BROTHERHOOD
Baekhyun selalu berusaha menjalani harinya dengan tenang. Setidaknya ia berharap begitu. Karena pagi ini berawal dengan baik –tidak ada sesuatu hal bodoh yang dilakukan teman serumahnya, atau mungkin belum—jadi, ia bisa mengatakan bahwa dirinya memulai hari dengan damai dan tenang. Dan Baekhyun pun berharap sisa harinya berjalan dengan sempurna.
Tapi beginilah hidup. Warna warni dengan hitam di dalamnya. Ia tidak bisa menghindari untuk suasana hati buruk menyapanya, sekuat apapun dirinya mencoba.
"Kudengar kau baru pulang berlibur dengan pacarmu."
Karena satu dan lain hal (yang mana itu disebut dengan kemalangan) Baekhyun bertemu dengan Drew ketika ia tengah menunggu kelas berikutnya dimulai. Sekitar tiga puluh menit lagi. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan guna rehat sejenak. Rose hari ini tidak masuk, dan Kyungsoo sedang sibuk di kelasnya. Maka mau tidak mau, Baekhyun perlu menghadapi ini sendirian.
Dan lagi, kadang ia merasa heran, Drew datang menghampirinya ketika Baekhyun seorang diri tanpa teman. Entah sengaja atau tidak.
Baekhyun tidak menggubrisnya. Ia mengambil headset dan memilih untuk menyumpal telinganya dengan benda itu. Yang mana menjadi pertanda secara non-verbal bahwa ia sama sekali tidak ingin diajak bicara oleh mantan pacarnya tersebut.
Tapi Drew memilih untuk bertahan.
"Aku tahu kau tidak memutar musik." Drew melirik ponsel milik Baekhyun sebelum kembali pada pria mungil di hadapannya. "Tidak bisakah kita mengobrol seperti teman biasa?"
Baekhyun masih sibuk dengan bacaannya.
"Baekhyun, look. I'm sorry, okay? After everything I did… to you… I feel so guilty as hell. I know we will never getting back together, as lover. It's not that easy, yeah. But trust me, I'm trying—"
Drew mengambil jeda ketika ia sadar bahwa Baekhyun sama sekali tidak peduli.
"—Baekhyun please, say something."
Dan Baekhyun masih saja berkutat dengan bukunya. Pikirnya, biarkan saja, pria itu akan pergi dengan sendirinya. Baekhyun tidak ingin repot-repot mengusir. Diamnya adalah merupakan senjata paling ampuh.
"Okay its not working." Drew menggelengkan kepala dengan kecewa. Mungkin ia akan mencoba pertanyaan lain.
"Are you happy with him?"
Sangat sangat bahagia –jika Chanyeol adalah yang sedang dibicarakan. Namun Baekhyun memilih untuk tidak menyuarakannya keras-keras.
Drew tidak butuh waktu lama untuk menafsirkannya. Ia bisa membaca bahwa meski tanpa kata, Baekhyun jelas mengiyakan pertanyaannya. Jadi, untuk apa repot-repot lagi. Ia pun memutuskan untuk segera pergi.
"Well. I guess it's a yes. I-I'm happy for you. If he can treat you better than me, then I have nothing to worry. But Baekhyun,"
Ada jeda yang cukup lama ketika dan Baekhyun membiarkannya terisi dengan kekosongan.
"If something goes wrong, and you need someone to hold, you know where I am."
Dengan itu Drew bangkit dan bergegas meninggalkan Baekhyun.
Saat pria itu benar-benar menghilang, barulah Baekhyun melepas headset dari lubang telinganya dan menutup buku keras-keras.
"Asshole."
Menjelang siang, penghuni rumah sebagian besar telah pergi (Baekhyun, Sehun dan Jongin pergi kuliah, Suho mengatakan bahwa ia harus pergi bekerja karena Kris memutuskan untuk tinggal di rumah) jadi, sudah jelas siapa yang tinggal. Chanyeol tidak memiliki begitu banyak kesibukan hari ini, (memang dia sibuk apa?) lantas ia pun memutuskan untuk mengganggu kakaknya.
"Bukankah kau punya pekerjaan?" ujar Chanyeol, seraya menghisap sisa rokoknya sebelum melemparkannya ke dalam asbak. Ia baru selesai sarapan –atau mungkin makan siang? entahlah—dan kini berjalan mendekati Kris yang tengah berbaring di sofa.
"Aku mengelola perusahaan." Kris menjawab dengan santai. "Itu berarti aku juga bebas menentukan kapan hari liburku. Disamping itu, aku yang seharusnya bertanya padamu. Bukankah kau punya pekerjaan?"
"Mengerjakan lagu tidak sama seperti pekerjaan kantor. Aku bisa melakukannya kapanpun."
"Bukan pekerjaan itu yang kumaksud."
"Lalu apa? Menguras bak mandi?"
"Skripsimu, tolol."
Chanyeol memasang wajah seakan-akan ia tersinggung. "Kau tahu? Itu pertanyaan sensitif untuk mahasiswa akhir."
"Bagaimana aku tahu? Aku sudah berhenti kuliah sejak lama." Kris mengendikkan bahu.
Chanyeol mendengus.
Tapi ini serius. Kris tahu bahwa adiknya bisa saja lulus satu tahun yang lalu. Namun Chanyeol sengaja memperlambat kelulusannya dengan banyak alasan. Tentunya ada satu alasan tersembunyi di balik itu. Kakaknya tahu bahwasanya anak itu hanya tidak ingin cepat-cepat lulus karena tidak sudi berurusan dengan perusahaan ayahnya.
(Chanyeol diwajibkan mengelola perusahaan setelah ia lulus, setidaknya itu yang akan sang ayah paksakan)
"Kau tidak bisa menjadi mahasiswa selamanya, brother." Ujar Kris.
"Hah! Watch me!" Chanyeol menggeser Kris dengan pantatnya. "Minggir. Aku ingin menonton Brooklyn nine-nine."
Kris bangkit dari posisi berbaringnya bersamaan dengan Chanyeol yang menyalakan televisi. Ia memasang wajah sangat terganggu. "Aku bisa melihat dengan jelas masih ada sofa lain yang kosong."
"Bagus. Kalau begitu pindah sana."
"Semoga kau ke neraka."
"Sampai bertemu nanti di sana."
Kris berpindah ke sofa yang lain, dan kembali berbaring. Baik ia maupun Chanyeol tidak ada lagi yang berbicara. Hanya suara televisi menyala yang hadir diantara mereka berdua.
Tidak tahan dengan keheningan yang tidak biasa, Kris pun berinisiatif untuk bertanya. Masih dengan berbaring santai dan mata terpejam.
"Ada apa?" tanyanya tanpa melihat Chanyeol sama sekali.
Adiknya menoleh sesaat, sebelum kembali berfokus pada tontonan. "Apanya?"
"Don't play dumb with me. I know every goddamn thing about you, and I know you've got something to tell."
"Oh, now you act like a detective too much."
"Go on, just tell me. I'm all ears."
Namun Chanyeol tidak langsung meresponnya. Ia hanya pura-pura sibuk dengan tontonan di depannya padahal fokusnya sama sekali bukan di sana.
"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi—"
"Oh baiklah!"
Chanyeol melempar handphone-nya tepat di atas perut Kris. Membuat si pria yang lebih tua sedikit mengerang. "Ugh! I don't need your damn phone."
"Just open it!"
"Okay. The password is still my birthday?"
"I'd never use your birthday for my password. Ever."
Kris bangkit untuk duduk secara spontan. Ia memegangi dadanya dengan dramatis. "You hurt me. I can't believe my own brother do this to me."
"Are you going to open my phone or just sit there and being a dramatic asshole?"
"Okay." Kris memasang wajah datar. Chanyeol sama sekali tidak membeli dramanya. "Aku masih belum tahu password-mu."
"Hari ulang tahu Baekhyun."
"Like how am I supposed to know?!"
Chanyeol memberi tatapan memicing dengan senyum miring. "I tought you know everything about me."
"I tHogHt yOu kNoW eVeRyThINg aBoUt Meeh." Kris menirukan kalimat Chanyeol sebagai lelucon.
Sang adik lantas mengambil kembali ponsel pintarnya dan tak lama kemudian ia memperlihatkan sesuatu pada Kris. Dua buah panggilan tak terjawab dari seseorang dengan nama kontak Father of Satan.
"Ayah menelponmu?" Kris meninggikan alis. "Kenapa kau tidak menjawabnya?"
"Pertanyaan yang bagus, Kris. Karena sepertinya kau lupa bahwa aku dan ayah sama sekali tidak akur."
Kris mengangguk-angguk dengan mata terpejam. "Baiklah. Lalu apa?"
"Dia juga mengirimiku pesan."
"Keberatan untuk membacakannya untukku?"
Chanyeol menghela napas dengan kesal. Namun akhirnya ia berkata juga. Ini tidak seperti Kris tiba-tiba buta atau sesuatu, ia hanya hendak mempercepat proses. "Dia bilang dia tidak menyuruhku pulang. Tapi dia ingin bertemu denganku, dimana saja terserah."
"Mungkin dia hanya rindu?" Kris memberi alasan yang sebenarnya cukup wajar. Orangtua mana yang tidak rindu saat berpisah dengan anaknya dalam jangka waktu yang lama.
Tapi Chanyeol hanya memutar bola matanya. Karena ia paham betul bahwa ia tidak terlahir dari keluarga yang sentimentil. "Omong kosong."
Kakaknya hanya mengendikkan bahu. Ia tidak bisa menyarankan apa yang seharusnya Chanyeol lakukan, karena anak itu sudah besar, sudah bisa menentukan langkahnya sendiri. Namun ketika Chanyeol salah melangkah dan terjatuh, ia akan berada di sana untuk menangkap adiknya tersebut.
Eww… cheesy.
Tapi kurang lebih seperti itu.
"Aku mencium bau keanehan." Chanyeol berkata tiba-tiba.
"Aku tidak mencium bau apa-apa." Kris menanggapi selagi hidungnya sibuk mengendus-endus.
"Ini bukan saatnya—terserah." Chanyeol mengambil sedikit jeda untuk mengheningkan cipta atas kebodohan kakaknya. "Maksudku, situasi ini sedikit mencurigakan. Rachel yang tiba-tiba kembali, ayah yang tiba-tiba ingin menemuiku… dan entahlah. Aku hanya mencoba untuk merangkai potongan-potongan ini menjadi satu agar muncul sebuah titik terang. Bagaimana kalau ia merencanakan sesuatu? Karena kurasa ayah terlalu lama diam, ia tidak akan mungkin membiarkan kita bebas—HEY, JANGAN TIDUR!"
Jika membunuh dilegalkan, mungkin nyawa Kris sudah melayang sejak tadi. Bahkan sejak lama.
Kris membuka matanya dan senyuman menjengkelkan. "Maaf, sudah menjadi kebiasaan."
Itu tidak sepenuhnya salah karena memang ia kadang-kadang sering ketiduran di tengah-tengah rapat penting.
"Ini tidak berhasil." Chanyeol berkata pada dirinya sendiri dengan nada penuh kekecewaan. "Sama sekali tidak berhasil."
Sebenarnya Kris hanya sedang ingin menggoda adiknya saja, karena anak itu sudah terlihat stress sejak pertama kali datang. "Relax, brother. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Kau tahu aku selalu ada di belakangmu."
Chanyeol tidak meragukan itu sama sekali. Tapi kadang-kadang Kris bisa sangat menjengkelkan. Bahkan mungkin selalu. "Yeah, but you are such a dick sometimes."
"Sometimes."
"No, I mean…like, everytimes."
Dua tangan terangkat, Kris menyerah. "You got me there."
Sembari menyandarkan tubuh dengan napas berat, Chanyeol mulai berpikir. Jika ayahnya merencanakan sesuatu, maka ia harus cukup pintar untuk menyiasatinya. Dan satu-satunya penghubung antara ia dan ayahnya adalah Kris.
"Aku butuh bantuanmu." Ujar Chanyeol tiba-tiba.
Kris memasang tubuh tegap dan wajah siap. "Apapun yang kau butuhkan brother, akan kusanggupi. Kau tahu aku tidak suka melihatmu stress karena terlalu banyak pikiran. Sebut apapun yang kau butuhkan, dan aku akan melakukannya."
"Oh ya? Termasuk memberikan mobil sport-mu padaku?
"Setelah kupikir-pikir, lebih baik kau stress saja."
"Kau tidak konsisten!"
Sang kakak mendengus.
"Baiklah, kali ini serius. Aku butuh bantuanmu, cari tahu apa yang ayah rencanakan."
"Tolong ulangi, tapi kali ini hilangkan nada memerintah di dalamnya."
Chanyeol memasang senyum penuh paksaan. Matanya menyipit dan ia mengulangi seperti yang Kris pinta. "Maukah kau mencaritahu rencana ayah? Untukku, big brother."
Tanpa ragu, Kris lantas mengangguk-angguk setuju. Tak lupa menepuk-nepuk kepala Chanyeol dengan penuh kebijaksanaan. "Tentu saja."
Setidaknya ada satu hal yang Chanyeol ketahui dengan pasti.
Yaitu bahwa Kris akan selalu berada di pihaknya, apapun yang terjadi. Ah, membayangkan itu membuat Chanyeol ingin memeluk kakaknya tersebut. Jadi ia pun hendak membuka kedua tangannya dan berkata, "Terimaka—"
"Tapi kau harus mentraktirku."
Sang adik spontan mengubah eskpresinya menjadi datar. "Chris, kau orang kaya. Dan aku bahkan lebih miskin darimu."
"Itu bukan alasan."
"Tentu saja itu alasan—Ugh, fine. Aku akan membelikanmu kopi."
"Hanya kopi? Tidak sekalian dengan perusahaannya?"
"Aku akan memukulmu."
Namun sebelum hajat itu terpenuhi, obrolan (atau mungkin perundingan? Entahlah) mereka berdua terpaksa berhenti setelah mendengar seruan seseorang dari luar rumah.
"PERMISI! KIRIMAN PAKEEEET!"
"Ah! Itu pasti perabotan yang kupesan. Ayo keluar!"
Nanti saya pukulannya.
"Hari ini tidak terlalu ramai…"
Baekhyun berkata sambil menopang dagu di dekat mesin kasir. Selesai kuliah, ia bergegas pergi ke kedai kopi tempatnya bekerja. Bersama Kyungsoo karena mereka berbagi shift hingga petang ini.
Yoojin, rekan kerja Baekhyun yang juga sama-sama pekerja paruh waktu (dia masih SMA), merespon dengan gumaman setuju. "Kau benar. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Baekhyun menggeleng pada gadis yang tengah mengelap meja tersebut. "Kau mau kita dipecat?"
"Tergantung. Jika uang penggantinya cukup besar, aku tidak keberatan." Yoojin mengangkat bahu.
Kyungsoo yang turut mendengarkan sambil mengepel lantai, hanya berkomentar singkat. "Stupid."
"HEY!"
Baekhyun kembali menggeleng, kali ini disertai senyuman. Di hari-hari sibuk seperti ini memang suasana yang sepi telah menjadi kebiasaan. Dan ini membuatnya menjadi cepat bosan. Ia lebih baik mengurusi idiot-idiot di rumahnya daripada berdiri di sini tanpa melakukan apa-apa.
"Selamat datang!"
Barangkali, Baekhyun perlu berhati-hati dengan ucapannya. Atau sesuatu yang ia pikirkan karena ia tidak tahu bahwa Tuhan akan memproses ucapannya itu sebagai do'a, dan berpikir untuk mengabulkannya saat itu juga. Yeah, no shit. Karena bicara soal idiot, mereka kelihatannya baru saja datang.
"Yah, tentu saja. Tentu saja." Baekhyun tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
Park bersaudara baru saja datang ke kedai kopi. Berjalan dengan santai ke meja utama untuk memesan. Dan oh, kebetulan Baekhyun berjaga di sana sekarang. Sungguh mengejutkan.
Tapi bukan berarti ia tidak bisa bekerja secara professional. Maka dari itu, Baekhyun memasang senyum terbaiknya dan mulai menyapa.
"Selamat sore—"
"Oh? Aku tidak tahu kau bekerja di sini." Kris berujar sambil melepaskan kacamata hitamnya.
"Surprise. Surprise." Baekhyun menanggapi dengan datar. Chanyeol tertawa di depannya, dan ia mengabaikan itu. "Boleh kutulis pesananmu?"
"Apa yang kau rekomendasikan?"
"Untuk dua pria seperti kalian, aku merekomendasikan tempat lain tiga blok dari sini dengan pelayanan dua puluh empat jam yang memuaskan."
"Apa itu?"
"Kantor polisi." Baekhyun memberi tatapan memicing. "Kalian berdua terlihat seperti serial killer. Maksudku, serius? Kacamata hitam?"
Jika tidak tahu, mungkin orang-orang akan mengira Chanyeol dan Kris sedang syuting drama bergenre suspense. Mereka berpakaian selayaknya detektif-detektif (Atau Baekhyun sendiri lebih senang menuduh mereka sebagai penjahat).
"Apa ini bagian dari kontrak kerjamu? Menilai penampilanku?" Tanya Kris dengan nada tak terima.
"Tidak. Hanya untuk orang-orang aneh saja." Baekhyun beralih fokus pada mesin kasir. "Kalian jadi memesan atau tidak?"
"Aku ingin vodka. Kau?" Kris beralih pada adiknya.
"Aku ingin tequila."
"Dan aku ingin resign." Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri. Sebelum kemudian menatap garang pada dua pria di depannya. "Apa kalian meninggalkan otak kalian di rumah? Atau kalian justru tidak punya otak?"
Chanyeol dan Kris berkedip.
"INI KEDAI KOPI!" Baekhyun menggebrak meja.
Ahn Yoojin yang tengah mengelap meja, menatap dengan syok. Ia tidak menyangka Baekhyun yang biasa menghadapi customer dengan lemah lembut justru kini terlihat meledak-ledak. Dan Kyungsoo, ah… dia sudah tahu, jadi dia tenang saja.
Sungguh, Baekhyun bisa saja berbaik hati jika yang datang hanya Chanyeol. Karena tentu saja! Chanyeol adalah pacarnya. Namun ketika lelaki itu bersekutu dengan Kris, maka Baekhyun tidak akan bermurah hati untuk mengampuni.
Beruntung sang manajer masih diluar untuk menghabiskan jam istirahatnya. Jika ia melihat pemandangan ini, mungkin Baekhyun bisa langsung dipecat. Oh, kedengarannya itu ide bagus.
"Kau memang bodoh Kris. Aku selalu heran mengapa ayah mengadopsimu." Kali ini Chanyeol menyalahkan kakaknya.
Kris membalasnya dengan tatapan terluka. "Teganya kau mengatakan itu, brother."
Baekhyun menggelengkan kepala dengan lamban. Tak habis pikir, ia pun kembali bersuara. "Baiklah, ide siapa ini?"
"Apa?" Chanyeol dan Kris bertanya bersamaan.
"Datang kemari. Menggangguku. Karena kupikir kalian cukup sibuk untuk diam di rumah dan berbenah."
"Untuk informasimu saja sayang, semua urusan di rumah sudah selesai dan –Oh, itu adalah ide Kris. Aku hanya mengantarnya." Chanyeol langsung cuci tangan.
Kris tentu saja tidak terima. "Apa? Terakhir kali kuperiksa, kau-lah yang menganjurkan untuk mampir kemari setelah kita keluar dari supermarket."
Brak! Brak! Brak!
Si mungil dibalik meja kasir menggebrak meja dengan jengah.
"Gentlemen. Can I have your attention?" Tanya Baekhyun dengan wajah tenang.
"Absolutely, darling." Chanyeol lantas memusatkan seluruh perhatiannya pada Baekhyun seorang.
"You know, I'm gonna say this once." Baekhyun kemudian menarik telunjuknya, mengarahkannya pada suatu titik yang mana itu adalah pintu keluar. "Get. Out."
"Oke, tapi—"
"GET THE FUCK OUT!"
Chanyeol dan Kris berlari keluar.
"Apa ini diperbolehkan?" Yoojin bertanya pada Kyungsoo yang selesai mengepel lantai. Dengan tenang, Kyungsoo menghampirinya serta menyematkan tangannya di pundak gadis itu.
"Tenang saja. Ini sudah sering terjadi." Bersamaan dengan sebuah senyum yang menyiratkan kalimat "Kau beruntung. Aku pernah melihat yang lebih buruk."
Kyungsoo berlalu dengan siul-siulan seolah tidak terjadi apa-apa. Yoojin yang penasaran lantas mendekat ke arah kasir. Melihat Baekhyun yang telah sembuh dari emosi, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Siapa mereka?"
Baekhyun menghela napas. "Orang-orang sinting."
"SALAH SATUNYA ADALAH PACAR BAEKHYUN!" seseorang berteriak dari ruang karyawan.
"Fuck you, Dokyung!"
"You're welcome!"
Yoojin menutupi mulutnya dengan telapak tangan. "Astaga! Aku baru tahu! Yang mana yang menjadi pacarmu, oppa? Mereka berdua terlihat tampan."
Baekhyun hanya tersenyum getir. Menatap juniornya tersebut dengan wajah prihatin.
"Mereka tidak sebagus kelihatannya. Percaya padaku."
"Lalu kenapa kau mau?"
"Sudah terlambat untuk kembali, Yoojin." Baekhyun menatapnya penuh arti. "Sudah terlambat."
Sebab Baekhyun tahu, ia sudah selamanya terjebak dengan Chanyeol. Yang mana termasuk dengan kakaknya, dan teman serumahnya yang tak kalah gila –karena mereka satu paket.
Yoojin masih menatapnya dengan bingung. Namun Baekhyun mengakhirinya dengan ucapan yang biasa dilontarkan orang-orang dewasa.
"Suatu saat kau akan mengerti. Sekarang kembali bekerja!"
Chanyeol dan Kris kembali ke rumah menjelang malam.
Setelah mampir ke kedai kopi dan diusir, mereka akhirnya pergi ke suatu tempat –dimana itu, hanya Tuhan yang tahu—untuk bersenang-senang. Saat keduanya sampai di rumah, mereka disuguhi pemandangan Suho yang tengah berdiri di atas meja. Tidak biasanya Suho bertingkah gila. Itu adalah tugas Kris, ngomong-ngomong.
"Kau sedang apa?" Tanya Chanyeol dengan tatapan menghakimi.
Suho melipat kedua tangannya di dada. "Ini rumahku. Aku bebas berdiri dimanapun aku mau."
Kris menghela napas. Ia mendekat dengan kedua tangan di pinggang. Dia adalah yang paling tahu.
"Baiklah. Dimana tikusnya?"
"Di bawah meja. Tolong… tolong singkirkan mahluk itu…" Suho kali ini berkata dengan nada mencicit.
Selagi Kris menunduk di bawah meja, Chanyeol memilih untuk tidak membantu dan justru bertanya. "Dimana yang lain?"
"Mereka belum pulang –sebelah sana Kris! Aku bisa mendengarnya!" Suho menunjuk ke sudut meja yang lain dan Kris mengikuti dengan patuh.
"Tidak biasanya." Chanyeol berkata heran. Kalau Jongin dan Sehun, ia tidak peduli. Tapi kalau ia tidak salah ingat, Baekhyun berkata bahwa dirinya akan pulang sehabis petang. Jadi seharusnya, kekasihnya itu sudah berada di sini sekarang.
Apa mungkin dia marah karena Chanyeol mengganggunya saat berkerja?
Tidak tidak tidak. Jikalaupun Baekhyun marah, itu hanya akan berlangsung sesaat dan tidak berlarut-larut. Lagipula Baekhyun memang sudah terbiasa diganggu, jika ia mudah menaruh dendam, mungkin Baekhyun sudah lama angkat kaki dari rumah ini.
Ketika pikirannya mengusulkan untuk menghubungi Baekhyun, nyatanya ia telah lebih dulu mendapat panggilan telepon. Saat melirik ponselnya, ia merasa sedikit lega karena melihat nama Baekhyun tertera di sana.
"Yes, dear?" Chanyeol langsung menyapa tanpa basa basi.
"Hallo, apa…apa kau pacarnya?"
Chanyeol mengerutkan dahi. Itu bukan suara Baekhyun. "Siapa kau? Kenapa ponsel Baekhyun ada padamu?"
Kemudian ia mendengar sesorang di sana mengerang frustrasi. "Astaga bagaimana aku mengatakannya…. Uh-oh, begini, ini keadaan darurat. Seseorang telah menyerang pemilik ponsel ini, dan sekarang ia tidak sadarkan diri, bisakah-bisakah anda datang kemari? Kami sudah menelpon ambulans, dan —lokasinya, oh, lokasinya di ujung jalan di dekat kedai kopi—"
Tunggu, apa?
Semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Chanyeol bahkan tidak diberi waktu hanya untuk menarik napas. Saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah Baekhyun seorang. Telinganya hanya mampu mendengar nama Baekhyun. Bahkan Suho yang menjerit-jerit karena tikus pun, tak ia dengar. Saat itu pikirannya hanya satu.
Baekhyun terluka.
Baekhyun tidak sadarkan diri.
Baekhyun—
Tidak ingin memikirkan hal yang lebih buruk. Chanyeol membawa lari kakinya keluar dari dalam rumah. Dengan pikiran kalang kabut, ia masih berusaha membuat suaranya stabil dan berkata pada siapapun di ujung sana yang telah menghubunginya.
"Tunggu. Aku kesana sekarang."
.
.
.
To be continued
.
.
.
(God, I just wanna sleep and quit smoking)
