Sick Day


Baekhyun terbangun di pagi hari dengan kepala yang berat. Tubuhnya seperti baru saja ditabrak oleh sebuah bus dan ia nyaris tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Jika saja ia lupa bahwa hari ini ada kuliah, mungkin Baekhyun masih membungkus tubuhnya dengan selimut. Sayangnya hal itu tidak akan terjadi, karena dirinya telah memutuskan untuk keluar kamar dan pergi guna membersihkan tubuh.

Ketika sampai di depan pintu, ia bertemu dengan Chanyeol yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya.

"Good morning." Chanyeol menyapa dengan ramah. Ia berjalan hanya mengenakan bokser dan pematik di tangan. Sigaret terselip dengan rapi di atas telinganya dan Baekhyun sudah bisa menebak bahwa itu adalah jatah merokok sehabis sarapan.

"Morning." Baekhyun balas tersenyum. Hidungnya serasa tersumbat, kepalanya pusing, dan sekarang ia berjalan sambil meraba dinding. Tentu saja Chanyeol melihat itu dengan jelas dan ia menghampiri pemuda yang lebih muda itu dengan cemas.

"Babe, kau sakit?" tanya Chanyeol. Tangannya secara tak sengaja bersentuhan dengan kulit tubuh Baekhyun dan ia terkejut ketika mendapati suhu yang tak bersahabat. "Kau demam." Ujarnya.

Baekhyun menengadah untuk melihat wajah Chanyeol, dan ia tidak ingat sejak kapan Chanyeol terasa begitu tinggi, dan jauh. Serta entah kenapa semuanya terlihat bergoyang-goyang di matanya.

"Chanyeol, kenapa kau berputar-putar?"

"Kau sakit, mari kuantar kau ke kamarmu –oh shit!" Chanyeol kehilangan ketenangannya ketika Baekhyun jatuh lunglai di depan matanya.

"Uhh…"

"It's okay…I've got you…" Pria itu menenangkan Baekhyun yang melirih kesakitan. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun dan mengangkat tubuh ringan itu. Membawanya kembali ke dalam kamar dan membaringkannya.

Chanyeol sedikit gugup saat melihat tubuh Baekhyun yang berkeringat. Ia tidak tahu apakah anak itu masih sadar atau tidak. Baekhyun hanya menutup matanya dan bergumam tidak jelas. Chanyeol bergelut dengan pikirannya sendiri tentang apa yang harus ia lakukan.

"…satu burger ukuran jumbo… tanpa tomat dan keju…" Baekhyun bergumam tak jelas tentang apa.

"Baekhyun, kau bisa mendengarku?" tanya Chanyeol.

"…mawar itu merah…violet itu biru…"

"Oke, mungkin sebaiknya aku minta pertolongan sekarang." Chanyeol secepat mungkin berlari dari dalam kamar untuk memberitahu penghuni rumah lain yang sedang berkumpul di ruang makan. Ia secepat mungkin menuruni tangga hingga akhirnya bertemu dengan Kris yang sedang membaca koran, dan Sehun serta Jongin sedang berebut sosis goreng yang hanya tinggal satu batang.

"Gawat!" Chanyeol memulai pengumuman dengan histeris.

Kris menurunkan korannya. "Ada apa? Dunia kiamat?"

Chanyeol ingin sekali menampar kepala kakaknya tersebut namun ia tahu bahwa ini bukan saat yang tepat. "Baekhyun demam, dia sakit, dan dia mulai mengigau yang aneh-aneh."

"Apa? Kita harus memanggil dokter!" Jongin berseru heboh.

"Kita harus memanggil ambulans." Sehun menyarankan dengan cepat. Mereka berdua tiba-tiba lupa dengan sosis malang yang mereka perebutkan.

"Dimana rumah sakit terdekat?" tanya Chanyeol. Dan entah sejak kapan situasi berubah menjadi sedikit kacau.

Sementara ketiga pemuda di depannya sedang panik, Kris melipat korannya dan berdiri dengan penuh wibawa. Ia berkata dengan nada menenangkan,"Calm down."

Namun ketiga mahluk di depannya masih saja panik.

"I said calm the fuck down, bitches."

"DON'T TELL ME TO CALM DOWN! I'LL THROW A FUCKING TABLE AT YOUR FACE, CHRIS!" Chanyeol tiba-tiba menggila.

"Brother…" Kris menepuk pundak adiknya dengan tatapan penuh permohonan. "It's Ke-ri-seu."Ia masih sempat-sempatnya mengoreksi kesalahan pelafalan atas namanya. Dalam situasi seperti ini, Kris adalah pria yang luar biasa. Ia bahkan melupakan fakta bahwa Chanyeol hendak melemparkan meja sialan ke wajahnya.

"Sorry not sorry, i'm freaking out." Kata Chanyeol.

"Baiklah, sejak kutahu bahwa kau adalah adikku yang paling menggemaskan, kau termaafkan." Kris mengatakannya dengan nada sarat akan sindiran. "Sebaiknya kita ke atas untuk memeriksanya terlebih dahulu."

Mereka berempat kemudian berjalan menaiki tangga. Saking terburu-buru, Chanyeol nyaris tersandung dan berguling ke bawah jika saja Kris terlambat menangkap si idiot itu. Chanyeol sungguh berhutang nyawa pada kakaknya.

"Dia berkeringat." Jongin yang lebih dulu memasuki kamar langsung melompat ke sisi Baekhyun. "Aku tahu dia sangat bossy dan menyebalkan, tapi aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri, dia tidak boleh mati seperti ini!" ia berkata dengan nada menyedihkan.

Sehun lain lagi. Ia duduk di bagian ujung tempat tidur dan memijat-mijat kaki Baekhyun dengan wajah khawatir. Tidak jelas apa yang diucapkannya, namun Chanyeol yakin anak itu sedang komat-kamit mengatakan sesuatu seperti, "Aku akan jadi anak baik, akan jadi anak baik."

Baekhyun masih belum membuka matanya. Saat Kris memegang keningnya untuk memeriksa suhu, pemuda itu merintih pelan.

"Chanyeol…tanggung jawab…kumohon…"

Kris lantas melayangkan tatapan tajam kepada Chanyeol. "Apa ini artinya yang kukatakan semalam itu benar?" ia masih serius menganggap bahwa Baekhyun sedang hamil anaknya Chanyeol.

"Sudah kubilang dia mengigau yang aneh-aneh!" Chanyeol meremas kepalanya sendiri dengan frustrasi.

Kris menggeleng-geleng tanpa kalimat. Ia memejamkan mata sesaat sebelum akhinya memberikan perintah. "Baiklah Jongin, kau larilah ke apotek terdekat dan beli obat. Sepertinya Baekhyun sakit demam dan sedikit flu—"

Jongin sudah melesat keluar bahkan sebelum Kris sempat menyelesaikan kalimatnya. Oke, setidaknya dia mendapat poin terpentingnya yakni membeli obat. "Sekarang Sehun, bawakan air hangat dan handuk kecil untuk mengompres."

Sehun mengangguk tanpa kata dan berlari keluar.

"Dan kau…" Kris menunjuk Chanyeol yang kini tengah berlutut di samping tempat tidur Baekhyun. Ia hendak menyuruhnya melakukan sesuatu namun urung karena beberapa alasan. Salah satunya adalah karena ia tahu Chanyeol sedang dalam panik dan ia sedang cukup bodoh untuk membedakan mana termometer dan mana penggaris.

"Lupakan. Kau idiot, jadi kau temani saja istrimu di sini sampai aku kembali."

"Tunggu, kau mau pergi kemana Kris? Apa kita perlu memanggil dokter?"

Kris memasang kedua tangannya di pinggang. "Aku akan memenuhi panggilan alam. Jangan menggangguku sampai aku selesai. Ini peringatan. Dan kau tidak perlu memanggil dokter kemari."

Pria tinggi itupun kemudian berjalan keluar dari kamar Baekhyun dan pergi menuju kamar mandi terdekat. Pelan-pelan, ia bermonolog di lorong yang sepi.

"Serius, apa mereka lupa kalau aku pernah masuk fakultas kedokteran?"


Baekhyun tertidur kurang lebih selama delapan jam. Sebelum ia terlelap sepenuhnya, Chanyeol dan yang lain sempat memberinya sup dan membantunya meminum obat –dan berganti pakaian tentunya. Hingga saat terbangun ketika hari menjelang sore, ia merasa tubuhnya sedikit lebih baik. Tidak, jauh lebih baik. Setidaknya sekarang ia tidak mengigau karena panas tubuhnya berangsur-angsur menurun.

"Kau sudah bangun?" Chanyeol berada tepat di sampingnya saat ia mencoba untuk duduk. "Aku baru saja akan menggantinya." Pria itu meraih handuk basah yang sebelumnya menempel di dahi Baekhyun.

"Aku sudah baikan." Baekhyun mengatakannya dengan suara parau. Rasa pusingnya mungkin telah hilang, dan menyisakan suhu tubuh serta hidung tersumbat yang masih perlu diurus. "Kau di sini seharian?"

Chanyeol mengangguk. Ia merasa sedikit lega ketika Baekhyun mulai membaik. Jujur saja, saat melihat Baekhyun yang mengigau dengan tubuh penuh keringat, ia panik bukan main. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena kemungkinan Baekhyun sakit adalah karena dirinya terlalu lama untuk menjemput pemuda itu tadi malam. Chanyeol tidak tahu seberapa khawatir dirinya namun satu hal yang pasti, saat itu ia seperti merasakan sakit yang sama. Dan Baekhyun tidak perlu tahu.

"Mereka juga."

Pria itu menunjuk ke lantai dimana Sehun dan Jongin tengah berbaring saling menindih satu sama lain. Mereka sedang tidur siang dan tidak sadar bahwa Baekhyun telah bangun.

"Oh."

Baekhyun menunduk tak enak hati. Ia tidak berniat untuk merepotkan semua orang. "Maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian repot."

Karena di tempat tinggalnya sebelum ini, tidak ada yang pernah merawat Baekhyun saat ia sakit. Mungkin hanya Rose dan Kyungsoo yang akan membantunya, itupun apabila Baekhyun memberitahu. Ia terbiasa menjalani kehidupannya sendirian selama setahun belakangan. Jauh dari ibunya membuat Baekhyun mau tidak mau harus mandiri.

Jadi ia merasa sedikit terharu saat ada yang merawatnya seperti sekarang.

"Tidak sama sekali." Chanyeol menyangkalnya. "Kau tidak pernah merepotkan, Baekhyun. Kami sudah seharusnya mengkhawatirkanmu saat kau sakit. Kami semua selalu seperti itu jika ada salah satu penghuni rumah yang sakit."

"Sebenarnya tidak juga. Saat aku sakit, mereka semua sengaja berlibur ke pantai." Kris tiba-tiba menyela dan bergabung ke dalam percakapan. Ia bersandar di depan pintu kamar dan Baekhyun baru menyadari kehadirannya setelah ia bersuara. Pria itu pintar dalam mengendap-endap rupanya.

"Kris, kau hanya sakit flu waktu itu." Chanyeol membela diri.

"Dan kau pikir Baekhyun sakit apa sekarang?" Kris mendorong kepala adiknya tersebut selagi ia duduk di pinggir tempat tidur Baekhyun. "Masih merasa pusing?" tanya Kris.

Baekhyun menggeleng pelan.

"Jangan salah sangka, kalau tidak ada aku, mereka semua mungkin hanya akan berteriak mengelilingi rumah sepanjang hari." Ujar Kris. Dan Baekhyun sudah tahu siapa 'mereka' yang dimaksud.

"Ukh, aku benci mengakuinya. Tapi dia benar." Chanyeol membuang wajah sepatnya ke arah dinding. "Setidaknya dia tahu bagaimana cara menangani pasien."

Baekhyun menutup mulutnya tidak percaya. "Kau seorang dokter?"

Kalau itu benar terjadi, berarti dunia sudah gila. Mana ada seorang psikopat yang ditugaskan untuk menyelamatkan nyawa orang lain?

"Ya, itu cita-citaku. Tapi aku bukan dokter." Kris menjawab tenang. Ia menyibukkan dirinya memilah-milah obat untuk Baekhyun. "Aku pernah masuk fakultas kedokteran, tapi hanya sampai semester empat."

Sekarang Baekhyun bimbang. Entah dia harus merasa lega karena Kris bukanlah seorang dokter, atau justru bersedih hati. Karena dari apa yang ia dengar, Kris tidak terlalu senang dengan apa yang ia ucapkan. Begitupun dengan Chanyeol yang turut mendengarkan di sampingnya.

"Lupakan. Lagipula menjadi direktur bukanlah sesuatu yang buruk. Setidaknya sekarang aku masuk ke dalam daftar pemuda terkaya di Korea. Bukan begitu, brother?" ia menoleh pada Chanyeol yang secepat mungkin membuang wajah.

"Aku mau mengambil minum." Chanyeol pamit keluar meninggalkan Baekhyun dan Kris yang masih mengobrol.

"Dia sedikit sensitif karena ia tak sepintar aku." Bisik Kris.

"Kau… seorang direktur?" Baekhyun cukup penasaran.

"Ya, ayahku memberikan beberapa perusahaannya padaku karena Chanyeol terlalu bodoh untuk mengelolanya."

"Tapi kau bilang, kau ingin menjadi dokter."

"Baekhyun…" Kris kini memasang tatapannya di wajah Baekhyun. Dan baru kali ini si pendek melihat Kris tersenyum. Ada sesuatu dibalik senyumnya, namun Baekhyun tidak tahu apa itu. "Ini bukan berarti semua orang bisa hidup sesuai dengan cita-citanya. Aku memang pintar, orangtuaku juga mampu membiayaiku sampai aku selesai kuliah –kalau mereka mau. Tapi nasib seseorang tidak ada yang tahu, bukan?"

Seketika Baekhyun merasa tidak nyaman. Ia hanya berpikir bahwa ada sedikit beban dari setiap perkataan Kris tentang pekerjaannya sekarang. Pria itu memang mengatakan semuanya dengan enteng, tapi dasar hati seseorang siapa yang tahu. Dan melihat Chanyeol yang pergi begitu saja di tengah percakapan mereka, membuat Baekhyun penasaran tentang apa yang terjadi di keluarga mereka.

"Maaf, aku hanya merasa…mungkin kau sedikit tidak nyaman dengan pekerjaanmu, atau sesuatu, yeah… aku juga tidak tahu. Mungkin feelingku salah." Baekhyun berkata jujur.

Kris tersenyum miring. "Tidak ada masalah dengan pekerjaanku. Selama aku menghasilkan uang, semuanya aman terkendali."

Baekhyun menaikkan satu alis. "Memangnya kau mengelola perusahaan apa? Kalau aku boleh tahu…"

"Ehm…" Kris mengurut dagunya, mencari kalimat yang lebih sederhana agar Baekhyun cepat paham. "Kau tahu PJ Grup?"

"Maksudmu perusahaan teknologi yang terkenal itu?" Ya ampun tentu saja ia tahu. Mereka punya banyak cabang, perusahaan asuransi, rumah sakit, tempat hiburan, bahkan minimarket. Terakhir yang Baekhyun tahu mereka juga penyumbang tetap di univeritas tempatnya berkuliah, mereka ada dimana-mana. "Lalu kenapa?"

"Well, katakanlah aku adalah satu petingginya."

Baekhyun mematung sejenak.

"Uhm, what?"

"Yeah, maksudku, aku mengelola beberapa—"

"WHAT?!"

Mungkin ini adalah plot twist yang sebenarnya. Tidak mungkin bahwa teman serumahnya ini adalah petinggi PJ Grup. Tidak mungkin si pirang psikopat ini adalah salah satu pria terkaya di Korea Selatan. Tidak mungkin.

Semua ini terlalu mustahil untuk diterima nalar. Baekhyun justru berpikir jika Kris yang seorang dokter adalah sesuatu yang lebih masuk akal.

"Kau pasti sedang bercanda, bukan?" Baekhyun bertanya dengan senyum meringis.

"Kenapa? Apa sekarang kau terpikir untuk memilih berkencan denganku daripada dengan Chanyeol? hm?" Kris menyeringai, membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri dengan sigap.

"Ya ampun, tidak. Dan aku juga tidak berkencan dengan Chanyeol!"

"Well well well, mendengar dari suaramu yang mulai kembali meninggi, kupikir kau sudah lebih baik." Kris berdiri dan beralih menatap Sehun dan Jongin yang masih berbaring di lantai.

"Kids." Panggilnya pada dua pemuda tersebut. "Ayo bangun, kalian tidak boleh tidur di sini lagi."

"Nghhh…"

Kris mengangkat bahu. Ia tidak punya pilihan lain.

"Jangan lupa minum obatmu." Kris berjalan keluar sembari menyeret kerah baju Sehun dan Jongin di tangan kanan dan kiri.

Di belakang, tepatnya di tempat tidurnya, Baekhyun hanya bisa tersenyum dramatis. Kenapa hidupnya akhir-akhir ini selalu penuh dengan kejutan? Tidakkah dikelilingi orang gila sudah cukup menyiksa? Ya Tuhan, sekarang dia hanya bisa mengusap wajahnya dengan pelan.

Ia bertanya-tanya kehidupan macam apa yang tengah dijalaninya sekarang.


"Hallo, Dokyung? Tumben kau menelponku."

Baekhyun menyamankan posisi duduknya sembari bersandar dengan dua bantal sebagai penyangga. Ia masih di tempat tidur, seharian hingga kini malam menjelang. Anak-anak yang lain tidak memperbolehkannya untuk turun dari kasur jika bukan untuk pergi ke toilet. Katanya, Baekhyun hanya perlu memanggil jika ia memerlukan sesuatu. Baekhyun tidak terbiasa dimanja, tapi mengingat ia juga terlalu lemas untuk sekedar mengambil minum ke dapur, jadi ia tak punya pilihan lain selain menerima pelayanan gratis dari teman-teman serumahnya.

"Aku hanya ingin memberitahu kalau izin sakitmu sudah diterima oleh bos dan dosenmu. Juga, aku dan Rossie sedang dalam perjalanan."

Izin sakit? Baekhyun melipat dahinya. Ia tidak ingat pernah memberitahu Kyungsoo atau Rose tentang sakitnya hari ini. Lagipula ia sudah meminta izin secara pribadi dengan mengirim pesan pada dosen dan bos di tempatnya bekerja, tadi sore. Ia tidak memberitahu kedua sahabatnya karena takut mereka khawatir.

"Apa maksudmu?" Baekhyun kurang paham. Apa mungkin dirinya tidak sengaja menelpon Kyungsoo saat sedang tidak sadar?

"Apa maksudmu?" Kyungsoo justru membeo.

"Dari mana kau tahu kalau aku sakit?"

Terdengar suara hembusan napas dari seberang sana. "Aku menelponmu tadi pagi karena kau tidak ada di kampus, dan ada seseorang yang mengangkatnya."

Oh ya? Baekhyun memang belum mengecek riwayat panggilan yang ada. Tapi dia penasaran siapa yang mengangkat. "Siapa?"

"Aku tidak yakin, tapi yang kuingat dia bilang kalau dia pacarmu."

Of course, Park fucking Chanyeol. Who else?

Baekhyun merasakan giginya mulai gemeretak. Tenang… tenang… keadaan tidak bisa bertambah buruk lagi. "Apa yang dia katakan?"

"Tidak banyak. Hanya menginformasikan bahwa kau sedang sakit, dan dia juga memperbolehkan aku dan Rossie untuk menjengukmu. Aku sudah mencatat alamat rumah barumu, dan seperti yang kukatakan tadi, kami sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi sampai."

"Ap –KAU AKAN DATANG KEMARI?"

"Oh for god's sake, Bee! Kau ingin merusak gendang telingaku atau apa?"

Baekhyun menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Kenapa keadaan tiba-tiba tidak terkontrol seperti ini? Padahal beberapa jam yang lalu ia masih bisa bersantai dengan tenang untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Tapi sekarang… sepertinya ia akan kembali jatuh sakit.

"Dokyung, bisakah kau…"

"Lupakan, kami sudah sampai." PIP.

Baekhyun menatap tak percaya pada layar teleponnya. Kyungsoo baru saja memutus akses penghubung mereka berdua sementara ia samasekali belum siap untuk memikirkan rencana selanjutnya. Beberapa hal yang mengganjal di otaknya adalah, bagaimana cara membuat orang gila menjadi normal dalam waktu kurang dari lima menit atau, bagaimana cara menyembunyikan Park Chanyeol dan sekutunya untuk beberapa waktu ke depan?

Oh tidak tidak tidak, Baekhyun sama sekali belum siap dengan semua ini. Sial, kenapa semua hal buruk selalu terjadi secara mendadak? Bukannya Baekhyun merasa malu untuk memperkenalkan teman serumahnya (meski aslinya, dia memang malu), tapi Baekhyun hanya merasa bahwa ia masih butuh waktu untuk menunjukkan mereka pada Kyungsoo dan Rose. Baekhyun hanya takut kedua sahabatnya itu mengalami kejutan yang tak terduga.

"Bodoh, aku harus menghentikan mereka sebelum terlambat!" Baekhyun lantas menyibak selimutnya dan memaksakan dirinya untuk keluar dari kamar. Kyungsoo mungkin mengatakan bahwa ia dan Rose sudah sampai, tapi Baekhyun hanya bisa berharap bahwa ia belum terlambat untuk mengusir balik mereka berdua.

Namun rupanya, keberuntungan sedang tidak berpihak pada Baekhyun.

Seiring kakinya berjalan di lorong, matanya menangkap sosok pemuda pemudi yang ia yakini adalah Kyungsoo dan Rose. Yang lebih parahnya adalah, mereka berdua duduk bersebrangan di sofa dengan Park Chanyeol yang tengah tersenyum dengan penuh kebanggaan. Lutut Baekhyun melemas, sama seperti yang ia rasakan pagi tadi.

"Babe, kau seharusnya tidak keluar dari kamarmu." Chanyeol spontan berdiri saat menemukan Baekhyun yang baru saja selesai menuruni tangga.

Kyungsoo dan Rose menaikkan kedua alis mereka. Baekhyun ingin sekali melarikan diri ke planet lain karena sekarang dia ketahuan telah berbohong tentang Chanyeol kemarin.

"Mereka tamuku, sampai di sini biarkan aku yang mengambil alih." Ia berkata dengan nada putus asa. Kemudian beralih pada dua rekannya. "Ayo naik ke kamarku."

Ketika melihat Baekhyun yang terlalu lemah untuk sekedar berdebat, Chanyeol tidak melawan dan hanya diam tak bersuara. Begitupun dengan kedua rekan Baekhyun yang kini berjalan mengekori si pemilik kamar. Mereka pergi dalam diam, bahkan sebelum Chanyeol sempat menawari minum.

"Well well well… sepertinya kau berhutang penjelasan padaku, Babe…"

Itu adalah kalimat pertama yang dikatakan Kyungsoo saat mereka bertiga sampai di ruangan kamar Baekhyun. Dan Kyungsoo baru baru saja mengejeknya dengan panggilan sialan itu, fuck. Seseorang yang dimintai penjelasan hanya menghela napas panjang, ini akan menjadi cerita yang menyebalkan.

"Yup, karena kurasa pria yang menyambut kami di pintu adalah orang yang sama dengan yang pernah menyapamu di perpustakaan." Rose turut menuntut penjelasan.

Baekhyun mengangkat satu tangannya sebatas telinga, ia mengaku bersalah. "Baiklah, aku minta maaf karena sudah berbohong. Aku memang mengenal pria itu, dan dia adalah teman serumahku. Tapi percayalah, aku punya alasan tersendiri oke? Dan semoga dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh-aneh saat kalian baru tiba di rumah ini."

Kyungsoo meletakkan keranjang buah di dekat lampu tidur –Baekhyun bahkan baru sadar kalau anak itu membawa sesuatu—dan ia mendudukkan tubuhnya di tempat tidur sebelum kembali berbicara. "Tidak terlalu aneh, selain fakta bahwa ia menyambut kami dengan beberapa lembar uang di tangan."

Baekhyun tiba-tiba penasaran. "Why?"

"Dia salah mengira bahwa kami adalah pengantar pizza yang ia pesan."

Baekhyun menutup matanya dan menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. "Oh God."

"Cukup, kurasa sebaiknya kau memulai penjelasanmu dari sekarang. Karena aku sudah sangat penasaran dengan seseorang yang mengaku sebagai pacarmu itu. Apa kalian sudah berpacaran secara diam-diam?"

Here we go again. Baekhyun sebenarnya sangat malas untuk membahas tentang ini dengan teman-temannya, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Tentu saja tidak. Dia bukan pacarku, sama sekali bukan."

Kedua rekannya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Sudah kubilang bukan? Teman serumahku tidak ada yang waras, dan salah satunya adalah dia. Namanya Chanyeol, dia menganggapku sebagai pacarnya –secara sepihak. Sudah barang tentu aku berpura-pura tidak mengenalnya di perpustakaan karena dia adalah salah satu sumber dari semua stress-ku."

"Dan aku bukannya ingin menyembunyikannya dari kalian, aku hanya merasa belum siap. Aku sendiri masih butuh waktu untuk menerima bahwa mereka yang tinggal di sini adalah temanku untuk beberapa waktu ke depan."

Mereka bertiga berbagi pandangan pada satu sama lain. Ini sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang besar, namun karena mereka terbiasa untuk saling berbagi kisah satu sama lain, maka rasanya sangat aneh ketika ada sesuatu hal yang disembunyikan. Walaupun pada akhinya, mereka mengetahuinya juga.

"Tapi Byunnie, kupikir kau sedikit berlebihan." Rose menyamankan dirinya dengan duduk sembari memeluk bantal tidur. "Lihat sisi positifnya, setidaknya dia cukup peduli padamu. Itu terlihat dari caranya memperlakukanmu tadi. Dan aku bertaruh bahwa dia juga yang merawatmu selama kau sakit. Buktinya saat Kyungsoo menelpon, dia yang mengangkat."

Baekhyun angkat bahu. "Sebenarnya tidak hanya dia, tapi yang lain juga ikut merawatku. Dan yeah, itu adalah salah satu sisi positifnya, mereka cukup peduli. Tapi tetap saja, kalian tidak bisa menilaiku telah bersikap berlebihan padahal kalian tidak tahu bagaimana perangai mereka sehari-hari…"

"Baekhyun?"

Obrolan ketiga sahabat itu terinterupsi oleh seseorang yang tiba-tiba membuka pintu kamar Baekhyun dan memunculkan kepalanya ke dalam ruangan. Kris Park, tidak aneh.

"Knocking on the door would be good." Baekhyun menyindirnya secara terang-terangan.

Namun sepertinya Kris tidak peduli, bahkan ketika Baekhyun menunjukkan wajah terganggu. "Kudengar dari Chanyeol bahwa temanmu berkunjung kemari, jadi aku hanya datang untuk menyapa dan menawarkan apabila kalian butuh sesuatu."

"Wow, itu cukup sopan." Baekhyun tertawa penuh sarkas. "Tapi kami baik-baik saja di sini dan tidak ingin merepotkanmu."

"Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang baik. Segelas kopi, mungkin?" Kris bertanya pada kedua rekan Baekhyun.

"Tidak, terimakasih." Rose menolaknya dengan sopan.

"Atau mungkin air mineral?"

"Tidak." Kali ini Kyungsoo.

"Atau mungkin satu box kondom—"

Seketika Baekhyun langsung menutup pintu dengan keras.

Tidak peduli dengan lolongan Kris di luar sana yang mengatakan bahwa dirinya belum selesai bicara. Kini, Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada dan beralih menatap kedua sahabatnya yang masih menganga lebar.

"Still think that i'm overreacting?"


.

.

.

Tbc

.

.

.


(Maybe it's a lil bit OOT but, Rest in peace Avicii. I still can't believe it. Still can't get over the fact that he's gone. Does anyone feel the same? He was only 28…too young. I'm truly devastated)