Surprise! Surprise!
Waktu satu bulan berjalan seperti angin yang tak disadari. Dan tentu, satu bulan merupakan waktu adaptasi yang amat melelahkan pikiran. Bukan berarti Baekhyun menghitung setiap waktu, saat ia kebetulan menengok kalender duduk di meja belajarnya, saat itu pula ia menyadari bahwa telah satu bulan lamanya ia tinggal di rumah ini. Juga, ia merasa kaget karena dirinya masih bisa bertahan di rumah ini, setelah semua hal yang terjadi. Baekhyun terkejut dirinya masih hidup sampai saat ini, tidak mati muda seperti apa yang ia bayangkan.
Segala hal di rumah ini mulai membuat Baekhyun terbiasa. Tentang Chanyeol yang terobsesi padanya, Kris yang selalu kurang ajar, Suho yang jarang di rumah, baby Sehun, Kim Jongin yang telanjang (Chanyeol sesekali bergabung), serta Yixing noona dan Zixuan yang berkunjung setiap Minggu. Dan tidak perlu disebutkan tetangga mereka yang kini jarang membuat kegaduhan sejak Baekhyun mempertemukan mereka dengan polisi bulan lalu. Hmm, rasanya seperti baru kemarin hal itu terjadi.
Keluhan-keluhan yang biasa ia ceritakan pada sahabatnya pun mulai mereda. Lalu, ia pun tidak menghubungi ibunya sesering dulu. Baekhyun mungkin belum menerima sepenuhnya nasibnya yang harus terkurung di tempat ini sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, namun setidaknya dia sudah mulai terbiasa.
"Kenapa mereka lama sekali…" Sehun bergumam. Ia bergeser untuk menyamankan posisi tidur miringnya dan itu membuat Baekhyun sedikit geli karena kepala remaja itu berbaring di atas pahanya.
"Sudah kubilang jangan bergerak." Sehun mendapat sebuah tepukan di telinganya, dari Baekhyun.
"Ouch… aku pegal." Yang lebih muda menggosok-gosok telinganya.
Jongin yang duduk di atas karpet, tepat di depan mereka berdua hanya melirik sebentar sebelum matanya kembali tertuju pada layar televisi. "Dasar manja."
"Bilang saja iri." Sehun mengompori.
Siang itu hanya terdapat mereka bertiga di rumah. Suho beserta dua kakak beradik sisanya tengah pergi keluar. Baekhyun tidak tahu pergi kemana, mereka hanya memberi tahu Sehun dan Jongin. Bukan masalah, lagipula Baekhyun juga tidak mau tahu.
"Aku bosan. Bagaimana kalau kita memainkan sesuatu?" Jongin tiba-tiba berbalik dengan wajah penuh penawaran.
"Aku tidak bosan. Jadi kalian berdua bisa bermain tanpaku." Baekhyun masih memfokuskan matanya ke televisi.
"Tidak asyik." Sehun menggelengkan kepalanya. "Sangat tidak asyik."
"Kau benar, bermain hanya untuk anak-anak kecil." Jongin mengangguk-angguk hingga sedetik kemudian ia berseru. "Bagaimana dengan permainan dewasa?"
Sehun melirik pada Baekhyun sebelum menjawab tawaran sahabatnya tersebut. "Aku ingin di posisi paling atas, kalian bisa jadi bottom-ku."
Baekhyun refleks menampar mulut Sehun. "Kau sudah gila, huh? Terlalu banyak menonton film dewasa membuat otakmu mengeras."
"Itu Jongin! Bukan aku." Sehun membela diri. Tidak ingin dirinya dituduh memiliki hobi keji yang sebenarnya digandrungi oleh Kim Jongin.
"Apa? Aku belajar dari Chanyeol-hyung!"
Dan kini mereka justru saling menyalahkan. Baekhyun membuang napas. Memang dari awal ide untuk berdiam diri di rumah bersama dua pemuda ini adalah ide yang buruk.
"Kurasa aku akan pergi keluar. Sehun, menyingkirlah."
Sehun mengubah posisinya menjadi terduduk. "Kau mau kemana? Aku ikut."
"Aku juga ikut." Jongin tak ingin kalah.
"Aku tidak bisa pergi keluar sambil mengasuh kalian berdua." Baekhyun memijit keningnya.
"Jangan tinggalkan kami di sini. Rumah ini berhantu." Sehun memberitahu. Dan sedikitnya, itu membuat Baekhyun sedikit tertarik.
"Kau serius?"
"Aku sering mendengar suara dengkuran di sebelahku saat aku tidur."
Jongin tiba-tiba menepuk dan memberi tatapan bersalah pada Sehun. "Bro, sebenarnya itu adalah aku. Aku sering menyelinap tidur ke kamarmu dan pergi saat pagi sudah tiba."
"Apa? Jadi itu kau?"
"Lihat, masalah hantu ini sudah terselesaikan. Sekarang aku akan pergi." Baekhyun bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk pergi keluar. Ke manapun agar ia terbebas dari dua bocah idiot ini.
"Jangan tinggalkan kami."
Baekhyun terkejut saat satu kakinya ditarik oleh sebuah tangan. Saat menengok ke bawah, ia melihat Jongin tengah menengadah dengan wajah memelasnya. "Apa yang kau lakukan, idiot?"
"Hyung akan membunuhku kalau kau pergi." Ujar Jongin.
Alis Baekhyun naik sebelah. "Uh-huh, aku tidak peduli dengan nyawamu."
"Kau tidak bertanya kenapa hyung hendak membunuhku?"
"Memangnya aku harus? Lagipula memangnya kenapa kalau aku pergi keluar?"
"Di luar akan ada badai." Kali ini Sehun turut membantu. Walaupun tidak menarik kaki Baekhyun seperti yang Jongin lakukan.
"Tidak akan ada badai di hari cerah seperti ini, Sehun. Dan aku sudah menonton ramalan cuaca pagi tadi." Baekhyun mulai jengah.
"Mereka berbohong. Mereka selalu berbohong tentang cuaca kecuali di hari Minggu." Sehun masih bersikukuh.
"Dan kenapa dengan hari Minggu?"
"Mereka libur di hari Minggu." Jongin membantu menjawab.
Baekhyun kembali menghela napas. Ia sendiri tidak paham apabila dirinya tengah dipermainkan atau justru dua orang itu betul-betul serius tentang ramalan cuaca. Tapi siapa peduli! Ia tidak berniat untuk berdiam lebih lama di sini untuk mendengar omong kosong mereka berdua.
"Aku hanya akan pergi membeli kopi. Itu tidak akan lama." Baekhyun mencoba bernegosiasi.
"Kau bisa saja diculik saat di perjalanan ke sana." Jongin menolak mentah-mentah.
"Siapa juga yang mau menculikku?" Baekhyun memberinya tatapan datar.
"Para pencuri organ! Mereka akan menculikmu dan menjual organmu di pasar gelap!"
"Menyingkir dariku!" Baekhyun mengibaskan kakinya. Jongin terpental namun itu tidak berlangsung lama karena kakinya kembali dipasung oleh sebuah tangan. Kali ini Sehun.
"Kalau kau pergi, aku akan bunuh diri bersama kalian semua." Sehun mengancam.
Sungguh kalimat yang membuat Baekhyun bingung. "Ya ampun, kebodohanmu benar-benar berada di level yang tak bisa kucapai."
"Kumohon…kumohon… kalau kau pergi pesta ini akan gagal."
Pemuda yang lebih tua tiba-tiba menghentikan gerakan menendang-nendangnya saat mendengar kalimat yang terlontar dari Jongin. Ia menengok pada pemuda itu dan bertanya. "Katakan sekali lagi."
"Sekali lagi."
"Bukan itu, bodoh, kalimat sebelumnya."
"Kalimat sebelumnya."
Baekhyun sedang menahan diri untuk tidak melempar vas bunga ke wajah anak itu. Kedunguan Jongin nyaris menyamai si bintang laut terkenal. "Aku akan membunuhmu suatu hari nanti, Patrick."
"Hey, kau mengacaukan kejutannya!" Sehun berbalik pada Jongin dengan wajah menyalahkan.
"Aku tidak sengaja!"
"Kau baru saja melakukannya!"
"Tapi aku tidak sengaja!"
"Kau juga mengatakan hal yang sama saat memakan dessert-ku!"
Ditengah keributan itu, Baekhyun berbalik memunggungi mereka berdua sambil melambaikan tangan. "Aku pergi dulu, sampai jumpa."
"Tidaaaak!"
Jongin dan Sehun tiba-tiba berlari dan memblokir jalannya. Mereka merentangkan tangan dengan tatapan mengancam. "Kami akan membuka bajumu kalau kau melangkah sekali lagi."
"HEY!" Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah terancam. "Akan kulaporkan kalian ke polisi."
"Kami tidak peduli."
Itu benar, mereka tidak takut dengan polisi. Namun Baekhyun tidak kehabisan akal. "Kulaporkan kalian pada Chanyeol."
Dia tahu. Baekhyun tahu bahwa jika nama Chanyeol sudah dibawa sebagai ancaman, maka dua bocah ini tidak punya pilihan lain selain memohon. Sejak Chanyeol telah menjadi sinuhun tertinggi bagi mereka berdua (berbeda dengan Kris yang terlalu banyak membiarkan mereka), Jongin dan Sehun selalu bertindak layaknya anjing penurut. Mungkin mereka berdua tidak menurut pada Baekhyun –yang sering mereka panggil tanpa embel-embel hyung—tapi faktanya, Baekhyun punya senjata yang lebih ampuh.
"Jangan!"
See?
Mungkin si pria yang terobsesi pada Baekhyun itu lumayan konyol, tapi bagi Sehun dan Jongin, ia adalan junjungan. Membayangkan Chanyeol yang murka adalah sesuatu yang mengerikan. Apalagi jika ditambah fakta bahwa mereka menyentuh Baekhyun, ini bisa menjadi kekacauan yang paling fatal.
"Kalau begitu katakan padaku pesta macam apa yang akan kalian gelar?" Baekhyun menyilangkan tangan. Kakinya mengetuk lantai pertanda menunggu jawaban. Jika sekiranya tidak memuaskan, ia betulan akan pergi.
Dua bocah di hadapannya saling bertukar pandangan. Seolah berat untuk mengatakan, namun tidak punya pilihan.
"Spill." Baekhyun semakin mendesak.
"Pesta penyambutan." Jongin akhirnya memberi jawaban. Namun itu belum cukup lengkap untuk membuat Baekhyun puas. Penyambutan apa? Dan siapa pula yang hendak disambut?
"Apa Presiden akan datang kemari?" tanya Baekhyun dengan nada remeh. Dua bocah itu menggeleng serius.
"Lebih penting daripada Presiden." Ujar Sehun.
"Lalu siapa? Donald Trump?"
"Donald Trump termasuk Presiden, Baekhyun." Jongin mengingatkan.
"Ya lalu siapa?"
"Kau."
Kali ini tangan Baekhyun berpindah ke pinggang. Wajahnya mendekat penuh selidik. Apa dua anak ini baru saja berbohong? "Kau pikir aku akan percaya?"
"Aku bersumpah!" Jongin mengangkat satu tangannya di belakang telinga. "Ini pesta penyambutan untukmu."
"Katakan itu satu bulan yang lalu!" Baekhyun mendorong kepala anak itu dengan jari telunjuknya.
"Ini sungguhan. Dan sekarang, Chanyeol hyung sedang pergi keluar untuk membeli makanan. Dia yang mengusulkan untuk membuat pesta, sebenarnya sudah sejak lama. Tapi Suho hyung baru punya waktu libur hari ini, dan selanjutnya kau akan tahu sendiri."
Sebenarnya ini agak mengherankan, tapi juga cukup masuk akal. Mereka mungkin menunda pesta karena Suho yang jarang berada di rumah. "Bagaimana aku tahu kalau kalian tidak berbohong?"
Jongin menunjuk Sehun yang berdiri di sampingnya. "Kalau aku berbohong, kau boleh membakarnya hidup-hidup."
"Enak saja!" Sehun menyentaknya. Ia pun beralih pada Baekhyun. "Jangan dengarkan dia, dagingku tidak akan enak jika dibakar."
Siapa juga yang berniat memakanmu, Oh Sehun… Baekhyun benar-benar sakit kepala.
"Yang terpenting…" Jongin menyatukan kedua telapak tangannya di depan Baekhyun. "Tolong rahasiakan ini dari Chanyeol hyung, dia ingin membuat kejutan untukmu."
"Seingatku ini bukan lagi kejutan saat kau mengatakannya beberapa detik yang lalu."
"Kumohon, kau harus berpura-pura terkejut. Ini demi kebaikan kita semua. Aku tidak mau para hyung kecewa dan berakhir dengan mencelupkan kami berdua ke minyak panas. Suho hyung mungkin akan mengampuniku, tapi dua kakak beradik itu tidak akan pernah. Dan lagi, Sehun belum menikah, kami berdua belum menikah dan aku masih ingin melanjutkan studiku—"
"Hentikan!" Baekhyun betul-betul jengah sekarang. "Memangnya kapan pestanya dimulai? Dan kenapa aku harus tetap di sini sementara kalian mempersiapkan kejutan."
"Nanti malam. Dan ini lebih baik daripada membiarkanmu berkeliaran tanpa tahu kapan pulang, kami tidak mau mengambil resiko." Sehun menjelaskan.
Sekarang Baekhyun merasa bingung. Tapi satu hal yang pasti, Chanyeol tentulah sangat teliti sehingga hal sekecil itupun tak luput dari perhitungannya. Baekhyun ingin memuji tapi urung karena terlanjur kesal saat mengingat ia harus terjebak di tempat ini sampai nanti malam.
"Baiklah kalau begitu," si pendek menggaruk kepalanya. "Lalu aku harus apa?"
"Kau bisa berdiam diri di kamarmu, mungkin? Seperti yang sering kau lakukan." Jongin menyarankan. "Aku bisa saja menemanimu di sana kalau kau mau."
"Tidak akan pernah." Baekhyun menyela dengan cepat. Matanya menatap garang pada Jongin. Anak ini harus diwaspadai tindak tanduknya. Matanya selalu terlihat seperti ingin menelanjangi Baekhyun saat itu juga.
"Oh… Shit! Mereka datang!" Sehun tiba-tiba berseru saat matanya melirik ke arah jendela. Melalui kaca bening tersebut, ia bisa melihat mobil yang berhenti dan parkir di depan rumah mereka. "Itu pasti mereka."
"Kau yakin itu bukan mantan pacarku yang datang ke rumah?" tanya Jongin. Dia memiliki krisis kepercayaan terhadap sahabat serumahnya tersebut.
"Itu mobil Chanyeol hyung, bodoh! Mana mungkin aku salah lihat." Sehun menyemprot.
Jongin cepat-cepat beralih pada Baekhyun. Dengan kedua tangan di pundak si pemuda yang lebih tua, ia menatap lamat-lamat. "Dengar, begini rencananya: Kau akan sibuk berdiam diri di kamarmu dan seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana, bahkan jika kau mendengar suara ledakan tolong jangan keluar kecuali Chanyeol hyung mengetuk pintu kamarmu dengan penuh cinta. Dan saat waktunya sudah tiba, kau akan terkejut, menangis terharu, apapun supaya Chanyeol hyung merasa bahwa rencananya telah berhasil karena jika tidak, bukan kau yang akan jadi korbannya. Aku, aku dan Sehun akan diumpankan pada buaya di kebun binatang. Saat itu terjadi, Suho hyung tidak akan punya kuasa dan Kris the psycho daddy akan sangat menikmati pertunjukkan itu. Jadi kumohon padamu dengan sangat…" Jongin menarik napas dalam-dalam. "Tolong bekerjasamalah."
Baekhyun sedikit terkesan. Itu adalah pidato kematian yang cukup menghibur. Dan mungkin, sebuah anggukan bisa menyelamatkan semua nyawa di rumah ini.
"Baiklah. Kalian mendapatkan apa yang kalian mau."
Baekhyun menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur bersamaan dengan sebuah tawa kecil yang keluar dari bibirnya. Dia tidak habis pikir, bahkan di acara pesta seperti ini pun teman-teman serumahnya masih saja konsisten dengan kebodohan mereka. Baekhyun merasa konyol sendiri, membayangkan apakah dua atau tiga bulan ke depan ia akan bergabung ke "anti sober sober club" yang diketuai Chanyeol, karena seperti yang pernah ia dengar, kebodohan itu bisa saja menular.
Tawa Baekhyun kembali terdengar bagi dirinya sendiri. Ia pun sedikit bingung dengan apa yang ia tertawakan. Yang pasti, semua ini cukup konyol. Menggelar pesta kejutan sementara yang dikejutkan sudah tahu lebih dulu. Saking konyolnya, ia pun berniat membaginya pada kedua temannya yakni Rose dan Kyungsoo.
"Ahh… Kyungsoo sedang ada kelas. Mungkin Rossie saja."
Ia pun menyandarkan kepalanya di bantal, berhadapan di jarak yang cukup dekat dengan handphone-nya, dan memulai video call.
"What?"
Baekhyun disambut dengan wajah Rose yang berada terlalu dekat dengan kamera –serta mata malasnya terlihat lebih malas. Dan jangan lupakan nada suaranya yang terdengar seperti ia sudah sangat siap –dan muak—untuk mendengarkan ocehan Baekhyun tentang teman-teman serumahnya.
Biarpun begitu, Baekhyun tetap melanjutkan. "Kau sedang dimana?"
Rose lantas menjauhkan handphone-nya sehingga Baekhyun bisa mengidentifikasi dimana sahabatnya itu tengah berada sekarang. Dua orang perempuan di belakang Rose sedang sibuk menata rambut anak itu dan Baekhyun membulatkan bibir setelahnya.
"Tempat yang bisa membuatku merasa cantik setelah keluar dari dalamnya." Rose memperjelas. Perempuan itu punya banyak waktu senggang yang bisa ia habiskan. Pergi ke salon adalah salah satu pengisinya. "Ada apa?" ia kembali bertanya pada Baekhyun.
"Nothing… just another dumb story…" Baekhyun berkata dengan tawa kecil yang mengikuti di belakangnya. Ini yang menjadi pembeda antara dirinya yang sekarang dengan Baekhyun sebulan lalu. Jika di minggu-minggu sebelumnya, ia akan datang pada Rose dan menceritakan problematika kehidupan di rumah sewanya dengan nada mengeluh, maka kali ini lain. Sekarang ia menceritakan itu semua layaknya lelucon rutin yang tak pernah gagal untuk lucu.
"Ohh no…not this shit again!" Rose kali ini turut tertawa kecil. Ia menggeleng ingin menolak cerita selanjutnya yang sudah ia tebak pastilah sangat bodoh. Masih segar dalam pikiran tentang tetangga Baekhyun yang bawel sampai-sampai anak itu butuh polisi untuk mengamankan. Atau tentang Chanyeol yang mengenakan blacksuit hanya untuk pergi ke bioskop. Dan semua kegilaan lainnya.
"Jadi… Jongin, dia tidak sengaja mengatakan tentang pesta penyambutan yang seharusnya menjadi kejutan untukku. Astaga…" Baekhyun menggeleng prihatin dengan tawa cukup pelan. "Maksudku, bagaimana bisa dia begitu bodoh? Hahaha… dan sekarang aku harus berpura-pura tidak tahu karena ia tidak ingin dimarahi Chanyeol jika rencana ini gagal…ya ampun…hahaha…"
"Shit. Jadi kau sudah tahu?"
"Yeah I really lost my shi—what?"
Keduanya saling menjeda kalimat dengan wajah kaget.
Rose adalah yang pertama sadar dari keterkejutan. Ia pun membawa satu tangannya untuk mengelus wajah sebagai tanda keprihatinan. Melihat Baekhyun yang penasaran setengah mati, ia pun berujar: "Aku dan Kyungsoo juga diundang ke pesta itu. Dan kami berniat memberimu kejutan."
Baekhyun menepuk keningnya beberapa kali. Jadi sebenarnya siapa sekarang yang mengacaukan kejutan ini?
"Ini bukan lagi pesta kejutan…" Baekhyun bergumam lirih.
"Kau harus tetap terkejut nanti," ujar Rose, nada suaranya terdengar seperti ancaman. "Chanyeol sudah berusaha keras. Ini akan menjadi pesta penyambutan bagimu, yang sebenarnya cukup terlambat, dan juga pesta ulang tahunmu."
"Kau gila. Ulang tahunku dua bulan yang lalu, kau sendiri yang memberiku kue saat itu."
"Tapi Chanyeol bilang dia belum merayakannya, dan dia ingin melakukannya sekarang. Tidak peduli seberapa terlambatnya ulang tahunmu atau kedatanganmu ke rumah itu."
"Kau ini sebenarnya di pihak siapa?" Baekhyun jadi aneh. Yang sahabatnya kan dia, kenapa sekarang Rose menyeberang ke sisi Chanyeol?
"Aku? Oh, aku tidak berada di pihak kalian berdua. Aku tim netral." Jawabnya dengan bahu terangkat.
Baekhyun tersenyum sinis. "Terdengar sangat meyakinkan."
"Bekerjasamalah, setidaknya hanya untuk malam ini. Kau hanya perlu terlihat bodoh seolah tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia. Buat Chanyeol senang, dia adalah ayah bagi anak-anakmu kelak." Teman perempuannya itu memberi saran, atau mungkin lebih terdengar seperti perintah untuk tidak mengacaukan rencana awal. Disertai kalimat terakhir yang membuat Baekhyun langsung memutar bola matanya. "Sekarang enyahlah. Seseorang diantara kita punya rambut yang harus diurus." Pungkas Rose.
"Tapi…tapi tapi tapi…tunggu! Rossie! This bitch…"
Video call berakhir secara sepihak. Baekhyun ditinggalkan.
Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Baekhyun sempat mengintip lewat jendela, karena ternyata mereka membuat pesta di halaman belakang, tanpa suara sama sekali. Jangan tanya bagaimana ia bisa tahu karena saat Baekhyun mengintip keluar melalui pintu kamarnya, tidak ada satupun manusia yang hadir di lantai bawah. Jadi iapun bisa dengan mudah mengasumsikan bahwa rekan-rekan serumahnya memang menggelar pesta di luar ruangan. Ide bagus, mengingat ini adalah musim panas.
"Baekhyun, boleh aku masuk?"
Baekhyun bangkit dari kursi belajarnya saat mendengar suara Chanyeol yang sepertinya tengah berdiri dengan senyum lebar di depan pintu kamarnya. Ia sedikit heran, sejak kapan Chanyeol minta izin untuk masuk ke kamarnya mengingat pria itu sering lupa tentang sesuatu bernama sopan santun.
"Tentu. Pintunya tidak dikunci." Baekhyun membuat suaranya agar terdengar cukup normal. Sedikit ketus dengan nada tinggi.
Kemudian Chanyeol memperlihatkan tubuh tingginya dengan masuk ke dalam kamar Baekhyun. Dari senyumnya yang tak terbendung, Baekhyun tahu si bongsor ini sudah tidak sabar untuk mengajaknya keluar.
"Kau keberatan untuk ikut denganku sebentar?"
Idealnya, Baekhyun akan menolak tanpa pikir dua kali. Namun hanya untuk hari ini, hanya-untuk-hari-ini, ia dengan besar hati mempersilakan Chanyeol untuk memandunya kemanapun.
"Tidak." Baekhyun benar-benar tidak keberatan. "Kemana?"
"Kau akan tahu."
Yea..yea…tell me about it. Baekhyun ingin tertawa jahil, namun urung karena itu akan merusak kejutan. Saat ia merusak kejutan, Chanyeol akan kecewa. Bukan berarti ia peduli, tapi jika Chanyeol kecewa maka Jongin dan Sehun akan dijadikan pelampiasan minimal samsak tinju. Jadi, karena Baekhyun menjunjung tinggi perdamaian, maka iapun harus meminimalisir angka kemungkinan terjadinya tindakan anarki tersebut.
"Haruskah aku berganti pakaian?" Baekhyun berbasa-basi. Aslinya, ia sudah berdandan sebaik mungkin dan tentunya se-natural mungkin dengan pakaian santai namun cukup rapi.
"Tidak perlu. Kau tetap menawan dengan apapun yang kau pakai."
Baekhyun menaikkan kedua alisnya dan mengangguk setuju. "Aku. Tentu saja."
"…bahkan tanpa pakaian sekalipun kau tetap…"
"Okay, bite your tongue."
Baekhyun menatap tidak peduli padanya, dan Chanyeol membalasnya dengan senyuman yang terlihat lebih lebar dari biasanya. Dan ia pun berkata, "Baiklah, sekarang tutup matamu. Aku akan menuntunmu keluar."
"Apa? Tidak. Bagaimana kalau aku tersandung atau jatuh di tangga?" Baekhyun langsung menolak.
"Kau benar. Itu ide yang buruk." Chanyeol menggosokkan jarinya di dagu. "Bagaimana kalau aku yang menutup matamu."
"Chanyeol, itu tidak membuatnya berbeda. Aku tetap tidak mau salah menginjak anak tangga hanya karena aku tidak melihat jalan. Ayo kita keluar saja dan jangan banyak tingkah." Baekhyun akhirnya melewati pria itu dan hendak mendahuluinya untuk keluar. Lagipula dia sudah tahu kemana Chanyeol akan membawanya.
"Eh, tunggu!"
Baekhyun berhenti secara otomatis. Menatap pada Chanyeol yang tengah berdiri di sampingnya dan menautkan jemari tangan mereka berdua.
"Begini lebih baik."
Baekhyun tidak banyak membantah. Mereka pun menuruni tangga dengan sunyi. Ia membiarkan Chanyeol berjalan sedikit lebih di depan dan berusaha sebaik mungkin mempertahankan wajah polosnya. Dalam dirinya yang lain, Baekhyun sedang sibuk melatih ekspresi terkejutnya supaya terlihat alami.
Dan merekapun melewati pintu menuju halaman belakang. Sesampainya di sana, Baekhyun disambut meriah oleh teman-temannya.
"SURPRISE!"
Makanan ringan, makanan berat, minuman warna-warni, lampu hias, dekorasi sederhana, dan suasana ceria. Klise, oke. Tapi karena ini dibuat spesial untuknya, maka Baekhyun berterimakasih banyak dengan cara menikmati semua ini bersama senyum mengembangnya.
"Wow…" Baekhyun menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia mengalihkan matanya pada Chanyeol dan bertanya, "Apa ini?"
Chanyeol tersenyum bangga dan menunjuk orang-orang di hadapan mereka berdua. "Aku dan yang lainnya membuatkan sebuah pesta kecil-kecilan untukmu. Sebagai tanda penyambutan dan mungkin… hari ulang tahunmu…yang mana itu sudah sangat terlambat tapi siapa peduli?" Ia membuka kedua telapak tangannya. "Dan anggap saja ini sebagai hari jadi hubungan kita—"
"Apa?"
"Maksudku," Chanyeol mengorek telinganya sesaat. "Hari jadi satu bulan setelah kepindahanmu ke rumah ini. Bukan begitu teman-teman?" pria itu meminta persetujuan para audiens.
"Yeah!" Jongdae menjawab paling lantang. Dan… tunggu, dia juga diundang?
"Sebenarnya dia tidak diundang, jika itu yang ingin kau tanyakan." Chanyeol seakan bisa membaca pikiran Baekhyun. "Kupastikan kami mengirimnya pulang malam ini agar ia bisa dihabisi oleh orang tuanya." Ia menunjuk pada si anak SMA yang mengerang seolah tengah kesakitan.
"Uh-huh, baiklah."
"Uhm, kau suka kejutan ini?" Chanyeol bertanya hati-hati. Karena sepertinya ia belum mendapatkan ekspresi yang ia inginkan dari Baekhyun.
"Oh? Yeah, tentu saja." Baekhyun mendadak salah tingkah. Ia pun melarikan pandangannya pada Sehun dan Jongin yang tersenyum dengan bibir yang bergerak seolah tengah menggumamkan sesuatu. Baekhyun membaca situasi itu dengan baik, dan ia pun beralih kembali pada Chanyeol. "Aku, aku sangat terkejut… dan dan… "
"Dan?"
"Ini menyenangkan. Chanyeol, aku sungguh berterimakasih. Bisa kita mulai pestanya?" Ia pun menarik tangan Chanyeol yang masih berada dalam genggamannya dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Baekhyun menyambar segelas vodka ketika ia mendekati meja. Chanyeol masih disampingnya, menggandeng tangannya. Hingga saat Baekhyun menyesap minuman saat itulah ia sadar dan melepaskan tangannya. "Ooops…"
"Aku berharap bisa lebih lama…" terang Chanyeol, ia mengambil minuman yang sama dan meneguknya dengan cepat.
"Well done, brother." Kris menyapa, menepuk bangga bahu sang adik dan mereka pun memulai beberapa obrolan kecil. Ia mengatakan pada Baekhyun tentang ide Chanyeol dalam membuat pesta. Bahwa pria itu sangat keras kepala untuk melakukan apapun yang ia inginkan. Meski dalam waktu yang amat sangat terlambat. Baekhyun sendiri secara pribadi tidak merasa keberatan.
Karena tidak pernah ada yang mengistimewakannya hingga sejauh ini dan membuat dirinya merasa begitu spesial. Tidak pernah ada yang memperlakukannya sebaik ini dan berusaha demi membuatnya senang. Tidak pernah ada seseorang yang membuat dirinya merasa begitu dicintai sepenuh hati.
But Chanyeol did.
"Katakan padaku bahwa kau merasa tersentuh."
Baekhyun melirik ke sampingnya dimana ia bisa melihat Rose yang baru saja berbisik ke telinganya. Kyungsoo turut berada di sana, memasang tatapan yang sama dengan sahabat perempuanya seolah mereka sedang menunggu sebuah pengakuan dari Baekhyun.
"Apa?" Baekhyun terlihat ingin mengabaikan. Ia tidak lagi berdampingan dengan Chanyeol sejak pria itu dipanggil oleh penghuni rumah yang lain untuk bergabung dalam perlombaan minum.
"Kubilang, katakan padaku bahwa kau merasa tersentuh sekarang." Rose menyimpan gelas kosongnya dan menyandarkan bokong di pinggiran meja. "Chanyeol memperlakukanmu seperti seorang putri."
"Well, tidak sepenuhnya salah." Baekhyun berterus terang.
"Aha!" Kyungsoo lantas menunjuk sahabatnya tersebut tepat di hidung. "Sudah kuduga kau akan jatuh ke pelukannya."
"Tidak semudah itu." Baekhyun membantah dengan cepat. Dia tidak ingin dinilai sebagai barang yang mudah didapat, bahkan setelah semua hal yang Chanyeol lakukan untuk menyenangkan hatinya. Baekhyun masih perlu menata hatinya. Sebab ia sendiri masih memiliki perasaan yang membingungkan. Kadang-kadang ia sangat ingin memeluk Chanyeol, tapi sedetik kemudian ia juga ingin menendang selangkangan pria itu. Gejala ini membuatnya terdengar seperti seorang bipolar.
"Susah sekali membuatmu mengaku." Kyungsoo menghela napas, seolah sudah sangat muak dengan sifat denial Baekhyun.
"Kau tidak mengerti perasaanku, ini sedikit rumit."
"Dia single, dan kau pun sama. Bisakah itu menjadi lebih rumit?" tanya Rose dengan nada mengejek. Kyungsoo mengangguk setuju.
"Aku belum siap." Baekhyun menjawab pelan. Seolah ia tidak percaya diri dengan apa yang ia ucapkan.
"Astaga Baekhyunie…astaga…" Kedua sahabatnya menggeleng dramatis. Rose menepuk pundaknya dengan tatapan menyedihkan. "Dia tidak memintamu untuk menikah dengannya Minggu depan."
Baekhyun memejamkan matanya sesaat. "Tapi dia bertingkah seakan-akan dia memang ingin menikah denganku Minggu depan."
"Aku tahu dia gila. Tapi kurasa kegilannya belum sampai kesana. Rileks saja, Byunnie…"
"Kau tidak akan bisa mengukur kegilaannya." Baekhyun berkata seakan ia orang yang paling handal dalam menangani Chanyeol. "Dia menakutkan, seperti bom waktu."
"Tapi…" Kyungsoo memberinya tatapan serius. "Kau menikmati apa yang dia lakukan hari ini bukan? Karena sepertinya, senyummu saat datang kemari bukanlah sesuatu yang palsu."
Baekhyun menatap Chanyeol yang kini tengah tertawa saat melihat Kris tersedak minumannya. Dan entah mengapa, ia mengukir sebuah senyum. "Ya, setidaknya itu tidak palsu. Meski aku sudah tahu tentang pesta ini."
Kyungsoo mengangguk-angguk. Ia juga tahu tentang hal ini karena Rose pastilah bermulut besar. "Jadi ini hanya masalah waktu."
Si pemuda Byun menaikkan bahu. "Mungkin."
"Baiklah, sepertinya aku harus menjedanya dulu." Chanyeol berkata dengan suara yang bisa di dengar semua orang. Saat teman-temannya yang lain menghentikan perlombaan konyol mereka, ia pun kembali mendekat kepada Baekhyun.
"Sebelum aku mabuk, yea… itupun kalau aku mabuk, aku ingin memberimu hadiah." Ujarnya pada Baekhyun, yang sepertinya sangat tidak tahu tentang bagian ini.
"Hadiah?" tanya Baekhyun.
"Ya, hadiah ulang tahun. Kau belum mendapatkannya dariku." Chanyeol tersenyum sambil menarik sebuah kotak dari bawah meja.
"Kita belum bertemu saat itu." Baekhyun tertawa nervous. Bukan karena semua mata kini memperhatikannya, tapi karena ia sedikit gugup menunggu hadiah dari Chanyeol.
"Yeah, too bad." Chanyeol mengangguk. "Yang terpenting, kita telah saling menemukan. Jadi… ini dia hadiahmu."
Baekhyun melirik kedua sahabatnya yang tengah menaikkan alis dengan senyum nakal. Lalu ia pun kembali menatap Chanyeol dan menerima sebuah kotak yang diberikan pria itu. "Boleh kubuka sekarang?" tanyanya dengan tak sabar.
"Kapanpun kau mau." Chanyeol mempersilakannya.
Jadi Baekhyun pun membukanya dengan leluasa. Sebuah kotak sederhana tanpa hiasan pita atau apapun. Benar-benar sebuah kotak berwarna krem yang polos. Saat Baekhyun membuka tutupnya, saat itu pula rahangnya jatuh diikuti mata yang melotot.
Kali ini Baekhyun benar-benar terkejut.
"Apa ini?" Ia menarik salah satu benda yang ada di dalam sana dan orang-orang mulai bereaksi.
"Itu sebuah kondom." Jongin memperjelasnya jikalau ada manusia di sana yang tidak familiar dengan benda yang Baekhyun pegang. "Dan mungkin di dalam sana masih ada borgol, celana dalam warna warni—"
"Hentikan." Sehun menampar mulut sahabatnya tersebut.
Sementara, Baekhyun masih menganga meminta penjelasan. Sebab kotak di depannya berisi beberapa benda aneh dan sangat tidak senonoh, sama seperti apa yang Jongin terangkan –dan salah satunya adalah kondom. Dan Chanyeol tidak beraksi banyak selain melarikan wajah penuh amarahnya pada sang kakak tersayang.
"KRIS!"
"Oh…sorry, brother. That's mine." Pria berambut pirang itu berkata santai. Bahkan ketika alat-alat perangnya terekspos, ia tidak bereaksi lebih. Suho yang berdiri di sampingnya justru yang terlihat sangat malu.
"Kenapa barang-barangmu ada di dalam box-ku?" tanya Chanyeol, masih dengan emosi, seraya menunjuk kotak biadab yang berisi benda-benda ajaib. Chanyeol tahu bahwa itu merupakan properti khusus milik Kris yang akan ia gunakan ketika hendak bersetubuh dengan Suho. Tapi dia benar-benar tidak tahu kenapa kotak itu harus ada di sana.
"Aku baru membelinya tadi, jadi kusimpan saja di sana. Punyamu kupindahkan ke dalam paper bag. Ada di bawah meja."
Nyaris semua orang menggelengkan kepalanya, tidak terkecuali Suho yang merasa tidak enak terutama kepada kedua sahabat Baekhyun. Mereka pasti sangat tidak terbiasa dengan kekonyolan tentang kehidupan seks-nya dengan Kris.
"Tolong maafkan dia, dia tidak punya otak." Suho memohon maaf sebagai perwakilan dari mereka berdua. Pria itu kemudian menatap tajam pada Kris. "Blondie, we need to talk."
"Apa? Aku tidak membuat kesalahan. Bukankah itu lucu-"
"Oh, shut up!" Suho menarik telinga Kris dan menggiringnya masuk ke dalam rumah.
"Jongin, bawakan kotak itu ke kamarku!" itulah kalimat terakhir Kris sebelum ia diseret pergi secara tidak terhormat.
Jongin menghela napas. Ia pun mengambil alih kotak di tangan Chanyeol. Mengintip sebentar sebelum menutupnya kembali, dan berkata pada semua orang,
"Kinky as hell."
Lalu pergi ke dalam rumah dengan langkah gontai.
"Maafkan ketololan Kris, ibuku dulu mungkin tidak sengaja memasukkan ganja ke dalam susu formulanya." Chanyeol meminta maaf kepada semua orang yang ada di sana. Lalu ia pun beralih kepada Baekhyun.
"Aku minta maaf, sungguh, bukan itu yang ingin kuberikan padamu, baby." Chanyeol meminta maaf dengan tulus. Ini murni sebuah kesalahan teknis. Karena ia tidak berniat untuk memberikan semua itu kepada Baekhyun. Tidak sebelum Baekhyun betul-betul menjadi miliknya. Itu artinya, kemungkinan masih tetap ada.
"Fiuuhh…" Baekhyun betul-betul kehabisan kata. "Untung saja aku tidak langsung menamparmu tadi."
"Aku akan menerimanya dengan senang hati." Chanyeol menarik seringai ketika tangannya meraih paper bag di bawah meja. Kali ini ia mengeceknya terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada Baekhyun.
"Ini dia."
"Jadi… kali ini aman untuk dibuka di depan umum?" Baekhyun masih ingin memastikan. Dan sebagai penegasan, Chanyeol mengangguk dengan mantap.
Baekhyun kemudian menengok ke dalam benda ringan yang ada di tangannya. Sangat ringan sampai-sampai ia mengira bahwa Chanyeol masih sedang berlelucon tentang hadiahnya. Namun saat menemukan benda apa yang ada di dalam sana, la mulai bertanya-tanya; Kertas apa yang sedang ia pegang?
"Uh-huh, apa ini?" Baekhyun lalu memutuskan untuk membacanya. "Okay, sebuah tiket untuk berlibur ke Dubai terdengar sangat…"
Bola mata Baekhyun nyaris melompat dari soketnya saat ia sadar kalimat apa yang baru saja ia gumamkan.
"Chanyeol, kau pasti bercanda!"
Baekhyun sangat tidak percaya dengan apa yang didapatnya. Berlibur ke Dubai? Astaga. Ia tidak bermaksud terdengar menyedihkan, tapi satu-satunya pengalaman Baekhyun pergi ke luar negeri adalah saat berkunjung ke kampung halaman ayah tirinya, Jake di Stockholm. Lagipula ia tidak pernah berlibur ke luar negeri sejak keluarganya berpindah ke Jeju. Ia berpikir itu sudah cukup karena ia juga tidak terlahir dari keluarga yang mampu menghambur-hamburkan uang.
Tapi Chanyeol, Baekhyun tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada pria ini.
"Mana mungkin aku bercanda." Chanyeol mengatakannya disertai tawa. Tawa yang terdengar seperti "Ini bukan apa-apa bagiku, aku bahkan bisa membeli sebuah pulau hanya untukmu, Baekhyun." Kurang lebih seperti itu. "Jadi, bagaimana? Kau suka?"
Baekhyun menggosok-gosok tengkuknya. Ia terlihat tidak yakin. "Entahlah… aku, aku tidak tahu Chanyeol…aku tidak tahu apakah aku bisa menerimanya…"
"Kenapa? Kau tidak suka Dubai? Kau ingin menggantinya dengan Maldives? Bali?"
"Tidak, bukan itu maksudku…"
"Sudah kuduga ini terlalu sederhana. Aku seharusnya membelikanmu mobil." Chanyeol menggeleng kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Tidak! Bukan itu ya ampun, Chanyeol! Dubai adalah salah satu dari banyaknya tempat yang sangat ingin kukunjungi di dunia. Dan…dan waktunya pun sangat tepat. Aku hanya tidak tahu apakah aku bisa menerimanya maksudku… kau bahkan belum mengenalku cukup lama." Baekhyun terdengar mencicit di kalimat terakhir.
"Serius?" Chanyeol bertanya tak percaya. "Hanya itu masalahnya?"
Baekhyun mengangguk dengan cemas. Ia merasa tak pantas.
"Baekhyun, dengar…" Chanyeol melangkah lebih dekat. Meraih kedua pundak Baekhyun dan menatap pemuda itu dengan sungguh-sungguh. "Bahkan di saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah sangat siap untuk memberikan seluruh dunia ke dalam genggamanmu. I'm absolutely head over heels for you, Baekhyun."
Chanyeol mengatakannya tanpa ragu, dan penuh dengan keberanian. Ia mengatakannya kepada Baekhyun, di depan orang-orang yang sebenarnya sejak tadi tidak ia anggap keberadaannya.
"Saat pertama kali bertemu denganmu, aku sadar bahwa cinta pada pandangan pertama bukanlah sesuatu yang hanya akan kutemukan di novel romansa." Lanjutnya.
Secara fisik, Baekhyun masih berada di sana. Namun secara mental, ia pergi jauh. Baekhyun berlarian di tengah kebun bunga. Baekhyun berlayar menyusuri samudera. Hingga akhirnya ia benar-benar menemukan cinta.
"Tuhan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada pria ini?"
Ketika Baekhyun masih menggerayangi pikirannya dan bibirnya tak kunjung berucap. Chanyeol akhirnya membuat kesepakatan lain. "Baiklah, kalau kau masih keberatan, bagaimana dengan ini,"
Pria itu mengedarkan pandangannya ke semua orang yang sedari tadi hanya menonton. "Kita pergi bersama. Tidak hanya kau dan aku, tapi semuanya."
Sontak seruan-seruan pun timbul setelahnya.
"Kau serius hyung?"
"Iyeaaah!"
"Apa kita juga termasuk?" tanya Kyungsoo pada Rose.
"Aku? Kau sungguhan akan mengajakku juga, hyung?" Jongdae bertanya penuh haru.
Chanyeol benci mengulang ucapannya, tapi ia harus. "Kalian semua."
Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dan setelahnya, ia tertawa. Benar-benar tertawa disusul dengan air mata yang mengalir tak cukup deras. Itu bukan air mata kesedihan. Melainkan ia tidak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkan perasananya saat ini. Semuanya terasa aneh secara bersamaan.
"Dasar gila." Ujar Baekhyun. Sekarang ia tidak bisa menolak hadiah liburannya karena semua orang ikut.
Dan saat yang lain sibuk dengan pesta mereka, Chanyeol pun mendekat. Semakin dekat hingga ia dan Baekhyun bisa saling bertukar hembusan napas. Ia mengulum senyum, Chanyeol memang selalu mengulum senyum di hadapan Baekhyun. Namun kali ini senyumannya membuat beban apapun di hati Baekhyun menjadi berkurang.
"Kau tidak akan tahu apa yang sudah kau lakukan padaku hingga membuatku begitu jatuh cinta." Bisiknya di telinga Baekhyun.
Pemuda yang lebih pendek memberanikan diri untuk menengadah hingga mereka saling tatap.
"Aku tidak tahu…" Baekhyun menjawab pelan. "Aku benar-benar tidak tahu."
Lagi, Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. Namun kali ini Chanyeol bisa mendengarnya.
"Tuhan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada pria ini?"
"But she doesn't know who i am... hik! And she doesn't give a damn about me…"
Nyaris tengah malam, saat semua lampu telah dimatikan, ruang tengah masih cukup ramai karena dihuni oleh semua yang mengikuti pesta. Jongin dan Jongdae sedang berangkulan membelakangi layar televisi, sambil berkaraoke menyanyikan teenage dirtbag disertai cegukan tanpa henti. Mereka berdua telah mabuk dan yang lainnya pun tidak lebih baik. Sehun berlarian menggunakan bokser sementara Rose merekamnya dengan tawa histeris, Kyungsoo tergeletak tak berdaya di pinggiran sofa, Suho dan Kris menghilang dari peredaran, dan terakhir, Chanyeol harus berurusan dengan Baekhyun yang mabuk berat.
"...i like…du du du du du… you like, du du du du du…we like…"
Chanyeol tertawa tak percaya. Baekhyun yang mabuk sedang menari dengan gerakan-gerakan khas anggota girlband. Ia hanya tidak habis pikir, kenapa Baekhyun yang mabuk masih saja terlihat menggemaskan di matanya. "Seriously?"
"Chanyeol!" Baekhyun membentaknya, tangannya kali ini di pinggang. "Kau harus…du du du!"
Ia membuat gestur seakan tengah memegang dua buah pistol di tangan, dan meminta agar Chanyeol mengikuti. Namun itu tidak berlangsung lama sebab tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke sofa.
"Ow ow ow, sudah waktunya tidur kurasa."
Chanyeol membawa Baekhyun ke pangkuannya. Satu tangan di belakang lutut, dan satu tangannya yang lain menahan punggung Baekhyun. Saat menyadari betapa ringan bayi kesayangannya itu, Chanyeol berjanji akan memberi banyak makanan agar tubuh Baekhyun lebih berisi. Sampai gemuk pun tak apa, toh ia akan tetap cinta.
Meski belum tertidur sepenuhnya, tapi Baekhyun tak banyak bergerak saat Chanyeol membawanya menaiki tangga menuju kamar. Ia mengistirahatkan kepalanya di dada Chanyeol yang malam itu terasa sangat nyaman untuk ditiduri.
"Chanyeoool…"
"Yes, baby?"
"Aku…" Baekhyun mengangkat tangannya dan menaruhnya di leher Chanyeol. "…ingin sekali mencekikmu."
Chanyeol terkekeh. "Baby you're drunk."
"Tapi… aku juga ingin chuuuu..." Baekhyun memajukan bibirnya. Matanya masih tertutup rapat.
Chanyeol menghela napas. Kalau saja Baekhyun tidak mabuk, mungkin ia sudah mencium pemuda yang berada di pangkuannya ini.
Menciumnya dengan sangat brutal.
"Chanyeoooll…" Baekhyun kembali memanggil saat mereka berdua telah berada di depan kamar. Chanyeol membuka pintu seraya bergumam untuk menanggapi Baekhyun. Namun tak ada lagi balasan setelahnya, pun ketika mereka memasuki kamar dan Chanyeol menyalakan lampu tidur. Jadi ia memanggil Baekhyun untuk memastikan apakah pemuda itu masih terjaga atau tidak.
"Baekhyun?"
"I'm in love with you."
Bagi Chanyeol, waktu terasa terhenti saat itu. Ketika satu kalimat ajaib lolos dari mulut Baekhyun dan ia melihat pemuda itu membuka matanya walau hanya sedikit. Chanyeol tidak pernah mau menanggapi ocehan orang mabuk, namun kali ini, sepertinya ia harus membuat sebuah pengecualian. Karena ini adalah tentang Baekhyun.
Pria itu mendekat, mencium leher Baekhyun, dan mengendus aroma tubuh si mungil yang sangat khas.
"I know. And I love you too, from the bottom of my heart."
Itulah kalimat terakhir yang Chanyeol ucapkan sebelum ia dan Baekhyun jatuh di tempat tidur yang sama.
.
.
Tbc
.
.
Buat kalian yang masih stay di ff ini, saya cuma bisa bilang terimakasih. Review dari kalian benar-benar jadi penyemangat, dan maaf kalau diantara kalian masih ada yg gak nyaman sama kata2 kasar di fanfict ini, sekarang udah saya coba kurang-kurangin hehe... Tetap share tanggapan kalian tentang ff ini ya, biar kalau ada yang salah atau apapun bisa saya perbaiki nanti.
Sampai jumpa lagi!
