Sucker
Baekhyun sedang berbaring dalam dekapan Chanyeol ketika seseorang datang mengganggu. Chanyeol bertindak untuk memeriksa siapa yang datang dan Baekhyun hanya menggerutu karena acara after sex mereka harus terhenti.
"Biar kulihat siapa itu."
"Chanyeol, pakai dulu bajumu."
Baekhyun perlu mengingatkan si raksasa kesayangannya itu bahwa mereka tidak sedang berada di rumah –yang mana Chanyeol tidak bisa bebas bertelanjang bulat seharian penuh. Dan yang diingatkan hanya membuka mulut sesaat, berhenti berjalan dan berbalik arah. Mengambil celana di lantai dan memakainya dengan terburu-buru.
Dasar idiot.
Sementara Chanyeol membuka pintu, Baekhyun kembali bermalas-malasan di tempat tidur. Ia menarik selimutnya hingga ke dada, dan berbaring menyamping. Langit yang gelap terlihat lewat jendela kamar dengan jelas. Saat itulah ia baru sadar tentang berapa lama waktu yang telah ia habiskan dengan Chanyeol hanya untuk bermain di ranjang.
Tiba-tiba pipinya pun terasa panas kala mengingat apa yang telah ia lakukan. Baekhyun seperti ditarik kembali pada suasana saat pertama kali ia melakukan seks dengan teman prianya. Rentang waktunya cukup jauh, jadi ketika hal itu terjadi lagi, rasanya seperti pertama kali.
Baekhyun merasa senang. Perasaan senang yang sulit dijelaskan. Entah karena ia baru saja melakukan seks, atau entah karena ia melakukannya dengan Chanyeol.
"Aku akan pergi mandi." Ujar Chanyeol tiba-tiba saat tubuhnya melewati pintu kamar tidur. Baekhyun tidak yakin kalimat itu ia ujarkan untuk dirinya atau seseorang yang ada di luar.
"Siapa itu?" tanya Baekhyun seraya memposisikan dirinya untuk duduk.
"Kris." Chanyeol menjawab singkat sembari membuka lemari baju. "Dia ingin aku menemaninya pergi malam ini."
"Oh, kukira kalian bermusuhan?"
"Sometimes." Chanyeol tertawa. Lesung pipinya nampak dengan sangat jelas. "Kau tidak apa-apa kutinggal malam ini?"
"Kau tidak mengajakku?" Baekhyun memajukan bibirnya.
"Babe, aku ragu kau ingin ikut." Ujar si tinggi seraya mengeluarkan sebuah kemeja berwarna biru langit dari dalam lemari. Baekhyun semakin bingung.
"Memangnya kemana kalian akan pergi?"
"Casino."
"What?"
Chanyeol mendekat padanya, duduk di pinggaran tempat tidur, dan menyisir rambut Baekhyun dengan tangannya. "Babe, Kris sedang berada dalam episode-nya. Suasana hatinya sedang buruk dan aku perlu menemaninya sebelum ia berakhir di penjara karena melakukan tindakan kriminal."
"Tindakan kriminal macam apa?"
"Membunuh orang asing misalnya."
Baekhyun meringis. "Kau tidak serius dengan ucapanmu."
Chanyeol berakhir dengan mengacak-acak rambut kekasihnya tersebut dan berdiri. "Yang terakhir hanya lelucon. Baiklah, aku akan mandi sekarang. Kau mau bergabung?"
Baekhyun mendengus. Ia sangat ingin melakukannya namun Chanyeol sedang diburu waktu. "Bergabung denganmu hanya akan menambah waktu lebih lama. Jangan buat kakakmu menunggu, cepat pergi mandi."
Apa boleh buat, yang dikatakan Baekhyun adalah benar adanya. Jadi Chanyeol pun memilih untuk bergegas pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tak lama setelahnya, terdengar seruan dari ruangan di luar kamar tidur. Itu adalah Kris yang sedang menunggu dan duduk di sofa sambil membuka-buka majalah lama.
"Baekhyuuuuun!"
Baekhyun mendengus di tempat tidurnya sebelum menjawab panggilan. "Yaaa?"
"Seret bokongmu kemari dan temani aku mengobrol!"
"Bagaimana kalau aku menolak?!"
"Kau, atau aku yang datang kesana?"
Argh! Baekhyun melempar selimutnya dengan kesal. Kembali ia berteriak. "FINE!"
Mengambil satu persatu pakaiannya di lantai sambil menggerutu, Baekhyun berpikir mengapa orang ini masih saja menyebalkan. Namun memikirkan kembali apa yang Chanyeol katakan padanya, mungkin Baekhyun bisa sedikit bermurah hati dengan menuruti kemauan si tinggi nomor dua itu (Nomor satu tentu saja Chanyeol).
Selepas memakai pakaian dan merapikan rambut, Baekhyun pun berjalan keluar untuk menyapa Kris yang sedang sibuk membaca majalah lama.
"You're a pain in the ass." Baekhyun mengatakannya tanpa rasa takut.
Kris menengok sesaat ke arah dimana Baekhyun berdiri dan kembali membaca tanpa minat. "Literally, you are the one who has the 'pain in your ass'."
"What? You-"
"This room smelled like sex."
"Ugh." Baekhyun mengurut pangkal hidungnya dengan perasaan antara kesal bercampur malu. "Selain seks, memangnya apa lagi yang kau harapkan dari sepasang kekasih yang berduaan di hotel?"
"Kalian bisa bermain ular tangga."
Baekhyun menghempaskan tubuhnya di sofa. "Terserah."
"Padahal baru tadi pagi Chanyeol mengeluh padaku karena ia masturbasi semalaman."
"He what?"
"You heard me." Kris membalik halaman majalah dengan tenang.
Baekhyun kembali memijit pangkal hidungnya. Dia benar-benar tidak tahu bahwa Chanyeol sebutuh itu malam kemarin.
"Chill, It's a normal thing." Kris akhirnya mengatakan apa yang biasa orang dewasa katakan untuk membuat lawan bicaranya rileks. "And don't forget to use protection." Oh, ia membicarakan tentang seks yang tadi.
Kali ini Baekhyun menaikkan kedua alis pertanda bahwa ia tidak memperhatikan yang satu ini. "No need."
"Kukira kau tidak tertarik untuk hamil di tengah kuliahmu."
"Kau pikir aku bisa hamil?"
"Kenapa tidak?"
"Aku bukan seorang carrier." Ujar Baekhyun. "Mu-mungkin." Ia terdengar tidak yakin di akhir.
Sejauh yang ia ingat, ini adalah kali pertama dirinya melakukan seks tanpa pengaman. Entah karena terlalu bersemangat atau apapun itu, yang jelas Baekhyun tidak begitu menaruh perhatian.
"Ya, boleh jadi, Chanyeol juga tidak sebagus itu dalam membuat anak." Ujar Kris. Masih dengan wajah tenang. "Lagipula kemungkinannya pun relatif kecil, jadi tenang saja."
Baekhyun hanya mengendikkan bahu. Pembicaraan tentang bayi sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya. Jauh dan sangat jauh jika ia ingin membayangkan dirinya cuti kuliah karena hamil. Konyol pula kedengarannya. Jadi ia menyimpulkan, ini hanya tentang Kris yang mencoba untuk mempertontonkan keidiotannya, itu saja.
Obrolan mereka terpaksa berhenti ketika Kris mendapat sebuah panggilan melalui handphone-nya. Pria itu beranjak dari sofa, berjalan mendekati jendela sebelum akhirnya menjawab panggilan. Baekhyun tidak terlalu mendengarkan sebenarnya, namun yang ia tangkap sedikit demi sedikit adalah percakapan tentang bisnis. Membosankan.
Baekhyun lalu berjalan mendekati lemari pendingin yang ada di ruangan itu. Menarik keluar sekaleng bir dan membawanya untuk diminum selagi ia menyalakan televisi.
Setelah belasan menit berlalu, Chanyeol keluar dengan pakaian rapi dan langsung menghampiri Baekhyun yang sedang bermalas-malasan di sofa.
"Kapan kalian akan kembali?" tanya Baekhyun selagi Chanyeol duduk di sampingnya.
"Sebelum pagi." Ujar Chanyeol. Ia lantas menarik kedua tangan Baekhyun supaya lelaki itu mendekat dan membawanya dalam pelukan.
Baekhyun mengusap-usap pipinya di kemeja yang dikenakan Chanyeol sambil mengendus bau pria tersebut. "Jangan sampai aku mencium ada bau parfum lain saat kau pulang nanti."
Chanyeol tertawa mendengarnya. "That's never going to happen."
"If it's happen, then you can eat your own ass. Am I clear?"
"Crystalll!"
"Uhh, aku sangat menyesal untuk memotong adegan romantis ini tapi brother, bisa kita pergi sekarang?" Kris yang telah selesai bercakap-cakap lewat telepon, kembali untuk mengajak Chanyeol agar bergegas mengangkat bokongnya.
"Tidak sebelum kau berjanji akan mengembalikan Chanyeol saat pagi menjelang." Ujar Baekhyun, masih dalam pelukan Chanyeol.
"Kami hanya akan bermain di casino, bukan pergi wajib militer." Ucap Kris dengan bola mata yang berotasi. "Aku berjanji akan mengembalikannya tepat waktu dan kalian bisa melanjutkan pesta seks kalian hingga puas."
Baekhyun akhirnya melepaskan Chanyeol dengan sedikit gerutuan.
"Kau ingin aku membelikanmu sesuatu saat pulang nanti?" tanya Chanyeol pada sang kekasih.
Baekhyun menggeleng pasti. Ia hanya ingin Chanyeol cepat kembali. Dan di sisi lain, pria tinggi itu bisa merasakannya. Ia tahu Baekhyun sedikit kecewa, jadi ia pun menghadiahkan sebuah ciuman di keningnya.
"Jangan tidur terlalu malam, okay?"
"Okay." Baekhyun menerima ciuman itu dengan terpejam. Ia kembali membuka mata saat Chanyeol beranjak dari sofa.
"Love you."
"Love you too."
Chanyeol pun menyusul Kris yang telah berjalan lebih dulu. Setelah terdengar bunyi pintu yang ditutup, Baekhyun lalu kembali berbaring di sofa. Hanya saat ia hendak memindahkan saluran televisi, ia mendengar handphone-nya berbunyi. Dengan malas, ia pun bangkit dan berjalan ke dalam kamar dimana benda itu berada.
Dan setelah melihat nama yang terlampir, Baekhyun mengangkatnya tanpa ragu.
"Hello, hyung."
Baekhyun mendapat undangan minum.
Suho adalah orangnya. Dan Baekhyun tidak bisa lebih heran lagi mengingat pria itu hampir tidak pernah (terlihat) mabuk.
Tapi bukan berarti Baekhyun menolak. Jadi iapun pergi sesegera mungkin menuju kamar hotel yang ditempati oleh Suho dan Kris, yang hanya berjarak dua kamar dari miliknya.
Ketika Baekhyun masuk, ia disuguhi dua buah gelas bening di meja dan dua botol wine.
"Aku tidak akan mulai tanpa teman." Ujar Suho.
Baekhyun mengambil tempat duduk di samping sofa dengan beralas karpet tebal. Suho duduk di seberangnya, terbatas dengan sebuah coffee table. Pria yang lebih tua lantas membuka botol wine dan mulai menuangkan isinya ke gelas. Satu untuknya, dan satu untuk Baekhyun.
"Bagaimana liburanmu sejauh ini?"
Baekhyun mengangkat gelas wine dan mendekatkan ke mulutnya. "Great."
Ia menjawab jujur. Dia memang datang kemari untuk bersenang-senang, jadi ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain diluar kesenangan ini.
Televisi menyala dengan tayangan random dan volume suara yang minim. Baik Baekhyun maupun Suho keduanya tidak terlalu memperhatikan, karena fungsi televisi disana hanya untuk ikut menemani saja.
"Jadi, Kris juga meninggalkanmu disini, hyung?"
Suho meneguk sisa wine-nya dengan mantap, menaruh gelas di meja, dan menjawab. "Bajingan itu selalu lari di tengah pertengkaran."
"Kalian bertengkar?"
Memang aneh rasanya bertanya akan hal tersebut. Sebab setiap waktu, interaksi Kris dan Suho terlihat seperti sebuah pertengkaran.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa selesai begitu saja. Kami seharusnya memikirkan jalan keluarnya, tapi daripada itu, dia lebih memilih untuk pergi keluar dengan adiknya."
Baekhyun diam mendengarkan. Ia pun bingung untuk menyalahkan siapa dalam kasus ini. Karena Baekhyun sama sekali tidak tahu apa-apa. Pertengkaran serius antara Suho dan kekasihnya itu adalah daerah baru untuk ia tapaki.
Mungkin itu sebabnya mengapa Suho meminta untuk ditemani malam ini.
Sebelum Baekhyun kembali berucap untuk menyuarakan simpatinya, Suho telah lebih dulu memotong dengan kalimat yang membuat Baekhyun nyaris memuntahkan minumannya ke lantai.
"Kris menginginkan pernikahan. Aku tidak bisa memberikannya."
Amat sangat mengejutkan.
"Dia apa?"
Suho menghela napas. "Dia ingin menikahiku. Aku tidak bisa."
Sebenarnya Baekhyun masih kesulitan untuk mencerna kata-kata barusan. Karena demi Tuhan, dia baru tahu bahwa manusia kejam macam Kris pun sempat-sempatnya memikirkan untuk berlabuh. Dan yang lebih mengejutkan adalah, Suho justru menolaknya. Jujur saja, Baekhyun selalu mengira bahwa Suho adalah yang paling waras dalam hubungan mereka, dan memungkinkannya menjadi pihak yang setuju untuk saling menautkan janji sehidup semati di altar. Tapi apa sekarang pria itu berubah pikiran dan mulai sadar bahwa Kris terlalu bar-bar untuknya?
"Aku tidak mengerti. Kenapa?" Baekhyun menyangga kepalanya dengan tangan yang bertumpu di sofa.
Suho menuangkan minumannya, dan meneguk dengan pandangan ke arah lain. Berpaling dari Baekhyun.
"Pernikahan tidak sesederhana itu. Saat kau salah memilih pasangan, kau akan menyesal seumur hidup."
"Tidak bermaksud menyinggung. Tapi bukankah Kris sudah cukup baik untuk dijadikan suami? Dia cukup mapan, dan… ah, kalian juga sudah tinggal serumah." Baekhyun mencoba melihat dari segi positifnya.
"Tidak, Tuhan. Tidak ada masalah dengan Kris, dia oke kecuali otaknya yang berdisfungsi. Dia juga termasuk penyebab putusnya aku dengan Yixing." Suho menimbang-nimbang gelasnya. "Masalahnya terdapat padaku, aku merasa… aku bukan orang yang tepat untuknya."
"Astaga, hyung!" Baekhyun nyaris berteriak. Karena ini amat sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi. "Jika ada seseorang di dunia ini yang pantas, dan mampu untuk mengendalikan Kris, maka orang itu adalah kau."
Suho menarik sebuah senyum, tersanjung. "Terimakasih. Akan kuanggap itu sebuah pujian."
Perkataan Baekhyun adalah benar adanya. Ia mengucapkan itu bukan hanya untuk meyakinkan Suho guna mengubah pikiran. Tapi memang fakta berkata demikian. Memangnya siapa lagi di dunia ini yang sanggup menjinakkan Kris? Bahkan adiknya saja seringkali muak dengan tingkah laku sang kakak yang kurang (w)ajar.
"Kris memiliki reputasi. Dan aku lebih dari tahu bahwa orangtuanya memiliki harapan yang tinggi terhadapnya. Homoseksual sama sekali bukan pilihan."
Mendengar hal tersebut, nyali Baekhyun tiba-tiba menciut. Saat Suho berkata mengenai orangtua, maka itu berarti orangtua Chanyeol juga. Ia pun mulai mengerti bahwasanya keluarga Park bukan tipikal keluarga yang dengan senang hati mendobrak kebiasaan. Dari pernyataan Suho barusan, Baekhyun bisa menggambarkan kurang lebih orangtua Chanyeol mengharapkan seorang menantu wanita cantik dari keluarga terpandang. Itu adalah standarnya. Dan Baekhyun merasa dirinya amat sangat jauh dari kriteria tersebut.
Suho ternyata mampu membaca warna stress di wajah Baekhyun, dan ia merasa bersalah untuk beberapa alasan. "Astaga, apa aku menakutimu? Maaf maaf."
"Sesuatu tentang mertua kadang-kadang membuatku mual." Baekhyun berkata jujur.
"Terus terang aku pun merasa demikian."
Mereka berdua tiba-tiba merasa stress.
"Tapi…" Baekhyun tiba-tiba menempelkan tangannya di atas meja. "Aku berpikir bahwa mereka bukanlah satu-satunya yang berhak menerapkan standar."
"What do u mean?" Suho belum menangkap arah pembicaraan Baekhyun. Namun dari kata 'mereka', ia mengasumsikan bahwa itu ditujukan untuk orangtua dari Park bersaudara.
"Maksudku, mereka bukanlah orang yang berurusan dengan dua idiot itu selama hidupnya. Mereka tidak tahu bahwa anaknya amat sangat gila yang mana tidak sembarang orang bisa menanganinya. Kita adalah orang yang tangguh, keluarga Park harus berterimakasih kepada kita, hyung!" Baekhyun berkata dengan menggebu-gebu.
Suho masih belum bereaksi, dan Baekhyun melanjutkan. "Memangnya siapa lagi yang bisa tahan dengan jiwa psikopat Kris? Siapa lagi yang bisa tahan dengan kelakuan Chanyeol yang gemar bertelanjang bulat? Hanya kita hyung, hanya kita."
"Kau benar…"
"Ini sangat tidak adil jika kau berpikir bahwa dirimu tidak pantas untuk Kris. Karena astaga, hyung! Kau sangat sangaaaat pantas. Persetan dengan orangtuanya, persetan dengan keluarga Park, screw them!"
Suho terlihat seperti ia baru saja dibangunkan dari tidur yang tidak berguna. Pada titik ini, ia setuju dengan Baekhyun. "Kau benar!"
"Of course I am!" Baekhyun mengangkat tinjunya ke udara. "Mari bersulang untuk kita berdua!"
"Yeah, bersulang untuk kita berdua!"
Baekhyun tidak yakin apakah ini betul-betul semangat juangnya dengan Suho yang menyatu, atau justru alkohol yang mulai menguasai dirinya. Namun mereka berdua tidak peduli. Dengan mengangkat gelas tinggi-tinggi, mereka berikrar untuk tidak menyerah (pada apapun itu), serta mengklaim bahwa keluarga Park-lah satu-satunya pihak yang harus merasa senang dan beruntung bahwa di dunia ini masih ada manusia normal yang sudi untuk menerima kedua putranya.
Setidaknya begitu yang mereka pikirkan.
Untuk saat ini.
Pada kenyataannya, keduanya tahu bahwa menjadi menantu keluarga Park bukanlah hal yang mudah mengingat mereka sedang menghadapi keluarga terpandang. Tapi persetan dengan itu semua. Hal termudah yang bisa mereka lakukan saat ini adalah berpikir bahwa mereka sangat pantas –bagi siapapun. Setidaknya hal pertama yang harus kau hargai adalah dirimu sendiri. Itu berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Namun sebaiknya tanpa alkohol.
"Ayo minum sampai pagi!"
"Mmmhhh…"
Baekhyun melenguh pelan dengan kedua mata yang masih menutup rapat. Ia bisa merasakan seseorang tengah bernapas di lehernya dan berhasil menemukan siapa orang itu ketika ia membuka mata. Chanyeol, tentu saja Chanyeol.
"Morning. Tidurmu nyenyak?"
Chanyeol mengendus-endus ceruk lehernya yang membuat Baekhyun sedikit geli. Si pemuda mungil kemudian memutuskan untuk bangun dan ia menyesalinya saat itu juga begitu rasa sakit di kepala tiba-tiba menyerangnya. Sial, ini pasti gara-gara semalam. Ia minum terlalu banyak tanpa bisa menyadarinya.
"Kapan kau kembali?" Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan justru menggantikannya dengan pertanyaan lain.
"Sekitar lima belas menit yang lalu. Aku tidak menemukanmu di kamar, dan Kris memberitahuku bahwa kau tertidur bersama Suho hyung di sini." Chanyeol menjawab. "Dengan dua botol wine yang kosong." Ia menambahkan.
"Uhh…" Baekhyun mengurut keningnya. Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya tertidur di kamar Suho.
"Here." Chanyeol memberinya segelas air, dan dengan sabar membantu Baekhyun untuk meminumnya. Setidaknya itu bisa sedikit meringankan pusing di kepala kekasihnya.
"Thanks." Baekhyun menghirup jeda beberapa saat. "Dimana Suho hyung?"
"That's it? Are you leaving me?"
Bahkan sebelum Chanyeol menjawab, suara Suho telah terdengar lebih dulu di luar sana. Pintu yang sedikit terbuka membuat Baekhyun dan Chanyeol bisa mendengar teriakan-teriakan di ruangan sebelah.
"Mereka bertengkar?" tanya Baekhyun khawatir.
Chanyeol terlihat sedikit ragu untuk menjawab, namun akhirnya ia bersuara. "Kris harus pulang ke Korea sekarang juga."
"We both know it's not like that. So stop being a pussy."
Kali ini suara Kris yang terdengar. Ia lebih tenang, berbanding terbalik dengan Suho yang terdengar cukup marah.
"Yes I'm a pussy! But this pussy know how to not running away from the problem!"
"I'm not running away. I'll deal with you later."
"Wow thanks God! You've made it very clear that I'm nothing more than just your sidekick. Of course your business comes first before anything."
Mendengar pertengkaran itu membuat Baekhyun canggung. Ia pun berniat untuk beranjak dari tempat tidur, berpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa meredakan peraduan argumen di luar sana. Namun tentu saja Chanyeol menahannya.
"Don't" Chanyeol mengatakannya nyaris seperti bisikan.
"Salah satu diantara kita harus menenangkan mereka." Baekhyun melawannya. Chanyeol mengangguk dengan sabar, menandakan bahwa ia paham -but the shit just don't work like that.
"Kris ada di sana, dan dia amat sangat tenang. Percaya padaku, ia tahu apa yang ia lakukan. Lagipula mereka bertengkar setiap saat bukan?"
"Chanyeol, tidakkah kau tahu apa yang baru saja terjadi diantara mereka?" Tanya Baekhyun. Karena sepertinya Chanyeol tidak tahu bahwa situasi sedang sangat serius sekarang.
Namun rupanya Baekhyun keliru. Chanyeol sangat tahu dan paham mengenai apa yang terjadi. "Aku tahu. Kris melamar Suho hyung dan ia ditolak. Mereka sedang melewati masa sulit, tapi mereka akan baik-baik saja."
Dengan sedikit kesal, Baekhyun berkacak pinggang. "How do you know?"
Chanyeol tersenyum, menatap Baekhyun dengan pandangan penuh arti. "Baby, they're stronger than you think."
Walau bagamanapun, Chanyeol adalah yang paling tahu diantara mereka berdua. Karena Chanyeol tinggal lebih lama dengan Kris dan Suho, bahkan mungkin pernah melihat pertengkaran yang lebih dahsyat. Jadi Baekhyun pikir, ia mungkin bisa menaruh sedikit kepercayaan pada kekasihnya tersebut.
"Baiklah." Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menyerah. "Tapi aku ada di pihak Suho hyung."
"Tentu saja sayang, tentu saja."
"Pick your side."
"Me? I'm on your side. Im always on your side, babe."
"Your'e a traitor." Baekhyun mendelik padanya. "Kau pergi dengan Kris semalam."
"Aku tidak akan mengulanginya. Maafkan aku." Ujar Chanyeol yang membuatnya terdengar lucu.
Dan ketika Chanyeol hendak mencuri sebuah ciuman, tiba-tiba suara pintu yang dibuka lebar-lebar, menginterupsinya. Kepala Kris muncul dibalik pintu dengan sebuah tas di tangannya. Ia betul-betul hendak pergi.
"Aku pergi sekarang. Tolong jaga yeobo-ku." Ujarnya tanpa repot-repot meminta maaf setelah menunda ciuman Chanyeol.
"Kami tidak akan berbicara denganmu." Baekhyun menyuarakan keberpihakannya pada Suho. Pokoknya dalam kasus ini, Kris adalah penjahatnya.
"You just did." Kris mencibir. Ia kemudian berpaling pada Chanyeol. "See you soon, brother."
Chanyeol membuat gestur OK dengan tangannya –karena Baekhyun dengan jelas tidak memperbolehkannya untuk berbicara dengan Kris.
Saat Kris menghilang di balik pintu, saat itulah mereka berdua turun dari tempat tidur untuk memeriksa keluar. Meskipun masih belum pasti apakah pertengkaran telah mereda atau belum. Namun nampaknya terjadi sedikit gencatan senjata karena ketika Baekhyun mengintip dibalik pintu, Kris masih sempat mencium kening Suho sebelum pria itu benar-benar pergi. Dan Suho terlihat menerima itu meski dengan kedua tangan yang bersilang di dada.
"See?" Chanyeol bertanya untuk membuktikan bahwa ia tidaklah keliru.
"You're right." Baekhyun menaikkan kedua alisnya. Ia pun berjalan keluar dari dalam kamar dan berakhir dengan memeluk Suho penuh pengertian. Pertengkaran adalah susuatu yang sulit, dan Baekhyun ingin Suho tahu bahwa ia selalu ada untuknya.
"Terimakasih sudah menemaniku semalam." Ujar Suho dengan tulus.
"Anytime, hyung. Anytime." Baekhyun mengelus punggungnya. "Aku dan Chanyeol akan kembali ke kamar, apa kau tidak keberatan dengan itu?"
"Tuhan, tentu saja tidak. Kalian butuh lebih banyak waktu untuk dihabiskan berdua. Jangan terganggu denganku, oke?" Suho meyakinkan bahwa Baekhyun tidak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan ragu untuk memanggilku jika kau butuh sesuatu." Ujar Baekhyun saat ia dan Chanyeol mencapai pintu keluar.
"Ya, kami akan datang. Kecuali jika kami sedang dalam sesi bercinta." Chanyeol menambahkan, yang mana itu amat sangat tidak perlu.
"Shut up." Baekhyun memukul tengkuknya.
Suho tersenyum. Ia seperti tengah melihat dirinya dengan Kris di masa-masa dahulu. "I'm so happy that you guys found each other."
"Oooohhh hyuuuung…."
Baekhyun tersipu malu kala mendengarnya. Dan Chanyeol hanya tersenyum. Senyum yang ia tunjukan kepada Suho yang mana mengandung makna, "Believe me, me too."
"Baiklah, sekarang pergi ke kamarmu sebelum Chanyeol memutuskan untuk bercinta dengamu di lorong hotel." Suho berkata pada Baekhyun. "Percaya padaku, dia akan melakukannya jika kau tidak segera menyeretnya ke kamar."
Chanyeol sangat tersentuh dengan ucapan Suho. "Ohh hyung, kau mengenalku sangat baik."
Baekhyun jelas tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jadi ia mengikuti saran Suho dan menarik Chanyeol untuk mengikutinya berjalan ke arah kamar. Ia berjalan tergesa dengan Chanyeol yang bersenandung bahagia.
"I'm a sucker for youuu, yeah…"
Suho masih memandangi kepergian mereka berdua, dan kembali ia tersenyum kecil. Saat Baekhyun dan Chanyeol menghilang dari pandangan, ia hanya bergumam pelan.
"Ahh.. young love."
.
.
.
Thank u, next
.
.
.
Mari kita pura-pura lupa bahwa sudah sebulan lebih sejak saya update story ini (dan setahun sejak ff ini dipublish, yikes!). Hell yeah. Anyway, kpop tahun ini lagi gak 'asyik' dengan segala problemnya. To be honest, im a fan of Big Bang since I was in JHS and Seungri is one of my fav. I do love him but when he's wrong, then he's wrong. I'll not defend him for his act. I hope the justice will be served. Its hard to believe of course, since I adore him so much, along with his hyungs. But yeah… no one can predict the future, rite?
Dan juga, belasungkawa terdalam untuk tragedi di NZ. Sedih banget waktu denger berita temen2 muslim disana. Prayers go to the victims and their families. Semoga pelaku terror dihukum seberat-beratnya. Saya percaya semua agama mengajarkan kebaikan, dan teroris… mereka ga punya agama.
Last, lets just spread love and peace 3
