Pancake


Setidaknya butuh sepuluh menit bagi Baekhyun menyesuaikan diri dengan suasana pesta. Bukan berarti ini yang pertama kali, karena pada faktanya ia sering menghadiri pesta semenjak ia masuk Uni. Baekhyun hanya tidak terbiasa dengan musik yang keras dan orang banyak. Tak jarang, ini membuatnya nervous.

"Hey babe, you okay?"

Dan ini dia. Si pengganggu nomor satu yang masih tegak berdiri di samping Baekhyun dengan tangan melingkar di pundak si mungil. Park-freaking-Chanyeol. Tentu saja dia selalu ada di samping Baekhyun karena dirinya masih berhalusinasi bahwa Baekhyun adalah pacarnya.

"Totally okay. Terimakasih sudah bertanya." Baekhyun menjawab seiring dengan bola matanya yang berputar jengah.

Baekhyun sebenarnya bisa saja tinggal di dalam kamarnya, mendengarkan musik, menonton drama, atau apapun untuk mengisi waktu malam harinya. Namun ia merasa dirinya sangat perlu untuk menyesuaikan diri di tempat barunya ini. Salah satu caranya adalah berhubungan baik dengan tetangga –Kim Jongdae. Dan lagi, ia akan merasa sangat bosan tinggal di rumah besar itu sendirian karena Chanyeol, Jongin dan Sehun tentu saja pergi ke pesta. Suho mungkin akan pulang namun Baekhyun tidak tahu kapan tepatnya.

Jadi, hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Duduk di sofa dengan Chanyeol di sampingnya. Sehun dan Jongin tidak lagi terlihat sejak mereka berpisah di pintu utama. Baekhyun bisa membayangkan mungkin dua pemuda itu tengah berdansa dan mencapai puncaknya karena mereka bahkan sudah mabuk sejak dari rumah.

Untuk beberapa alasan, Baekhyun merasa bosan. Tidak ada seorang pun yang ia kenal baik di sini dan itu membuatnya semakin canggung. Ia lantas mengambil bir yang dibawa Chanyeol dan hendak meminumnya sebelum tangan si jangkung menghentikannya.

"Wow wow, tahan sayang."

Baekhyun merasa terganggu. "Apa?"

Chanyeol mengambil bir di tangan Baekhyun dan meletakkannya kembali di atas coffee table. "Aku tidak ingin mengambil risiko jika kau mabuk."

"Sehun dan Jongin bahkan mulai lebih dulu dan kau membiarkan mereka."

"Mereka bisa menanganinya dengan baik." Chanyeol beralasan.

"Dan aku pun demikian." Baekhyun berkeras kepala. Bukan berarti ia sangat ingin minum, hanya saja ia tidak suka saat Chanyeol seakan tengah menaruh kontrol atas dirinya.

"Baiklah, dengar. Bayangkan jika kau mabuk dan pada saat yang sama, aku merasakan sesuatu seperti akan meledak di dalam celanaku. Bayangkan jika aku menyerangmu pada saat kau mabuk dan kau akan menyesalinya saat kita berdua terbangun dalam keadaan telanjang di atas tempat tidur." Chanyeol mengatakannya dengan cepat dan Baekhyun bisa mendengar itu semua dengan jelas meskipun suara musik menggema di seisi ruangan.

Baekhyun menelan liurnya dengan wajah canggung. Ia membayangkan seperti apa yang Chanyeol katakan dan merasa malu pada saat yang bersamaan. Tidak. Ia baru saja mengenal Chanyeol dan ia tidak mau menaruh risiko. Jadi Baekhyun memilih untuk menyerah dan menyandarkan tubuh sepenuhnya di sofa.

"Fine." Ia mendengus kesal.

Chanyeol mengapresiasi hal tersebut dengan mengelus puncak kepalanya. "Good boy."

"Hey-yo, hyung. Bagaimana pestanya menurutmu?"

Seseorang datang menyapa Chanyeol dengan nada riang. Itu Jongdae, Baekhyun tidak memiliki kesulitan untuk mengingat anak itu karena wajahnya cukup unik dan suaranya yang nyaring. Dan jangan lupakan fakta bahwa ia selalu terlihat tengah menertawakan sesuatu sepanjang waktu. Entahlah, bagi Baekhyun, wajahnya memang terlihat seperti itu.

"Lumayan. Setidaknya kau tidak memasang dekorasi balon warna-warni di setiap sudut ruangan." Ujar Chanyeol.

"Ya Tuhan, berhenti mengejekku." Jongdae mengalihkan wajahnya pada Baekhyun. "Dan apa kau menikmatinya, Baekhyunie?"

"Perlu kuingatkan kau, bocah. Baekhyun lebih tua darimu. Dia memasuki semester tiga di Uni." Chanyeol menyela dan Jongdae terlihat tidak percaya.

"Astaga. Kau seorang mahasiswa?" Jongdae bertanya tak sabar. Baekhyun memberinya sebuah anggukan mantap.

"Kukira kau seumuran denganku." Jongdae menggeleng dramatis. "Serius, wajahmu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau lebih tua dariku."

"Well, aku akan menganggap itu sebuah pujian." Baekhyun tersenyum kecil.

Mereka bertiga kemudian membuka obrolan kecil untuk membuat suasana menjadi lebih akrab. Jongdae menceritakan kedekatannya dengan trio di rumah sebelah yaitu Chanyeol, Sehun, dan Jongin. Mereka sering bermain game bersama, pergi ke pesta, dan berlibur. Sementara Chanyeol sendiri bercerita bahwa Jongdae merupakan bocah menyebalkan yang sering meminta makanan ke rumahnya saat orangtuanya tidak ada. Itu membuka tawa kecil Baekhyun dan tanpa ia sadari, dirinya telah menikmati obrolan santai tersebut dan merasa nyaman.

"Dia pernah menginap di kamarku dan mengompol." Chanyeol bercerita dengan wajah datar.

"Kau dan yang lain mengajakku menonton Insidious, lalu tidak ada satupun diantara kalian yang sudi menemaniku ke toilet malam itu. Kau pikir aku punya pilihan lain?" Jongdae membela diri.

Chanyeol mengangkat bahu. Saat ia hendak membuka mulut untuk kembali memulai obrolan, seorang wanita tiba-tiba datang dan menyapa.

"Oh my God, Chanyeol? Apa itu kau?"

Chanyeol butuh beberapa detik untuk mengenali seorang wanita berambut blonde dengan gaun pendek hitam di depannya. "Jessie?"

"Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu disini." Jessie, begitu ia dipanggil, mendekat pada Chanyeol dan memberinya ciuman di pipi kanan dan kiri. Dan yang membuat Baekhyun sedikit kaget adalah ketika perempuan itu melompat duduk di pangkuan Chanyeol.

"Aku juga." Chanyeol mengekeh setuju.

"Kalian saling kenal?" tanya Jongdae.

"Tentu. Kau ingat saat aku pergi untuk merayakan pesta tahun baru di Bali? Kami berkenalan di sana." Ujar Chanyeol.

"Wow, dunia ini benar-benar sempit. Dia adalah kapten tim cheerleader di sekolahku sebelum akhirnya lulus." Kata Jongdae.

Jessie lalu dengan senang hati memberi Jongdae kecupan di pipi. "Dan kau adalah adik kelas favoritku sampai akhirnya aku lulus."

Sesaat, Baekhyun merasa diabaikan ketika mereka bertiga memulai pembicaraan yang tidak bisa ia masuki. Baekhyun merasa canggung, dan tidak nyaman. Terutama ketika ia menemukan fakta bahwa dirinya tidak bisa melepaskan pandangan dari Jessie yang duduk di pangkuan Chanyeol. Baekhyun berusaha untuk tidak terganggu, namun semakin ia ingin mengalihkan perhatian, justru dirinya semakin terlihat tak nyaman. Dan nampaknya, Chanyeol baru menyadari hal itu. Tepatnya ketika ia melihat Baekhyun mengambil gelas soda dengan mata yang tak lepas pada Jessie.

Dari sana Chanyeol baru sadar bahwa ia telah mengabaikan Baekhyun beberapa saat.

"Oh aku benar-benar lupa. Jess, perkenalkan, dia adalah Byun Baekhyun." Chanyeol melingkarkan tangannya di bahu Baekhyun dan membuat pemuda itu berhadapan dengan Jessie.

Baekhyun berusaha untuk terlihat ramah dengan mengulurkan tangan serta senyumnya. "Just Baekhyun."

Jessie menyambutnya dengan senyum hangat. "Really nice to meet you, Baekhyun. I'm Jessie."

Tak butuh waktu yang lama untuk mereka kembali melanjutkan pembicaraan. Sesekali Baekhyun terlihat ikut mendengarkan. Namun lama-kelamaan ia merasa bosan karena mereka bertiga bercerita tentang masa lampau, yang mana Baekhyun tidak bisa turut serta di dalamnya. Ia hanya orang baru di sini, dan entah kenapa ia sedikit kecewa akan hal itu.

"Uhmm… kurasa aku perlu pergi ke toilet." Baekhyun bangkit dari sofa sembari membetulkan kaosnya yang tersingkap. "Dimana toiletnya?" Ia bertanya pada Jongdae.

"Disana." Jongdae menunjuk kearah samping. "Lurus saja sampai kau menemukan tangga. Toiletnya ada di dekat sana."

"Perlu kuantar?" Chanyeol menawarkan diri. Baekhyun menggeleng cepat, secepat ia berjalan menuju arah yang di tunjuk Jongdae.

Berada di tempat asing dengan orang-orang yang tak dikenal benar-benar membuat Baekhyun merasa tak nyaman. Ia sedikit merasa lebih baik ketika Chanyeol dan Jongdae bercerita seputar kehidupan mereka sampai akhirnya Jessie datang dan Baekhyun tidak bisa masuk lebih jauh. Marah dan kecewa, mungkin iya. Namun Baekhyun merasa lebih kecewa pada dirinya sendiri yang nekat pergi ke pesta orang yang baru dikenalnya tadi sore.

Lima menit Baekhyun menghabiskan waktunya di kamar mandi hanya untuk mencuci wajah dan bercermin. Setelah itu ia keluar dan mencoba berbaur dengan yang lain. Ia tidak tahu bahwa orang-orang di sini cukup banyak, baik yang sekedar duduk dan minum atau menari diiringi musik. Jongin dan Sehun masih belum terlihat. Dan kembali ke sofa untuk bertemu Chanyeol sama sekali bukan pilihan.

Baekhyun berpikir untuk pulang, namun ia memilih untuk menghabiskan waktu sedikit lebih lama. Karena, hell, dia baru saja bergabung dengan pesta. Baekhyun lalu berpikir untuk pergi berdansa dan menemukan teman baru namun ia berakhir dengan duduk di sebuah kursi berbentuk bola dan memaku matanya di layar handphone. Ia hendak memeriksa notifikasi di beberapa akunnya.

Scroll, scroll, screenshoot, sroll, scroll, screenshoot, begitu seterusnya. Setidaknya hanya itu yang kau lakukan ketika kau single, karena tidak ada orang yang menghubungimu. Bukan berarti Baekhyun kesal dengan status sendirinya. Ia justru menikmati hal itu karena dirinya punya banyak hiburan lain di media sosial.

Terlalu terpaku dengan handphone-nya, Baekhyun tidak sadar berapa lama waktu yang terlewat. Secara literal, ia pergi ke pesta. Namun faktanya, ia hanya duduk dan sibuk dengan akun media sosialnya. Baekhyun baru bisa berhenti ketika ia menemukan baterai handphone-nya hanya tinggal lima persen.

"Shit." Ia pun berdiri dan segera memasukkan handphone ke dalam saku jeans-nya. Matanya kemudian berkelana ke segala arah demi menemukan siapapun yang ia kenal, Jongin atau Sehun. Namun itu nihil. Penyebabnya mungkin karena lampu yang tak terlalu terang, bayaknya orang di sana, atau mungkin Jongin dan Sehun memang tidak berada di ruangan yang sama. Baekhyun pun mengangkat bahu dan apa boleh buat, sepertinya ia hanya akan pulang sekarang.

"Honey, aku mencarimu kemana-mana."

Ketika Baekhyun hendak berjalan pergi, ia mendengar suara yang cukup familiar di belakang pundaknya. Kemudian ia berbalik dan menemukan Park Chanyeol tengah tersenyum lega entah-karena-apa.

"Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu." Baekhyun mungkin terlihat sedikit berlebihan. Tapi Chanyeol pantas mendapatkannya, dia pikir. Setelah apa yang ia lakukan. Chanyeol menggodanya beberapa kali dan ia juga bermain dengan perempuan yang Baekhyun yakini masih lebih banyak lagi di luar sana.

Baekhyun tidak marah. Ia hanya merasa seperti dipermainkan.

"What's wrong, babe?" tanya Chanyeol sambil mendekatkan dirinya pada Baekhyun. Ia sedikit heran kenapa Baekhyun terlihat semarah itu, berbeda dari sebelumnya.

"Stop talkin' shit. I'm going home." Saat Baekhyun hendak benar-benar pergi, tangannya telah lebih dulu ditahan oleh Chanyeol.

"Aku membuat kesalahan? Kau tidak menikmati pestanya? Baiklah, aku minta maaf." Chanyeol mengatakannya dengan jantan.

"Simpan itu untuk teman wanitamu, Park. Aku berbeda, aku tidak punya waktu bermain-main denganmu." Baekhyun mengatakannya. Ia mengatakan alasan apa yang membuatnya kecewa.

"Tunggu, apa ini tentang Jessie? Kau cemburu?"

"Aku?" Baekhyun menunjuk dirinya sendiri. "Sebaiknya kau menarik ucapanmu karena aku sama sekali tidak."

Detik berikutnya, Chanyeol tertawa. Ia tertawa kecil namun itu cukup untuk membuat Baekhyun menaikkan alisnya. "Apa kau tiba-tiba menjadi gila?"

"Mungkin." Chanyeol berbicara dengan sisa tawanya. "Tergila-gila padamu lebih tepatnya."

Baekhyun serasa ingin memuntahkan makan malamnya.

"Kau cemburu, sayang. Kau hanya malu untuk mengakuinya."

"Astaga!" Baekhyun memutar bola matanya, tak terhitung sudah berapa kali ia melakukan itu sejak bertemu dengan Chanyeol. Saking muaknya. Ia tidak habis pikir kenapa Chanyeol senang sekali berlaku seenaknya dan mengambil kesimpulan sendiri.

"Oke, baiklah. Aku minta maaf jika itu mengganggumu. Tapi aku sama sekali tidak tertarik pada Jessie, serius. Dia hanya teman, sama seperti yang lainnya. Dan satu hal lagi, sebenarnya aku yang harusnya merasa cemburu disini."

Baekhyun melirik Chanyeol dengan alis terangkat. Ia bertanya secara nonverbal dan Chanyeol menyesap terlebih dahulu birnya sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Jessie tertarik padamu. Oh kau harus tahu betapa menjengkelkannya dia saat kau pergi. Dia terus mengatakan sesuatu semacam "He's so damn cute, Chanyeol. Bolehkah aku membawanya pulang?" Ia menirukan gaya Jessie untuk mengejek. Dan Baekhyun bertaruh perempuan itu akan meninjunya jika ia tahu Chanyeol melakukan hal tersebut.

"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Baekhyun.

Chanyeol mengangkat bahu dengan senyum nakal. "Kubilang: Tidak boleh, sayang. Dia milikku."

Baekhyun menepuk kening. Tentu saja, tentu saja Chanyeol akan mengatakan itu tanpa beban apapun. Dan ia merasa bersalah kepada Jessie karena sempat menyimpan pemikiran buruk terhadap perempuan itu. Mungkin ia perlu meminta maaf secara pribadi jika bertemu dengan Jessie lagi nanti.

"Baiklah. Lupakan tentang yang baru saja terjadi. Bagaimana kalau kita berdansa sekarang?" Chanyeol mengisyaratkan ajakan dengan kepalanya. Baekhyun dibuat berpikir sesaat. Ia datang kemari untuk bersenang-senang dan sepertinya ia bisa mengulur waktu untuk pulang.

Mungkin ia bisa percaya pada Chanyeol. Mungkin pemuda itu memang tulus untuk mengajaknya bersenang-senang. Meski masih sedikit kesal, Baekhyun akhirnya hanya bisa mengangguk setuju dan membiarkan Chanyeol membawanya lebih ke tengah.

"Ini akan menjadi malam yang panjang." Chanyeol berbisik lirih di depan telinga Baekhyun.

Si mungil hanya mengangkat kedua alisnya sebagai respon. Karena, tentu saja. Tentu saja ini akan menjadi malam yang panjang.


Kerjap. Kerjap. Kerjap.

Baekhyun menutup matanya cukup lama sebelum akhirnya kedua sipitnya membuka lebar. Matahari secara tidak langsung telah membangunkannya lewat celah-celah ventilasi, dan Baekhyun merasa berterimakasih mengingat ia memiliki kelas yang harus dihadiri pagi ini. Ia pun terduduk dan melirik jam dinding. Bernapas lega karena setidaknya ia masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap.

Krruuuukk

Baekhyun yakin betul itu adalah suara perutnya yang meronta minta diisi. Ia menepuk kening. Tentu saja dirinya akan merasa lapar setelah berdansa semalaman ditemani beberapa gelas soda. Baekhyun tidak ingat hal lain selain mengganti pakaian sehabis berpesta dan jatuh tertidur. Dan ia tidak mabuk –syukurlah.

Pemuda itu kemudian memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya dan keluar dari dalam kamar. Ia hendak mencuci muka di kamar mandi yang terletak di ujung lorong sebelum kemudian turun untuk mencari makanan.

"Hoaaaeeemm~"

Ia meregangkan kedua tangannya sambil berjalan dengan mata tertutup. Berharap hari ini akan menjadi hari yang baik tanpa masalah yang berarti. Ya, setiap orang selalu berharap seperti itu di pagi hari. Namun kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Karena begitu Baekhyun membuka pintu kamar mandi, ia tahu harapannya untuk hari yang baik sudahlah pupus.

"ASTAG—"

Baekhyun kehilangan ide saat ia berhadapan dengan Kim Jongin yang sedang duduk di atas kloset dengan koran di tangan, tanpa celana.

"Oh, hai. Selamat pagi." Jongin menyapanya dengan ramah—

-Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah semuanya terlihat biasa saja. Seolah buang air besar di depan orang lain adalah hal biasa. Seolah tak sengaja bertemu dengan Baekhyun dalam situasi sialan seperti ini adalah hal yang biasa.

Lain halnya dengan Jongin, Baekhyun merasa syok.

"Tidak bisakah kau mengunci pintunya dari dalam?!" Baekhyun bertanya, nyaris berteriak. Ia nyaris gila dengan segala kelakuan orang-orang di rumah ini. Karena jujur saja, Baekhyun tidak terbiasa dengan mereka yang gemar mengumbar bagian intim dalam tubuh. Ia mulai berpikir barangkali ini merupakan penyakit kejiwaan jenis baru, atau entahlah.

"Asal kau tahu, aku merupakan pria yang menyukai kebebasan." Terang Jongin, masih di posisi yang sama.

"Ask me if i give a motherfuck for your freedom!"

BLAM!

Baekhyun menutup pintu dengan kesal. Wajahnya memerah. Pertama karena ia merasa malu (Jongin yang setengah telanjang tapi entah kenapa dia yang malu), dan kedua karena ia emosi. Orang-orang disini harus mulai belajar untuk berpakaian dengan benar dan membuat benteng privasi bagi diri mereka sendiri karena Baekhyun bisa gila jika mereka terus-menerus seperti itu.

Baekhyun akhirnya turun ke lantai bawah untuk menggunakan kamar mandi yang ada di sana. Memasuki ruang tengah, ia hanya melihat Sehun yang sedang duduk santai di sofa dengan semangkuk sereal di pangkuannya. Baekhyun berjalan untuk melihat apa yang ia tonton dan menemukan dirinya sendiri berkerut kening karena ia baru saja melihat tayangan animasi bis kecil Tayo.

"Ada masalah?" Sehun bertanya pada Baekhyun yang masih bertahan di posisi tidak percaya-nya.

"Kau menonton ini setiap hari?" tanya Baekhyun ragu.

"Pagi dan sore."

Baekhyun ingin mengomentarinya lebih jauh namun urung bersamaan dengan Sehun yang kembali mengalihkan fokus ke depan televisi. Baiklah, mungkin keanehan yang ini masih bisa ia toleransi dibandingkan kedua lainnya –you know who.

"Kurasa segelas air putih bisa mengembalikan kewarasanku." Baekhyun menyeret kakinya untuk pergi ke dapur terlebih dahulu. Ia butuh air untuk tetap mempertahankan kewarasannya di sini.

Ia tak menemukan siapapun disana. Tidak Suho tidak pula Chanyeol. Dan Baekhyun merasa sangat lega akan hal itu, entah karena alasan apa.

"Air dingin di pagi hari menjelang siang." Ia bergumam sendiri saat membuka lemari pendingin dan menarik keluar sebotol air mineral.

Naasnya, ketika menutup pintu dan menoleh ke samping, Baekhyun kembali mendapat kejutan tak terduga.

"JESUS CHRIST!" Baekhyun berteriak kaget. Lagi-lagi Chanyeol.

"DIMANA BAJUMU, CHANYEOL?!" dan lagi-lagi dia telanjang.

Di hadapannya, Chanyeol menebar senyum tak bersalah. Seolah berjalan-jalan di sekitar rumah tanpa mengenakan pakaian adalah sesuatu yang sangat sangat saaaaaangat biasa.

"Aku baru selesai mandi." Katanya sembari menunjuk handuk yang menutupi rambut basahnya (rambut di atas kepala, tolong jangan berpikiran rambut yang lain, demi Tuhan).

Baekhyun meletakkan botol air mineralnya di atas lemari pendingin dan merebut handuk yang ada di atas kepala Chanyeol secara paksa. Bersyukur karena handuk itu cukup lebar dan setidaknya bisa digunakan untuk membungkus bagian kemaluan Chanyeol.

Sementara itu, Chanyeol hanya diam saja ketika Baekhyun melilitkan handuk ke bagian bawah perutnya. Ia tak banyak tingkah seperti anak kecil yang diurusi setelah selesai mandi.

"Kurasa kalian harus berhenti bertingkah seperti ini." Baekhyun menggeleng tak percaya. Ia selesai membungkus bagian bawah tubuh Chanyeol dan kini ia berkacak pinggang. "Siapa lagi? Katakan padaku siapa lagi di rumah ini yang gemar bertelanjang selain kau dan Jongin?" tanyanya dengan tak sabar.

Chanyeol terlihat berpikir dan menjawab ragu. "Mungkin Sehun, saat dia mabuk berat. Dia pernah datang ke rumah, melemparkan makanan, menari di atas meja, dan berlarian tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Sejujurnya itu membuatku sedikit trauma."

"Dan kau pikir kau yang telanjang barusan tidak membuatku trauma?" Baekhyun bertanya dengan nada seakan memohon belas kasih. Meski sedikitnya ia pun merasa kaget atas apa yang Chanyeol bicarakan tentang Sehun.

Chanyeol tiba-tiba mengubah senyumnya menjadi seringai. "Sayang, kau akan menyukainya nanti."

Beruntung, Baekhyun masih memiliki kesabaran dengan tidak menampar Chanyeol saat itu juga.

"Kurasa aku harus bergegas untuk berangkat ke kampus." Baekhyun meraih botol air mineral, meminumnya dengan tergesa-gesa. Matanya menatap tajam pada Chanyeol yang masih belum bergerak di tempatnya.

"Aku akan buatkan sarapan." Ujar Chanyeol dengan senang hati.

Baekhyun menyeka sisa air di bibirnya. "Tidak perlu. Aku akan membeli roti di perjalanan."

"Akan kubuatkan pancake."

"Tidak—"

"Kembali kemari setelah kau selesai bersiap-siap. Akan kubuatkan selagi kau mandi."

Baekhyun ingin menolak, namun tubuhnya telah dibalik dan di dorong oleh Chanyeol yang tentunya memiliki tenaga lebih besar. Karena secara postur tubuh pun mereka berbeda jauh. Tapi Baekhyun tidak peduli akan hal itu sekarang, selain melakukan seperti apa yang dikatakan Chanyeol.

Maka Baekhyun pun pergi meninggalkan dapur untuk membersihkan badannya. Sebelum benar-benar menghilang, ia menyembulkan kepalanya dibalik pintu dan berkata pada Chanyeol;

"Ngomong-ngomong, tattomu lumayan juga."

Chanyeol melirik tatto dua garis sejajar yang ada di bagian kiri dadanya. Ia memiliki beberapa tatto namun cukup yakin bahwa yang Baekhyun maksud adalah yang ada di dadanya. Karena yang ini cukup mencolok.

"Thanks."

Kemudian Baekhyun benar-benar menghilang dibalik pintu.


Baekhyun kembali mematut penampilannya di depan cermin. Ia memadukan kemeja abu-abunya dengan sweater paws dan celana jeans. Serta memakai beanie hitam –setelah berdebat dengan dirinya sendiri apakah ia harus menggunakan snapback atau beanie untuk menutupi bedhair-nya. Ia mesti mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin karena ia tidak memiliki waktu untuk pulang setelah kuliah berakhir. Ada kedai kopi di ujung jalan yang menunggunya setelah off dua hari kemarin.

"Hmmm…"

Baekhyun menyipitkan matanya di depan cermin. Ia tidak bermaksud berlama-lama karena dirinya telah selesai. Namun ada sedikit hal yang mengganggunya yakni perkataan Chanyeol di hari kemarin.

Aku suka matamu.

"Memangnya mataku sebagus itu ya?" ia membuka matanya lebar-lebar. Menilik baik-baik apa yang ada disana. Iris kelam memang terlihat bagus dipadupadankan dengan rambut magenta-nya. Dan Baekhyun sendiri luput akan hal itu, sesuatu yang membuatnya terlihat indah.

"Kau sudah selesai?"

"Ap—oh, ya Tuhan… ya Tuhan…"

Baekhyun memegangi dadanya. Ia sepertinya harus terbiasa dengan kejutan-kejutan di rumah ini. Termasuk kejutan dari seseorang yang tiba-tiba berdiri di pintu kamarnya yang terbuka –Baekhyun tidak ingat kapan pintu itu terbuka.

"Sehun." Baekhyun berhenti untuk memberi penekanan. "Sejak kapan kau berdiri di sana?"

Sehun mengangkat bahu. "Sejak kau menaruh handukmu."

"Dan kenapa aku tidak sadar bahwa kau menontonku saat aku berganti pakaian?" tanya Baekhyun, lebih kepada dirinya sendiri.

"Pintunya hanya terbuka sedikit tadi, jadi kau tidak akan sadar."

"Itu berarti kau mengintipku?"

"Aku hanya menikmati pemandangan."

Baekhyun menarik napas dalam-dalam. Mereka aneh. Chanyeol, Jongin, Sehun, semuanya. Mereka memiliki ketertarikan aneh mengenai tubuh manusia yang Baekhyun sama sekali tidak mengerti. Apa mereka terlalu sering mengakses pornhub atau semacamnya? Baekhyun menjadi sangat prihatin karena orang-orang ini terlihat seperti pemuda yang kecanduan menonton film dewasa.

Baekhyun mulai berpikir mungkin ini saatnya untuk menemui Suho dan mengajukan komplain.

"Ngomong-ngomong, Chanyeol-hyung memintamu untuk segera turun dan sarapan." Sehun menginterupsi Baekhyun dari segala pemikirannya.

Baekhyun mengambil napas lesu. Mungkin memang ia harus bergegas. Semakin cepat ia sarapan, semakin cepat pula ia keluar dari rumah sinting ini. "Baiklah, aku turun sekarang."

Sehun mengangguk. Ia pergi lebih dulu dengan Baekhyun yang menyusul di belakangnya.

"Kau tahu, kau sama sekali tidak perlu melakukan ini."

Baekhyun duduk di kursi yang menghadap sebuah counter di dapur. Ia meletakkan ranselnya dan kini berhadapan langsung dengan setumpuk pancake bertabur kayu manis. "Aku bisa sarapan di luar." Katanya sedikit merasa tak enak hati.

Chanyeol berdiri di depannya dengan kedua tangan bertumpu pada counter. Kali ini ia telah berpakaian lengkap –kaus dan celana, dan ia melempar senyum pada Baekhyun. "Tidak masalah, aku punya banyak waktu. Dan jangan terlalu sering makan di luar, tidak baik untuk kesehatanmu."

Baekhyun menelan potongan pertamanya dengan gugup. Tak sadar bahwa matanya menatap langsung pada Chanyeol dan itu membuatnya terintimidasi. Harus Baekhyun akui, Chanyeol memiliki aura yang aneh. Semacam aura dominan yang kuat.

Mereka terdiam dalam keheningan selama belasan detik. Baekhyun menyantap sarapannya, dan Chanyeol dengan senang hati menungguinya. Ini menempatkan Baekhyun pada posisi canggung dan ia perlu memecahkan kesunyian diantara mereka.

"Dimana Suho hyung?" tanya Baekhyun.

"Oh aku lupa, kau pasti belum tahu. Dia jarang pulang. Bisa sekali dalam seminggu atau sekali dalam sebulan. Tergantung keperluan." Ujar Chanyeol. "Dia terlalu cinta dengan pekerjaannya." Tambahnya diiringi kekehan.

Baekhyun mengangguk-angguk.

Chanyeol menuangkan segelas air dan mendorongnya ke hadapan Baekhyun. "Tapi anaknya selalu datang kemari setiap hari Minggu. Aku dan yang lain selalu bermain dengannya saat Suho hyung kebetulan sedang tidak ada."

"Anak?" Baekhyun menahan kunyahannya. "Dia sudah menikah?"

Chanyeol menggeleng cepat. "Dia menikah dengan pekerjaannya."

"Lalu?"

"Dulu ia sempat berpacaran dengan seorang perempuan Chinese, dan untuk beberapa alasan, mereka memutuskan untuk berpisah. Namun satu bulan kemudian perempuan itu datang, mengatakan bahwa ia tengah hamil dan ayah dari anak yang dikandungnya adalah Suho hyung. Lalu beberapa bulan kemudian, Zixuan lahir."

"Zixuan?"

"Nama anak mereka. Kau harus bertemu dengannya nanti, dia sangat menggemaskan."

Wajah Baekhyun berbinar. Dia suka anak-anak. "Benarkah? Berapa umurnya?"

"Empat tahun. Kau suka anak-anak?" tanya Chanyeol dengan raut wajah tak kalah berbinar. Baekhyun mengangguk semangat. Ia memiliki adik kembar yang masih berumur dua tahun, hasil pernikahan kedua dari ibunya dengan seorang pria kebangsaan Eropa. Namun mereka tinggal jauh di Jeju dan Baekhyun tidak bisa menghabiskan waktu banyak dengan mereka. Itu sebabnya ia begitu merindukan sosok anak-anak.

"Baguslah. Tapi kalau aku lebih suka kau." Satu mata Chanyeol mengedip nakal.

Binar di wajah Baekhyun seketika menghilang dan terganti dengan raut wajah sepat. Did that mother fucker just wink at me?

Chanyeol memberinya tawa kecil sebelum ia melanjutkan obrolan.

"Apa kampusmu cukup jauh dari sini?" tanya Chanyeol.

"Tidak, maksudku tidak terlalu. Hanya perlu berjalan kaki lima belas menit."

"Jam berapa kelasmu dimulai?"

"Jam sepul –oh my, itu lima menit lagi. Kurasa aku harus pergi sekarang." Baekhyun mengangkat bokongnya dari kursi dan cepat-cepat menenggak air minum di depannya. Ia kehabisan waktu dan terlambat di kelas Mrs. Diana bukanlah sesuatu hal yang baik untuk memulai hari perkuliahannya.

"Hey."

Chanyeol memanggilnya dan Baekhyun mematung secara spontan. Ia melihat si tinggi memberinya isyarat untuk mendekat menggunakan jarinya. Baekhyun tidak mengerti kenapa ia bisa menurut dan membiarkan dirinya dengan Chanyeol saling bertukar napas sekarang. Ia terlalu gugup hanya untuk memikirkan apa yang hendak Chanyeol lakukan padanya.

Baekhyun tidak berkata apapun. Pun ketika tangan Chanyeol menyentuh pipinya dan menyeka sisa makanan di samping bibir.

"Ada sesuatu di wajahmu." Ujar Chanyeol sembari menjilat ibu jari yang sempat ia usapkan di wajah Baekhyun.

Dan Baekhyun bersumpah bahwa itu adalah beberapa detik paling mendebarkan yang pernah ia rasakan selama ia berhadapan dengan orang lain. Chanyeol adalah satu-satunya bajingan yang mampu membuatnya beku dan berpikiran aneh hanya karena mereka saling berhadapan. Baekhyun tidak tahu apakah ini sesuatu yang baik atau justru buruk?

"Aku akan mengantarmu. Ayo!"

Persetan dengan baik dan buruk. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi sekarang.


.

.

.

Tbc

.

.

.


Massive thanks buat kalian yang udah baca, review, fav, sama follow. Semoga chapter ini memuaskan, dan kritik saran selalu ditunggu. Oh, dan untuk karakternya mungkin masih akan ada penambahan. Untuk kebutuhan cerita, bakalan ada member exo yg gs *cough*mamanya Zixuan*cough*, jadi mohon antisipasinya /hah.

Ehm, see ya later?