Strawberries and Cigarettes


Ketika Baekhyun membuka kelopak mata dan membiasakan cahaya masuk ke dalamnya, ia mulai menemukan sosok lain tengah berbaring di samping. Menyambutnya dengan senyuman lebar dan suara khas seseorang yang baru saja bangun dari tidur.

"Morning, wife."

Rasanya sudah lama sekali waktu berlalu. Sangat lama hingga Baekhyun sendiri tidak mampu memperkirakan berapa lama waktu yang telah ia habiskan bersama pria yang ada di hadapannya ini.

"Chanyeol…" Baekhyun meraba wajah pria itu. Di bagian dagu terdapat janggut yang tak cukup lebat. Dan pemuda mungil itu tidak ingat sejak kapan Chanyeol menumbuhkan janggut, karena ia tahu jadwal rutin Chanyeol untuk bercukur adalah Minggu pagi.

"Tidurmu nyenyak?" Chanyeol bertanya. Meraih telapak tangan Baekhyun dari wajahnya, dan menciumnya dengan lembut.

Baekhyun tidak bicara. Ia hanya mengangguk tanpa ia sendiri tahu mengapa ia mengangguk. Perasaan ini cukup aneh namun ia dibuat nyaman.

"Hey, kau tidak akan bisa membangunkan Daddy!"

"Watch me, Romanoff!"

Suara gemuruh lantai yang diinjak membuat Baekhyun beranjak seketika. Tidak masalah jika itu hanya derap langkah satu atau dua orang, namun telinga Baekhyun masih sangat jelas untuk mendengar bahwa itu merupakan suara hentakan sepatu dari beberapa orang yang dirinya sendiri tidak tahu mereka siapa.

"Bloody hell!" Chanyeol mengumpat. Ia turut bangun, masih dengan mata mengantuk ia berkata, "Mereka tidak pernah membiarkan kita bernapas bahkan di pagi hari."

Mereka siapa? Baekhyun ingin sekali mempertanyakan hal tersebut namun kemunculan beberapa anak-anak di hadapan tempat tidurnya seketika membuat perhatiannya teralih. Karena… anak-anak? Ditambah lagi wajah mereka yang cukup familiar membuatnya semakin bingung.

"Si-siapa mereka?" Baekhyun bertanya mencicit.

Sebelas, jumlah mereka semua ada sebelas. Berdiri sejajar dari yang paling tinggi hingga yang paling pendek –oh ia tengah merangkak ke sisi kasur sekarang. Semua anak-anak ini berwajah hampir mirip. Sama sekali mirip dengan seseorang yang kerap ia temui tiap hari. Betul, Park Chanyeol.

"Mereka anak-anak kita, sayang." Chanyeol menggosok matanya dengan malas. "Mereka memang nakal, tapi jangan lupakan kalau mereka keluar dari dalam tubuhmu."

"Apa?" Baekhyun tersedak udara.

"Mummy tidak mengingat kita?" tanya salah seorang anak perempuan pada saudaranya yang lain.

"Aku melahirkan mereka semua? Kau bercanda?" Baekhyun bertanya pada Chanyeol. Dan respon dari pria itu tidak begitu memuaskan.

"Maaf jika aku bermain terlalu keras tadi malam, kepalamu pasti terbentur tepian ranjang." Chanyeol mengatakannya dengan santai. Baekhyun jadi semakin penasaran apakah ini serius atau hanya sekedar gurauan.

"Yang itu…" Chanyeol menunjuk si anak yang paling tinggi, anak laki-laki yang sedang berdiri bertelanjang dada. Sangat mirip dengan Chanyeol. "Si sulung, Chanyeol Junior."

Dagu Baekhyun nyaris terjatuh menyentuh lantai. Fakta bahwa ia memiliki anak dari Chanyeol sudah sangat mengejutkan, dan baiklah, itu masih bisa diterima. Tapi, apa pria ini serius menamai anak mereka dengan nama itu?

"Kau sungguhan menamai anak kita dengan nama itu?" tanya Baekhyun.

"Ayolah Baekhyun, kita sudah sepakat tentang ini. Kau bahkan mengklaim anak kedua kita sebagai Baekhyun Junior." Chanyeol menunjuk seorang anak perempuan yang berdiri di samping Chanyeol Jr. dan anak itu melambaikan tangan dengan sopan.

Sebelum Baekhyun hendak mengajukan protes, Chanyeol kembali melanjutkan perkenalan anak mereka dengan sabar. Dimulai setelah Baekhyun Jr.

"Dan ini adalah Romanoff, Anthony, Odinson, Jonathan, Rogers, Wanda, Peter…"

Baekhyun langsung mengalihkan wajahnya pada Chanyeol, "Did you just…?"

"Yes, because i love The Avengers—so bad." Chanyeol menjawab tanpa melihat Baekhyun sama sekali. Ia pun kembali pada anak-anaknya. "Dan selanjutnya… tentu saja Minho dan Newt."

"Tentu saja!" Baekhyun nyaris berseru. Tentu saja ia yang memberi nama Minho dan Newt karena ia adalah fans garis keras dari Maze Runner. "Aku tidak percaya, aku telah melakukannya."

Chanyeol menepuk bahu Baekhyun dengan penuh perhatian. "Tenang, ini tidak lebih parah daripada yang dilakukan Kris pada anaknya."

"Kris juga punya anak?"

"Ia bersikeras memberi adik untuk Zixuan. Namanya Lucy."

"Terdengar normal."

"Nama lengkapnya Lucifer."

Baekhyun membenamkan wajah pada bantal.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini semua terjadi padanya tanpa ia sadari sama sekali? Apakah ini semua karena ia terlalu terbiasa dengan Chanyeol sehingga ia turut serta kehilangan kewarasan secara perlahan?

"Bagaimana bisa aku punya anak sebanyak ini?" Baekhyun masih bertanya-tanya, nyaris menangis. "Maksudku, aku suka anak-anak…tapi tidak begini caranya."

"Tenang sayang, tenangkan dirimu… aku yakin ini hanya karena hormon yang ada dalam tubuhmu. Ini adalah bawaan hamil…" Chanyeol menatapnya penuh keprihatinan.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tak percaya. "Apa maksudmu?"

"Mood-mu yang berubah-ubah itu, pasti karena hormon. Kau selalu mengalami hal ini di awal-awal kehamilan." Chanyeol menjelaskan.

Bola mata Baekhyun membulat. Ia menerjang Chanyeol, dan memegangi kedua lengan pria itu kuat-kuat. "Apa kau baru saja mengatakan kalau aku sedang hamil?"

Chanyeol mengangguk dengan senyum idiotnya. "Ya. Lima minggu."

"Hah? Kita akan punya adik lagi?"

"Tidaaaaaaaak!"

"Dunia kiamat! Tidaaaak!"

"Aku tidak mau adik lagi!"

Baekhyun dibuat pening. Saat ia tahu bahwa dirinya telah mempunyai anak, itu membuat kepalanya pusing, ditambah satu lagi yang kini masih on the way tentu membuat kepalanya nyaris mau meledak.

"Baekhyun? Kau baik-baik saja?" Itu suara Chanyeol. Baekhyun bahkan tidak ingin membuka mata untuk melihat wajah pria itu. Ini semua adalah salahnya, ini semua adalah salah Chanyeol, tentu saja.

"Ini semua gara-gara kau!" Baekhyun mulai terisak, namun air mata gagal lolos dari kelopaknya.

"Baekhyun?"

"Pokoknya ini semua salahmu, Chanyeol! Salahmuuu!"

"Baekhyun, bangun!"

Kali ini Baekhyun betul-betul membuka matanya.

Dan Chanyeol ada di sana. Minus janggut. Juga minus sebelas anak-anak yang berdiri sejajar di depan tempat tidurnya. Melihat kenyataan tersebut, Baekhyun hanya mampu berkedip cepat selama beberapa kali.

"Kau pasti bermimpi." Chanyeol mengomentari. Suaranya sedikit serak, yang artinya ia pasti baru saja terbangun dari tidur, sama seperti Baekhyun.

"Aku bermimpi." Baekhyun menggaruk-garuk kepalanya seraya bangkit dan duduk di ranjang dengan selimut menutupi bagian bawahnya. "Mimpi yang sangat buruk." Tambahnya.

"Apa itu sangat buruk? Kau memanggil-manggil namaku tadi. Apa aku melakukan sesuatu dalam mimpimu?" Chanyeol bertanya khawatir. Meskipun dalam mimpi, ia tidak ingin dirinya melakukan sesuatu hal yang buruk pada Baekhyun.

Baekhyun beralih memegangi keningnya saat ini. Kebingungannya telah hilang dan kini berganti dengan sensasi pusing di kepala. Meski tak begitu hebat, tapi cukup menyiksa. Ia akhirnya ingat bahwa dirinya terlibat dalam pesta tadi malam.

"Aku tidak ingin membahasnya." Ujar Baekhyun dengan mata terpejam. Membayangkan mimpinya yang terasa cukup nyata itu semakin membuat kepalanya berdenyut.

Mereka hanyut dalam keheningan selama belasan detik. Chanyeol masih duduk di tempat tidur dan Baekhyun masih mencoba untuk berdamai dengan hangover-nya. Hingga beberapa saat kemudian, Baekhyun menyadari sebuah kejanggalan yang sebenarnya cukup jelas.

Baekhyun menghentikan aktivitas berpikirnya dan beralih menatap Chanyeol dengan kedua bola mata menyala.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan di tempat tidurku?"


"They fucked."

Jongin mengatakan kalimat tersebut pada Sehun, untuk Sehun, yang mana ia sedang berbicara dengan anak itu sekarang. Namun sayangnya, kalimat barusan bisa didengar dengan jelas khususnya oleh orang-orang yang sedang berkumpul bersama mereka sekarang, di halaman belakang.

Musim panas masih bertahan hingga saat ini, dan bersantai di halaman belakang yang teduh ditemani mie dingin tentu menjadi solusi yang tepat. Semua penghuni rumah memutuskan untuk berbincang-bincang di sana kecuali Baekhyun. Anak itu sedang mengobati pusingnya dengan berbaring di sofa sambil menonton televisi –ditemani beberapa botol air mineral dingin. Ia sebenarnya bisa saja bergabung dengan yang lain di luar, namun ia tidak yakin bisa menghadapi Chanyeol dengan sikap yang sama setelah apa yang terjadi.

Tentang mereka berdua… Jongin dan Sehun sedang mendiskusikan hal itu sekarang. Featuring Kris dan Suho meski kedua orang yang lebih tua itu hanya mengangguk-angguk sejak tadi. Mereka berempat kukuh berasumsi bahwa Chanyeol dan Baekhyun 'melakukan hal' itu semalam.

"We didn't." Chanyeol membuat pernyataan, dan itu sejatinya menjawab semua spekulasi.

Jongin beralih pada pria yang lebih tua darinya tersebut. "Excuse me, i'm not talkin' with you." Lalu kembali pada Sehun.

"But you're talkin' about me, moron."

"Uh-huh?" Jongin bertanya pada Sehun, yang dijawab dengan sebuah gelengan untuk Chanyeol.

Si korban yang dibicarakan hanya mendengus. Suka-suka mereka untuk berpikir seliar mungkin, yang jelas ia dan Baekhyun sama sekali tidak melakukannya. Tidak melakukan seperti yang mereka bayangkan. Lagipula, bukan hal itu yang menjadi pusat konsetrasinya sekarang. Melainkan hubungannya dengan Baekhyun setelah ini.

Baekhyun tidak banyak bereaksi sejak tadi pagi. Sejak anak itu bangun dan menemukan fakta bahwa ia dan Chanyeol telah tidur bersama. Entah tidur bersama dalam pikiran Baekhyun adalah sama seperti yang ia pikirkan, Chanyeol tidak tahu. Pria itu ingin menjelaskan bahwa mereka tidak melakukan sesuatu hal lain selain tidur berdua, namun tak sempat sebab Baekhyun terlanjur mengusirnya dari kamar. Dan ia pun tidak memiliki kesempatan lain sebab hingga siang ini, Baekhyun masih menghindarinya. Pemuda pendek itu lebih memilih menyendiri di dalam rumah dan enggan berkumpul dengannya di sini.

Itu membuat Chanyeol semakin frustrasi.

"Tapi Jongin," Sehun mengangkat satu tangannya di atas ketiak. "Aku tidak melihat adanya hickey."

"Kau bodoh." Jongin menunjuknya tepat di hidung. "Mereka mungkin memilikinya, namun di sebuah tempat yang mana kita tidak bisa melihatnya dengan jelas." Terang Jongin. Ia mengatakannya seolah-olah Chanyeol sedang tidak ada di sana. Normalnya, ia tidak akan berani me-roasting Chanyeol seperti ini, namun karena Kris terang-terangan berada di pihaknya, maka ia pun bisa percaya diri.

"Mungkin di ketiak." Kris berkomentar, setelah sekian lama berdiam.

"Bagaimana kalau kau mengecek ketiakku sekarang juga Kris?" Chanyeol ingin membuktikan bahwa hal itu tidaklah mungkin. Namun Kris menolaknya dengan sopan.

"Bahkan jika aku memiliki fetish terhadap ketiak, aku tidak akan melakukannya, dengan ketiakmu." Ujar Kris, yang mana itu sangat melukai harga diri ketiak Chanyeol.

"Sangat tidak sopan." Chanyeol berkata sinis.

"Aku adalah pria yang paling sopan di rumah ini." Kris membanggakan dirinya sendiri.

"Penyakit halusinasimu semakin parah," Chanyeol menggelengkan kepalanya, ia beranjak pada Suho. "Kau yakin tidak ingin membawanya ke psikiater?"

"Mereka tidak akan mampu mengatasinya." Kalimat Suho bernada pasrah. "Hanya tangan Tuhan yang bisa menyelamatkan kita semua."

"Jangan mengalihkan pembicaraan." Kris menyela. "Aku tahu kalian sangat terobsesi padaku, tapi tolong, kita semua sedang dalam sebuah diskusi sekarang."

"I think i need a smoke." Chanyeol mengibarkan bendera putih. Ia beranjak dari tempatnya duduk, mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku sweatpants-nya, dan menyalakannya dengan pematik. "Y'all stress me out."

Jongin dan Sehun dibuat tertawa.

"Kami hanya bergurau." Suho menenangkannya. Dan setidaknya hanya ia satu-satuya pria diantara mereka yang bisa Chanyeol percayai ucapannya. "Pergi bicara dengannya. Kulihat dia terlalu canggung untuk bergabung bersama kita. Mungkin kau bisa mengatakan sesuatu yang bisa menenangkannya."

Chanyeol tidak perlu bertanya tentang 'dia' siapa yang tengah Suho bicarakan, karena tentu saja itu Baekhyun.

"Kau akan melakukannya, bukan? Kecuali kau ingin bertahan di situasi seperti ini dalam waktu yang lama." Suho masih berusaha membujuknya.

"Dia tidak akan mendengarkanku." Chanyeol terdengar tidak yakin. Ia menengadah dan meniupkan asap rokoknya ke langit. Di sana, ada bayang-bayang wajah Baekhyun yang memelototinya dan mengusirnya. Dan sialnya Baekhyun tetap terlihat seksi dalam bayangannya tersebut.

"Aku tidak ingat pernah membesarkan seorang pengecut." Ujar Kris.

"Aku tidak ingat pernah dibesarkan olehmu." Chanyeol membalas tajam.

Kris mengurut kening. "Just fucking do it."

Chanyeol menghela napas. Ia dan Baekhyun tidak bisa saling mendiamkan diri selamanya. Seseorang harus menerangkan apa yang terjadi diantara mereka berdua dan memutuskan bagaimana hendaknya mereka mengambil sikap selanjutnya. Sederhananya, Chanyeol ingin membuat semua ini menjadi jelas sekarang. Karena hubungan sama-samar sama sekali tidak akan berhasil bagi mereka berdua.

Ia pun mematikan rokok yang baru ia hisap beberapa kali. Kemudian memutar dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun pada rekan-rekannya yang lain.

Lalu, tepat seperti dugaannya, Baekhyun masih berbaring menyamping di sofa. Pemuda itu tidak beranjak sejak tadi. Dan dengan keberanian yang terkumpul di ujung kaki, Chanyeol pun melangkahkan kakinya guna mendekati si mungil yang sedang menonton televisi.

"Ahem…" Chanyeol memberitahu keberadaannya lewat dehaman. Baekhyun tidak bereaksi apapun.

"Baekhyun," jeda untuk mengambil napas. "We need to talk."

Seseorang yang diajak bicara hanya meliriknya sebentar.

"Could it wait? I'm in the middle of something right now." Baekhyun membuat alasan. Tidak ada tendensi apapun darinya, ia hanya merasa belum bisa menghadapi Chanyeol sekarang. Tanpa ia tahu sama sekali apa penyebabnya.

"We need to figure out…"

Kali ini Baekhyun meliriknya. Pemuda itupun beranjak untuk duduk dan berhedapan dengan Chanyeol. "Go ahead."

Chanyeol tidak berpikir ini akan berhasil. Namun ia masih bersikeras. Jadi ia pun duduk di sofa yang lain dan kini berhadapan dengan Baekhyun. "Dengar… aku… kita tidak melakukan apapun semalam, jika itu yang ingin kau ketahui. Kau sedang mabuk saat itu, dan aku hanya membawamu ke kamarmu, lalu kau dan aku jatuh tertidur. Hanya itu, tidak ada yang lain lagi."

Baekhyun mendengarkannya baik-baik. Ia pun mengangguk mengerti sambil melipat bibirnya ke dalam. Chanyeol kesulitan untuk menafsirkan ekspresi macam apa yang tengah ditunjukkan anak itu namun ia memutuskan untuk melanjutkan.

"Jadi… kau tidak perlu khawatir. Maksudku, kita tidak perlu merasa canggung terhadap satu sama lain karena kita tidak melakukan…uhm…melakukan…kau tahu, berciuman dan dan dan…"

"Seks." Baekhyun membantu melengkapi. Ia tidak ingat sejak kapan Chanyeol menjadi sebodoh ini dalam pemilihan kata.

"Ya, seks." Chanyeol mengangguk. Ia membuang napas, menggeleng beberapa kali hingga akhirnya kembali berkata. "Jadi, mungkin hanya itu saja."

"Itu saja?" tanya Baekhyun. Ada sebuah harapan kecil yang tersangkut dalam kalimatnya namun terlalu samar sehingga Chanyeol tidak menyadarinya.

"Ya, itu saja." Tegas Chanyeol. Kemudian pria itu bangkit dari tempatnya duduk dan mempersilakan Baekhyun untuk kembali melanjutkan kegiatannya. "Kau bisa melanjutkan, yea, menonton tv."

Chanyeol tahu ini tidak memperjelas apapun tentang hubungan mereka, tapi ia tahu bahwa ini menjawab semua pertanyaan Baekhyun tentang apa yang terjadi semalam. Jadi, ia pun hendak melangkah untuk kembali bergabung dengan rekan-rekannya di luar sana dan sebisa mungkin bersikap normal setelah ini.

"Are you sure?"

Suara Baekhyun terdengar dari belakang punggungnya.

Chanyeol mau tidak mau akhirnya berbalik dan ia mendapati wajah Baekhyun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedih? Mungkin iya. Tapi apa arti dari sedihnya itu?

Si pria yang lebih tua tidak terlalu yakin namun sepertinya, ia harus mengatakan sesuatu hal yang sebenarnya amat mengganjal di hatinya. Sekarang atau tidak sama sekali.

Chanyeol membuang napas. "Baekhyun, look, I don't even know if you remember, but you said something. Something like…'I'm in love with you' or summat. But you were so drunk, and…"

"I meant it."

Jika sebuah kedipan mata bisa berbunyi, mungkin ruangan ini mungkin telah penuh dengan suara kedipan mata Chanyeol yang berlangsung cepat dan berulang-ulang.

"—sorry?" Chanyeol tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.

"I wasn't that drunk, Chanyeol." Baekhyun kini berdiri dan mengambil langkah mendekati Chanyeol. "And you said you love me too. I heard that."

Tentu saja! Tentu saja Chanyeol melakukannya, Baekhyun.

Mulut Chanyeol menganga dan ia tertawa karena sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia tahu bahwa Baekhyun menyukainya—mungkin , namun ia masih merasa ragu karena Baekhyun mengatakannya diantara kesadaran yang menipis. Akan tetapi saat ini, ia mendapat pengakuan langsung dari Baekhyun dan justru tidak mengerti harus bereaksi seperti apa.

"Aku tidak tahu, apa yang harus kukatakan." Chanyeol menggosok-gosok keningnya. Ada rasa bahagia bercampur dengan haru setelah dirinya mendengar konfirmasi Baekhyun tentang ucapannya semalam.

"Chanyeol, ini sangat sulit." Baekhyun menundukkan wajahnya. "Aku tidak tahu sejak kapan perasaan aneh ini berkembang hingga lebih jauh. Dan saat aku menyadarinya, aku tidak yakin aku bisa mengatakannya padamu karena—karena kau memberikan semua yang kau miliki, kau selalu ada untukku, sementara aku tidak pernah bisa memberikan apapun padamu selain hanya diriku…"

"Hanya dirimu?" Chanyeol bertanya tak percaya. Dan Baekhyun memberinya sebuah anggukan.

"Baekhyun, kemari dan lihat aku." Chanyeol meraih kedua pipi Baekhyun dan memaksa mereka berdua bersitatap. "Kau." Ia menegaskan dengan mendalami kedua bola mata Baekhyun. "Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa ini 'hanya dirimu' sementara kau sendiri berarti seluruh dunia bagiku?"

My goodness… Baekhyun tidak tahu sejak kapan ia menjadi begitu emosional –dalam artian baik—dan ini menyangkut tentang Chanyeol. Pria yang menghantui hidupnya sejak satu bulan terakhir. Pria yang sama yang juga membuatnya jatuh cinta.

"I love you…. God, I really love you." Chanyeol mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan ia terdengar begitu frustrasi karena tidak ada kalimat lain yang bisa lebih menggambarkan perasaannya sekarang. "I love you with everything i am and for everything you are."

Baekhyun ingin menangis. Tuhan, ia sangat ingin menangis dan ia melakukannya sekarang. Bukan sebuah tangis yang merepresentasikan kesedihan melainkan tangis bahagia diiringi tawa.

"Hey—tidak, Baekhyun. Jangan menangis." Chanyeol segera menghapus tetesan air mata yang menggenangi pipi Baekhyun.

"Ini tangis bahagia, kau idiot."

Baekhyun mengatakan yang sebenarnya. Ini adalah tangis bahagia. Oh ya ampun, sejujurnya ini sedikit memalukan.

"Aku takut jika aku telah membuat kesalahan dengan kata-kataku tadi." Chanyeol berkata polos.

"Kau tahu?" Baekhyun menyeka air matanya dan menatap langsung pada Chanyeol dengan raut wajah yang sedikit berbeda. "Sebenarnya ada satu hal yang membuatku kecewa."

"Apa itu?"

Baekhyun menggigit bagian bawah bibirnya. Sementara Chanyeol masih memperhatikannya dengan seksama dan menunggu untuk bisa memperbaiki kekecewaan Baekhyun tersebut.

"Kau mengatakan padaku bahwa kita tidak melakukan apapun tadi malam, dan itu melukai harga diriku. Maksudku, itu membuatku berpikir bahwa diriku tidak cukup menarik untukmu."

Chanyeol membuka mulut seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Baekhyun, kau salah besar. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kau sangat menarik Baekhyun, dammit, bahkan setiap inci dari tubuhmu membuat duniaku bergetar. Aku sama sekali tidak bercanda."

"Dan kau melewatkanku begitu saja?"

"Aku memikirkan konsekuensinya. Bagaimana jika semua tidak berjalan seperti yang kubayangkan? Bagaimana jika kau memutuskan untuk pergi dari hidupku setelah itu? Dengar, jika aku tahu bahwa kau menginginkannya, aku akan melakukannya tanpa segan. Tapi aku benar-benar tidak tahu… aku minta maaf."

Chanyeol mengatakannya dengan tulus. Dan ketulusan yang terpancar dari matanya itulah yang selalu membuat Baekhyun luluh.

"Baekhyun, aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan—"

"Just shut up and kiss me, you fool!"

Dan Chanyeol tidak membuang waktu lebih lama karena ia segera menghampiri bibir Baekhyun guna melumatnya.

Stroberi dan sigaret menyatu sempurna menciptakan sensasi baru yang tidak pernah Baekhyun rasakan sebelumnya. Chanyeol begitu harum, begitu memukau, dan sangat memabukkan dalam waktu yang bersamaan. Raga keduanya belum pernah sedekat ini bahkan hingga menyatu, maka sudah sepatutnya mereka tidak menyianyiakan setiap detik dan memilih untuk mengisinya dengan lidah yang saling berdansa.

Chanyeol masih menaruh kedua tangannya di pipi Baekhyun, menggosoknya secara pelan namun berirama. Sementara itu kedua tangan Baekhyun asyik meremas helaian rambut di belakang kepala Chanyeol.

Si mungil tidak tahu mengapa ia begitu menginginkan bibir Chanyeol saat ini. Mengapa setiap lumatan terasa begitu menakjubkan. Dan mengapa kakinya spontan melingkar di pinggang Chanyeol kala pria itu terus mendesaknya hingga ke ujung sofa. Baekhyun tidak tahu, tidak ada yang tahu.

Namun yang pasti, keduanya berada dalam suasana yang sangat panas hingga mampu membakar nafsu satu sama lain.

"Please don't make out."

Baekhyun otomatis melepaskan diri dari Chanyeol dan melarikan pandangannya pada satu-satunya akses masuk menuju ruang tengah dari arah dapur. Tepat di sana, berdirilah keempat rekan serumahnya yang lain dengan wajah yang berbeda-beda. Suho terlihat salah tingkah, Kris menatap dengan intens –dia adalah orang yang baru saja bersuara, Sehun memeriksa hasil fotonya melalui handphone, dan Jongin yang bertepuk tangan seorang diri.

"Kau berhutang satu box pizza padaku, Tuan Oh." Jongin menarik sebuah senyum miring dengan tangan yang merangkul pundak Sehun. Pemuda yang berdiri di sampingnya itu hanya mendengus dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Shit, Baekhyun. Kukira kau bisa sedikit lebih menahan diri." ujar Sehun dengan wajah kecewa.

"Get lost!" Chanyeol mengusir mereka cepat-cepat. "Some of us have stuff to finish!"

"Kita punya peraturan, brother." Kris mengatakan seolah dirinya adalah pria yang paling berbudi luhur di sana. "Cobalah untuk lebih menahan diri dengan tidak melakukan hal-hal seperti itu di depan umum."

"Ini rumahku, dan aku bisa melakukan apapun yang kumau termasuk menyetubuhi Baekhyun di sofa." Chanyeol mengatakan dengan lantang.

"Brutal." Jongin berkomentar. Sehun mengangguk setuju.

Sementara Baekhyun hanya mampu membenamkan wajahnya di telapak tangan. Kepergok tengah melakukan hal yang berbau seksual adalah sesuatu yang baru baginya. Ia tidak tahu bagaimana dengan Chanyeol, yang jelas ini sangat memalukan.

"Maaf Baekhyun, secara teknis, ini adalah sebuah ketidak-sengajaan." Suho menjelaskan situasi mereka kepada Baekhyun. Ia berusaha untuk membuat Baekhyun merasa tidak terbebani. "Kami muncul di saat yang tidak tepat."

"Atau, kami memaksa masuk karena ingin melihat apakah Jongin atau Sehun yang memenangkan taruhan." Ujar Kris, tapa rasa bersalah.

"Taruhan?"

"Hanya sesuatu hal yang konyol yang sering mereka lakukan." Suho sempat menampar tengkuk Kris sebelum kembali bicara. "Jongin dan Sehun bertaruh apakah kalian akan berakhir bertengkar atau justru saling uhm… berciuman, dan ternyata dugaan Jongin benar."

Oh, itu sebabnya Sehun terlihat ketus saat melihat fakta bahwa Baekhyun dan Chanyeol berciuman. Anak itu mungkin mengira bahwa Baekhyun belum segila itu untuk berciuman dengan Chanyeol setelah apa yang terjadi namun kenyataan berkata sebaliknya.

"Dasar tidak berguna." Chanyeol mencibir pada magnae yang ada di sana.

"Aku akan membagimu beberapa potong?" Jongin mengangkat bahu.

"Kau sebaiknya melakukannya." Chanyeol kini beralih pada Baekhyun. "Haruskah kita melanjutkan yang tadi?"

Baekhyun tersenyum, kemudian tertawa beberapa saat, dan akhirnya menjawab.

"No."

.

.

Tbc

.

.

Well-uh… R u guys still reading this story?