Another Drama
"Kau berhutang penjelasan padaku, hm?"
Baekhyun menaikkan alis, dengan kedua tangan di pinggang. Tadinya ia berniat untuk beristirahat di kamarnya, namun rasa penasaran terus memaksa untuk dipuaskan. Jadi di sinilah ia sekarang, mengikuti Chanyeol yang kini berbaring di tempat tidurnya. Sejak ia dan Chanyeol berpacaran, Baekhyun tidak segan-segan lagi untuk masuk ke dalam kamarnya ngomong-ngomong.
"Rachel, huh?" Chanyeol bertanya sembari mengusap-usap matanya. Jujur saja ia merasa lelah setelah penerbangan, dan mengharapkan untuk beristirahat dengan tenang selama beberapa menit. Namun Tuhan pun tahu bahwa rumah ini dengan segala problemanya amat sangat jauh dari kata ketenangan. Selalu saja ada keributan yang terjadi bahkan ketika kau baru menginjakkan kaki di sini.
"Siapa lagi?" Baekhyun bertanya tidak sabaran. Karena fakta bahwa perempuan itu pernah tidur bersama Chanyeol terus terang amat sangat mengganggunya. Chanyeol mungkin terlihat tidak lagi peduli dengan Rachel, namun siapa yang tahu? Perempuan itu terlihat seperti seseorang yang akan menjadi batu kerikil dalam hubungannya.
"Kemari." Chanyeol menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya. Meminta Baekhyun untuk berbaring di sampingnya sehingga mereka bisa bermaja-manja untuk beberapa lama.
Baekhyun menurut. Ia naik ke tempat tidur. Menyelipkan tubuhnya diantara tangan Chanyeol dan menjadikan lengan pria itu sebagai ganti bantalnya.
"Pastikan kau tidak tertidur saat aku bercerita."
"Tidak bisa kujanjikan, tapi oke."
Chanyeol pun menghela napas dan mulai bercerita. Baekhyun mendengarkan dengan seksama.
Pria itu memulai semuanya saat ia masih kanak-kanak. Dimana Kris dan Rachel adalah dua orang yang tumbuh bersamanya. Selisih usianya dengan Kris adalah enam, sementara Rachel adalah tiga. Mereka bersahabat sejak kecil, atau setidaknya terpaksa bersahabat karena Chanyeol tidak memiliki banyak teman.
Hingga seiring berjalannya waktu, Kris dan Rachel menjalin sebuah hubungan yang lebih dari persahabatan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua. Chanyeol tidak menganggap itu hal yang istimewa karena mereka memang sudah dekat sejak kecil. Meski sempat bingung sebenarnya hubungan macam apa yang mereka jalani.
Saat itulah dimana permasalahan dimulai. Chanyeol yang berusia 19 tahun merasa kesepian dan mengalami sexually frustrated. Dan dari semua pilihan yang ada, Rachel menawarkan sebuah kesempatan yang sulit ia tolak. Perempuan itu menamakannya 'Teman dengan Keuntungan'. Dimana mereka bisa bercumbu dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya namun dalam status sahabat. Tentu saja Kris tidak tahu. Karena Rachel mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu hal yang salah. Mengingat mereka telah bersahabat cukup lama dan sahabat tentu harus selalu ada untuk satu sama lain.
Lalu suatu hari, Kris memergoki mereka berdua. Tidur di ranjang yang sama dalam keadaan tidak memakai pakaian sehelaipun. Kris dan Rachel sempat bertengkar hebat dan saat itulah Chanyeol tahu bahwa mereka berdua ternyata berpacaran dan apa yang ia lakukan dengan Rachel adalah perselingkuhan. Chanyeol merasa dibohongi dan tentu saja merasa bersalah terhadap Kris.
Kris tidak berbicara dengannya selama beberapa hari. Dan Chanyeol merasa kesal saat itu. Karena lebih baik Kris berteriak atau berkelahi dengannya daripada ia didiamkan. Sadar bahwa Kris tidak akan memulai duluan, iapun kemudian memancing keluar emosi kakaknya tersebut.
"Katakan kalau kau marah! Katakan kalau aku salah dan kau merasa kecewa kepadaku! Sekalian berkelahi denganku dan kita selesaikan ini secara jantan!"
Itu yang Chanyeol katakan padanya. Meski ia sadar bahwa bukanlah dirinya yang berhak marah atas peristiwa ini, melainkan Kris. Namun saat itu, Kris justru merespon dengan perkataan yang tidak akan pernah Chanyeol lupakan seumur hidup.
"Aku tidak akan membiarkan kita berdua hancur hanya karena satu wanita. Itu tidak sepadan."
Selanjutnya, tepat di tengah kekacauan itu, Rachel memutuskan untuk pergi keluar negeri. Meninggalkan Chanyeol dengan amarah di dadanya, dan Kris yang patah hati meski pria itu pandai menyembunyikan. Namun kabar baiknya, semua kembali berjalan seperti biasa seolah badai itu tidak pernah terjadi.
"Dan, begitulah semuanya berakhir. Namun belakangan kudengar Rachel sering kembali ke rumahnya dan tinggal selama beberapa hari. Ia dan Kris kembali menjadi teman karena ternyata Rachel tidak lagi menyukai laki-laki. Tapi maaf saja, aku masih marah padanya karena apa yang telah dia perbuat." Chanyeol mengakhiri ceritanya, dengan nada sedikit dongkol.
Baekhyun menatap ke depan dengan bingung. "Aku hanya heran, bagaimana kakakmu bisa mengatasi semuanya dengan tenang. Maksudku, dia terlihat menerimanya begitu saja."
Chanyeol membuang napas. Satu hal yang telah ia pelajari sejak lama adalah Kris tidak seperti apa yang dilihat orang-orang. "Aku benci mengatakan ini. Tapi dia menahannya. Dia sialan selalu menahan diri demi figur kakak yang baik bagiku."
"Ohh…"
Baekhyun mulai bisa menyambungkan potongan cerita sedikit demi sedikit. Benar juga apa kata Chanyeol. Jika Kris tidak pintar menahan diri, mungkin pria itu sudah berada di penjara akibat dari jiwa psikopatnya.
"Dan Chanyeol, ini hanya pendapatku saja. Tapi kurasa Rachel memiliki sifat yang sama dengan kakakmu."
"Oh, kau menyadarinya juga?" Tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk.
"Itu benar. Bisa dibilang, Rachel adalah versi wanita dari Kris. Tidak heran kenapa mereka bisa kembali berteman bahkan setelah apa yang terjadi. Mungkin keduanya memang kembali karena rindu melempar sarkas pada satu sama lain." Pria itu lalu menatap pada Baekhyun dan meraba pipinya dengan lembut. "Tapi percaya padaku, dia bukan ancaman yang serius. Membuat orang lain marah memang bakatnya sejak dulu."
"Hmmph." Baekhyun mengangguk. "Kurasa aku memang tidak perlu terlalu memikirkan kata-katanya yang menjengkelkan itu."
Chanyeol tertawa.
"Tapi aku sangat suka Baekhyun yang posesif." Pria yang lebih tua berkata sambal mencuri sebuah kecupan di pipi Baekhyun.
"Tentu saja! Kau milikku. Tidak boleh ada yang mengganggu milikku bahkan jika itu hanya sebuah candaan." Baekhyun memajukan bibirnya. Ia bersungguh-sungguh.
Chanyeol ingin meleleh karena Baekhyun kini berkali lipat menggemaskannya. "Oh ya Tuhan, kau semakin membuatku jatuh cinta dari hari ke hari. Apa yang harus kulakukan padamu, hm?"
Baekhyun memandanginya lama. Ia mengelus permukaan pipi Chanyeol dengan ibu jarinya seraya berbisik pelan, "Stay with me."
Dan Chanyeol meraih tangannya tersebut. Mengecupnya sepenuh hati sebelum membalas tak kalah lembut.
"Promise."
Keduanya mengulum senyum.
Mungkin awalnya menjengkelkan, namun setidaknya setelah ini, Baekhyun kembali menemukan potongan cerita dari kehidupan Chanyeol sebelumnya. Sebelum pria itu bertemu dengannya.
Dan ia amat bersyukur atas hal kecil tersebut.
Pada pukul empat sore, Baekhyun terbangun setelah merasa mendapatkan tidur siang yang cukup. Ia tertidur di kamar Chanyeol. Ketika pertama kali membuka mata, pemandangan yang ia lihat adalah Chanyeol yang duduk di samping jendela. Sengaja dibuat terbuka karena ia sedang merokok dengan santai.
"Hai." Chanyeol menyapanya sebelum kembali menghisap sigaret.
"Hmmmhh." Baekhyun bergumam malas. Setelah mengumpulkan kesadaran, ia lantas bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Chanyeol ke dekat jendela.
"Sedang apa?" Baekhyun bertanya sambil memposisikan tubuhnya supaya berada dalam dekapan Chanyeol, dan berbalik dengan kepala bersandar di dada prianya.
"Menonton kontes orang bodoh." Ujar Chanyeol seraya menunjuk ke bawah. Tepat ke arah Jongin dan Sehun yang sedang berduaan di halaman belakang. Melompat-lompat lebih tepatnya.
Baekhyun mengikuti arah pandangan Chanyeol dan berkata. "Aku baru tahu kalian punya trampoline."
"Aku menghadiahkan itu untuk mereka berdua saat natal."
Baekhyun tertawa jenaka. "Kau selalu memperlakukan mereka seperti anak-anak."
"Mereka memang anak-anak yang terjebak di tubuh orang dewasa." Chanyeol mengambil jeda guna meniupkan asap. "Lihat saja, sebentar lagi mereka akan bertengkar."
Dan tidak butuh menghitung waktu lama untuk ucapan Chanyeol menjadi kenyataan. Meski hanya melihat dari jauh, Baekhyun sudah hafal betul bahwa mereka berdua sedang beradu mulut. Entah apapun itu masalahnya, hanya Tuhan yang tahu.
"Ayo turun." Ajak Chanyeol.
"Kau mau melerai mereka?"
"Tidak juga. Aku ingin menonton lebih dekat."
Baekhyun menepuk belakang kepalanya. Chanyeol hanya tertawa sambil berjalan keluar.
Saat turun dari tangga dan menemukan suasana rumah yang sepi, Baekhyun mengasumsikan bahwa Rachel mungkin sudah pergi. Suho belum kunjung kembali dan Kris, tidak ada yang tahu dia dimana.
Begitu menginjakkan kaki ke pintu belakang, Baekhyun sudah bisa mendengar suara-suara yang saling bersahutan. "Astaga. Itu hanya trampoline, apa yang mereka ributkan?" ia bertanya heran.
"Kau tidak boleh melompat bersamaan denganku!" itu suara Jongin.
"Kau tidak perlu peraturan untuk bermain trampoline!" dan itu Sehun.
Baekhyun menatap pada Chanyeol yang berjalan di sampingnya. "Mungkin kau harus membeli trampoline lagi agar mereka tidak berebut."
"Tapi natal masih lama."
"Chanyeol, sayang, tidak perlu hari natal untuk membeli sebuah trampoline."
"Baiklah. Mungkin nanti saat Halloween."
Baekhyun memandanginya dengan tatapan bingung.
"Aku hanya memberi mereka hadiah di hari-hari spesial." Terang Chanyeol.
Baekhyun hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan senyuman tak percaya, sebelum beralih pada dua bocah di depannya.
"Alright boys, what seems to be the problem here?" ia bertanya ramah.
"Tanya saja pada si bodoh yang melompat seenaknya ini." Jongin mendelik pada Sehun seakan ia ingin meludahinya.
"Aku tidak!"
"Kau iya!"
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!"
"IYA! IYA! IYA!"
Baekhyun bertanya-tanya kenapa ini adalah hidupnya.
"Aku bersumpah sangat merindukan rumah ini." Baekhyun berkata, mengingat kembali kenyataan bahwa ia telah pergi selama beberapa hari dan begitu rindu akan suasana rumah ini. "Kecuali fakta bahwa rumah ini seringkali membuatku pusing."
Ya, karena memang semua teman serumahnya merupakan wujud manusia dari sakit kepala itu sendiri.
Kecuali Suho. Kecuali Suho. Baekhyun mengatakannya dua kali.
"Wow! Hallo semuanya!"
Nampaknya Baekhyun melupakan tetangganya.
Ia berbalik badan, termasuk yang lainnya. Mereka menghadap ke tembok pembatas dimana seorang bocah duduk di atasnya. Baekhyun merasa déjà vu. Ini nyaris sama seperti hari pertama ia menghuni rumah ini. Kecuali fakta bahwa ia dan Chanyeol sudah berubah status sekarang.
"Kelihatannya asyik sekali di sini. Apa kalian sedang bersenang-senang?" Jongdae bertanya sambil melompat turun. Berjalan dengan santai seraya menyangga belakang kepalanya dengan kedua tangan.
Baekhyun mengambil handphone-nya dari saku celana dan mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Hallo polisi? Sepertinya ada penyusup—"
"Oi Hyung!"
Jongdae refleks merebut ponsel milik Baekhyun dan melihat ke layar. "Astaga. Kau betul-betul menelpon polisi." Ia pun menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.
"Pikirmu aku main-main hah?" Baekhyun bertanya sambil merebut ponselnya kembali. "Pintu depan di rumah ini dibuat bukan tanpa alasan!"
"Maaf maaf. Ini kebiasaan yang sulit dihilangkan."
DINGDONG!
Bicara soal pintu depan, sepertinya seseorang baru tiba di sana.
Belum selesai Baekhyun mengumpatkan kekesalannya, terdengar bunyi bel menginterupsi. Ia menghela napas. Tidak berharap bahwa ini akan menjadi masalah baru baginya. Bagi mereka semua.
"Siapa yang bertamu di sore hari ini?" tanya Baekhyun.
"Mungkin itu pengantar pizza." Jawab Chanyeol sekenanya.
"Kau memesan pizza?"
"Sebentar… uhmmm…oh! Tidak juga."
Baekhyun mengurut kening. Ia beralih pada Jongdae. "Kau, cepat bukakan pintu!"
"Kenapa ak—oh baiklah." Jongdae berjalan pasrah. Memangnya dia punya pilihan lain?
"Aku belum selesai dengan kalian berdua." Baekhyun menunjuk pada Sehun dan Jongin yang kini sedang berjongkok dan saling memunggungi satu sama lain.
"Aku tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Jika kulihat kalian bertengkar soal trampoline lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menjualnya. Kalian paham?"
"Kau tidak bisa melakukannya." Jongin protes.
"Oh tentu saja aku bisa. Aku bahkan bisa menjual kalian berdua kalau aku mau. Dengan harga murah."
Chanyeol tersenyum lebar sambil bertepuk tangan. Sangat bangga dengan ancaman Baekhyun terhadap dua bocah nakal ini.
Beberapa menit kemudian, Kim Jongdae kembali bergabung dengan mereka. Wajahnya terlihat memerah. Tepatnya di bagian pipi dan ia mengelus-elusnya dengan telapak tangan.
"Dia seorang wanita. Sangat cantik dan tidak terlalu tinggi. Wajahnya mengingatkanku pada Sohee di Wonder Girls. Dan saat aku menanyakan apakah dia betul-betul Sohee, dia menamparku."
Sejujurnya Baekhyun terlalu bingung untuk bereaksi.
"Astaga! Itu pasti Minseok nuuna!" Jongin tiba-tiba berteriak dengan wajah penuh terror. "Sembunyikan aku!"
"Siapa itu Minseok nuuna?" tanya Baekhyun pada Chanyeol.
"Kakak tertuanya." Jawab Chanyeol. Pria itu kemudian beralih pada Jongin. "Apa kau membolos kuliah lagi?"
"Tidak, aku bersumpah! Aku memang pergi berlibur dengan kalian tapi aku yakin sudah meminta izin."
"Lalu apa yang membuatmu ketakutan?" Baekhyun bertanya bingung.
"Karena dia memang menakutkan."
"Siapa yang kau bilang menakutkan, bocah sial?!"
Baekhyun secara refleks menoleh ke belakang dimana suara itu berasal. Saat berbalik, ia menemukan sosok perempuan cantik dan sejujurnya cukup imut. Dengan tatanan rambut diikat ke atas, kaus putih dan celana jeans sederhana, perempuan ini sangat jauh dari kata 'menakutkan'.
"Noona!" Jongin berseru seperti baru saja melihat hantu. Ia melompat secara spontan dan bersembunyi di belakang tubuh Chanyeol.
"Aku tidak tahu apa kesalahanku. Tapi kau boleh memukulku… asal jangan di wajah. Aku ada kencan besok sore." Jongin berujar tak karuan.
"Aku akan dengan senang hati melakukannya tapi sayangnya, aku tidak datang kemari untukmu." Sohee—oh bukan, tapi Minseok nuuna, berkata dengan enteng.
"Tumben sekali noona datang kemari." Ujar Chanyeol.
"Ya, hallo juga untukmu Chanyeol."
"Uhh…" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Hallo noona, bagaimana kabarmu?" Chanyeol kali ini menyapa dengan benar.
"Kabarku baik. Terimakasih sudah bertanya. Sekarang langsung saja, dimana Kris?"
Perasaan Baekhyun mulai tidak enak. Apa ini akan menjadi judul drama yang terbaru?
"Sebenarnya aku juga tidak tahu." Chanyeol menjawab jujur.
"Apa dia ada di rumah?"
"Eummm… mungkin?" Chanyeol terdengar tidak yakin.
Minseok terlihat menghela napas dalam-dalam. Tak lama kemudian, ia berteriak nyaring.
"KRIS, KAU BAJINGAN! KELUAR DAN HADAPI AKU SECARA JANTAN!"
Baekhyun tersenyum tipis. Tentu saja. Tentu saja ia tidak akan mendapatkan ketenangan begitu saja di rumah ini. Karena tebak apa? Ya, ini adalah hidupnya. Hidupnya sudah dikutuk untuk selalu berurusan dengan keributan yang disebabkan oleh para idiot di sekitarnya. Kurang lebih, itulah kerugian bagi orang waras.
Minseok pun berjalan ke dalam rumah. Dan tanpa sadar, yang lain mengikuti.
"Apa… eum, apa aku harus memperkenalkan diri?" Baekhyun bertanya hati-hati pada Chanyeol yang kemudian melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Nanti saja kalau dia bertanya." Jawab Chanyeol tak kalah berhati-hati. Melihat gerak-gerik kekasihnya yang terlalu waspada, Baekhyun yakin Minseok adalah wanita berbahaya dan mungkin kali ini ia setuju dengan Kim Jongin.
"Noona, apa yang terjadi? Apa ada masalah?" tanya Jongin, yang kini menyamakan langkah dengan kakaknya.
Minseok tiba-tiba berhenti, dan tanpa tedeng aling-aling, melibas kepala Jongin dengan tangannya hingga pemuda itu tersungkur ke depan.
"Yak! Tentu saja ada masalah! Kakakmu Suho diperlakukan tidak adil oleh si bedebah Kris dan kau masih membiarkan bajingan itu hidup? Adik macam apa kau ini?"
"Noona, ini semua salah paham."
Minseok ternganga dengan mata melotot. Ia melempar pandangannya pada Chanyeol dan bertanya. "Apa kau mendengarnya? Dia baru saja membela Kris…"
"Benar. Nampaknya sekarang ia sudah berpihak pada Kris." Dan Chanyeol justru menyiram bensin dengan senang hati.
"Hyung!"
"Kenapa ribut sekali? Aku tidak ingat mengundang rombongan sirkus ke dalam rumah." Kris, manusia biadab yang menjadi target kemarahan, akhirnya memunculkan diri. Keluar dari dalam kamar dengan mata yang masih menutup dan mulut menguap.
Minseok tiba-tiba terlihat tenang. Ia menoleh kepada Baekhyun. "Siapa namamu?"
"Byun Baekhyun."
"Baekhyun. Ambilkan aku segelas air."
Baekhyun bergerak secara otomatis. Ia berlari ke dapur dengan segera untuk mendapatkan apa yang diminta Minseok.
"Lama tidak berjumpa, kakak ipar." Kris menyapa setelah matanya menangkap dengan jelas siapa sosok yang berdiri di depannya.
"Kau pikir masih bisa hidup dan bersantai-santai setelah apa yang kau lakukan pada adikku? Oh ya ampun, kau salah besar."
Di belakang sana, Jongin berbisik pada Chanyeol. "Hyung, kurasa kita harus menghentikan ini sebelum terjadi sesuatu."
"Hah! Omong kosong!" Chanyeol tertawa sambil mengeluarkan handphone-nya untuk merekam momen tersebut. "Aku sangat suka drama keluarga."
Sehun dan Jongdae diam-diam merapat ke dekatnya.
Tak lama kemudian, Baekhyun kembali. Ia menyerahkan segelas air mineral pada Minseok dengan hati-hati. Dan mundur perlahan untuk bergabung dengan penonton yang lain.
Minseok meminumnya dengan terburu-buru.
"Jadi…. Suho mengadu padamu?" tanya Kris.
Dan… BUURRR! Pertanyaan itu direspon dengan semburan air.
Bersumber dari Minseok, dan ditujukan kepada wajah Kris yang tampan. Tentu saja bukan karena tersedak, namun murni kesengajaan.
Kris menatap datar pada wanita di depannya. Sama sekali tidak berniat untuk mengusap wajahnya yang basah kuyup. "Apa ini semacam ritual pengusiran setan?"
"Ya. Dan kau adalah setannya!"
"Kakak ipar, aku bisa jelaskan—"
BYURRR. Minseok menyemburkan sisa air yang ada di dalam gelas. Dan kembali, wajah Kris menjadi sasaran.
"Setidaknya beri aku waktu untuk menghindar." Gumamnya.
"Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah bisa mengetahui semuanya saat melihat adikku menangis di kantornya."
"Suho menangis?" Kris terlihat terkejut. Hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini adalah membuat Suho menangis, dan ia, dengan segala kebodohannya baru saja menyebabkan hal itu terjadi.
"Sudah cukup dengan acting pura-pura bodohmu. Aku sudah muak. Jongin, ambil tongkat pemukulmu sekarang." Minseok kembali memberi perintah.
"Tapi noona, aku tidak punya—"
"Kau punya! Di bawah tempat tidurmu!"
"Noona…."
"CEPAT!"
"Apa kita masih harus menjadi penonton dan diam saja?" tanya Baekhyun.
Chanyeol yang sedang tertawa sambil asyik merekam video, menoleh padanya sebelum kembali fokus pada tontonan. "Just enjoy the show, baby."
"Apa aku sudah boleh mulai berlari?" Kris bertanya.
"Lari secepat yang kau bisa tapi aku tidak akan berhenti sampai bagian tubuhmu ada yang patah." Minseok mengancamnya.
Dan yang terjadi selanjutnya, sungguh sesuai apa yang dikatakan Minseok. Selepas Jongin menyerahkan tongkat pemukulnya (dan bergumam, "Maaf, Dad"), Baekhyun sama sekali tidak bisa mengendalikan keadaan. Karena, ini terlalu sulit untuk dikontrol. Kris yang berlarian ke setiap penjuru rumah, Minseok nuuna yang mengejarnya dengan tongkat pemukul, dan mereka yang tersisa hanya bisa menonton pertunjukan tersebut.
"Aku tidak tahu dengan kalian, tapi sepertinya aku mulai jatuh cinta." Jongdae tiba-tiba bergumam. Membuat mereka yang duduk di sofa bersamanya, secara spontan menolehkan kepala.
"Apa otakmu tiba-tiba rusak karena tamparan itu?" tanya Baekhyun, penasaran. Bisa saja otak anak itu bergeser hingga ke tumit sehingga ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan.
"Memangnya apa yang salah dengan jatuh cinta?" anak itu membela diri.
"Aku yakin Minseok noona seumuran dengan bibimu."
"Nick bahkan menikahi Priyanka yang berbeda sepuluh tahun darinya. Itulah cinta!"
"Setidaknya Nick bukan bocah belasan tahun yang masih suka mengompol di celana."
Jongdae menghela napas. Ia tidak mau melawan karena tahu itu hanya sia-sia. Tidak pernah ada yang memihaknya di rumah ini.
Hingga sepuluh menit berlalu, aksi kejar-kejaran masih berlangsung. Dan imbasnya adalah barang-barang di dalam rumah, yang sebagian sudah rusak akibat terkena hantaman tongkat pemukul.
"Siapa yang akan membereskan semua ini?" tanya Baekhyun.
"Yang pasti bukan kita, baby." Chanyeol masih sibuk merekam. "Kris, kalau kau mati, apa aku boleh dapat mobilmu?"
"No chance in hell!"
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan yang dibuka dengan kasar. Baekhyun langsung melirik ke arah sana, dan menemukan Suho sedang berdiri terengah-engah. Jelas sekali bahwa sepertinya, ia berlari atau setidaknya terburu-buru untuk sampai kemari.
"Dimana mereka?" tanya Suho.
Lima telunjuk langsung mengarah ke sudut dimana Kris dan Minseok masih sibuk dengan urusan mereka. Suho menghela napas berat, sebelum ia berjalan untuk bergabung dengan mereka berdua.
"Noona! Noona, tolong hentikan, ini semua hanya salah paham." Suho berseru di depan kakaknya tersebut. Ia berdiri di sana untuk menghindarkan Kris dari pukulan.
"Kukira kau yang mengirimnya kemari." Ujar Kris di belakangnya.
"Aku bahkan belum menyelesaikan ceritaku dan dia sudah pergi untuk memburumu. Tidak sempat kukejar karena dia mengemudi seperti orang gila." Suho menjelaskan dan Baekhyun belum pernah melihat pria itu berbicara dengan cepat seakan ia tengah dikerjar anjing galak.
"Minggir! Kenapa kau melindunginya sekarang?" Minseok bertanya heran.
Baekhyun memperhatikan itu dengan seksama dan menarik kesimpulan. Bahwasanya, meski Suho memang amat sangat murka terhadap Kris, namun pria itu masihlah peduli.
"Kami… kami sebenarnya sudah menyelesaikan ini secara baik-baik." Suho masih bersikeras menjelaskan.
"Lalu katakan lagi padaku kenapa kau menangis di kantormu, huh? Aku ingat kau berbicara tentang si bedebah ini."
"Itu karena aku terlalu emosi, dan aku butuh melampiaskan emosiku, nuuna. Aku bahkan belum selesai bercerita padamu dan kau sudah terlanjur pergi."
Dan ini sepertinya berhasil, melihat Minseok kini menurunkan tongkat pemukulnya. Keadaan menjadi sedikit lebih dingin. Setidaknya, barang-barang di rumah ini tidak akan lagi menjadi korban.
"Kau pasti melewatkan bagian dimana perempuan yang kubawa adalah seorang lesbian dan kami tidak saling tertarik satu sama lain." Kris turut menjelaskan. Dan kenapa tidak dari tadi?
"Tapi tetap saja kau membuatnya menangis!"
"Oke, itu memang tidak termaafkan." Kris mengakuinya secara jantan. "Jadi, bisa kita hentikan ini sekarang?"
Tidak ada perlawanan kali ini. Minseok dengan suka rela menurunkan senjatanya dan setelah itu, mereka semua bisa bernapas lega. Kecuali Chanyeol, yang sedikit merajuk karena tontonannya berakhir tidak sesuai harapan.
"Anggap ini sebagai peringatan. Jika kau mengacau lagi lain waktu, kupastikan tulang lehermu itu tidak akan lagi berada di tempatnya."
Kris mengangguk paham.
Dan Baekhyun berpikir barangkali Minseok justru lebih psikopat jika dibandingkan dengan Kris.
Dan… begitulah drama ini berakhir dengan sangat tidak estetik. Setelah diyakinkan bahwa Suho dan Kris akan baik-baik saja, Minseok akhirnya betul-betul tenang dan memutuskan untuk angkat kaki. Tidak ada yang lebih melegakan lagi daripada itu.
"Lalu bagaimana dengan kekacauan ini?" Tanya Kris.
"Kau orang kaya, lakukan sesuatu dengan uangmu." Minseok berkata sebelum ia betul-betul pergi dari rumah itu. Meninggalkan orang-orang yang menghela napas di belakangnya.
Satu lagi hari yang penuh drama di rumah ini. Dan Baekhyun sejujurnya terkejut ia masih bisa hidup setelah apa yang terjadi. Setelah semua hal tidak masuk akal yang terjadi bahkan saat ia baru saja kembali.
What a (beautiful) messy life.
.
.
.
Thank u, next
.
.
.
(I knew most of you always skip the notes. But yeah, here it is)
Beberapa dari kalian kurang nangkep humor di chapter kemaren, mungkin karena penggambaran karakter Rachel yang terlalu 'villain'. No guys, saya bisa pastiin kalo dia bukan antagonis 'yang itu', cuma emang rada nyebelin macam Kris awkwkwkwk.
Makasih selalu buat review dan favs dari kalian. Dan, ff ini masih banyak kekurangan, sooo… jangan ragu buat ngoreksi dan kasih saran.
See ya!
