Closer
"Maaf Tuan, kami sudah tutup."
Seorang pelayan wanita menunjuk tanda 'close' yang dipajang di depan pintu kaca kedai kopi. Chanyeol tidak repot-repot melihatnya, pria itu justru membetulkan tatanan rambutnya dan berbicara dengan tenang. "Tidak, aku tidak bermaksud membeli kopimu."
Ia menyebarkan pandangan ke semua arah. Setelah rambut hitam ia rapikan, kini giliran kerah baju yang ia urut supaya terlipat lurus sebagaimana mestinya. Chanyeol telah bercermin selama kurang lebih satu jam di kamar Kris (Hanya Kris satu-satunya mahluk di rumah itu yang memiliki cermin super besar hanya karena hobinya mengagumi dirinya sendiri lebih dari siapapun), namun waktu yang ia habiskan seakan tidak cukup untuk membuatnya merasa sempurna malam ini. Entah karena gugup atau apa, ia terus saja berbenah.
"Dimana karyawan bernama Byun Baekhyun?" Chanyeol bertanya pada pelayan wanita yang kini tengah membereskan meja dan kursi.
"Oh, Baekhyun? Mungkin dia sedang berganti pakaian di lokernya. Sebentar lagi pasti keluar—"
"Baekhyun!" Syukurlah ia tepat waktu. Chanyeol memanggil si mungil yang baru saja keluar dari ruangan khusus karyawan bersama dengan sahabatnya.
Dan Baekhyun tiba-tiba membeku dengan mata nyaris melompat keluar.
Chanyeol menghampirinya secara jantan. Dengan senyum terbaik yang ia punya, pria itu berjalan ke arah Baekhyun beserta segenap kepercayaan diri yang mendadak keluar. Di depan sana, Baekhyun menyatukan alis seolah tengah mengasihani diri sendiri.
"Siap untuk pergi?" tanya Chanyeol.
Namun bukannya menjawab pertanyaan, Baekhyun justru memindai tampilan Chanyeol dari ujung kaki hingga rambut. Setelahnya, ia hanya bisa bertanya dengan nada memelas.
"Seriously? Black suit?"
Kyungsoo, sahabat Baekhyun yang berdiri di sampingnya, menyembunyikan tawa ke arah lain.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Chanyeol bertanya dengan polos. Baekhyun cukup bangga karena dirinya tidak langsung memukul tengkuk pria di depannya secara membabi buta.
"Kau ini hendak melamar seseorang atau apa?" Baekhyun bertanya, nyaris berteriak dan itu sukses membuat beberapa karyawan yang masih berada di sana merasa tertarik untuk menonton mereka.
Jelas saja Baekhyun marah. Chanyeol yang ia kenal hanya akan mengenakan pakaian santai atau mungkin dibantu sepatu vans saat keluar dari rumah. Atau, bahkan tidak mengenakan pakaian sama sekali –Baekhyun bersyukur karena Chanyeol tidak cukup idiot untuk melakukan itu sekarang. Tapi sebuah setelan jas hitam dengan kemeja biru muda sama sekali bukan sesuatu hal yang masuk ke dalam ekspektasi Baekhyun. Demi Tuhan, mereka hanya akan pergi menonton, bukan menghadiri makan malam di restoran fancy.
"Tunggu, apa ini berarti kau ingin aku melamarmu malam ini?" wajah Chanyeol tiba-tiba terlihat panik. Ia menggingit batang telunjuknya seolah tengah memikirkan sesuatu. "Sial, aku tidak membawa cincin."
Baekhyun mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Bukan begitu maksudku. Ada apa dengan pakaianmu itu? Chanyeol, Ya Tuhan… kita hanya akan pergi menonton. Kau tidak perlu berpakaian seformal itu."
Baekhyun menjelaskan dengan penuh kesabaran. Panik di wajah Chanyeol seketika memudar. "Syukurlah, kukira kau ingin dilamar malam ini. Padahal aku baru saja berencana untuk berlari ke toko perhiasan terdekat."
Kyungsoo yang masih berada di sana kini tengah memukul-mukul dinding dengan suara tawa yang sengaja diredam.
"Soal pakaianku," Chanyeol membetulkan kerah kemejanya. "Aku sengaja memilih yang paling bagus karena malam ini adalah malam pertama kita berkencan."
Tiba-tiba suara siulan terdengar meraung-raung.
Baekhyun yang baru sadar bahwa ia dan Chanyeol tengah menjadi pusat perhatian di antara para karyawan yang masih tinggal, memutuskan untuk menarik si pria keluar dari kedai itu. Ia mengabaikan Kyungsoo yang pada faktanya sedang melambaikan tangan dan berseru, "Semoga kencanmu sukses!"
"Wow wow, santai saja sayang, aku sudah memegang tiketnya." Chanyeol berujar karena berpikir Baekhyun sudah tidak sabar ingin menonton film laris tersebut.
"Ayo kita pulang dan ganti pakaianmu." Baekhyun berkata selagi mereka berdua masih berjalan menuju tempat parkir. "Dammit. Where the hell is your car?"
"Tidak. Aku tidak akan menggantinya." Chanyeol berhenti seketika. Tangannya masih berada di genggaman Baekhyun, dan ia diam-diam senang akan hal itu. Chanyeol tidak berniat untuk mencuci tangannya sampai dua minggu ke depan.
Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab di depannya, Baekhyun melepaskan genggaman tangan dan menengadah pada si tinggi. "Kau akan mengganti pakaianmu, dan itu sudah jelas."
"Itu tidak akan terjadi!"
Baekhyun membuka mulut dengan tatapan tak percaya. Ia menyangga pinggangnya dengan kedua tangan. Tidak menyangka bahwa Chanyeol bisa sekeras kepala ini dan terkesan kekanakkan. Baekhyun merasa seperti tengah membujuk anak lima tahun untuk pergi ke dokter gigi. Sulit dan mengesalkan.
"Ganti pakaianmu." Baekhyun merendahkan suaranya.
"Tidak mau."
"Astaga. Kenapa kau sangat keras kepala?"
"Kerasa kepala adalah nama tengahku."
"Kalau begitu kita tidak jadi pergi." Baekhyun mengancamnya. Ia berbalik arah dan berniat untuk meninggalkan Chanyeol sendirian.
Sayangnya, Chanyeol tidak kehabisan akal. Ia menyusul Baekhyun yang langkahnya tidak pernah lebih lebar darinya. Begitu mendapatkan si pendek, ia pun langsung mengangkat tubuhnya ke udara dan menempatkan Baekhyun di bahunya.
"What the… Chanyeol apa-apaan kau ini?" Baekhyun berseru dibalik punggung Chanyeol.
"Kita akan pergi menonton." Jawab Chanyeol santai. Mencoba menahan diri untuk tidak terdengar antusias karena pantat Baekhyun kini tengah berdampingan dengan wajahnya.
"Kau tidak bisa membawaku seperti ini!"
"Omong kosong." Chanyeol menyeringai saat ia melihat mobilnya yang terparkir agak jauh dari kedai kopi tempat Baekhyun bekerja.
"Aku akan berteriak!" Baekhyun memberi peringatan. Dan karena Chanyeol tidak kunjung menurunkannya, maka ia pun sengaja berteriak. "Tolong! Pria ini menculikku!"
"Bagus sekali Baekhyun. Tidak akan ada yang percaya bahwa orang setampan diriku adalah penculik." Ujar Chanyeol. Ia sampai di depan mobilnya dan langsung membukakan pintu untuk menempatkan Baekhyun di kursi depan.
Baekhyun mendengus. Melawan Chanyeol adalah hal yang sia-sia karena meskipun mereka sama-sama lelaki, tenaga Chanyeol jauh lebih kuat. Jadi ia hanya bisa menyesali kesialannya dengan duduk tak berdaya sementara Chanyeol mulai menyalakan mesin mobil.
"Pakai sabuk pengamanmu, sayang." Chanyeol mengingatkannya dengan penuh perhatian. Baekhyun mencipratkan kemarahan lewat tatapannya, namun ia tetap melakukan apa yang Chanyeol katakan. Walau bagaimanapun, keselamatan adalah yang paling utama.
Perjalanan ke bisokop tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya perlu sepuluh menit menyetir dari pusat kota. Baekhyun menghabiskannya hanya dengan menatap keluar dengan tangan menyangga dagu. Ia tidak mengucap sepatah katapun sejak dirinya masuk ke dalam mobil.
"Babe, kau tidak berniat mendiamkanku semalaman bukan?" Chanyeol menatapnya dengan cemas.
"Eyes on the road!" Baekhyun membentaknya.
Chanyeol bernapas lega dengan pandangan kembali ke jalanan. Setidaknya Baekhyun masih sudi berbicara dengannya. Wajah cemas yang semula singgah kini berganti dengan senyum sumringah.
Di dekatnya, Baekhyun menyebar tatapan permusuhan. Ia memang tidak berniat untuk mendiamkan Chanyeol secara sengaja, dirinya hanya sedikit kesal.
"Darimana kau tahu tempat kerjaku?" tanya Baekhyun, masih dengan nada tak bersahabat.
"Aku juga tahu kapan hari ulang tahunmu." Ujar Chanyeol penuh kebanggan.
"Kau stalker." Baekhyun menatapnya dengan penuh penghakiman. "Atau jangan-jangan kau juga memiliki data pribadiku? Alamat rumahku? Nama-nama keluargaku? Nomor sepatuku? Toilet mana saja yang pernah kumasuki?"
"Please, Babe…" Chanyeol menatapnya dengan wajah miris. "Aku bukan Mr. Grey."
"Eyes on the fooking road!"
Chanyeol cepat-cepat mengalihkan matanya kembali ke jalanan. Sisa waktu menuju bioskop mereka habiskan tanpa percakapan lagi. Hening diantara mereka berdua dibiarkan hingga keduanya sampai di tempat tujuan.
"Kau mau popcorn?" Chanyeol bertanya saat Baekhyun tengah memperhatikan sekitar.
"Biar aku saja." Baekhyun memasuki garis antrean yang saat itu sedang kosong. Ia kemudian memesan dua popcorn berukuran besar serta diet soda. Sementara Chanyeol duduk di dekat pintu teater, menunggu Baekhyun.
Ketika tiba saatnya film diputar, mereka berdua pun memasuki ruang teater yang cukup sepi. Tidak, tapi sangat sepi. Karena ketika Baekhyun melihat ke sekitarnya, kursi-kursi di belakang tidak diisi oleh siapapun.
"Kita duduk di sini." Chanyeol menunjuk kursi paling depan.
"Oh-oh, iya."
Hingga semua lampu dimatikan, Baekhyun masih sempat menoleh ke sana kemari. Ia hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak salah tempat. Karena rasanya cukup aneh apabila hanya mereka berdua yang menonton di sini.
"Kau yakin kita tidak salah tempat?" tanya Baekhyun. Chanyeol yang tengah mengunyah popcorn meliriknya singkat.
"Tentu saja tidak."
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu puas dengan jawaban Chanyeol. Namun ia memilih untuk menyamankan diri dengan bersandar di kursi dan membawa popcorn di pangkuannya. Matanya mulai terpaku pada layar ketika film dimulai.
"Rasanya seperti menyewa satu ruangan untuk berdua saja." Ujar Baekhyun disertai kekehan. "Pastinya hanya orang bodoh yang menghambur-hamburkan uang untuk hal semacam itu."
Ia melirik Chanyeol untuk melihat tanggapan pria itu atas leluconnya, namun Baekhyun justru mendapati wajah yang sama sekali tidak terhibur. Chanyeol memasang wajah seakan dirinya baru saja ditampar tanpa alasan yang jelas.
Baekhyun memproses respon tersebut dengan cepat. Menghubungkan satu persatu potongan kejadian sejak mereka tiba di bioskop dan keanehan yang ada. Tidak butuh waktu satu menit untuknya segera sadar, dan ia pun melotot tak percaya. Karena, tentu saja.
Tentu saja Chanyeol adalah orang bodoh itu sendiri.
"Oh my freakin' God…" Baekhyun menepuk keningnya sendiri dengan keras. Di sampingnya, Chanyeol hanya mampu tersenyum canggung. Ia tahu Baekhyun tidak akan menyukai ide ini, namun tetap saja ia berkeras-kepala untuk membuat malam ini spesial bagi mereka berdua. Hanya mereka berdua.
Di tempat duduknya, Baekhyun hanya bisa facepalm.
"Seharusnya aku sudah tahu. Seharusnya. Aku. Sudah. Sangat. Tahu."
Acara menonton berjalan dengan lancar. Walaupun diawal, Baekhyun sempat merasa kesal dengan Chanyeol yang selalu bersikap extra. Ini bahkan bukan kencan (Hanya Chanyeol saja yang menganggap malam ini adalah kencan pertama mereka). Namun seiring waktu berlalu bersamaan dengan film yang terus diputar, Baekhyun akhirnya diam juga. Terutama, ketika film mencapai klimaks dan berakhir dengan tidak terduga.
"Err… jadi…" Chanyeol menggaruk dahinya yang tidak gatal. Lampu telah menyala terang dan Baekhyun masih menatap layar di depannya tanpa ekspresi. Ia bingung bagaimana harus memulai kembali percakapan karena Baekhyun terlihat tidak cukup baik.
"I don't feel so good…" Baekhyun berkata pelan sambil beranjak dari tempat duduk.
"Kau mau pergi kemana?"
"Toilet."
Chanyeol menatap Baekhyun yang berjalan putus asa di depannya tanpa berkata apapun.
Pria itu kemudian berjalan menuju toilet terdekat. Menunggu dengan sabar seseorang yang sedang ada urusan di dalam sana. Kanan dan kirinya terlihat sepi, dan ia tidak repot-repot melirik jam untuk melihat waktu. Yang jelas ini sudah mendekati jam tutup bioskop.
"Sudah selesai?" Tanya Chanyeol saat melihat Baekhyun keluar dari pintu.
Baekhyun mencuci tangannya di wastafel dan mengeringkannya. Ia masih terlihat tidak cukup baik namun kini berbalik untuk berkata pada Chanyeol. "Aku masih marah padamu."
"Itu bagus." Chanyeol menerimanya dengan senang hati. "Aku suka kalau kau marah."
Baekhyun mendelik padanya. Ini terlihat seperti Chanyeol tidak menghiraukan perasaannya sama sekali. Jadi ia pun pergi keluar lebih dulu dengan langkah tergesa. Untungnya Chanyeol tidak kalah cepat. Ia menyamakan langkahnya dengan Baekhyun bahkan membukakan pintu keluar untuknya.
"Dengar ya," Baekhyun tiba-tiba berhenti ketika mereka berdua telah berada di luar. Ia menunda ceramahnya karena prioritas utamanya malam ini adalah menonton film. Namun karena hal itu telah ia lakukan, maka sekarang saatnya memberi pelajaran pada si orang kaya ini. "Aku tidak suka orang yang menghambur-hamburkan uang."
"Baik baik, aku minta maaf okay? Aku hanya merasa kalau ini adalah malam yang spesial jadi aku ingin menghabiskannya hanya berdua saja denganmu." Chanyeol menjelaskan.
"Tetap saja aku tidak suka." Baekhyun menyilangkan tangannya. Matanya menatap dengan galak. Chanyeol merasa ingin meleleh saat itu juga. Baekhyun yang sedang marah adalah yang terbaik, tercantik, dan terseksi.
"Pertama kau mengenakan pakaian formal, dan itu membuatku terlihat konyol dengan pakaianku sekarang." Baekhyun memulai komplennya. Chanyeol baru tahu kalau itu adalah alasan Baekhyun kesal sejak tadi. "Kedua, kau membeli semua kursi di bioskop. Aku tahu kau sangat kaya, tapi jangan hamburkan uangmu untuk hal-hal yang tidak berguna."
Ekspresi Baekhyun mulai melunak, dan Chanyeol tahu bahwa ia tidak bisa main-main lagi kali ini. "Baiklah, itu takkan terulang lagi."
"Itu takkan terulang lagi karena aku tidak akan mau pergi menonton lagi denganmu."
"Akan kulakukan apapun agar kau merasa lebih baik," Chanyeol menatapnya penuh permohonan. "Asal jangan katakan kalau kau tidak akan pergi menonton lagi denganku."
"Kalau begitu jangan panggil aku 'sayang'"
"Baik. Mulai sekarang aku hanya akan memanggilmu Baby."
"Itu juga tidak boleh."
"Baiklah, Honey."
"Honey juga tidak boleh!" Baekhyun menatap pria tinggi di depannya dengan jengkel. Saat Chanyeol hendak kembali bersuara, ia cepat-cepat memotongnya. "Sweeatheart juga tidak boleh!"
Chanyeol mengangkat kedua tangannya pertanda ia telah menyerah. Baekhyun mengapresiasi hal tersebut dan diam-diam menarik ujung bibirnya ke atas. Namun itu tidak berlangsung lama.
"Then I'll call you 'mine'."
Baekhyun kehilangan kalimat saat itu juga. Terutama saat Chanyeol menyerukan kemenangan atas perdebatan mereka lewat senyumnya.
"Aku mau pulang." Baekhyun pada akhirnya mengalihkan perdebatan tak berguna mereka. Percuma saja berdebat, toh kedepannya Chanyeol masih akan memanggilnya dengan panggilan-panggilan sayang yang lain. Baekhyun sudah tahu.
"Tidak mau makan malam?"
"Kau mau aku gemuk?" tanya Baekhyun seraya berjalan terlebih dahulu ke mobil. Chanyeol mengekor di belakangnya.
"Tidak ada yang salah dengan gemuk. Kau masih tetap imut dimataku."
Baekhyun mendesah selagi membuka pintu mobil. Satu lagi omong kosong masuk ke telinganya. Tetapi ia memilih untuk tidak menghiraukan yang satu ini. Baekhyun hanya ingin pulang sekarang. Persetan dengan semua ocehan Chanyeol.
Kembali mereka berdua duduk di dalam mobil yang perlahan bergerak di jalanan. Suasana malam tidak begitu ramai dan banyak toko yang telah tutup. Hanya terdapat beberapa pejalan kaki dan anak-anak muda yang sekedar berkumpul dan mengobrol.
Baekhyun menghirup udara segar lewat kaca mobil yang diturunkan. Malam hari yang cerah adalah salah satu hal yang disukainya. Dimana ia bisa berpikir secara bebas dan membayangkan hal-hal yang telah ia alami. Malam hari merupakan waktu yang tepat untuk merenung dan ia setuju.
Seperti, ia memikirkan tentang kehidupan barunya yang luar biasa konyol. Namun Baekhyun diam-diam menemukan satu hal lain di dalamnya. Chanyeol adalah hal baru dan unik. Yang selalu membuat Baekhyun merasa bahwa pusat dunia pria itu adalah dirinya. Ia hanya berasumsi, terlepas dari benar atau tidaknya kesungguhan Chanyeol. Baekhyun mungkin telah menerima Chanyeol, namun itu tidak sepenuhnya karena siapapun tahu bahwa itu terlalu cepat. Lagipula Baekhyun sedikit bermasalah dengan yang namanya 'percaya pada seseorang'. Ia adalah orang yang selalu belajar dari kesalahan. Dan pelajaran dari kegagalannya terdahulu adalah: Percaya terlalu banyak bisa membunuhmu.
"Baekhyun…"
Si rambut magenta sontak menoleh atas panggilan lembut tersebut. Disampingnya, Chanyeol membuat ekspresi yang sulit ditebak.
"Maaf sudah mengacaukan segalanya."
Setengah dari nyawa Baekhyun tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Chanyeol meminta maaf. Chanyeol yang selalu mengganggunya. Chanyeol yang kemarin menjemputnya saat dirinya kacau. Chanyeol yang kemarin merawatnya ketika sakit. Serta, Chanyeol yang mengajaknya pergi menonton malam ini.
"Kau tidak mengacaukan apapun."
Baekhyun akan merasa sangat jahat jika dirinya masih saja menyalahkan Chanyeol, setelah semua hal yang pria itu lakukan untuk merebut hatinya. Dia bukan tipe manusia yang tidak tahu diri, pikirnya. Sebaliknya, Baekhyun harus berterimakasih untuk malam ini. Terlepas dari beberapa hal yang membuatnya jengkel, ini adalah malam yang tidak terlupakan.
"Terimakasih sudah mengajakku menonton." Baekhyun kembali melanjutkan. Dengan tulus ia berterimakasih dan berharap Chanyeol menerimanya dengan senang hati.
"Apapun untukmu." Tentu saja Chanyeol menerima ucapan terimakasih itu dengan dada berdegup kencang. Wajahnya yang semula tak berekspresi kini kembali menebar senyum lebar. Baekhyun terdiam dengan sejuta pertanyaan di kepala. Sejak kapan dirinya merasa sejuk saat melihat senyum Chanyeol?
"Apa ini artinya… kau akan pergi menonton lagi denganku lain waktu?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke jalanan. "Entahlah. Menonton bisa jadi sangat membosankan."
Chanyeol mengernyitkan alis. Baekhyun pasti menganggap dirinya adalah pria yang membosankan. Dan ia merasa bersalah dengan hal itu.
Baekhyun yang mengetahui perubahan raut wajah Chanyeol, mengulum senyum terhibur. Kenapa pria ini bisa menjadi begitu polos di waktu-waktu tertentu?
"Maksudku, bersepeda di taman mungkin akan menyenangkan."
Chanyeol nyaris berteriak senang. Ia melirik Baekhyun sesaat dan kembali menghadap ke depan dengan senyum yang lebih lebar. Ia tidak terlalu bodoh untuk menerjemahkan bahwa yang barusan adalah kode untuk kencan selanjutnya.
"Itu bisa diatur." Ujarnya dengan senang hati.
"Tapi dengan satu syarat." Baekhyun mengacungkan satu jarinya.
"Apa itu?"
"No Black suit."
Chanyeol tertawa terlewat senang. Ia mengangguk patuh dan mengulangi ucapan Baekhyun sebagai penegasan. "Okey. No Black suit."
Keduanya mengulum senyum.
"Oh yea, bagus sekali. Ini hampir tengah malam dan kalian baru pulang ke rumah. Kuharap seseorang bisa menjelaskan padaku kemana saja kalian pergi."
Kris berdiri di ambang pintu. Dengan kacamata palsu yang merosot nyaris ke ujung hidung, sebatang rokok di belakang telinga, dan kedua tangan bersilang di depan dada. Rupanya ia tengah memainkan peran sebagai seorang ayah mertua.
Chanyeol dan Baekhyun yang telah mencapai teras depan hanya mendesah dengan kepala menggeleng.
"Berhenti berpura-pura menjadi seorang ayah mertua." Chanyeol memperingatinya. Kris terlalu tua untuk bermain-main seperti ini.
"Sebenarnya aku sedang menirukan gaya Ayah." Ujar Kris seraya membuka kacamata dan mengaitkannya di saku baju. Baekhyun tahu ayah yang dimaksud adalah Ayah dari mereka berdua.
"Aku tidak suka ayah." Chanyeol mendengus.
"Kau tidak pernah menyukai siapapun."
"Tapi aku suka Baekhyun." Chanyeol kemudian menebar senyum pada pemuda mungil yang berdiri di sampingnya. Baekhyun tiba-tiba ingin muntah.
"Kalian berdua mengingatkanku pada masa muda dulu. Aku dan Suho juga sering pulang terlambat karena kami terlalu banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang gelap—"
"DALAM MIMPIMU!" Seseorang berteriak dari dalam rumah.
Kris diam secara mendadak. Matanya menatap kedua pemuda yang berdiri di depannya dengan alis terangkat. Ia pun mendesah kecewa. "Begitulah."
"Begitulah apanya… Menyingkir dari sana, kami mau masuk." Chanyeol terlihat sudah sangat jengah dengan kakaknya itu. Dan Baekhyun cukup terhibur. Tidak tahukah Chanyeol bahwa Baekhyun juga merasakan hal yang sama ketika menghadapi si tinggi tersebut?
Segera setelah Baekhyun mengganti alas kakinya dengan sandal rumah, ia pun mohon diri untuk pergi ke kamar lebih dulu. Tak lupa berterimakasih pada Chanyeol atas malam yang telah mereka lewatkan, serta mengabaikan kecupan khayalan yang Chanyeol terbangkan padanya.
Kini, hanya tersisa para orang dewasa yang tengah menonton tv di ruang keluarga, yakni Kris, Suho, dan tentu saja Chanyeol. Sisanya telah lebih dulu pergi ke kamar masing-masing.
"Zixuan sudah pulang?" Chanyeol bertanya pada Suho sesaat setelah dirinya merebahkan tubuh di sofa. Terakhir sebelum Chanyeol pergi, anak itu masih ada di rumah ini sepulang dari kebun binatang bersama Suho dan Kris.
"Sudah, dijemput oleh Yixing." Suho memberitahu, matanya belum lepas dari layar kaca sejak tadi.
"Kau tidak menyuruh mereka untuk tinggal?" tanya Chanyeol.
"Aku sudah menyuruh Zixuan untuk menginap, tapi ibunya menolak." Kali ini Kris yang menjawab.
"Tentu saja Yixing menolak. Dia mana sudi berada di tempat yang sama denganmu." Suho berkata dengan mata yang menatap hina pada Kris.
"Memangnya apa yang salah denganku, yeobo? Aku sangat baik kepada semua orang."
Suho lantas melarikan pandangannya pada Chanyeol yang duduk di sofa sebelah. "Kau dengar itu?"
Chanyeol mengangguk penuh pengertian. "Ya. Lagi-lagi dia bicara omong kosong."
"Kalian sangat tidak sopan." Kris bersandar pada kepala sofa. Ia duduk di samping Suho. "Aku mulai berpikir untuk memasukkan kalian ke sekolah kepribadian."
"Kita semua tahu satu-satunya orang yang membutuhkannya adalah kau sendiri." Chanyeol membalasnya.
"Brother, kau tidak pernah berada di pihakku." Kris menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan. "Tidak ada seorangpun yang memihakku di rumah ini."
"Lupakan." Suho merasa sudah sangat muak dengan perdebatan konyol mereka bertiga. Lagipula topik ini tidak akan pernah selesai selama Kris masih menganggap bahwa dirinya adalah manusia normal. "Ngomong-ngomong, bagaimana kencanmu malam ini?" pria itu bertanya pada Chanyeol.
Seketika wajah Chanyeol berubah menjadi berseri-seri layaknya remaja belasan tahun yang baru merasakan cinta. Ia mengingat-ingat kembali potongan memori beberapa jam ke belakang. Meski Baekhyun lebih banyak marah dan berteriak padanya, Chanyeol tetap berpikir bahwa itu adalah hal yang positif.
"Kami hanya pergi menonton malam ini." ujar Chanyeol. Pada faktanya, memang hanya itu yang mereka lakukan. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Jangan bilang kau menonton film superhero itu lagi. For the love of God, brother. Ini adalah kali kesepuluh kau menontonnya." Kakaknya memberitahu kalau-kalau Chanyeol lupa.
"Tapi kali ini berbeda, Chris! Aku menontonnya bersama Baekhyun."
"It's Ke-ri-seu. Remember?"
"Ask me if i give a motherfuck."
Suho mengurut pangkal hidung dengan sabar. Pekerjaannya di kantor sudah banyak menguras kesabaran, dan rumah ternyata hanya memberi beban yang sama, oh bahkan lebih parah. Ini menjadi salah satu alasan mengapa ia jarang pulang. Lebih baik terkurung di kantor selama sebulan daripada harus menjadi pawang orang-orang kurang waras ini selama sehari.
Padahal ia ingin mengalihkan topik agar suasana menjadi lebih hangat. Siapa sangka kedua kakak beradik ini masih saja betah mempertontonkan kebodohan mereka.
"Ingatkan aku alasan kenapa aku tidak kunjung mengusir kalian dari rumah ini." Suho berkata dengan nada pasrah.
"Karena aku membayar." Jawab Chanyeol.
"Karena aku adalah kepala keluarga di rumah ini." itu jawaban Kris.
"Oh benarkah?" Suho membuat ekspresi seakan-akan tengah kaget. "Itu alasan yang sangat masuk akal, Kris. Terakhir kali kuperiksa, ini adalah rumahku dan jika ada hierarki tertinggi maka itu pastilah aku."
"Lucu sekali ketika kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang berada dibawah saat seks berlangsung." Kris menyeringai.
"Tolong." Chanyeol mengerang. Obrolan ini harus segera dihentikan. "Aku tidak peduli dan tidak ingin peduli dengan kehidupan seks kalian."
Suho memejamkan matanya dengan frustrasi, tak lupa masih dengan mengurut kening. Ia sedang berpikir apakah membunuh Kris saat dia tidur adalah ide yang baik atau buruk.
"Permisi, adakah yang masih terjaga di rumah ini?!"
Tiga kepala dari mereka yang tengah bersantai di sofa sontak menoleh ke arah pintu utama. Seseorang berpiama tengah berjalan dengan kepala melirik kanan dan kiri. Ia mengapit sebuah bantal panjang serta selimut bermotif spongebob. Dan tanpa harus melihat wajahnya, para orang dewasa itu sudah tahu siapa yang datang ke rumah.
"Jongdae, kau bertengkar lagi dengan orangtuamu?" Suho adalah yang bertanya lebih dulu.
Si anak SMA itu melirik tiga orang pria yang duduk di sofa sembari bernapas lega. "Hoooh, kukira kalian sudah tidur."
"Kris, lagi-lagi kau lupa mengunci pintu." Chanyeol langsung menuding kakaknya yang telah menyebabkan seorang anak nakal bertandang ke rumahnya.
"Aku mengundang pencuri untuk masuk, tapi siapa sangka kita ternyata hanya mendapat seorang bocah ingusan." Kris menggeleng kecewa.
"Maaf saja kalau aku bukan pencuri yang kau tunggu." Jongdae memutar bola mata. "Aku ingin menginap di rumah ini." ia beralih pada Suho.
"Sepuluh juta won untuk satu malam." Kris langsung memasang harga.
"Apa? Darimana aku dapat uang sebanyak itu?"
"Mungkin dengan mendaftarkan dirimu ke prostitusi?" Kris menyarankan. "Kau bisa mendaftar secara online."
"Suho hyung!" Jongdae berlari ke arah si pria yang dipanggil untuk meminta pertolongan. "Tolong katakan pada orang ini bahwa dia sedang berbicara dengan anak di bawah umur!"
Suho lantas menatap Kris, kedua alisnya yang terangkat seolah tengah mengatakan, Kau bisa dengar sendiri bukan?
"Jangan berkecil hati. Akhir-akhir ini melakukan seks dengan remaja belasan tahun sedang menjadi trend di kalangan pria dewasa. Kau akan mendapat banyak uang." Kris mengatakannya dengan ringan. Membuat Suho secara spontan melayangkan tepukan sayang di belakang kepalanya.
"Kurasa kau sudah cukup menakutinya." Suho menyentaknya. Kris mengangguk, menerima tepukan sayang itu dengan penuh hormat. Hanya Suho satu-satunya mahluk di rumah ini yang berani memukulnya secara fisik tanpa mendapat serangan balik.
"Aku tidak menakut-nakutinya, yeobo. Aku hanya memberi saran. Lagipula dia harus mulai produktif di usianya yang sekarang." Kris masih membela diri.
"Atau," Chanyeol kembali bersuara. "Jongdae bisa saja bekerja di sini sebagai asisten rumah tangga."
"Hentikan." Suho menatap kesal pada dua kakak beradik yang duduk di kanan dan kirinya. "Jongdae tidak akan tinggal di sini selamanya. Ia hanya akan menginap."
"Sebenarnya aku mulai berpikir untuk pindah kemari." Jongdae menginterupsi.
"Langkahi dulu mayatku, bocah nakal!" Suho hendak memukul kepalanya namun anak itu pintar berkelit. "Kau hanya akan tidur di sini selama satu malam dan kembali ke rumahmu besok untuk berbaikan dengan orangtuamu. Kau paham?"
Jongdae mengangguk pasrah.
"Dan kau akan tidur di sofa." Suho menunjuk tempat kosong di dekatnya. "Kamar di sini sudah penuh."
"Tidak bisakah aku tidur denganmu?" Jongdae memohon dengan wajah memelas. Sebelum Suho sempat menjawab, Kris telah mendahului.
"Sebelum kau melakukannya, aku akan lebih dulu melempar tubuhmu ke depan kereta yang sedang melaju." Kris mengatakannya dengan nada riang.
Jongdae tersenyum pahit. Ia pun beralih pada satu orang lagi yang belum sempat ia tanyai. "Bagaimana kalau aku— Chanyeol hyung? Kemana dia?"
Brughh!
Kemudian terdengar suara pintu yang dibanting keras. Semua mata beralih ke lantai atas, dan hanya Suho satu-satunya orang yang bersedia menjelaskan.
"Chanyeol sudah pergi ke kamarnya dan mengunci pintu."
Jongdae kemudian meletakkan bantalnya di sofa dengan putus asa. Ia mulai membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Tolong bangunkan aku besok pagi. Aku tidak mau terlambat ke sekolah."
.
Tbc
.
Makasih udah share pemikiran kalian tentang mpreg di chapter kemaren :) Kalaupun ada, itu mungkin masih lama, jadi yaa ditunggu aja kelanjutan ff ini hehehe
Gak lupa, selamat berpuasa bagi yang menjalankan dan...sampai jumpa di chapter berikutnya!
