Boboiboy Animonsta Studio
AU, OOC, maaf kalo ketemu sama typo, ya:) ~
.
.
Sejak ia bangun pertama kali di rumah sakit tempat kakaknya bekerja, semuanya berubah.
Ada banyak sekali rasa bersalah berlomba menjejali tempat sempit dalam hatinya. Semuanya terasa begitu menyesakkan.
"Siapa Dia? Kau mengenalnya?" tanya Kaizo, kakaknya.
"Halilintar. Aku baru mengenalnya hari itu." Ia menjawab datar.
Kakaknya mengangguk. "Lalu, apa yang membuatmu begitu peduli dan merasa bersalah atas kejadian ini?" tanya Kaizo lagi.
Matanya menatap lurus ke depan. Meski buram karena ia tidak sedang mengenakan kacamata, ada gambaran jelas terputar di depan matanya. Yang pasti hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
"Dia... orang baik," jawabnya setengah tidak yakin.
Halilintar menolong Ying pada hari yang sama, beberapa jam sebelum insiden. Bahkan tidak peduli tubuhnya pun terluka. Jika pemuda itu benar-benar orang baik, kenapa dia memiliki musuh? Dari cara musuh menghajarnya pun, terlihat seperti ada dendam besar di antara mereka.
Akan tetapi...
"Terserah. Tapi aku tidak melakukan apa pun."
Kalimat yang Halilintar ucapkan hari itu juga Fang percaya. Dari raut wajahnya yang terlihat tidak mengerti, ia menarik kesimpulan bahwa orang itu memang tidak pernah bermasalah.
Apa mungkin Halilintar adalah korban salah sasaran? Atau... korban perundungan? Apa mungkin? Orang itu tidak terlihat mudah ditindas. Entahlah. Fang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana pun, Halilintar itu orang asing yang tidak pernah ia tahu seperti apa hidupnya.
"Apa yang kau lakukan saat itu terjadi?"
Hati Fang mulai terasa diremas sesal yang semakin kuat. "Aku diam. Padahal, aku bisa saja menyelamatkannya." Ia menunduk dalam, memejamkan matanya kuat-kuat. Kedua tangannya mengepal.
"Kau pun terluka saat itu." Kaizo menunjuk memar di beberapa bagian tubuhnya.
"Ini bukan apa-apa dibandingkan dia!"
Ini benar-benar menguji mentalnya. Fang mengangkat kembali kepalanya. Matanya yang sudah memerah kembali terbuka. "Aku hanya sedikit memberontak," akunya.
"Untuk apa?"
Sesi terapi—atau interogasi ini akan berjalan sangat lama untuknya.
"Karena mereka kelewatan!" Ia meninggikan suara tanpa sadar. Ingatan saat orang-orang itu mulai menghajar Halilintar dengan membabi buta terputar jelas. Ingatan itu menyakiti kepalanya. "Mereka melukai. Memakai senjata. Dan... apa mereka berpikir buat membunuh?" Rasa marah mulai turut serta mengguncang hatinya.
Keringat dingin dan detak jantung yang berubah cepat membuat Fang menggigil. Kedua tangannya yang mengepal bergetar hebat. Jika benar orang-orang itu berencana untuk membunuh, ia pun berarti terlihat dalam pembunuhan itu.
Bukan tentang keterlibatan itu yang membuatnya takut. Namun, jika pembunuhan itu benar-benar terjadi, berarti Fang telah membuat masa lalunya terulang.
Ketakutan memaksa masuk menghancurkan pertahanannya. Bulir-bulir air mata mulai jatuh. Fang ingat jelas saat itu. Saat adegan pembunuhan—atau percobaan pembunuhan itu terjadi di depan matanya. Dan sedikit pun, ia tidak bisa membantu.
"Ak!"
Fang tersentak saat memori masa kecilnya ikut terbuka bersama datangnya rasa bersalah akan hari itu. Kepalanya berdenyut menyakitkan melihat adegan yang hampir serupa dengan hari itu terputar begitu saja.
Semakin jelas bayangan itu, semakin sakit kepalanya. Semakin meremas hatinya yang sejak awal sudah hancur.
Ia sendiri tidak sadar sudah memukul-mukul dadanya sendiri demi menghalau rasa sakit, sedih, dan bersalah yang menyerang bersama. Ia seperti ditarik paksa untuk kembali ke masa lampau untuk melihat adegan yang nyaris sama di waktu yang berbeda.
"Pa, orang di depan itu ngapain di tengah jalan?" tanya Fang kecil.
"Kamu tunggu sebentar ya, Fang. Nanti Papa masuk lagi. Kunci pintunya begitu Papa keluar." pesan ayahnya saat itu. Fang mengangguk percaya. Lalu, ayahnya keluar dari dalam mobil. Fang lekas menekan tombol untuk mengunci pintu mobil.
Tanpa Fang duga, orang yang tadi berdiri di tengah jalan itu meninju ayahnya sampai tersungkur. Tak lama kemudian, datang gerombolan yang bargabung dengan orang tadi dan ikut memukuli ayahnya.
Fang terdiam dengan mata yang mulai basah. Apa yang harus ia lakukan? Ayahnya yang sejak awal tidak bisa melawan kini sudah terbaring lemah di tengah jalan. Dengan luka dan memar di wajah dan tangannya—dan mungkin seluruh tubuh.
Napas Fang memburu. Keringat sudah membasahi hampir sekujur tubuh. Badannya bergetar hebat menyaksikan satu demi satu pukulan melayang ke tubuh ayahnya.
"PAPAAA!"
Di tengah jalan itu, tubuh ayahnya sudah tidak lagi bergerak. Fang kecil menangis sekencang-kencangnya. Suaranya yang melengking teredam baja yang mengelilinginya.
Di tengah jeritan ketakutannya, ia ingat pernah diberitahu sesuatu oleh ayahnya. Sebisa mungkin Fang menekan rasa takutnya.
Dengan masih sesenggukan, ia mengambil ponsel ayahnya. Ini harusnya mudah karena ia tidak perlu membuka kunci layar.
Disentuhnya tombol dengan tulisan 'Panggilan Darurat'. Ia mengetik tiga angka yang ia ingat, lalu menyentuh ikon bergambar telepon.
Tidak lama setelah nada sambung ketiga, panggilan diangkat.
"Halo, dari Kepolisian—"
"Tolong, Papa dipukulin orang," adu Fang cepat sebelum penerima teleponnya menjelaskan siapa mereka. Suaranya serak dan bergetar.
"Hei, Nak. Kamu di mana? Apa Papa kamu terluka?"
"Papa... hiks! Papa nggak bangun. Huwaaa!" Fang merasa menemukan tempat yang pas meluapkan ketakutannya.
"Tenanglah. Apa kamu bersembunyi di tempat aman?" tanya seseorang di seberang sana. "Sembunyi. Kami akan lacak keberadaan kamu sama papa kamu. Jangan matikan telepon."
Fang mengikuti instruksi yang pernah diajarkan kakaknya. Untuk mengatasi sedikit ketakutannya. Dari mulai mengatur napasnya agar tidak sesak.
Napasnya ia tahan sebentar sebelum kembali menarik oksigen. Terus begitu sampai napasnya memelan. Detak jantungnya pun perlahan kembali melambat. Namun, beberapa saat setelah ia berhasil menenangkan diri, pandangannya gelap seketika.
Fang terbangun di tempat yang sama dalam keadaan bersimbah keringat. Beberapa hari terakhir mimpi buruk yang berasal dari memori masa kecilnya terus mengganggu.
Yang Fang ingat tentang hari itu hanya saat ia bangun, tidak ada siapa pun di sampingnya. Begitu keluar dari ruang rawatnya, hampir seluruh anggota keluarganya berada di sana. Di tengah mereka terdapat ranjang yang di atasnya terbaring seseorang yang beberapa jam sebelumnya masih menggendong manja Fang. Saat itu, Fang menyadari bahwa orang yang sama, tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.
Kadang Fang merasa waktu melompat begitu cepat. Bertahun-tahun kemudian saat ia mulai merelakan semuanya, hal yang sama kembali terjadi. Fang diseret kembali ke posisi yang sama dengan hari itu.
Semesta selalu saja menemukan celah untuk menjatuhkan langkah siapa pun yang hidup di sana. Terbuktilah bahwa semesta hanya adil kepada mereka yang memiliki segalanya.
"Jalan hidup setiap orang itu berbeda," kata Kaizo, suatu hari.
Fang yakin, Kaizo pasti mengatakan hal itu setiap dirinya mengalami hal yang seperti ini.
Fang lelah dengan hidupnya. Sebenarnya, apa yang membuatnya terlahir? Setelah ia tahu bahwa ia sama sekali tidak berguna bahkan di hidupnya sendiri, Fang jadi berpikir bahwa kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Dan semesta sedang berusaha memperbaiki kesalahan itu dengan mencoba membuatnya menghilang dengan cara apa pun.
'Baiklah.' Hatinya berkata mantap.
Fang turun dari ranjangnya. Keyakinan yang dibawanya bersama luka menguatkan tekadnya. Ya. Ia harus mengakhiri semuanya.
Semesta tidak secerdas itu mengatur takdir. Menghilangkannya bukan perkara sulit. Namun, kenapa harus melalui jalan berbelit jika ada yang lebih cepat?
Langkahnya tanpa terasa sudah berhasil membawa Fang ke tepi sungai. Aliran airnya tampak deras dengan deru yang begitu keras terdengar.
Satu langkah Fang memasuki air. Dingin dan segar terasa di kedua kakinya. Kemudian, ia membayangkan kesegaran itulah yang nanti akan menelannya hidup-hidup.
Fang tersentak. Ia menelan ludahnya sendiri. Kakinya mundur selangkah. Entah bagaimana keyakinan yang tadi menguatkannya itu menghilang. Digantikan rasa takut akan bagaimana sakitnya meregang nyawa di dalam arus itu.
"Nak, tunggu Kakek!"
Fang tersentak mendengar pekikan seorang pria paruh baya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kakek itu tampak kepayahan mengejar seorang anak kecil yang berlari cepat meninju sungai. Matanya membulat begitu anak itu benar-benar menceburkan diri ke dalam sungai.
"NAK! JANGAN!"
Anak itu timbul tenggelam dalam arus deras yang menariknya. Bibir mungilnya meneriakkan 'Kakek' berulang kali. Hatinya terdorong untuk membantu. Ia tahu itu menyakitkan. Karenanya, Fang melompat yakin ke dalam arus.
Jantungnya berdebar keras saat merasakan arus deras yang menariknya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat pemikiran untuk mengikuti arus menggodanya lagi.
"Fokus!" bisiknya tegas.
Anak itu masih dekat. Seharusnya bukan hal sulit. Jadi, Fang mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertahan agar tidak ikut terbawa arus.
Tangan anak itu akhirnya berhasil Fang raih. Perlahan ia membawanya menuju tepian. Sulit sekali karena bagian dasar sungai ini penuh lumpur Dan ternyata lebih dalam dari dugaannya.
"Pegangan!" titah Fang cepat.
"A-bang... aku takut."
"Nggak apa-apa. Pegangan yang kuat."
Fang berhasil membawa anak itu ke daratan. Pria yang menyebut dirinya Kakek itu tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Syukurlah kalian selamat," katanya begitu lega.
"Abang...," panggil anak itu.
Fang menoleh, menatap anak kecil yang mengintip dari balik punggungnya.
"Mama berenang jauh banget. Aku mau ikut," kata anak itu polos.
Mendengarnya, sang Kakek langsung memeluk cucunya—yang berarti juga memeluk Fang yang masih menggendong anak itu.
"Mama kamu masih di perjalanan. Nanti, setelah mama kamu menemukan tempat terbaik, kamu bisa ke sana saat waktunya tepat. Sekarang, hiduplah bahagia agar saat kamu bertemu mama, kamu nggak membawa rasa sedih atau sakit."
Kakek itu tidak sadar bahwa ucapannya barusan menusuk tepat ke hati Fang. Badannya lemas seketika. Apa yang akan ia katakan kepada ayahnya nanti jika ia benar-benar menemui ayahnya saat ini? Hanya karena ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu dan memaafkan dirinya sendiri, ia kabur begitu saja?
Setetes air meluncur melalui pipinya. Ia malu. Jelas malu jika harus bertemu ayahnya dengan keadaan hancur seperti sekarang.
"... Nak? Hei, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?"
Fang sadar saat itu juga. Anak kecil yang baru saja ia tolong diturunkannya segera, lantas ia memeluk kakek itu. Ia menangis di sana.
Kakek itu tampak kaget, tapi membiarkan Fang memeluknya. Beliau bahkan balas mengelus punggung pemuda itu lembut tanpa mengatakan apa pun.
"Maaf."
Tersadar, Fang melepas pelukannya dan mundur selangkah. Anak kecil tadi buru-buru menyeruak ke antara keduanya. Memeluk kakeknya dengan begitu posesif. Sang kakek terkekeh melihat perilaku cucunya itu. Fang diam memperhatikan.
"Tidak apa-apa. Bilang terima kasih sama Abang itu," kata Kakek itu kepada cucunya.
Cucunya menggeleng kuat. "Nggak mau!"
Sang kakek berjongkok demi membuat kedua matanya sejajar dengan cucu yang tampak sangat disayanginya itu. "Lho, kenapa?"
Mata bulat kecil itu menatap Fang. Entahlah, tapi sepertinya anak itu marah—atau cemburu padanya. Ia merasa begitu.
Akan tetapi, bagaimana pun, di mata Fang, anak itu terlihat sangat menggemaskan. Ia tersenyum kecil, lalu ikut berjongkok menyetarai kedua mata anak kecil itu. Demi apa pun, anak itu dikirim untuk menolongnya. Bukan Fang yang menolong anak itu, tapi sebaliknya.
"Terima kasih," ucap Fang tulus.
Anak itu berkedip cepat. Terlihat tidak mengerti. Namun, Fang tidak peduli.
Fang berdiri. Ia membungkuk sopan kepada Kakek itu sebelum berbalik lalu berjalan pergi.
"Hei, Nak."
Fang terkejut, tidak menyangka akan dipanggil. Ia pun berbalik.
Kakek itu berjalan ke arahnya dengan menuntun cucunya.
Fang diam menunggu.
"Maafkan dirimu dan dunia ini. Kau berhak bahagia."
Fang semakin terdiam. Ia yakin, Kakek itu tersenyum kepadanya setelah mengatakan itu.
Kalimat yang sudah sangat Fang hafal dan hilang makna untuknya, hari ini terasa begitu dalam. Ia ikut tersenyum, lalu mengangguk cepat. Tidak ada balasan apa pun yang keluar dari bibirnya. Hanya ada rasa terima kasih yang tak terungkap. Namun, Kakek itu tampak puas.
"Terima kasih," ucap suara berat dari belakang Fang bersamaan dengan tepukan di bahunya. Sangat mengejutkan untuknya.
"Terima kasih kembali."
Kakek itu melangkah pergi, meninggalkan Fang yang terkejut karena kehadiran orang lain di antara mereka.
"Ayo pulang," ajak pemilik suara berat yang Fang sangat kenali.
Jantungnya berdebar kencang. Namun, rangkulan di bahunya yang nyaman membuatnya tenang.
Sebuah jaket tersampir di tubuhnya—yang baru ia sadari sendiri sudah menggigil.
Suaranya tidak bisa keluar. Seperti ada yang menyekatnya dari dalam. Ia hanya menurut saat orang itu membawanya menuju tepi jalan tempat sebuah mobil yang terparkir, lalu masuk.
"Kau lapar?" tawar orang itu setelah keduanya berada di dalam mobil. Fang mengangguk kaku.
Orang itu mengangguk, kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Donat pesananku sudah jadi?" tanya orang itu langsung tanpa menyapa—atau menjawab sapaan lebih dulu. Khas orang itu.
"Oke. Langsung antar ke kamar 17."
Dia Kaizo. Kakaknya. Psikiater di rumah sakit tempatnya dirawat.
"Keringkan tubuhmu."
Tahu-tahu sebuah handuk tersodor ke depannya. Fang menatap bingung handuk itu, lalu kakaknya.
Melihat Fang yang tidak kunjung menurut, Kaizo langsung menyampirkan handuk itu di kepala adiknya. Mengeringkan rambutnya.
Kaizo mematikan pendingin, lalu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Fang menyelimuti dirinya dengan handuk dan jaket setengah basah yang Kaizo berikan. Hari ini ia melalui banyak hal. Tubuhnya lelah. Jadi, ia memilih mengistirahatkan dirinya sejenak.
Rasanya, sudah lama sekali Fang tidak merasakan ketenangan seperti ini. Ketenangan yang berhasil membuatnya kelelahan tapi tidak menyakitinya. Kali ini, Fang bertekad untuk tidak menyerah.
"Fang, sudah sampai."
Fang mencoba membuka matanya perlahan. Rasa kantuk yang masih terlalu kuat membuat Kaizo harus mengguncang tubuhnya lagi.
"Ganti dulu bajumu. Basah," kata Kaizo lagi.
Akhirnya, Fang berhasil bangun. Tubuhnya terasa sangat ringan. Tanpa harus bercerita banyak yang berarti harus mengorek lagi lukanya, apa yang ia rasakan tersampaikan begitu saja.
Ia salah saat menganggap semesta tidak pernah menginginkannya. Bukti hari ini sudah cukup untuk membuatnya yakin bahwa hidupnya harus berjalan. Bisa terus berlanjut.
Namun, bagaimana pun ia tetap malu pernah terpikir untuk mengakhiri hidupnya
"Habis ini Istirahatlah dulu. Jangan ke mana-mana sebelum aku temui. Aku ada janji temu dengan pasien sampai sore nanti."
A/N:
Ini sebenernya cuma potongan dari fic bersambung yang masih proses nulis. Tapi, beberapa hari yang lalu aku dapet kabar duka. Salah satu teman lamaku, berpulang dengan caranya sendiri. Aku nggak tau apa masalah yang dia alami. Kami udah hilang kontak sejak masuk SMA karena nggak satu sekolah. Dan sampai hari ini, nggak ada yang bisa aku lakuin selain mendoakan dia.
Rasanya sakit *O*
Teman-teman di sini, ayo saling mendukung. Seberat apa pun masalahnya, jangan merasa sendiri. Kita saling menjaga, meskipun dari jauh.
Maaf kalau tulisannya juga berantakan. Mungkin aku kurang fokus xD
