Maybe Next Time


"Jadi, kau mengambil jurusan apa?"

Baekhyun menoleh ke kiri, dimana Chanyeol duduk tenang sambil mengemudikan mobilnya di jalanan. Ia hampir lupa bahwasanya dirinya tengah duduk berdua bersama Chanyeol, saking frustrasinya memikirkan bahwa kelas Mrs. Diana akan dimulai dalam waktu tak kurang dari tiga menit lagi.

"Sastra Inggris." Baekhyun menjawabnya singkat. Matanya kembali terarah ke depan. Jalanan cukup lancar dan ia berharap Chanyeol bisa menambah kecepatan. Namun ia cepat-cepat menyadari bahwa itu bukan hal yang sopan mengingat ia sudah merepotkan Chanyeol dengan menumpang di mobil pria itu.

"Apa yang membuatmu tertarik?"

Baekhyun melipat bibirnya ke dalam sebelum akhirnya bicara. "Entahlah. Mungkin karena aku suka sastra, dan… Bahasa Asing?"

Chanyeol tertawa kecil dan Baekhyun merasa konyol. Tentu saja itu alasan yang buruk untuk menjadi sebuah motivasi. Tapi apa boleh buat, Baekhyun merasa ia hanya memiliki ketertarikan dalam bidang itu.

"Ngomong-ngomong, kau tidak pernah bercerita tentang dirimu. Misalnya… berapa umurmu, dimana kau lahir, pekerjaanmu, atau apapun." Baekhyun mencoba akrab dengan Chanyeol. Meski ia tidak terlalu peduli dengan pria itu, setidaknya Baekhyun perlu tahu dan mereka bisa berhenti menjadi orang asing bagi satu sama lain.

"Kau tidak pernah bertanya, jadi kukira kau tidak tertarik." Chanyeol mengendikkan bahunya.

"Baiklah, sekarang aku penasaran."

Chanyeol mengeluarkan senyum kecil. "Namaku Park Chanyeol, lahir di Seoul, Korea Selatan. Umurku dua puluh tiga, dan aku masih di Uni. Aku sedang menyusun tugas akhir."

Baekhyun mengangguk-angguk. Ia ingin menanggapi Chanyeol, namun begitu menemukan gerbang kampusnya telah terlihat, perhatiannya tiba-tiba teralihkan. "Oh itu dia. Sepertinya aku akan turun disini—"

"Aku ikut masuk."

Baekhyun menggeleng tak nyaman. Ia tidak bisa merepotkan Chanyeol lebih dari ini. "Tidak, kau tidak perlu. Sungguh."

"Aku perlu menyapa dosenku."

"Oh oke—what?"

Rahang Baekhyun jatuh ke bawah dengan mata penuh tuntutan pada Chanyeol. Sebenarnya ia berharap bahwa ia salah dengar, namun raut wajah Chanyeol tidak mendukung pemikirannya itu. Yang ditanya hanya diam dengan senyum misterius sambil memarkirkan mobilnya di pelataran parkir. Baekhyun tidak bisa berspekulasi lebih jauh selain…

"Jangan katakan kalau kau juga…"

"Ya." Chanyeol mematikan mesinnya. "Aku kuliah di sini."

Baekhyun menyandarkan tubuhnya secara dramatis dan menggeleng tak percaya. "Holy moly…"

Ini pasti sebuah lelucon. Bagaimana bisa orang ini berada di kampus yang sama dengannya? Baekhyun bahkan tidak pernah melihatnya (tapi itu bisa dimaklumi karena Chanyeol memang sedang menyusun tugas akhir yang mana akan jarang berada di kampus) tapi ayolah, yang benar saja. Kenapa hidupnya bisa sekonyol ini? Kenapa kebetulan semacam ini bisa terjadi?

Baekhyun hanya belum tahu saja cara kerja dunia.

"Ayo, kau tidak ingin terlambat kan?" Chanyeol membuat gestur ajakan seiring dirinya membuka pintu untuk Baekhyun. Si mungil bahkan tidak sadar kapan pemuda itu turun dan berjalan ke sisinya. Baekhyun hanya perlu waktu untuk memperoses apa yang sedang terjadi.

Namun sayangnya, ia tidak punya cukup waktu untuk sekedar bertanya tentang prodi yang dipilih Chanyeol. Ia hanya mampu berjalan cepat dengan bayang-bayang Mrs. Diana yang mengintimidasi lewat kacamata tebalnya. Baekhyun sudah pernah mendapat C dari wanita itu, dan ia tidak berniat untuk mendapatkannya lagi karena attitude yang buruk; terlambat masuk kelas.

"Dan kenapa kau mengikutiku?" Baekhyun memberi tatapan penuh tanya pada Chanyeol yang sedang berjalan-jalan di belakannya dengan kedua tangan di saku celana.

"Aku tidak." Chanyeol membuat wajah polos. Baekhyun membuang napas, dan kembali ke jalannya.

"Whatever." Ia berjalan di koridor dengan tergesa-gesa bersamaan dengan matanya yang melihat seorang wanita tengah berjalan dari arah berlawanan. Itu dosennya, dan Baekhyun berharap kakinya bisa berjalan lebih cepat lagi karena ia tidak ingin berpapasan langsung dengan wanita itu.

"Mrs. Diana!"

Tidak, itu bukan Baekhyun yang memanggil. Melainkan Park Chanyeol yang setengah berlari guna menghampiri wanita yang ia panggil barusan. Dahi Baekhyun berkerut berlapis-lapis dan wajahnya jelas meminta sebuah jawaban. Selain Chanyeol yang mengedipkan sebelah matanya secara diam-diam, Baekhyun tidak tahu lagi.

"Wow, Chanyeol my favourite boy. Suatu kejutan melihatmu di sini."

Suara Mrs. Diana terdengar samar-samar di telinga Baekhyun. Namun dari raut wajahnya terlihat bahwa ia cukup tertarik untuk bercakap-cakap dengan Chanyeol. Baekhyun mulai bertanya-tanya, mahasiswa macam apa Chanyeol ini sampai-sampai bisa berbincang dengan dosen killer tanpa terlihat segan sama sekali. Orang ini benar-benar tak terduga.

Tapi lupakan tentang Chanyeol. Baekhyun pikir ia cukup tertolong karena setidaknya ia bisa masuk lebih dulu ke dalam kelas –sebelum Mrs. Diana. Dan sepertinya, lagi-lagi ia berhutang pada Chanyeol.

Baekhyun hanya bisa berjanji untuk membalasnya nanti.


"Bagaimana tempat barumu?"

Rose, sahabat Baekhyun sejak zaman SMA, memberi tatapan penuh rasa ingin tahu. Sejak Baekhyun pindah hari kemarin, ia belum mendapat satupun pesan singkat tentang bagaimana kehidupan barunya dimulai. Dan ia sangat berharap Baekhyun tidak menceritakan sesuatu yang membuatnya bosan, setidaknya.

"Bagus. Gila."

Ia merebahkan tubuhnya di kursi taman dan menggunakan paha Rose sebagai pengganti bantal. Cuaca tidak terlalu panas siang itu, dan mereka duduk dibawah pohon rindang. Benar-benar suasana yang bagus untuk tidur siang.

"Bagus, Gila?" Rose membeo. Ia merogoh tas tangannya dan mengambil sebatang cokelat untuk menemani obrolan mereka. "Apa itu perpaduan kata yang berarti baik?"

"Tidak sama sekali." Baekhyun menutup matanya dengan lesu. Sepertinya ia bisa benar-benar jatuh tertidur jika saja Rose berhenti menginterogasinya.

"Ceritakan padaku." Rose memotong batangan cokelat. "Kau mau?" tawarnya pada Baekhyun.

"Kau pikir ada berapa kalori dalam makanan itu?" Baekhyun jelas-jelas menolak, Rose mendengus.

"Ugh, kau dan diet bodohmu." Ia mengunyah cokelatnya dengan tenang. "Jadi, kau ingin mulai dari mana?"

"Mereka semua gila sampai-sampai aku bingung harus mulai dari mana." Keluh Baekhyun.

"Teman serumahmu? Ada berapa banyak?"

"Empat, itu yang kutahu, dan aku berharap mereka tidak bertambah karena jika iya, aku bisa ikut-ikutan gila."

"Kau terus-menerus mengulang kata gila, sebenarnya seberapa gila mereka?"

Baekhyun membuka kedua matanya dan menemukan Rose yang menatapnya penuh tanya. Ia membuang napas jengah saat mengingat kembali apa yang ia alami selama tinggal di rumah itu –yang mana baru sehari yang lalu.

"Seseorang yang jarang di rumah karena ia menikah dengan pekerjaannya, seseorang yang buang air besar tanpa mengunci pintu toilet, seorang pemuda yang menonton Tayo pagi dan sore, dan satu lagi yang paling parah… si hobi telanjang." Baekhyun menjelaskannya dalam satu tarikan napas.

"W-wow."

"Yeah, wow." Baekhyun mengangguk setuju. Tentu saja Rose terlalu terkejut dan hanya kata itu yang terucap dari bibirnya. "Aku bahkan heran kenapa aku masih bisa bertahan di rumah itu."

"Ohh… Byunnie, aku turut prihatin dengan nasibmu. Apa yang bisa kubantu?"

Baekhyun menepuk-nepuk pipi Rose yang berada tepat di depan wajahnya. Mereka tengah berdramatisasi. "Untuk sekarang, belum ada. Jika mereka macam-macam, kau adalah orang pertama yang akan kuhubungi, hun."

Barangkali, sebagian besar orang akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Baik Baekhyun maupun Rose tidak terganggu akan hal itu, karena mereka berdua telah saling mengetahui satu sama lain. Ya, Rose tahu bahwa Baekhyun tidak begitu tertarik pada perempuan dan Baekhyun tahu bahwa Rose memiliki seseorang yang disukai –dan cintanya bertepuk sebelah tangan, oke. Baekhyun tidak menutupi orientasi seksualnya, namun ia pun tidak berniat untuk coming out karena ia tidak pernah memberi label tersendiri terhadap dirinya. Lagipula segelintir orang sudah tahu. Baik itu teman-temannya, maupun mantan kekasihnya.

"Ngomong-ngomong, Byunnie, apa kau tahu gosip baru yang sedang beredar?" Rose menggulung kemasan kosong bekas cokelatnya dan membuangnya ke tong sampah terdekat.

"Tentang?"

"Your ex, Mr. Andrew Lee…"

"Aku tidak ingin mendengar omong kosong apapun lagi tentangnya, Rose, kau tahu sendiri." Baekhyun menyilangkan tangannya sebagai tanda penolakan.

"Tapi ini berita baik untukmu Byunnie, percaya padaku." Rose menaikkan kedua alisnya.

"Baiklah, kau menang. Katakan padaku, ada apa dengan Drew?"

Baekhyun sebenarnya tidak peduli lagi dengan mantan kekasihnya yang setengah bule itu, tapi karena ia percaya bahwa ini adalah berita baik untuknya, maka Baekhyun dengan rendah hati siap untuk mendengarkan.

"Dia putus dengan Jinyoung."

"WHOAAT?"

Baekhyun seketika bangun dan bertanya dengan wajah senangnya yang tidak bisa disembunyikan. "Kau serius?"

"Yeah, Jinyoung selingkuh dengan orang lain. Drew menerima apa yang pernah dia lakukan padamu. Karma."

"Oh my my my…" Baekhyun menyanyikan kalimatnya dengan nada ceria, tak lupa sambil menggoyang-goyang pundak Rose yang terlihat jengah dengan tingkah lakunya.

"Ewh, kurasa beberapa detik lalu kau mengatakan kalau kau sudah tidak peduli dengannya. Apa aku salah dengar?"

"Sorry, Hun. But I've never felt mooore alive…" Baekhyun merentangkan tangannya sebelum akhirnya ia memeluk Rose dengan penuh kasih sayang. Lagi-lagi, perempuan yang dipeluk hanya merotasi bola matanya. Serius, Baekhyun menjadi sedikit berlebihan jika ini mengenai mantan-sialan-nya itu.

"Kurasa hanya orang buta yang tidak akan mengira kalian pacaran."

Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang berjalan mendekat. Kyungsoo, begitu ia dipanggil, menggeleng bosan saat melihat tingkah laku dua sahabatnya. Baekhyun menyambutnya riang seraya memberi tempat rekannya itu untuk duduk.

"Satu moccacino untuk Princess Rose..." Kyungsoo menyerahkan sebuah gelas styrofoam ke tangan Rose. "…Dan air mineral untuk Queen Bee." Ia menyerahkan sebotol air mineral pada Baekhyun dengan wajah tak minat.

"Thanks." Baekhyun dan Rose mengatakannya secara bersamaan.

"Aku ketinggalan apa?" tanya Kyungsoo. Terakhir kali sebelum ia pergi ke kantin, Baekhyun terlihat lesu dan merebahkan tubuhnya di kursi taman. Tapi lihat dia sekarang, penuh dengan senyuman misterius seperti dia baru saja melihat musuhnya terpeleset di depan umum.

"Hanya sebuah kabar putus." Rose memberinya jawaban.

Kyungsoo menatap Baekhyun lama, sebelum akhirnya ia memilih untuk tidak begitu peduli. Apapun itu, tidak akan jauh-jauh dari kabar putus seseorang yang Baekhyun benci, Drew. Ia sudah lebih dari tahu karena telah mengenal baik Baekhyun dua tahun ke belakang.

"Tidak berniat mencari yang baru?" Tanya Kyungsoo tiba-tiba. "Atau jangan-jangan kau berharap bisa kembali dengan Drew?"

"No fucking way." Baekhyun menjawab cepat. Ia tidak sebodoh itu dengan kembali ke seseorang yang telah membuatnya menangis semalaman di hari valentine. Bayangan tentang Drew yang mencium Jinyoung di malam pesta tidak akan pernah ia lupakan.

"Aku sedang menikmati kesendirianku." Baekhyun berkata santai.

"Yeah, tapi bokongmu butuh belaian."

"Do Kyungsoo!"

"Ya, itu namaku."

Faktanya, Baekhyun memang sedang menikmati kesendiriannya. Luka membekas yang ia dapat dari hubungan sebelumnya masih terasa sakit. Ia tidak bermaksud menyamaratakan semua laki-laki itu berengsek (karena ia sendiri seorang laki-laki, tolong), hanya saja Baekhyun masih butuh waktu. Ia membutuhkan waktu untuk jatuh cinta lagi.

Atau mungkin tidak, siapa yang tahu?

"Baekhyun, bukankah kau masih ada kelas siang ini?" suara merdu Rose membawa Baekhyun kembali ke realita.

"Oh, shit. Kau benar, Rossie." Baekhyun menyambar tas dan air mineralnya secepat yang ia bisa. Sial, kenapa ia harus lupa dengan yang satu ini. "Kurasa aku harus pergi sekarang, sampai jumpa."

"Dan jangan lupa kau harus masuk kerja nanti sore!" Kyungsoo turut mengingatkan, seiring dengan Baekhyun yang berjalan pergi dengan jari tengah teracung.

"Tentu saja, idiot. Kau pikir aku setua apa?!"


Baekhyun pulang ke rumah barunya saat makan malam telah lewat.

Setelah selesai dengan kuliahnya, ia pergi untuk bekerja di kedai kopi, dan baru bisa keluar sekitar lima belas menit yang lalu. Baekhyun tidak mampir kemanapun, sama halnya dengan Kyungsoo yang berjalan pulang dengannya. Rose tidak bekerja karena ia adalah seorang putri –dia sangat kaya sampai-sampai bisa membeli jiwa orang-orang dikampusnya dan menjualnya pada satan. Jadilah hanya Baekhyun dan Kyungsoo yang berjalan pulang dari kedai kopi dan berpisah di perempatan karena arah pulang yang berbeda.

Semuanya baik-baik saja. Baekhyun sedang menyumpal telinganya dengan headphone yang memperdengarkan satu-persatu lagu yang tengah hits. Semua berjalan sebagaimana mestinya sampai ia menginjakkan kaki ke dalam rumah.

Dan menemukan dua orang pemuda yang sedang bergulat.

"What. The. Hell. Is. Going. On?"

Baekhyun melepas headphone-nya dengan gerakan slow-motion. Bukan tanpa alasan, ia melakukan itu karena dirinya sudah tidak tahu lagi bagaimana menanggapi secara benar dua orang anak manusia yang ada di depannya.

Baekhyun tidak habis pikir. Apa yang tengah Sehun dan Jongin lakukan di ruang tengah dengan saling mengunci tubuh satu sama lain dan bertelanjang dada. Ia tidak tahu. Dan ketika hendak meminta jawaban pada Chanyeol yang justru tengah asyik menonton di sofa, ia hanya mendapat sebuah cengiran jenaka.

"Aku tidak ada hubungannya dengan ini semua. Percayalah." Chanyeol –yang untungnya cukup waras dengan berpakaian lengkap- hanya memberinya jawaban itu sebelum kembali menonton pertunjukkan gulat gratis dengan sebuah pisang di tangan.

Baekhyun mengurut kening. Ia kembali beralih pada Sehun dan Jongin yang masih saling menyeruduki satu sama lain. Tidak bisakah mereka melakukan sesuatu yang lebih produktif?

"Berhenti." Baekhyun memperingatkan mereka berdua.

Belum ada respon.

"Kubilang berhenti, demi Tuhan!" Baekhyun mulai berteriak, namun mereka berdua belum kunjung usai.

Jadi ia pun mengambil ponselnya dan mendekatkannya ke telinga.

"Hallo, polisi? Ya, di sini—"

"Kami berhenti! Kami berhenti!"

Dan Baekhyun tidak pernah merasa lebih baik.

Sekian menit kemudian…

Jongin dan Sehun duduk berdampingan di sofa. Mereka tidak terlihat baik dengan rambut semrawut dan lebam kecil di sekitar wajah. Di seberangnya, duduklah dua orang yang lebih tua. Chanyeol merileks-kan tubuhnya dengan melingkarkan tangan di belakang bahu Baekhyun, lalu di sampingnya, Baekhyun mengurut kening. Ia bahkan belum sempat naik ke kamarnya untuk berganti pakaian.

"Kalian berdua, tolong katakan siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Kenapa aku menemukan dua orang pemuda beranjak dewasa yang sedang saling membunuh satu sama lain –dan seseorang menonton dengan wajah terhibur? Kenapa kalian memilih untuk bergulat dibanding menonton tv dengan tenang? Katakan padaku bahwa ini bukan bagian dari pesta homoskesual." Baekhyun berkata panjang lebar.

"Sudah kubilang jangan buat ibu kalian marah." Ujar Chanyeol pada dua bocah di depannya.

Baekhyun memberinya death-glare. Ia tidak ingat pernah menikah dengan Chanyeol dan punya dua anak. "Siapa yang kau maksud?"

Chanyeol menutup mulut rapat-rapat.

"Kami hanya sedang bermain-main." Jongin akhirnya buka suara.

"Lalu?"

"Lalu Jongin menyikut keningku." Sehun melapor.

"Sudah kubilang aku tak sengaja!" Jongin tak mau kalah.

Baekhyun menatap datar pada keduanya. Berapa umur mereka? Lima? Enam?

"Kuharap kau bisa menjelaskan ini semua." Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang masih duduk dengan santai di sampingnya.

"Satu-satunya hal yang kutahu adalah aku meninggalkan mereka berdua yang sedang menari sambil menonton acara musik untuk mengambil pisang di dapur, dan saat aku kembali mereka sedang saling mengunci satu sama lain." Chanyeol menjelaskan dengan tangan terbuka. Ia tahu dirinya punya alibi yang kuat dalam kasus ini.

Baekhyun menarik napas dengan berat. Chanyeol tentunya lebih tua darinya tapi si idiot ini tidak membantu sama sekali. Baekhyun mulai berpikir sepertinya mereka semua butuh membuat janji dengan psikolog, psikiater, atau apapun itu untuk menolong mental mereka.

"Baiklah baiklah." Baekhyun kali ini menghela napas penuh penghayatan. "Apa Suho hyung tidak ada dirumah?" tanyanya.

Tiga orang lain yang ada di ruangan itu menggeleng cepat.

"Baiklah, kurasa hanya aku satu-satunya orang yang waras di rumah ini, jadi mari kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Aku tidak peduli apapun penyebabnya, baik itu kalian yang sedang mencoba menari dan tak sengaja menyikut satu sama lain, atau kalian sedang mempraktekkan ilmu bela diri kalian, atau mungkin keduanya. Namun yang jelas, tidak boleh ada kekerasan dalam rumah tangga. Oh, kalian membuatku merasa seperti guru di taman kanak-kanak, jadi Jongin, Sehun, mari buat ini menjadi cepat… keberatan untuk saling berjabat tangan dan melupakan apa yang terjadi malam ini?"

Sehun dan Jongin menatap dengan tak minat pada satu sama lain.

"Lakukan atau aku akan menelpon polisi sekarang juga, aku serius."

Melihat Baekhyun yang mengancam dengan sungguh-sungguh, mau tak mau kedua anak itu akhirnya meruntuhkan ego masing-masing dan melakukan seperti apa yang diperintahkan. Mereka berjabat tangan dan saling bergumam cepat.

"M…af…"

"Say sorry, for god's sake!" Baekhyun kembali meninggikan suaranya.

"Ugh." Jongin mendengus sebal, Baekhyun benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang marah sekarang. "Aku minta maaf."

Sehun membalasnya dengan nada tak kalah datar. "Aku juga."

"Nah." Baekhyun menepuk tangannya dengan penuh kesabaran. "Kuharap kalian tidak mengulanginya dan Chanyeol, please…" ia beralih pada pria di sampingnya. "Lain kali tolong lakukan sesuatu pada mereka."

"Apa memukul juga termasuk?" tanya Chanyeol.

"Jika keadaan sudah sangat memburuk, silakan." Baekhyun lalu berdiri, ia berniat untuk membuat pengumuman yang seharusnya didengar baik-baik oleh tiga idiot ini.

"Dengar, mulai dari sekarang, mari kita hidup dengan baik dan damai –dan normal. Yang kumaksud adalah… dengan tidak melakukan hal-hal aneh yang orang awam tidak lakukan. Kurasa kalian sudah punya peraturan sendiri sebelum akhirnya aku masuk ke rumah ini, aku sangat menghargai itu. Tapi sepertinya kita harus sedikit merevisi di bagian "saling menjaga privasi masing-masing" dan hal itu dimulai dengan berpakaian sebagaimana mestinya, dan mengunci pintu toilet saat sedang buang air besar –aku tidak akan mengganggu tontonanmu, Sehun, tenang saja—Selain itu semua, kalian bisa melakukan apapun dengan catatan, jangan libatkan aku dalam masalah." Baekhyun mengambil napas untuk mengatakan kalimat berikutnya. "Mengerti?"

Jongin mengerutkan kening dan berkata pada Baekhyun, "Kau sangat bossy, tapi untungnya wajahmu cantik, jadi kau termaafkan—"

"Kutanya sekali lagi, apa kalian mengerti?"

Ketiga mahluk yang ada di depan Baekhyun seketika mengangguk serempak.

"Bagus. Karena itu yang aku harapkan dari kalian." Baekhyun selesai dengan pidatonya dan beranjak pergi. Namun sebelum kakinya menaiki tangga, ia masih sempat untuk mengatakan satu poin penting pada Jongin.

"Dan aku tidak cantik. Aku tampan."


Di tengah malam, Baekhyun terbangun dengan kerongkongan yang kering. Biasanya, ia menaruh segelas air di samping tempat tidurnya, namun kali ini ia lupa. Maka dari itu, mau tidak mau ia harus turun tangga untuk mengambilnya.

Sebagian lampu telah dimatikan, Baekhyun kira semua orang sudah tertidur. Namun begitu melihat cahaya tv yang begitu terang di ruang tengah, ia berasumsi masih ada yang terjaga. Ketika Baekhyun menghampiri sofa, ia menemukan Chanyeol yang sedang menonton film sendirian.

"Oh, hai babe…" Chanyeol mengubah posisinya menjadi duduk ketika melihat Baekhyun berdiri di samping sofa. "Butuh sesuatu?"

"Yeah, air."

Baekhyun menjawabnya singkat. Pemuda bertubuh pendek itu berjalan ke dapur untuk mengambil apa yang ia inginkan. Tak butuh waktu lama, ia pun kembali ke ruang tengah dengan satu tangan memegang sebotol air mineral.

"Belum tidur?" Ia bertanya pada Chanyeol yang sedang bersantai di sofa. Kakinya tertutup selimut, dan ada beberapa bekas camilan di atas meja, pria ini tidak terlihat seperti akan pergi tidur dengan mudah.

"Sedang menonton film." Chanyeol menjawabnya. "Ingin bergabung?"

Baekhyun membawa pandangannya ke depan televisi. "Film apa?"

"Maze Runner, Death Cure."

"Oh yang benar saja..." ujar Baekhyun. Chanyeol berpikir mungkin anak itu tidak tertarik namun selanjutnya, ia bisa melihat Baekhyun yang memintanya untuk sedikit bergeser karena ia ingin ikut duduk.

"Aku sudah menontonnya. Tapi aku ingin menontonnya lagi untuk melihat apakah aku masih menangis atau tidak." Baekhyun menjelaskan ketika Chanyeol terlihat ingin bertanya. "Aku sudah membaca semua bukunya." Tambahnya lagi.

Chanyeol tersenyum kecil. Ia senang melihat Baekhyun yang mulai merasa nyaman saat mengobrol dengannya. Karena biasanya, orang baru yang sebelumnya menempati rumah ini butuh waktu lama untuk sekedar akrab.

"Kau tahu, mereka biasanya tidak sejinak itu." Chanyeol membuka pembicaraan di tengah-tengah acara menonton mereka. Baekhyun menoleh padanya dengan pandangan tidak mengerti.

"Siapa?"

"Mereka. Sehun dan Jongin. Selain padaku, mereka tidak akan menurut. Jongin bahkan hampir tidak pernah mendengarkan kakaknya sendiri, Suho-hyung."

"Jongin… adik Suho-hyung?" Baekhyun melebarkan matanya seperti karakter dalam komik. Dan Chanyeol memberinya sebuah anggukan mantap sebagai jawaban.

"Mereka terlihat…uhm, berbeda." Baekhyun berkata jujur.

Chanyeol tertawa kecil. "Percaya atau tidak, mereka terlahir dari rahim yang sama."

Baekhyun menggeleng tak puas. Namun itu setidaknya menimbulkan pertanyaan lain dalam benaknya. "Apa aku sudah bertemu semua penghuni rumah ini? Maksudku, mungkin saja ada yang masih belum kutemui karena di lantai atas ada satu kamar kosong yang sepertinya masih terawat."

Chanyeol mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuk. "Hmmm… coba kuingat-ingat lagi. Sehun, Jongin, Suho-hyung… semuanya sudah lengkap."

Baekhyun memberinya tatapan prihatin. "Kenapa kau bertingkah seakan-akan kau menghitung puluhan orang…." Ia menghela napas. "Kau yakin tidak melewatkan seseorang? Anjing peliharaan misalnya."

"Hmm… sebenarnya ada satu orang lagi. Tapi dia sudah lama meninggal."

Wajah Baekhyun seketika berubah menjadi terkejut. "Kau serius?"

Chanyeol mengangguk-angguk. "Ya, kecelakaan mobil."

Baekhyun menaruh tangannya di depan mulut. Ia turut berduka cita atas apa yang menimpa orang itu. Dan sesaat, ia pun merasa menyesal karena secara tidak langsung telah membangkitkan kenangan buruk bagi penghuni rumah ini.

"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa." Ujarnya pada Chanyeol.

"Bukan masalah, lagipula dia orang yang menyebalkan."

Dan sekarang Baekhyun tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

Tapi sudahlah, ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam obrolan canggung. Lagipula mereka sedang menonton, seharusnya mereka lebih fokus dalam mengamati jalannya film.

"Kau tidak ada kelas pagi besok?" Chanyeol kembali membuka obrolan ketika Baekhyun sedang larut dalam film. Pria itu takut kalau-kalau si mungil tidur terlalu larut dan bangun terlamat pagi harinya.

"Tidak ada, tenang saja. Aku sedang bebas untuk bangun siang." Katanya.

Selanjutnya, mereka berdua melewatkan menit demi menit tanpa obrolan. Hanya menonton film, itu saja. Chanyeol sebenarnya masih meiliki banyak pertanyaan karena ia ingin mengenal Baekhyun lebih dekat, namun Baekhyun terlihat sangat asyik dengan dunianya, si tinggi enggan mengganggu. Dan Baekhyun pun sama, ia masih memiliki banyak pertanyaan mengenai rumah ini, namun ia memilih untuk menyimpannya dan akan menyuarakannya di lain waktu. Ia takut Chanyeol terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan remehnya.

Mereka berdua memilih untuk menonton dengan tenang. Padahal sebenarnya, ini adalah satu cara untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Namun karena mereka berdua telah terlanjur berasumsi masing-masing, maka terpaksa kesempatan itu harus terlewatkan.

Well, mungkin lain kali.

Lain kali mereka bisa saling bertukar pikiran di sela keheningan malam.


.

.

.

Tbc

.

.

.


Rose itu Rose Blackpink ya, hehe. Kalau Drew murni oc.

Saya masih butuh banyak belajar, jadi kritik dan saran selalu ditunggu buat kemajuan fanfik ini. Kalian bisa share masukan atau apapun soal penulisan. Saya bakalan sangat mengapresiasi sebagaimana saya mengapresiasi Chanbaek sebagai couple real *yeah!

Seeya!