Poison
Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki jiwa Byun Baekhyun kala itu. Karena selepas peristiwa "Penghakiman Kris Park", ia mengajukan diri untuk memasak makan malam. Biasanya, Chanyeol-lah yang berlaku sebagai chef di rumah itu jika Suho tidak ada (Bukan berarti Suho pandai memasak, tidak). Atau mereka hanya mengandalkan jasa pesan antar ketika benar-benar malas. Namun saat itu, Baekhyun secara sadar menyatakan diri untuk memasak. Dia tidak terlalu lihai dalam hal itu, akan tetapi ia cukup percaya diri. Karena sebelumnya, ia tinggal sendiri dan sering memasak makanannya sendiri. Jadi setidaknya, hasil olahannya masih layak untuk dikonsumsi.
Sementara itu, yang lainnya sibuk membereskan sisa kekacauan. Mereka berbagi tugas untuk mengepel, menyapu, dan merapikan barang-barang. Awalnya mereka mengeluh karena ini semua adalah ulah Kris, jadi pria itu yang mestinya bertanggung jawab. Namun Kris berkilah bahwa mereka adalah keluarga. Dan keluarga sudah sepatutnya saling bergotong-royong.
Meski begitu, tetap saja barang-barang yang rusak ia yang mengganti.
"Kapan kau akan menggantinya?" suara Chanyeol terdengar bahkan hingga ke dapur. Baekhyun yang sedang mencicipi olahannya bisa ikut mendengar percakapan karena mereka berbicara seakan tengah berteriak satu sama lain. Ini bukan hutan!
"Aku sudah pesan secara online." Suara Kris terdengar.
Baekhyun mengangguk-angguk. Mereka pasti sedang membicarakan furniture yang rusak.
"Bisakah kau pesan juga tv yang baru?"
"Tv-nya tidak rusak, brother."
"Tapi kita butuh yang lebih besar." Kini suara Jongin terdengar.
"Ugh. Fine. Kupesan sekarang."
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah datar. "Fucking rich people."
"I heard that!"
Baekhyun nyaris tersedak kuah sup.
Dan berdasarkan hasil pengamatan Baekhyun, nampaknya Kris dan Suho sudah berdamai meski tidak dideklarasikan secara langsung. Emosi Suho telah mereda seiring dengan permintaan maaf dari Kris yang mengalir tanpa henti. Lagipula yang Baekhyun tahu, pria pemilik rumah itu memang bukan tipikal orang yang gemar berlama-lama dalam menyimpan amarah.
"Butuh bantuan, sayang?" Chanyeol tiba di dapur untuk menawarkan bantuan.
Baekhyun mematikan kompor. Ia mendongak sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Oh? tidak. Ini sudah selesai."
"Biar aku saja." Chanyeol cepat-cepat ambil bagian saat Baekhyun hendak memindahkan panci ke meja makan. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk membantu.
"Kalian sudah selesai?" Baekhyun bertanya seraya melepaskan apron dan menaruhnya di counter.
"Hanya tinggal mengganti barang-barang yang rusak. Sisanya sudah dibersihkan." Chanyeol berbalik dan secara spontan berhadapan langsung dengan Baekhyun. Pria itu memanfaatkan kesempatan untuk mendekat. Membuat tubuh Baekhyun terpojok hingga ke ujung counter dan menguncinya dengan kedua tangan.
"Kau terlihat lezat." Suara Chanyeol berdesis tepat di depan telinga Baekhyun. Membuat si mungil menggeliat karena geli dan Chanyeol memutuskan untuk semakin menggodanya dengan menjilat telinga tersebut.
"Aku bukan hidangan pembuka." Baekhyun berkata diiringi tawa kecilnya.
Saat hendak berciuman, keduanya dikagetkan oleh sebuah teriakan.
"COMMERCIAL BREAK!"
Baekhyun mengintip dibalik pundak Chanyeol. Disana ia bisa melihat Jongin yang berjalan menuju meja makan dengan wajah kelaparan. Dia adalah yang barusan berteriak.
"Aku benci mengganggu aktivitas kalian, tapi aku lebih benci membuat perutku kelaparan." Ia berkata sambil mendudukkan dirinya di kursi. "Aku berjanji akan melakukan ini dengan cepat, jadi kalian bisa melanjutkan urusan kalian nanti."
Chanyeol berbalik, mendesah kesal dengan tangan di pinggang. "Kau tahu, aku mengampunimu kali ini."
"Astaga. Aku sangat diberkati." Jongin mengatakannya dengan nada monoton.
"Baiklah, dimana yang lain?" Baekhyun bertanya kali ini.
Jongin membalik piring dan berkata dengan santai. "Bunyikan saja loncengnya dan mereka akan segera kemari."
"Kau kira ini panti asuhan..."
"Aku berpikir tentang rumah tahanan."
Baekhyun menggelengkan kepala. Ia dan Chanyeol lantas bergabung di meja makan bersamaan dengan satu orang lagi yang ikut bergabung yaitu Sehun.
"Aku lapar." Ujarnya saat mendudukkan pantat di kursi.
"Dude, kita semua lapar." Jongin menanggapinya.
"Hmmm… kau masak apa hyung? Baunya enak sekali." Semua kepala menoleh ke pintu, dimana seseorang lainnya baru saja bergabung. Kim Jongdae.
"Maaf. Kursinya sudah penuh." Kata Jongin.
"Masih tersisa dua!" Jongdae menunjuk sisa kursi yang ada di sana.
"Itu untuk Kris dan Suho hyung, mereka suda memesan sejak jauh-jauh hari."
"Kalian membuatku membantu membereskan rumah dan tidak memberiku makan? Aku tidak percaya kalian begitu tega—"
"Siapa bilang kau tidak dapat jatah makan? Aku hanya mengatakan kalau kursinya sudah penuh."
"Kau terlalu banyak menonton drama." Sehun turut menimpali.
Jongdae tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi ceria. "Oh, tidak apa-apa. Aku bisa duduk di pangkuan Baekhyun—"
Whusss!
Sebuah pisau roti melayang ke arah Jongdae. Beruntung anak itu sempat menghindar dengan berjongkok sebelum mata pisau menancap di dahinya.
"WHAT THE ACTUAL FUCK?!" Jongdae mengumpat, masih dengan berjongkok dan kedua tangan di telinga. Matanya tertuju pada Park Chanyeol yang sedang membalik piring dengan wajah tenang karena ialah pelaku daripada pelemparan pisau tersebut.
"Ooops! Tanganku sedikit licin." Chanyeol berkata dengan tenang.
"Bagaimana kalau benda itu melukaiku, hyung?"
"Bagus. Memang itu tujuanku."
"Ingatkan aku untuk tidak lagi datang kemari." Jongdae bergumam pelan. Ia menggelengkan kepala, sebelum akhirnya menarik kursi dan bergabung di meja makan.
"Aku belum setuju kau duduk di sini." Jongin kembali berkata.
"Demi Tuhan, lantas dimana lagi aku harus duduk?"
"Entahlah. Toilet, mungkin?"
"Sudahlah, berhenti mengganggunya." Baekhyun segera melerai perundungan terhadap si bungsu (dalam situasi ini, dia yang paling muda). "Dimana Suho hyung dan Kris?"
Jongdae menengok ke arah pintu sebelum kembali kepada Baekhyun dan menjawab. "Terakhir kali kuperiksa, mereka sedang berciuman di sofa. Dan kalau aku tidak salah dengar, mereka akan melanjutkan sisanya di kamar."
"Apa? Oh tidak." Jongin langsung berbalik dan berteriak. "NOT IN MY GODDAMN ROOM!"
Alis Baekhyun meninggi dan Chanyeol dengan senang hati menjawab. "Mereka sering hilang kendali dan memilih kamar secara acak."
Baekhyun tersenyum prihatin dan berharap kamarnya tidak menjadi target.
"Apa kita hanya akan mengobrol dan melewatkan makan malam?" Jongdae menginterupsi karena sedari tadi, makan malam belum juga dimulai.
"Ini akan dimulai setelah kau menutup mulut sialanmu." Ujar Baekhyun.
Chanyeol lantas memimpin do'a. Setelah selesai, Baekhyun membagikan nasi dan lauk pauk kepada semuanya. Dalam benaknya ia menggeleng heran. Dirinya sama sekali belum menikah tapi sudah harus mengurusi satu suami dan tiga orang anak.
"Selamat makan."
Mereka memulai dengan tenang.
Chanyeol mencoba supnya lebih dulu. Satu suapan, tidak ada masalah. Dua suap—oke, ini mulai aneh. Saat di suapan ketiga, barulah ia menyadari sesuatu.
Bahwa masakan Baekhyun, amat sangat luar biasa.
Tentunya dalam artian tidak bagus.
Matanya kemudian bertemu dengan tiga orang anak di depan. Mereka balas menatap dan membuat gestur seakan ingin muntah. Chanyeol langsung melotot tajam. Tanpa bersuara, mulutnya membentuk sebuah kata yang mana berarti perintah bagi ketiga pemuda di depannya.
T-E-L-A-N
"Bagaimana menurutmu?" tanya Baekhyun pada Chanyeol.
Pria itu tahu bahwa yang Baekhyun maksud adalah mengenai makanannya. Jadi, Chanyeol pun memasang senyum.
"Ini sangat enak, sayang." –rasanya seperti air cucian piring. "Dan aku tidak tahu kalau ternyata kau pintar memasak." –memasak makanan beracun.
Fucking white lies.
"Oh, kau terlalu memuji." Baekhyun tersipu malu. "Aku hanya melihat resep di Google, dan menonton acara memasak di tv, The Chef Show… Dan oh—aku sempat berpikir untuk ikut kompetisi memasak."
"Jangan!" Ketiga pemuda lainnya berteriak bersamaan. Yang mana langsung mendapat tatapan penuh tanya dari Baekhyun, plus tatapan penuh ancaman kematian dari Chanyeol.
"Maksud ku…" Jongin mencoba menjelaskan. "Maksud kami, jangan ragu-ragu."
"Ya, itu dia."
"Itu maksudku."
Baekhyun kemudian mengangguk-angguk.
"Baby, bisa ambilkan aku segelas air dingin?" Chanyeol tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Sure."
Ketika Baekhyun berjalan menuju kulkas, saat itulah mereka semua berdiskusi.
"Aku tidak tahu dengan kalian, tapi kurasa aku sudah bisa melihat kematianku. Makanan ini sungguh sebuah tragedi." Sehun mengawali sesi percakapan itu.
"Dengar, Sehun. Jika kita meninggal malam ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa pertemanan ini adalah segalanya." Jongin mengatakannya dengan serius.
"Aku tidak menyangka bahwa aku akan meninggal di usia sembilan belas tahun." Sehun menanggapi dengan sedih.
"Aku berharap seseorang menghapus history browser-ku, dan orangtuaku akan berpikir bahwa aku adalah anak yang baik selama ini." Jongdae turut menyuarakan harapannya.
"Listen, motherfuckers..." Chanyeol mendesis tajam. "Jika ada salah satu diantara kalian yang berani mengatakan pada Baekhyun bahwa masakannya sangat buruk, aku tidak akan segan-segan untuk melemparkan kalian ke neraka."
"Tapi hyung, ini adalah kejahatan genosida!"
"You shut your goddamn trash mouth." Chanyeol menunjuk pada Jongin. "Lagipula ini membuatku senang karena akhirnya, kita menemukan senjata ampuh untuk membunuh Kris."
Ketiga bocah di depan Chanyeol saling bertukar pandang.
"Now, cheer up, okay? Setidaknya kita akan meninggal beramai-ramai." Itu kata terakhir yang Chanyeol ucapkan sebelum Baekhyun kembali dengan segelas air.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Baekhyun penasaran.
"Oh, kami baru saja membicarakan tentang Jongdae yang menginginkan jatah makan malamku."
"Apa? Tidak, aku—"
"Ya, kau mengatakannya tadi. Ya Tuhan, kau selalu saja serakah. Kau harus bersyukur karena aku sedang sangat baik hari ini. Kau boleh memakan jatahku." Chanyeol menyerahkan sisa makanannya pada Kim Jongdae yang kini alisnya berkedut dengan cepat. Ia tidak peduli, pria itu lebih memilih untuk beralih pada Baekhyun. "Disamping itu, kurasa aku punya sesuatu lain yang harus kumakan."
Baekhyun memiringkan kepalanya. "Dan apa itu?"
"Kau."
"Please don't announce that at the table." Sehun memijat pangkal hidungnya dengan prihatin. Ia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan seks. Tidak saat mereka sedang di meja makan.
"Oh ya ampun, kau beruntung karena sepertinya aku sudah selesai." Baekhyun meletakkan sendok makannya di atas meja. "Kalian boleh menghabiskan semuanya, oke? Aku tidak ingin melihat ada sisa makanan di tempat cuci piring."
Ketiga pemuda di depannya menelan liur secara bersamaan.
"This is gonna be the death of me." Jongdae berbisik pada dirinya sendiri.
"Now, please excuse us." Chanyeol mendorong kursinya ke belakang dan menarik tangan Baekhyun seraya berdiri. "Kami orang dewasa memiliki sesuatu yang lebih penting untuk diurus."
Jongin, Sehun, dan Jongdae tersenyum penuh arti.
Fuck you, kalimat itulah yang mereka gambarkan kini.
"Beristirahatlah dengan tenang." Ujar Chanyeol.
"Apa?"
"Maaf. Maksudku, kalian makanlah dengan tenang."
Pasangan kekasih itupun kemudian benar-benar pergi.
Keesokan harinya, Chanyeol dibangunkan oleh rasa sakit di perutnya.
Baekhyun masih tidur sebab ini masih tergolong pagi dan bukanlah waktu dimana ia terbiasa bangun. Si mungil meringkuk dengan mata terpejam di sebelahnya. Tak ingin mengganggu tidur kekasihnya, maka Chanyeol berusaha untuk meredam suara bersisik dengan bergerak pelan turun dari tempat tidur guna bergegas pergi ke toilet.
Ketika sampai di depan pintu tempat tujuannya, Chanyeol mengerutkan kening karena pintunya terkunci dari dalam. Siapa yang pergi ke toilet sepagi ini?
"Siapa di dalam?" tanyanya dengan tak sabaran. Perutnya seakan dipelintir karena bukan main mulasnya.
"Aku. Oh Sehun." Terdengar sahutan dari dalam.
"Kau sedang apa?"
"Aku sedang mencuci mobil!" Sehun terdengar kesal. "Tentu saja buang air. Menurutmu apa lagi?"
"Argh!" Chanyeol mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Kenapa kau pakai toilet yang ini?" ia bertanya karena kamar Sehun berada di lantai dasar, biasanya ia juga akan menggunakan toilet yang ada di sana.
"Jongin sedang ….nghh …menggunakannya."
"Astaga, apa kau baru saja mengejan?"
"Sudah kubilang aku sedang buang air!" Sehun terdengar emosi. "Dan bisakah kau berhenti memberiku tekanan? Seseorang sedang mencoba berkonsetrasi di sini!"
Chanyeol mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memutuskan kembali bertanya. "Berapa lama lagi kau akan ada di sana?"
"Tidak tahu. Dan tolong jangan menunggu tepat di depan pintu, itu membuatku gugup!"
"Just hurry up you motherfucker!"
"Don't push me!"
"BERISIK! KALIAN PIKIR INI JAM BERAPA?" seseorang berseru.
Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Kemudian ia melihat Suho yang tengah berdiri dengan rambut berantakan dan piama seadanya, di depan pintu kamar Kris dimana ia baru saja keluar dari sana.
"Ini sudah pagi, hyung!" Chanyeol memberitahunya, meski masih terlalu dini tapi ini sudah pagi. "Dan secara teknis ini adalah salahmu karena hanya menempatkan dua toilet di rumah ini."
"Oh aku sungguh minta maaf! Kalau begitu kau bisa pergi dan cari rumah sewa lain yang memiliki toilet di tiap kamarnya."
"Itu sangat tidak membantu." Chanyeol berkata disela perutnya yang terus berteriak ingin dibebaskan.
"Yeobo… come back to bed. We ain't finished yet." Suara Kris terdengar dari dalam kamarnya. Yang membuat Suho berdecak secara otomatis disertai hentakan kaki penuh kekesalan.
"Berhenti berteriak dan tunggu saja dia keluar." Ujar Suho sebelum ia pergi dan membanting pintu.
"Terimakasih, itu sangat memban—Oh, keluar juga kau akhirnya." Chanyeol lantas mengalihkan perhatiannya pada Oh Sehun yang baru saja keluar. Ia hendak menghembuskan napas lega namun hal itu urung terjadi karena detik berikutnya Sehun kembali masuk ke dalam.
"Maaf hyung, sedikit lagi…"
"I WILL FUCKING KILL YOU!"
Pagi yang sulit pun terlewati dengan sendirinya.
Semua penghuni rumah sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Baekhyun yang bersiap untuk pergi kuliah, Suho yang sedang mandi, Kris yang pergi untuk lari pagi, dan sisanya sedang duduk dengan wajah lelah di sofa. Mereka baru selesai mengeluarkan limbah di pencernaan, dan tentu saja itu amat sangat melelahkan.
"Aku tidak percaya kau pergi begitu saja tadi malam." Jongin, yang masih tidak terima karena Chanyeol lari begitu saja, menatap kesal pada pria yang lebih tua.
"Dan ternyata kita semua masih hidup." Ujar Chanyeol, tanpa rasa bersalah.
"Tapi aku nyaris mati."
Chanyeol hanya memutar bola matanya sebagai respon atas drama Kim Jongin.
"Beruntung kita tidak memakan semuanya." Sehun kali ini ikut dalam percakapan.
"Kalian tidak?" Tanya Chanyeol, menatap pada dua bocah yang duduk di kiri dan kanannya.
"Kami memberikannya pada anjing milik Kakek Shin."
"Ya, karena aku masih sayang nyawaku."
"Bisakah kalian berhenti mendramatisir? Ini hanya makanan."
Jongin menatap tidak percaya pada Chanyeol yang baru saja berucap seperti orang gila. "Itu sebuah racun, hyung. Dammit!"
"No offense, jika disuruh memilih, aku lebih suka Suho hyung membakar dapur daripada harus memakan masakan Baekhyun lagi." Sehun berkata, matter of fact.
Chanyeol menyilangkan tangannya di depan dada dan memasang wajah keras. "I still love him no matter what."
"Well, tell him to stay away from the kitchen, for our sakes!"
Chanyeol ingin melakukannya. Tapi ketika mengingat kembali Baekhyun yang begitu bersemangat saat menyiapkan makanan untuk mereka, membuatnya tak tega. Bagaimana bisa ia melukai si puppy yang menggemaskan itu dengan mengatakan bahwa masakannya sangat buruk?
"Atau ajari saja dia memasak." Sehun datang dengan saran yang mungkin bisa dipertimbangkan Chanyeol. Memasak bersama Baekhyun di dapur? Hmmm… kedengarannya sangat mengasyikkan. Mungkin Chanyeol juga bisa mencuri beberapa ciuman di sela-sela kegiatan mereka.
"Apapun hal kotor yang ada di pikiranmu hyung, tolong hentikan." Jongin berkata dengan jengah seolah tahu fantasi macam apa yang ada di benak Chanyeol.
"Aku bertaruh ia sedang memikirkan tentang meremas bokong Baekhyun di depan kompor." Sehun berkata pada Jongin.
"Tidak!" Chanyeol menyangkal yang mana terdengar seperti ia baru saja melakukan hal yang sebaliknya. "Dan kurasa ide untuk mengajari Baekhyun tidak cukup brilian. Mengingat ia begitu percaya diri dengan skill memasaknya."
"Kalau begitu kita hanya perlu mencegahnya memasak."
"Hmmm… kurasa kita bisa melakukan itu untuk sementara waktu." Ujar Chanyeol, demi keselamatan mereka semua.
Di tengah-tengah diskusi pagi tersebut, datanglah Kris yang baru saja selesai dengan olahraga paginya. Melihat tiga pemuda yang sedang berleha-leha di sofa, Kris mengirim tatapan remeh. Anak muda zaman sekarang sama sekali tidak memiliki semangat hidup yang tinggi.
"Morning, losers." Sapanya seraya melewati mereka. Ia duduk di sofa single yang kosong dan menghela napas panjang. "Sehun, tolong ambilkan aku segelas air."
"Kenapa harus aku?"
"Kau harus merasa terhormat saat aku memilihmu, karena tidak sembarang-"
"Alright alright!" Sehun memotong ocehan tak berguna dari Kris dan mulai beranjak dari sofa. "Aku segera kembali."
Kris mengangguk dengan bijak. Selesai dengan urusan memerintah, kini ia beralih pada dua pemuda lain yang tersisa. "Kalian tidak memiliki aktivitas lain selain bergosip di pagi hari?"
"Kau jawab dia, aku tidak ingin berurusan dengannya. Pagiku sudah cukup buruk." Chanyeol mendorong bahu Jongin supaya anak itu sudi untuk menjawab ocehan Kris. Mengabaikan wajah pura-pura tersinggung yang ditunjukkan kakaknya.
"Kami sedang berdiskusi tentang Baekhyun." Ujar Jongin.
"What's the problem with him?"
"He can't cook."
"Neither can Suho."
Chanyeol menghela napas, mengirim tatapan lain kepada Jongin supaya bocah itu mau menjelaskan dimana letak perbedaannya. Jongin menggelengkan kepala dengan prihatin lalu kembali bercerita.
"Baekhyun bisa memasak. Sayangnya makanannya tidak layak untuk dikonsumsi." Jongin memberi jeda. "Kami mencoba makanannya tadi malam, dan kami keracunan."
"Wow, ini mulai menarik." Kris justru terlihat bersemangat. "Apa dia bisa membagi makanannya kepada tetangga kita juga? Aku ingin balas dendam kepada keluarga Kim."
Tentu saja Kris ingin memanfaatkannya untuk melakukan tindak kejahatan. Chanyeol tidak terkejut.
"Kami sudah membaginya pada anjing Tuan Shin." Kali ini Sehun yang menjawab, ia datang dengan segelas air yang langsung ia berikan pada Kris.
"Aaaahh… that make sense." Kris mengangguk-angguk seperti baru disadarkan akan sesuatu. Ia lantas menerima airnya dan meneguk pelan-pelan sebelum kembali bicara. "Pantas saja tadi kulihat Pak Shin pergi terburu-buru membawa anjingnya. Sepertinya hendak pergi ke dokter."
"Ya ampun! Apa anjingnya mati?"
"Don't know, probably?"
Sehun dan Jongin sontak memasang wajah horror.
"Nahh… chill the F out." Kris berpikir untuk menarik kata-katanya setelah melihat wajah bersalah dua anaknya (atau mungkin sekarang cucunya?). "Jika makanan itu tidak cukup kuat untuk membunuh kalian, maka anjing itupun akan bernasib sama. Dia akan baik-baik saja."
Jongin bertukar pandang dengan Sehun. Rona wajah mereka kembali terlihat baik, dan mungkin sedikit lega. "Uhmm…terimakasih? Itu setidaknya membuat kami merasa lebih baik."
Kris mengibaskan tangannya. "Jangan khawatir, lagipula kalian masih satu spesies kan?"
Sekali asshole, tetap saja asshole. Jongin memasang tatapan datar karena, memangnya apa lagi yang bisa ia harapkan dari seorang Kris?
Tidak sampai disitu saja. Kali ini Kris beralih pada adik kesayangnya yang sedari tadi hanya diam seakan mogok bicara.
"Hey hey brother, jangan terlihat stress seperti itu. Ini bukanlah masalah besar. Suho pun tidak bisa memasak, tapi kalian lihat, aku dan dia masih berhubungan baik hingga kini."
"Bukan itu yang kupikirkan." Chanyeol mengoreksi Kris yang nampaknya salah tanggap. "Yang jadi masalah adalah jika dia memasak lagi, kita semua akan mati."
"Aku tidak keberatan. Lagipula dunia ini sudah tidak terlalu mengasyikkan." Kris berkata seraya mengangkat bahu.
"Serius. Kurasa kau harus mulai menemui terapis." Jongin menyarankan dengan wajah prihatin. Siapa tahu pria itu betul-betul depresi dan tidak menyadarinya sama sekali.
"Kita hanya perlu menjauhkannya dari dapur." Itulah saran Kris mengenai kasus Baekhyun.
"Aku juga berpikir begitu."
"Kita memang memiliki pemikiran yang sama, brother. Walaupun aku sedikit lebih tampan darimu."
"Apa urusannya, berengsek?"
Obrolan tentang Baekhyun pun perlahan teralihkan. Itu bagus karena setelahnya, Baekhyun turun dari lantai atas. Bisa habis mereka semua bila Baekhyun mendengar seluruh isi percakapan pagi ini.
"Aku akan berangkat kuliah." Baekhyun menginformasikan pada mereka yang sedang bersantai di ruang tengah.
Chanyeol langsung melompat dari sofa. "Okay… sebentar, dimana kunci mobilku?"
"Tidak, tidak, aku akan berangkat naik bus. Kau tidak perlu mengantarku." Baekhyun menolak halus. "Disamping itu, perabotan yang kalian pesan mungkin akan datang hari ini juga. Jadi tetaplah diam di rumah."
"Kau yakin?" Chanyeol bertanya.
"Jangan khawatir." Ujar Baekhyun pada Chanyeol. Lalu ia beralih pada mereka yang tersisa. "Tolong jangan membakar rumah sampai aku kembali, kalian bisa lakukan itu?"
"Kapan kau pulang?"
"Sehabis petang."
"Baiklah, kami bisa melakukannya."
Baekhyun tersenyum puas, dan itu cukup sarkastik. "Itu juga berlaku untukmu, Kris."
"Aku lebih senang membakar uang daripada rumah."
Baekhyun mendengus. Ia kembali beralih pada Chanyeol untuk mengecup pipi kekasihnya tersebut, namun ternyata Chanyeol terlanjur menyerangnya dengan ciuman.
Kris spontan menutupi mata Sehun dan Jongin dengan kedua tangannya.
"OH COME ON!" Jongin mengerang kesal.
"You don't need to see that." Kris memberitahunya sebelum pria itu memasang tatapan hina pada Chanyeol. "I raised you better than this, brother."
Chanyeol yang selesai dengan sesi berciumannya pun terlihat tak peduli. "Shut up. I know you like porn."
Dan Baekhyun membantu kekasihnya dengan menjulurkan lidah pada Kris Park. Setelah dihadiahi jari tengah, ia pun pergi meninggalkan ruangan untuk pergi kuliah.
"Love you, honey!"
"Yea yea, love you too."
.
.
.
Thank u, next
.
.
.
(I still need to find the cure for my Endgame depression :')) Love u guys 3000)
(WAIT, FORGET! HAPPY CHANBAEK DAY EVERYONE! Yea yea too late, but STILL)
