No Self Control


"Aku tahu wajahmu jelek, tapi kenapa kali ini kau terlihat lebih jelek dari biasanya?"

Kris memulai percakapan pagi bersama adiknya tersayang, ditemani dua cangkir kopi panas dan menu sarapan sederhana. Mereka memutuskan untuk duduk berdua di restoran hotel sementara yang lainnya memilih mencari menu breakfast di luar.

"Thanks." Chanyeol menjawab dengan pahit. Sepahit Americano yang baru saja diicipnya.

"Aku tidak sedang memujimu. Aku bertanya." Kris menjelaskan perihal kalimat sebelumnya. Chanyeol membuang napas dan melarikan pandangannya keluar kaca jendela di sebelah.

"Aku masturbasi semalam —semalaman." Ujar Chanyeol, pendek. Dan tentunya, itu tidak menjelaskan apapun bagi Kris. Lagipula, topik yang Chanyeol mulai itu merupakan sesuatu yang tak lazim diobrolkan pada pagi hari. Setidaknya begitu.

Jadi dengan sabar, Kris mengulang.

"I'm sorry, what?"

"Jeeezzz…" Chanyeol mendelik, emosi. "Masturbasi, Kris. Pakai telingamu baik-baik."

Kris bukannya tidak menggunakan telinganya dengan baik, hanya saja ia sulit paham. "Maksudku, bukankah bocah yang berbagi kamar denganmu itu adalah kekasihmu?"

"Itu dia masalahnya. Dia tidak mau memberikannya."

"Not even a handy?"

"Not even a damned handy."

Kris menggeleng prihatin atas jawaban negatif dari Chanyeol. "Oh, aku sangat prihatin. Lantas apa yang bisa kuperbuat untuk membuatmu senang, brother? Kau mau seks denganku?"

Chanyeol menggebrak meja.

"Demi Tuhan Kris, aku lebih baik mati!"

"Yeah, aku juga. Dengan begitu kita bisa mati bersama-sama."

Chanyeol menggeleng dengan mata berguling jengah. Percakapan pagi bersama sang kakak sedikitnya selalu membuat ia emosi. Dan sialnya, ia tidak pernah bosan untuk mengulangi. Setidaknya jika dengan Kris, selalu saja ada pembicaraan yang dibahas. Baik itu penting atau tidak, menarik atau tidak. Entahlah, Chanyeol hanya tidak punya alasan untuk menghindari percakapan dengan Kris. Meski pada kenyataannya, ia harus beberapa kali mengontrol diri untuk tidak melemparkan barang apapun ke arah sang kakak yang sering berbicara seenaknya.

"Kenapa tidak pergi ke bar saja?" tanya Kris. Setidaknya jika Chanyeol sangat ingin, ia bisa menemukan seseorang untuk memuaskan nafsunya di sana.

"Baekhyun akan membunuhku jika ia tahu."

"Oh… kau sangat takut pada kekasihmu itu? Shame on you."

"Bisakah kau menutup mulutmu dan memilih untuk membantuku?"

"Kenapa aku harus membantumu?"

"Karena aku percaya kau pernah berbuat dosa padaku dan ini adalah kesempatanmu untuk menebusnya." Chanyeol berkata dengan hidung naik turun. Ia mendekatkan cangkir pada mulutnya, dan kembali menyesap kopi dengan agak kesal. Ucapannya tidak selebihnya salah, Chanyeol selalu mempercayai bahwa Kris Park memiliki dosa kepadanya.

"Opini. Setidaknya berikan aku sebuah opini yang baik jika sebuah saran terlalu berat untuk otak mu yang nyaris tidak berfungsi itu."

Kris mengangguk-angguk. Ia menautkan jemari dari kedua tangannya yang bertumpu di meja. Chanyeol mulai menaruh perhatian dengan serius. "Menurutku, masturbasi adalah hal yang menyenangkan. Yeah… until u realize that you're just fucking yourself. Pathetic."

Sekarang Chanyeol menyesal sudah menyimak dengan serius.

"Bukan tentang mastubasi. Oh ya Tuhan… dari semua orang di dunia, kenapa harus kau yang menjadi saudaraku?" Chanyeol mengurut wajahnya dengan perlahan. Ini bukan yang pertama kalinya lagipula.

"Yeah, dari semua orang di dunia, kenapa harus aku yang tampan ini?" Kris turut mempertanyakan hal yang sama, dengan nada sarkastik.

"Go to hell." Chanyeol berkata dengan kesal.

"Maaf, aku tidak suka tempat ramai."

"Kau pikir surga itu tempat sepi?"

"Mana kutahu, mau coba kesana sekarang?"

(Baiklah, ini tidak akan berhasil. Jadi, mari berdo'a saja supaya pertengkaran ini tidak mencapai sesi baku hantam.)


Selagi Chanyeol asyik berdebat dengan Kris, mungkin menengok Baekhyun yang sedang pergi bersama kedua rekannya bukanlah ide buruk.

Baekhyun, Rose, dan Kyungsoo tengah sarapan di sebuah restoran di dekat hotel. Mereka sempat berdebat tentang ini. Satu diantaranya ingin memilih restoran hotel dan mencicipi signature dish disana, satu ingin restoran cepat saji, satunya tidak ingin sarapan sama sekali –itu Baekhyun. Sebagai jalan tengah, restoran sederhana dengan menu lokal ini pun menjadi pilihan singgah.

Obrolan mereka awalnya santai saja. Baekhyun menanyakan tentang bar yang dimasuki oleh kedua sahabatnya –dan terkejut kala mendapati mereka masih cukup sadar untuk pulang ke hotel dan pergi sarapan. Ternyata keduanya tidak bertandang terlalu lama, dan mengklaim bahwa acara mereka tidaklah lengkap tanpa Baekhyun di dalamnya.

Lalu pembicaraan mereka terus berlanjut, dan semakin menarik saat Rose menemukan tanda aneh di leher Baekhyun.

"Wait, is that a fucking hickey on your neck?"

Bola mata Baekhyun bergulir jengah. Pertanyaan Rose sama sekali tidak berbeda seperti apa yang ia dengar dari Kris semalam. "Good. Join the club, Rossie!"

"Jadi… kalian berdua sudah…ehmm?" Kyungsoo bertanya penuh selidik. Baekhyun sangat paham maksud pertanyaan dari sahabatnya tersebut, dan tentu saja jawabannya adalah tidak. Dia tidak sempat bermain di ranjang dengan Chanyeol.

"Tidak, kami tidak melakukannya." Baekhyun menjawab dengan jelas.

"Yeah, and those hickey on your neck is there by god know how." Rose menolak percaya mentah-mentah.

"Kami hanya berciuman, di lift." Ujar Baekhyun. Yang mana itu adalah fakta. Satu-satunya sesi berciuman mereka kemarin hanyalah di sana.

"Kau dengar itu? Mereka berciuman di lift." Rose mengarahkan matanya pada Kyungsoo secara dramatis. "Dan apa kau percaya jika mereka tidak melanjutkannya di kamar?"

Seseorang yang dibicarakan hanya menaikkan bahu, kembali menolak peduli dan memilih untuk memainkan ponsel pintarnya. Ia lupa belum mengabari ibunya, ngomong-ngomong. Jadi iapun memilih untuk mengetikkan pesan singkat selagi obrolan masih berjalan.

"Sebenarnya aku terkejut kalian belum melakukan seks, jangan tersinggung Baekhyun. Maksudku, Chanyeol terlihat seperti penuh gairah bahkan ketika hanya menatapmu saja. Jadi kurasa, masalahnya ada pada dirimu."

"Kemana arah pembicaraanmu, Dokyung?"

"Aku tahu kau tidak punya masalah dengan keinginan untuk bercinta. Tapi suasana hatimu, Tuhan, aku yakin itu adalah yang paling sering mengganggu." Sahabatnya itu menjelaskan. Ia paham betul mengenai suasana hati Baekhyun yang sangat sulit untuk ditebak. Diam-diam Kyungsoo jadi merasa kasihan juga kepada Chanyeol.

"Kau tahu, beberapa orang bisa cukup kinky dalam hal ini. Apa mungkin kau perlu diikat dengan mata tertutup untuk membuatnya berhasil?" Kali ini Rose yang berbicara.

"Oh God." Baekhyun menggeleng prihatin dengan mata terpejam. Tangannya yang bebas dari handphone segera memijit kening, tidak habis pikir dengan ucapan sahabatnya. "Aku tidak termasuk golongan submisif seperti itu, okey? Jadi hentikan ini semua. Kami hanya belum melakukannya. Yang mana itu artinya, seks bisa terjadi nanti, besok, atau mungkin lusa. Tergantung mood."

"Kami hanya mencoba menjadi konsultan yang baik." Rose berada di pihak Kyungsoo kali ini.

"Kalau begitu lakukan saja sendiri. Kalian berdua satu kamar bukan? Kenapa membuat diriku menjadi bahan percobaan." Ujar Baekhyun. Menyinggung kembali fakta bahwa Kyungsoo dan Rose menyewa kamar yang sama. Alasannya karena si wanita tidak ingin tidur sendirian di kamar hotel. Kyungsoo mau-mau saja, toh dirinya tidak rugi apapun.

"Friendly reminder: I'm gay." Kyungsoo kembali mengingatkan pada sahabatnya tersebut bahwa dirinya yang bersetubuh dengan Rose adalah sebuah ketidakmungkinan.

"Kau tidak pernah benar-benar berkencan dengan laki-laki." Baekhyun masih ingin membantahnya. Secara pribadi dan rahasia, ia berpikir bahwa orientasi seksual Kyungsoo masihlah abu-abu. Anak itu mengaku menyukai laki-laki, tapi Baekhyun tak pernah melihatnya berkencan dengan lelaki manapun.

"Well, ini bukan tentang dating. Memangnya kau sebut apa aku yang tidak bereaksi saat belahan dada Rose tak sengaja terekspos?"

Rose memelototinya dengan tak terima. "Fuck you."

"Alright alright." Baekhyun mengakhiri perdebatan dengan dirinya yang menyerah. Siapa juga yang bisa menang melawan si calon pengacara. "Hanya saja jika kalian tiba-tiba melakukan seks, temui aku sebagai orang pertama untuk kalian bercerita.

Satu-satunya perempuan di sana tersenyum mengejek. "Heh, over my dead body."

"Yeah, over your dead body." Kyungsoo menimpali.

"Kalian sangat beruntung karena aku adalah teman kalian."

"Tell me about it." Rose mengolok-oloknya. Pembicaraan ini harus segera berakhir dengan topik yang baru. Jadi ia pun memutuskan untuk memulainya. "Aku akan pergi berjemur siang ini, kalian ikut?"

Baekhyun sontak menepuk tangannya dengan gembira. Oh, dia sangat mudah teralihkan. "Tentu saja! Aku sudah tidak sabar ingin melihat kulitku yang kecoklatan."

"Aku baik-baik saja dengan kulitku, jadi shoooo… kalian bisa berjemur berdua." Kyungsoo tidak ikut-ikutan kali ini.

"Oh ayolaaah, lalu siapa yang akan mengoleskan sunscreen di punggungku?" Rose protes.

"Kalian bisa saling mengolesi satu sama lain." Kyungsoo nampaknya tidak peduli. Lagipula ia tidak tahan dengan sengatan sinar matahari. Itu membuatnya pusing sama seperti mendengarkan Rose dan Baekhyun yang berdebat.

"Kau akan menyesal." Baekhyun memperingatkannya.

"Satu-satunya penyesalan terbesarku adalah berteman dengan kalian."

Baekhyun dan Rose berteriak kompak.

"Ruuude!"


Nampaknya, Baekhyun dan Rose betul-betul merealisasikan rencana mereka.

"Akhirnyaaaaaa!"

Seperti perkiraan, pantai Jumeirah di siang itu cukup ramai oleh para pengunjung. Mungkin, mungkin representasi dari tiap negara berada di sini. Melihat betapa ramainya tempat ini dengan orang yang berbagai macam rupanya.

"Sayang sekali hanya kita berdua yang tertarik untuk pergi ke pantai." Rose menaikkan kacamata hitamnya ke atas dahi. Rambut panjangnya diikat ke atas, pakaian luaranya pun telah ia tanggalkan, ia sudah sangat siap untuk membuat sekujur tubuhnya berwarna kecoklatan (bahkan ia sempat berpikir untuk topless, namun Baekhyun secepatnya berkata "This is not a nude beach, you idiot!").

Baekhyun, yang diajak bicara, hanya menaikkan bahu. Saat ia mengajak Chanyeol, kekasihnya itu mengatakan bahwa ia akan menyusul –setelah ia dan Kris selesai dengan perjalanan menunggangi unta di lokasi yang berjarak tak terlalu jauh dari pantai. Baekhyun tidak mengerti mengapa Chanyeol bisa begitu terobsesi dengan kata "menunggangi". Tapi ia tidak mau terlalu memikirkan, lagipula bukankah bagus juga untuknya pergi tanpa sang pacar? Untuk sesekali, mungkin iya.

"Sekarang lakukan pekerjaanmu!"Rose melemparkan sunscreen ke tangan Baekhyun begitu dirinya berbaring di kursi berjemur.

"Now i think u should bring your personal assistant too."

"You mean, Do Kyungsoo?"

Dan mereka berdua tertawa.

Baekhyun sedikit kecewa, sebenarnya. Ia pergi kemari bersama-sama dengan yang lainnya. Namun nampaknya, mereka telah memiliki agenda masing-masing. Ya, itu bukan salah siapapun. Mereka tidak perlu selalu bersama kemanapun pergi, hanya, seperti ada yang kurang saja.

"Get up, bitch. My turn!" Baekhyun menepuk pantat Rose untuk segera bangun dan mengerjakan bagiannya. Sejak mereka tidak punya siapapun untuk diandalkan di sini, mau tidak mau mereka harus bergiliran untuk saling mengolesi satu sama lain.

"Hey, kau tidak tertarik untuk menggunakan bikini?" Tanya Rose ditengah-tengah kegiatannya mengolesi punggung Baekhyun. Terbersit pertanyaan itu saat ia melihat bagian atas tubuh Baekhyun yang telanjang. Ya, lelaki itu hanya menggunakan celana pendek untuk menutupi bagian penting dari tubuhnya saja.

Inginnya Baekhyun telanjang, tapi setidaknya sekarang ia tidak berada dalam keadaan mabuk untuk mewujudkannya.

"Apa ini? Apa kau memiliki sesuatu dengan laki-laki yang menggunakan bikini?" Tanya Baekhyun, setengah tertawa.

"Astaga. Aku tidak punya fetish aneh sepertimu."

"Baiklah, sekarang katakan apa fetish aneh yang kau maksud?"

"Tangan diikat dengan mata tertutup?"

"Sialan kau." Baekhyun menoleh hanya untuk mengumpat. "Kau butuh exorcism."

Rose justru tertawa renyah yang mana Baekhyun mulai betul-betul mempertimbangkan untuk membawa sahabatnya itu ke tempat pengusiran setan.

"Bisakah kita memesan minuman dari sini?" Baekhyun bertanya meski tidak yakin Rose memiliki jawabannya. "Vodka with ice, sounds good."

"Oh, kau ingin mabuk supaya bisa mengenakan bikini tanpa sadar?" Rose menertawakannya dengan puas.

"Sampai kapan pembicaraan tentang bikini ini akan terus berlanjut?"

"Apa ada yang bilang bikini?"

Baekhyun spontan menoleh pada si pemilik suara. Ia yang tengah menjemur punggungnya lantas mendongak ke kiri dan menemukan Park Chanyeol berdiri dengan tangan di pinggang. Dari penampilannya yang hanya mengenakan celana pantai, Baekhyun tahu kekasihnya itu berniat untuk bergabung.

"Kau sudah selesai?" Baekhyun bertanya penuh selidik.

"Itu tidak memakan waktu seharian, sayang." Chanyeol mengacak-acak rambut kekasihnya dengan gemas. Baru saja berpisah sebentar, rindunya sudah seperti berpisah setahun. Berlebihan.

"Jadi, kau memutuskan untuk bergabung dengan kami?" Tanya Baekhyun, kini ia mengubah posisi menjadi duduk.

"Ya, yang lainnya juga. Tapi aku tidak tahu mereka di mana, kuharap sangat jauh dari sini." Chanyeol berkata dengan mata menerawang serius. "Mereka selalu membuat masalah."

"Are you talkin' about yourself?" Baekhyun tertawa jenaka. Chanyeol membalasanya dengan bahu terangkat dan senyuman polos.

"Oh, ya, dimana temanmu yang satu lagi?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun, dan juga Rose yang kebetulan masih ada di sana. Yang dimaksud Chanyeol adalah Kyungsoo.

"Dia tidak tahan cuaca panas." Rose yang menjawabnya.

"Wah…Kukira kalian tidak berfungsi jika tidak jalan bertiga." Canda si tinggi. Baekhyun memukul kaki prianya tersebut dengan tawa kecil.

Chanyeol mengikutinya dengan tawa. Ia kemudian meregangkan otot-ototnya, melihat ke sekitar, lalu kembali pada Baekhyun. "Aku akan berenang sebentar. Kau mau ikut?"

"Kau ternyata tahu cara berenang, itu melegakan."

"Babe…"

"Tapi tidak, terimakasih. Aku lebih suka di sini."

"Bagaimana kalau aku digoda gadis lokal?"

"Akan kutenggelamkan dia lebih dulu."

Chanyeol tertawa renyah saat mendengar kekasihnya mengatakan hal tersebut dengan enteng. Ia pun menunduk, mencapai wajah Baekhyun, dan mengecup pipinya. Dua kali.

"Tunggu sampai aku kembali." Ujar Chanyeol sebelum ia benar-benar berlari ke laut.

"Hmmm…" Baekhyun menyahut dengan malas. Ia lalu berbalik ke sisi yang lain untuk kembali mengobrol dengan sahabatnya. "Jadi, tentang vodka-nya…"

"...indeed. This place is so perfect."

Baekhyun sontak memasang wajah sepat. Rose ternyata tengah asyik mengobrol dengan seorang lelaki, turis dari eropa, mungkin. Jadi baiklah, lagipula sahabatnya itu pun butuh teman mengobrol selain Baekhyun atau Kyungsoo. Ia lalu memilih untuk kembali tengkurap, membenamkan wajahnya diantara kedua tangan yang bersidekap. Mungkin memejamkan mata sebentar tidak apa-apa.

Suara ramai interaksi orang-orang disertai deburan ombak seakan tidak mengganggu Baekhyun. Bahkan justru membantu menendang secara perlahan kesadarannya dan ia pun bisa bersantai untuk beberapa menit.

Si pemuda mungil tidak ingat berapa lama ia memejamkan mata. Rasanya cukup lama dan membuat kepalanya sedikit pusing. Ketika mendongakkan kepala dan melihat lurus ke depan, saat itu pula Baekhyun merasa bimbang tengah berada di alam bawah sadar atau justru realita.

Karena ia seperti baru saja melihat Eros.

Benar. Dewa Yunani perlambangan akan nafsu dan asmara. Kita semua memiliki persepsi yang sama seputar penggambaran Eros. Tapi, bayangkan saat sosok itu menjelma menjadi seorang Park Chanyeol. Seperti itulah yang dilihat oleh Baekhyun sekarang.

Memang pada kenyataannya, Baekhyun kerap kali melihat Chanyeol berkeliaran di rumah tanpa mengenakan pakaian sehelaipun (itu bukan lagi sebuah hal yang mengagetkan). Perbedaannya sekarang adalah: Chanyeol topless, dan sekujur tubuhnya basah, dan ia seksi. Apa itu masuk akal?

Baik, baik. Katakanlah dirinya cukup berlebihan dalam menanggapi hal itu. Tapi sumpah, rasanya ia belum pernah melihat Chanyeol se- uhm, bagaimana mengatakannya? Menggairahkan, barangkali. Park Chanyeol yang kini berjalan ke arahnya dengan basah di sekujur tubuh. Lalu ketika pria itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan satu tangan, Baekhyun semakin yakin bahwa ini mimpi.

Karena, bagaimana bisa?

"Everything alright?"

"O-oh!"

Astaga. Bukan mimpi ternyata!

Baekhyun menampar dirinya sendiri secara imajiner. Ia tidak bisa membiarkan wajah terperangahnya dibaca oleh Chanyeol. Bisa besar kepala pacarnya itu nanti. Jadi dengan gugup, ia pun menjawab."Uhm, just.. daydreaming. Ya know…"

"Really?" Chanyeol menemukannya sulit dipercaya. Kali ini sambil memiringkan kepala dan Baekhyun kesulitan menemukan jawaban ilmiah mengapa Chanyeol justru bertambah tampan (plus seksi) dengan pose seperti itu. Apa kekasihnya itu baru saja bertukar jiwa dengan seorang supermodel?

"Tubuhmu… bagus." Baekhyun menurunkan kacamata hitamnya untuk melihat Chanyeol lebih jelas. Ia tidak bisa berbohong sepenuhnya, karena perut sixpack dan tattoo di tubuh Chanyeol memang pantas untuk dipuji keestetikannya. Dan sebenarnya ia sedikit iri pada kekasihnya itu.

"Tubuhmu lebih bagus." Chanyeol menarik senyum miring, ia yakin Baekhyun tahu persis mengenai apa yang dimaksud.

Baekhyun bangkit dari posisi tengkurapnya dan menaikkan alis.

"You mean, this fat ass?" ia menunjuk ke arah belakang dengan ibu jarinya.

Chanyeol berkedip lama, memberi pengakuan. "Tuhan pasti sedang bertamasya saat beliau menciptakan bokongmu."

"Uh-huh."

Sepertinya, ini saat yang tepat untuk melakukan rencana yang sempat tertunda semalam. Baekhyun sedang dalam suasana hati yang baik, dan Chanyeol pun demikian. Nampaknya untuk kali ini, mereka tidak akan menahan diri.

Suhu di tempat ini sudah cukup panas, tapi gejolak dalam tubuh mereka berdua nampaknya lebih panas.

"Wanna do something fun?"

Chanyeol tidak membuang kesempatan.

"Let's motherfucking do this."


"Sekarang aku berpikir Tuhan juga mungkin sedang bertamasya saat ia menciptakan…" Baekhyun berhenti sejenak. Menunjuk ke arah bagian bawah pusar Chanyeol dengan nakal. Sesuatu di dalam sana masih terhalang oleh underwear-nya yang berwarna gelap, namun Baekhyun masih bisa melihat bentuknya.

Chanyeol yang berdiri tak jauh di depannya, melempar tawa. Ia kemudian menanggalkan satu-satunya pakaiannya dan bertanya dengan bangga. "Bagaimana menurutmu, baby?"

Baekhyun tidak butuh waktu lama untuk menjawab.

"Huge." Ia berkata jujur. Karena sebetulnya, sejak awal pertemuan mereka, satu hal yang (paling) berkesan di ingatan Baekhyun adalah ukuran penis Chanyeol.

Apa dia baru saja mengatakan penis?

"Well, this is yours."

Chanyeol merangkak naik ke ranjang. Belasan menit yang lalu, mereka masih berdiri di atas pasir dengan saling menahan diri satu sama lain untuk tidak bercumbu di tempat umum. Sekarang, mereka berdua telah sampai di hotel dan sesuatu harus terjadi. Sesuatu yang menyenangkan.

Baekhyun masih mengenakan pakaian lengkapnya setelah bertolak dari pantai. Dan ketika ia hendak membukanya satu persatu, tangan besar Chanyeol menghentikannya.

"Biar aku saja."

Baekhyun menarik senyum miring yang mengisyaratkan seolah ia tengah berkata, "Baiklah telanjangi aku, sayang."

Lalu Chanyeol melakukan itu untuknya. Menelanjangi Baekhyun untuk membuat adil bagi mereka berdua. Selesai dengan pekerjaannya, Chanyeol menyambut wajah Baekhyun dan mendekat pada kekasihnya tersebut.

"I love you." Chanyeol mempertemukan kening mereka berdua dengan hidung yang beradu satu sama lain.

Baekhyun tertawa kecil. "Love you too, darling."

Chanyeol merilis sebuah ciuman. Membasahi bibir ranum Baekhyun dengan saliva-nya, sebelum kembali mundur dan menatap Baekhyun masih dengan pandangan penuh kekaguman dan sedikit terheran-heran bagaimana bisa manusia memiliki lekuk tubuh sempurna seperti ini.

Sejatinya, ini hanya soal sudut pandang. Karena bagaimanapun bentuk tubuh Baekhyun, akan selalu sempurna di mata Chanyeol.

"Aku tahu kau punya waktu seharian, tapi tidakkah kau ingin segera mulai?" Tanya Baekhyun. Tangannya melingkar manja di antara leher Chanyeol, menunggu si tinggi melepaskan seluruh nafsunya dengan tak sabar.

"Setengah dari diriku hanya masih tidak percaya bahwa aku mendapatkanmu."

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun yang ringan saja baginya. Membuat si pendek duduk di atas pangkuannya dengan kaki melingkar di pinggang.

"Kau sudah menunggu lama, kau pantas mendapatkan apa yang kau ingingkan."

"Well, angel…" Chanyeol mengecup dahinya dan kembali bicara. "Kau adalah segala hal yang aku inginkan, seks ataupun tidak."

Ya, itu tidak sepenuhnya salah. Karena mendapatkan hati Baekhyun adalah hal yang paling utama bagi Chanyeol, sex hanyalah bonus.

Baekhyun tersipu. Dengan itu, ia pun menghadiahkan sebuah ciuman bagi Chanyeol. Dalam dan lama. Seperti ia menaruh semua cinta kasihnya disana, dan ia salurkan ke tubuh Chanyeol.

"Ohh…" Baekhyun melapas ciumannya saat merasakan sesuatu yang ia duduki mulai terbangun. "Aku akan mengurus yang ini lebih dulu."

"Are you good with your mouth?" Chanyeol menggodanya.

"We'll see."

Baekhyun menurunkan tubuhnya. Ia membungkuk tepat dihadapan Chanyeol yang mulai membuka kaki. Pria itu memposisikan kedua lututnya sebagai tumpuan tubuh, membiarkan Baekhyun melakukan perkerjaannya sebagai pemanasan.

"Ohhh… holy shit, Baek!"

Chanyeol mendesah saat hangat mulut Baekhyun mulai bisa ia rasakan. Secara imajiner, Baekhyun menyeringai. Ini bahkan baru permulaan dan ia telah membuat Chanyeol menggeliat penuh kenikmatan.

"Baby!"

Baekhyun mengulum, terus mengulum dengan kepala bergerak maju dan mundur. Ia merasa sangat nakal telah membuat Chanyeol pergi hingga begitu tinggi. Baekhyun tidak bisa melihat wajah Chanyeol secara langsung, namun memperediksi dari bagaimana tangan Chanyeol meremas rambutnya dengan penuh hasrat, si pendek tahu bahwa pria yang sedang ia senangkan itu pasti sedang memejamkan mata dengan penuh kenikmatan.

Tak butuh waktu yang lama untuk membuat Chanyeol datang. Cairan putih yang menyebar juga mampir di wajah Baekhyun. Yeah, si pendek itu sudah diingatkan sebelumnya, bahwa Chanyeol akan segera merilis tembakan, namun bukan berarti ia pun memiliki persiapan. Jadi, Baekhyun hanya bisa menerima dengan senang hati semburan cinta yang Chanyeol berikan.

"Aku harus memberikanmu hadiah untuk itu." Chanyeol memutuskan. Baekhyun tersenyum kian lebar. Ia mendongak dengan wajah kotornya.

"Please Daddy…"

Dan ohh… sepertinya ia baru saja menekan suatu tombol di otak Chanyeol secara sengaja.

"Did you just…?"

"Yes, daddy."

Chanyeol tidak tahu bahwa Baekhyun memiliki kemampuan tinggi dalam menggoda seseorang. Terlebih, ini di ranjang, for fuck's sake! Baekhyun akan segera mendapatkan akibatnya.

"Baiklah, sekarang berbalik."

Chanyeol menampar bokong empuk Baekhyun yang telanjang dan meminta pemuda itu berganti posisi dengan membelakanginya. Ia menyeringai saat Baekhyun menyajikan bokong tepat ke depan hidungnya. Tangannya yang gatal meraba permukaan dua belahan tersebut sebelum akhirnya menamparnya lagi.

"Awww…" Baekhyun bersuara rendah.

Si tinggi kemudian mendekat. Baekhyun bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Chanyeol yang mendarat di sekitar lubangnya. Kemudian suara kecipak pun terdengar bersamaan dengan sensasi lembab yang Baekhyun rasakan di belakang sana. Baekhyun tersenyum dengan merah di pipi. Chanyeol baru saja mencium bokongnya.

"Sudah selesai mencicipinya?" tanya Baekhyun dengan nada sarat akan godaan.

"Shut up and let me fuck you."

Chanyeol tidak ingin mencicipinya lagi. Ia ingin semuanya.

"Lube."

"Tentu saja sayang." Chanyeol tertawa kecil. Ia bukan tipikal orang yang pergi ke perang tanpa persiapan.

Dan saat Chanyeol menarik botol dari dalam laci di dekat tempat tidur, Baekhyun tahu bahwa pria itu sudah merencanakan ini sejak awal. Dasar licik.

"Siap?" Tanya Chanyeol setelah seluruh tangan ia lumuri pelumas.

"Aku terlahir untuk siap." Jawaban Baekhyun terdengar sangat mantap.

Satu jari mulai bergerak masuk.

"O-owh…" Baekhyun tersentak kaget. Sial, ia lupa kalau jari tangan Chanyeol lebih besar dari miliknya.

Si tinggi yang bergerak di belakang lantas tertawa. "Tenang sayang, ini baru satu jari."

Minimnya respon dari Baekhyun lalu membuat Chanyeol menabah jarinya. Kali ini dua. Dua jarinya masuk ke dalam lubang dan begerak secara teratur untuk membuka gerbang akses masuk baginya nanti.

"Ohhhh…"

Baekhyun mendesah kepayahan. Ini sedikit sakit tapi juga nikmat. Sakit karena sudah lama sejak terakhir ia berhubungan badan. Juga nikmat karena ia melakukannya dengan Chanyeol. Si idiot yang ia cinta.

Chanyeol masuk dengan jari ketiganya tanpa aba-aba. Baekhyun ingin sekali memukulnya.

"Oh…my…" kalimatnya terpotong-potong. Kenapa Chanyeol bisa sangat nakal dan baik dalam hal fingering?

"Kau baik-baik saja sayang?" ia bertanya pada Baekhyun. Tubuhnya condong ke depan, mempertemukan bibirnya dengan leher Baekhyun yang nampaknya mulai bersih. Itu artinya Chanyeol harus membuat tanda cinta yang baru.

"Can you just—ohhhh…" Baekhyun terhenti untuk mendesah. Damn you, Park Chanyeol!

"Just what?" Pria yang masih menciuminya itu bertanya tak peduli.

"Just… put your dick inside..."

Chanyeol meresponnya dengan menjilat telinga Baekhyun. Membuat si mungil sedikit menggeliat karena sensasi geli.

"Tunggu sebentar saja, di sini masih terlalu sempit." Chanyeol berkata lembut. "Kau tahu sendiri ukuranku, bukan?"

Dengan tangannya yang lain, Chanyeol meraih milik Baekhyun yang mulai tegang. Mengusapnya dengan penuh sayang secara berulang-ulang. Baekhyun tahu sialan ini sedang mengejeknya.

"Hanya karena kau besar, bukan berarti aku tidak bisa melawanmu…" Baekhyun berkata sambil sesekali menggigit bibirnya karena gelitik di belakang sana. Sekali lagi, damn you, Chanyeol!

"Besar? Kau berbicara tentang tubuhku atau kepunyaanku?"

"Bagaimana dengan egomu?" Baekhyun menoleh sesaat sebelum mendengus kesal.

Chanyeol menarik senyum penuh godaan. Ia kembali mendekati telinga Baekhyun. "Aku ingat seseorang memanggilku 'Daddy' tadi."

Uhh… Baekhyun ingin sekali menepuk jidat sekencang-kencangnya. Sedikit menyesal karena telah sengaja menggoda Chanyeol dengan kata terlarang yang membuat nafsu pria itu semakin meningkat.

"Ayo, sayang. Kau tahu bagaimana cara kerjanya."

Chanyeol mendesaknya di saat Baekhyun semakin tidak tahan.

"Please…" si pendek melirik dengan mata memelas, memohon, penuh keinginan agar Chanyeol segera melesakkan pistolnya.

"Please what?"

Damn you, Park Chanyeol!

"Please daddy…" Baekhyun membuat itu terdengar sangat seksi di telinga Chanyeol. "Fuck me, please."

Chanyeol bergumam panjang seolah tengah mempertimbangkan sesuatu. Baekhyun tidak tahu, dan tidak mau tahu apa yang ia pikirkan. Yang jelas, Baekhyun ingin segera merasakan Chanyeol berada di dalam tubuhnya. Ia ingin segera terhubung, melekat, dan bertahan sejauh yang mereka bisa.

"Good boy." Chanyeol mengatakannya dengan singkat bersamaan dengan tiga jari yang ia tarik keluar.

Baekhyun tidak terlalu banyak bergerak dan melirik ke belakang saat Chanyeol mencoba melakukan tugasnya. Ia terdiam patuh bahkan saat Chanyeol menarik tangannya ke belakang punggung, dan mulai memberikan apa yang selama ini Baekhyun tunggu.

"OH MY GOD!"

Baekhyun tersentak kaget saat benda itu masuk. Sial sial sial, ia merutuk dalam hati.

Kenapa ini enak sekali?

Sementara Baekhyun sibuk dengan desahan-desahannya, Chanyeol terus bergerak dengan ritme teratur setelah sebelumnya masih mencari-cari titik kenikmatan. Saat menemukannya, ia baru sadar bahwa selama ini surga dunia ternyata bersembunyi di dalam lubang milik Baekhyun.

Chanyeol masih tidak percaya bahwa ia akhirnya mendapatkannya! Ia dapat menggigit, menjilat, menyentuh, menyerang, bercinta, semuanya dengan tubuh Baekhyun. Dan Tuhan, dengan pantat seperti ini –seperti yang sedang ia pegang ini—ia merasa akan dihukum jika tidak melakukan sesuatu dengannya.

"I love you…" Chanyeol menghentak keras. "…so fucking much."

"Faster… faster daddy….O—ohhh!"

Saat Baekhyun merasa lututnya melemas, Chanyeol bertindak dengan memutar tubuhnya perlahan. Satu kaki Baekhyun bergantung di pundak Chanyeol selagi pria itu terus mendorongnya. Ketika itulah mereka bisa saling bersitatap dengan mata yang telah terpenuhi kenafsuan.

"Hello, beautiful."

"Hello idiot."

Chanyeol bisa melihatnya. Pipi Baekhyun yang merah, matanya yang sayu, dan bibir yang sedikit membengkak karena gigitan. Dengan rambut yang berantakan dan peluh membasahi hampir sekujur wajahnya, Baekhyun berkali lipat lebih mempesona.

Dan semakin ia memperhatikan Baekhyun, semakin keras pula ia ingin menghentak.

"Ohhhhh… fuck!" Baekhyun dan Chanyeol bahkan mungkin sudah tidak ingat berapa kali kata itu keluar entah dari mulut mereka atau sekedar dalam benak.

"Katakan lagi..." ujar Chanyeol di tengah-tengah gerakan maju mundurnya. Ia telah merasa cukup lama dengan posisi ini dan sepertinya sesuatu di dalam sana akan segara keluar.

"Daddy…"

Chanyeol menampar pantatnya.

"Lebih keras!"

"DADDY!"

Di detik berikutnya, Chanyeol datang untuk yang kedua kali. Baekhyun menyusul setelahnya. Pria yang lebih tinggi perlahan menurunkan kaki sang kekasih dari bahunya. Membuat kedua benda itu kini kembali melingkar manja diantara pinggangnya.

Chanyeol membungkuk, membisikkan kalimat-kalimat manis yang membuat Baekhyun terkikik geli. Pria itu merasa sangat senang hingga sulit sekali rasanya untuk mengungkapkannya. Ia hanya membenamkan wajahnya di leher Baekhyun. Mencuri beberapa ciuman yang cukup kasar dan meninggalkan bekasnya dengan sengaja.

Ia merasa sangat rakus. Saat melihat tubuh bersih Baekhyun, saat itu pula naluri Chanyeol selalu bergerak liar untuk menguasainya. Dengan meninggalkan jejak miliknya sebagai klaim bahwa Byun Baekhyun hanyalah milik Park Chanyeol seorang. Secara tidak sadar, ia pun mulai kencanduan. Selalu ingin lagi dan lagi karena dengan Baekhyun, Chanyeol selalu kehilangan kendali diri.

"Baek, sepertinya setelah ini aku akan kecanduan."

"Kau pikir aku tidak, huh?"


.

.

To be Continued

.

.


What the hell is this?