BROTHERHOOD part II


Hal pertama yang Baekhyun pikirkan ketika kesadarannya kembali adalah menerka-nerka bau apa yang tengah merangsak masuk ke hidungnya. Antiseptik? Karbol? Obat-obatan? Atau sesuatu semacam itu.

"Babe?"

Baekhyun mengenal suara itu. Segera matanya yang semula terasa berat, ia paksa untuk terbuka. Ada cahaya masuk, sangat terang dan bahkan terlalu terang hingga ia perlu berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Ketika telah mendapatkan penglihatan dengan jelas, barulah ia menyadari di mana dirinya berbaring.

Rumah sakit. Ia mengenali tempat ini. Semua omong kosong tentang "membuka mata dan tidak tahu kau berada dimana" tidak berlaku baginya. Karena ia tidak mungkin salah mengenali bau obat-obatan khas rumah sakit dan juga suasana di dalamnya.

Meski begitu, ia masih perlu mengingat-ingat apa yang telah membawanya kemari.

"Baekhyun."

Kembali suara itu memanggil. Sejauh ia lihat, ada lima orang lelaki yang mengelilinya. Tapi hanya satu yang bersuara.

"Baekhyun? Hey, bicara padaku. Kepalamu terluka, aku ingin memastikan apakah kau amnesia atau tidak."

Oh? Itu sedikit menjelaskan perihal sakit di belakang telinganya. Dan yang barusan berbicara adalah Chanyeol. Well, mungkin menggodanya sedikit tidak apa-apa.

"Maaf, kalian siapa?"

Keheningan menyambutnya bersamaan dengan tatapan terkejut.

Kris mengangkat tangan. "Aku suamimu."

"Bahkan dalam mimpi pun aku tidak sudi." Baekhyun mendengus. Ia pun beralih pada Chanyeol dan memberinya senyum kecil. "I was joking."

Chanyeol terlihat mengelus dada dengan mata terpejam. Saat Baekhyun hendak mengajaknya bicara, ia menahan dengan satu tangan. "Hold on, just give me a second to be glad that you're alive."

Baekhyun mengangkat alis.

"Not funny." Seseorang berkata sembari diiringi isakan. "Not fucking funny."

Baekhyun segera mengalihkan pandangannya pada Sehun, si pemuda yang kini tengah berurai air mata. "Hey, hey, aku tahu amnesia itu lelucon yang payah. Maafkan aku?"

"Kenapa kau masih bisa bercanda di situasi seperti ini?" kali ini Chanyeol yang bertanya. Oh, dia sudah sembuh dari shock-nya.

"I don't know, morphine, maybe?" Baekhyun melimpahkan kesalahan karena barangkali, perasaan high yang ia dapat kali ini ada urusannya dengan obat apa yang dokter berikan padanya. "To be fair, kalian bahkan membuat lelucon sepanjang waktu dan aku tidak mengeluh."

Mereka hidup berdampingan dengan lelucon, bukan begitu?

"Hal apa yang terakhir kali kau ingat?" Suho kali ini bersuara, setelah lama diam dan hanya menatap dengan cemas.

"Emmm… sebentar." Sebenarnya ia sedang mencari-cari memori itu. Namun semuanya terlihat kabur dan pusing di kepalanya sama sekali tidak membantu. "Berapa lama aku pingsan, ngomong-ngomong?"

"Tiga." Kris menjawab.

"Hari? Astaga! Apa saja yang sudah kulewatkan—"

"Tiga jam." Chanyeol mengoreksi dengan sabar.

"Oh."

"Mereka bilang kau diserang seorang pemuda yang sedang mabuk, dan dia berhasil kabur." Ujar Chanyeol. Ia lantas mengambil tempat duduk di samping Baekhyun yang tengah berbaring. "Kau mengenalnya?"

Baekhyun mencoba bangkit untuk duduk, dan Chanyeol membantunya. "Ohh… itu…"

Baekhyun ingat itu. Saat dimana hari telah gelap, dan ia akhirnya pulang setelah menghabiskan shift kerjanya. Kyungsoo pulang lebih dulu, mengatakan bahwa dirinya memiliki tugas yang harus segera dikerjakan. Tinggallah Baekhyun seorang diri berjalan pulang menuju rumahnya. Siapa yang tahu bahwa itu akan berubah arah menjadi rumah sakit?

Ia tentu bukan sekali dua kali berjalan sendirian. Namun memang pada dasarnya ia sudah sial sejak awal. Ternyata pertemuannya dengan Drew sebelumnya adalah awal dari petaka.

Baekhyun sudah melihat banyak kasus penganiayaan yang dilakukan oleh seorang mantan kekasih. Namun ia tidak pernah tahu bahwa kemalangan itu ternyata akan menimpanya. Tidak pernah ada yang tahu.

Bahkan ketika Drew datang dengan keadaan mabuk berat. Ia masih menerka-nerka apakah ini mimpi atau sungguhan.

("Baekhyun… kumohon kembalilah padaku…"

"Hentikan sialan. Kau mabuk berat!"

"Ini semua salahmu!"

"Drew, I swear to God—hey, put that down!"

"No!"

"Drew, please!")

"Shit." Baekhyun bergumam sambil memijit kepalanya. Sekarang ia betul-betul ingat apa yang terjadi. Bagaimana semua ini berawal, dan siapa pelakunya.

"Kau baik-baik saja?"

"Hanya sedikit pusing. Tidak apa-apa."

Chanyeol membuang napas. Baekhyun mengira, pria itu akan memeluknya, menenangkannya, atau melakukan apapun hal manis yang ada di pikirannya. Namun ia keliru. Karena Chanyeol justru berdiri dan mengambil jaket yang semula terkulai di kursi.

"Stay here." Ia berkata pada Baekhyun dengan sangat pelan namun menakutkan. Baekhyun tidak bisa membacanya. Belum pernah ia melihat Chanyeol begitu marah, begitu mengintimidasi. Ini bahkan lebih parah daripada ketika Jongin tidak sengaja menumpahkan saus di t-shirt favoritnya. Untuk kali ini, Baekhyun sampai tidak berani bicara apa-apa.

Hanya Kris, yang berani bertanya ketika Chanyeol tengah melangkah menuju pintu keluar. "Where are you going?"

Chanyeol sama sekali tidak meliriknya. Ia lebih senang untuk sibuk memakai jaket. "I'm going to kill that son of a bitch. Wanna join?"

Itu undangan secara terbuka bagi Kris. Jadi sang kakak pun memutar arah dengan senyum menyeringai yang biasa ia tampilkan ketika hendak melakukan sesuatu hal yang mengerikan.

"Oh I'd love to."

Mereka berdua menghilang dibalik pintu.

"Mereka sedang bercanda, bukan begitu?" Baekhyun bertanya pada Suho diiringi tawa canggung. "Maksudku, aku bahkan belum memberitahu siapa pelakunya."

Ia ingin melihat Suho mengaminkan ucapannya. Namun sayang, Suho hanya menggelengkan kepala. "Tidak ada yang tidak mungkin. Mereka bahkan bisa menemukan siapa teman sebangkumu saat di sekolah dasar."

"Berharap saja polisi menemukan pelakunya lebih dulu." Jongin berbicara untuk yang pertama kali. Sedari tadi, ia hanya diam sambil menepuk-nepuk punggung Sehun.

"Bagaimana kalau Chanyeol dan Kris menemukannya lebih dulu?" Tanya Baekhyun.

Suho memberinya tatapan kasihan. Entah untuk Baekhyun, atau mungkin untuk Drew yang sekarang tengah diburu.

"Dia takkan selamat."


"Jadi ini rumahnya?" Chanyeol bertanya ketika mobil yang ia bawa berhenti di depan sebuah rumah dengan banyak lampu yang masih menyala.

"Ya, sepertinya seseorang sedang mengadakan pesta disini." Kris berkata masih dengan mata yang terpaku di layar ponsel.

"Orang macam apa yang pergi ke pesta setelah melukai mantan pacarnya?" Chanyeol menggelng tak percaya.

"Entah dia sedang sangat mabuk, atau mungkin dia hanya seorang idiot." Kris menjawab dengan santai. "Ayo, kita hanya punya lima belas menit sebelum polisi datang."

Chanyeol menyetujuinya. Jadi, ia pun mematikan mesin, dan keluar dengan segera. Kris mengikuti di sampingnya. Dan mereka pun berjalan menuju rumah tersebut.

"Kau yakin dia ada di sini?" Chanyeol sekali lagi memastikan.

"Informanku tidak mungkin salah." Kris terdengar sangat yakin.

"Bagaimana kalau dia tidak mau mengaku?"

"Kita punya bukti, oke? Security footage, kau juga sudah melihatnya. Bahkan jika dia tidak mau, kita akan membuatnya mengaku." Lagi, Kris meyakinkannya. "Persetan. Aku hanya sedang ingin memukul orang."

Ketika mereka sampai di depan pintu, Chanyeol tidak ragu untuk membukanya dengan paksa (Memangnya siapa juga yang sudi mengetuk pintu?)

BRAKK!

Selanjutnya, pemandangan yang ia dapat adalah muda-mudi yang tengah menari-nari diiringi musik. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Juga, Chanyeol tidak begitu yakin apakah mereka masih sober atau tidak.

Sadar bahwa kedatangan mereka berdua tidak dihiraukan, Kris bergumam kecewa.

"I should've bring my gun." Ujarnya.

Chanyeol tersenyum miring pada sang kakak. Ia merogoh sakunya sebelum kemudian mengokang senjata. Dengan santai ia pun berkata,

"Say no more."

BANG!

Tiba-tiba semua orang berhenti dengan aktivitas mereka dan menatap dengan terkejut ke arah Chanyeol, seseorang yang baru saja menembakkan peluru ke udara. Mereka terdiam, musik berhenti diputar, dan semua orang kebingungan.

"Semuanya diam di tempat!" Chanyeol berseru dengan pistol yang ia angkat tinggi-tinggi. "Jika ada yang berani bergerak, aku tidak akan segan-segan menembaknya dengan pistolku."

"Damn, brother. Kau terdengar seperti seorang perampok bank." Kris tidak tahan untuk tidak menunjukkan antusiasnya. Dan ketika Chanyeol menghadiahkan tatapan tajam, ia pun kembali ke tujuan awal mereka.

Kris mengalihkan wajahnya pada kerumunan pemuda-pemudi yang kini sedang berlutut di lantai. "Dengar semua! Kami sedang mencari seseorang bernama… siapa tadi namanya? Screw?"

"Drew." Chanyeol menjawab dengan sabar.

"Ya. Drew. Apakah dia ada di sini?"

Tidak ada yang menjawab.

"Drew? Tidak ada? Seseorang bernama Drew, tolong angkat tanganmu!"

Masih tidak ada yang menjawab.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan menelpon polisi dan melaporkan bahwa di sini ada pesta narkoba dan oh, lihat! Beberapa diantara kalian sepertinya masih di bawah umur!" Kris kali ini memberi ancaman.

Dan sepertinya itu berhasil.

"Dia Drew!" seorang pemuda tiba-tiba berseru sambil menunjuk pemuda lainnya.

"Sialan kau Sanghoon!" Drew, pemuda yang dicari mengumpat sebelum akhirnya ia berlari ke arah pintu belakang.

"Itu dia!" Chanyeol mengejarnya dengan sigap dan Kris mengikuti dari belakang.

"Wow, nice! Terimakasih atas kerjasamanya. Polisi akan datang sebentar lagi. Kalian semua boleh pergi!" seru Kris.

Mereka yang sebelumnya berpesta, kini berlari tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri.

Beruntung bagi Chanyeol yang datang kemari dengan sadar. Karena dibandingkan dengan pemuda yang setengah mabuk, dia jauh lebih unggul dalam hal berlari. Jadi, bahkan sebelum Drew mencapai halaman belakang, Chanyeol sudah bisa menangkapnya.

"Kau beruntung aku tidak langsung menembakmu." Ia mendesis ketika dirinya berhasil mengunci tubuh Drew di lantai.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" Drew masih mencoba melepaskan diri.

"Lalu kenapa kau berlari, huh?"

"Kalian polisi? Dimana lencana kalian?"

"Oh man, kami lebih daripada seorang polisi." Kris yang mengikuti di belakang, menjawab dengan santai. Ia berlutut untuk melihat lebih dekat wajah pria malang yang sebentar lagi akan menjadi mangsanya. "Kami orang yang akan membuatmu menyesal karena telah mengganggu Baekhyun."

"Heh? Jadi sekarang Baekhyun punya dua bodyguard?"

Bugh!

Chanyeol melesatkan tinju pertamanya di wajah Drew. "Jika aku jadi kau, aku tidak akan banyak bicara."

"Akh! Sial! Siapa kalian ini sebenarnya?!"

Chanyeol menyeringai sambil mengepalkan tinjunya.

"My name is Park Fucking Chanyeol. And I will make you regret being born."


Satu jam kemudian…

Beralih ke rumah sakit, dimana Baekhyun masih berbaring di ranjang pesakitan di dalam sebuah ruangan VIP—yayaya, klise, dan itu menyebalkan. Sejujurnya ia benci ini, Baekhyun lebih suka ruangan dimana ia bisa berbagi kamar dengan pasien yang lain. Setidaknya itu takkan membuatnya bosan.

Namun Baekhyun lebih benci saat ia (pada kenyataanya) harus terjebak dengan dua pemuda yang gagal tumbuh dewasa. Sehun dan Jongin.

"Sudahlah. Yang terluka itu aku, kenapa kau masih menangis?" Baekhyun mendesah untuk yang kesekian kali saat melihat Oh Sehun masih menggosok-gosok matanya disertai isakan pelan. Ia terjebak, dalam artian sebenarnya karena dua pemuda ini memutuskan untuk menghimpitnya. Sehun di kanan, dan Jongin di kiri.

Sekali lagi, ia membenci fakta bahwa ranjang sialan ini ternyata muat untuk tiga orang.

"Kau… kau bisa saja mati…" Sehun berkata di sela tangisnya. Baekhyun tidak tega. Anak ini punya hati yang lembut. Jadi ia pun terus menenangkannya dengan mengelus-elus punggung Sehun.

"Aku baik-baik saja sekarang. Lihat?" Baekhyun memaksa mereka untuk bersitatap. "Ini hanya luka kecil."

"Maaf, aku tidak ada di sana saat kau terluka." Jongin berkata pelan. Ahh… Baekhyun lupa dengan yang satu ini.

"Bukan salahmu, oke? Ini adalah insiden tidak terduga."

"Tapi kita bisa saja mencegahnya. Seseorang diantara kita seharusnya menjagamu." Ia datang dengan ide yang sama sekali tidak masuk akal bagi Baekhyun.

"Okay. Next big idea, please."

"Bagaimana kalau kita memelihara anjing?" Jongin kembali mengusulkan.

"Dan menggantikan Kris begitu saja? Tidak."

"Akan kuadukan itu pada Kris." Jongin berkata diiringi tawa kecil.

"Tolong jangan bercanda." Sehun menyela mereka dengan isakannya. Dan Baekhyun bersumpah, anak ini lama-lama akan membuatnya mati muda.

"Astaga. Berhenti menangis atau aku akan menjual trampoline-mu ke toko barang bekas!"

Ajaibnya, Sehun berhenti menangis.

Tak lama setelahnya, Suho masuk ke dalam ruangan. Nampaknya ia telah selesai mengurus administrasi setelah seorang perawat memanggilnya sekitar lima belas menit yang lalu.

"Aku selalu takut kalian tidak akan pernah tumbuh dewasa." Suho langsung berkomentar pada dua pemuda yang masih memeluk tubuh Baekhyun layaknya koala.

"Jika ada yang ingin kau salahkan, maka itu mestilah Chanyeol hyung." Ujar Jongin.

"Apa yang dia katakan?"

"Sekali kau tumbuh dewasa, kau tidak akan pernah bisa kembali." Jongin berkata sambil menirukan gaya bicara Chanyeol. Dan tentu dengan suara yang berat.

"You little shit." Baekhyun mencibir, namun tertawa setelahnya. Kini, ia beralih pada Suho. "Ada berita baik?"

"Yeah… sepertinya begitu." Suho menarik kursi untuknya duduk. "Polisi berhasil menahan pelaku yang menyerangmu, dan astaga, dia mantan pacarmu sendiri, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?"

Baekhyun mengangkat bahu dengan senyum canggung. "Aku masih sedikit bingung tadi."

Well, ia tidak sepenuhnya berbohong.

"Pria itu cukup beruntung karena polisi akhirnya menemukannya." Suho menahan Baekhyun sebelum pemuda itu menyelanya. "Aku tahu, aku tahu. Tapi kau benar-benar tidak boleh meremehkan Chanyeol, terutama jika ia bersekongkol dengan Kris. Mantan sialanmu itu pasti sudah kehilangan nyawa jika polisi terlambat datang. Jadi, yeah… dia cukup beruntung. Kelihatannya hanya beberapa tulangnya saja yang patah."

"WHAT?"

"Bisakah kau berhenti bergerak? Itu membuat kami tidak nyaman." Sehun merasa terganggu dengan gerakan tiba-tiba Baekhyun.

"Kau diam. Orang dewasa sedang berbicara di sini." Baekhyun memarahinya.

"Kris mengirim foto." Suho membuka lockscreen handphone-nya, dan memperlihatkan sesuatu ke depan hidung Baekhyun. Di sana, ia melihat Chanyeol dan Kris yang sedang berpose dengan kedua jari membentuk hurup V. Tak lupa bersama Drew (Baekhyun bahkan nyaris tidak bisa mengenalinya yang babak belur), yang kelihatannya cukup mengenaskan dengan kedua tangan terkunci borgol.

Baekhyun hanya bisa menggeleng dengan prihatin. So, I'm forever stuck with this psycho, huh?

"Ahh… lihat. Mari bertaruh berapa banyak tulang yang ia patahkan! Hidung, rahang, tangan, kaki… oh maaan, aku turut berduka untuk pria ini—" Jongin mengerang saat ia ikut melihat foto yang ditunjukkan kakaknya.

"Dia sudah melukai Baekhyun." Sehun mengingatkannya kembali.

"—I take that back."

"Kalian pulanglah." Suho yang telah lama jengah akhirnya memutuskan untuk mengusir dua bocah yang sedari tadi menempel pada Baekhyun. "Aku akan menemani Baekhyun. Kalian berdua harus menjaga rumah."

"Kenapa? Lagipula tidak akan ada yang berani merampok rumah kita." Jongin menolak dan memberikan alasan yang justru tidaklah logis. "Mereka akan lebih dulu ketakutan saat melihat foto Kris terpampang di dinding."

"Aku tidak tahu Kris memajang fotonya di dinding." Ujar Baekhyun, sedikit tertarik.

Sehun mendongakkan kepalanya. "Itu ada di kamarnya. Kau harus melihatnya nanti, dia terlihat seperti Kim Jong Un."

"Apa dia terlihat gemuk difotonya?"

"Tidak. Dia terlihat seperti seorang diktator."

"Pada kenyatannya dia memang seorang diktator, kalian tidak tahu?" Suho memberi senyum mengejek.

"Akan kuadukan pada Kris."

"Jongin, kenapa kau suka sekali mengadu?"

Yah, terkadang mereka memang membuat pening kepala Baekhyun. Tetapi Baekhyun tidak bisa mengelak bahwasanya mereka pun adalah penyebab ia tertawa.

"Kapan Chanyeol kembali?" Tanya Baekhyun pada Suho.

Pria yang lebih tua kemudian mengecek jam tangannya. "Uhm, sekitar—"

"WASSUP BITCHES!"

"—Sekarang."

Dua pria tinggi masuk ke dalam ruang rawat Baekhyun. Dan demi Tuhan, mereka terlihat seperti dua orang gangster yang baru selesai berkelahi di pinggir jalan.

"Kalian bersenang-senang, huh?" Tanya Suho.

"Kami sangat menikmatinya." Di luar dugaan, Chanyeol kembali menjadi dirinya yang semula. Chanyeol yang Baekhyun kenal sebelumnya. Tidak ada lagi sorot dingin di matanya, dan itu berarti bagus.

"Terimakasih sudah menjaga Baekhyun, sekarang menyingkirlah!" Chanyeol memberi perintah pada dua koala yang sedari tadi menempel pada Baekhyun.

Tanpa beralasan macam-macam, kedua pemuda itu turun dari ranjang dengan patuh.

"Aku ingin sekali memelukmu, tapi tubuhku bau darah." Chanyeol yang mengambil tempat duduk di tepian ranjang, menatap Baekhyun dengan sedih.

"Aku sangat suka bau darah." Kris berkata dengan nada bangga. Tidak ada seorangpun yang ingin mendengarnya, jadi ia hanya diabaikan.

"Bersihkan dirimu terlebih dahulu." Ujar Baekhyun seraya mengusap pipi Chanyeol yang kotor. "Kita akan berbicara nanti."

Chanyeol mengangguk. Ia pun mendaratkan sebuah ciuman di dahi Baekhyun, sebelum akhirnya bertolak ke kamar mandi untuk membersihkan noda-noda darah yang menempel di tubuhnya.

"Waktunya pulang, anak-anak!" Suho kembali mengingatkan Jongin dan Sehun untuk pergi.

"Kami akan tinggal di sini." Keduanya memohon.

Namun kali ini, Kris yang turun tangan. "Oh ya? Bagaimana kalau aku juga memukuli kalian sehingga kalian bisa tinggal di sini lebih lama?"

"Kami akan pulang sekarang."


"Sebenarnya aku heran sedari tadi." Baekhyun memulai percakapan ketika Chanyeol menghampirinya sehabis dari kamar mandi. Mereka hanya tinggal berdua di ruangan itu karena yang lain sudah pulang. Jadi, keduanya sedikit bebas untuk sekedar mengobrol.

"Kenapa perawat yang datang kemari terlihat berbeda?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

Ah, itu justru kebalikannya.

Baekhyun menyilangkan tangan di dada. Menunggu penjelasan paling tidak masuk akal yang sepertinya akan segera terlontar dari mulut kekasihnya. Karena ia sudah hafal betul, bagaimana wajah Chanyeol ketika pria itu menyembunyikan sesuatu; Terlihat seratus kali lebih bodoh, persis seperti sekarang.

"What did you do?" Baekhyun bertanya dengan nada penuh tuntutan.

Chanyeol mengangkat bahu dengan wajah polos.

"Perawat yang datang ke kamarku terlihat sangat trauma. Seriously Park, apa yang kau lakukan selagi aku pingsan?"

"I don't know. I was busy having panic attack!"

(Chanyeol pikir, Baekhyun tidak perlu tahu soal dirinya yang mengamuk di Instalasi gawat darurat dan mengancam dokter jaga disana bahwa ia akan membakar rumah sakit jika mereka tidak bisa menyelamatkan Baekhyun)

Baekhyun mendengus. Tidak ada gunanya bertanya. Ia akan tahu sendiri nanti. Seseorang pasti akan datang untuk menceritakannya.

"Lebih penting daripada itu, bagaimana perasaanmu sekarang?" Chanyeol mengalihkan pembicaraan. Ia merangkak naik ke ranjang Baekhyun dan mendekat pada kekasihnya yang sedang duduk bersandar pada dua buah bantal.

"Baik. Sedikit kesal karena aku terjebak di ruangan ini yang sepertinya bahkan lebih mahal daripada uang sewa rumah kita."

"This is nice." Chanyeol mencoba membuatnya ceria. "Kita bisa melakukan apapun di sini. Kau tahu, berduaan… di sebuah kamar…"

"Geeez, Chanyeol. Aku tidak tertarik berhubungan badan di ranjang rumah sakit." Tidak. Tentu saja Baekhyun tidak cukup kinky untuk itu.

Chanyeol tidak langsung meresponnya. Pria itu justru memaku tatapan begitu lama di wajah Baekhyun. Cukup lama hingga Baekhyun menyadari bahwa kekasihnya sedang tidak berada dalam suasana hati yang tepat untuk sekedar bercanda.

Ia mengerti. Lantas kemudian Baekhyun membawa tangannya melingkar di tengkuk Chanyeol. Memaksa pria itu untuk lebih mendekat. Saat itulah mereka beradu kening, dan Chanyeol memejamkan matanya, hendak mengatakan sesuatu.

"Kau tahu, Baek? Aku tidak pernah memiliki ketakutan pada apapun." Ujarnya dengan suara pelan. Baekhyun setia mendengarkan, ia tak ingin menyela.

"Namun ketika bertemu denganmu, aku memiliki satu ketakutan."

"Apa itu?"

Chanyeol membuka matanya. Melepaskan pertahanan diri yang selama ini kokoh dan memperlihatkan kerapuhan di depan Baekhyun. Hanya Baekhyun seorang.

"Kehilanganmu."

Baekhyun meraba wajah kekasih hatinya. Dan ia pun berbisik lembut, "Aku di sini. Aku bersamamu."

"Aku telah gagal dalam menjagamu. Tidakkah kau berpikir aku sangat buruk?"

"Tidak. Kau yang terbaik. Pacarku yang terbaik."

Untuk mengatakan bahwa Chanyeol adalah yang terbaik, bukanlah omong kosong. Tidak karena pria itu adalah kekasihnya yang masih baru, namun sesuatu tentang Chanyeol selalu istimewa. Itulah yang Baekhyun rasakan. Bahkan percakapan kecilnya dengan Chanyeol tidak pernah gagal untuk membuat Baekhyun semakin jatuh dalam cintanya.

"Kau hanya mengatakan itu agar aku merasa lebih baik." Ujar Chanyeol sembari mengukir senyum yang sulit.

Baekhyun memiringkan kepalanya. "Dan?"

"Dan itu berhasil."

"Aku selalu berhasil." Baekhyun mengatakannya dengan bangga.

Chanyeol tidak berucap lagi. Sejujurnya, ia ingin sekali menyampaikan kegelisahannya. Dimana ketika ia mendengar Baekhyun terluka, ia berpikir bahwa ayahnyalah penyebabnya. Bahwa ayahnya yang selama ini diam, mungkin telah mengambil sikap. Tapi Chanyeol sendiri tidak tahu, apakah Baekhyun telah masuk ke radar keluarga Park, atau justru belum. Jadi ia pun berpikir untuk memastikannya nanti.

"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol menggeleng cepat. Bukannya ia ingin menyembunyikan perasaannya, namun Baekhyun belum harus tahu. Ia tidak bisa melimpahkan masalah pribadinya dan menyeret Baekhyun untuk turut serta. Setidaknya tidak untuk sekarang.

"Tidak ada. Aku hanya bersyukur karena kau masih hidup."

Baekhyun tertawa kecil. "Tenang saja. Aku tidak berencana untuk meninggal dalam waktu dekat."

"Akan kupegang kata-katamu."

"Baiklah." Baekhyun bergeser ke samping. Membuka ruang bagi Chanyeol untuk berbaring bersamanya. Ia menepuk tepi ranjang yang lain agar Chanyeol bergegas untuk mendekat. "Sekarang waktunya kita bicara tentang apa yang sudah kau lakukan malam ini."

"Aaargh!" Chanyeol mengerang, namun melakukan apa yang Baekhyun pintu. Ia berbaring menyamping dan berhadapan dengan Baekhyun. "Memangnya apa yang kulakukan?"

"Kau nyaris membunuh orang." Ujar Baekhyun. Sama sekali tidak ingin menyebut nama mantannya secara gamblang.

"Pria itu nyaris membunuhmu. Itu setimpal." Chanyeol beralasan. "Yang ia lakukan padamu itu keterlaluan. Memangnya kau tidak mau balas dendam?"

"Uhhh… kinda." Baekhyun menjawab jujur. Ia tidak munafik. Tapi setidaknya bukan begini caranya. "Aku hanya tidak ingin kau membunuh orang."

"Aku tidak."

"Kau nyaris. Kenapa tidak biarkan polisi saja yang menangani ini?"

"Well, polisi sudah menangkapnya."

Baekhyun memasang wajah datar. "Tapi kau menghajarnya lebih dulu. Itu melanggar hukum, Chanyeol. Lagipula aku heran kenapa polisi tidak menangkapmu juga?"

"Aku hanya mengatakan bahwa itu adalah self defense. Dia menyerangku lebih dulu—"

"—yang mana itu adalah omong kosong—"

"—Right. Dan polisi percaya begitu saja. Dia ditangkap. End of discussion."

Baekhyun hanya tersenyum meringis. Dilihat darimanapun ini adalah pengeroyokan. Kenapa bisa polisi membelinya begitu saja?

PING!

Petuah pada Chanyeol terpaksa ditunda begitu suara tersebut terdengar.

"Ah! Ponselku." Baekhyun berseru sambil melirik meja di samping ranjangnya. Suara handphone-nya berasal dari sana. Ia pun menarik laci dan menemukan beberapa barangnya yang lain juga tersimpan di dalam. Sesaat, ia merasa beruntung masih ada seseorang yang masih peduli untuk mengurusi hal seperti ini.

"Oh, ibuku?" Baekhyun mengerutkan dahi begitu menemukan notifikasi bahwa ibunya baru saja mengirim pesan –dan 13 panggilan tidak terjawab? Oke, itu berlebihan. Atau jangan-jangan…

"Baiklah, siapa orang bodoh yang memberitahu ibuku?" ia bertanya pada Chanyeol. Sudah jelas pasti salah satu teman serumahnya mengabarkan peristiwa yang dialami Baekhyun pada ibunya.

"Seratus persen Suho hyung."

Baekhyun menggigit bibir dan menghela napas panjang. Tadinya ia berniat untuk menyembunyikan insiden yang dialaminya. Baekhyun sama sekali tidak ingin membuat ibunya khawatir. Atau setidaknya ia akan memberitahu ibunya nanti, setelah ia diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit.

Tapi sekarang sudah terlambat. Saat pesan singkat dari ibunya masuk, saat itu pula tidak ada lagi cara untuk menghindar.

"Ada apa?"

Semoga ini bukan berita buruk.

"Ibuku akan datang besok."


.

.

.

Thank u, next

.

.

.


(LMAO kalian banyak yang khawatir soal Baekhyun but naaaah, there's nothing serious in this fanfict)

Sooooo… 20 chapter heh? Let's celebrate it! Anybody interested in Q&A? NO? yeah, me neither.