun memiringkan kepalanya dengan heran sekaligus cemas. "Kau kenapa?—ugh," Eijun hampir terjungkal ketika Kazuya memeluknya dengan tiba-tiba. "Miyuki—"
"Terima kasih … terima kasih … terima kasih, Sawamura…" Kazuya berkata pelan, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia merasakan hatinya memanas dan sesuatu menghantam di sana. Akhirnya, ia mendengar sesuatu yang ingin ia dengar setelah sekian lama. Eijun adalah orang pertama yang mengatakan 'Selamat datang' padanya, dan Eijun juga lah yang pertama kali mengatakan 'Selamat ulang tahun, Miyuki Kazuya'.
Eijun mendengkus geli, sebelah tangannya mengusap punggung dan rambut Kazuya sementara tangan yang satunya menggenggam kardus kuenya. "Sama-sama, Miyuki-san." Eijun menjawab dengan lembut.
Kazuya terkekeh kecil. Ia melepaskan pelukannya dan melihat kue itu dengan tatapan seolah-olah kue itu sangat berharga. "Aku senang jika kita makan kue ini berdua di rumahmu, bagaimana?"
Eijun menyambut tawaran itu dengan senyum bahagia. Ia mengangguk beberapa kali. "Aku setuju!" Eijun berseru dan menggenggam tangan Kazuya. "Ayo kita pulang, Miyuki-san."
…
Kazuya mengeratkan pelukannya pada pria muda di depannya yang memandang ke luar jendela dengan iris emasnya. Angin masuk melalui jendela yang terbuka lebar sehingga gorden itu berkibar lembut. Tubuh Eijun hangat, mereka terbungkus oleh selimut tipis, meski begitu, Kazuya masih bisa menghangatkan mereka. Ketika merasakan tubuh Eijun menggeliat, ia melonggarkan pelukannya dan membiarkan Eijun berbalik menatapnya.
Ah, ini sudah dua bulan setelah mereka merayakan ulang tahun Kazuya. Dan hubungan mereka kini sudah jauh. Mereka kini sepasang kekasih. Kazuya menatap iris emas yang berpendar itu. Tampak cantik dan indah. Kazuya menangkup pipi Eijun dan mengusapnya pelan. Ia mendaratkan ciuman singkat di bibir Eijun.
"Selamat pagi, Eijun."
"Pagi, Kazuya."
Kazuya memeluk Eijun lagi. Ia tiba-tiba teringat bahwa Eijun belum pernah menceritakan siapa dirinya, sementara Kazuya sudah menceritakan siapa dirinya pada Eijun. "Hei, tentang itu … kamu tidak pernah bercerita tentang dirimu padaku."
Eijun mengangguk. "Aku lupa," jawabnya diakhiri kekehan pelan. Ia melepaskan pelukan itu lalu duduk diatas kasur. Ada beberapa tanda yang dibuat Kazuya di tubuh Eijun. Kazuya yang melihat kedua paha Eijun terlipat langsung memasangkan kepalanya ke sana, membiarkan Eijun mengelus rambutnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Ayo cerita padaku sebelum Kuramochi datang."
Eijun terkekeh dan ia mengangguk. Tangan kanannya mengelus rambut Kazuya sementara tangan kirinya digenggam hangat oleh Kazuya. "Namaku Sawamura Eijun, aku adalah anak dari pasangan Sawamura Eiji dan Sawamura Emi. Kau tahu? Aku sering membaca buku harian milik Ayahku, di sana ditulis bahwa ia merupakan bos besar Akagi di Nagano, ia membubarkan organisasinya dan pergi ke Tokyo untuk kehidupan yang normal—tapi tidak semudah itu…" nada suaranya yang ragu membuat Kazuya mengeratkan tangannya pada Eijun seolah memberikan kekuatan. Eijun tersenyum kecil dan memandang Kazuya. "Ia mengatakan ia berteman baik dengan bos besar Seidou. Ketika aku tahu bahwa kau juga di Seidou, aku berniat untuk merayakan ulang tahunmu sekaligus bertemu Kataoka-san untuk bertanya tentang kehidupan Ayahku—tapi terlambat, aku baru tahu kalau Kataoka-san meninggal dunia ketika Narumiya mengatakannya padaku."
"Ah aku ingat … Kataoka-san pernah mengatakan sesuatu tentang Akagi dan keluarga Sawamura. Katanya … mereka telah membantu Kataoka-san bangun dari terpuruknya,"
Kedua matanya berkaca-kaca menatap Kazuya dengan tidak percaya. "Benarkah? Mereka sedekat itu?"
"Mhm, Kataoka-san mengatakan kepadaku saat masih kecil."
Eijun menerawang ke depan sana dengan ingatannya yang mundur ketika ia pertama kali membaca buku harian Ayahnya. "Ekspetasiku ketika tahu bahwa Ayahku punya kenalan dekat, hal itu membuatku ingin kenal juga dengannya. Bertanya lebih lanjut seperti apa Ayahku, bagaimana dia ketika muda, bagaimana Ayahku bisa bertemu Ibuku, dan banyak lagi. Kau tahu? Ayahku meninggal dunia—Ibuku juga—ketika aku kecil, mereka melindungiku dari serangan musuh Ayahku. Beruntung aku bisa melarikan diri dan ditolong oleh polisi setempat. Dan ketika tahu Kataoka-san meninggal dunia sebelum aku bertemu dengannya … rasanya aku seperti sendirian di dunia ini."
Kazuya mengubah posisi menjadi duduk dan menangkup pipi Eijun. Jujur, kehilangan Kataoka Tesshin juga masih membekas di hatinya. Rasanya, meski pria itu keras padanya—ada banyak kebaikan di sana, Kataoka Tesshin selalu menasihatinya ini-itu agar ia bisa bertahan hidup lebih lama di dunia ini. Kazuya kemudian tersenyum lalu menyatukan dahi mereka. "Hei, Eijun, aku di sini, jangan berkata begitu…"
"Aku merasa sendiri, aku merasa tidak ada siapapun di kehidupanku. Keluarga, teman dekat Ayah atau Ibuku … atau siapapun," Eijun menggenggam kedua tangan Kazuya dengan hangat. "Tapi ketika bertemu denganmu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah kekosongan di hatiku terisi penuh…"
Kazuya tersenyum, ia mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan Eijun. "Ada aku di sini. Aku keluargamu, kamu keluargaku. Semua orang di Seidou adalah keluarga. Kami semua bersaudara—meski kau tahu kami tidak sedarah sama sekali. Pada dasarnya kami adalah sekumpulan hati yang kosong dan menemukan sesuatu yang berharga di sini," Kazuya mengambil kedua tangan Eijun dan mengecupnya dengan hangat. "Aku mencintaimu, Eijun."
Eijun terkekeh, air mata bahagia menetes. "Aku juga mencintaimu, Kazuya."
"Besok pagi kita akan mengunjungi makam Kataoka-san dan orang tuamu. Setuju?"
"Setuju!"
Beberapa saat kemudian, ketika mereka saling berciuman, Kuramochi Yoichi berteriak dari luar rumah. Itu adalah alarm untuk Kazuya datang ke markas karena ada yang ingin mereka bicarakan. Kazuya mengerang sementara Eijun hanya terkekeh pelan. Ia bersiap untuk mandi, sementara Eijun memakai baju dan celana yang ia pungut diatas lantai.
Eijun datang membuka pintu dan membiarkan Yoichi masuk untuk menunggu Kazuya. Eijun masih ingat ketika Yoichi langsung menerobos pintu saat mereka sedang merayakan ulang tahun Kazuya. Katanya, Kazuya malah pergi tanpa mengatakan apapun pada mereka sehingga membuat Yoichi naik darah.
"Dia bersikap baik padamu?" tanya Yoichi ketika duduk.
Eijun mengangguk. Ia duduk tidak jauh dari Yoichi, karena hanya ada satu sofa di rumahnya. "Kazuya sangat baik padaku, terlepas dari sifatnya yang … agak kasar dan menyebalkan. Keseluruhannya dia sangat baik padaku, dia menghargaiku.
Yoichi mendengkus geli. Ia tahu dan kenal betul seperti apa Kazuya sebenarnya. Sedikit heran dan terkejut ketika Kazuya memperlakukan Eijun dengan baik padahal ia hidup dan besar di lingkungan yang tidak baik. "Sebelum bertemu denganmu, Miyuki adalah orang yang jarang bicara dan selalu memasang ekspresi bengis, ia tidak akan segan-segan membunuh orang yang memiliki masalah dengannya. Tapi ketika bertemu denganmu, sikapnya melembut dan menjadi sabar. Aku senang kau menjadi pengaruh baik untuk Miyuki."
Eijun diam-diam tersenyum. Pipinya bersemu merah sementara tangannya meremas ujung baju yang ia pakai. "Sejujurnya, Kazuya lah yang mengubah hidupku. Awalnya suram dan sendirian, tapi ketika ia hadir dan membuat hari-hariku lebih berwarna. Aku bisa merasakan hidup bersama seseorang setelah sekian lama. Aku merasa disayangi dan dicintai, aku merasa aku dihargai dan aku merasa … hidupku lebih berguna lagi."
Yoichi melirik Eijun, menatapnya dengan senyum miring. "Kalian sama-sama membutuhkan. Itu lah yang aku lihat dari kalian. Itu bagus, aku senang mendengarnya," ia berdiri kemudian menaruh tangan di saku celananya setelah melihat Kazuya datang dengan ekspresi betenya. Hal itu membuat Eijun terkejut karena ia tidak sadar bahwa Kazuya sudah selesai bersiap. Tatapan Yoichi masih belum beranjak dari Eijun. "Kalau dia melakukan sesuatu yang aneh, katakan padaku. Meski dia bos sekalipun aku tidak segan-segan untuk memberinya pelajaran."
Eijun segera berdiri dan pinggangnya langsung diraih Kazuya posesif. "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk." protes Kazuya mencium leher dan pipi Eijun membuat Eijun malu.
Yoichi merotasi matanya. "Pergi ke neraka." kutuknya pada Kazuya. Ia segera berjalan dan pergi.
Kazuya terkekeh pelan dan memeluk Eijun dengan posesif. Eijun telah setuju bahwa ia hanya mengambil satu pekerjaan saja yaitu di restoran. Dan mereka kini tinggal di apartemen milik Eijun. Kazuya mengendus aroma rambut Eijun. "Aku tidak akan pulang terlambat, aku janji."
"Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak mati." Eijun merotasi matanya ketika mendengar janji 'tidak-pulang-terlambat' dari Kazuya yang sejujurnya Kazuya selalu pulang terlambat.
Kazuya terkekeh. Ia mendaratkan sebuah ciuman sebelum keluar dari apartemennya. Ia memandang Eijun dengan senyum di bibirnya. "Ittekimasu, Eijun."
Eijun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum dengan rona merah di pipinya. "Itterasshai, Kazuya." []
It's amazing, with the blink of an eye you finally see the light. It's amazing, when the moment arrives that you know you'll be alright.
Amazing – Aerosmith
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
review?
