Pillowtalk
Chanyeol memperhatikan dengan seksama ketika Baekhyun meraih sebuah gelas bening dan meneguk minuman di dalamnya hingga kemudian menaruhnya kembali di meja. Mereka berdua sedang dalam pertengahan acara makan malam. Pertengahan yang mana artinya, ini belum usai sepenuhnya –mungkin bahkan baru dimulai? Dan Chanyeol terlihat tidak senang ketika Baekhyun mendorong piringnya ke tengah meja yang mana menandakan bahwa ia telah selesai.
"Aku sudah kenyang." Ujar pemuda di depannya.
Ia hanya makan tiga suap, di hidangan pembuka. Chanyeol melihat itu dengan mata kepalanya sendiri dan ia mulai menghela napas.
"Babe, ini baru hidangan pembuka." Chanyeol mengatakannya dengan hati-hati supaya Baekhyun tidak tersinggung. "Dan kau berkata bahwa kau sudah kenyang?"
"Uhm, dan itu benar adanya." Ujar Baekhyun.
"Really? I find that hard to believe."
Kini, giliran Baekhyun yang menghela napas. Sekali lagi ia menekankan. "Aku sudah kenyang."
"Kau hanya mendapat es krim. Kau belum makan dengan benar." Chanyeol masih kukuh berargumen.
Ini masalah serius bagi Chanyeol. Karena beberapa waktu ke belakang ia mulai memberi perhatian khusus pada pola makan Baekhyun yang menurutnya tidak baik. Sangat tidak baik. Selain di waktu sarapan pagi, Chanyeol jarang sekali menemukan Baekhyun makan secara teratur.
"Uh, well, who cares." Baekhyun menaikkan bahunya dengan senyum kecil untuk membuat situasi tak terlalu serius. Namun nampaknya, Chanyeol tidak terpengaruh.
"I care."
"Chanyeol, bisakah kita menghentikannya saja? Ini sangat tidak penting—"
"—Untukmu." Chanyeol masih memberinya tatapan yang cukup serius, dan itu membuat Baekhyun tidak nyaman. "Ini tidak penting untukmu, tapi bagiku, ini masalah besar."
"Aku tidak ingin membahasnya."
"Kau sedang dalam program diet?"
"Semacam itu."
"Kalau begitu hentikan dietmu mulai dari sekarang." Chanyeol kembali pada makanan di depannya. "Diet macam apa itu? Kau bahkan nyaris tidak memakan apa-apa."
Baekhyun kembali meraih minumannya. Ia sangat tidak suka ketika seseorang membawa topik ini ke permukaan. Ini adalah tubuhnya. Ia adalah yang paling tahu bagaimana kondisi tubuhnya sendiri. Lagipula hanya karena Chanyeol adalah kekasihnya, bukan berarti pria itu bisa mengatur apa yang harus dan tidak harus ia lakukan.
Makan malam kembali berlanjut meski hanya Chanyeol yang masih sibuk dengan kunyahannya. Baekhyun tidak berniat untuk menyentuh kembali makanannya karena dia adalah si keras kepala pembangkang. Ia bisa saja memulai kembali pembicaraan dengan topik yang baru, namun ia terlalu malas karena takut bahwa Chanyeol akan kembali membicarakan kebiasaan makannya. Ya, kebiasaan makannya yang tidak normal.
"Aku tahu kau marah. Tapi aku adalah yang paling marah disini karena kau telah menyiksa dirimu sendiri." Itu adalah kalimat Chanyeol setelah ia menyelesaikan hidangan penutup.
Baekhyun memang merasa kesal. Namun ia tahu, melawan Chanyeol dengan kekesalan yang sama saat ini bukanlah pilihan yang bijak. "Aku baik-baik saja, okay?" ia berusaha meyakinkan.
Perkataan itu justru membuat Chanyeol tahu bahwa kekasihnya tersebut mengatakan hal yang sebaliknnya. Baekhyun sama sekali tidak baik-baik saja. Ia bahkan terlihat lebih kurus jika dibandingkan dengan dirinya saat pertama kali datang ke rumah.
"Kau tahu, aku selalu ada untukmu jika kau ingin bercerita. Tentang apapun." Chanyeol membuatnya terdengar seperti sebuah penawaran.
Baekhyun mencoba untuk tersenyum. "Terimakasih. Untuk sekarang, aku baik-baik saja. Hanya itu."
Chanyeol tidak bisa mendorongnya lebih jauh lagi. Mungkin ia akan memikirkan cara lain untuk memperbaiki kebiasaan buruk Baekhyun. Kali ini sepertinya ia harus menyerah terlebih dahulu. "Baiklah."
Setelah makan malam selesai, mereka lalu memutuskan untuk bertolak kembali ke hotel guna beristirahat. Sebelumnya, Rose sempat mengajak Baekhyun bergabung dengannya dan juga Kyungsoo untuk menghabiskan waktu di bar. Namun Baekhyun menolaknya, ia tidak berniat untuk hangover di hari pertama liburan.
"Baiklah. Jika kalian hendak melakukannya, katakan pada Chanyeol untuk selalu menggunakan pengaman."
Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Rose sebelum ia memutus sambungan telepon. Baekhyun hanya menggeleng prihatin. Sahabatnya itu mengira bahwa ia hanya membuat alasan untuk tidak pergi keluar karena hendak melakukan seks dengan Chanyeol. Dan uh, oh… itu bisa saja terjadi.
"Astaga, apa yang kupikirkan?" Baekhyun mengetuk batok kepalanya sendiri.
Pintu lift terbuka bersamaan bunyi ding yang terdengar. Chanyeol dan Baekhyun masuk ke dalam lift yang kebetulan hanya dihuni oleh mereka berdua.
"Ekhem," Chanyeol tiba-tiba membuat suara aneh ditengah keheningan yang mereka berdua ciptakan. Entah mengapa situasinya menjadi sedikit canggung.
"Tidak ada siapa-siapa di sini." Baekhyun yang berdiri di sampingnya memberi tahu. Walaupun sebenarnya Chanyeol sudah sangat tahu, tapi ia tidak mengerti.
"Uhm, okay. And?"
Baekhyun jelas menaikkan alisnya. "Kau tidak mau menciumku?"
"Oh? ow…" Chanyeol menggeleng tak percaya. Tak percaya bahwa ia telah membuang beberapa detik berharga yang bisa ia gunakan untuk melumat bibir Baekhyun. "Tentu saja aku mau."
Detik itu pula, Chanyeol maju dengan gesit. Memojokkan Baekhyun pada dinding lift yang dingin. Memberinya sentuhan di pipi yang berujung pada gesekan kasar sebab telapak tangan yang menekan terlalu kuat. Bibirnya telah memimpin di depan. Menjelajahi setiap sudut lipatan merah di atas dagu Baekhyun. Chanyeol tidak pernah merasa cukup akan hal ini, dan sepertinya, memang tidak akan pernah cukup. Karena bibirnya terus saja ingin beradu dan beradu. Menghisap penuh cinta seolah ia tengah meraup seluruh nyawa Baekhyun dalam satu sesi ciuman.
"Mmmmhhh…mmmpphhhh…"
Tidak puas hanya di bibir, Chanyeol pun turun ke leher. Ia akan memberikan tanda di sana. Sesuatu yang mungkin akan pergi selama beberapa hari ke depan, namun akan tetap ada di tubuh Baekhyun. Love bite mungkin akan menghilang, namun ia akan tetap mengukir agar Baekhyun ingat bagaimana rasanya.
"A-aaaahh…" ada erangan kecil nan halus dari Baekhyun. Bukan sesuatu yang penting untuk menginterupsi karena keduanya saling menikmati.
Namun nampaknya, keasyikan tersebut harus tertunda dengan tiba-tiba karena pintu lift yang terbuka.
"Oh, hyungs. Kalian sudah kembali rupanya." Oh Sehun menyapa sebelum menginjakkan kakinya ke dalam. "Aku salah lantai tadi, hehehe…"
Dua orang yang disapa hanya menatap dalam diam.
"Itu hanya Sehun. Ayo lanjutkan lagi."
Chanyeol dan Baekhyun pun melanjutkan sisa ciuman mereka tanpa malu. Membuat si anak remaja yang menyaksikannya terkejut dengan wajah memerah sebelum akhirnya memutuskan untuk berbalik badan dan bergumam tak jelas. Tak begitu jelas untuk di dengar oleh Chanyeol dan Baekhyun yang masih sibuk berciuman.
"Dasar orang-orang tidak tahu diri."
Baekhyun dan Chanyeol awalnya hendak pergi ke kamar mereka berdua secepatnya guna beristirahat. Namun sesuatu membuat mereka terpaksa harus berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kamar yang dihuni Jongin, Sehun, dan Jongdae. Jadi, di sinilah mereka sekarang. Melangkah masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya tak sengaja mengintip adanya kegaduhan di dalam sana.
"Apa aku melewatkan sesuatu hal yang menarik?" tanya Sehun yang kala itu baru saja datang, bersama dengan Chanyeol dan Baekhyun menyusul di belakangnya.
Menariknya, di sana pula terdapat Suho dan Kris. Si jangkung tengah duduk dengan nyaman di sofa, dengan kakinya yang bersantai di atas coffee table. Sedangkan Suho tengah mencoba meredakan tangis kecil Kim Jongdae yang saat itu tengah duduk di karpet –sambil sesekali memijit kening dengan wajah bertanya-tanya 'mengapa ini adalah hidupnya?'
"God. Is that a fucking hickey on your neck?" Kris bertanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya di leher Baekhyun. Oke, ini berlebihan. Tapi ia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya karena terakhir kali mereka bertemu –yang mana itu adalah menjelang sore—tanda tersebut belum hinggap di sana.
Baekhyun mendadak gugup. Sambil mengusap-usap tengkuk, ia menjawab. "Uhmm…uhh…yea…sort of."
"None of your business." Chanyeol menyalak pada sang kakak. Dengan tangan melingkar posesif di pinggul Baekhyun.
"Anyway…" Baekhyun segera mengalihkan pertanyaan tentang dirinya. "Apa yang sudah kau lakukan padanya?"
Ia bertanya langsung kepada Kris, dengan tangan terbuka yang menunjuk pada Kim Jongdae yang malang. Yeah, tentu saja Baekhyun akan langsung bertanya padanya karena, siapa lagi?
"Kenapa semua orang selalu menyalahkanku." Kris bergumam sedih. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang senang menjahili seorang bocah remaja?" tanyanya.
"Tentu saja." Baekhyun menjawab tanpa ragu.
"Dia hanya tersandung dan jatuh ke lantai." Kris menjelaskan.
"Dan kau yang menjegalnya." Suho menambahkan, yang mana itu adalah bagian cerita yang paling penting. "Dengan sengaja."
"Kau yang menyuruhku. Ingat?" Kris masih membela diri.
"Tunggu, aku masih tidak mengerti. Bisa kalian menjelaskannya secara pelan-pelan? Kalian tahu otakku kadang-kadang tidak berfungsi terlalu bagus." Chanyeol berkata sembari mendudukkan tubuhnya di sebelah Kris.
Suho menghela napas. "Keadaan baik-baik saja saat kami datang kemari. Kemudian setelah mereka membuka camilan yang kami bawa, mereka berebut. Jangan bertanya kenapa, karena mereka kadang-kadang melupakan umur mereka yang sudah lewat dari lima. Lalu mereka saling kejar, berlarian seperti bocah Taman kanak-kanak. Dan aku meminta Kris untuk menghentikan mereka, yang mana aku sedikit menyesal telah melakukanya."
"Lalu menurutmu harus bagaimana lagi cara membuat mereka diam?" Kris protes. Suho mengabaikannya.
"Kau bisa membuat anak orang cedera Kris, demi Tuhan. Tolong jangan bawa otak psikopatmu di suasana liburan ini."
"Oke oke, sepertinya aku sudah paham. Dan dimana Jongin?" tanya Chanyeol. "Baby, apa kau hanya akan berdiri di sana?" ia bertanya pada Baekhyun yang masih bertahan di posisinya.
"Tolong diam sebentar, Chanyeol. Aku sedang mencoba untuk terbiasa dengan kebodohan ini."
"Jongin di belakang. Setidaknya dia tidak terlalu bodoh untuk terkena jegalan Kris." Suho menunjuk ke belakang bahu.
"Jadi menurutmu aku bodoh, hyung?" Jongdae bertanya dengan isakan kecilnya.
"Tidak, kau adalah yang paling pintar diantara kita semua." Suho menjawab dengan sarkas. "Dan berhentilah menangis, ya Tuhan. Kau sudah SMA."
"Tapi tanganku sakit! Sikutku juga berdarah!"
"Kau bertingkah seakan-akan aku sudah menabrakmu dengan pesawat. Jadilah jantan, Kim Jongdae!" Kris justru mengejeknya.
"Kalian benar-benar konyol." Baekhyun mengurut kening. "Tentu saja kau tidak termasuk, hyung. Tenang saja." Ia berkata pada Suho.
"Apa aku juga?" tanya Chanyeol.
"Kau adalah yang paling konyol."
Karena entah itu di rumah, entah itu di tempat yang bahkan sangat jauh dari rumah, mereka tidak pernah bisa berhenti bertingkah bodoh. Dan yang paling memalukan adalah, Baekhyun merupakan bagian dari mereka tersebut.
Baekhyun baru bisa masuk ke kamarnya saat nyaris tengah malam.
Ketika Baekhyun selesai menggosok gigi dan berganti pakaian, ia pun melangkah keluar dari kamar mandi. Selanjutnya, ia disuguhi pemandangan yang sedikit menggelitik hati. Yakni Chanyeol yang berbaring menyamping di atas tempat tidur. Satu tanganya menyangga kepala, dan satunya lagi menepuk-nepuk sisi tempat tidur yang masih kosong.
"Pillowtalk." Ujar Chanyeol saat Baekhyun masih betah berdiri.
Si pendek lantas tersenyum dan menaruh handuk kecilnya. Berjalan menuju Chanyeol dan merangkak ke tempat tidur.
"Tunggu, kau ingin langsung tidur, atau hanya mengobrol, atau….?" Chanyeol menaik-turunkan alisnya dengan nakal.
"Atau kita akan mengobrol sebentar." Baekhyun memilih salah satu dari beberapa opsi. Walaupun ia tahu bukan itu yang Chanyeol inginkan. Terbukti dari bagaimana raut wajahnya yang berubah datar sekarang.
Baekhyun hanya menaikkan bahu dengan senyum polos. Ia pun bergerak semakin dekat dengan Chanyeol, sangat dekat hingga wajahnya berhadapan langsung dengan dada pria itu. Setelahnya, ia menarik selimut guna menutupi sebagian dari tubuh mereka berdua.
"Ada yang ingin kukatakan." Baekhyun memulai. Diantara cahaya lampu yang tak terlalu terang, ia melihat Chanyeol mengangguk.
"Apa ini tentang kebiasaan makanmu?"
Baekhyun ingin meringis saat melihat betapa benarnya tebakan Chanyeol.
Awalnya ia merasa ini bukanlah persoalan besar. Mengingat pada hubungan-hubungan sebelumnya, Baekhyun tidak pernah mengatakan tentang ini pada pasangannya. Namun dengan Chanyeol, ia merasa bahwa tidak ada hal yang bisa ia tutupi. Chanyeol seakan tahu setiap gerak-gerik aneh Baekhyun dan menaruhnya sebagai catatan mental yang amat penting.
"I used to be fat and ugly."
Chanyeol mendengarkan dengan seksama, menatap tanpa penghakiman. Setelah tarikan napas selanjutnya, Baekhyun kembali berbicara.
"Menjadi gemuk tidaklah mudah. Aku mendapat perlakuan buruk saat di SMA. Biasanya hanya ejekan-ejekan, namun terkadang mereka juga menyerangku secara fisik."
"Babe, i'm so sorry to hear that." Chanyeol membawa telapak tangannya di pipi Baekhyun. Wajahnya penuh akan empati, tapi Baekhyun berusaha tegar dan tetap melanjutkan cerita.
"Aku pernah berpikir untuk bunuh diri, ah ya… kedengarannya konyol mungkin. Tapi saat itu aku benar-benar tertekan. Maksudku, aku hanya gendut. Kenapa orang-orang begitu membenciku?"
Alih-alih menanggapi, Chanyeol memberinya sebuah kecupan singkat di dahi. Baekhyun sedikit terkejut.
"Terimakasih untuk tetap hidup sampai saat ini. Aku tidak tahu betapa sulitnya hidupmu saat itu, tapi aku tahu kau orang yang hebat." Bisiknya di telinga Baekhyun.
Dan Tuhan tahu betapa Baekhyun sangatlah bersyukur memiliki Chanyeol di sampingnya.
"Thanks." Si mungil tersenyum tulus, lantas kembali ia melanjutkan ceritanya. "Lalu di tahun kedua ku, datang seorang murid pindahan dari Aussie. Dia sangat cantik dengan latar belakang keluarga yang terpandang. Perempuan itu adalah Rose.
Saat itu di kelasku tidak banyak yang menguasai bahasa asing, jadi terpaksa aku yang seringkali mengobrol dan mengajarinya hangul. Lama-kelamaan, kami menjadi teman akrab. Awalnya aku menolak karena kupikir aku tidak bisa membawa perempuan ini masuk ke dalam hidupku yang menyedihkan, tapi ia berkata bahwa ia tak peduli.
Dia berkata: "Baekhyun, entah kau kurus, kau gemuk, kau gay, kau biseks, kau transgender, aku tidak peduli. Saat kau baik padaku, aku akan lebih baik padamu. Yang terpenting, kau harus menjadi dirimu sendiri. Selama kau ingat itu, aku akan selalu mendukungmu.""
Chanyeol mengangguk setuju. "Dia benar."
"Akupun berpikir demikian. Dan itu membuatku sedikit lega karena akhirnya aku tidak menghabiskan masa SMA-ku sendirian tanpa teman." Baekhyun menarik napas. "Namun bukan berarti intimidasi terhadapku berakhir begitu saja."
"Mereka mungkin segan jika aku sedang bersama Rose. Namun saat Rose tidak ada, mereka akan memulainya lagi. Menyiramku saat aku di toilet, menjegal kakiku saat aku berjalan di kantin, atau mendorongku di loker. Sebagian dari mereka merasa iri karena aku satu-satunya murid yang berteman baik dengan Rose dan berkata bahwa aku tidaklah pantas."
Chanyeol mendadak merasa kesal karena dirinya tidak berada di sana saat Baekhyun mengalami kesulitan. "Aku akan menemukan mereka dan membunuh mereka satu persatu."
"Sayang, kau tidak bisa melakukannya." Baekhyun tersenyum, sedikit terhibur dengan ide gila Chanyeol.
"Kau benar. Membunuh mereka akan terlalu mudah, akan kubuat mereka menderita."
"Kau ingin mendengar cerita selanjutnya?" Baekhyun memilih untuk kembali ke pembicaraan mereka. Ia hanya tidak ingin Chanyeol berpikiran macam-macam. Karena saat pria itu mengatakan sesuatu, maka itulah yang akan terjadi. Baekhyun sudah lebih dari paham bahwa Chanyeol (dan kakaknya) bahkan tidak akan segan untuk melukai orang-orang mengingat betapa gilanya mereka berdua.
"Uh, maaf. Lanjutkan."
"Dan… ya, aku merasa sangat frustrasi. Tapi yang ini berbeda. Ibuku selalu mengatakan untuk tidak memikirkan tentang fisik, yang terpenting adalah hati yang baik. Tapi itu semua tidak berarti sama sekali. Lalu aku berpikir jika dunia memang tidak menerimaku, maka aku memang harus berubah."
Detik-detik waktu pun terisi oleh cerita yang panjang. Baekhyun mengatakan bahwa ia melakukan diet besar-besaran. Pada awalnya, orang-orang terdekatnya melarang hal itu. Namun tekadnya sudah bulat. Ia pun mengatakan bahwa Rose selalu ada di sana, mendukungnya, dan memperingatinya jika ia telah melewati batas. Baekhyun tetap memiliki pribadi yang sama, hanya tubuhnya yang perlahan-lahan berevolusi. Masa-masa itu adalah yang tersulit, namun pada akhirnya, hasil yang ia dapat tidaklah mengecewakan.
"Lalu, seperti yang kau lihat. Inilah aku yang sekarang." Baekhyun menaikkan bahunya. "Satu hal yang buruk tentang ini adalah, makanan terkadang membuatku trauma. Aku memang tidak sepenuhnya membenci makanan, tapi terkadang perasaan itu muncul. Rasa bersalah, rasa takut, dan menyesal karena telah menyuapkan makanan ke mulutku."
"Apa kau pernah—"
"Memasukkan jariku ke dalam kerongkongan?" Baekhyun bertanya dengan sedikit tawa. Ia tahu apa yang ada di pikiran kekasihnya. "Tidak, aku bersumpah. Ya, mungkin hanya sedikit rasa bersalah, tapi percaya padaku, aku tidak pernah melakukan itu. Ini tidak seburuk yang kau bayangkan."
Chanyeol bisa sedikit bernapas lega setelah mengerti mengenai apa yang Baekhyun hadapi dan sekarang. Namun tak dapat dipungkiri ia merasa cemas juga. Sebab sepengetahuannya, kebanyakan orang yang mengalami eating disorder tidak pernah menyadari betapa gawatnya keadaan mereka. Seakan dietnya telah benar-benar terkontrol namun pada kenyataannya, situasi justru semakin memburuk tanpa disadari.
"Oh ya, aku masih menyimpannya." Baekhyun berguling ke tepian tempat tidur. Meraba nakas guna mencari dompetnya. Saat ia menemukan, sesuatu ia tarik dari dalam sana.
Itu merupakan fotonya di zaman SMA dulu.
"Ini dia." Baekhyun menunjukannya pada Chanyeol. Ia biasanya merasa malu untuk menunjukkan ini pada orang lain, namun entah kenapa pada Chanyeol ia selalu saja terbuka.
"Awww babe… kau terlihat menggemaskan."
Baekhyun tentu saja tersenyum remeh. "Oh, ayolah. Kau tidak perlu menghiburku. Aku terlihat sangat buruk di sana."
"Permisi, apa kau baru saja mengejek seleraku?" Chanyeol memasang wajah tersinggung. "Lihat, kau begitu menggemaskan dan bagaimana bisa kau sendiri tidak menyadarinya?"
"Emm-hm?"
Itu sudah sangat jelas bahwa Baekhyun membenci dirinya yang dulu, dan itu yang menjadi penyebab dirinya begitu menjaga tubuh hingga saat ini (yang mana Chanyeol berpikir bahwa semuanya mulai terlihat 'tidak normal'). Tapi serius, bagi Chanyeol, Baekhyun yang gemuk sama sekali bukan masalah. Ia merasa begitu sedih saat mengetahui bahwa kekasihnya tersebut lupa untuk mencintai dirinya sendiri. Bagaimanapun adanya.
"Doesn't matter. Bagiku, kau selalu terlihat sama." Chanyeol menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Baekhyun. "Kau tetaplah Byun Baekhyun yang membuatku jatuh cinta."
Sial. Park Chanyeol selalu bisa membuat hati Baekhyun menggeliat.
"Terimakasih." Baekhyun mengatakannya dengan malu.
"Aku juga… aku juga berterimakasih kepada Tuhan karena telah dipertemukan dengan ciptaannya yang indah."
"Uh.. aku heran bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal seperti itu dengan mudah." Baekhyun mengambil kembali fotonya, dan balik membelakangi Chanyeol. Setelahnya ia tarik selimut hingga ke dagu, dan menyelesaikan begitu saja obrolan mereka secara sepihak.
Bukan karena ia marah, tentunya. Baekhyun hanya terlalu malu dan tidak tahu harus membalas apa.
"Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku." Chanyeol menepuk bahu sang kekasih guna ia berbalik. "Babe, kau yakin ingin tidur sekarang? Kurasa pembicaraan kita belum selesai."
"Pembicaraan kita sudah selesai sejak lima belas detik yang lalu."
"Apa? Tunggu, apa kau tidak mau….?"
"Aku lelah. Aku ingin tidur. Besok saja."
"Tapi, sayang…"
"Ini sudah tengah malam, Chanyeol."
Chanyeol mendadak berhenti menepuk-nepuk pundak Baekhyun yang membelakanginya.
"Kalau kuperkosa saja bagaima—"
"CHANYEOL, WHAT THE HELL?"
Baekhyun sontak berbalik dengan mata melotot, yang mana membuat Chanyeol mundur beberapa sentimeter dari tempatnya berasal. Pria telinga besar itu tidak memperdiksikan respon Baekhyun yang extra.
"I was joking." Chanyeol mengangkat kedua tangannya dengan senyum meminta pengampunan. "Bagaimana kalau cium?"
Secepat kilat, Baekhyun mendekati bibir Chanyeol. Mendaratkan ciuman singkat sebelum kembali berbaring membelakangi tubuh si raksasa –serta bergumam pelan.
"Done, honey. Good night."
.
.
Pada akhirnya, selagi Baekhyun tertidur pulas, Chanyeol hanya bisa 'membantu' dirinya sendiri di kamar mandi.
Benar-benar malam yang sulit.
.
.
Thank u, next
.
.
Happy newyear everyone! Ah, kangen banget buat update story ini. Buat yang udah nunggu lama, i'm so sorry dear. Akhir tahun jadwal lumayan padet sama kerjaan dan kuliah (semester akhir, God). Pokoknya thank u so much buat yang masih stay—especially buat yang ngertiin kalo setiap orang punya kesibukan tersendiri. Yep. God bless y'all.
(And for Kaisoo or Kaihun Shipper, i feel you)
