Never Again
Malam hari sesuai rencana, Baekhyun dan kedua sahabatnya pergi ke pesta untuk bersenang-senang. Ia tidak ingin repot-repot memberitahu orang di rumahnya karena dirinya membawa kunci, dan itu artinya ia bisa pulang kapan saja tanpa membangunkan orang lain. Lagipula ia sudah dewasa, tidak perlu segala meminta izin untuk sekedar pergi dan pulang terlambat.
"Kelihatannya cukup ramai." Baekhyun langsung berkomentar saat mereka melewati pintu masuk. "Apa dia mengundang seluruh teman satu angkatan kita?"
"Jangan berlebihan, ini tidak lebih dari jumlah mahasiswa manajemen dan sastra yang digabung." Kyungsoo menanggapi. Baekhyun menyikutnya.
"Kau tidak tahu hiperbola, huh?"
"Alright alright!" Rose berdiri di tengah-tengah mereka sembari melingkarkan tangan di bahu dua pemuda tersebut. "Kita kemari untuk bersenang-senang, jangan lupakan itu."
"Kurasa tidak juga." Kyungsoo berjalan dengan tangan bersilang di dada. Ia mengisyaratkan dua rekannya untuk mengikuti arah pandangannya. Tepat pada sekumpulan lelaki yang tengah duduk di sofa.
"Oh fuck." Baekhyun seketika mengalihkan penglihatannya ke arah lain. Matanya mendadak iritasi. Ia baru saja melihat mahluk yang paling tidak ingin ditemuinya dimanapun, Drew. Ewh.
"Wow, aku tidak tahu kalau dia akan ada disini." Rose berterus terang.
"He's the biggest party animal." Baekhyun menginformasikan. "Aku mempelajari kebiasaannya saat masih bersamanya."
Baekhyun mengatakannya dengan penuh emosi, yang mana mengindikasikan bahwa ia masih memiliki perasaan yang abstrak terhadap mantan pacarnya tersebut. Dan itu bukanlah hal yang baik. Kemarahan, kebencian, dan yang sejenisnya hanya akan membuat Baekhyun terlihat bahwa ia masih peduli. Kyungsoo tahu akan hal itu, dan ia berniat untuk memperingatkan Baekhyun sekarang.
"Baiklah, Baekhyun." Ia mulai meninggikan kedua alis tebalnya. "Kau ingat peraturannya bukan?"
Baekhyun memutar bola matanya, ia sudah mengira Kyungsoo akan mengatakan ini. Ia pun mulai menghitung, pertama, dengan jari telunjuknya. "Satu, jangan angkat teleponnya karena dia hanya sedang mabuk dan kesepian. Dua, jangan biarkan dia masuk ke dalam kehidupanku. Jika dia melakukannya, aku harus menendangnya keluar. Ketiga, jangan berteman dengannya atau aku hanya akan berakhir di tempat tidurnya pada pagi hari."
"Aku lebih suka jika kau menyanyikannya." Rose berkata dengan nada menghibur. Baekhyun mendengus.
"Well, sepertinya aku harus memperingatkanmuu peraturan darurat untuk masalah yang krusial ini." Kyungsoo melirik Drew yang jauh di sana, dan mengembalikan perhatiannya pada Baekhyun. "Jangan bicara dengannya selama di pesta."
Baekhyun seketika membuat gestur hormat dengan kedua jari di ujung pelipis. "Ayey, Kapten."
"Kalian terlalu serius dalam menangani hal ini." Rose mulai jengah dengan kedua temannya yang masih berdiskusi daripada mulai berbaur dengan orang-orang di pesta. Jika begini terus, mereka akan kehilangan banyak waktu.
"Ini masalah serius, Rossie. Aku hanya tidak mau melihat Baekhyun menangis semalaman dan menjadikanku sebagai samsak tinju hanya karena dia tidak bisa memukul Drew secara langsung. Kau tidak tahu saja bagaimana sakitnya."
"Ya ampun, kukira kau benar-benar peduli padaku." Baekhyun menatap Kyungsoo dengan pandangan terluka.
"Jangan bercanda Baekhyun, tentu saja aku lebih peduli pada diriku sendiri."
"Kurasa aku akan pergi sekarang, sampai jumpa." Rose menggeleng kepalanya dan berjalan pergi. Tidak peduli dengan drama bodoh yang tengah diperankan kedua rekannya.
"Rossie, tunggu!"
Baekhyun dan Kyungsoo memutuskan untuk menyusulnya di belakang.
Pada dasarnya semua pesta selalu sama. Deru musik yang kencang, orang menari meliuk-liuk, mabuk, dan jika beruntung maka bisa menemukan kenalan dan berakhir di ranjang. Untuk yang terakhir, Baekhyun tidak terlalu setuju. Dia bukan tipikal manusia yang butuh seks hanya untuk satu malam –apalagi dalam keadaan mabuk. Baekhyun memang senang pergi ke pesta, namun ia tetap menghindarkan dirinya dari seks bebas dan drugs. Meski kerap kali beberapa kenalannya menawari Baekhyun untuk sekedar mencoba. Namun untungnya, akal sehat Baekhyun masih berfungsi untuk sekedar menolaknya. Bukan karena hal-hal tersebut jelas dilarang, akan tetapi dia memang tidak terlalu membutuhkan drugs, dan juga… seks lebih enak dilakukan dengan orang yang benar-benar kau inginkan bukan?
Ngomong-ngomong tentang kehidupan seks, Baekhyun tidak terlalu awam dengan hal ini. Mungkin wajahnya memang terlihat polos, terlihat imut, terlihat seperti remaja belasan tahun yang tidak pernah menjelajah pornhub, tapi itu omong kosong. Baekhyun sudah tidak perawan –uhh oke, bagaimana mengatakannya? Tidak perjaka mungkin. Baekhyun sudah pernah mencicipi penis di rongga mulut dan bahkan bokongnya. Bukan berarti ia pecandu seks bebas, Baekhyun bersumpah bahwa ini hanya ia lakukan dengan satu orang.
Lalu sekarang, ia hanya bisa menyesal.
Ia menyesal karena seks pertamanya dilakukan bersama dengan Drew, mantan kekasih yang sekarang ia benci. Mungkin saat pertama kali, Baekhyun merasakan bahwa seks begitu nikmat, namun tidak lagi sampai ia menemukan bahwa Drew adalah seorang bajingan. Walaupun otaknya bersikukuh untuk melupakan, namun raganya tidak demikian. Banyak orang mengatakan bahwa first sex adalah suatu hal berarti yang tidak mungkin tidak berkesan. Baekhyun ingin menyangkal hal tersebut dan membuat pengecualian, namun sejauh ini ia belum menemukan pembanding yang layak. Ia masih terhenti di tempat yang sama.
Semakin gigih usahanya untuk melupakan, semakin giat pula bayang-bayang masalalu menghantuinya. Bukan bermaksud untuk mendramatisir, tapi hidup memang terkadang se-drama itu.
"Minum?"
Kembali pada Baekhyun yang masih mencoba berbaur dengan orang-orang di pesta. Ia mengambil gelas plastik merah yang ditawarkan Kyungsoo dan kembali melirik kanan kiri. Berusaha menemukan tempat yang nyaman karena ruangan ini terasa terlalu panas.
"Mungkin aku akan keluar." katanya.
Kyungsoo mendekatkan telinganya. "Apa?"
"Kurasa aku akan pergi keluar." Baekhyun meninggikan suaranya karena mereka terlalu dekat dengan DJ. Ia melihat keluar melalui pintu kaca, disana tidak terlalu padat seperti di ruangan ini.
Kyungsoo mengangguk setelahnya. Ia tidak berniat menemani Baekhyun karena tengah berbincang dengan salah satu teman di kelasnya. Sementara Rose tengah sibuk bersenang-senang dengan Jennie si tuan rumah. Baekhyun pun tidak ingin mengganggu dua teman dekatnya dan mencoba mencari kesenangannya sendiri.
"Pheeww.." Baekhyun menghembuskan napas panjang ketika berhasil keluar dari kerumunan orang dan berdiri di pinggir kolam renang. Oh, dia bahkan baru sadar bahwa ada kolam renang pribadi di sini. Jennie pasti sangat kaya karena menempati hunian mewah ini hanya untuk dirinya seorang.
Tak butuh waktu yang lama bagi Baekhyun untuk berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Ia memang banyak mengenal sebagian orang di sini dan itu sedikit membantu untuk menyesuaikan diri. Baekhyun kini tengah asyik bergabung dengan sekelompok mahasiswa lokal yang sedang bersantai dan mengobrol bebas karena musik tidak terlalu terdengar keras di sini.
"Rokok?" salah satu dari mereka menawarinya dengan murah hati. Baekhyun menggeleng sopan.
"Aku tidak merokok." Katanya. Baekhyun kadang mencobanya sesekali, dan ia bahkan tidak bisa menghabiskan sebatangpun tanpa batuk-batuk.
"Bagaimana dengan weed?"
"Yang benar saja." Ujar Baekhyun disertai tawa pelan. Ia tahu mereka hanya bercanda.
Kemudian topik pembicaraan pun beralih pada hal yang lain. Sebenarnya baik gay atau tidak, pada dasarnya obrolan semua laki-laki selalu sama, yaitu mengenai hal-hal yang bersifat random. Perempuan banyak mengasumsikan bahwa laki-laki yang berkumpul bersama mungkin tengah membicarakan sesuatu berbau seks, namun itu belum tentu salah –ralat, itu belum tentu benar. Faktanya, laki-laki lebih senang membicarakan games, musik, atau bahkan mahluk luar angkasa.
Intinya, obrolan mereka benar-benar tidak teratur.
Dan mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk sekedar mengobrol serta minum-minum. Hingga akhirnya salah satu diantaranya mengajak untuk pergi ke dalam dan mencari camilan, dan mungkin kalau beruntung bisa mendapat pasangan. Tentunya, cukup membosankan jika kau hanya duduk dan mengobrol bersama teman selama di pesta.
"Aku di sini saja." Ujar Baekhyun saat teman-temannnya hendak pergi.
"Yakin tidak mau ikut? Kita bisa merampok banyak makanan di dapur Jennie."
"Hahahaha… tidak, kalian duluan saja." Baekhyun meyakinkan.
Mereka yang sebelumnya berkumpul dengannya kemudian mengangguk dan berkata bahwa mereka akan kembali kalau ingat. Baekhyun tidak menanggapi selain hanya tertawa kecil.
"Hey."
Di saat yang sama, Baekhyun spontan menoleh dan menjawab dengan nada ramah. "Oh hey—"
Namun senyumnya mendadak pudar kala menemukan siapa orang yang baru saja menyapanya. Seketika Baekhyun menyesal karena telah menoleh.
"Kau em.. sendirian?"
Drew. Seseorang yang baru saja bersuara itu adalah Drew, alias Andrew Lee, alias mantan kekasih Baekhyun, alias si bajingan gay. Atau mungkin biseks, ya, apapun terserah.
Baekhyun tertawa tanpa minat.
"Kemana perginya teman-temanmu?" Drew memposisikan dirinya untuk berhadapan dengan Baekhyun yang masih enggan untuk bersuara. Si mungil itu bahkan sama sekali tidak mencoba untuk menatapnya.
"Keberatan untuk kutemani?" Drew kembali bertanya. Membuat Baekhyun ingin sekali menumpahkan minumannya di atas kepala lelaki itu.
"First of all…" Baekhyun mendesah geram dan menatapnya penuh kebencian. "How dare you?"
Oh tidak, dia baru saja melanggar peraturannya. Peraturan darurat yang dicanangkan oleh Mr. Do tentang tidak berbicara dengan mantan pacar saat di pesta.
Tapi Baekhyun benar-benar tidak tahan!
Di sisi lain, Drew meninggikan alis dengan kedua tangan yang otomatis masuk ke dalam saku celana. Seakan telah memprediksi respon yang akan ia dapat dan Baekhyun masih mempertanyakan kenapa ia begitu nekat untuk menyapa seseorang yang sudah jelas tidak ingin berbicara dengannya.
"Kau tahu, ini pertama kalinya kita berbicara setelah kau memutuskanku dan… dan kupikir…"
"Kau pikir salah siapa kita putus?" Baekhyun tidak berniat mengungkit masalalu, namun Drew membuat dirinya seakan tidak memiliki pilihan lain. "Kau pikir itu salah siapa? Salahku? Salah teman-temanku?"
"Baekhyun, aku menyesal." Drew mengatakannya dengan nada memelas.
"Kau harus!" Baekhyun menunjuknya tepat di hidung. "Kau harus menyesalinya seumur hidupmu. Kau harus menyesal karena mengkhianatiku setelah kau tahu bagaimana sakitnya diselingkuhi."
Drew menatapnya tanpa henti seolah ia mengerti. "Aku hanya ingin meminta maaf."
"Baik, dan kau sudah melakukannya. Sekarang apa?"
Beruntung tidak banyak orang yang berkeliaran di sekitar mereka. Jadi Baekhyun bisa leluasa membicarakan masalah pribadinya tanpa diikuti tatapan penasaran dari orang lain.
"Aku ingin minta maaf, dan jika kau memaafkanku mungkin kita bisa mengulangi semuanya dari awal."
Kedengarannya cukup lucu, jadi Baekhyun tertawa sebisanya. "Ya Tuhan, apa kau bilang? Mengulangnya dari awal? Kau pikir aku anak ayam yang baru lahir kemarin sore? Ck ck ck…"
"Baekhyun, aku serius."
"Kau pikir aku sedang bercanda?" Baekhyun tidak lagi bisa bahkan untuk sekedar tertawa hambar. Ia kehilangan ketenangannya dan semua berganti menjadi emosi yang meluap-luap. Cepat atau lambat, ia akan meledak.
Drew menatapnya dengan serius. "Tolong lihat sisi baiknya, Baekhyun. Aku menyesal, dan kupikir tidak pernah ada yang lebih baik selain kau. Aku masih mengharapkanmu, Baekhyun."
"Boolshit." Baekhyun memotongnya cepat. Ia terlalu muak dengan semua omong kosong yang ada. Baekhyun pergi kemari untuk bersenang-senang dan Drew telah berhasil mengacaukan segalanya.
"Baekhyun, dengarkan aku—"
"Shut the fuck up!" Baekhyun berteriak cukup keras yang mana langsung mengundang tatapan heran dari orang-orang. Jika obrolannya tadi masih tidak dihiraukan orang lain, sekarang berbeda. Orang-orang di pesta mulai menarik perhatian padanya karena seruannya barusan.
Drew tidak mengatakan hal lain selain membisu. Ia membuka kedua tangannya dengan bahu terangkat, dan Baekhyun tidak bisa berbuat apapun lagi selain semakin kesal. Si pendek itu beralih menatap sekitarnya dan membuang napas penuh emosi. Suasana hatinya memburuk dalam hitungan waktu yang singkat. Dan ia merasa tidak lagi bisa berada di tempat yang sama dengan Drew pada saat ini. Jadi dengan penuh kekesalan, Baekhyun pun memutuskan untuk pergi.
"Congrats, you've successfully ruined my night." Ia mendorong Drew sebelum tungkainya benar-benar bergerak menjauh.
Baekhyun sangat marah, dan ia bahkan tidak sempat berpamitan pada Kyungsoo atau Rose karena ia memacu langkahnya terlalu cepat. Ia sangat ingin pergi, menghindar dari keramaian karena satu-satunya hal yang diinginkan Baekhyun saat ini adalah menyendiri. Ia butuh menyendiri untuk menjernihkan pikirannya kembali.
Saat menyadari bahwa dirinya telah menjauh dari keramaian pesta, Baekhyun mendapati dirinya berdiri di pinggir jalan malam itu. Tidak ingat berapa lama waktu yang telah ia habiskan, yang jelas, ini sudah cukup malam karena orang-orang mulai jarang terlihat. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk meredakan emosinya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika ia tidak tahu bagaimana caranya, sehingga yang terjadi adalah emosinya itu berubah menjadi sebuah tangisan kecil.
Saat itu Baekhyun merasa begitu lemah, bodoh, idiot, dan segalanya karena bisa-bisanya ia menangisi hidung belang semacam Drew. Ia benar-benar menyedihkan. Dan berjongkok di pinggir jalan dengan pandangan jatuh ke bawah membuat dirinya sepuluh kali terlihat lebih menyedihkan.
Ketika sibuk terisak-isak dengan pelan, Baekhyun mendengar handphone-nya berbunyi nyaring. Ia memeriksanya dengan segera apabila itu adalah Kyungsoo atau Rose yang menanyakan keberadaannya. Namun beberapa detik kemudian ia merasa bingung saat menemukan nama "Kekasihku" muncul di layar. Baekhyun tidak ingat pernah menulis nama kontak sebodoh itu.
Tanpa pikir panjang, ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo, Baekhyun?"
Baekhyun belum berkata apa-apa, dan ia merasa familiar dengan suara sesorang di seberang sana.
"Chanyeol?"
"Ya ini aku, sayang."
I fooking knew it! Baekhyun membuang napas frustrasi. Memangnya siapa lagi orang gila yang menuliskan nama bodoh itu di kontaknya?
"Apa?" Baekhyun menahan suaranya agar tidak terdengar seperti ia tengah menangis. Meski itu sebenarnnya mustahil.
"Aku hanya ingin tahu kapan kau pulang dan memastikan bahwa kau baik-baik saja…" Chanyeol berhenti ketika ia mendengar sebuah isakan lolos dari Baekhyun. "Baekhyun, kau menangis?"
Sial. Baekhyun tidak berniat untuk menunjukkannya. "Tidak."
Suaranya yang sedikit parau membuat Chanyeol semakin curiga. "Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Siapa yang membuatmu menangis?" pria itu bertanya terburu-buru. "Biar kuhajar dia."
"Aku tidak apa-apa!" Baekhyun membentaknya dan tangisnya pun pecah. Itu cukup sukses untuk membuat situasi semakin memburuk.
Jauh di sana, Chanyeol belum merespon. Kini hanya ada suara isakan pelan diantara mereka berdua. Baekhyun merasa sangat tolol akan hal itu.
"Maaf," Baekhyun merasa bersalah entah karena apa. "Aku tidak apa-apa…"
"Dimana posisimu?" suara Chanyeol terdengar lebih tenang sekarang.
Baekhyun tidak bisa berpikir. "Aku… aku tidak tahu." Ia menoleh ke samping kanan dan kiri. "Di sini sepi, aku ada di pinggir jalan, di dekat lampu merah, di seberang restoran cepat saji…"
"Baiklah, tunggu di sana. Aku akan menjemputmu. Jangan bergerak seinci pun dari tempatmu berdiri sekarang." Ujar Chanyeol.
"Aku tidak sedang berdiri, aku berjongkok." Baekhyun masih sempat untuk mengoreksi. "Dan jangan menjemputku, aku bisa pulang naik taksi." Lanjutnya, masih dengan sisa-sisa tangis yang ada.
"Aku tidak peduli. Aku akan ada di sana dalam lima menit."
"Chanyeol…"
Baekhyun menatap layar handphone dan menunduk lesu setelahnya. Ia tidak berniat untuk memanggil Chanyeol kemari, namun ia juga tidak bisa menahan hasratnya untuk segera pulang. Untuk kesekian kalinya, ia merasa bodoh. Seharusnya ia bisa menyimpan masalahnya sendiri tanpa perlu membuat repot orang lain.
Baekhyun merasa benar-benar menyedihkan.
Chanyeol melajukan kendaraannya secepat yang ia mampu. Menyapu setiap pinggiran jalan dengan mata yang awas. Ia sedikit bersyukur karena ini telah hampir tengah malam, dan tidak akan terlalu sulit untuk menemukan Baekhyun jika anak itu memang sedang berjongkok di pinggir jalan. Namun ia pun masih sempat untuk merasa khawatir sebab Baekhyun tengah sendirian dan dalam kondisi yang buruk.
"Restoran cepat saji… oke, itu ada di sana." Ia bergumam kala menemukan beberapa petunjuk yang sempat dikatakan Baekhyun. Lalu tidak butuh waktu yang lama hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang tengah berjongkok lesu di dekat lampu merah. Melihat dari perawakannya yang kecil, Chanyeol yakin bahwa itu adalah Baekhyun-nya.
Pria itu menghentikan mobilnya dan segera turun guna menghampiri Baekhyun. "Babe?"
Baekhyun reflek menengadahkan wajahnya kala mendengar seseorang memanggil. "Chanyeol?" ia bertanya memastikan.
Chanyeol mengangguk ramah. Ia belum pernah melihat Baekhyun dalam keadaan seperti ini, mata yang sembab dan hidung kemerahan. Jelas-jelas dia habis menangis dan Chanyeol bersumpah untuk tidak memaafkan siapapun sialan di luar sana yang telah membuat baby boy-nya menangis seperti ini.
"Kenapa kau menangis?" Pertanyaan itu kembali terlontar. Baekhyun tidak langsung menjawab melainkan menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
"Hatchuuuuu!"
"Bless you." Chanyeol segera melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Baekhyun. Ia hampir lupa dengan udara di malam hari dan Baekhyun bisa saja terkena flu jika mereka berlama-lama diam di tempat ini. "Mungkin lebih baik kita pulang saja dulu."
Baekhyun tidak menanggapinya. Saat Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya, ia kemudian masuk dan duduk dalam sunyi. Ia menolak untuk mengatakan perihal apa yang telah mengganggunya, dan syukurlah Chanyeol tidak menututnya untuk bicara. Meski terkadang Chanyeol membuatnya kesal, tetapi Baekhyun akui bahwa pria itu cukup bisa diandalkan.
Mereka menikmati perjalanan dalam diam. Chanyeol sesekali meliriknya apabila Baekhyun masih merasa buruk. Dan ia tidak bisa membantu lebih banyak saat matanya menangkap wajah Baekhyun yang terlihat basah.
"It's okay…it's okay…" ia mengusap-usap pundak Baekhyun dengan satu tangannya yang lepas dari kemudi. "Kau boleh menangis." Chanyeol mengatakannya karena Baekhyun kelihatan tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya.
Sementara Baekhyun masih menolak bicara. Bahunya bergetar dan suara isakan pun perlahan kembali terdengar. Saat itulah ia merasa bodoh. Bisa-bisanya dirinya kembali menangis untuk alasan yang sama. Padahal selama beberapa bulan ini hidupnya baik-baik saja tanpa Drew. Akan tetapi Baekhyun tidak menyangka hanya karena sebuah percakapan kecil, luka lamanya kembali terkoyak dan ia merasakan sakit yang cukup hebat. Bukan karena ia masih menginginkan Drew, tidak sama sekali. Hanya saja ia tidak tahan dengan kenangan baik dan buruk yang kembali menyeruak saat telinganya mendengar suara Drew dan kedua mata mereka kembali bertemu. Drew pernah menjadi segalanya bagi Baekhyun, dan tidak mudah untuk membuang kenangan bodoh yang pernah mereka buat bersama.
Sibuk dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, Baekhyun bahkan tidak sadar bahwa mereka berdua telah sampai di depan rumah. Tepat setelah Chanyeol mematikan mesin mobil, ia pun mengusap air mata di pipinya dan keluar.
"Terimakasih." Baekhyun mengatakannya dengan kepala menunduk. Chanyeol mengelus pelan puncak kepalanya dan mengajak Baekhyun untuk segera masuk ke dalam rumah.
Saat Baekhyun hendak pergi ke kamarnya, Chanyeol mencegah dan meminta anak itu untuk tetap tinggal di ruang keluarga. "Duduklah, akan kubuatkan minum."
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu, tapi biarkan aku yang melakukannya." Ujar Chanyeol sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu dapur.
Baekhyun bergerak tak nyaman di sofa. Ia tidak bisa merepotkan Chanyeol lebih jauh lagi, namun ia justru akan semakin merasa bersalah jika menolaknya. Maka Baekhyun akhirnya tidak punya pilihan lain selain duduk manis dan setia menunggu sampai si pria tinggi kembali dengan minuman di tangannya.
"Hey, kau baru pulang?"
Sebuah suara di belakang tubuh Baekhyun membuat anak itu kaget. Sejurus kemudian, ruang kosong di sampingnya terisi oleh tubuh seseorang yang langsung menyambar remote untuk menyalakan tv.
Kris duduk dengan santai di sampingnya dan Baekhyun hanya bisa menatap ke arah lain untuk menyembunyikan mata sembabnya. Ia tidak ingin orang lain selain Chanyeol tahu bahwa dirinya sedang dalam keadaan tidak baik. Dan untungnya, Kris tidak terlalu memperhatikan karena tontonan di layar televisi terlihat lebih menarik minatnya.
Beberapa menit kemudian Chanyeol kembali dengan secangkir minuman yang masih mengepul. Dari baunya yang sama-samar, Baekhyun tahu bahwa itu adalah matcha latte.
"Thanks brother, darimana kau tahu kalau aku sedang haus?" Kris hendak menggapai cangkir di tangan Chanyeol namun adiknya itu secepat mungkin berkelit.
"Bukan untukmu." Chanyeol mencibir. Ia lalu memaksa Kris untuk bergeser agar dirinya bisa duduk di samping Baekhyun.
"Terimakasih." Baekhyun berkata pelan saat Chanyeol memberikan cangkir ke tangannya.
"Hey, dia menangis." Kris baru menyadari bahwa mata Baekhyun seperti habis menangis. "Apa Chanyeol menghamilimu?"
Chanyeol yang dituding hanya bisa menatap prihatin pada saudaranya tersebut. Salah satu kebiasaan Kris yang amat merepotkan adalah berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Ia tidak suka menggunakan otaknya karena itu hanya berfungsi sebagai pajangan di kepala –menurut Chanyeol begitu.
"Kris, tolong jangan mengganggu. Pergilah mencuri mobil atau sesuatu." Chanyeol mengusirnya.
"Chanyeol, kau ingat apa yang kukatakan tentang menggunakan alat kontrasepsi?" Kris mengangkat satu jari telunjuknya yang mana mengindikasikan bahwa ia tengah memberi peringatan. Si idiot itu masih mengira bahwa permasalahan yang terjadi sekarang adalah tentang Baekhyun yang hamil. "Aku sudah kerepotan dengan mengurus Zixuan, dan Sehun, dan Jongin, dan sekarang kau datang membawa benih yang baru. Setidaknya kendalikanlah hormonmu."
"Jesus…" Baekhyun berkata lirih dengan mata tertutup. Ia menaruh cangkirnya di meja dengan segera. "Aku tidak hamil, tolong jangan berspekulasi yang aneh-aneh." Katanya pada Kris.
Kris lantas menatap Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian sebelum kembali bicara. "Lalu siapa yang hamil?"
"I'm going to hit you." Chanyeol mengancamnya.
"Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, brother."
"Aku tidak hamil. Tidak ada yang hamil. Tidak ada seorangpun yang hamil di rumah ini." Baekhyun mengatakannya dengan putus asa. Dari sekian banyak alasan manusia untuk menitikkan air mata, kenapa Kris memilih hamil sebagai tebakan? Apa ia sedang memamerkan kebodohannya?
"Hmm… itu sedikit melegakan." Kris menyandarkan punggungnya di sofa dengan napas lega. Seolah dirinya baru saja lolos dari kasus pencabulan. "Lalu apa yang membuat anak ini menangis sehingga adikku perlu membuatkan secangkir matcha latte untuk menenangkannya?"
Baekhyun memilih diam, pandangannya secara otomatis jatuh ke bawah. Ia tahu bahwa pertanyaan tersebut juga akan dilontarkan oleh Chanyeol. Akan tetapi Baekhyun tidak merasa nyaman untuk mengungkapkan perasaannya, terutama kepada mereka berdua. Mereka belum cukup akrab untuk saling berbagi masalah, dan Baekhyun terlalu takut atas respon yang akan di dapatnya. Karena hati kecilnya mengakui bahwa menangisi seorang mantan kekasih bukanlah sesuatu yang keren. Dirinya hanya akan menjadi bahan lelucon jika memaksa bercerita.
"Bukan sesuatu yang penting." Ucap Baekhyun.
"Tak apa, Chanyeol juga sering menangis setelah menonton kisah cinta Jack and Rose, dan kita semua tahu itu bukanlah sesuatu yang penting."
Chanyeol menggeleng lemah atas perkataan kakaknya tersebut. "Yang dia maksud adalah, tidak apa-apa menangis untuk sesuatu hal yang tidak penting. Kita semua sering melakukannya, semua orang sering melakukannya dan kau pun termasuk."
Baekhyun menatap dua kakak beradik itu dalam-dalam. Ia mungkin belum percaya sepenuhnya, tapi mereka berdua tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman curhat. Baekhyun tidak butuh solusi saat ini, ia hanya sedang ingin didengarkan.
Chanyeol yang melihat kegundahan Baekhyun lantas memposisikan tangannya di punggung pemuda tersebut. "Tidak apa-apa jika kau belum siap untuk bercerita."
Dan perkataan itu justru membuat Baekhyun berubah pikiran.
"Aku pergi ke sebuah pesta… dan…dan mantan pacarku ada di sana." Baekhyun memulai dengan suara pelan. "Dia seorang laki-laki." Baekhyun menjelaskan apabila Kris tidak tahu bahwa dirinya mengencani teman sejenis.
"Tidak ada masalah dengan itu, aku dan Chanyeol juga menyimpang." Ujar Kris, dan itu membuat Baekhyun lega untuk beberapa alasan.
"Dia… dia sangat spesial bagiku. Dia tinggi, tampan, dia sangat menarik, tapi dia bajingan sial. Kami putus setelah aku memergokinya berciuman dengan seseorang di malam valentine. Aku berusaha untuk melupakannya beberapa bulan ini, dan aku melakukannya. Tapi…" Baekhyun membuang napas berat sebelum kembali melanjutkan. "Tapi dia sialan muncul dan menyapaku setelah dia putus dengan pacarnya. Dia bilang, dia ingin mengulanginya dari awal. Ohh… aku sangat marah."
Baekhyun membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan dan kembali menangis. Ia sebenarnya sangat benci saat luapan kekesalannya berubah menjadi tangis, tapi ia tidak berdaya untuk menolaknya.
Chanyeol menatapnya dengan penuh empati. Saat tangis Baekhyun tumpah, ia pun membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. "Aku tahu kau sangat kesal. Tidak apa-apa, menangislah."
"Uh, aku ikut marah untukmu Baekhyun. Apa kita perlu menculiknya dan menyiksanya di gudang? Mungkin itu bisa membuatmu lebih baik." Tawar Kris. Dan sekarang Baekhyun tahu kenapa Chanyeol menganggap kakaknya tersebut sebagai seorang psikopat.
Baekhyun menggeleng keras, masih dalam dekapan Chanyeol.
"Atau mungkin kita bisa membunuhnya dengan senapan dan menghanyutkan jasadnya di sungai?"
"Kris, membunuh orang lain bisa membuatmu dipenjara kalau kau lupa." Chanyeol memperingatinya.
"Tidak kalau kau tidak ketahuan. Dan aku tidak bermaksud membunuhnya, aku hanya ingin mendesaknya pada kematian. Kau tahu sendiri, kematian adalah sesuatu hal yang alamiah dan terjadi pada setiap orang—"
"Ukh…" Baekhyun tiba-tiba terkekeh dengan wajah penuh air mata. Entah kenapa ia menemukan bahwa ucapan Kris amatlah menghibur. Ia lalu melepaskan tubuhnya dari dekapan Chanyeol dan menghadap pada Kris. "Aku menghargai simpatimu, tapi tolong jangan melakukan sesuatu yang melanggar hukum."
"Kau terlalu baik." Kris menggelengkan kepala dengan prihatin. "Kau tahu dia seorang bajingan dan kau masih terlalu baik. Jika aku jadi kau, orang itu bahkan tidak akan bisa merayakan valentine lagi tahun depan."
"Dan untungnya Baekhyun bukanlah dirimu." Chanyeol berkata dengan nada penuh kelegaan. Baekhyun yang turut mendengarnya hanya tersenyum kecil.
Seketika Baekhyun menyadari bahwa ia merasa lebih baik. Kris mungkin terdengar kejam dan konyol secara bersamaan, namun Baekhyun perlahan menemukan bahwa itu adalah sesuatu hal yang lucu. Chanyeol tidak banyak berbicara, akan tetapi Baekhyun sangat berterimakasih atas dekapan hangat yang diberikan pria itu. Baekhyun tidak tahu perasaan apa yang Chanyeol tunjukkan padanya, entah itu empati atau apapun, yang jelas Baekhyun merasakan sebuah ketulusan dalam pelukan tersebut dan ia merasa nyaman.
"Maaf sudah merepotkanmu, Chanyeol. Aku memang bodoh dan aku benci saat kekesalanku berubah menjadi sebuah tangisan. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi…" Baekhyun mengakuinya dengan jujur.
"Tak apa, Baekhyun, hey… lihat aku." Chanyeol memegangi kedua pipi Baekhyun dengan telapak tangannya dan memaksa mereka berdua saling bertatap. "Kau tidak pernah merepotkanku, okay? Kau pantas untuk diperlakukan dengan baik, kau pantas untuk mendapatkannya."
Baekhyun melihat ke dalam netra milik Chanyeol dan ia tenggelam di dalamnya. Si mungil itu tidak tahu bahwa Chanyeol bisa menunjukkan sisi selembut ini yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
"Te-terimakasih, Chanyeol." ia berkata dengan gugup.
"Ya, lanjutkan saja sana, lagipula aku hanya pemeran pendamping." Ucapan Kris yang bernada sindiran tersebut membuat Chanyeol dan Baekhyun menghentikan aktivitas dramatis mereka. Baekhyun secepat mungkin meraih cangkir minuman yang sebelumnya ia abaikan di meja dan Chanyeol hanya mendesah kecewa terhadap kakaknya.
"Ini akan menjadi adegan yang penuh emosional kalau saja kau menutup mulutmu." Chanyeol menyalahkannya, Kris angkat bahu.
Baekhyun tidak ikut-ikutan. Ia hanya ingin menghabiskan minumannya dan berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian dan tidur. Setelah malam yang cukup melelahkan ini, dia butuh istirahat yang cukup karena menangis telah cukup banyak menguras energinya.
"Pergilah tidur dan jangan pikirkan hal-hal lain." ujar Chanyeol ketika Baekhyun beranjak dari sofa. Pemuda manis itu hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum.
"Sekali lagi, terimakasih." Baekhyun tidak bosan untuk mengulanginya karena ia pikir Chanyeol telah berbuat terlalu banyak untuknya.
"Anytime." Chanyeol mengangguk tulus.
"Tidak ada ucapan terimakasih untuk Daddy?" tanya Kris.
"Thanks, father."
"Setidaknya itu cukup dekat."
Baekhyun menggelengkan kepalanya namun tetap tersenyum terhibur. Ia pun melangkahkan kakinya menuju tangga. Suasana hatinya berubah menjadi jauh lebih baik hanya dengan berbicara bersama dua orang itu. Mereka mungkin konyol, tapi kekonyolan itu yang mengangkat mood-nya menjadi lebih baik. Baekhyun tidak bisa mengatakan apapun lagi selain berterimakasih.
"Baekhyun…"
Baekhyun berhenti di tangga saat Chanyeol memanggilnya. Ia menoleh pada pria itu dan mendapatkan sebuah senyum penyemangat.
"Jangan menangis lagi karena dia."
Chanyeol benar. Jangan menangis lagi hanya karena orang sialan itu. Dan Baekhyun akan berusaha untuk menyanggupinya.
"Never. Never again."
.
.
Tbc
.
.
Jadi, kemaren agak shook sama angka review yang tiba-tiba naik, pas saya cek ternyata banyak yg tahu fanfik ini dari salah satu fanbase CB (Meme Comic Chanbaek), dan saya di sini cuma bisa bilang makasih, thanks a lot, arigatou, gomawo, buat yg udah rekomen dan juga yg udah baca ini fanfik, u guys absolutely incredible.
Saya gak bisa janjikan buat update cepat, tapi saya usahakan buat update seminggu sekali. Semoga chapter ini gak mengecewakan dan tentunya saya selalu terbuka untuk kritik saran.
Dan yeah, sampa jumpa lagi nanti.
