Adore You
"Aku tidak mengerti."
Baekhyun menggelengkan kepala, melepaskan penyumbat telinganya yang masih menyalurkan lagu-lagu berirama lambat serta menutup buku To Kill a Mockingbird yang baru ia baca seperempat bagian. Pandangannya kini berpaku pada Rose, sahabatnya yang tengah sibuk bercermin sejak sepuluh menit ke belakang. Jangan bertanya karena Baekhyun benar-benar menghitungnya.
"Kau mengatakan hal yang sama ketika dosenmu memberi nilai C." Rose berkomentar dengan jemari yang mengusap-usap bagian bawah kelopak mata. "AkU tiDaK mEnGeRti." Ia mengulangi ucapan Baekhyun dengan nada sarat ejekan.
"Why are you guys so fucking rich?" Baekhyun mengatakannya dengan nada tersinggung.
Rose menaikkan bahunya, tidak ingin ambil pusing. "Because we are Asian?"
"Oh tidak, jangan lelucon tentang film itu lagi."
Rose tertawa jenaka saat Baekhyun mendengus.
"Tapi aku serius tidak mengerti jalan pikiran orang-orang kaya." Baekhyun berkata dengan sungguh-sungguh. "Apa tujuan dari membeli tiket pesawat sementara kau memiliki pesawat pribadi yang bisa membawamu kemanapun kau ingin pergi?"
Baekhyun tidak sedang mengajukan komplain. Hanya saja, ia masih belum terbiasa dengan bagaimana Chanyeol memperlakukan dirinya. Baekhyun yakin bahwa beberapa hari yang lalu sebelum ini, ia melihat jelas dua tiket pesawat untuk berlibur ke Dubai dan sekarang, ia tengah bersantai di sebuah pesawat pribadi milik keluarga Park ditemani beberapa rekannya. Singkatnya, Baekhyun hanya kaget saat tahu bahwa Chanyeol –kekasihnya, ahem—memiliiki pesawat pribadi.
Dasar orang kaya sialan.
"Kau terlalu memperhatikan detail." Rose meniup-niup kukunya. "Aku juga punya satu yang seperti ini, aku pernah menceritakannya padamu."
Baekhyun tahu sahabatnya ini tidak bermaksud sombong, dia hanya ingin Baekhyun terbiasa. "Tapi kau tidak pernah mengajakku berlibur."
"Exactly."
Mungkin ini menjadi salah satu kebiasaan Baekhyun yang kurang menyehatkan. Ia berpikir terlalu banyak mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Ia bahkan berpikir bagaimana jika suatu ketika dirinya menghadap orang tua Chanyeol, mengingat pria itu sendiri memiliki hubungan yang tidak baik dengan mereka, Baekhyun tidak berpikir ini akan menjadi mudah. Juga, Chanyeol adalah putra dari seorang pengusaha kaya dan ini membuat nyalinya semakin menciut. Baekhyun sering melihat ini di drama-drama, orangtua Chanyeol tidak akan setuju dengan hubungan mereka berdua karena Baekhyun tidak berasal dari kasta yang sama. Chanyeol akan berakhir dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya dan hidup bahagia sementara Baekhyun menderita.
"What's wrong, love?"
Baekhyun spontan menengadah dan menemukan tubuh tinggi Chanyeol yang tengah menjulang di sampingnya. Rose menaikkan alis, melihat ke arah mereka berdua sebelum memutuskan untuk berpamitan dengan alasan klasik pergi ke kamar kecil.
"Kau tidak harus pergi, kau tahu?" Baekhyun berniat untuk membuat sahabatnya itu tetap tinggal.
Rose memutar bola matanya. "Don't u know that i can't stand when the love birds start to snog each other?"
"That's ridiculous." Ujar Baekhyun.
Rose menaikkan bahu, lantas menepuk pundak Chanyeol seraya berbisik. "Do something, he's a bit upset about the flight."
"Why?" Chanyeol balas berbisik.
"Cause he's a moody-bitch." Rose sengaja mengeraskan kalimat terakhirnya supaya Baekhyun turut mendengar. Si pendek yang masih terduduk di bangkunya hanya menghadiahkan sebuah senyuman manis plus jari tengah untuk sang sahabat.
"Bye." Rose menjulurkan lidahnya.
"Bye, motherfucker." Baekhyun berkata dengan malas. Matanya kemudian beralih pada Chanyeol yang masih betah berdiri di sampingnya. "What?" ia bertanya garang.
"Nothing." Chanyeol menarik senyum sembari mendudukkan diri di seberang Baekhyun.
Baekhyun menghela napas. "Baiklah, lalu aku hanya akan duduk di sini dan membaca bukuku. Jangan mengganggu."
Chanyeol mengangguk sebagai pertanda bahwa ia mempersilakan Baekhyun melanjutkan aktivitasnya. Baekhyun, di sisi lain kembali mencoba fokus dengan bacaannya. Alisnya nyaris menyatu karena ia ingin terlihat serius sehingga Chanyeol tidak berani mengganggunya.
Akan tetapi meski hanya diam, Chanyeol ternyata cukup mengganggu dengan tatapannya. Kali pertama Baekhyun menyadari bahwa dirinya tengah diamati, ia masih bisa mencoba abai dan memberi toleransi lebih –mengingat Chanyeol adalah kekasihnya, sekarang. Namun lama kelamaan, ia pun merasa jengah.
"Don't look at me like that." Baekhyun berkata pada prianya tersebut.
"Like what?"
Si pendek menutup bukunya. Menyilangkan kaki. Dan akhirnya mempertemukan iris mereka berdua dengan sejajar.
"Like i'm your everything."
Chanyeol berusaha menenangkan dirinya untuk tidak menerjang Baekhyun saat itu juga. Ia pun hanya mampu memberi sebuah senyuman meski inner-nya meronta untuk segera menyerang Baekhyun selagi ada kesempatan.
"You are," Chanyeol memajukan wajahnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja kecil pemisah mereka berdua. "My everything. My always."
Baekhyun tidak bisa menahan senyumnya untuk tidak memancar. Jadi ia hanya menatap ke bawah seraya menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Entah kenapa, saat ia mengingat fakta bahwa dirinya dan Chanyeol adalah 'sesuatu' sekarang, itu membuatnya seribu kali lebih gugup ketika berhadapan dengan pria itu. Chanyeol bisa menjadi hebat dalam membuatnya tak berdaya dan jinak di waktu-waktu tertentu.
"Oh, tidak, jangan menggodaku." Chanyeol mengeluarkan suara frustrasi.
"Aku tidak." Baekhyun membela diri.
"Kau baru saja melakukanya dan itu membuatku ingin menciummu sekarang juga."
"Then i'll break your bones. Every single one of them." Baekhyun mengancamnya. "Don't say i didn't warn ya."
"But i don't care." Chanyeol justru semakin tertantang. Ia semakin memajukan wajahnya ke arah Baekhyun.
"Ahem!" Seseorang membuat suara untuk menunjukkan keberadaannya. Baekhyun mengenal baik suara itu, Suho. Pria itu pasti sedang duduk berhadapan dengan Kris dan mencoba untuk memberitahu dua pasangan yang sedang dimabuk asmara ini, bahwa pesawat tidak hanya diisi oleh mereka berdua.
"Apa?" Chanyeol bertanya ke arah belakangnya, dengan nada terganggu. Padahal yang seharusnya terganggu adalah penghuni yang lain.
"Hanya memastikan kalian tidak lupa bahwa kami masih berada di sini." Ujar Suho.
"I don't give a shit!" Chanyeol berteriak tak peduli.
"Kris?" Suho melirik pada pria yang tengah beristirahat di depannya. Berharap sang kakak bisa melakukan sesuatu untuk memperingati adiknya.
"Apa? Kau mau seks?" Kris balas bertanya. Dan itu sangat keluar dari konteks pembicaraan.
Suho membenturkan kepalanya hingga terdengar bunyi 'tuk tuk tuk' yang cukup keras. Kris sama sekali tidak membantu. Barangkali Suho lupa, bahwasanya mereka tetaplah Kakak beradik yang pola pikirnya nyaris sama.
Chanyeol kembali pada Baekhyun. "Hanya satu ciuman."
Baekhyun telah mempelajari bahwa Chanyeol bukanlah tipikal orang yang mudah diusir begitu saja, terutama ketika ia memiliki kemauan yang kuat. Harus Baekhyun akui, prianya itu adalah seorang pemaksa handal. "Baiklah, hanya satu."
Dan Chanyeol mencuri satu kecupan dari bibir ranum Baekhyun.
"Hey!" Baekhyun hendak mengajukan protes. "Aku belum siap."
"Oke, ayo ulangi sekali lagi."
Kali ini Chanyeol melakukan dengan benar. Namun alih-alih sebuah kecupan, bibir keduanya justru bertaut cukup lama. Kedua tangan Chanyeol masih bertumpu di atas meja kecil yang tak lagi menjadi pembatas bagi mereka berdua, dan Baekhyun hanya mampu terpojok di kursinya.
Suasana panas terkadang membuat manusia lupa diri.
Dan juga, membuat orang-orang yang tak sengaja melihatnya menggelengkan kepala.
"Holy shit. Mereka benar-benar melakukannya di dalam pesawat."
Baekhyun membuka mata dengan perlahan. Ia mulai membiasakan dirinya dengan suasana baru yang ada di sekitarnya. Kali ini Baekhyun tidak terbangun di dalam kamarnya, tidak di atas tempat tidurnya sendiri. Ia ingat dengan rencana berlibur bersama rekan-rekannya. Ia ingat menaiki pesawat dan berciuman dengan Chanyeol. Ia ingat saat sampai di sebuah hotel pada siang hari. Serta, ia ingat jatuh tertidur karena kelelahan. Itu terjadi sekitar satu jam yang lalu, Baekhyun menyadarinya saat melirik jam.
"Babe, kau sudah bangun?"
Baekhyun juga ingat bahwa dirinya berbagi kamar dengan Chanyeol.
Ia pun bangkit, masih dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya. Duduk dengan kepala menengadah pada sosok Chanyeol yang kemudian menghadiahkan sebuah kecupan singkat di dahinya.
"Tired." Baekhyun bergumam dengan mata yang masih mengantuk.
Chanyeol tersenyum saat menyadari betapa imut kekasihnya saat ini. Ia pun duduk di pinggir tempat tidur, menatap Baekhyun penuh kasih, dan membiarkan ibu jarinya bergerak lembut di wajah Baekhyun. "Kau akan melewatkan banyak hal jika hanya tertidur sepanjang hari."
"Tidak kalau kau bergabung denganku." Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan mengusap-usapkan wajahnya di sana. Lawan bicaranya hanya tertawa kecil. Chanyeol diam-diam menyukai ide tersebut namun mereka tidak bisa hanya berdiam di hotel seharian.
"Tidak adakah sesuatu hal yang ingin kau lakukan di sini?" tanya Chanyeol, Baekhyun telah membuka mata sepenuhnya saat ini. "Mencoba makanan baru? Pergi ke gurun? Berjemur di pantai?"
"Semuanya. Aku ingin melakukan semuanya….nanti. Aku hanya butuh tidur sekarang."
"Atau, kita bisa berjalan-jalan sebentar, berbelanja, dan makan malam setelahnya."
Baekhyun memajukan bibir seraya melepaskan tangan Chanyeol yang berada di samping wajahnya. "Aku tidak berniat untuk menghambur-hamburkan uangmu."
"Aku hanya ingin memanjakanmu. Apa salahnya?"
"I'm not your sugar baby." Baekhyun kian cemberut. Sugar baby yang ada di otaknya adalah remaja belasan tahun yang bersedia bokongnya diremas hanya untuk mendapatkan Rolex. Ia tidak ingin seperti itu. Jika Chanyeol terus melakukannya maka ini akan terlihat seperti Baekhyun memacari kekasihnya itu hanya demi uang.
"No, of course not." Chanyeol segera menenangkannya saat merasakan bahwa Baekhyun sedikit kecewa. "You are the love of my life."
"Just because you are a trust fund baby, doesn't mean that you can- "
Dan kali ini raut wajah Chanyeol berubah.
"What? No." Si tinggi sedikit tersinggung. "Itu semua uangku, Baekhyun. Aku bekerja untuk mendapatkannya."
Baekhyun menaikkan alis, sedikit ragu. Ia pun berniat untuk menanyakan dari mana Chanyeol menghasilkan uang. "Aku sudah hidup satu bulan lebih denganmu, dan yeah, aku belum tahu persis apa pekerjaanmu, disamping sebagai mahasiswa tingkat akhir."
"Aku membuat lagu." Chanyeol menjawab singkat.
"Thanks God, kukira kau pengedar narkoba." Baekhyun terdengar sangat lega hingga ia menyadari kalimat terakhir yang dilontarkan Chanyeol. "Tunggu… Kau, apa?"
"Aku membuat lagu." Chanyeol mengulanginya dengan sabar.
"Apa artinya itu?"
"Can't help. Google?" Chanyeol memberikan ponselnya pada Baekhyun dan dengan segera, si mungil mengambilnya. "Kau bisa mengetik 'LOEY Park' disana." tambahnya.
Baekhyun lalu mengetikkan nama tersebut di mesin pencarian. Detik-detik berikutnya, ia dibuat menganga lebar.
"NO SHIT!" Baekhyun berseru heboh. "Don't Make Money, Promise, Stay with me,…. Jadi, jadi, jadi, kau adalah orang dibalik lagu-lagu populer itu? Lagu-lagu yang kusukai? Yang kudengar setiap hari? SERIOUSLY?"
"Emmm… bisa dibilang begitu." Chanyeol menggaruk belakang kepalanya dengan malu.
"And Freal Luv? You gotta be kidding me!" Baekhyun semakin mempercepat jarinya di layar ponsel. Apalagi saat melihat nama Marshmello terpampang disana. Demi Tuhan, dia sangat ingin memukul Chanyeol saat itu juga.
"Kenapa aku baru tahu?" Baekhyun seakan tidak terima. "I mean, this is brand new information." Dan sekarang ia menirukan ekspresi Phoebe di serial Friends.
"Baby, aku ini penulis lagu, bukan selebritis."
"But-but…" Baekhyun menjatuhkan ponsel ditangannya dengan dramatis. Chanyeol terlihat begitu terhibur di depannya dan ia tak berhenti tersenyum.
"Alright alright…" Chanyeol mengacak-acak rambut Baekhyun penuh sayang. Mencoba menghentikan kekasihnya itu dari pemikiran-pemikiran yang tidak penting. "Time to take a shower."
"Aku mulai mempertimbangkan untuk mengganti uangmu." Baekhyun bangkit dari tempat tidur dan berkacak pinggang. "Entah itu dalam bentuk apapun, pakaian, makanan…"
"Babe, percaya padaku, aku bisa membeli itu semua. Okay?"
"Chanyeol, bukan itu maksudku. Kau banyak memberiku materi, dan tidak ada alasan khusus mengapa kau harus melakukannya."
"Karena aku mampu?"
"Hanya karena kau mampu bukan berarti kau harus melakukannya."
Baekhyun menatap kekasihnya dan memohon pengertian, di depannya, Chanyeol balas menatapnya dan untuk keputusan akhir, ia pun mengangguk. "Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Kecuali kalau kau mengizinkan."
Baekhyun memberinya tatapan, "Really?"
Chanyeol meraih tangan si pemuda mungil, mengecupnya lama dan kembali menatap sang kekasih. "Tentu. Tapi setelah liburan ini berakhir. Barulah kita akan melakukan semuanya seperti keinginanmu." Ia berujar dengan tulus.
Sedikit banyak, Baekhyun merasa bersalah. Sekarang, semua terlihat seperti hanya dirinya yang egois. Ia tahu bahwa Chanyeol bermaksud baik, namun orang lain bisa salah mengartikan kebaikan tersebut. "Maaf. Aku tidak bermaksud untuk terdengar egois."
"Tidak perlu meminta maaf. Aku senang kau mau mengatakannya. Aku senang saat kau menyuarakan pikiranmu dan kita berdua memikirkan hal yang akan kita lakukan selanjutnya."
Chanyeol ingin membangun hubungan yang sehat. Dan ia merasa beruntung menemukan Baekhyun yang selalu mengatakan hal apapun yang mengganggunya. Karena Chanyeol tahu, dirinya tidak terlalu pintar membaca situasi jika terjadi sesuatu hal yang janggal. Apapun itu.
"Jadi, kau akan pergi mandi sendirian atau aku harus menemanimu?" Chanyeol memindahkan alur pembicaraan mereka dengan menggoda Baekhyun.
"Sayangnnya tidak untuk hari ini." Baekhyun memberinya senyuman mengejek. "Aku bisa mandi sendiri."
"Aku akan menunggu."
"Menungguku mandi?"
"Menunggu sampai kau bersedia mandi bersamaku."
Chanyeol mengedipkan satu matanya, dan itu membuat Baekhyun tertawa.
"You dirty pervert!"
Baekhyun sedang mengirim pesan pada kedua rekannya perihal rencananya pergi keluar bersama Chanyeol, saat ia dan kekasihnya itu bertemu dengan Kris dan Suho di lobby. Berbeda dengan Baekhyun dan Chanyeol yang saling bergandeng tangan, dua orang yang lebih dewasa itu justru terlihat seperti orang asing yang dipaksa untuk pergi tur berdua. Dekat namun masih tetap berjarak.
"Oh, sekarang kau sudah mau menggandeng tangannya?" Kris langsung bertanya pada Baekhyun. Tidak ada sapaan Hai atau semacamnya.
"Berhati-hatilah. Dia adalah calon adik iparmu yang sedang kau ajak bicara." Chanyeol memberinya peringatan. Walau pada kenyataannya Baekhyun sama sekali tidak tersinggung sebab dirinya sudah sangat terbiasa.
"Aku hanya sedikit cemburu karena seseorang berkencan dengan adik kesayanganku."
"Menjijikan." Chanyeol membuat gestur ingin muntah.
"Rude." Kris menyilangkan tangan di depan dada. Tersinggung. Ia pun kembali beralih kepada Baekhyun. "Kalian berbagi kamar bukan?"
"Yup." Baekhyun menjawab sigap.
"Untuk informasimu saja, Chanyeol sering kentut saat sedang tidur."
Chanyeol yang tengah dibicarakan lantas mendelik tak suka dan segera melarikan pandangan pada Suho. "Bisakah kau membawanya pergi menjauh dari kami?"
Suho melirik Kris sesaat, dan beralih pada dua pasangan baru di hadapannya. "Jika itu memang perlu. Dan kurasa dia memang harus dikurung seharian di kamar hotel."
"Yeobo, kau pikir aku monyet?"
"Oh lihat, monyet ini bahkan bisa berbicara." Suho justru membuat lelucon dan itu sukses membuat Baekhyun dan Chanyeol tertawa.
Saat Kris hendak menanggapinya, Suho menaikkan satu tangan untuk membuatnya diam. Pria itu pun lanjut berbicara pada Chanyeol dan Baekhyun. "Tenang saja, dia aman bersamaku. Memangnya kalian berencana untuk pergi kemana?"
Chanyeol menatap Baekhyun dan tersenyum kecil sebelum menjawab, "Hanya berjalan-jalan sebentar dan pergi makan malam."
"Okey." Suho mengangguk paham. "Kupastikan kalian tidak akan bertemu dengan blondie sialan ini. Kami akan mengambil jalan yang lain."
"Siapa yang kau panggil blondie sialan?" Kris hendak protes namun diabaikan.
"Oh, kalian juga akan pergi?" tanya Baekhyun.
"Ya, ada tiga bayi manja yang menolak makanan di hotel. Kami harus mengurus mereka." Yang Suho maksud adalah Jongin, Sehun, dan tentu saja Jongdae.
"Sehun dan Jongin adalah, iya. Jongdae bukan." Kris masih memaksa masuk ke dalam pembicaraan. "Jongdae hanya anak tetangga sialan yang sering mengganggu kita. Seharusnya kita membuangnya saat masih di pesawat."
"Can you not be psycho for like one second?" Suho bertanya dengan jengah. Baekhyun diam-diam tersenyum prihatin. Dilihat dari Suho yang memijit pangkal hidungnya dengan wajah muak, ia tahu bahwa tidaklah mudah hidup bersama dengan Kris. Baekhyun turut berduka cita.
"Aku sudah sangat bermurah hati dengan membiarkannya bergabung bersama kita di sini." Kris masih membela diri.
"Kalau begitu terus lanjutkan kemurahan hatimu." Chanyeol memotong pembicaraan. Ia mengeratkan pegangannya di tangan Baekhyun. "Maaf, kami harus pergi."
Ia dan Baekhyun angkat kaki. Mengabaikan teriakan sang kakak yang masih terdengar meski mereka berdua telah menjauh keluar dari hotel.
"Jangan pergi saat seseorang sedang berbicara denganmu, hey! Aku tidak mendidikmu untuk menjadi seperti ini! Brother, kembali!"
"Huft," Chanyeol kembali berfokus ke depan setelah menengok sesaat. "Hanya Tuhan yang tahu kapan dia akan berhenti bertindak bodoh." Ia berkomentar dengan kepala menggeleng.
"Katakan itu pada seseorang yang mewarisi kebodohan tersebut." Baekhyun tersenyum mengejek.
"Secara teknis, aku tidak berbagi gen dengannya." Chanyeol membela diri. Ia mengeratkan pegangannya di tangan Baekhyun dan kembali berkata, "Jadi, kemana kita akan pergi lebih dulu?"
"Uhmmm…" Baekhyun mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru. Jemari telunjuknya mengetuk-ngetuk halus di dagu, memikirkan kiranya tempat mana yang menyenangkan untuk dikunjungi lebih dulu. Dan pandangannya pun seketika berhenti tatkala matanya menangkap sesosok penjual eskrim di pinggiran jalan.
"Bagaimana kalau es krim?" tanya Baekhyun.
Chanyeol mengangkat kedua alis dan mengangguk setuju. "Apapun untuk kekasihku."
"Bagus. Ayo!"
Baekhyun menariknya dengan riang gembira. Chanyeol tidak melewatkan sedetikpun waktu yang ia habiskan bersama Baekhyun bahkan jika itu hanya Baekhyun yang berlari setengah melompat mendekati penjual es krim. Oh baby boy, I adore you. Chanyeol berteriak dalam batin. Nyaris ingin mendekap Baekhyun dengan sangat posesif jika saja ia tak ingat bahwa dirinya tengah berada di tempat umum.
Mereka berdua tiba di depan si penjual es krim, yakni seorang pemuda yang usianya berkisar tak lebih dari 25. Berwajah khas timur tengah dan menyapa dengan ramah.
"Hello."
Menyapa Baekhyun lebih tepatnya.
"Hay." Baekhyun balas menyapa ramah sementara Chanyeol sedang mengobservasi dengan kedua matanya.
"What can i get for you?" Pemuda penjual es krim bertanya dengan mata yang tak lepas dari Baekhyun. Dengan senyum tentunya. Entah itu sebuah keramahan kepada pelanggan atau ia memang tengah mencoba sesuatu yang lain, tertarik pada Baekhyun misalnya. Dan Chanyeol sebagai manusia normal akan berpikir pada kemungkinan kedua.
Baekhyun, di lain sisi, tidak peduli dengan situasi yang perlahan memanas. Ia sibuk memperhatikan kiranya rasa apa yang ingin dicobanya hari ini. "I'd like some ice cream for me and my—"
"Your friend? Sure."
"Boyfriend." Chanyeol berkata dengan singkat namun cukup tegas.
"Excuse me?" Si penjual es krim terlihat iritasi dengan keberadaan Chanyeol.
"I'm the boyfriend. Which mean, the cutie pie who's standing next to me…" Chanyeol mengarahkan pandangannya pada Baekhyun. "Is mine."
Baekhyun hanya menaikkan kedua alisnya dengan kepala mengangguk-angguk. Tidak mengerti dengan apa yang sedang Chanyeol coba untuk tunjukkan pada pemuda penjual es krim di hadapan mereka.
"O-ohh…"
Chanyeol kemudian kembali mengarahkan matanya pada si penjual es krim. Seolah tengah mentransfer sebuah kalimat yang berbunyi: "Tidak ada seorangpun yang boleh menggoda pacarku, ingat itu sialan!"
Dan hanya satu hal yang bisa Baekhyun catat di otaknya saat itu.
Bahwa Chanyeol terlihat lebih manis, entah dalam segi apa.
"What the hell was that?"
"He was undressing you with his eyes."
"Jesus, Chanyeol. Do you think everyone in this world is gay?"
"It's two thousand and fucking eighteen, Baekhyun! Of course everyone is gay, especially for you."
"Dammit. You're like an asshole on american teenager movie. Get over it."
"Well, I'm jealous,… and angry. Do something or I will."
"Alright. I'll kiss you later."
"A blow job is better."
"Fuck you."
"No, that's my job to fuck you."
.
.
.
Tbc
.
.
.
trust me, i've tried my best
