Baekhyun's Boyfriend
"Still think that i'm overreacting?"
Kyungsoo dan Rose menggeleng mantap.
Baekhyun menghela napas berat, seberat hidupnya sejak tinggal di rumah ini. Ia berjalan dari pintu dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan berbaring. "Satu-satunya hal positif di rumah ini adalah uang sewanya yang murah."
"Aku tidak meragukan itu. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Baik. Lebih baik dari tadi pagi." Baekhyun menjawab dengan mata terpejam. Mengesampingkan fakta bahwa pertanyaan itu sudah sangat kadaluwarsa di saat seperti ini.
"Tunggu, sepertinya aku pernah melihat pria yang baru saja masuk ke kamarmu."
Baekhyun membuka matanya untuk melirik Rose yang terlihat tengah mengingat-ingat sesuatu. "Seriously? Di rumah sakit jiwa mana kau melihatnya?"
"Tidak, bukan di rumah sakit jiwa. Aku serius," Rose mengibaskan tangannya di depan wajah. "Aku sering melihatnya di pesta… atau acara amal yang diselenggarakan oleh beberapa rekan bisnis ayahku. Kris Park, tubuhnya yang tinggi membuatnya mencolok. Atau mungkin mereka hanya mirip?"
"Tidak heran…" Baekhyun mengingat kembali percakapannya dengan Kris tadi sore. "Dia berbicara sesuatu tentang PJ grup, kukira itu hanya bualannya semata. Tak kusangka dia ternyata betul-betul seorang pengusaha. Oh really, dunia ini selalu penuh kejutan." Ia mengatakannya dengan nada tak berminat. Toh kalaupun Kris atau Chanyeol memang dari keluarga kaya, itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa dengan kehidupannya. Lagipula mengapa pula dua orang kaya itu justru menyewa rumah ini dibanding membeli apartemen mewah dengan fasilitas selangit? Tak disangka ternyata mereka juga cukup bodoh dalam menghabiskan uang.
"Jadi benar dia orang yang sama… OMG Baekhyun, yang benar saja, banyak orang mengatakan kalau dia adalah Mr. Grey di dunia nyata." Ungkap Rose. Mungkin ini sudah menjadi gosip lama di kalangan menengah ke atas seperti mereka. Dan ia sendiri tidak ingat sejak kapan dia menjadi sedikit bersemangat. "Tapi aku baru tahu kalau dia sedikit…uhh…aneh."
Baekhyun menggulirkan bola matanya, aneh saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa abnormalnya Kris –dan adiknya yakni Chanyeol. "Kau tahu, Mr. Grey punya rahasia yaitu kehidupan seks-nya. Dan satu-satunya rahasia Kris adalah keidiotannya. Adiknya juga sama."
"Adiknya? Oh, aku tahu kalau dia juga memiliki seorang adik, tapi jarang menjadi sorotan. Aku kaget kau mengenalnya." Rose terlihat penasaran. Selama ini, kehidupan anggota keluarga PJ grup memang terkadang menjadi konsumsi gosip di kalangan orang-orang sekelas mereka. Tapi mengenai sosok adik seorang Kris Park, sama sekali abu-abu dan nyaris tak terbaca.
"Kau bertemu dengan adiknya sejak pertama kau dan Kyungsoo menginjakkan kaki di rumah ini."
"The 'Chanyeol' guy?"
"Seratus untukmu, Rossie. Jika Kris adalah Grey, maka Chanyeol adalah Elliot."
Rose kehilangan kata-kata dan satu hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah bertepuk tangan dengan wajah tak menyangka. Ada dua hal yang membuatnya kehilangan kalimat. Pertama, karena Baekhyun ternyata berjarak sangat dekat dengan dua pewaris keluarga Park dan kedua, ia baru tahu bawa Park bersaudara itu ternyata diam-diam idiot.
Ini menjadi bukti bahwa Tuhan memang adil. Dan sekaligus membuktikan bahwa harta sama sekali tidak berpengaruh terhadap kewarasan seseorang.
"Time to activate the sugar baby mode, i think…" Kyungsoo menyilang tangannya di depan dada serta melirik Baekhyun dengan kedua alis terangkat. Baekhyun mengerang tak sudi.
"Oh c'mon!" ia mendengus. Tiba-tiba teringat kembali saat pertama kali datang di rumah ini, dan Chanyeol menawarinya untuk memanggil pria itu dengan panggilan Daddy. Kalau saja kedua temannya tahu, mungkin mereka akan semakin mendesaknya untuk dekat dengan Chanyeol. Jadi Baekhyun memutuskan untuk menyimpan cerita kemarin-kemarin itu bagi dirinya sendiri.
"Kuakui secara sadar, bahwa jika dilihat dari tampilan, kedua kakak beradik itu nampak cukup baik untuk dibawa ke pesta." Rose menerangkan pemikirannya. Lebih kepada memprovokasi sebenarnya.
"Tetap saja tidak mau." Baekhyun menolak keras. "Dan Kris sebenarnya sudah memiliki seseorang yang ia panggil yeobo…" ia memberitahu.
"Baekhyun, kau harus tahu bahwa di dunia modern ini ada istilah 'wife number two'." Rose memberitahunya.
"Bloody hell!"
Baekhyun semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya. Kyungsoo menyuruhnya untuk menjadi sugar baby dan sekarang Rose mempertanyakan soal istri kedua. Serius, Baekhyun jadi takut jika kelak mereka berdua menjadi seseorang yang kerap merusak rumah tangga orang lain.
Ketika hendak menanggapi celotehan dua rekannya lebih jauh lagi, Baekhyun kembali mendengar suara pintunya yang diketuk keras. Ia mendesah seolah ingin menangis karena, sekarang apa lagi?
"Siapa?" Baekhyun bertanya dengan tak ramah, masih di dalam kamarnya dan belum berkenan untuk membukakan pintu.
"Ini aku, Ello!"
Baekhyun melirik kedua rekannya yang sama-sama bingung. Ia pun kembali bertanya. "Ello siapa?"
"Ello….from the other siiiiide… I must've called a thousand tiiiiimes!"
Holy shit. Baekhyun tidak percaya bahwa dirinya baru saja jatuh ke dalam lelucon knock knock. Tidak mengindahkan kedua temannya yang sedang menahan tawa, ia membuka pintu dan mendapatkan sesosok pemuda tak asing tengah berdiri dengan nampan dan dua gelas air di tangan.
"Jongin." Baekhyun mengintimidasi sosok yang lebih muda darinya itu lewat tatapan dan tekanan suaranya. "Harus kau ketahui bahwa barusan adalah knock knock jokes terburuk yang pernah kudengar seumur hidupku."
"Tidak usah khawatir Mommy, aku punya lebih dari segudang stok knock knock jokes yang belum kucoba padamu, jadi tunggu saja—"
"Not your fucking Mom!" Baekhyun menyemprotnya.
"—tunggu saja waktu yang tepat untuk mendengarnya." Jongin melanjutkan kalimat yang sempat tertunda. Beralih sebentar dari Baekhyun, ia melirik ke dalam guna menyapa dua orang lain yang ada di kamar. "Chanyeol hyung menyuruhku untuk mengantarkan minuman ini pada kalian. Maaf karena hanya ada air putih. Kami kehabisan sirup dan kopi karena tetangga kami yang bodoh sering meminjamnya tanpa mengembalikan. Dan juga, kami agak ragu untuk memberi kalian soju karena mungkin diantara kalian ada yang mengemudi, yang mana itu cukup berisiko untuk keselamatan. Jadi, ini dia… air putih."
Jongin mengangkat segelas air putih dengan senyum lebar.
"Tidak bermaksud untuk terdengar lancang, tapi Jongin, begitu kau selesai dengan jamuanmu kuharap kau bisa kembali ke tempatmu untuk menonton acara musik dengan Sehun atau sesuatu semacam itu dan kali ini kuharap kalian tidak berkelahi." Baekhyun memohon, secara literal ia memohon, minus menggosokkan tangan dan kaki berlutut. "Please…"
"Tentu…tentu saja." Jongin sang pelayan dadakan sama sekali tak keberatan. Ia berjalan masuk ke dalam kamar dan meletakkan dua gelas air putih di nakas. Anak laki-laki itu lalu membungkuk dengan nampan dipeluk di dada. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian berdua malam ini."
Kyungsoo dan Rose tersenyum canggung.
"Ahem!" Baekhyun sengaja mengeraskan suaranya begitupun satu kakinya yang mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme tak beraturan. Jongin melempar senyum penuh kasih sayang padanya dan segera pamit undur diri.
"Sampai jumpa lagi."
Bahkan sebelum Jongin sempat membungkuk hormat, Baekhyun sudah lebih dulu menutup pintu akses keluar masuk ruangannya. Dalam hal ini, ia lebih terlihat seperti antagonis jika dibandingkan dengan teman-teman serumahnya yang mencoba untuk terlihat ramah.
"Itu hanya kamuflase, percaya padaku. Tidak ada satupun di rumah ini yang normal selain aku seorang." Baekhyun mengatakannya seolah ia tengah membela diri atas tindakan tidak sopannya di rumah ini. "Mereka membuatmu percaya bahwa mereka ramah dan normal, tapi kemudian… Booom! Kalian akan tahu bahwa mereka semua adalah pasien rumah sakit jiwa yang kabur."
"Lebih kepada sekumpulan pelawak, kurasa." Kyungsoo angkat bahu. "Dan yang barusan itu tidak terlalu buruk."
"He's hot." Rose menyetujui dan Baekhyun menganga tak percaya.
"Really?"
Dua anggukan sukses membuat Baekhyun jatuh secara dramatis di atas tempat tidurnya. "What the hell is wrong with you guys?"
"Chill the fuck out, Bee." Kyungsoo jengah dengan sahabatnya yang satu ini. Penyakit drama queen-nya seakan semakin menjadi. "It's just a fucking compliment."
"Kalian menyeberang ke sisi mereka."
Kyungsoo lantas melirik Rose dan menunjuk Baekhyun dengan ibu jarinya. "Apa ada kemungkinan bahwa dia sudah ketularan gila?"
Rose membuka kedua tangannya dengan bahu terangkat. Tidak tahu menahu tentang situasi macam apa yang tengah mereka alami.
"Ya ampun ya ampun…" Baekhyun menggunakan tangannya untuk menutupi wajah. "Stress ini sangat tidak baik untuk kulitku."
"Dengar." Kyungsoo mengambil tempat duduk di sebelah sahabatnya, Byun-the-fucking-drama-queen-Baekhyun yang kini menunduk lesu. "Ini hanya tentang bagaimana kau berdamai dengan mereka dan mencoba terbiasa dengan situasi konyol yang ada. Percaya padaku, ini tidak seburuk yang kau kira. Kau harus mulai menikmati hidup barumu dengan baik, Byun."
"Tapi aku tidak tahu—"
"Jangan menyela saat aku sedang menasihatimu, Byun." Kyungsoo menyemprotnya. Baekhyun terlambat menyadari bahwa Kyungsoo sedang dalam mode: Mother-in-Law. Serius. Mother-in-Law.
Jadi Baekhyun hanya diam mengunci mulut, serta mengabaikan Rose yang tengah sekuat tenaga menahan tawa. Kyungsoo selalu bisa diandalkan, setidaknya Baekhyun berpikir demikian. Walaupun pemuda itu cukup galak melebihi anjing tetangga, dan menyebalkan seperti ibu mertua, Kyungsoo selalu bisa diandalkan. Tidak perlu menunggu kelulusan karena sejak lama pun, ia sudah menjadi penasehat hukum yang baik.
"Jangan buat dirimu sendiri stres, itu peraturan yang terpenting."
Acara nasihat berlangsung selama lima belas menit. Rose tengah terkantuk-kantuk di tempatnya duduk sementara Baekhyun bertahan untuk tidak membuka mulut sampai saatnya tiba. Kyungsoo bicara banyak hal yangg membuat Baekhyun sempat berpikir "Mungkin itu ide yang baik." Atau "Ya, dia benar juga." Hingga, "Akan kucoba."
Mungkin Kyungsoo memang sassy, mungkin pemuda itu memang galak, tapi sialnya dia selalu benar nyaris dalam segala hal.
"…Kuncinya adalah, tetap positif dalam hal apapun. Kau sudah paham?"
Baekhyun tersenyum tipis saat tahu dirinya sudah diperbolehkan untuk bicara. "Sangat paham."
"Bagus. Karena aku tidak sudi untuk mengulang nasehat yang telah berlangsung selama lima belas menit." Ujar Kyungsoo. Baekhyun mendengus, siapa juga yang sudi mendengar siaran ulang bertajuk nasehat hidup itu?
"Bangun Rossie! Aku tidak membayarmu untuk bermalas-malasan di kamarku." Baekhyun beralih pada satu-satunya wanita yang ada di sana. Rose membuka mata dan selesai dengan tidur ayamnya.
"Kau tidak membayarku sama sekali." Perempuan itu menguap dan meregangkan tangannya. "Kurasa sudah saatnya kami pulang."
"Oh yeah, jangan katakan bahwa kau sedang menjadi anak baik sekarang. Ini bahkan belum tengah malam." Baekhyun bermaksud untuk membuat kedua rekannya tetap tinggal.
"Faktanya, aku sedang mencoba menjadi anak baik itu sendiri. Supaya ibuku memikirkan kembali soal wacana perjodohan kuno yang ia buat dengan teman hangout-nya."
"Lihat siapa yang sudah siap berumah tangga. Dan kalau aku tidak salah dengar, perjodohan sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat modern." Ujar Baekhyun.
Kyungsoo meliriknya dan berkomentar. "Baekhyun, kau harus tahu bahwa hal semacam ini masih cukup efektif untuk digunakan oleh orang-orang kelas atas. Ini tentang bisnis, cinta bisa menyusul belakangan. Yang terpenting adalah mengawinkan perusahaan dan membuatnya berkembang biak untuk tetap bisa menghasilkan uang. Begitulah cara bagaimana orang kaya masih tetap kaya bahkan hingga keturunan ketujuhnya."
"Aku tidak suka dengan teorimu tapi kau sialan sangat benar." Rose mengirimkan tatapan iritasi pada Kyungsoo –yang-selalu-tahu-segalanya. "Tapi kupastikan itu tidak akan terjadi. Aku lebih baik menikahimmu daripada menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki pilihan ibuku."
"Wow, kau membuatku terdengar seperti pilihan terakhir yang amat sangat buruk. Aku tersanjung." Kyungsoo membungkukkan bahunya penuh sarkasme. "Suatu kehormatan bisa dipilih oleh seorang princess dari keluarga kaya yang bahkan tidak mampu mengeja namanya sendiri dengan benar."
"Aku bisa! R-o-s-s-e!"
"Kau kelebihan satu huruf S." Baekhyun menyela.
"Oh ya? Kurasa ini adalah namaku dan aku bebas untuk mengejanya semauku." Rose membentak si penyela.
"Siapapun yang akan menikah dengamu, selain uang yang banyak, kuharap dia juga memiliki kesabaran yang tak terbatas." Kyungsoo berdo'a dengan tulus untuk calon pasangan sahabatnya kelak. Baekhyun diam-diam mengaminkan.
"Oh, thank you!" yang dido'akan justru memutar bola mata. Sekarang ia mulai mempertanyakan kenapa bisa ia terikat dalam sebuah ikatan bernama 'persahabatan' ketika mereka bahkan melempar sarkas pada satu sama lain.
"Apa kita tidak jadi pulang?" Kyungsoo mengembalikan obrolan mereka ke topik awal. Ia bertanya pada Rose yang sedang merajuk.
"Aku masih marah padamu." Rose kini semakin memajukan bibirnya.
"Bagus. Itu artinya aku bisa membawa mobilmu dan kau pulang naik taksi." Kyungsoo mengeluarkan kunci mobil milik Rose yang tersimpan di sakunya.
"Dan aku akan menelpon polisi." Rose mengancamnya.
Baekhyun berdiri di tengah mereka, dan ia menunjuk pada Rose. "Tidak bermaksud meremehkanmu, tapi Kyungsoo lebih mengerti hukum daripada kau. Daripada kita berdua. Jadi itu adalah sia-sia."
"Uhh, fine!" Rose, mau tidak mau, menghentikan tantrumnya dan bangkit dari sisi tempat tidur yang ia duduki. "Hanya untuk kali ini saja, aku membiarkanmu menang."
"Of course, princess." Kyungsoo kembali mengoloknya.
"I fucking hate you."
"Of course, me too."
Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar dan menuruni tangga. Chanyeol, Jongin, dan Kris terlihat tengah menonton televisi dengan tenang. Baekhyun sangat berterimakasih akan hal kecil itu, sampai salah satu dari mereka menyadari bahwa acara menjenguk telah selesai.
"Oh, kalian sudah mau pulang?" Chanyeol adalah yang bangkit dari tempat duduk dan berjalan menyusul Baekhyun yang hendak mengantarkan kedua temannya hingga pintu depan.
Sementara itu, Jongin mengintip dibalik sofa dan Kris tidak peduli dengan dunia di sekitarnya. Kenapa pula ia harus mengalihkan perhatian dari acara kuliner yang tengah ditontonnya sekarang?
"Kami harus segera pulang sebelum larut." Kyungsoo menjawab singkat dan Chanyeol cepat mengerti.
"Kau mau pergi kemana?" Baekhyun bertanya pada si tinggi yang kini mengikutinya di belakang.
"Tentu saja mengantarkan tamu kita ke pintu depan."
"Mereka tamuku. Tidak pernah ada kita diantara kau dan aku."
Di belakang sana, Jongin berseru.
"Oooouch… itu cukup sakit.."
"Diam Ggamjong!" Chanyeol menunda untuk memukul pantat Jongin sampai ia selesai dengan tamunya. "Abaikan saja dia, babe." Ujarnya kembali pada Baekhyun.
Baekhyun membuang napas. Tidak peduli lagi jika Chanyeol ingin berdiri di belakang punggungnya semalaman pun. Ia lebih memilih untuk kembali ke tujuan awal, mengantar kedua sahabatnya ke depan pintu.
"Oh ya, aku lupa bertanya. Kemana kau pergi saat pesta kemarin malam?" Rose bertanya saat ia mengingat pesta di rumah Jennie yang mana dirinya dan Kyungsoo tidak menemukan Baekhyun sampai pesta selesai.
Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan hal sebenarnya tentang pesta kemarin malam. "Uhh…itu… aku…"
"Baekhyun tiba-tiba merasa tidak enak badan." Chanyeol berbaik hati menjadi seorang juru bicara. Entah kenapa Baekhyun merasa terselamatkan. "Lalu aku pergi untuk menjemputnya agar ia bisa beristirahat."
"Oh." Rose berbagi tatapan dengan Kyungsoo. Masih agak bingung karena Baekhyun pergi tanpa pamit. Namun saat mendengar penjelasan Chanyeol, rasa penasaran mereka sedikit terobati.
"Ya, itu benar." Baekhyun berada satu tim dengan Chanyeol kali ini, demi dirinya sendiri.
"Such a good boyfriend." Kyungsoo memuji Chanyeol, namun Baekhyun tahu bahwa anak itu sedang meledeknya. Awas saja.
"Yeah, boyfriend." Chanyeol memasang senyum selebar mungkin bersamaan dengan tangannya yang melingkar di bahu Baekhyun. Kali ini yang lebih muda tidak bereaksi apa-apa selain menghembuskan napas lelah.
"Kalau begitu kami pamit. Semoga cepat sembuh, Baekhyun." Kyungsoo menarik senyum miring sebelum melanjutkan kalimatnya. "Walaupun kau sekarang sudah lebih baik."
"Sampai jumpa lagi." Rose melambaikan tangannya dan berjalan beriringan dengan Kyungsoo menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Silakan datang kembali lain waktu." Seru Chanyeol. Baekhyun meliriknya sembari mendengus. Pria itu sekarang terdengar seperti pemilik penginapan yang mengharapkan pelanggannya untuk datang berkunjung kembali.
"Sampai jumpa lagi Baekhyun! Dan sampai jumpa lagi pacarnya Baekhyun!" Rose melambaikan tangannya dibalik kaca ketika mobil mulai melaju pergi. Baekhyun samar-samar melihat kekehan jahil dari kedua rekannya dan ia bersumpah untuk memukul mereka nanti.
Lain dengan Baekhyun, Chanyeol yang berdiri di sebelahnya tak henti-hentinya tersenyum senang bahkan sampai menutupi wajahnya. Pria itu menggeleng-geleeng seolah tak percaya bahwa ia baru saja mendengar sahabat Baekhyun memanggilnya "Pacarnya Baekhyun".
"I'm so done with this shit."
Baekhyun berbalik dan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Baekhyun?" panggil Chanyeol ketika menyadari si mungil telah pergi lebih dulu. Ia pun hendak menyusul ke dalam namun terhenti di depan pintu.
"Baekhyun? Sayang? Baby? Kau lupa kalau aku masih diluar? Babe? Seseorang tolong buka pintunya! Aku tidak mau tidur di luar!"
Pagi berikutnya, Baekhyun terbangun dengan tubuh yang segar. Hal semacam ini memang kerap terjadi padanya. Masa sakitnya biasanya hanya berlangsung selama satu hari (dengan sangat berat) dan di hari berikutnya ia telah kembali normal.
Hari ini adalah hari Minggu, yang mana Baekhyun tidak perlu pergi kuliah dan hanya akan keluar rumah untuk bekerja nanti sore. Kedai kopi biasanya akan cukup ramai di akhir pekan dan Baekhyun mungkin akan menambah jam kerjanya dari empat menjadi enam. Ia sedang membutuhkan uang lebih untuk membeli sneakers baru karena yang lama sudah ketinggalan zaman –padahal ia membelinya dua bulan lalu.
Baekhyun turun dari tangga dan mendapati dua orang tengah duduk santai di sofa sambil menonton tv, Sehun dan Kris. Sehun seperti biasa tengah menonton animasi kesayangannya dengan semangkuk seral di atas kaki yang bersilang. Sementara Kris menemaninya dengan mata yang berfokus pada layar smartphone di tangan. Ia mungkin terlihat sedang sibuk dengan dunianya sendiri namun nyatanya, ia menyadari kehadiran Baekhyun yang baru saja menuruni tangga.
"Good morning." Sapanya, masih dengan mata yang bertumpu pada ponsel. Dan sebelum Baekhyun sempat membalas, ia kembali buka suara. "Keberatan untuk membukakan pintu? Belnya sudah berbunyi sejak tiga menit yang lalu."
"Astaga! Kenapa kau membiarkannya?" tanya Baekhyun sedikit emosi.
"Seperti yang kau lihat, aku sedang sibuk dengan handphone-ku sambil memastikan bahwa Sehun tidak tersedak saat makan. Jadi cepat buka pintunya."
Baekhyun membuka mulutnya sambil mengerjap tak percaya. Ia kehilangan minat untuk bertanya kenapa Sehun melakukan hal yang sama –mengabaikan tamu mereka, dan memilih untuk membukakan pintu untuk menyapa siapapun orang malang di luar sana yang telah diabaikan selama beberapa menit.
"Aku datang!" serunya ketika suara bel kembali terdengar.
Saat pintu terbuka, Baekhyun melihat seorang wanita berambut panjang yang tengah menggandeng seorang anak perempuan di sampingnya. Ketika Baekhyun tampil di hadapannya, perempuan itu lantas membuka kacamata hitam yang selama ini bertengger di hidung dan mulai berbicara. "Selamat pagi. Kau orang baru?"
Baekhyun mengangguk tanpa kata.
"Namaku Zhang Yixing." Perempuan itu mengulurkan tangannya. Baekhyun menyambutnya dengan gugup.
"Byun Baekhyun." Ia memperkenalkan diri. Dan ketika ia melirik anak kecil yang ada di depannya, Yixing segera memberi tahu.
"Dia putriku, Zixuan."
"Hello!" Zixuan menyapanya dengan nada riang.
"Hai!" Baekyun melambaikan satu tangannya dengan ramah. Ia baru teringat tentang cerita Chanyeol sebelumnya. Bahwa Suho memiliki anak dari seorang perempuan keturunan Tiongkok, dan kerap kali berkunjung di akhir pekan. "Silakan masuk, maaf membuat kalian menunggu."
Baekhyun merasa bersalah karena membiarkan mereka berdua berdiri dalam waktu yang lama di depan pintu. Namun dari apa yang dilihatnya, Yixing sama sekali tidak keberatan.
"Itu sudah biasa. Mereka pernah membiarkanku lebih lama daripada ini. Dan aku sangat tahu ini ulah siapa." Yixing tersenyum kecil pada Baekhyun. Ia lalu memasuki rumah dengan menggandeng Zixuan di samping.
Baekhyun menggeleng tak percaya, wanita yang kini berjalan di depannya itu ternyata sudah terbiasa dengan kelakuan orang-orang di rumah ini. Dan ia merasa heran kenapa bisa Yixing membiarkan pria-pria itu bermain dengan anaknya.
"Daddy!" Zixuan berseru senang dan melompat ke pangkuan Kris yang tengah duduk di sofa.
"Woooah, lihat siapa yang datang!" Kris menyambutnya dengan suka cita. Yang mana Baekhyun sedikit merasa takut saat si psikopat tiba-tiba menunjukan wajah ramah di depan seorang anak yang memanggilnya 'Daddy'.
Yixing berdiri di depan mereka dengan kedua tangan yang bersilang di dada besarnya. "Honey, dia bukan Daddy." Ujarnya pada Zixuan yang kini sedang terkikik saat Kris menggelitik perutnya.
"Tentu saja ini Daddy." Kris masih sibuk menjahili Zixuan yang tertawa renyah. Seakan ucapan Yixing hanya angin berhembus yang pastinya selalu diabaikan.
"Terserah." Yixing mengibaskan rambutnya. "Dimana Suho?" ia bertanya pada semua orang.
"Dia ada di kamarnya, baru pulang dinihari tadi." Sehun yang sedari tadi hanya diam kini buka suara. Ia menaruh mangkuknya yang telah kosong dan memutuskan untuk turut bermain dengan dua mahluk di sampingnya.
"Uncle Hoon! Help!" Zixuan masih terkikik dan berusaha menjauhkan tangan Kris dari perutnya. Baekhyun berasumsi bahwa Uncle Hoon yang dimaksud adalah Oh Sehun yang kini bergabung untuk melawan Kris.
"Kau sudah datang."
Baekhyun spontan menoleh ke belakang dan menemukan Suho yang secara ajaib berada di rumah. Ia tidak tahu kapan orang ini pulang kalau saja tidak mendengar penjelasan Sehun tadi.
"Aku datang lebih pagi karena Zixuan sudah tidak sabar untuk pergi ke kebun binatang denganmu." Yixing menyambut Suho dengan sebuah pelukan singkat dan kecupan di kanan dan kiri. Yang mana sempat membuat Baekhyun kaget sebab mereka tidak terlihat seperti dua orang mantan kekasih yang telah berpisah.
"Sebenarnya itu ide Kris." Ujar Suho, ia tiba-tiba beralih pada Baekhyun. "Dia Yixing, dan itu adalah Zixuan, anak kami berdua." Ia menjelaskan pada Baekhyun yang sebenarnya sudah tahu.
"Ahh ya, kami sudah berkenalan di depan." Ujar Baekhyun.
"Itu bagus." Suho mengangguk kali ini ia beralih pada perempuan di sampingnya. "Kau sudah sarapan?"
"Belum. Aku akan sarapan di luar." Yixing berkata sambil memeriksa handphone-nya. Nampaknya ia tengah sibuk menghubungi seseorang di seberang sana.
"Papa!" Zixuan berseru kala dirinya baru saja lepas dari pangkuan Kris. Ia berlari kecil pada Suho yang kemudian mengangkat tubuhnya.
"Gotcha!" Sang ayah menggendongnya dan tak lupa mendaratkan ciuman di kening. "Zixuan rindu Papa?"
"Rinduuu!"
"Hey, kenapa kau tidak mengatakan itu pada Daddy?" Kris memasang wajah pura-pura marah yang membuat Zixuan tertawa.
"Angry Bird Daddy." Zixuan berkata ditengah tawanya. Baekhyun tersenyum dan ia tidak butuh waktu lama untuk menyukai anak ceria itu.
"Suho, katakan pada Zixuan bahwa orang asing di sana bukanlah Daddy-nya." Yixing berkata sambil melirik singkat pada Kris yang berpura-pura tidak melihatnya.
"Yeobo, katakan pada wanita berbedak tebal di sana bahwa aku juga berhak atas Zixuan dan Zixuan bebas untuk memanggilku Daddy kapanpun dia mau." Kris tak mau kalah.
"Suho, katakan pada si pirang psikopat di sana bahwa ia sama sekali tidak ikut campur dalam pembuatan Zixuan, jadi dia tidak punya kesempatan."
"Yeobo, katakan pada wanita tak tahu malu di sana bahwa dadanya kelihatan palsu."
Baekhyun menonton peristiwa itu tanpa berkedip. Ia berdiri dengan canggung dan memilih diam saat pria dan wanita itu tengah saling melempar kalimat satu sama lain melalui Suho. Sementara itu, Sehun yang juga ada di sana memilih untuk bangkit dari sofa sembari membawa mangkuknya dan berjalan ke dapur. Ia menggumamkan sesuatu seperti, "Lagi-lagi perkelahian rumah tangga."
"Kalian berdua, hentikan." Suho masih terlihat tenang meskipun Baekhyun yakin bahwa pria itu sudah tidak tahan dengan pertengkaran tak bermutu di depannya. Dia mungkin tengah menahan diri karena di sana ada Zixuan.
"Papa, Mommy marah." Zixuan menyembunyikan wajahnya di leher Suho.
"Mommy tidak marah, Mommy hanya kesal karena tidak bisa ikut ke kebun binatang." Suho menenangkannya.
"Mommy tidak ikut?"
"Mommy akan pergi kencan dengan pacarnya." Ujar Kris, yang mana langsung mendapat tatapan membunuh dari Yixing.
"Kencan?" Zixuan bertanya polos. Tentu saja ini adalah kata yang baru untuknya.
"Ya, seperti yang akan kita lakukan sekarang. Papa, Daddy, dan Zixuan, kita pergi ke kebun binatang. Kita akan kencan." Kris menerangkan dengan senang hati pada malaikat kecil di depannya.
"Kencaaan!" Zixuan berseru penuh semangat.
Baekhyun masih berdiri di ruangan itu dan ia mengutuk dirinya sendiri yang terlalu canggung bahkan untuk pergi ke dapur. Jujur saja, ia merasa tidak enak hati saat menjadi penonton bisu bagi keluarga kecil ini. Tapi ia merasa lebih konyol jika harus pergi begitu saja.
"Hello Princess!"
Hell yeah!
Baekhyun merasa belum pernah se-senang ini saat menemukan Chanyeol berada di sekitarnya. Matanya nyaris berkaca-kaca kala menjumpai pemandangan dimana Chanyeol mengambil alih Zixuan dan menggendong balita itu di lengannya. Thanks God. Setidaknya, sekarang Baekhyun tidak sendirian di tengah-tengah keluarga yang tengah memanas ini.
"Senang melihatmu berpakaian dengan wajar, Park." Yixing memberi Chanyeol tatapan penuh kebanggan seakan pria itu baru saja terlepas dari ketergantungan terhadap narkoba. Baekhyun masih mengobservasi, dan ia berpendapat bahwa hubungan Yixing dengan Park yang ini jauh lebih baik daripada dengan Park yang satunya lagi.
"Senang melihatmu di sini, noona." Chanyeol menyambut ramah. Sesekali mengadukan keningnya dengan kening si anak yang dibawanya.
"Sayang, kau mau sarapan?" Pria itu beralih pada Baekhyun yang tengah diam layaknya patung.
"Umm, yeah." Baekhyun bahkan tidak sempat untuk protes atas panggilan menyebalkan dari Chanyeol.
"Kalau begitu ayo." Chanyeol mengajak Baekhyun untuk pergi ke dapur, dan si pendek pun mengekor dengan senyap. "Zixuan ikut denganku." Chanyeol berkata pada tiga orang dewasa yang masih berdiri di ruang keluarga.
"Terimakasih Chanyeol, kami akan bersiap-siap." Suho berseru sebelum Chanyeol, Baekhyun dan Zixuan menghilang dibalik pintu. Baekhyun merasa terselamatkan karena ia curiga, pertengkaran tiga orang itu masih akan terus berlanjut. Untungnya dia sudah tidak berdiri di sana lagi.
"Uncle Jong sedang menyiram tanaman di kebun, Zixuan ingin melihatnya?" Chanyeol bertanya pada si kecil yang digendongnya. Zixuan mengangguk penuh semangat dan menggerakkan kepalanya kesana kemari.
"Lihat Lihat Lihat!" ia berseru bersamaan dengan Chanyeol yang berjalan ke pintu belakang.
"Tunggu sebentar, aku akan kembali." Ujar Chanyeol pada Baekhyun yang tengah duduk di depan counter.
Baekhyun mengangguk patuh.
Setidaknya mereka tahu bagaimana cara memperlakukan anak kecil, Baekhyun memuji rekan-rekan serumahnya. Dan fakta bahwa Yixing membiarkan Zixuan untuk berkunjung setiap Minggu pun sudah lebih cukup untuk memberi tanda bahwa mereka lumayan bertanggung jawab sebagai babysitter.
"Dimana Zixuan?"
Baekhyun bertanya saat Chanyeol kembali ke dapur. Pria itu berjalan memutari counter dan berdiri di seberang Baekhyun.
"Jongin sedang mengajarkannya bagaimana cara menyiram bunga yang baik." Terang pria tinggi tersebut. "Jadi… apa yang ingin kau makan?"
"Apapun yang kau buat, Chef."
"Kalau begitu nasi omelet spesial… untuk calon ibu dari anak-anakku." Chanyeol tersenyum memamerkan lesung pipi kebanggannya. Baekhyun tidak habis pikir dengan pria ini. Kenapa ia masih bisa bersikap seperti ini pada seseorang yang telah menguncinya di luar tadi malam?
"Kau selalu berpikir terlalu jauh." Baekhyun bersidekap dan memangku dagunya di atas tangan. "Atau, aku adalah orang kesekian yang mendengar ucapanmu itu."
"Tentu saja tidak." Chanyeol berkata cepat selagi memakai apron kuning –yang juga kebanggaannya. "Aku hanya mengatakan hal-hal manis padamu seorang."
"Wow, apakah itu benar? Siapa tahu kalau kau sudah pernah meniduri semua wanita di kota ini?" Baekhyun menaikkan alis.
Chanyeol memulai acara memasaknya dengan mengambil beberapa telur di lemari pendingin. Ia tersenyum –nyaris tertawa- saat mendengar ucapan Baekhyun barusan. "Tidak semua. Hanya beberapa yang cantik saja."
Baekhyun bertepuk tangan dengan wajah datar. Entah kenapa ia tidak merasa kaget.
"Tapi tenang saja, sekarang aku sudah jinak. Seseorang menjinakkanku."
"Aku bertanya-tanya siapakah orang tersebut."
"Orang itu duduk tepat di depanku sekarang."
Baekhyun mengalihkan wajahnya ke samping. Sial. Bisa-bisanya si idiot itu membuat wajahnya dipenuhi semburat kemerahan.
"Seseorang sedang tersipu malu." Chanyeol berkata dibalik tawa kecilnya. "Itu sebuah kehormatan bagiku."
"Kau tidak pernah serius dengan ucapanmu." Baekhyun ingin mengingkari fakta bahwa ia telah sedikit tersentuh oleh Chanyeol. Pria itu bahkan belum cukup lama ia kenal, satu bulan saja belum tuntas.
"Aku? Aku sangat serius dengan ucapanku." Chanyeol membela diri. Ia menolak jika dikatai sebagai seorang pembual. "Kau berbeda. Kau menarikku jatuh ke dalam dirimu. Dan tahu apalagi yang ajaib? Itu terjadi sekian detik setelah aku pertama kali bertemu dengan matamu."
Baekhyun ingin sekali membuang semua perasaan aneh ini ke tong sampah. "Maaf saja kalau aku begitu mempesona."
"Sangat mempesona dan sangat seksi." Chanyeol menambahkan.
Baekhyun membuang napas, menatap pada Chanyeol yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. "Yang kulakukan padamu hanya berteriak dan marah-marah, bagaimana itu bisa terlihat seksi?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Tidak tahu. Mungkin kau harus mulai bercermin saat kau marah dan melihat betapa seksinya dirimu saat itu."
"Kau sangat tidak masuk akal."
"Aku tahu aku tahu…" Chanyeol setuju dengannya. "Cinta tidak pernah sekalipun masuk akal."
"Heh, Cinta." Baekhyun tertawa meremehkan. Entah sejak kapan kata itu terdengar seperti sebuah lelucon baginya. "Cinta, pantatku."
"Pantatmu sangat sempurna."
"Kau bahkan memperhatikan pantatku?" Baekhyun mengerang tak percaya. Semua ini mendadak naik ke level yang sedikit menakutkan. Membayangkan Chanyeol yang berdiri di belakangnya selagi dirinya berjalan membuat Baekhyun merinding.
"Aku tidak bisa melewatkan sesuatu hal yang indah." Chanyeol mengakuinya.
"Kau sangat sangat sangat aneh. Aku bertaruh kalau aku bukanlah orang pertama yang mengatakan ini padamu."
"Aku tidak akan membantahnya. Tapi saat kau mengataiku aneh, kau harus ingat bagaimana Kris memperlakukan seseorang."
Baekhyun merasa seperti diingatkan, dan ia setuju. "Kau benar, dia orang yang paling aneh dari semua yang pernah kutemui."
"Aneh dan sangat psikopat." Chanyeol menambahkan. Seperti ia baru saja membicarakan seseorang yang sama sekali bukan kakaknya. Ya, memang secara biologis mereka bukan kakak beradik. Mereka layaknya musuh yang sedang menunggu waktu untuk saling membunuh satu sama lain. "Saat di sekolah dasar, ia pernah mendorong temannya dari atas pohon untuk melihat apakah temannya itu bisa terbang atau tidak. Dan ayah mengeluarkan sejumlah uang agar masalah itu terselesaikan tanpa campur tangan polisi."
"Oh my God! Dia butuh penanganan medis, Chanyeol. Bagaimana kalau dia tiba-tiba mengamuk dan membunuh kita semua?"
"Percayalah sayang, jika ada satu hal yang Kris butuhkan maka itu adalah exorcism." Chanyeol memberitahunya.
"Kau benar juga." Baekhyun lagi-lagi setuju.
Mereka terlibat ke dalam percakapan yang labih jauh dan anehnya, Baekhyun sangat menikmati hal tersebut. Dalam pikirannya, ia masih terus mengingat paham dari Kyungsoo bahwa dirinya harus tetap berpikir positif dan hasilnya ternyata tidak terlalu buruk. Atau, ini hanya efek yang sama seperti sebelumnya dimana ia pun merasa nyaman mengobrol dengan Chanyeol yang tengah memasakkan sarapan untuknya. Apapun itu, Baekhyun merasa lambat laun tingkat toleransinya terhadap Chanyeol semakin bertambah.
"Satu piring nasi omelet spesial yang dibuat dengan penuh cinta," Chanyeol menghidangkan mahakaryanya ke hadapan Baekhyun. "Selamat menikmati."
Baekhyun menatap makanan di depannya dengan liur nyaris mengalir deras. Dari tampilannya yang menarik, ia sudah bisa menebak rasanya. Well, pancake yang dibuat Chanyeol sangatlah enak, maka omelet ini pun harus sama.
"Tapi…" Baekhyun menengadah, melihat wajah Chanyeol yang hadir di depannya. "Ini terlalu banyak untukku."
"Kau harus menghabiskannya karena kau kehilangan banyak nutrisi kemarin."
"Aku tidak bisa makan sebanyak ini." Baekhyun membuat wajahnya terlihat seperti anak anjing yang memohon. "Please, bantu aku menghabiskannya."
"Sure."
Chanyeol dan Baekhyun menoleh bersamaan. Tepatnya pada seseorang yang baru saja berbicara dan berjalan ke depan kulkas.
"Akan kubantu." Ujar Kris sembari mengambil sebotol air dari dalam.
"Kris." Chanyeol memberinya tatapan penuh ancaman. "Jika kau sudah selesai dengan urusanmu, maka keluar dari sini."
Kris meminum air mineralnya dengan tenang. Setelah rasa hausnya terobati, ia pun beralih pada Chanyeol. "Fine. Aku diusir dari dapurku oleh saudaraku sendiri." Ia berkata dengan nada terluka. Kakinya kemudian berjalan keluar seperti apa yang diinginkan Chanyeol. "Tidak ada seorangpun yang menyukaiku di rumah ini."
Chanyeol memutar bola mata. Kini ia beralih pada Baekhyun yang ternyata telah memulai sarapannya. "Sampai dimana kita tadi?"
"Bantu aku menghabiskan ini." Baekhyun masih belum menyerah untuk membujuk. Sebenarnya yang ia makan adalah porsi normal, namun karena Baekhyun terbiasa makan setengah porsi, maka ia sedikit kewalahan.
"Baiklah." Chanyeol melepaskan apronnya. "Hanya setelah kau berjanji untuk pergi menonton bersamaku malam ini." Ia tersenyum miring.
"What?"
"You heard me." Chanyeol memutari counter dan mengambil kursi untuk duduk di samping Baekhyun. Chanyeol tidak suka saat ada jarak diantara mereka bahkan jika itu hanya sebuah meja pendek. "Bagaimana?"
Baekhyun menatap pria itu seraya berpikir. Ini bisa saja menjadi hal yang terlalu cepat bagi mereka tapi ini bukanlah sesuatu hal yang buruk. "Mungkin bisa saja, tapi shift kerjaku…"
"Kita ambil yang paling malam." Chanyeol berkata penuh pengertian. "Kau yang pilih film-nya."
Baekhyun melipat bibirnya ke dalam. Sekarang ia tidak punya kesempatan untuk kembali. Jadi mari lanjutkan saja. Ia mulai memikirkan sebuah film yang sedang ramai dibicarakan, namun belum ditontonnya. Yep, Infinity War "Kau suka Avengers?"
Chanyeol mengangguk, tatapannya tak pernah lepas dari Baekhyun. "Itu menduduki peringkat dua dari semua hal yang paling kusukai."
"Oh ya? Dan peringkat pertama adalah?"
"Byun Baekhyun."
Baekhyun memukulnya dengan sendok.
"Lagi." Chanyeol tersenyum seperti seorang masokis. "Kau sangat seksi saat ini."
Baekhyun menyembunyikan wajah merahnya dibalik telapak tangan. Kenapa bisa Chanyeol menjadi romantis dan menyebalkan di saat yang bersamaan? Sialan. Ia tidak boleh jatuh semudah ini. "Baiklah cukup. Sekarang, makan."
"Mana yang harus lebih dulu kumakan? Kau atau omelet-nya?"
"Chanyeol, i swear to God…"
"Okey okey, hanya bercanda. Mari makan!"
Pada akhirnya, mereka menyantap sarapan dengan tenang. Tanpa godaan kecil Chanyeol, tanpa teriakan Baekhyun. Benar-benar sarapan yang sunyi.
Saat itu, entah kenapa, Baekhyun ingin sekali waktu berjalan dengan lambat.
.
.
.
Tbc
.
.
.
First of all, i know its too damn fucking late but, Happy birthday Byun Baekhyun. The sun, the moon, and the love of my life. I wish nothing but the best for u.
Selalu terimakasih buat kalian yang masih setia sama ff ini. Dan karena minggu kemaren gak update chapter, makanya yang sekarang ditambahin wordsnya (Segini dibilang extra LOL). Lalu ya, Yixing dibuat GS. Mungkin nanti masih ada lagi chara baru yg muncul, siapa yang tau?
p. s: Gimana tanggapan kalian –kalau suatu hari- mpreg terjadi di ff ini?
