Someone from the past
"Kalian akan pergi ke Dubai mall?"
Baekhyun mengangguk untuk menjawab pertanyaan Suho. Ia dan yang lainnya tengah berdiri di depan pintu keluar hotel sebelum memutuskan untuk berangkat ke tempat yang diinginkan.
"Ya. Rose bilang dia ingin berbelanja dan membelikan oleh-oleh untuk kerabatnya." Tukas Baekhyun.
"Lebih tepatnya oleh-oleh untuk dirinya sendiri." Kyungsoo yang juga ada disana, mengoreksi dengan santai. Mengabaikan tatapan membunuh yang Rose tujukan padanya serta gumaman kecil "Shut up" atau semacamnya.
"Hmmm… sepertinya aku akan mengunjungi tempat lain." Suho memutuskan tiba-tiba. "Tempat yang lebih sedikit pengunjungnya."
Baekhyun dan Chanyeol paham bahwa Suho sedang membutuhkan waktu sendiri guna menjernihkan pikirannya. Jadi mereka tidak mempertanyakan dan mengangguk mengerti.
"Aku ikut." Jongin berkata tiba-tiba.
"Kau ikut dengan kami." Chanyeol menarik kerah belakang Jongin dengan segera.
"Kenapa?"
"Karena aku berkata demikian."
"Kalau aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri.
Kali ini Baekhyun yang menjawabnya. "Kau juga. Kalian satu paket."
"Bagaimana denganku?" sekarang Jongdae.
"Kau bisa kembali ke hotel." Chanyeol menjawabnya.
"Kenapa aku selalu dianak tirikan?!"
"Kau bahkan bukan anakku."
"Chanyeol, jangan membuatnya menangis." Ujar Baekhyun. Ia pun beralih pada Jongdae. "Kemari kau bocah nakal."
Selepas berpisah dan sepakat untuk bertemu saat makan malam, mereka pun meluncur ke pusat perbelanjaan ternama di kota itu. Baekhyun sebenarnya tidak terlalu tertarik (kecuali jika ada diskon), namun ia senang pergi dan menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Terlebih Chanyeol ada di sana, dan mungkin mereka bisa melakukan sesi ciuman dikala bosan –dan di tempat yang aman tentunya.
Tak lama setelah menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan, Baekhyun langsung memperingati bocah-bocah yang berjalan di depannya.
"Ingat, jangan membuat masalah. Kalian mendengarku?" ujar Baekhyun pada trio yang lebih muda darinya. Ini bukanlah jalan-jalan biasa karena ia juga harus mengasuh ketiganya. Entah karena alasan apa, ia merasa bertanggung jawab atas kehidupan tiga idiot ini.
"Siap, Mommy." Mereka menjawab serempak.
"Katakan itu sekali lagi, kupelintir mulut kalian."
Jongin, Sehun, dan Jongdae bungkam dadakan.
"Cobalah untuk lebih bersabar Byunnie. Jika tidak, ubanmu akan muncul lebih awal." Rose mengingatkannya dengan suara tawa kecil yang tak tertahan. Kyungsoo yang turut berjalan di sampingnya ikut tersenyum jahil.
"Kalian tidak tahu bagaimana berurusan dengan mereka." -karena mereka biasa diasuh oleh Satan aka Kris Park yang Agung. Baekhyun berkata dengan helaan napas.
Ia dan Chanyeol berjalan di belakang. Sementara kedua sahabatnya mulai bergabung dengan trio lainnya. Ini tidak berarti mereka cukup akrab. Namun sepertinya mereka berlima terlibat dalam obrolan kecil. Baekhyun diam-diam mendengarkan karena suara di depan masih bisa tertangkap indera pendengarannya.
"Awalnya kukira kalian berpacaran." Adalah Jongin yang memulai percakapan. Ditujukan kepada Rose dan Kyungsoo yang kini saling menatap satu sama lain.
"No." Rose yang menjawabnya dengan gamblang. "Justru kukira kalian yang berpacaran." Ia membalikkan itu pada Jongin dan Sehun.
"Nope. But we fuck sometimes."
Chanyeol tertawa dan Baekhyun tersedak udara.
"They were joking, aren't they?" tanya Baekhyun pada kekasihnya. Dengan wajah yang sama seakan ia baru saja melihat kepala Jongin bertambah menjadi tiga.
"I don't know. You should go ask them." Chanyeol hanya mengendikkan bahu dengan tawa kecilnya.
Hingga setengah jam setelah berputar-putar, pada akhirnya mereka berpisah karena tidak menemukan adanya kecocokan –dalam artian selera. Baekhyun pergi bersama dua rekannya, sedangkan Jongin, Sehun dan Jongdae pergi bertiga. Chanyeol tentu saja mengikuti Baekhyun.
"Bukankah kau seharusnya mengikuti mereka?" tanya Baekhyun. Ia hanya tidak mau Chanyeol merasa terbebani karena harus ikut berbelanja dengannya. Yang mana, itu mungkin bisa sangat membosankan baginya. Baekhyun tidak keberatan ditemani, hanya saja ia takut Chanyeol bosan.
"Tidak?" Chanyeol menaikkan bahu. "Dan aku tidak peduli kalau mereka menghilang. Itu lebih baik."
"Kami bisa mendengarmu, hyung." Jongin tak terima.
"Uhhh…okay." Baekhyun menepuk telapak tangannya dan berbicara pada tiga idiot di depannya. Hanya untuk kali ini, dia berpikir mungkin melepas mereka bukanlah ide yang buruk. "Kalian boleh pergi. Dan kita akan bertemu kembali disini sekitar satu setengah jam lagi."
"Dia tidak tahu fungsi handphone." Bisik Sehun.
"Aku dengar itu, Oh Sehun!" Baekhyun menyalak. "Pokoknya satu setengah jam. Lebih dari itu, kalian akan kutinggal."
"Kami tinggal menelpon Kris, dan dia akan menyusul kemari."
Baekhyun merotasi bola matanya. "Kris tidak ada. Dia sudah pergi."
"Apa?" Jongdae terkejut. "Aku tidak menyangka dia meninggal secepat itu."
Jongin pun terlihat tidak percaya. "Kau bohong. Kris masih sehat-sehat saja kemarin."
Baekhyun tidak tahu apa yang lebih parah. Ia yang salah dalam pemilihan kata, atau justru mereka bertiga yang level kebodohannya sudah mencapai maksimal.
"Ya Tuhan, kalian benar-benar bodo—"
"Ini. Ambil ini dan pergi."
Chanyeol mengeluarkan sisa uang tunai yang ada di dalam dompetnya. Memberikannya pada Jongin agar ia dan kedua temannya cepat-cepat menghilang dari pandangan.
"Terimakasih, hyung. Kau memang yang terbaik—Hey, ini won!"
Chanyeol melambaikan tangan. Lalu mengajak Baekhyun untuk berjalan pergi menyusul kedua rekannya yang telah lebih dulu memasuki sebuah butik.
"How 'bout this one?"
Saat Baekhyun bergabung, ia bisa melihat Rose yang telah mulai memilih pakaian. Perempuan itu menarik sebuah dress bermotif bunga mawar dan memperlihatkannya pada Kyungsoo yang duduk dengan bosan.
"Kau mau syuting video klip?" tanya Kyungsoo.
Rose berdecak kesal. Ia menaruh kembali dress tersebut dan menggantikannya dengan gaun biru yang bercorak aneh. "Kalau ini?"
"Terlihat seperti serbet."
"Haish!" Rose ingin sekali melempar sepatunya pada pemuda itu.
"Apa? Aku hanya berkata jujur."
"Apa mereka selalu seperti ini?" Chanyeol berbisik pada Baekhyun dengan hati-hati. Kekasihnya yang sedang memilih baju hanya menoleh sebentar dan kembali melihat-lihat.
"Biasanya lebih parah. Tunggu sampai mereka saling mencekik satu sama lain."
Chanyeol dibuat tertawa. "Dan kau tidak ikut bergabung?"
"Kadang-kadang." Baekhyun lantas menggerakkan lehernya untuk menghadap Kyung-soo dan Rose yang masih bercekcok. "Beritahu aku kenapa aku masih berteman dengan kalian..."
"Seperti kau yang paling waras saja." Rose mencibirnya.
"Pada kenyataannya memang begitu."
Kyungsoo mengangkat tangannya. "Aku keberatan."
"Keberatan ditolak. Sekarang ayo mulai coba baju-baju ini. Kita tidak punya waktu seharian, bitches!"
Chanyeol hanya tersenyum kecil. Hal yang paling tidak pernah ia bayangkan di dunia adalah mengantar pacarnya berbelanja. Sungguh Chanyeol tidak pernah sudi menjadi kacung dan berjalan ke sana kemari. Tapi untuk kekasihnya yang sekarang, yaitu Baekhyun. Chanyeol bahkan rela mengikutinya kemanapun. Bukan tanpa alasan, karena ia suka melihat Baekhyun mengoceh hal-hal yang membuatnya senang.
Meski begitu, Chanyeol juga sedikit merasa kesal. Karena di tempat umum, itu berarti ia harus pandai-pandai menahan diri. Menahan diri untuk tidak meremas bokong Baekhyun di eskalator. Menahan diri untuk tidak mencium Baekhyun di depan toko. Dan menahan diri untuk tidak menurunkan celananya hanya karena melihat pantat Baekhyun yang padat dan kencang.
Chanyeol harus menjadi pria yang baik.
"Risletingku tersangkut. Ada yang bisa membantu?"
Baekhyun tiba-tiba memunculkan kepalanya dibalik tirai kamar pas.
Chanyeol menatap kedua rekan Baekhyun dengan alis terangkat. Adakah diantara mereka yang ingin membantu? Seolah itu yang ia ucapkan. Dan Kyungsoo dengan senang hati menjawabnya.
"Itu undangan untuk berciuman di kamar pas. Kau tidak berpikir kami akan masuk bukan?"
Ohh...
Chanyeol tersenyum miring. Memperlihatkan giginya yang rapi pada sang kekasih yang masih berdiri memohon seseorang untuk masuk.
"Okay."
Ia pun bergabung ke dalam sana.
"Hello."
"Hello yourself."
"Harus ada yang kulakukan saat kau mengundangku kemari." Chanyeol memberinya tatapan penuh tantangan.
Baekhyun mengendikkan bahu dengan wajah polos. "Aku tidak tahu. Kau yang putuskan."
"Tolong jangan lakukan hal lain diluar ciuman." Seseorang berkata dari luar, Kyungsoo. Ia pun melanjutkan bahwa mungkin mereka bisa tertangkap kamera pengawas dan mengingatkan bahwa pengunjung toko bukan hanya mereka saja, namun Baekhyun tidak terlalu mendengarnya dengan jelas. Lagipula, siapa peduli?
"God! I really want to eat you alive." Terdengar dari suaranya, Chanyeol setengah mengerang. Fakta bahwa ruangan sempit ini tidak cukup untuk membentangkan kaki Baekhyun sangat-sangatlah membuatnya frustrasi.
"Ayolah, kita tidak punya banyak waktu."
Baekhyun menarik leher Chanyeol penuh semangat. Ini harus setimpal bagi Chanyeol yang telah menjadi pria baik dengan menahan dirinya sejauh ini. Karena faktanya, Baekhyun pun merasakan gairah yang sama sehabis pesta seks mereka kemarin. Sangat sulit untuk melepaskan diri dari satu sama lain ketika mereka telah begitu terikat dan menyatu.
Chanyeol memberinya ciuman yang paling ia inginkan di siang hari ini. Rasa haus dan lapar terkalahkan oleh nafsu lain yang telah terisi. Baekhyun meraupnya dengan tak kalah serakah dan keduanya tak mau mengalah untuk mundur.
"Ini sudah lima menit." Rose menunjukkan jam tangannya pada Kyungsoo yang masih menemani dengan sabar. "Mereka belum keluar."
"Give them a break." Kyungsoo menatap bosan padanya. "Kecuali kau mau masuk dan memberitahu mereka."
"Memangnya aku tidak punya perkejaan lain selain mengganggu orang berciuman?"
"I don't know. You told me."
"Oh my God, ini bagus!" Tiba-tiba Rose melemparkan sebuah setelan jas tepat ke wajah Kyungsoo. "Pakai itu di hari ulang tahunku nanti."
"Oh. Kau akan mulai memperkenalkanku kepada orangtuamu?"
Kyungsoo mendengus. Ia dan Rose sama-sama tahu bahwa dirinya tidak akan sudi membuang-buang uang hanya untuk setelan ini (Lagipula Kyungsoo masih punya satu, bekas hari kelulusan SMA-nya dan itu masih layak dipakai). Dan ia pasti akan berakhir di situasi yang sama dimana Rose lagi-lagi akan menghamburkan uang padanya.
"Kau tahu aku bangkrut. Aku tidak bisa membayarnya." Kyungsoo mungkin memiliki beberapa banyak uang di tabungannya. Tetapi tidak sebanyak milik Rose yang bahkan bisa membeli seisi mall ini jika ia mau.
Namun gadis itu tidak peduli. Menghambur-hamburkan uang adalah bakat terpendam yang amat ia tekuni dengan rajin. Dan Kyungsoo sebagai sahabat sejatinya harus terlibat dalam hal itu.
"Untuk itulah kau punya aku."
Si pemuda hanya menghela napas. Mungkin Rose memang memiliki obsesi aneh untuk menghabiskan harta orangtuanya. Dan kabar buruknya adalah, jika Kyungsoo menolak, maka perempuan itu justru akan lebih marah.
"Hi guys!"
Chanyeol tiba-tiba keluar, diikuti Baekhyun yang berjalan di belakangnya sembari mengusap bibir dengan punggung tangan. Keduanya terlihat kacau; rambut berantakan, bibir bengkak dan merah, serta bekas gigitan di sekitar leher. Dan oh, nampaknya keduanya sangat menikmati hal itu, melihat senyuman di wajah mereka yang tidak luntur sejak keluar belasan detik lalu.
Rose hanya menatap Kyungsoo dengan wajah bosan.
"Why am i not surprised?"
"Ini sangat luar biasa! Kalian tidak akan percaya apa yang sedang kulihat sekarang. Ini dia Burj—Hyung! Berhenti mengupil dalam videoku!"
Di hari terakhir mereka di Dubai, Chanyeol dan yang lainnya memilih untuk mampir ke Burj Khalifa sepulang berbelanja. Lagipula, apa tujuan dari berlibur kemari jika bukan untuk mengunjungi gedung tinggi tersebut?
"Memangnya kau sedang apa? Membuat video liburan untuk pekerjaan rumahmu?" tanya Chanyeol pada si bocah SMA yang masih sibuk dengan kameranya. Anak itu lantas menjeda kegiatannya dan mendesah kesal pada Chanyeol.
"Seminggu yang lalu aku membuat akun youtube pribadiku, dan sekarang aku baru teringat untuk mengisinya. Jadi tolong berkerjasamalah. Jika aku terkenal, kau juga akan ikut bangga, hyung."
Anak muda zaman sekarang.
"Kalau kau terus sibuk dengan kameramu, kau akan melewatkan pemandangan bagus ini." Baekhyun turut serta dalam pembicaraan. Melemparkan pandangannya keluar jendela untuk memperlihatkan pada Jongdae pemandangan di luar sana. Daaaaann… itu benar-benar menakjubkan. Karena di ketinggian ini, ia bisa melihat seisi kota.
Saat teman-temannya yang lain mulai sibuk mengambil foto, Baekhyun masih berdiri dengan tenang di balik jendela. Ia belum mau mengalihkan penglihatannya dari pemandangan menakjubkan yang mungkin hanya akan ia alami sekali seumur hidup.
"Cantik sekali, bukan?" ia bertanya pada Chanyeol yang senatiasa berada di sampingnya.
"Ya."
Baekhyun lantas mengangkat wajahnya untuk melihat apakah Chanyeol memandang ke titik yang sama namun ternyata ia keliru. Karena Chanyeol sama sekali tidak melihat ke bawah, melainkan memaku tatapannya pada Baekhyun. Mungkin sedari tadi.
"Benar-benar cantik." Chanyeol melanjutkan.
"Kenapa kau suka sekali membuatku gugup?" Baekhyun bertanya dengan nada penuh candaan.
"Hmm… entahlah. Sepertinya aku cukup terhibur saat melihatmu tersipu malu. Walaupun yaaa… kau yang marah jauh terlihat lebih seksi."
"Astaga. Kenapa?"
"I don't know. Angry Baekhyun is hot Baekhyun."
Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan senyum heran. Sumur-umur, baru kali ini ada orang yang jatuh cinta padanya karena ia rajin marah-marah. "Kadang aku penasaran kenapa kau jatuh cinta semudah itu padaku."
"Kau cantik, menarik, dan pantatmu sempurna. Akan menjadi sebuah kejahatan jika aku tidak jatuh cinta padamu."
"Seriously?"
Chanyeol memberinya senyuman kecil. Tentu saja Baekhyun tidak akan percaya jika hanya itu alasannya.
"Baby, jatuh cinta itu mudah. Terutama kepadamu. Tapi apakah kau tahu apa yang sulit?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya.
Chanyeol membelai wajahnya dan menatap dalam-dalam.
"Tetap jatuh cinta."
Dan itu benar. Kadang orang-orang memang sering melupakan fakta tersebut.
"Thank you." Baekhyun bergumam tulus.
Chanyeol tidak yakin dengan apa yang ia dengar, jadi pria itu mengangkat alisnya sebagai pertanyaan.
"Terimakasih, atas semuanya. Terimakasih sudah mengajakku kemari. Dan terimakasih sudah menghabiskan waktu denganku. Aku sangat senang." Ujar Baekhyun. Karena ia merasa dirinya belum menyuarakan secara resmi betapa ia sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu di tempat ini.
"Uhh… kau membuatnya terdengar seperti kau akan pergi." Chanyeol menggodanya. Ia tidak terlalu terbiasa berada dalam obrolan yang serius dengan Baekhyun. Namun bukan berarti ia juga tidak menikmatinya.
"Tenang saja. Aku tidak berencana untuk pergi darimu."
Mereka bertukar tatapan cukup lama. Mendekat pada satu sama lain dan terbawa suasana hati yang memaksa untuk mengabaikan sekitar. Dan tentu, pemandangan matahari terbenam turut serta dalam menjadikan keadaan semakin romantis. Satu kali ciuman terdengar seperti ide bagus.
"Hyungs! Ayo kita berfoto bersama!"
Dan adegan (nyaris) romantis mereka sialnya harus berakhir oleh teriakan Kim Jongdae.
"Aku bersumpah akan membunuh anak itu."
Liburan berakhir dihari berikutnya.
Baekhyun dan kedua sahabatnya berpisah setelah turun dari pesawat. Tak lupa mereka berterimakasih kepada Chanyeol atas liburanya dan si pria mengatakan bahwa ini tidak akan menjadi yang terakhir. Mereka berjanji untuk pergi ke tempat lain di lain waktu.
Jongdae menyusul berpisah karena orangtuanya telah menjemput. Baekhyun merasa sangat aneh saat Tuan dan Nyonya Kim yang biasanya berisik dan penuh emosi kini sedikit lembut saat berbicara pada Chanyeol. Tetapi Chanyeol sendiri tidak begitu peduli. Toh ia yakin perilaku mereka akan kembali ke semula esok hari.
"Mari kembali ke rumah kita tercinta!"
Baekhyun sendiri tidak sadar sejak kapan ia begitu berseri-seri ketika seseorang berbicara tentang rumah itu. Ya, rumah yang awalnya terasa seperti penampungan orang dengan gangguan jiwa. Baginya sekarang, rumah itu terasa seperti satu-satunya tempat untuk pulang dan melepas penat.
"Oh, pintunya tidak dikunci."
Baekhyun mendengar Sehun bergumam saat mereka telah sampai di rumah dan mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil.
"Itu karena Kris ada di dalam." Ujar Baekhyun.
"Kau bilang dia meninggal?" tanya Jongin.
"Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."
Memasuki ruangan tengah, Baekhyun bisa melihat televisi yang menyala. Dan di depannya, Kris duduk dengan santai di sofa. Kedua kakinya berada di atas coffee table. Baekhyun mengernyit. Ia mengira Kris akan sibuk di kantor, bukan bermalas-malasan seperti ini.
"Kami pulang!"
Seruan Jongin dan Sehun tak ayal membuat Kris sedikit terlonjak. Apa dia serius tidak menyadari bahwa mereka baru saja masuk lewat pintu depan?
"Kukira kalian akan pulang besok?" Kris bertanya, lebih tepatnya kepada Chanyeol yang masih sibuk mengurus barang-barangnya.
"Kami pulang hari Kamis. Dan ini adalah hari Kamis. Kita sudah membahas ini sebelumnya." Chanyeol terlihat iritasi dengan pertanyaan Kris.
"Tapi kenapa kau tidak meneleponku?" Kris kembali bertanya. Bersamaan dengan matanya yang menangkap sosok Suho berjalan ke dalam rumah dengan menenteng tas. Ia cepat-cepat beraksi untuk membantu kekasihnya tersebut.
"Kenapa aku harus menelponmu? Kau bukan orangtuaku." Chanyeol semakin iritasi. Ini seperti Kris sama sekali tidak mengharapkan kepulangan mereka. "Kau bertingkah aneh. Apa kau menyembunyikan selingkuhanmu di rumah ini?"
Kris yang sedang membawa tas milik Suho seketika diam secara mendadak.
Chanyeol tiba-tiba merasa bahwa bencana akan segera terjadi. Karena apapun masalah yang dibawa oleh Kris, maka itu akan melibatkannya juga. Selalu.
"Astaga! Aku tidak percaya kalian tidak punya hairdryer!"
Chanyeol tiba-tiba membeku di tempatnya. Matanya melotot pada Kris yang sedari tadi masih berdiri dengan wajah seakan baru melihat hantu.
"Kau akan mati."
"Maka kau juga."
Mereka saling mengirim pesan rahasia lewat tatapan masing-masing.
"Oh, Hi everyone!"
Chanyeol memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Memastikan apakah ini hanya imajinasinya saja karena ia seperti baru mendengar suara perempuan yang selama ini dikenalnya. Ya, suara itu amat familiar. Dan jika itu benar, maka Chanyeol tidak akan ragu-ragu lagi untuk membunuh Kris setelah ini.
"Rachel?"
Chanyeol bertanya memastikan, mungkin untuk dirinya sendiri. Mengabaikan tatapan Baekhyun, Jongin dan Sehun yang mulai mempertanyakan eksistensi seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar Kris dan menyapa mereka –dengan rambutnya yang basah dan jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Plus, tanpa rasa bersalah.
Perempuan itu berambut merah. Wajahnya memberitahu orang-orang bawa dia memiliki darah campuran. Ia terlihat sedikit lebih tinggi dari Baekhyun. Berjalan dengan congkak seolah matahari hanya berputar di sekitarnya.
Dan Suho. Baiklah, dimana dia sekarang?
"Aku bisa jelaskan." Kris mengangkat kedua tangannya di depan Suho yang menatapnya seakan ia ingin membunuh pria itu di detik yang sama. Ia tahu Rachel, sangat tahu. Karena perempuan itu adalah bagian masalalu dari Park bersaudara.
Namun alih-alih menanggapi atau menampar Kris –atau apapun yang lebih parah daripada itu, Suho memilih untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya. Yang mana itu adalah keadaan yang terburuk. Karena lebih baik ia berteriak atau memukuli Kris daripada ia tidak berbicara apapun seperti sekarang ini.
"Yeobo, please…"
Saat Kris hendak mengikutinya, ia dihadiahi sebuah bantingan pintu.
"What the hell are you doing here?" Chanyeol bertanya pada Rachel dengan nada tak ramah.
"Oh, nice to see you too Chanyeol." Rachel merotasi bola matanya. Mungkin sedikit kesal karena Chanyeol tidak mau repot-repot menyapa dan berbasa-basi.
Baekhyun secara resmi tidak menyukainya.
Jongin, yang sedari tadi hanya menjadi penonton, mengangkat tangannya dan bertanya. "Can someone please tell me what the fuck is going on?"
Kalau boleh jujur, keadaan memang sedikit kacau di sini. Dan seseorang sebaiknya memiliki penjelasan atas apa yang terjadi.
"Kau pasti tahu sesuatu." Baekhyun menyenggol perut Chanyeol dengan sikunya.
"Percaya padaku, aku sama sekali tidak terlibat." Chanyeol menjawab jujur.
"Lalu kenapa kau mengenalnya? Dan kenapa dia mengenalmu? Apa ini sebuah kebetulan?"
Ketika Chanyeol hendak menjawab, ia berhenti saat mendengar tawa yang keluar dari mulut Rachel.
"Wow. You've been busy." Perempuan itu menyindirnya.
Chanyeol mendelik tajam. "And you've been complete idiot!"
Baekhyun seperi baru saja melihat Iron Man yang marah kepada Captain America dalam Civil War.
"Kurasa aku akan berbaring sebentar." Kris berbalik arah dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Kepalanya mendadak pusing untuk beberapa alasan. Namun itu sama sekali tidak mengundang simpati dari Chanyeol yang mana langsung menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Jadi ini bisnis yang membuatmu pulang lebih awal?"
"Just shut up and take my side."
"Well, I have news for you, big brother. I'll never gonna take your side."
Baekhyun, disisi lain sedikit kewalahan dengan situasi ini. Karena sedari tadi banyak sekali pertanyaan yang berkumpul di pikirannya dan ia perlu untuk menemukan jawaban. Untuk saat ini, ia berspekulasi bahwa Kris baru saja berselingkuh, membawa selingkuhannya ke rumah ini, dan mungkin lupa untuk mengantarkannya pulang di pagi hari. Barangkali memang itu yang terjadi. Dan sekarang, yang menjadi pertanyaan utama adalah: apa hubungan Chanyeol dengan wanita ini?
"Ah, aku benar-benar merindukan kalian berdua." Rachel tiba-tiba kembali bersuara. Memandang dengan wajah terharu pada Park bersaudara sebelum ia memindahkan tatapannya pada Baekhyun. "Ngomong-ngomong kau siapa?"
Alis Baekhyun berkedut. Bukankah seharusnya itu pertanyaan untuknya?
"He's my boyfriend. Don't touch him." Chanyeol langsung memberinya peringatan.
"Oh ya? Apa dia sebagus aku saat di tempat tidur?"
"Jesus Christ, would you shut the fuck up?"
Oh
Oh
Oh
Baekhyun menatap Rachel dengan intens.
"Kurasa aku mulai paham."
Kira-kira, sekitar satu jam setelah kedatangan penghuni rumah dari liburan, mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah guna mendiskusikan permasalahan yang sedang terjadi. Dan setelah beberapa bujukan, Suho bersedia untuk keluar. Karena jika Kris memiliki sesuatu untuk dikatakan, maka ia harus mengatakannya di depan semua orang. Selain karena ia telah melukai Suho, Kris juga telah melanggar peraturan tak tertulis dengan membawa pulang seorang tamu tanpa sepengatahuan penghuni rumah yang lain.
"Hey, bisakah kau membuatkanku segelas kopi?" Rachel bertanya pada Baekhyun yang langsung disambut dengan sebuah death-glare dari pemuda itu.
"I'm not a fucking Starbucks!"
Rachel membuang nafas.
Baekhyun menatapnya seakan ia ingin menggigit perempuan itu di sofa. Siapapun dia, apapun yang dia lakukan dengan Chanyeol di masa lalu, sama sekali tidak ada hubungannya sekarang. Dengan itu Baekhyun semakin merapatkan duduknya di samping Chanyeol. Memasang wajah seakan tengah berkata, "Yes bitch, he is mine. Now get out!"
"Ahem!"
Kris membuka obrolan dengan sebuah dehaman. Sambil membetulkan kerah bajunya yang sedikit sesak, ia menatap pada Suho yang duduk di seberangnya.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Terutama untuk Suho, dan untuk kalian." Ia mengalihkan matanya pada Jongin dan Sehun, anak-anaknya. "It wasn't fair." Tambahnya.
Suho terdiam sejenak dengan mata tertutup. Ia membuang napas sebelum berbicara.
"Kukira kau dan dia sudah berakhir sejak lama."
"Itu benar. Dan kami hanya berteman sekarang. Aku bertemu dengannya di bar dan kami minum, dia sangat mabuk, jadi aku memutuskan untuk membawanya kemari."
"Aku bisa berbicara sendiri, kau tahu." Ujar Rachel. Sedikit tersinggung karena Kris telah berbicara seakan ia tidak ada di sini.
"For the love of God, please, just shut your mouth." Chanyeol mengatakannya dengan frustrasi.
"Make me." Rachel membalasnya dengan tenang.
Baekhyun mempelajari bahwa mungkin Rachel adalah versi wanita dari Kris. Wajahnya yang menyebalkan, berbicara seolah ia tidak berpikir sebelumnya, dan sama sekali tidak menaruh peduli pada apapun yang sedang terjadi.
Kini, kembali pada diskusi. Suho tidak langsung membeli ucapan Kris. Ia membuang wajah sebelum kembali bertanya dengan serius.
"Did you sleep with her?" nada suaranya bergetar.
"Tidak, Tuhan. Aku tidak berselingkuh di belakangmu."
"Kau melakukannya! Aku berada jauh darimu dan kau memutuskan untuk pergi mabuk dengan wanita yang pernah mengacaukan hidupmu dan Chanyeol!"
Oke, ini mulai serius. Baekhyun mulai bisa melihat tangan Suho yang mencengkeram erat bantal di sofa. Mungkin benda itu akan melayang sebentar lagi jika Kris salah memilih jawaban. Dan semoga bantal sofa saja sudah cukup karena Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana jika vas bunga adalah benda yang akan dilempar selanjutnya.
Tapi jika menimbang bahwa target sasarannya adalah Kris, mungkin opsi terakhir itu boleh juga.
Dan ngomong-ngomong, sepertinya bukan ia saja yang bisa merasakan aura tegang di ruangan ini.
"Emmm… mungkin aku akan ke belakang untuk membuat teh." Jongin bangun dari sofanya. Ia terlihat tidak nyaman dan Baekhyun tidak bisa memaksanya untuk tetap tinggal.
"Aku juga akan pergi." Sehun menyusul berdiri. "Aku lupa memakai deodorant."
Baekhyun tersenyum kecil dalam hatinya. Berharap lain kali Oh Sehun bisa belajar untuk membuat alasan yang lebih masuk akal untuk menghindari percakapan.
"Itu masa lalu." Kris berbicara setenang air di dalam danau. Karena benar begitu kenyataanya. Perasaanya kepada Rachel telah menghilang jauh seiring berjalannya waktu.
"Dia berkencan denganmu, dan juga tidur di ranjang yang sama dengan Chanyeol. Gadis itu menghancurkan kalian dan saat situasi memburuk, ia justru melarikan diri." Suho semakin memperjelasnya jikalau Kris memang lupa perihal apa yang terjadi di masa lalu. Ini tidak seperti ia tahu secara persis situasi yang benar-benar terjadi saat itu. Namun Suho mengenal Kris dengan baik hingga ke titik dimana masalalunya berjalan.
"Apa aku masih harus berpura-pura sedang tidak berada di sini?" Tanya Rachel pada Chanyeol yang langsung menatap tajam padanya.
"Dia sudah berubah." Kris masih menjawab tenang. "Dia sudah banyak berubah."
"Apa kau mencoba membelanya di depanku?" tanya Suho dengan senyuman sinis.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya supaya kau tidak dibutakan kecemburuan. Lagipula…" Kris melayangkan matanya pada Rachel yang sedang sibuk meniup-niup kukunya.
"Dia seorang lesbian sekarang."
Rachel terlihat tidak terima.
"Biseksual, dasar kau tolol."
Baekhyun lantas melarikan pandangannya pada Chanyeol, dan rupanya itu bukanlah berita yang baru untuknya. Oh, jadi dia sudah tahu. Dan oke, Baekhyun sedikit lega saat mendengarnya.
"Dan aku masih tertarik untuk bersetubuh dengan Chanyeol." Rachel melanjutkan. Sengaja menarik senyum di depan Baekhyun untuk membuat pemuda itu terpancing emosinya.
"Over my dead body!" Baekhyun menyalak. Ia lantas menunjuk Chanyeol, lebih tepatnya ke arah selangkangan, dan berkata dengan mantap. "This idiot is mine."
"Heh!" Chanyeol menunjukkan senyum meledeknya pada Rachel sebelum akhirnya berbisik pelan di telinga Baekhyun. "Yes, babe. This dick is yours."
How lovely.
Sebelum perseteruan berlanjut, Suho memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia masih belum selesai dengan Kris, namun setidaknya ia sudah mendapat penjelasan. Dan apapun alasannya, ia masih tetap tidak menginzinkan wanita itu tinggal lebih lama di rumah ini.
"Apapun alasanmu, aku tetap tidak akan melupakan ini begitu saja, Kris."
"Tunggu, kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu." Suho menjawab sinis. Ia lalu beralih pada Rachel guna berbicara pada perempuan itu untuk yang pertama kalinya di hari yang melelahkan ini. "Dan kau, kau sebaiknya sudah menghilang sebelum aku kembali lagi kemari."
Rachel hanya diam. Tidak menolak tidak pula mengiyakan
Suho angkat kaki. Menuju pintu depan dan pergi entah kemana. Kris tidak mengejarnya, karena setidaknya ia telah berkata jujur dan kini ia tinggal menunggu amarah kekasihnya itu mereda. Tidak tahu sampai kapan tepatnya.
"Apa aku boleh bicara sekarang?" tanya Rachel.
Baekhyun, Chanyeol dan Kris menatapnya dengan datar sebelum mereka bertiga memutuskan untuk membubarkan diri.
"HEYYY!"
.
.
.
Thank u, next
.
.
.
Well?
