Affection


Baekhyun menyukai hari Senin lebih dari siapapun. Senin adalah surga dunia. Jika biasanya orang menaruh dendam pada hari itu, maka Baekhyun sebaliknya. Karena hanya Senin-lah, hari dimana ia bisa bersantai memanjakan diri. Tidak ada jadwal kuliah, tidak ada kerja. Dan terimakasih pada kolam renang yang berada di belakang rumah sewanya ini, Baekhyun berancana untuk berjemur di pinggir sana agar kulitnya terlihat eksotis. Oh, hari Senin akan menjadi sangat menyenangkan.

Apalagi jika dimulai dengan awal yang damai.

Namun faktanya, kata "damai" sudah tidak akur lagi untuk berdekatan dengan kehidupan Baekhyun.

Seharusnya ini menjadi pagi yang baik. Dimana sunyi dan kedamaian mendominasi untuk menciptakan suatu harmoni senyap. Sehingga Baekhyun dengan tenang bisa kembali terlelap dan bangun sesuai keinginannya, pada siang hari. Hanya itu, tidak lebih. Akan tetapi nampaknya Baekhyun harus mulai menambah kantong kesabarannya karena jika tidak, luapan kemarahannya akan meledak kemana-mana.

"Kim Jongdae, aku bersumpah jika kau tidak pulang sekarang, aku akan mencoretmu dari daftar ahli waris! Kau dengar itu?"

Baekhyun melempar bantalnya ke sudut ruangan. Ia menendang selimut dan mengacak-acak rambutnya dengan jengkel. Ia hanya ingin menambah bonus untuk jam tidurnya dan sekarang –siapapun sialan di luar sana- telah merusak segalanya. Bagaimana ia bisa pergi tidur sementara di luar jendela sana tengah terjadi aksi saling teriak? Ini tidak adil.

"Tidak mau. Aku tidak akan pulang!"

Baekhyun mengenal suara itu. Yang tidak lain adalah milik si anak SMA yang tinggal di samping rumahnya. Tapi demi Tuhan, dia tidak mengerti kenapa anak itu harus berteriak di pagi hari seperti ini.

Pemuda itupun berjalan menuju jendela kamarnya yang masih tertutup gorden. Ia ingin melihat omong kosong apa yang terjadi dibawah sana. Orang-orang di rumah ini sudah cukup gila, haruskah tetangganya pun turut serta?

"Kalian pasti sudah mempengaruhinya!"

Baekhyun melihat Suho dan Kris, berdiri di depan Jongdae yang bersembunyi diantara mereka berdua. Di seberangnya terdapat dua orang pria dan wanita dewasa yang terlihat jauh lebih tua daripada mereka. Baekhyun mengasumsikan bahwa sumber polusi suara tadi berasal dari mereka berdua itu.

Dengan segenap kekesalan yang ada, Baekhyun pun membuka jendelanya dan mengeluarkan kepalanya. "Permisi!"

Lima kepala di bawah sana menoleh ke kanan dan kiri.

"Di sebelah sini!" Baekhyun mendengus kesal. Selain berisik, mereka juga bodoh rupanya.

Kelima orang itu kini menoleh padanya. Salah satu diantaranya, si pria tak dikenal, berkacak pinggang dengan wajah mengeras. Seolah tak suka saat acara berteriaknya harus dijeda. "Ada apa?"

"Kalian berisik!" seru Baekhyun. Mungkin orang-orang di sana memang lebih tua darinya, dan ia terkesan tidak sopan. Tapi yang benar saja. Menganggu orang di pagi hari justru lebih tidak sopan. Jadi, Baekhyun pikir ia sudah melakukan apa yang seharusnya manusia normal lakukan. Yaitu protes.

"Lalu kenapa? Kau mau kami lebih berisik lagi hah?"

Namun justru hal itu yang ia dapatkan.

Jadi Baekhyun memutuskan untuk kembali memasukkan kepalanya. Berjalan untuk mengambil handphone, dan memanggil nomor darurat yang telah ia hafal di luar kepala. Setelah berbincang-bincang, tak lama kemudian ia kembali memunculkan kepalanya ke luar jendela dan berseru.

"Polisi akan segera datang! Semoga beruntung!"

Semoga ini menjadi pelajaran bagi siapapun. Jangan pernah berani mengacau dengan Byun Baekhyun yang masih mengantuk di pagi hari.


"Aku kagum dia tahu cara menangani tetangga kita yang merepotkan itu." Suho berkomentar ketika dirinya berbalik sehabis mengambil yoghurt di lemari pendingin. Ia sedang membicarakan Baekhyun yang masih bersemedi di kamarnya.

Masih di suasana pagi di hari sibuk, para penghuni rumah kecuali Baekhyun sedang berkumpul di dapur. Topik yang tengah hangat dibicarakan adalah seputar tetangga mereka yang mendadak berhati baik dan berdamai dengan mereka saat polisi yang dipanggil Baekhyun datang ke kediaman mereka guna melerai pertengkaran. Yup, betul. Baekhyun sungguhan memanggil polisi untuk menyelesaikan urusan mereka.

"Tentu saja dia bisa mengatasi tetangga sialan kita itu dengan bijak. Baekhyun adalah yang terbaik. Dia calon ibu bagi anak-anakku." Chanyeol memuji dengan bangga Baekhyun-nya yang telah bertindak sebagai hero pagi ini. Walaupun sebenarnya tindakan Baekhyun tidak terlalu heroik. Pemuda itu hanya tak suka saat tidurnya terganggu oleh teriakan memuakkan yang bersumber dari sebuah pertengkaran tak bermutu.

"Aku bertaruh Baekhyun akan langsung memukulmu jika ia ada disini sekarang." Suho mencibirnya. Dan itu adalah hal yang paling akurat yang pernah ia ucapkan hari ini.

"Tadinya aku berpikir untuk membakar rumah di sebelah itu." Kris turut serta berujar sambil menikmati koran pagi dan kopi hitamnya. "Mereka sangat berisik untuk seukuran keluarga kecil."

"Berisik dan menjengkelkan." Jongin yang sedang sarapan pun menambahkan. "Mereka bahkan pernah menuduhku mempengaruhi Jongdae untuk menyimpan dvd porno di kamarnya. Ck ck ck… tidak tahukah mereka bahwa bocah itu sedang dalam masa pubertas? Lagipula semua orang pasti pernah menonton video porno."

"Tolong jangan mengatakan hal sensitif seperti itu dengan santai." Suho memijit keningnya dengan sabar. Separuh dari dirinya masih tidak percaya bahwa yang mengatakan kalimat tadi adalah adiknya sendiri.

"Tapi aku merasa kasihan juga pada Jongdae." Sehun kali ini berempati. "Kalau aku jadi dia mungkin aku ingin minta ganti orangtua saja."

"Pintar." Kris memujinya sambil mengacak-acak rambut Sehun. "Tidak sia-sia aku menyekolahkanmu selama ini."

"Tuhan membantuku dengan mengirimkan Baekhyun ke rumah ini." Suho menaruh kedua telapak tangannya di dada. Kedua matanya menutup secara dramatis. "Setidaknya aku tidak lagi sendirian dalam menghadapi orang-orang kurang waras ini."

"Over-dramatic" Kris menyesap kopinya dengan santai.

"Biasanya orang lain akan langsung pindah, seperti yang sudah-sudah." Jongin tengah menyinggung beberapa penghuni rumah sebelumnya yang tak tahan tinggal di sini bahkan hanya untuk beberapa hari. Sudah jelas bahwa itu adalah bukti bahwa pastinya ada yang salah dengan orang-orang di rumah ini.

Tapi ajaibnya, Baekhyun bahkan mampu bertahan sampai seminggu. Yah, meski dengan mengomel ini itu, kesana kemari. Yang menjadi poin penting untuk disorot adalah, dia setidaknya mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Karena seperti yang kita semua ketahui, bukanlah sesuatu yang mudah untuk menerima perbedaan. Khususnya pemikiran dan pandangan hidup. Ini bukan berarti Baekhyun menerima mereka yang berotak setengah dan terbawa arus, hanya saja ia memiliki sesuatu yang bisa membuatnya bisa berdamai dan hidup berdampingan dengan mereka semua. Sesuatu yang bernama kontrol diri.

Secara tak sadar, topik pembicaraan pun perlahan teralihkan.

"Kurasa kita harus melakukan sesuatu yang spesial, hmmmh…" Chanyeol menggosok dagunya dengan jemari. "Aku memikirkan tentang sesuatu yang bisa membuat Baekhyun merasa dihargai, disambut di rumah ini. Karena seperti yang kalian ketahui, dia sepertinya adalah jodohku. Dan sebenarnya akhir-akhir ini kita sedikit butuh hiburan…"

Semua mata menatap penuh tanya pada Chanyeol.

"Brother," Kris memandang penuh simpati pada saudaranya yang barusan berceloteh tersebut. "I'm sure i speak for everyone when i say, what the fuck are you talking about?"

Chanyeol menghela napas dan membuang wajah kecewa karena tidak ada seorangpun yang mengerti dirinya. "Christ…"

"No, it's Ke-ri-seu."

"It's Jeeesus fookin' Christ, goddammit!" bentak Chanyeol. Kini, kepalanya beralih pada semua orang. "Maksudku, kita butuh pesta."

"Pesta penyambutan." Jongin menjentikkan jari. Chanyeol berubah sumringah ketika ada satu orang yang akhirnya mengerti dengan arah tujuan ucapannya. "Aku sangat setuju." Pemuda tan itu menambahkan.

"Tunggu, apakah ini akan menjadi private party atau kau ingin mengundang beberapa orang yang tinggal di sekitar komplek rumah?" Suho bertanya memastikan.

"Kau ingin kita mengundang Pak tua Shin juga?" Chanyeol menatapnya dengan curiga.

"Apa? Tidak, bukan itu maksudku-"

"Aku tidak percaya ini, kau berselingkuh?" Kris tiba-tiba ikut bertanya pada Suho.

Suho memilih diam dengan kedua tangan di pinggang. Menatap dengan wajah datar pada dua kakak beradik idiot di depannya. Untungnya dia dianugerahi kesabaran yang banyak. Cukup banyak dan bisa menahannya untuk tidak menumpahkan yoghurt miliknya ke wajah Kris atau mungkin Chanyeol. Atau dua-duanya. "Apa kalian memang harus sebodoh ini?" tanyanya.

Sehun dan Jongin sudah tertawa histeris sejak tadi.

"Lupakan. Aku tahu seharusnya aku tidak bertanya." Suho menatap malas dan memilih untuk meraih yoghurt yang sempat ia anggurkan.

"Hmm, itu tidak menjawab pertanyaanku." Kris masih bersikukuh.

"Astaga, Kris! Siapa pula yang peduli dengan Tuan Shin! Dia terlalu tua untuk pesta!"

"Tapi dia tidak terlalu tua untukmu." Kris menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Kudengar kakek tua itu juga sering menggoda anak gadis yang kebetulan lewat di depan rumahnya."

"Kris, aku yakin dia tidak tertarik pada laki-laki. Dan mana mungkin aku berselingkuh dengannya jika kau bahkan selalu ada di sekelilingku. Ya Tuhan, seseorang tolong tembak kepalanya atau apapun. Aku sudah tidak tahan."

"Aku tidak bisa, karena aku ada kuliah pagi ini." Jongin berdiri dari kursinya dan bersiap untuk pergi ke kampus. "Sehun, hari ini giliran kau yang cuci piring. Benar kan?"

Sayang, Sehun sudah lebih dulu menghilang dari kursinya.

Jongin mengalihkan matanya pada Suho yang sudah siap untuk menyemprotnya jika ia lari dari kewajiban. "Ehehehe… kurasa aku sudah terlambat."

"Cuci piringmu, Kim Jongin."

Jongin perlahan-lahan mundur, membereskan kursi, dan lari sekencang mungkin meninggalkan dapur.

"Aku mencintaimu Suho Hyung! Aku mencintaimu!"

"Itu akibatnya jika dia terlalu banyak menghabiskan waktu denganmu." Suho menunjuk Kris setelah matanya beralih dari sosok Jongin yang telah menghilang. Tentu saja ia akan menyalahkan orang lain atas kelakuan adiknya tersebut dan orang sialan itu adalah Kris Park.

"Maksudmu dia jadi ikut-ikutan mencintaimu sama sepertiku?" tanya Kris.

Suho tiba-tiba ingin tertawa namun ia menahannya dengan baik. "Kau idiot, keluar dari sini!"

Kris mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang diam saja dan menonton sejak tadi. "Kau dengar itu? Sekarang pergi dari sini."

"Dia mengusirmu, berengsek. Bukan aku."

"Kalian berdua, keluar!"

Chanyeol dan Kris menghela napas secara bersamaan. Mereka pun bangkit dari tempat duduk masing-masing dan pindah ke ruangan yang lebih damai. Waktu pagi mereka hari ini benar-benar dihabiskan dengan teriakan. Pertama beradu argumen dengan tetangga, dan kini dimarahi teman serumah. Tempat ini tidak pernah bisa lebih damai.

"Chanyeol," Suho menghentikan sejenak Chanyeol yang hendak berpindah. "Aku akan memikirkan soal pesta itu. Tunggu sampai aku punya jadwal libur."

"Tentu."

"Dan satu lagi, Kris?"

Kris menyahut dengan senang. "Yes, yeobo?"

"Kau yang bayar semuanya."


Chanyeol turun dari kamarnya ketika mendengar bunyi kecipak air yang cukup heboh di belakang rumah. Di hari sibuk seperti ini, biasanya tidak ada yang bermain-main di kolam renang belakang (Jongin dan Sehun pergi kuliah sementara Suho dan Kris pergi bekerja, jadi mereka bebas dari tuduhan). Ia pun memutuskan untuk memeriksanya karena khawatir seseorang atau sesuatu tidak sengaja tercebur ke dalam sana.

Sigaret yang terselip di bibir menyala merah kala benda itu dihisap. Chanyeol kemudian membuang asapnya ke udara saat kakinya menginjak dapur. Ia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan karena siang ini terasa lumayan gerah. Padahal ac di seluruh ruangan sudah dinyalakan, tapi tetap saja ia merasa panas. Mungkin ia harus mulai mengecek lebih lanjut apabila ac di rumah ini masih berfungsi atau tidak.

"Siapa yang—"

Langkah Chanyeol terhenti. Waktu terasa terhenti. Dan napasnya pun ikut terhenti.

Bahkan rokoknya yang jatuh ke lantai pun ia abaikan.

"God…damn.." ia bergumam dengan sepasang mata yang tak lepas mengamati seseorang di ujung sana. Seseorang dengan sekujur tubuh basah kuyup yang hanya mengenakan underwear guna menutupi bagian tubuhnya yang terpenting. Seseorang tersebut adalah Byun Baekhyun.

Chanyeol mengingatkan dirinya untuk bernapas setelahnya.

Ia merasakan sensasi kejutan yang menyenangkan, yang bahkan membuatnya kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat dengan benar. Ini terlalu mengejutkan dan menggairahkan, dalam artian yang baik. Chanyeol merasa kini ia bisa mengerti bagaimana perasaan Ned saat pertama kali mengetahui bahwa sahabatnya adalah seorang Spiderman dari Youtube. Dan okey, itu adalah analogi yang buruk.

Tapi Baekhyun bukanlah Spiderman. Dia hanya mahasiswa biasa yang kebetulan menyewa kamar di rumah yang sama dengan Chanyeol. Dia hanya manusia normal yang kebetulan singgah di dalam hidupnya. Dia adalah satu dari sekian banyak manusia yang bernapas di bumi.

Namun entah mengapa Chanyeol menemukannya begitu istimewa.

Pria itu bahkan tidak sadar sejak kapan kamera handphone-nya menyala dan menangkap momen di depannya dengan cepat. Picture picture picture. Semua hanya berisi sebuah objek yang sama. Yaitu Baekhyun yang tengah berdiri di pinggir kolam sambil meminum air mineral dengan seksi (bahkan bulir-bulir air yang jatuh dari tubuhnya terlihat seksi, Chanyeol bersumpah!). Namun untuk foto yang terakhir kelihatannya berbeda karena disana, Baekhyun melihat lurus ke arahnya.

"Selain memperhatikan pantatku sekarang kau juga mengambil fotoku secara diam-diam?" Baekhyun langsung menyerangnya dengan pertanyaan telak.

"Ooops!" Chanyeol tersenyum, ia tak merasa bersalah sepenuhnya. Namun ia memutuskan untuk menurunkan handphone-nya karena ia ingin menghampiri Baekhyun. Lagipula foto yang ia ambil juga sudah cukup untuk disimpan.

"Aku berniat untuk menyimpannya, dan melihatnya setiap kali aku akan pergi tidur." Chanyeol mengatakannya secara terang-terangan. Seolah itu adalah pernyataan paling wajar diucapkan semua orang.

"Bagaimana jika aku tidak mengizinkan?"

"Aku akan mencetaknya dalam ukuran besar dan memajangnya di kamarku."

"Over my dead body!" Baekhyun menyentaknya. Namun bukannya takut, Chanyeol justru tersenyum terhibur. Karena baginya, Baekhyun yang penuh kemarahan adalah yang terbaik. Lebih marah, lebih menggairahkan.

"Dan berhenti menatap bokongku, Chanyeol! Kau menakutiku!" Baekhyun masih konsisten dengan nada tingginya. Terlebih ketika ia tahu pandangan Chanyeol tak pernah lepas dari tubuhnya sejak tadi. Jeeez… pria itu benar-benar mesum.

"Kenapa? Ini tidak seperti aku akan menyetubuhimu di pinggir kolam, sayang…"

"Pandanganmu justru mengatakan sebaliknya." Baekhyun mencibir. "Tidak bisakah kau melakukan sesuatu yang lebih produktif, huh? Menyelesaikan tugas akhirmu misalnya?"

"Hmm…ini hal yang produktif bagiku." Chanyeol mengendikkan bahu. "Jarang sekali aku mendapatkan kesempatan untuk melihatmu half-naked. Walaupun sebenarnya aku lebih suka kalau kau…yea…" Chanyeol menggantungkan kalimatnya dan menyeringai pada Baekhyun.

Pemuda yang lebih muda memberinya tatapan tajam. "Jika kau berani melanjutkan kalimatmu maka aku akan mencelupkan kepalamu ke dalam kolam renang selama lima jam."

Chanyeol mengangkat kedua tangannya di dekat telinga. "Terdengar seperti metode interogasi CIA."

Baekhyun menatapnya dengan geram. Namun perlahan ekspresinya melunak karena sadar bahwa marahnya tidak pernah mempan bagi Chanyeol. Ia pun memutuskan untuk mengambil handuk dan menyampirkannya di bahu. Bersiap untuk angkat kaki karena selain telah selesai dengan berjemur dan berenang, ia tak tahan mendapat tatapan lapar dari Park Chanyeol.

"Tunggu, kau sudah selesai?" Chanyeol tiba-tiba kecewa karena tontonannya telah berakhir, semuanya terlalu singkat. "Ayolah, aku bisa menontonmu berenang sepanjang hari."

Baekhyun mendengus saat tubuhnya berjalan melewati Chanyeol. Seakan ia sangat bernafsu untuk meludahi pria itu namun urung karena wajah Chanyeol terlalu tampan untuk diludahi.

"C'mon babe!" Chanyeol berbalik dan hanya mendapatkan punggung Baekhyun yang perlahan menjauh. "We can swim together and snogging in the pool!"

"Never in your wildest dream, dickhead!"

Chanyeol tersenyum meringis. Pada akhirnya ia hanya bisa mengucapkan selamat tinggal pada surga sesaatnya tersebut. Semoga ia bisa bertemu lagi dengan Baekhyun yang setengah telanjang, atau telanjang sepenuhnya juga boleh. Dan ia harap pertemuan selanjutnya tidak berlangsung di kolam renang.

Melainkan di tempat tidur.


Chanyeol masih tenggelam dalam euforia atas tontonannya beberapa saat yang lalu. Baekhyun yang bertelanjang dada dengan underwear yang ketat benar-benar telah menggetarkan dunianya. Ia tak henti-hentinya menatap beberapa hasil tangkapan kameranya sambil berbaring di sofa dengan wajah berseri-seri.

"Ya ampun, apa ini hanya karena aku terlalu menyukainya atau dia memang benar-benar seksi?" Chanyeol bermonolog dengan sedikit kekehan.

"You dirty pervert!"

Chanyeol tersentak dan segera menurunkan ponselnya. Ia pun mendapati Baekhyun yang ternyata telah berdiri di depan sofa dengan kedua tangan menempel di pinggang. Satu hal yang membuat Chanyeol kecewa adalah kini, Baekhyun telah berpakaian lengkap.

"Hai Baekhyun."

"Don't 'Hai Baekhyun' me! Now, give me your phone!" Baekhyun mengulurkan tangannya.

"Emmm, aku tidak bermaksud untuk terdengar pelit. Tapi, untuk apa?"

"Tentu saja untuk menghapus semua fotoku! Cepat!"

Chanyeol yang semula berbaring kini bangun dan terduduk. "Kenapa? Lagipula ini hanya fotomu sehabis berenang, dan aku tidak berniat untuk menyebarnya di internet. Sekarang apa masalahnya?"

Baekhyun berhenti sejenak sebelum kembali bicara. Chanyeol ada benarnya juga, itu hanya fotonya sehabis berenang dan tidak akan laku pula jika disebar di internet. Oh, tapi bukan itu masalahnya!

"Masalahnya adalah, fotoku itu disimpan oleh seseorang yang berbahaya sepertimu."

"Di bagian mana aku bisa dikatakan sebagai berbahaya?" Chanyeol mengerutkan dahi.

"Aku tidak mau kau memikirkan hal mesum dengan melihat fotoku!" Baekhyun menghentakkan kakinya di lantai. Dia sudah sangat pusing untuk mencari-cari alasan agar Chanyeol mau menghapus fotonya. Dan di depannya, pria itu sama sekali tidak terlihat berniat untuk melakukan seperti yang Baekhyun katakan. Apa sebegitu pentingnya foto Baekhyun sampai-sampai ia kukuh untuk menyimpannya?

"Baekhyun, kau terlihat sangat seksi disini." Chanyeol menunjukkan fotonya pada Baekhyun. "Dan tentu saja aku akan berpikiran mesum." Lagi-lagi ia mengatakan seolah itu adalah hal yang wajar.

"Berikan padaku selagi aku memintanya dengan baik-baik." Baekhyun masih menadahkan tangannya.

"Baiklah, duduk dulu di sini." Chanyeol menepuk ruang kosong di sisinya. Bermaksud supaya Baekhyun duduk disana. "Bagaimana kalau kita menonton netflix?"

"Jangan mencoba untuk mendistraksiku!" Baekhyun berusaha untuk tidak terpengaruh.

"Aku juga sudah memesan pizza."

"Chanyeol!"

Chanyeol menghela napas. Ia menatap Baekhyun yang masih berdiri dengan wajah merengut. Karena tak tega, ia pun memberikan ponselnya pada Baekhyun dengan sukarela. Dan Baekhyun sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan merebutnya cepat-cepat.

"Apa password-nya?" tanya Baekhyun.

"Your birthday."

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan tak percaya. Kenapa Chanyeol sangat terobsesi padanya?

Setelah menjelajah galeri dan menghapus semua jejak fotonya. Baekhyun pun mengembalikan handphone pada si pemilik. "Ini, kukembalikan."

"Thanks." Chanyeol tersenyum mengejek. "Bagaimana dengan netflix-nya?"

"Uh…" Baekhyun tadinya berniat untuk kembali ke kamar dan berbaring seharian. Tapi itu hanya akan membuat hari liburnya semakin tidak berguna. Jika dipikir kembali, mungkin lebih baik menghabiskan waktu berdua daripada sendirian.

Mereka berduapun berakhir dengan duduk di sofa. Dengan Chanyeol yang kerap kali mencuri kesempatan untuk mengendus-endus leher Baekhyun, dan Baekhyun yang duduk di ujung sofa dengan pertahanan mutlak yaitu sebuah bantal.

"Kenapa orang-orang selalu berpikir homophobic itu keren?" Baekhyun tiba-tiba bertanya saat film tengah berlangsung. Film yang mereka tonton adalah tentang seorang gay yang dikucilkan setelah ia coming out. Baekhyun berpikir itu tidak adil.

"Yeah, mereka pikir itu keren. Pada faktanya, tidak ada yang tertarik dengan orang-orang yang tidak menerima perbedaan." Chanyeol tersenyum setuju. Topik ini membuatnnya terpikir akan sebuah pertanyaan. "Ngomong-ngomong, apa keluargamu tahu kalau kau gay?"

Baekhyun meliriknya sesaat sebelum memberi jawaban. "Sebenarnya aku tidak melabeli diri. Maksudku, aku tidak secara resmi coming out sebagai gay atau apapun itu. Yang kuingat hanya, aku membawa pacar lelakiku ke rumah, memperkenalkannya pada orangtuaku."

"Lalu? Respon mereka?"

"Ibuku orang yang liberal." Baekhyun mengatakannya dengan senyum mengembang. Merasa dirinya adalah orang yang sangat beruntung memiliki ibu yang cukup pengertian. "Ia menerimaku seutuhnya, termasuk pada siapa aku tertarik. Dan Jake tidak keberatan dengan itu."

"Dan siapa itu Jake?"

"Ayah tiriku. Dia pria yang baik, dia sangat mencintai ibuku. Mereka menikah beberapa tahun yang lalu, dan hasilnya aku diberi adik kembar."

Baekhyun terlihat sangat bahagia saat bercerita tentang keluarganya, dan Chanyeol menyadari hal tersebut. "Wow. Ceritakan lagi tentang keluargamu." Katanya.

"Hm? Kenapa?"

"Aku suka mendengarnya, dan kau terlihat sangat senang." Chanyeol berkata jujur.

Baekhyun tertawa kecil. "Bukankah tadi kita sedang membahas hal lain?"

"Aku tidak keberatan." Chanyeol mengendikkan bahu.

"Eum, bagaimana kalau sekarang giliranmu yang bercerita? Tentang keluargamu?" tanya Baekhyun.

Chanyeol pun menyamankan posisi duduknya. Sejenak kemudian mereka lupa dengan film yang sedang mereka tonton. "Keluargaku, kau sudah mengenalnya. Mereka semua tinggal di sini. Kris, Suho-hyung, Sehun, Jongin…"

"Tidak, maksudku keluarga aslimu. Ayahmu, ibumu, atau mungkin saudaramu yang lain."

"Mereka bukan keluarga, kami hanya kebetulan punya ikatan darah, sisanya tidak ada lagi. Mereka bukan tempatku untuk pulang, rumahku hanya di sini."

Baekhyun menatapnya penuh simpati. Seketika ia menyesal telah menanyakan hal sensitif seperti ini pada Chanyeol. Mungkin seharusnya Baekhyun diam saja. Ia lupa kalau tidak setiap keluarga seharmonis seperti keluarganya. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau dan keluargamu…"

"Tidak apa-apa, Baekhyun. Kau berhak tahu." Chanyeol memberikan senyum tulusnya. "Aku memang tidak selalu membicarakan kehidupanku sebelum tinggal di sini ke semua orang."

"Kalau itu membuatmu tidak nyaman, jangan ceritakan padaku."

Chanyeol tersenyum sambil menyentil hidung Baekhyun dengan gemas. "Tidak ada yang membuatku tidak nyaman jika itu bersamamu."

"Uhh…"

Pria yang lebih tinggi melingkarkan satu tangannya di bahu Baekhyun. Dan ia pun memulai cerita. "Jadi, saat menginjak usia delapan belas tahun, aku mulai tinggal berdua bersama Kris."

"Tinggal di rumah ini?" tanya Baekhyun. Chanyeol lantas menggeleng cepat.

"Tidak, di apartemennya. Kris enam tahun lebih tua dariku, saat aku masih di sekolah dan bersiap masuk ke Uni, dia sudah bekerja di perusahaan dan memiliki apartemen sendiri."

"Dan… kenapa kau memilih untuk tinggal bersama Kris?"

"Karena aku sudah muak dengan ayahku." Chanyeol mengatakannya dengan nada datar. Seolah telah terlatih untuk mengucapkan kalimat itu secara berulang tanpa disertai emosi. "Dia selalu berpikir bisa mengontrol semuanya. Kau ingat saat Kris berkata bahwa ia pernah masuk fakultas kedokteran?"

Baekhyun mengangguk pasti. "Kris bilang cita-citanya adalah ingin menjadi dokter."

"Ayahku memotong mimpinya tersebut. Kris diberi tugas untuk mengelola perusahaan, bahkan di usia yang lebih dini."

"Kenapa dia tidak menolak? Maksudku, dia lebih terlihat seperti seorang pemberontak jika dibandingkan denganmu."

Chanyeol terkekeh mendengar pertanyaan Baekhyun. "Kris berpikir ia perlu untuk membalas budi pada orangtua yang telah membesarkannya. Dan bicara soal pemberontak, orang itu adalah aku."

Baekhyun berpikir dalam diamnya. Selama ini ia telah salah persepsi. Jika dilihat dari luar, mungkin Kris-lah yang akan terkesan lebih bar-bar. Namun jika ia kembali memikirkan pernyataan Chanyeol, mungkin keadaan justru sebaliknya.

"Lucu sekali, mereka bilang darah itu lebih kental. Tapi nyatanya Kris lebih dari sekedar keluarga bagiku. Di keluargaku yang membosankan itu, setidaknya hanya dia satu-satunya yang memperlakukanku selayaknya manusia. Lainnya mati rasa." Tutur Chanyeol.

Baekhyun melipat bibirnya ke dalam. Matanya yang semula menatap Chanyeol, kini teralihkan pada lantai di bawah. Kedua tangannya berpegangan pada ujung sofa. Ia terlalu bingung untuk sekedar bereaksi.

"Ah, aku berbicara terlalu banyak. Ini pasti membingungkan bagimu."

"Tidak, sama sekali tidak." Baekhyun segera membantahnya. "Aku merasa senang kau bisa terbuka padaku. Maksudku, kau bisa bercerita tentang dirimu kapanpun." Ujarnya dengan jujur. Dan sebenarnya ini tidak terlalu membingungkan karena Baekhyun mulai bisa menyambungkan potongan-potongan kalimat Chanyeol dan membayangkannya seperti apa.

"Yah, yang terpenting sekarang, aku sudah di sini dan merasa nyaman. Setidaknya orangtuaku tidak tahu kalau aku dan Kris tinggal di rumah ini." terang Chanyeol.

"Mereka tidak tahu? Mana mungkin?"

"Entahlah." Chanyeol mengendikkan bahu.

Baekhyun memiringkan kepalanya, pandangannya terarah pada mata Chanyeol. "Dan ngomong-ngomong soal Kris, sebenarnya aku tidak paham hubungan macam apa yang ia jalin dengan Suho-hyung. Mereka berpacaran?"

Chanyeol spontan tertawa dengan kepala menengadah. "Mereka sudah tidak melakukan yang namanya pacaran."

"Uh-huh?" si mungil menaikkan alis.

"Hmm… bagaimana ya? Lebih tepatnya, mereka adalah dua orang yang saling membutuhkan. Yang kutahu, mereka sudah lama saling mengenal. Namun setelah Suho-hyung putus dengan Yixing-noona, saat itulah Kris lebih terang-terngan menunjukkan perasaannya."

Baekhyun menggaruk pipinya yang tidak gatal. Penjelasan Chanyeol yang ini terlalu sulit untuk dicerna otaknya. "Saling membutuhkan? Kupikir ini hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Suho-hyung tidak terlihat begitu menyukainya."

"Oh ayolah Baekhyun, jangan terlalu polos. Kau juga terlihat tidak menyukaiku, tapi lihat dimana dirimu sekarang. Duduk berdua bersamaku, bermanja-manja di sofa." Chanyeol menggodanya. Dan saat itulah Baekhyun sadar bahwa mereka memang sedang berada dalam posisi yang mana orang lain akan mengasumsikan bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Baekhyun menatapnya dengan wajah cemberut. Yang mana itu membuat Chanyeol tidak tahan. Ya, tidak tahan ingin segera menciumnya.

"Haha… maaf maaf…" Chanyeol mengelus beberapa helai rambut Baekhyun dengan jemarinya. "Yang jelas, tidak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan diantara Kris dan Suho-hyung. Mereka saling mencintai. Sama seperti pasangan yang sudah menikah puluhan tahun, bisa terlihat seperti musuh namun sebenarnya mereka saling peduli. Ya… setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan afeksi. Sama seperti dirimu."

Baekhyun menarik wajah saat Chanyeol hendak mencubit hidungnya. "Jangan sentuh aku!"

"Sudah kulakukan! Haha…"

Si pendek memajukan bibir. Tubuhnya bersandar penuh di sofa, kedua tangannya bersilang di depan dada. Obrolan pribadi mereka pun berganti dengan topik yang lain karena Baekhyun merasa ada bunyi tak nyaman di perutnya.

"Chanyeol."

"Yes, baby?

"Kenapa pizzanya lama sekali? Ukh."

"Sayangku kelaparan rupanya…" Chanyeol memainkan telinga Baehyun dengan gemas. "Haruskah kita pesan ulang?"

"Itu pemborosan."

"Kalau begitu aku akan menelpon manajernya dan meminta pengantar pizza itu dipecat karena telah membuat Baekhyun-ku kelaparan."

"Hahahaha…"

"Baekhyun kau makan apa?" tanya Chanyeol tiba-tiba, wajahnya terlihat serius. Baekhyun spontan berhenti tertawa dengan wajah penuh tanya.

"Hah? Memang kenapa?"

"Tertawamu sampai merdu begitu. Kau makan apa?"

Satu bantal sofa pun melayang ke wajah Chanyeol.

"Dasar tukang gombal! Enyah sana!"

Mungkin Baekhyun menyangkalnya dengan memukuli Chanyeol. Mungkin otaknya memang berusaha membantah sanjungan tersebut. Namun faktanya, hati bukanlah sesuatu yang bisa dibohongi. Baekhyun bisa memanipulasi pikirannya sendiri, tapi ia tidak bisa mengkhianati batinnya. Dan buntut permasalahannya adalah, otaknya tidak mampu bersinkronisasi dengan hatinya.

Sehingga Baekhyun tidak tahu jika dirinya sedang jatuh cinta.


.

.

Tbc

.

.


I'm fucking back! Sorry for the late late late update, i was sick.