"Wow… great?"
Itulah yang keluar dari mulut Chanyeol ketika Baekhyun mengatakan bahwa ibunya akan datang berkunjung.
"Actually, I'm not ready for this."
Dan itu adalah respon Baekhyun selanjutnya.
Membuat Chanyeol mengerutkan keningnya seketika. "Why? Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu?"
Hal itu adalah lumrah. Memang seharusnya Chanyeol yang merasa belum siap, seharusnya Chanyeol yang panik sebab ia akan bertemu dengan calon mertuanya –dalam keadaan seperti sekarang, darurat.
"Aku belum siap karena kau belum siap."
Ini tidak seperti Baekhyun belum pernah mengatakan apapun soal Chanyeol kepada ibunya. Karena Baekhyun rutin menelpon sang ibu, berkabar mengenai kisah cintanya, ini dan itu. Termasuk trip terakhir mereka ke Dubai. Namun itu hanya obrolan, karena ia belum berkesempatan untuk memperkenalkan Chanyeol secara langsung. Dari wajah ke wajah. Dan juga—Baekhyun tidak begitu yakin mengenai impresi ibunya terhadap Chanyeol.
"C'mon, its gonna be okay." Chanyeol menenangkannya dengan memijit pelan-pelan pundak sang kekasih. "Haruskah aku mengenakan setelan jas saat bertemu ibumu?"
"Hey, kita sudah membicarakan ini sebelumnya." Baekhyun memberinya tatapan memperingatkan—oke, mengancam. Ia sudah cukup malu dengan Chanyeol yang mengenakan setelan jas di kencan pertama mereka. "No blacksuit."
Si jangkung mengangkat kedua tangan pertanda menyerah. "Aku berjanji aku tidak akan mempermalukanmu."
"Coming from you, Chanyeol? I'm not sure."
"Just relax…" Chanyeol kembali menenangkannya. "Trust me, aku sangat berpengalaman dengan perempuan."
"Oh, aku lupa dulu kau seorang playboy." Baekhyun membalasnya dengan sarkas.
"Apa kau sedang cemburu? Kau cemburu? Jika iya, aku akan melakukannya lagi karena kau terlihat sangat seksi saat tengah cemburu seperti ini, aku sungguh-sungguh." Chanyeol menggodanya dengan menaik turunkan alis.
Baekhyun memberinya tatapan jijik. "Aku hanya kasihan pada mantan-mantan pacarmu, mereka pasti tidak tahan menghadapimu untuk waktu yang lama."
Dengan refleks, Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat. "Itu benar. Karena hanya kau yang tahan menghadapiku hingga sejauh ini. Baekhyunku memang hebat."
"Ya ya ya, tidak semua orang diberkahi kemampuan mengendalikan bayi gorilla."
Chanyeol lantas menarik wajahnya dan menatap Baekhyun dengan serius. "Kupikir kita sepakat untuk hanya memanggilku jerapah?"
Baekhyun memiliki banyak panggilan untuk Chanyeol. Raksasa, jerapah, tiang lampu jalanan, idiot, dan sebangsanya. Bayi gorilla? Tentu itu adalah hal yang baru.
"Setelah kupikir-pikir bayi gorilla bagus juga." Baekhyun ternyata senang menggodanya lebih jauh.
"Apa kita hanya akan menghabiskan malam ini untuk berdebat tentang panggilanku?" Chanyeol mendengus. Baekhyun tahu kemana arah pembicaraan ini, jadi ia hanya memutar bola matanya.
"Baiklah, ayo tidur kalau begitu." Ajak Baekhyun.
"Yakin tidak ingin menciumku dulu?"
"Besok saja."
"Sekarang juga tidak apa-apa."
"Aku sedang tidak selera dengan bayi gorilla."
"Baaaaaaaaabeeee!"
Rengekan Chanyeol selalu membuat Baekhyun iritasi. Karena itu sangat-sangat tidak cocok dengan tubuhnya yang raksasa. "Berhenti merengek."
"Makanya cium dulu."
"…"
"…"
"Kalau kau berpikir aku akan menciummu, maka ini akan menjadi malam yang panjang."
Baekhyun memang begitu. Jika sudah tidak mood, biarpun Chanyeol berguling-guling di lantai, dia tetap tidak akan melakukannya.
Tinggallah Chanyeol seorang diri, berbaring dengan Baekhyun yang memunggunginya. Dalam benak, diam-diam ia menulis.
Dear diary, malam ini aku pergi tidur tanpa dicium Baekhyun.
Semoga aku masih bisa tidur nyenyak.
Yah, bukan hanya Baekhyun, terkadang Chanyeol juga bisa sangat berlebihan tingkahnya.
Kedua kalinya Baekhyun terbangun di rumah sakit adalah saat pagi hari.
Tanpa membuka mata lebih dulu, ia bangkit dari ranjangnya dan mendapat serangan sakit kepala mendadak atas tindakannya tiba-tibanya. Sontak ia pun mengerang pelan.
"Ow, shit!"
"Language."
Spontan, Baekhyun pun membuka matanya lebar-lebar. "I-ibu?"
Senyuman hangat yang ditawarkan ibunya tidak pernah gagal membuat Baekhyun untuk merasa haru saat itu juga. "Hello, sweetheart."
Kemudian Baekhyun tanpa ragu mengayunkan kedua tangannya dan berhambur ke pelukan sang ibu, Jessica. Ia memang sering berkomunikasi dengan sang ibu, bahkan beberapa kali dalam seminggu. Namun itu tidak lantas mengurangi rasa rindunya pada satu-satunya perempuan yang ia cintai tersebut.
Baekhyun selalu menginginkan pertemuan. Namun sayangnya, tidak dalam kondisinya yang sekarang.
"Ahh, sayangku sudah bangun."
Datang suara lain yang Baekhyun kenali. Itu adalah Chanyeol yang muncul dari arah pintu dengan menenteng dua gelas kopi. Pria itu pasti sudah bangun jauh lebih awal daripada Baekhyun.
"O-oh, ibu. Perkenalkan, ini adalah Chanyeol." Baekhyun lantas melepaskan pelukannya pada sang ibu dan berkata dengan nada canggung. Oke, ia berharap Chanyeol belum melakukan hal aneh saat dirinya masih terlelap. Tidak di pertemuan pertama ia dan calon mertuanya.
"Ya, kami sudah berkenalan." Diluar dugaan, ibunya menjawab dengan santai.
Chanyeol membenarkan dengan sebuah anggukan. Ia pun lantas membagi segelas kopi yang ia bawa untuk calon mertuanya. "Ini untuk ibu."
"I-ibu?" Alis Baekhyun berkedut-kedut.
"Oh, ibu yang memintanya." Sang ibu menjawab dengan senyuman penuh godaan. "Akan terdengar canggung jika ia memanggil ibu dengan panggilan ajhuuma. Ew."
Baekhyun masih belum menerimanya. "Okay. How about, Baekhyun eomma?"
"Sayang, itu sangat kuno." Kembali sang ibu menanggapi. Hanya ketika ia hendak lanjut berbicara, ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. "Oh, it's Jake…"
Jessica lantas menjawab panggilan tersebut dan menyapa suaminya. Jake bertanya mengenai keadaan Baekhyun dan sang anak langsung meresponnya dengan semangat "I'm fine Jake, miss you!"
"Thanks God, and I miss you too, buddy!"
Setelah saling melepas rindu via telepon, Jessica memilih untuk berpindah tempat. Nampaknya mereka tengah berdiskusi soal pekerjaan dan Baekhyun menghormati itu. Juga, ia menggunakan waktu ini untuk bertanya kepada Chanyeol secara diam-diam.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku?" ia memulai introgasinya. Siapapun akan curiga kenapa bisa pertemuan Chanyeol dengan ibunya bisa berjalan semulus itu?
"Um, nothing?"
"Cut the bullshit. Ibuku biasanya tidak pernah seramah itu pada orang yang baru dikenalnya."
Tentu saja. Tentu saja Jessica adalah orang yang sangat sulit didekati. Cerminan dari sikapnya tersebut nampak pada keturunannya sendiri, Byun Baekhyun.
"Baiklah. Aku merasa terhormat kalau begitu."
Si mungil memberi tatapan peringatan pada kekasihnya. Yang mana membuat Chanyeol kembali memberi jawaban yang penuh percaya diri. "Aku hanya menjadi diriku sendiri, babe. Tidakkah kau menyadari bahwa aku memang lovable?"
"Bicara seperti itu lagi kuusir kau dari sini."
"Rumah sakit adalah tempat umum."
Baekhyun melotot padanya.
Chanyeol menghela napas. Memang tidak ada gunanya menutup-nutupi sesuatu dari Baekhyun. Walau bagaimanapun, pacarnya itu akan selalu tahu.
"Kubilang aku sudah menghajar orang yang melukaimu. Dan aku mengirimnya ke penjara. Dan kau tahu apa? Ibumu sangat gembira saat mendengarnya. Ia bahkan mengatakan, "Nak, kau sangat diterima."" Chanyeol bercerita dengan senyum kebanggaannya. Tidak pernah ia merasa lebih bangga daripada ini. Mendapat kesan pertama yang sangat bagus dan sang calon ibu mertua.
"Okay, wow." Baekhyun setengah terkejut saat mendapati bahwa ibunya ternyata mendukung aksi kejam Chanyeol. "Aku tidak tahu sejak kapan ibuku mendukung kekerasan—"
"Sejak seseorang mengatakan bahwa anakku terluka."
Apa jiwa psikopat Chanyeol sudah menular pada ibunya? Karena jika benar, itu adalah gawat. Dan oh, apakah yang barusan bicara adalah ibunya? "Hai bu! Uhm, aku sudah tidak apa-apa. Dan lagi, itu adalah sebuah ketidaksengajaan—"
"KETIDAKSENGAJAAN?" Ibunya berteriak nyaring. Cukup nyaring dan membuat Baekhyun ingin sekali menarik ucapannya barusan.
"Ibu, tenanglah…"
"Are you out of your goddamn mind?"
Oke, Baekhyun benar-benar menyesalinya sekarang. Dan Chanyeol? Oh, pria itu sama sekali tidak mendukungnya dan memilih untuk berdiri di sisi sang ibu. Yang mana itu sangat-sangat, hebat. Ia sendirian sekarang.
"Orang yang melukaimu adalah mantan pacarmu sendiri, Baekhyun. Mana mungkin itu sebuah ketidaksengajaan? Pria itu pastinya sudah cukup gila."
Bukan bermaksud untuk membela Drew. Sebenarnya Baekhyun juga cukup kesal, tapi apa gunanya? Toh pria itu telah mendapat hukuman atas apa yang telah ia perbuat. Baekhyun hanya tidak ingin berlarut-larut memikirkannya karena sejujurnya hal ini membuat ia sedikit trauma.
"Sorry…" Baekhyun mencicit pelan.
"No baby, I'm not mad at you." Jessica mendekat dan merangkul putranya erat-erat. Ia merasa sedikit bersalah karena telah membentak Baekhyun. Bukan seperti itu inginnya, ia hanya kesal pada Drew. Dan ia sadar ia telah salah menumpahkan kekesalannya pada Baekhyun secara tak sengaja. "Ibu hanya kesal pada mantanmu itu, dan ibu juga kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa."
Ia mengusap-usap kepala Baekhyun dengan lembut, persis seperti saat Baekhyun masih kecil dulu. Itu tidak pernah berubah. Karena itu merupakan cara ampuh bagi mereka berdua untuk berbagi satu sama lain. Berbagi kesedihan, kesenangan, dan bahkan kekuatan. Pelukan hangat ibu tidak pernah gagal untuk mencairkan suasana.
"It's okay…" Baekhyun tidak ingin ibunya merasa terbebani. "I mean… can we just let this shit go?"
Mungkin, pada akhirnya sang ibu menyadari wajah lelah yang ditunjukan anaknya. Ia berpikir, Baekhyun sudah mengalami banyak hal. This boy totally needs a break.
"Of course, honey."
Baekhyun kali ini menatap sang ibu dengan senyum. "Love you."
"Me too."
"Me three."
Baekhyun dan Jessica menoleh pada Chanyeol yang baru saja bersuara. Oh ya, mereka sedikit lupa bahwa masih ada satu orang lagi manusia di ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Jessica.
"Uhmm, tidak ada."
Jessica melirik pada Baekhyun untuk berbagi tawa kecil. Ia pun kembali pada Chanyeol dan membuka pelukannya. "You silly, boy. C'mere, join the family hug!"
Chanyeol tidak menolak ajakan tersebut. Dan yah, mereka bertiga berakhir dengan saling berpelukan.
"This is nice."
—Seperti teletubbies.
Sementara itu di rumah…
"Jadi, apa selanjutnya?" Kim Jongin bertanya ketika ia dan penghuni rumah yang lain memutuskan untuk sarapan bersama pagi itu.
"Aku akan pergi bekerja." Kris menjawab sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
"Tentang Baekhyun, astaga."
"Apa? Bukankah masalahnya sudah selesai? Dia hanya tinggal memberi kesaksian di pengadilan. Apa kau tidak pernah melihat kasus seperti ini di film-film? Memalukan."
Jongin menyerah. Ia mengunci kedua tangannya di depan dada sambil melirik pada kakaknya. "Kau saja yang bilang, hyung."
Suho, sambil menyeruput tehnya dengan sabar, akhirnya mengambil alih untuk bicara pada Kris. "Kurasa belum ada yang memberitahumu bahwa ibunya Baekhyun datang menjenguknya."
"Lantas? Apa urusannya denganku?" Tanya Kris.
"Kita tidak tahu apakah ia akan bermalam di sini atau tidak. Jadi untuk berjaga-jaga, tolong perbaiki sikapmu."
"Memangnya aku kenapa?"
Sepertinya itu adalah pertanyaan paling tidak masuk akal yang pernah keluar dari mulut Kris. Karena, bagaimana bisa ia berpikir seperti itu?
"Kau jahat. Bahkan setanpun merasa iri atas kejahatanmu." Sehun menunjuknya dengan pisau roti.
Kris membuka kedua tangannya. "Oh ayolah, apa ini masih tentang tanaman kaktus yang kuhadiahkan di hari ulang tahunmu?"
"Kau tidak memberitahu kalau itu palsu!" Sehun berseru. "Tiga bulan… Tiga bulan kau membiarkanku menyirami tanaman plastik!"
Kris tertawa jahat. Sangat sangat jahat. "Ha ha! Itu adalah tiga bulan yang paling menghibur dalam hidupku."
"Atau saat kau sengaja membalik papan 'closed' di butik milik ibumu sehingga mereka tidak mendapat pelanggan seharian." Suho menambah daftar kejahatan Kris yang paling diingatnya.
"Chanyeol yang menyuruhku melakukannya." Kris masih menanggapi dengan tawa kecil. "Aku harus menyuruhnya berhenti menonton Spongebob. Fiuh."
"Kau mendorong Jongdae ke sungai saat pergi memancing."
"Dia bilang dia ingin belajar berenang."
"Kau selalu berkata 'Tolong cuci punyaku juga.' Saat tetangga kita Pak Kim mencuci mobilnya. Kau membuatku malu."
"Ayolah, apa aku satu-satunya orang yang berpikir bahwa itu lucu?" Tanya Kris yang akhirnya diberi jawaban dengan sebuah keheningan. Ia kecewa. "Cih, jika Chanyeol ada di sini, dia akan tertawa bersamaku."
"Chanyeol hyung akan berada di sisi kami." Ujar Jongin dengan yakin.
Kali ini, giliran Kris yang menyilangkan tangan di depan dada. "Tidak pernah ada seorangpun yang berpihak padaku di keluarga ini. Yeobo, aku mogok makan."
Suho menanggapinya dengan santai. "Kau baru saja menghabiskan sarapanmu, berengsek."
"Kalau begitu aku mogok kerja."
"Itu 'kan memang kemauanmu, menjadi pengangguran."
"Aku akan menjual rumah ini."
"Ini rumahku, dasar bajingan." Suho meliriknya dengan tatapan jijik. "Jangan banyak bicara lagi, cepat pergi saja bekerja!"
Kris memasang wajah ingin menangis.
"Mereka bilang aku sudah boleh pulang?"
Baekhyun mendongak pada Chanyeol yang baru saja menginformasikan apa yang ia dengar dari dokter. Tepatnya jam sepuluh, tidak sampai 24 jam sejak Baekhyun masuk kemari dan ternyata ia telah dibebaskan.
"Ya. Nampaknya rumah sakit ini tidak butuh uangku lagi." Ujar Chanyeol yang mengambil tempat duduk di tepian ranjang Baekhyun.
Bicara soal uang, Baekhyun jadi ingat sesuatu. "Akan kuganti."
"Ganti apa?" Tanya Chanyeol sambil membuka ponselnya.
"Biaya perawatanku."
"Boleh. Tapi jangan dengan uang."
"Kau mau aku jadi pembantumu?"
"Ha ha!" Chanyeol tertawa hambar dengan lelucon Baekhyun. "Kau tahu apa yang kumaksud."
"Apa?" Baekhyun masih senang bermain tebak kata.
Chanyeol tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekatkan wajahnya. Memajukan bibir supaya bersentuhan dengan Baekhyun secara perlahan-lahan, dan…
"Baekhyun, sepertinya ibu akan menginap di hotel!" Datang suara tiba-tiba dari arah pintu.
Secara refleks, Baekhyun mendorong wajah Chanyeol dan tersenyum canggung guna menanggapi sang ibu yang baru saja kembali dari kantin. "Y-ya? Barusan ibu bilang apa?"
"Tunggu, apa ibu menginterupsi sesuatu?" Jessica merasa bersalah karena sepertinya ia datang di waktu yang tidak tepat.
"Sama sekali tidak." Baekhyun menjawab dengan yakin. "Benarkan, Chanyeol?" ia diam-diam mencubit perut kekasihnya itu untuk mengatakan hal yang sama.
"Be-benar." Chanyeol berbalik dan meringis pelan. Ia lantas melirik Baekhyun dan berbisik, "Harder, babe."
Masokis sialan!
"Baiklah?" Jessica terdengar tidak yakin. Tapi ia tetap melanjutkan kalimatnya yang sempat menggantung. "Tentang yang tadi, ibu rasa ibu akan menyewa kamar di hotel sebelum pulang besok."
"Wait, why?" Tanya Baekhyun. "Ibu bisa menggunakan kamarku jika hanya untuk satu malam."
"Sweetheart I'd love to, but…" sang ibu melirik Chanyeol. "Aku tidak ingin merepotkan kalian."
"That's not true, ma'am." Chanyeol cepat-cepat menyanggahnya.
"Ibu bisa gunakan kamarku, dan aku akan menumpang pada Chanyeol."
Jessica memberi tatapan aneh seolah tengah mengatakan: "Kalian tidak akan melakukan sex selama aku menginap, bukan?"
Chanyeol menangkap sinyal itu dengan segera dan menanganinya. "A-aku akan tidur dengan kakakku."
Namun melihat wajah panik Chanyeol justru membuat Jessica tertawa jenaka sambil mengibaskan tangannya. "Aku hanya bercanda. Kalian boleh berduaan semau kalian. Aku mengerti."
Chanyeol hanya menggaruk tengkuknya sambil melirik Baekhyun yang memilih untuk mengalihkan wajah. "Oh? Uhm, baiklah."
Sebelum pembicaraan berlanjut lebih jauh, seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Baekhyun. Yah, nampaknya mereka bertiga perlu menunda obrolan hingga waktu berikutnya.
"Tuan Byun, siap untuk kembali ke rumah?"
"Kau bisa berjalan?" Tanya Chanyeol ketika ia membukakan pintu mobil untuk Baekhyun. Mereka telah sampai di depan rumah.
"Yang luka itu kepalaku, bukan kakiku." Baekhyun menjawab malas.
"Byun Baekhyun.." Jessica memberi ultimatum. Entah Chanyeol adalah pacarnya, atau siapapun, sang ibu tetap tidak bisa menoleransi sikap tidak sopan tersebut. (Dia hanya tidak tahu bahwa Baekhyun melakukan itu nyaris tiap waktu).
"Sorry." Baekhyun bergumam pelan. Ia lantas mengoreksi ucapannya terhadap Chanyeol. "Aku bisa berjalan sendiri."
"That's totally fine. C'mon." Nyatanya, Chanyeol tidak tersinggung sama sekali.
Mereka bertiga berjalan, menaiki tangga kecil menuju pintu utama. Sebelum meninjakkan kaki ke dalam rumah, Baekhyun sempat berbisik pada Chanyeol dan memastikan sang ibu tidak bisa menguping.
"Kau yakin mereka tidak berbuat yang aneh-aneh?" Tanya Baekhyun penuh curiga.
"Tenang saja, aku sudah menyuruh mereka mengubur mayat-mayat yang ada di gudang." Chanyeol menarik senyuman lebar namun Baekhyun yang tidak bereaksi membuatnya tertawa canggung. "A-aku bercanda."
"Sebaiknya kau tidak bercanda untuk yang satu ini karena ini menyangkut masa depan kita."
Oh ayolah, Byun Baekhyun selalu berlebihan dalam segala hal.
Namun ternyata, keadaan di rumah cukup normal (untuk seukuran tempat yang biasanya diisi dengan kekacauan nyaris 24 jam). Baekhyun mengelus dada secara imajiner ketika menemukan Suho yang bangkit dari sofa. Sesuatu tentang pria itu selalu membuatnya tenang.
"Nyonya Jung!" Suho menyapa dengan ramah. Bukan suatu kejutan untuknya karena ia memang mengenal ibu kandung Baekhyun tersebut. "Bagaimana kabar anda?"
Jessica menyambut dengan tak kalah ramah. "Kabarku baik. Bagaimana dengan anda Suho-ssi?"
"You know what? I thought it was Byun." Chanyeol membisiki Baekhyun ketika ia menyadari kembali nama belakang ibunya.
"Byun adalah marga ayahku." Baekhyun menjelaskan. "Ayah kandungku." Ia menambahkan kalau-kalau Chanyeol berpikir tentang Jake, pria kedua yang dinikahi ibunya.
"Kurasa kau harus bercerita lebih banyak nanti." Ujar Chanyeol, mengingat ia belum begitu paham mengenai silsilah keluarga Baekhyun.
"Bagaimana denganmu, Baekhyun? Lukamu sudah sembuh?"
Perhatian sepasang kekasih tersebut lantas teralihkan oleh pertanyaan Suho yang sedari tadi sibuk berbasa-basi dengan Jessica.
"Oh, ini?" Baekhyun meraba ke belakang kepalanya dan menyentuh perban di sana. "Sudah tidak apa-apa."
Lukanya memang sudah mulai kering. Tapi kadang-kadang masih terasa sakit juga.
"Aku akan ambilkan minum." Ujar Chanyeol.
"Tidak, biar aku saja." Suho menawarkan diri. Ia pun beralih kembali pada Jessica. "Teh? Kopi?"
"Teh saja, maaf merepotkanmu Suho-ssi."
"Tidak, tentu tidak. Bagaimana dengan Baekhyun?"
"Air saja hyung, maaf."
"Baiklah, tunggu sebentar." Suho bangkit dari tempat duduknya dan segera meluncur ke dapur.
"Babe," Chanyeol kembali pada Baekhyun. "Kau ingin beristirahat di kamar sekarang?"
Baekhyun menggeleng pelan. Ia berpikir lebih baik berbaring di sofa untuk sesaat, dan memberi sedikit ruang pada kekasihnya untuk bernapas sejenak. Chanyeol telah berusaha keras sejak kemarin dan telah membuktikan bahwa dirinya memang layak untuk diandalkan. Namun Baekhyun tidak ingin kekasihnya itu lupa untuk mengambil jeda bagi dirinya sendiri.
"Kau juga harus istirahat." Ujar Baekhyun seraya mengelus pelan lengan Chanyeol. Namun lawan bicaranya hanya mengangkat bahu.
"Bukan aku yang baru saja keluar dari rumah sakit."
"Baekhyun benar. Kau juga harus istirahat." Baekhyun melihat ibunya ikut ambil bagian. Jelas nampak bahwa wanita itu memang telah diambil hatinya. Apapun itu, yang jelas ia merasa lega karena anaknya telah dijaga oleh Chanyeol, dan ia pun amat berterimakasih.
"I'm good." Chanyeol meyakinkan mereka berdua bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku akan membereskan kamarku sebelum Baekhyun menempatinya."
"Ya, dan tolong beri semprotan anti serangga juga karena aku yakin akan ada banyak kecoa di sana." Ujar Baekhyun.
Chanyeol tertawa jenaka. "Heyyy! Aku selalu membersihkan kamarku."
"Satu bulan sekali." Baekhyun memperjelasnya.
Chanyeol membuka tangannya pertanda menyerah. Ia pun undur diri untuk segera menaiki tangga menuju kamarnya.
Hanya tinggal Baekhyun dengan ibunya. Pemuda itupun mendekat dan memeluk ibunya dari samping. Mengistirahatkan kepalanya di ceruk leher sang ibu dan bergumam pelan.
"Aku sangat diberkati."
Jessica mengecup pipi putra sulungnya lama. Menebus waktu-waktu yang mereka lewatkan untuk sekedar duduk berdua karena terpisah oleh jarak di waktu sebelumnya.
"I know, sweetheart. I know."
"Jadi, apa yang ingin kalian makan?"
Ketika sore menjelang, semua penghuni rumah tengah berkumpul dan bersantai seolah mereka tidak punya hal lain untuk dilakukan. Saat tengah asyik melempar candaan, Jessica pun turun dan bertanya tentang makan malam yang mereka inginkan.
"Oh, tidak usah, Nyonya Jung." Suho langsung menolaknya, mana mungkin ia merepotkan tamu. "Kami akan pesan makanan."
"Bukankah masakan rumahan lebih enak?" Tanya Jessica.
"Betul sekali. Sudah lama aku tidak makan masakan rumahan." Kris mengutarakan poinnya. Ngomong-ngomong, ia sudah berkenalan dengan calon ibu mertua Chanyeol tersebut, dan secara mengejutkan, semua berjalan normal.
Suho langsung saja mendelik pada pria tinggi yang baru saja berbicara seenak mulutnya itu. "Kau tidak sopan, dia ini tamu."
"Tidak, tidak apa-apa Suho-ssi. Aku justru senang bisa memasak untuk kalian semua. Baekhyun-ku juga pasti senang, benarkan sweetheart?"
Baekhyun yang sedari tadi duduk diam di tempatnya, lantas mengangguk mantap. Ia rindu masakan ibunya. "Aku juga bisa membantu ibu."
Sontak Chanyeol, Sehun dan Jongin saling bertukar pandang seakan baru saja melihat hantu. Mereka tengah berkomunikasi secara telepati. Isi pembicaraannya tidak jauh-jauh dari kemungkinan bahwa mereka akan mati apabila kembali memakan masakan Baekhyun.
Namun rupanya, sang ibu justru membuat pernyataan yang sangat mencengangkan.
"Jangan bercanda, sayang. Terakhir kali kau membantu ibu memasak, keluarga kita keracunan." Jessica mengatakannya dengan amat sangat datar, tanpa nada yang bisa membuat Baekhyun tersinggung, karena itu memang fakta. Dan Baekhyun tahu itu.
Chanyeol, Sehun dan Jongin tertawa canggung.
"Wow." Kris bertepuk tangan, yang segera mendapat sambaran di kepala oleh Suho.
"Tapi aku sudah banyak belajar." Baekhyun menyilangkan tangannya pertanda tidak setuju. "Masakanku sudah banyak peningkatan dan rasanya cukup enak. Tanya saja Chanyeol!"
Chanyeol ingin menangis sejadi-jadinya.
"Kau memasak untuk Chanyeol?" ibunya bertanya dengan nada terkejut. Ia hanya tidak menyangka bahwa Chanyeol masih hidup hingga saat ini.
Baekhyun tidak menjawab, ia justru melirik pada Chanyeol seolah tengah mengatakan: "Bilang pada ibuku aku melakukannya, cepat!"
Chanyeol beralih pada calon ibu mertuanya dan memasang senyum lebar.
"It was amazing."
Jessica mendesah sambil menangkat bahu. Ia tahu senyum apa yang Chanyeol tunjukkan dan ia hanya bisa membalas dengan tatapan, "I can feel your pain."
"Baiklah, kita anggap itu benar. Tapi kau masih tidak diizinkan untuk pergi dari sofa atau tempat tidur, jadi, biar ibu saja." Itu adalah argumen yang valid dari Jessica, dan diamini oleh beberapa anggukan. Baekhyun memang masih harus banyak beristirahat, jadi tidak ada bantahan untuk alasan yang satu ini.
"Ya, kau masih harus banyak istirahat, babe." Chanyeol menenangkan sambil mengusap bahunya. "Aku saja yang membantu ibu."
"Nu-uh. Kau di luar opsi, karena Baekhyun butuh seseorang untuk menemaninya." Jessica langsung menolak. Lagipula ia tahu seberapa besar keinginan Baekhyun dan Chanyeol untuk tetap berdua. Ia hanya tak tega untuk memisahkan.
"Kalau begitu, biar aku saja yang membantu." Suho menawarkan diri, ia masih merasa tidak enak atas keputusan Jessica untuk memasak.
"Whoa whoa, calm down, yeobo. Aku baru saja membeli furniture baru kemarin." Kris segera mencegahnya karena tidak ingin dapur mereka yang telah ditata rapi berubah menjadi medan perang.
"Excuse me?!" Suho terdengar sangat tersinggung. Kris hanya mengangkat tangan.
"Aku merekomendasikan mereka berdua." Chanyeol menunjuk dua orang pemuda yang sedari tadi diam karena tidak ingin ikut terlibat. "Mereka memang tidak terampil, tapi mereka cukup baik untuk dijadikan asisten."
Sehun dan Jongin saling pandang.
"Ya, lagipula mereka tidak dibutuhkan di sini." Kris menambahkan.
Jessica menatap kedua maknae tersebut dan bertanya, "Kalian tidak keberatan?"
Sehun dan Jongin melirik Chanyeol yang memandangi mereka dengan tatapan "Cepat lakukan atau kupukul kalian."
"Y-ya, kami akan membantu."
"Bagus. Kalau begitu, ayo."
Keduanya beranjak dari sofa dengan berat hati.
"Ayo cepat, nanti kutambah uang jajan kalian." Chanyeol menyuruh mereka untuk bergegas.
"Yang benar?"
"Tentu saja bohong."
Kedua anak itu pergi ke dapur sambil menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.
Baekhyun dibuat tertawa kecil karena pelakuan Chanyeol yang senang sekali membully dua pemuda itu. "Jangan suka mengganggu mereka."
"Force of habit." Chanyeol menjawab santai. Ia membetulkan posisi duduknya dan merangkul Baekhyun lebih erat.
"Apa?" Chanyeol bertanya garang pada Kris dan Suho yang telah menjadi penonton untuk beberapa saat.
"Tidak."
"Lagipula kenapa kau sudah ada di rumah. Tidak kerja?" Chanyeol bertanya pada sang kakak.
"Aku pulang lebih awal."
"Kenapa kau tidak lembur?"
"Kau tidak suka aku di rumah?"
"Tentu saja."
"Brother, kau ingin kuhajar rupanya."
Dan mereka mulai lagi. Memang benar-benar, rumah ini serasa tidak hidup jika tidak ada kebodohan di dalamnya. Suho hanya menggeleng pelan dan memilih untuk beranjak pergi –kemanapun, tempat yang sangat jauh kalau bisa.
Baekhyun sendiri hanya mampu mengurut kening dengan sabar.
"Tolong kembalikan saja aku ke rumah sakit."
.
.
.
Tbc
.
.
.
Harusnya ini di-update beberapa waktu lalu. Tapi ada beberapa hal yang terjadi dan saya pikir saya butuh waktu lebih lama untuk sendiri. This is not an excuse, but I know that I owe you guys an explanation. So here's the thing.
(Saya baru saja kehilangan seseorang yang pernah mengisi ruang kosong di hidup saya. The person that I once loved, my ex, dia meninggal. Although the relationships end but still, it hit me harder than I thought. Everything's like falling apart, and then yeah I broke down.
Tapi saya beruntung karena punya teman2 yang ngerangkul saya ketika jatuh. Mereka kasih semangat dan selalu bilang kalau saya gak sendiri. Dan yah, saya bener-bener gatau gimana jadinya kalau gak ada mereka. I'm blessed. That's it).
Well I think this year just starting out rough for everyone. Shit keep happening again and again. But you know what? I believe we will survive.
Mungkin itu aja yang bisa ditulis. Maaf kalau kepanjangan, kalian bisa skip bagian ini. Terakhir untuk kalian yang masih setia nunggu, saya cuma mau ngucapin makasih banyak. Makasih. Makasih. Sampai jumpa lagi nanti.
