A (nice) Party

"Ohhh… ohh.. ohhh…."

"Hey hey, sssshhhhhh!" Chanyeol menenangkan Baekhyun. "Be quiet."

"Sorry…" Baekhyun kali ini berbisik. Tapi sumpah, rasanya sulit sekali menahan diri untuk tidak meneriakkan desahannya.

Padahal sebelum Baekhyun pulang ke rumah, mereka berdua telah sepakat meredam keinginan mereka berdua untuk melakukan sex selama Jessica masih menginap. Tapi tebak siapa yang melanggar kesepakatan itu sekarang? Yap, mereka sendiri.

"Tidak perlu minta maaf." Chanyeol mengecup kaki Baekhyun yang berada di pundaknya.

Krieet Kriett kriettt…

Suara decitan ranjang terdengar nyaring bersamaan napas kedua insan yang terengah-engah.

"Almost there… almost… ohhh!"

"OHHHH!"

Chanyeol tersenyum mendapati wajah Baekhyun yang begitu puas dengan mata memejam. Ia kembali berbisik, "I think we need to—"

Ucapannya terpenggal oleh suara pintu yang terbuka bersamaan dengan seseorang yang memanggilnya.

"Brother, kau bilang akan tidur di—Fuck. Sorry."

"Kris what the fuck? Don't you know how to knock?"

Chanyeol secara refleks berdiri (dan masih bertelanjang bulat) sementara Baekhyun cepat-cepat menarik selimut guna menutupi sebagian tubuhnya yang telanjang, bagian bawah adalah yang terpenting.

"Kau tidak perlu merasa malu, aku dan Suho juga sering melakukannya." Kris menenangkan karena memang tidak ada salahnya melakukan seks selama kalian adalah sepasang kekasih yang saling mencintai namun bukan itu poinnya.

Rasanya tetap saja kaget saat orang lain masuk ke kamarmu ketika kau sedang melakukan seks.

"Lupakan. Ada apa?" Chanyeol tidak ingin membahasnya lebih jauh.

"Hanya ingin mengatakan, kau bisa pakai kamarku karena aku akan tidur dengan Suho malam ini. Sedikit berantakan di sana, kau tahu sendiri."

"Nice info." Chanyeol berkata dengan kesal. Benar-benar info yang sangat penting. "Kurasa aku akan tidur dengan Baekhyun malam ini. Bisa kau pergi sekarang?"

"Tentu, maaf mengganggu." Kris lantas kembali menutup pintu. Sebelum akhirnya ia kembali beberapa detik kemudian. "Dan jangan lupa untuk mengunci pintu."

"Thanks! Tapi aku suka kebebasan di sini!" teriak adiknya.

Kris mengangkat bahu, dan kembali bersuara. "Don't forget to use protection."

Baekhyun kehilangan kesabaran.

"JUST FUCK OFF!"


Jessica kembali ke Jeju keesokan harinya. Baekhyun sebenarnya ingin ibunya tersebut tinggal lebih lama. Namun ia tahu Jake lebih membutuhkan wanita itu kini. Ia pasti kerepotan mengasuh adik-adiknya yang masih kecil.

"Aku akan sangat merindukanmu, ibu." Ujar Baekhyun seraya memeluk erat tubuh hangat sang ibu. Mereka telah sampai di bandara, dengan Chanyeol yang turut serta untuk mengantar.

"Ibu juga akan sangat merindukanmu." Jessica mengacak-acak rambut putra semata wayangnya dengan gemas. "Jaga dirimu baik-baik, darling."

"Don't worry, ma'am. Aku akan menjaganya dengan baik." Chanyeol ambil bagian.

"Bagus. Karena jika tidak, aku akan memecatmu dari daftar calon menantu." Ujar sang ibu.

Chanyeol segera membuat gestur hormat dengan tangannya.

"Jadi, kapan kalian akan mengunjungi Jeju?" Tanya Jessica.

"Segera. Kuharap bisa sesegera mungkin. Benarkan, sayang?" Chanyeol merangkul Baekhyun, meminta persetujuan.

"Ya, mungkin liburan akhir semester. Mungkin."

Jessica mengangguk-angguk. Ia tak masalah, kapanpun Baekhyun mau, anak itu bisa pulang kapan saja. Namun ia sebaiknya tidak mengabaikan kuliahnya.

"Alright. Ibu akan pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, darling." Jessica hendak melangkah pergi, namun ia masih sempat berbalik untuk mengatakan, "Dan oh, lain kali jangan lupa mengunci pintu."

Diiringi senyuman jahil yang membuat Baekhyun dan Chanyeol spontan menutupi wajah mereka.

"Dammit, Kris…"

Setelah melepas kepergian sang ibu untuk pulang, Baekhyun dan Chanyeol kemudian berjalan menuju parkiran. Hanya ketika ia masuk ke dalam mobil, sebuah panggilan memaksa masuk melalui handphone-nya.

"Rose—"

"BYUN BAEKHYUN! WHAT WERE YOU THINKING?"

Baekhyun lantas menjauhkan ponselnya dari telinga. Rose mengomel, tentu saja wanita itu akan melakukannya karena Baekhyun sadar bahwa ia lupa mengabari dua sahabatnya mengenai apa yang sebelumnya terjadi.

Chanyeol yang melihat itu hanya tertawa prihatin. Ia memilih untuk menyalakan mesin dan membiarkan Baekhyun berurusan dengan sahabatnya.

"Ya, halo juga untukmu, Rose." Baekhyun membalasnya dengan sarkas.

"Kau sungguh dalam masalah besar."

"I am aware."

"Aku dan Dokyung sudah ada di rumahmu, jadi sebaiknya kau cepat kemari sebelum aku kehilangan kesabaran."

Panggilan berakhir. Baekhyun hanya menatap ponselnya dengan datar. Ia bahkan belum sampat mengucap salam.

"Here we go again."

.

Rose ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Karena benar saja, begitu Baekhyun sampai di rumah, ia dan Kyungsoo telah menunggu dengan wajah tak sabaran di ruang tengah. Mereka berdiri begitu menemukan Baekhyun di depan pintu.

Baekhyun memilih untuk membuka suara lebih dulu. "Baiklah, sebelum kalian marah, aku hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang terbunuh disini—"

Dan disambut oleh pelukan dari kedua sahabatnya.

"Aku akan meninggalkan kalian bertiga." Chanyeol memberi ruang pada kekasihnyaa itu untuk mengobrol dengan sahabatnya. Ia pun naik ke atas menuju kamar.

"Kau membuat kami khawatir sialan." Rose memarahinya dengan suara yang bergetar. Apa dia menangis?

Tidak, mereka biasanya tidak se-emosional ini. Bahkan ketika selesai bertengkar pun, tidak ada air mata yang berjatuhan.

"Aku tidak secara sengaja meminta di serang, kau tahu? Itu sebabnya ini disebut insiden." Baekhyun sengaja berceloteh agar suasana mencair.

"Kau seharusnya mengabari kami." Kali ini Kyungsoo yang berkata. Dua sahabatnya kemudian melepas pelukan mereka dan kini menuntut penjelasan.

"Okey okey, aku berniat melakukannya. Tapi ibuku datang mengunjungiku kemarin, dan aku banyak menghabiskan waktu dengannya. Jadi… aku sedikit lupa. Maafkan aku."

Baekhyun beralasan. Yang mana itu adalah sepenuhnya betul. Bukan berarti ia melupakan Rose dan Kyungsoo, hanya saja ia tak sempat. Kemarin rasanya seperti terlalu banyak. Terlalu berat untuk dilewati.

"Ibumu datang?" Rose mengusap sisa air mata di pipinya dan bertanya dengan penasaran.

"Ya, dia menginap di sini."

"Di sini?" kali ini Kyungsoo. "Tidak bermaksud menyinggung, Baekhyun. Tapi apa ibumu tidak mengalami keterkejutan?"

Baekhyun tahu maksud pertanyaan Kyungsoo. Segala kekacauan di rumah ini tidak baik bagi orang tua, khususnya sang ibu. "Ya, kabar baiknya, tidak ada masalah yang berarti."

Mereka lantas berjalan menuju sofa. Memangnya siapa yang mau mengobrol berlama-lama sambil berdiri? Yang benar saja.

"Ya, aku juga terkejut. Terlebih, ibuku sepertinya menerima Chanyeol." Baekhyun melanjutkan ceritanya. Lucu sekali karena ia sendiri butuh waktu beberapa bulan untuk menyukai Chanyeol.

"Dengan senang hati?" Kyungsoo bertanya memastikan.

"Dengan senang hati dan penuh pertimbangan!" sebuah suara muncul dari lantai atas. Jelas sekali itu Chanyeol.

"Hey, jangan menguping! Itu tidak sopan!" teriak Rose.

"Kalian membicarakanku!"

"Kau seharusnya pura-pura tidak mendengar!"

"Bisakah kita berhenti saling berteriak?!" Baekhyun akhirnya memisahkan perdebatan diantara Chanyeol dan sahabatnya. "Dan Chanyeol, jangan lupa mencuci sprei di kamarmu!" tambahnya.

"On my way!" seru Chanyeol.

"Bagus." Baekhyun meniupkan napas panjang. "Sampai di mana kita tadi?"

"Lupakan." Kyungsoo mengibaskan tangannya. "Ngomong-ngomong, permintaan maafmu kami terima."

"Oh aku sungguh berterima kasih." Baekhyun menyentuh dadanya dengan dramatis.

Selanjutnya, Baekhyun hanya menceritakan kembali kejadian yang menimpanya dua hari ke belakang. Sebenarnya ia malas mengulang cerita yang sama, namun ia mesti melakukan hal tersebut agar kedua sahabatnya bisa bernapas lega dan tahu persis bahwa pelakunya, yang mana itu adalah Drew, sudah mendapat balasan yang cukup setimpal (Dihajar dua iblis yang menyerupai manusia).

Saat tengah asyik mengobrol, datanglah dua orang pemuda yang masing-masing menenteng belanjaan di tangan kanan dan kiri. Kim Jongin dan Oh Sehun, berhenti di depan ketiga sahabat yang tengah bercakap-cakap untuk menyapa mereka.

"Oh, hai! Kalian datang berkunjung?" Tanya Jongin berbasa-basi.

"Apa yang kalian bawa?" Baekhyun menyela basa-basi itu dan menunjuk langsung pada kantong-kantong yang dibawa dua bocah tersebut.

"Kita akan mengadakan pesta malam ini." Sehun melaporkan dengan bangga.

"Dan yang kau maksud dengan kita adalah?"

"Aku dan Jongin." Sehun menunjuk dirinya dan sang sahabat. "Kami mengundang teman-teman di kampus kami."

"Dalam rangka?"

"Menyambut Halloween? Pemanasan."

Kedengarannya tidak masuk akal, tapi baiklah.

"Okay, hold up!" Baekhyun mengangkat kedua tangannya untuk memperjelas situasi. "Apakah Suho hyung tahu tentang ini?"

"No! He's going to kill me." Seru Jongin.

"So this party is illegal?" Baekhyun sekali lagi ingin mengonfirmasi.

"Suho hyung tidak akan pulang sampai besok lusa." Jongin meyakinkan. "Dan aku berjanji tidak akan ada yang membawa ganja."

Baekhyun berdiri, ia berkacak pinggang sambil menengok ke atas. "Honey?"

Chanyeol memunculkan wajahnya dari balik tembok pembatas. "Yes darling?"

"Apa kau dengar ini?"

"Ya." Chanyeol menyahut tegas. Si jangkung itu kemudian beralih untuk memarahi Jongin dan Sehun. "Kenapa kalian tidak meminta izin pada Suho? Kalian berdua seharusnya malu!"

"What?" Jongin membuka kedua tangannya, tak terima. "Kau menyetujuinya. Kau bahkan memberi kami uang untuk membeli bir."

Plot twist. Chanyeol ternyata sudah tahu tentang ini dan ia bahkan menyemangati kedua bocah itu. Baekhyun hanya bisa memijit keningnya pelan-pelan. "Alright. Just come down!"

Dengan berat, Chanyeol pun terpaksa turun dari lantai atas untuk ikut berkumpul.

"Mereka memohon. Kau tahu, aku sangat tidak tahan kalau mereka sudah merengek." Chanyeol langsung membela diri begitu ia selesai menuruni anak tangga. Pembelaannya sangatlah kontras dengan perilaku yang ia perlihatkan selama ini. Karena ia sama sekali tidak pernah bermurah hati kepada Jongin maupun Sehun, bahkan jika mereka berdua menangis darah sekalipun.

"Apa Kris tahu?" Tanya Baekhyun.

"Dia tidak peduli." Ujar Sehun. "Dan jangan khawatir, kalian semua juga diundang." Ia berkata pada Baekhyun dan kedua sahabatnya yang masih duduk menonton di sofa.

"Oh, jangan hiraukan kami. Kami hanya pemeran pembantu." Ujar Kyungsoo. Ia mempersilahkan mereka untuk melanjutkan kembali drama keluarga ini.

Baekhyun masih berkacak pinggang. Sebenarnya, ia ingin ketenangan untuk malam ini (dan malam-malam selanjutnya). Tapi bagian yang tak bisa dihindari dari hidup dengan orang lain adalah, ia terpaksa harus berbagi.

"Dan siapa yang akan bertanggung jawab penuh atas pesta ini?" ia kembali bertanya.

Sehun dan Jongin saling bertukar pandang sebelum akhirnya mereka mengangkat tangan dengan ragu-ragu.

"Kurasa aku tidak berhak untuk menghentikan kalian." Baekhyun menarik alis. "Selama kalian tidak berperilaku berlebihan. Dan sebaiknya rumah ini akan terlihat rapi ketika Suho hyung pulang nanti."

"YESSS!" Jongin dan Sehun menarik tinjunya. "Tenang saja. Kami mengundang tidak terlalu banyak orang. Hanya sepuluh atau mungkin dua puluh. Tidak akan lebih."

Mereka berdua lantas berjalan riang menuju dapur, Chanyeol menyusul di belakang. Menyisakan hanya Baekhyun yang kini kembali duduk bersama kedua temannya yang menatap dengan penuh keprihatinan. Tidak mudah mengurus sebuah rumah tangga jika hanya kau yang waras di sana.

Baekhyun masih memijit kening.

"Aku tidak percaya mereka, tapi ya sudahlah."


"Sepuluh atau dua puluh, ya?"

Lagi, Jongin dan Sehun hanya saling bertukar pandang. Seakan mereka sedang saling tunjuk mengenai siapa yang akan menjawab pertanyaan Baekhyun barusan.

"AKU YAKIN ADA SERATUS ORANG LEBIH DI SINI!"

Baekhyun berseru. Menyaingi suara musik yang menghentak-hentak di seisi ruangan. Ia sengaja menyeret kedua bocah itu ke dapur begitu mendapati bahwa jumlah orang yang datang tidak seperti apa yang mereka katakan sebelumnya. Untuk itu mereka harus mengadakan rapat keluarga.

"Aku juga tidak tahu!" Jongin mengemukakan pembelaan. "Kami hanya mengundang beberapa orang. Dan ternyata mereka mengajak yang lainnya!"

Baekhyun belum pernah melakukan ini. Tunggu, seumur hidupnya ia belum pernah menjadi tuan rumah pesta. Pesta keluarga mungkin iya. Tapi pesta dengan orang-orang asing di dalamnya? Ia sama sekali tidak berpengalaman.

"Tidak apa-apa mom, kami akan membereskannya nanti." Sehun berusaha membujuknya.

Baekhyun mendelik tajam sambil membisikkan "Not your mom."

"Wah, kalian di sini ternyata." Datang suara lain dari belakang Baekhyun. Suara yang amat sangat tidak asing. "Ngomong-ngomong, ini pesta yang menyenangkan."

"Kim Jongdae, aku tidak mengundangmu." Jongin menyerangnya lebih dulu.

"Ouch, itu cukup sakit hyung." Anak SMA itu berpura-pura tersinggung. "Aku datang ke sini untuk menanyakan hal itu. Kenapa aku tidak diundang?"

Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan memicing. "Tanpa diundang pun kau tetap datang kemari."

Jongdae menjentikkan jarinya. "Itu bukan alasan, tapi aku setuju."

"Dan jangan salahkan kami jika orangtuamu datang kemari untuk menjemputmu secara paksa." Ujar Baekhyun. Mengingatkan kembali bocah ingusan ini bahwa ia tetap akan angkat tangan bila orangtuanya datang berkunjung.

"Orangtuaku sedang pergi ke rumah bibiku." Jongdae menjulurkan lidahnya. Ia berjalan memutari meja dan melihat-lihat apa yang ada di sana. "Di mana birnya?"

"Enak saja. Kau tidak diundang, tidak ada minuman untukmu." Sehun langsung mengevakuasi beberapa kaleng bir yang tersisa di meja.

"Jika kau sangat ingin minum, ada jus jeruk di lemari pendingin." Jongin menunjuk lemari pendingin yang ada di belakang.

Jongdae berkacak pinggang tidak terima. "Aku mau bir!"

"Kau pikir ini bar?" Baekhyun menggebrak meja. Membuat ketiga pemuda di sekelilingnya berjengkit kaget.

Akhirnya dengan berat hati, Jongdae pun berjalan menuju kulkas. Menarik keluar sebuah minuman yoghurt kemasan dan meminumnya pelan-pelan. "Kalian penyelenggara pesta terburuk yang pernah kutemui." Ia masih sempat bergumam.

Kini kembali pada Baekhyun yang masih meminta pertanggungjawaban dari kedua laki-laki yang lebih muda darinya. "Sampai di mana kita tadi?"

"Baekhyun, tenanglah. Ini hanya pesta biasa, mereka akan pulang sebelum fajar dan kami masih bisa membersihkan sisa-sisanya sebelum Suho hyung pulang." Jongin kembali bernegosiasi. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kami berjanji tidak akan merepotkanmu."

Baekhyun masih memberikan tatapan memicingnya. Ia sama sekali tidak masalah dengan pesta, namun ia hanya ingin meminimalisir kekacauan. Bagaimanapun, ia tinggal di sini dan ia berharap tidak ada kekacauan yang berarti.

"Baiklah. Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat. Aku sama sekali tidak terlibat jika ada satu atau dua hal yang tidak diinginkan terjadi." Baekhyun mengangkat tangannya.

"Everything will be fine." Jongin menenangkannya.

"Ngomong-ngomong, di mana Chanyeol?" Baekhyun baru ingat bahwasanya mereka kekurangan personel dalam rapat keluarga kali ini. Chanyeol mungkin cukup toleran terhadap alkohol, tapi masalahnya, bahkan sebelum pesta dimulai pun ia sudah mabuk. Tidak masalah jika ia bertingkah bodoh (itu sudah biasa). Baekhyun hanya takut pria itu berlarian kesana kemari dan mencium beberapa gadis, atau mungkin meniduri mereka tanpa ia sadari sepenuhnya.

"Tidak tahu. Boleh kami pergi sekarang?"

Sambil menatap kesal pada dua bocah itu, Baekhyun lantas mengibaskan tangannya. "Ya sudah. Hush!"

Sehun dan Jongin kembali melanjutkan pesta mereka yang sempat tertunda.

Berhubung Baekhyun cukup malas untuk berkeliaran ke seisi rumah, jadi ia hanya akan menghubungi Chanyeol untuk memastikan dimana pria itu berada. Pemuda itupun melakukan panggilan lewat ponselnya dan tersambung di dering kedua.

"Baaaabyyy…" Chanyeol menyapa di sebarang sana. Sudah sangat mabuk rupanya.

"Chanyeol, kau dimana?" Tanya Baekhyun tak sabaran.

Ada jeda beberapa saat sebelum Chanyeol menjawab. "Aku… ada di dalam taksi. Pestanya sangat membosankan… jadi aku memilih pulang sekarang. Jangan khawatir, aku akan segera sampai. Aww… kau pasti merindukanku…"

Baekhyun melotot seketika.

"APA—HEY!"

Baekhyun sungguh tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.

"PESTANYA ADA DI RUMAH KITA! KEMBALI SEKARANG JUGA!"

"Apa?"

Astaga. Baekhyun menepuk keningnya keras-keras. "Berikan ponselnya pada supir taksimu, sekarang!"

"Ow, ow, okay baby… hey Pak, dia ingin bicara denganmu, awas kau jangan menggodanya…" Ada jeda beberapa saat sebelum sebuah suara asing menyapa dari ujung sana.

"Hallo?"

"Antarkan dia kembali sekarang juga!"

.

Setelah mengeluarkan Chanyeol dari dalam taksi—dan memberikan uang lebih pada supir taksi yang malang, Baekhyun lalu menuntun pria itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ia sama sekali tidak ingin tahu kemana perginya Chanyeol selama lima belas menit terakhir, barangkali hanya mengelilingi komplek perumahan. Untunglah dia tidak cukup mabuk untuk memesan tiket pesawat dan terbang ke negara lain. Melihat dari parahnya ia sekarang, Baekhyun pikir Chanyeol bisa saja melakukannya.

"Berdiri yang benar, kau berat." Baekhyun memarahinya. Membuat si tinggi berdiri dengan tegap seraya menepuk dadanya kuat-kuat.

"Siap, Kapten!"

Namun tetap saja, mereka harus berjalan terhuyung-huyung menuju pintu utama. Kaki Chanyeol rupanya telah berubah menyerupai jeli, dan ia bisa saja roboh jika Baekhyun tidak terlalu kuat menahan. Sekarang si mungil pun berpikir, apa mungkin orang lainpun sama repotnya jika ia tengah mabuk?

"Kenapa banyak sekali… mobil di sini?" mata Chanyeol memicing, melihat satu persatu mobil yang berjejer di depan rumah. "Apa kau sekarang berjualan mobil?"

"Tidak, itu milik orang lain."

"Hey, jangan berciuman di tempat umum! Dasar tidak tahu sopan santun!" Chanyeol menunjuk dua orang laki-laki yang tengah berciuman di samping deretan tanaman di halaman rumahnya.

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dan menatap kasihan pada sepasang kekasih yang baru saja dimarahi Chanyeol. "Jangan hiraukan dia. Silakan lanjutkan."

Baekhyun berniat membawa Chanyeol ke dalam kamarnya. Namun secara tiba-tiba, pria itu berhenti berjalan dan memilih untuk berdiri di hadapan Baekhyun. Sambil menatap lekat-lekat, ia pun bertanya.

"Kau sangat menawan. Apa kau sudah punya pacar?" Chanyeol bertanya disertai senyuman miring.

Baekhyun sudah sangat sangat jengah dengan tingkahnya.

"Ya. Aku sudah punya pacar."

Senyuman yang semula hinggap di wajah Chanyeol perlahan pudar. Tergantikan dengan wajah kecewa yang amat dalam. Begitu mendengar pernyataan Baekhyun, pria itu berbalik dan berlari ke dalam rumah. Menembus kerumunan yang tengah asyik berdansa, dan pergi entah kemana.

"Ya ampun, sekarang apa lagi?"

Baekhyun hanya mampu menepuk keningnya keras-keras. Ia berniat menyusul Chanyeol namun tak ingin terburu-buru. Yang penting si tinggi itu masih berada dalam area rumah, jadi tidak akan terlalu sulit untuk mencarinya.

Dan mungkin untuk menghilangkan kejenuhan, ia perlu meminum beberapa botol soju. Berpikir bahwa dirinyapun butuh bersenang-senang, maka ia pun masuk dan sesekali bertubrukan dengan mereka yang telah nyaris hilang kesadaraan. Sekilas ia masih bisa melihat Sehun dan juga Jongin yang kini tengah berdiri di atas meja. Mengumumkan hal entah itu apa, sebelum menenggak satu botol bir secara bersamaan. Beberapa orang yang menontonya bersorak gembira, termasuk salah satunya adalah Rose. Yang ternyata datang untuk menghadiri undangan. Kyungsoo sendiri tidak bisa karena ia harus berlajar untuk quiz esok hari. Dan ahhh… itu sedikit mengingatkan Baekhyun bahwa dirinya harus kembali menjalani rutinitas kuliah besok.

Tanpa sadar, kakinya telah melangkah memasuki dapur. Matanya kemudian terarah ke meja counter yang dipenuhi snack dan minuman. Baekhyun pun menarik kursi dan membuka satu botol soju. Ia terlalu malas untuk mengambil gelas, jadi Baekhyun meminum langsung dari botol.

"Ahhhh… ini yang aku butuhkan." Ia bergumam pada dirinya sendiri. Matanya kini menerawang ke seisi ruangan, mencari-cari apabila Chanyeol berada di sana.

"Menikmati pestanya?"

Baekhyun nyaris tersedak saat tiba-tiba mendengar suara yang cukup dekat dengan telinganya. Melirik ke samping, ia pun menemukan seseorang yang tengah bersandar di counter dengan minuman di tangan. Seorang pemuda, jauh lebih tinggi darinya, dengan rambut hitam, dan wajah campuran.

"Uh-oh, ya…" Baekhyun sadar dirinya terdengar kaku. "Maksudku, ya tentu." Ia menegaskan.

"Butuh waktu lama untuk membereskan tempat ini. Itu sebabnya aku tidak suka mengadakan pesta." Pemuda itu kembali berkata.

Baekhyun sebenarnya bukan peminat utama berbasa-basi. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, ia merasa harus bertindak semestinya. Meladeni pemuda ini berbicara. "Aku juga tidak suka. But here we are."

Pemuda tak dikenal itu menaikkan sebelah alis. Baekhyun membacanya dan memberi penjelasan. "Bukan aku yang mengadakan pesta, tapi aku ikut tinggal di sini. Jadi… yah, begitulah."

"Oh…" si pemuda random pun mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong, aku Lucas."

Baekhyun menatap sebuah tangan yang tersulur di depannya. Mungkin berkenalan dengan orang baru tidak buruk juga. Jadi ia pun menyambut tawaran perkenalan tersebut dengan menjabat tangan.

"Aku Baekhyun."

"Senang bertemu denganmu, Baekhyun."

Mereka berdua bertukar senyum. Baekhyun tidak bodoh, sebenarnya ia bisa merasakan hawa ketertarikan yang dipancarakan Lucas. Tapi ia tidak ingin besar kepala. Lagipula, mereka tidak akan pernah bertemu lagi nanti. Ini hanya perkenalan klasik yang tidak akan pergi kemanapun.

"Maaf, bung. Tapi dia sudah punya pacar."

Percakapan mereka berdua terpotong oleh kedatangan seorang bocah yang tak lain adalah Kim Jongdae. Entahlah, Baekhyun bingung apa ia harus bersyukur karena telah diselamatkan dari seseorang yang tengah mencoba menggodanya, atau justru marah karena anak ini ternyata belum pulang juga.

"Oh? Aku tidak tahu kalau dia pacarmu." Lucas mundur.

"Tentu saja bukan." Baekhyun mengamati Jongdae dengan tatapan aneh.

"Ya, dan pacarmu sedang ada di pinggir kolam sekarang." Jongdae menunjuk ke arah belakang dengan ibu jarinya. "Ayo ikut aku."

Remaja itu lantas menarik tangan Baekhyun dan membawanya keluar melalui pintu dapur. Sebelum pergi, ia masih sempat membisikkan sesuatu kepada Lucas dengan mata melotot. "Back off!"

"Bukankah ini sudah melewati jam tidurmu?" ledek Baekhyun pada remaja yang masih berjalan di sampingnya.

"Oh c'moooon…" Jongdae mengerang kesal.

Mereka berdua sampai di pinggir kolam. Dan Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika menemukan Chanyeol yang sedang berbaring dengan punggung tangan yang menutupi matanya. Kelihatannya ia sedang menangis.

Baekhyun kemudian melayangkan tatapannya pada Jongdae. Remaja itu belum melepaskan tangannya ngomong-ngomong. "Do you mind?"

"Oh, hehe..." Jongdae lantas melepaskan tangannya diikuti sebuah kekehan. Bocah itu lalu beralih pada Chanyeol. "Dia sudah seperti ini sejak aku kemari. Tidak tahu kenapa, tapi ia terus saja mengatakan, "Aku patah hati" atau sesuatu semacam itu."

"Drunk Chanyeol is a moron." Baekhyun berjongkok di samping Chanyeol, dan kembali berkata. "Dia bertanya padaku apa aku sudah punya pacar, lalu kujawab iya."

Sontak si bocah SMA menunjukkan wajah kebingungannya. "Tapi… tapi…"

"I know." Baekhyun mengangguk-angguk. Satu tangannya kemudian ia gunakan untuk menepuk-nepuk pipi Chanyeol. "Hey, ayo bangun. Jangan tidur di sini."

"…angigo shipeoyeo… meomulgooooo sipjyoooooo…"

Oke, sekarang dia bernyanyi sambil meratapi nasibnya yang menyedihkan. Baekhyun bertanya-tanya kapan acara mengasuh ini akan berakhir. "Ya Tuhan… Chanyeol, ayolah…"

"TINGGALKAN AKU SENDIRI!"

"Aku akan menciummu kalau kau bangun."

Chanyeol menyingkirkan tangan yang menutupi sebagian wajahnya. Ia melotot tak percaya kepada Baekhyun. "Itu namanya perselingkuhan!"

"Apa aku boleh menendangnya ke kolam renang?" Tanya Jongdae, kesal.

Baekhyun hanya menghela napas. Setelahnya, Chanyeol berbalik ke samping, memunggungi Baekhyun seraya meneruskan nyanyian-nya.

"…SARANGHALGEYOOOO!"

Baekhyun memilih duduk. Dengan sabar menunggui Chanyeol yang akan terus mengoceh mengenai hal-hal tak masuk akal. Kalau beruntung, ia bisa membawanya masuk. Namun Baekhyun tahu ini akan menjadi amat sangat lama.

Ia melirik Jongdae dengan tatapan pasrah.

"It's gonna be a long night."


.

.

.

Tbc

.

.

.


Guys, I just wanna say thank you so much buat support kalian di chapter kemarin. Itu bener-bener luar biasa, gatau harus ngomong apa lagi. Bacain review kalian satu-satu bikin hati kerasa ringan. Pokoknya makasih, I don't deserve u guys, kalian hebat. I love y'all.

(And yeah i miss chanbaek too. Semoga update ini bikin mood aku, kalian, kita, sedikit membaik.)