It's Ke-ri-seu


Tiga hari tiga malam total waktu yang telah Baekhyun habiskan di rumah barunya. Ia mulai terbiasa dengan tempat itu dan orang-orang di dalamnya, meski nyatanya Baekhyun belum memaklumi sepenuhnya kebiasaan-kebiasaan aneh mereka. Suho masih belum pulang, Baekhyun mengartikan bahwa omongan Chanyeol benar adanya. Walaupun ia merasa heran apa saja yang dilakukan si editor itu sampai-sampai melupakan rumahnya sendiri. Atau mungkin Suho hanya muak dengan penghuni rumah dan membiarkan Baekhyun menikmati neraka sendirian? Entah.

Sehun masih menonton bis kecil Tayo. Belakangan Baekhyun ketahui jika tayangan itu berbenturan dengan jadwal kuliah Sehun, anak itu akan merekamnya dan menontonnya untuk nanti. Baekhyun merasa itu cukup imut, tapi disisi lain ia ingin sekali mengatakan pada Sehun bahwa di zaman ini, Youtube sudahlah eksis, jadi ia tak perlu repot-repot untuk menonton di tv.

Jongin dan Chanyeol tidak terlalu banyak tingkah akhir-akhir ini. Selain berjalan-jalan di sekitar rumah dengan hanya mengenakan bokser, lainnya tidak ada. Baekhyun pikir itu masih bisa ditolerir. Ia hanya merasa aneh, apa kedua orang itu memang alergi dengan pakaian atau semacamnya? Karena Baekhyun merasa yakin bahwa bertelanjang dada sepanjang hari bukanlah sesuatu yang membuatmu sehat.

"Baekhyun?"

Oh, ngomong-ngomong soal Chanyeol, itu suaranya.

Baekhyun berbalik dengan botol mayo di tangan. Ia dan tiga teman serumahnya tengah sarapan di halaman belakang rumah –ini salah satu tradisi mereka, kata Sehun. Baekhyun tidak berpikir ini sesuatu yang buruk, ia menyukainya.

"Ya?" tanyanya pada Chanyeol.

"Kurasa aku mendengar suara bel berbunyi. Kenapa tidak kau lihat siapa dia dan menendang pantatnya karena telah bertamu sepagi ini?"

Baekhyun menaruh botol mayo di atas meja kayu, dan menatap Chanyeol jengah. Sebenarnya ia tidak suka disuruh-suruh. "Kupikir itu bukan ide yang bagus untuk menyambut seorang tamu dengan tendangan."

"Mungkin kau bisa menamparnya." Jongin berkomentar sambil menyantap telur gorengnya dengan tenang.

Baekhyun menampar belakang kepalanya sebagai hadiah. "Jangan ikut-ikutan."

"Sorry Mom."

"Dan aku bukan ibumu!" Baekhyun kembali menampar tengkuk Jongin sebelum dirinya akhirnya memutuskan untuk mengecek siapa yang bertamu.

Pemuda bertubuh pendek itupun membuka pintu yang masih terkunci pagi itu. Ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, ia menemukan seorang pria tengah berdiri dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.

"Se—" Baekhyun berniat menyapa namun ia terpaksa berhenti di suku kata pertama karena pria itu langsung memotong ucapannya.

"Katakan padaku kenapa aku harus menunggu lama untuk masuk ke rumahku sendiri?" tanya pria itu seraya membuka kacamata hitamnya. Baekhyun sedikit kaget karena orang ini berbahasa Korea dengan fasih, ia tidak terlihat seperti orang Asia ngomong-ngomong . Irisnya yang berwarna gelap sangat padu dengan warna rambutnya yang keemasan. Dan setelah melihat keseluruhan wajahnya, Baekhyun berasumsi pria ini hasil produk campuran dari Asia-Amerika. Tingginya lumayan, sedikit lebih tinggi dari Chanyeol, dan lagi—

Tunggu, apa barusan dia mengatakan sesuatu semacam "rumahku"?

"Maaf?" tanya Baekhyun.

"Permintaan maaf diterima." Pria itu melenggang masuk. Meninggalkan Baekhyun yang masih kebingungan di tempatnya.

Pria –yang untungnya cukup tampan—itu masuk ke dalam dan melempar tas bawaannya ke sofa. Ia duduk di sana setelahnya, menyilangkan kaki dengan kedua tangan terbuka. Baekhyun terus mengobservasi dari ujung sepatu hingga ujung rambut, namun ia masih belum paham siapa orang ini.

"Emmm… kurasa kau salah… apa mungkin kau salah rumah?" Baekhyun memberanikan dirinya untuk bertanya. Seingatnya tidak ada lagi penghuni rumah lain yang belum pernah ia temui. Kecuali orang yang sudah meninggal kemarin-kemarin, seperti yang Chanyeol kisahkan. Sisanya tidak ada.

Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun, pria ini justru kembali bertanya. "Kenapa mereka merekrut pembantu baru tanpa seizinku?"

Apa yang dia maksud itu aku?

"Eum Tuan… Tuan siapapun-namamu-terserah, kurasa kita harus meluruskan sesuatu disini. Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun. Dan aku adalah penghuni di rumah ini, penghuni baru… jadi, apa anda tidak keberatan untuk mengatakan nama anda?"

Baekhyun sudah sangat muak dengan rekan serumahnya yang lain, dan ia tidak mau pria ini menambah beban pikirannya dengan bertindak seenaknya.

"Namaku Kris." Pria itu mengatakannya sambil menatap langsung mengenai kedua mata Baekhyun.

"Chris?" tanya Baekhyun.

"Nahh…nahh... it's Kris. Ke-ri-seu, bitch. Aku ingin membuatnya terdengar seperti nama Korea."

"Oh."

Pria yang lebih pendek menggaruk keningnya dengan bingung. Tapi baiklah, setidaknya sekarang dia tahu nama orang ini. "Barangkali—"

"Jadi namamu Baekhyun?" Pria itu kembali mendahului sebelum Baekhyun berucap. Dan si pendek hanya bisa mengangguk bingung setelahnya.

"Well, Baekhyun. Tolong panggilkan yang lain untuk berkumpul, bilang pada mereka Daddy sudah pulang." Ujarnya dengan santai. Baekhyun mengangkat jari telunjuknya untuk bertanya, namun Kris cepat-cepat memotongnya. "No question, dear."

Pada akhirnya, Baekhyun hanya bisa bungkam dengan kerutan di kening yang berlipat. Dan daripada mengatasinya sendirian, ia pikir pergi ke halaman belakang untuk memberitahu yang lain bukanlah ide buruk. Mungkin setidaknya Chanyeol bisa menangani masalah ini, semoga.

"Chanyeol?" Baekhyun berdiri di pintu belakang dengan tangan yang menunjuk ke belakang punggungnya. "Ada orang aneh yang datang dan dia mengaku tinggal di sini. Apa kau bisa menanganinya selagi aku menelpon kantor polisi?" katanya setengah berkelakar.

Tapi jika mempertimbangkan kembali orang aneh tersebut, Baekhyun bisa saja benar-benar melaporkannya ke polisi.

"Huh? Siapa?" Tanya Chanyeol yang mulai berdiri dari kursinya. "Tidak boleh ada orang yang mengganggu acara sarapan keluarga kita, sayang."

Baekhyun ingin muntah saat mendengar kalimat terakhir Chanyeol, namun ia tahu bahwa ini bukan situasi yang tepat. "Dia meminta kalian semua untuk berkumpul dan mengatakan bahwa Daddy sudah pulang. Serius, aku tidak tahu dia kabur dari rumah sakit jiwa mana, kalian harus melihatnya." Lapor Baekhyun.

Sehun dan Jongin yang sebelumnya acuh kini terlihat saling berpandangan. Mereka kemudian menghentikan aktivitas dengan segera, dan menyusul Chanyeol yang telah lebih dulu berjalan masuk ke dalam rumah. Baekhyun hanya mengendikkan bahu sebelum akhirnya ia pun ikut masuk.

"Wow, lihat siapa yang datang!" Itu adalah kalimat pertama Chanyeol ketika menemui Kris yang tengah duduk santai di sofa.

"Brother." Kris menyapa ketika Chanyeol duduk di seberangnya. "Where's my kids?"

Chanyeol menunjuk dagunya pada dua orang pemuda yang baru saja bergabung. Sehun dan Jongin terlihat berdiri dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

Baekhyun yang turut melihat itu semua hanya bisa menggaruk kening dengan bingung. Ia berdiri layaknya figuran di pinggir dan memutuskan untuk tidak dulu membuka mulutnya meskipun ribuan pertanyaan mulai muncul di benaknya. Salah satu pertanyaan itu adalah, "Apakah Kris adalah ketua dari orang-orang gila ini?"

"Kemari kalian, sialan. Daddy butuh pelukan selamat datang." Kris mengisyaratkan Sehun dan Jongin untuk mendekat, namun keduanya enggan untuk berpindah tempat.

"For the last goddamn time…" Jongin bergumam.

"…we're not your fucking kids." Sehun melanjutkan.

Kris terlihat mengurut pangkal hidungnya sebelum ia kembali berucap dengan tenang. "Aku membawa oleh-oleh untuk kalian."

"Hai Dad, kami tadi hanya bercanda."

Baekhyun nyaris terjatuh dari tempatnya berdiri.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Ia membuka matanya lebar-lebar pada Sehun dan Jongin yang mendadak merubah raut wajah dan mendekat pada Kris. Dua bocah itu mulai menginvasi tas yang berada tak jauh dari Kris dan membukanya dengan antusias.

"Chanyeol, what the fuck?" Baekhyun akhirnya tidak tahan dan menyuarakan pikirannya. Entah kenapa ia merasa Chanyeol memiliki hutang penjelasan padanya untuk situasi ini.

"Oh, hampir saja melupakanmu. Kemarilah." Chanyeol menepuk bagian sofa yang kosong untuk Baekhyun duduki. Yang dipanggil tidak berkomentar kali ini, ia hanya menurut meski tatapan bingung masih tergambar di wajahnya dengan jelas.

"Kris, dia adalah Baekhyun. Dan Baekhyun, perkenalkan, dia Kris Park. Dia juga tinggal di rumah ini, kamarnya ada di lantai atas."

"Bukannya kau bilang aku sudah bertemu dengan semua penghuni rumah?" Baekhyun bertanya tak mengerti. "Kecuali orang yang sudah meninggal itu."

"Sebenarnya orang itu adalah dia." Chanyeol menunjuk pada Kris dengan matanya. Sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dia katakan.

Kris memberinya tatapan jengah. "Kau harus berhenti mengatakan pada orang lain bahwa aku sudah meninggal."

"Atau kau memang aslinya sudah meninggal. Namun satan tidak membutuhkanmu, jadi ia mengembalikanmu dari neraka." Kata Sehun.

Hanya Chanyeol, Jongin, dan Sehun yang tertawa. Kris menggeleng pasrah. Dan sisanya Baekhyun, ia menganga lebar dengan kedua bola mata tak berkedip. Astaga, dia tidak pernah tahu bahwa orang-orang ini punya selera humor yang ektrem.

"Oke, apa hanya aku di sini yang tidak menganggap ini lucu?" tanya Baekhyun.

"Aku bersamamu." Kris mengangkat telunjuknya.

Baekhyun beralih pada Chanyeol. Sebelum dirinya hendak bertanya, Chanyeol telah berbisik lebih dulu. "Percayalah dia pantas diperlakukan seperti itu. Dia tidak pernah mengenal kata "baik" seumur hidupnya."

"Hah?"

"Biar kuberitahu sesuatu. Dia itu sebenarnya psikopat. Dia yang tidak menjegalmu saat pertama kali kalian bertemu adalah sesuatu yang aneh."

"Apa ini bentuk lawakan yang lain?" Baekhyun kurang percaya.

"Apa dia tidak terlihat seperti seorang psikopat bagimu?"

Baekhyun kemudian melirik Kris diam-diam. Dan entah kenapa dia mulai menyadarinya. Ia sedikit merinding saat melihat senyum –atau mungkin seringai- yang ada di wajah Kris kala menatap Sehun dan Jongin yang tengah mengeluarkan barang-barang di tasnya.

"Kurasa kali ini aku setuju." Baekhyun kembali berbisik pada Chanyeol. Dan secara tiba-tiba, ia ingat suatu hal. "Sebentar, apa tadi kau mengatakan namanya Kris Park?"

Chanyeol memberinya anggukan mantap.

"Dan dia memanggilmu brother?"

Chanyeol mengangguk kuadrat.

"Are u fooking kidding mehh? Jangan bilang kalian bersaudara!"

"Dia kakakku."

Baekhyun meraup udara dengan brutal. Tangannya secara otomatis berada di pinggang. "KATAKAN PADAKU KENAPA KALIAN SEMUA BEGITU SINTING?"

Chanyeol membentuk pertahanan diri dengan kedua tangan di depan dada. "Wow, tahan sayang, tahan. Dia bukan kakak kandungku, aku bersumpah. Aku tidak tahu apa-apa soal ini, salahkan saja orangtuaku. Dia diadopsi oleh orangtuaku tiga tahun sebelum aku lahir."

"Dan itu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku sebelum gumpalan sperma ini keluar dan mengacaukan segalanya." Kris kali ini turut serta ke dalam pembicaraan dengan matanya yang menunjuk pada Chanyeol.

Baekhyun mulai bertanya-tanya, sebenarnya hubungan persaudaraan macam apa yang mereka jalin?

"Jadi kalian bukan saudara kandung? Oke, kalian memang tidak terlihat mirip." Nada suara Baekhyun mulai terdengar tenang. "Sekarang aku juga mulai kembali meragukan status adik-kakak Jongin dan Suho hyung."

Jongin yang tengah mencoba sebuah t-shirt, mengerang frustrasi. "Oh, ayolah. Apa kau juga akan mengira kalau ibuku berselingkuh dengan tukang kebun di rumahku?"

"Kau yang mengatakannya, bukan aku." Baekhyun membela diri.

"Ngomong-ngomong," Kris mengangkat kedua kakinya ke atas meja. "Dimana yeobo-ku? Aku belum melihatnya."

Chanyeol menaikkan bahunya. "Kau tahu sendiri, kerja."

"Baiklah, sekarang aku penasaran siapa itu yeobo?" Baekhyun bertanya pada Chanyeol dengan tak sabar. Si tinggi yang duduk di sebelahnya mengatakan sebuah nama tanpa suara. Namun Baekhyun bisa menebaknya dengan jelas dari isyarat bibir yang dia buat.

Su-Ho.

Baekhyun merasa dirinya harus mulai mempelajari silsilah keluarga berantakan ini.

"Hallo, yeobo?" Kris mendekatkan handphone-nya ke telinga. Dia menelpon Suho.

"Kenapa aku tidak menemukanmu di rumah? Kau kerja lembur lagi hm? Aku tidak sedang dalam mood untuk phone-sex, jadi cepatlah pulang dan berikan aku blow job… Apa? Kau juga menganggapku sudah meninggal? Kenapa orang-orang suka sekali dengan lawakan ini? Pokoknya cepat pulang dan tinggalkan pekerjaanmu, aku sudah menyuruhmu untuk berhenti. Aku cukup kaya untuk menghidupimu dan Zixuan, dan bahkan perempuan mantan pacarmu itu… Apa? Pergi ke neraka? Kau tahu sendiri satan bahkan tidak menginginkanku. Hallo? Hallo? Yeobo?"

Sekali lagi, Baekhyun melirik Chanyeol dengan raut wajah penuh tuntutan. Pria di sampingnya itu memberi senyuman hangat sebelum kembali berbisik.

"Kris punya kebiasaan unik yaitu melabeli orang lain. Anaknya, istrinya, dan jangan khawatir karena kau akan mendapat bagianmu sendiri nanti. Mungkin dia akan menganggapmu adik ipar."

"Oh, God…"

Baekhyun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar dan berharap Tuhan senantiasa menolongnya untuk menghadapi orang-orang gila ini.

Amen.


"Kenapa wajahmu kusut sekali? Kau tidak suka kuajak ke perpustakaan?"

Kyungsoo mengalihkan matanya yang semula berfokus pada aksara di buku pada rekannya yang sedang menunduk lesu, Byun Baekhyun.

"Seharusnya pertanyaan itu kau tujukan pada dia." Baekhyun melempar pandangan pada satu-satunya perempuan yang duduk bersama mereka. Rose.

"Mungkin kalau tempat ini dilengkapi dengan fasilitas karaoke, aku bisa lebih nyaman." Rose mengendikkan bahunya. Ia tak suka perpustakaan, dan kedua temannya tahu betul akan hal itu.

"Tahan saja sebentar. Kau bisa membaca buku resep masakan jika filsafat terlalu berat untuk otakmu." Ujar Kyungsoo.

Rose mengangkat satu tangannya. "Kau mau kutampar?"

Kyungsoo angkat bahu. Ia lalu kembali beralih pada Baekhyun yang wajahnya tidak pernah lebih baik sejak berangkat kemari satu jam yang lalu. Biasanya ia adalah orang yang cukup antusias saat diajak ke perpustakaan di kampus, tapi kali ini ada yang berbeda.

"Apa ini tentang rumah barumu?" tanya Rose penuh selidik. Baekhyun memejamkan matanya cukup lama sebelum membuka mulut.

"Tidak ada masalah dengan rumahnya, tempat itu sangat nyaman. Ada halaman belakang, kolam renang, atap yang sangat luas untuk sekedar menjemur baju, semuanya."

"Lantas?"

"Yang jadi masalah adalah orang-orang gila di dalamnya." Baekhyun mengambil napas dalam-dalam. "Sekarang mereka bertambah satu orang."

"Baek, mungkin kau hanya belum bisa beradaptasi dengan mereka. Ini bahkan belum sampai satu minggu dan kau sudah mengeluhkan hal ini itu. Coba saja dulu berbaur dengan mereka, aku tahu awalnya pasti sangat sulit." Kyungsoo menasehatinya. Meski cukup sassy, tapi setidaknya Kyungsoo adalah yang paling bijak diantara mereka bertiga. Mungkin fakultas hukum yang ia diami sedikit banyak berpengaruh dalam karakternya ini.

"Mungkin kau benar, tapi mungkin kau juga salah. Aku masih mempelajari kebiasaan mereka." Baekhyun benar-benar tidak punya ide untuk mengungkapkan perasaannya. "Aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan mereka secara emosional, aku mencoba terbiasa, tapi kalian tahu apa? Mereka bahkan mengetuk pintu kamarku ramai-ramai di malam hari hanya untuk menanyakan apakah kura-kura bisa tidur atau tidak."

Rose menahan tawanya untuk tidak meledak-ledak. "Serius? Mereka melakukan itu?"

Baekhyun membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang bersidekap di meja.

Kyungsoo terlihat berempati. "Kau sudah bilang ibumu?"

"Mana mungkin!" Baekhyun menyanggahnya dengan segera. "Jika aku mengadukan kelakuan teman-teman serumahku, ibuku hanya akan panik dan aku tidak mau itu terjadi. Aku sudah cukup banyak merepotkannya dengan memintanya mencari rumah sewa baru untukku."

"Yeah," Kyungsoo mengangguk dan menarik kesimpulan. "Kurasa satu-satunya jalan keluar sekarang adalah kau harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barumu. Jangan buat dirimu menjadi stress, nikmati saja."

"Kedengarannya cukup mudah tapi kenyataannya cukup sulit untuk dilakukan." Baekhyun mendengus.

"Hey, teman-teman, aku dapat undangan." Rose nyaris berteriak kalau saja ia lupa bahwa dirinya masih berada di perpustakaan. Ia baru saja membaca pesan yang masuk lewat handphone-nya, dan raut wajahnya berubah menjadi penuh antusias.

"Malam ini ada pesta di apartemen Jennie. Kalian ikut?"

"Jennie Kim? Kenapa mendadak?" tanya Kyuungsoo.

"Memangnya ada berapa Jennie yang kau kenal? Dan ini tidak mendadak, dia hanya baru sempat memberitahuku."

"Well, yang kutahu ada Jennie Kim, Jennie Chow, Jenifer—"

Rose menyetop seketika saat Kyungsoo hendak mengatakan Jennie Jennie lainnya. "Jennie Kim Ketua redaksi di klub jurnalistik, kau mengenalnya. Kalian berdua mengenalnya."

"Oh."

"Itu bagus, kurasa aku sedang butuh hiburan akhir-akhir ini." Baekhyun memberi sinyal persetujuan. "Kau ikut kan, Dokyung?"

"Memangnya aku punya pilihan lain?" Kyungsoo merotasi bola mata.

"Baiklah kalau begitu, nanti malam aku akan menjemput kalian setelah shift kerja kalian habis. Apa aku perlu membawa baju ganti?" tanya Rose.

"Tidak perlu. Kami hanya perlu menyemprot parfum dan pergi."

"Ugh, tipikal laki-laki."

Baekhyun mengendikkan bahu dengan senyum jenaka. Sejenak ia melupakan stress tentang orang-orang di rumahnya saat bercanda dengan Kyungsoo dan Rose. Namun hal itu tidak bertahan lama karena secara tidak sengaja, matanya menangkap sesuatu yang cukup familiar.

Tidak, sangat familiar. Karena ini adalah tentang sosok yang kerap kali mengganggunya akhir-akhir ini, yang seringkali salah menganggap bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Oh, Baekhyun ingin sekali membalikkan badannya. Namun sebelum hal itu sempat ia lakukan, semuanya sudah terlambat.

Park Chanyeol sudah berdiri tepat di depan mejanya.

"Hai Baekhyun—"

"Ugh, maaf, sepertinya kau salah orang." Baekhyun memotongnya dengan cepat. Ia lantas beralih pada Kyungsoo dan Rose. "Teman-teman, kita harus pergi."

Dua sahabatnya saling bertukar pandang karena bingung.

Chanyeol tersenyum miring atas kelakuan bocah di hadapannya, ia pun secara sengaja menggoda Baekhyun lebih jauh.

"Babe…"

"Oke, stop. Kau dan aku, mari kita bicara disana." Baekhyun secara spontan berdiri dan mengajak Chanyeol untuk bicara di balik rak buku yang tak begitu jauh dari tempatnya duduk sekarang.

"Kenapa?" tanya Chanyeol. Baekhyun tidak langsung memberinya jawaban, melainkan hanya menarik lengan Chanyeol dan membawanya ke tempat yang cukup aman untuk mereka berdua berdiskusi tanpa terdengar oleh dua sahabat si mungil.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" Baekhyun langsung menyerangnya saat mereka berdua menjauh dari Kyungsoo dan Rose.

"Menyapamu? Dan mungkin aku bisa berkenalan dengan teman-temanmu? Tunggu, siapa perempuan yang ada di sana? Dia bukan pacarmu, kan?"

"Kalau iya memang kenapa? Seingatku itu sama sekali bukan urusanmu."

"Kalau begitu aku hanya perlu memastikannya…" Chanyeol hendak berjalan ke arah Rose namun Baekhyun cukup cepat untuk menariknya kembali.

"Baiklaaaaah, dia bukan pacarku. Kau puas?"

Chanyeol tersenyum dengan kedua alis terangkat. "Itu yang ingin aku dengar."

Baekhyun menaruh kedua tangannya di pinggang, ia meniup poninya dengan penuh rasa frustrasi. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa lagi yang orang lakukan di perpustakaan selain membaca buku?" tanya Chanyeol.

"Oh, atau mungkin seseorang sedang menguntit, siapa yang tahu?"

Chanyeol tidak langsung membalasnya. Pria itu menyilang kedua tangannya dan bersandar di rak buku. "Aku seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang mencoba menyelesaikan kewajiban. Dan aku butuh banyak referensi, dan tempat ini tidak terlihat buruk." Ia menjelaskan situasinya.

"Aku terima itu. Tapi bisakah kita berpura-pura tidak saling mengenal setidaknya di kampus?"

Chanyeol menatapnya lama tanpa kata-kata. Sesaat, Baekhyun merasa menyesal telah mengatakan sesuatu hal yang tidak ia pikirkan dahulu sebelumnya. Akan tetapi sekarang sudah terlambat untuk meminta maaf.

"Okay." Chanyeol menerimanya tanpa perlawanan.

Baekhyun melipat bibirnya ke dalam. Ia merasa lega akan hal itu, namun sekaligus merasa bersalah. Ia tahu dirinya egois. Baekhyun hanya tidak ingin teman-temannya tahu kalau dirinya saling berhubungan dengan orang aneh ini. Ya, menurut Baekhyun, Chanyeol sangatlah aneh.

"Tak apa, aku mengerti. Kita masih bisa saling berbicara di rumah, bukan?" Chanyeol menepuk-nepuk lengan Baekhyun dengan halus. Dan Baekhyun berharap Chanyeol benar-benar mengerti.

Mereka berdua akhirnya membubarkan diri. Baekhyun kembali pada dua rekannya yang masih duduk bersama –dengan pandangan bingung. Sementara Chanyeol melambaikan tangan pada mereka dan sebelum pergi, ia sempat berkata dengan santai,

"Maaf, aku salah orang. Dia benar-benar mirip pacarku."

Baekhyun ingin sekali melemparnya dengan kamus tebal.


.

.

Tbc

.

.


Chapter pendek :( but i hope u guys enjoyed it. Makasih selalu buat support kalian, semoga gak bosen2 baca ff ini hehehehe. Sampe jumpa lagi minggu depan (maybe?)