Mr. Handsome
Bagi Kris, membawa pulang Suho merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Karena pria tersebut terlalu mencintai pekerjaannya, yang mana itu menyebabkan dirinya tenggelam terlalu lama dalam kesibukan. Kris tidak suka, tentu saja. Terlebih, ia sangat tak suka ketika Suho lebih banyak menghabiskan waktu dengan rekan kerja dibanding dirinya. Pernah suatu hari pria tinggi itu bertanya pada sang kekasih hati, apakah ia lebih memilih Kris atau pekerjaannya. Dan jawaban Suho sungguh jujur dari relung terdalam.
"Kau sudah tahu jawabannya."
Kris tersenyum lebar mendengarnya.
"Terimakasih, yeobo."
"Tentu saja aku pilih pekerjaanku, kau pikir kau siapa?"
Yang mana membuat Kris bersumpah suatu hari ia akan buat bangkrut perusahaan tempat Suho bekerja.
Sekarang, kembali lagi pada Kris yang tengah mengemudi dengan tenang, bersama Suho yang sesekali menguap di sampingnya. Wajah lelah jelas terlihat di sana, yang mana berarti Suho tak mendapat tidur yang cukup di kantornya. Mungkin karena Kris menjemputnya terlalu pagi, atau memang ia berkerja hingga larut.
Kris punya alasan tersendiri. Ia memang ingat betul ketika Suho mengatakan bahwa ia tidak akan pulang hingga lusa. Namun apa Kris peduli dengan itu? Oh, tentu tidak. Jadi, meski Suho berwajah kusut saat ditemui di kantor, pria jangkung itu tetap acuh dan mengajaknya pulang. Tentu saja Suho sempat melakukan perlawanan namun kekasihnya mengancam akan mengamuk di tempat itu –di mana itu merupakan ide yang cukup berbahaya- jadi ia menyerah.
"Kau masih marah?"
"Diam pirang sialan."
Si pemegang kemudi diam dadakan. Tapi toh, yang penting Suho masih mau bicara. Setidaknya dia sedikit aman.
Memasuki gerbang komplek perumahan, Kris mengemudikan mobilnya lebih pelan. Sesekali ia melirik ke kiri dan kanan. Melihat apakah ada manusia yang bisa disapa pagi itu. Tipikal seorang ayah yang mencoba sok ramah dengan tetangga.
"Aku punya firasat buruk." Suho berkata tiba-tiba.
"Firasat buruk?"
"Kau tahu, suara kecil yang hadir di pikiranmu dan mengatakan bahwa sesuatu hal buruk telah terjadi." Jelas Suho.
"Uhh, can't relate."
"Only human beings can feel it, sorry."
Kris menaikkan bahunya. "I'm a superhuman then."
Tak perlu waktu lama untuk membuktikan perasaan yang mengganggu Suho. Karena begitu sampai di depan rumah, bahkan sebelum memasuki gerbangpun mereka tahu ada yang salah di sana.
Suho ingat bahwa dirinya tak pernah lupa mengurus halaman depan rumah dengan menyewa tukang kebun sesekali. Namun kini, beberapa tanaman yang biasa berjajar di sana kelihatan tidak begitu sehat. Seperti mereka baru saja di duduki atau mungkin diinjak. Dan ada pula beberapa tanaman yang kini berbuah kaleng soda. Lalu jangan lupakan sofa yang juga berada di luar. Dan… dan kenapa ada bekas muntahan di reremputan?
Kris membiarkan mobilnya terparkir di pinggir jalan sementara mereka berdua turun dengan keadaan bingung. Bahkan dari luar terlihat jelas betapa kacaunya rumah itu. Dan satu-satunya hal masuk akal yang bisa menjadi sebab adalah—
"Permisi Pak Shin, apakah semalam terjadi tsunami di sini?"
Kris bertanya pada Kakek Shin yang sedang membawa anjingnya berjalan-jalan.
Suho kadang heran kenapa Kris masih hidup dengan kebodohannya yang kronis itu. Karena—semua orang tahu bahwa kerusakan yang ada di sini tidak disebabkan oleh bencana alam melainkan bencana manusia.
"Di sini? Tidak ada. Memangnya kalian tidak tahu?" Kakek Shin berkata dengan ramah sambil sesekali melirik anjingnya.
"Tahu apa?" Kris berjongkok, mengusap-usap hewan kesayangan milik kakek Shin yang pernah diracuni teman serumahnya. "Halo Elizabeth, lama tidak berjumpa." Sapanya.
"Kudengar mereka mengadakan pesta." Lanjut Kakek Shin lagi.
Suho berkacak pinggang. Sebelum ia berkata, Kris sudah lebih dulu memotong. "P—"
"Pesta? Aigooo… apa anak-anak itu mengundangmu Pak Shin?"
"Ahh, tidak tidak. Aku sudah terlalu tua untuk ikut pesta. Benarkan, Suho-ssi?"
Suho hanya tersenyum penuh paksaan. Sebelum obrolan pagi ini berlanjut, ia memilih untuk segera berpindah dan mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana. "Kami permisi, Pak Shin. Semoga harimu menyenangkan."
Tak lupa ia pun menarik Kris yang nampaknya masih asyik bermain-main dengan anjing Pak tua tersebut.
"Bye bye, Elizabeth. Jadilah anak yang baik!"
Mereka tidak punya waktu untuk omong kosong ini. Astaga.
Begitu melewati halaman depan, Suho dihadiahi bau-bau yang amat tidak mengenakkan. "Seseorang pasti mengencingi kaktus palsu milik Sehun."
"I can tell." Kris menanggapi di belakangnya.
Kembali Suho melangkahkan kaki dan kembali pula ia berujar pada Kris. "Bagaimana kalau kita kerampokan?"
"Kita akan melapor polisi." Ujar Kris. Yang mana itu merupakan kalimat paling masuk akal yang pernah ia ucapkan hari ini.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Dan yang terjadi di luar tidak jauh berbeda dengan keadaan di sana. Bekas minuman yang terletak di sembarang tempat, bungkus keripik kentang berserakan, dan Baekhyun serta Chanyeol yang tertidur di sofa dalam posisi saling berpelukan. Lupakan, itu tidak aneh sama sekali.
Chanyeol jelas tak mengenakan atasan, namun Baekhyun kelihatan masih utuh, dalam hal berpakaian. Tak ada yang tahu dengan bagian bawah karena semua tertutupi selimut merah milik Chanyeol.
"Bangunkan mereka." Pinta Suho.
"On it."
Kris menampar pipi Chanyeol (MENAMPAR. Catat itu) yang mana membuat Chanyeol spontan terbangun dengan kagetnya.
"Ah ah ah! Kepalaku! Kepalaku!" Erangnya dengan mata yang masih tertutup. Baekhyun yang menempel di sampingnya dibuat terusik.
"Hey!" panggil Suho cukup keras.
Barulah Chanyeol membuka matanya dan meraba-raba kepalanya dengan gelisah. Wajahnya yang semula panik berubah menjadi lega.
"Masih ada... Kepalaku masih ada."
Ia lantas melarikan pandangan pada dua pria yang kini berdiri dengan tatapan menghakimi. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, jadi ia masih menerka-nerka apakah ini mimpi atau sungguhan. Lebih penting lagi, apakah ia masih hidup atau justru sudah di alam lain.
"Apa aku di neraka?" Tanya Chanyeol penuh kewaspadaan.
"Tidak." Suho melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau kau di neraka, iblis akan ketakutan karena kau menguasai tahta."
"Oh." Chanyeol menggumam singkat. Sedikit lega namun itu tak berlangsung lama sebab ia baru menyadari siapa yang baru saja diajak berbicara. "Woah, kau sudah pulang?"
Suara keras Chanyeol nyatanya membangunkan Baekhyun yang sedari tadi masih tidur. Mau tak mau, ketidaknyamanan ini membuatnya bangun juga.
"Ada apa ribut-ribut sekali?" Tanya Baekhyun. "Ini masih p-hoooooaaaeemmm…"
Jelas sekali ia masih mengantuk. Mengurus Chanyeol yang mabuk semalam bukan hal mudah ngomong-ngomong.
"Selamat pagi Tuan-tuan, kuharap kalian punya penjelasan untuk kekacauan yang terjadi di rumah ini."
Mendengar suara familiar itu, Baekhyun bangun dari tidurnya dan terduduk dengan posisi tegap.
"Suho hyung?"
"Surprise! Surprise!" Kris berkata dengan nada datar.
"Baiklah, baiklah. Apapun yang kau pikirkan sekarang, aku berani sumpah bahwa aku sama sekali tidak bertanggung jawab atas kekacauan ini." Baekhyun langsung melancarkan pembelaannya. Dia tidak terlalu mabuk semalam, itu sebabnya ia masih bisa bangun dengan keadaan baik pagi ini.
"Oh ya, lalu siapa?"
"Aku benci mengatakan ini, tapi semuanya berasal dari Dua maknae yang sekarang aku sendiri tidak tahu mereka di mana." Baekhyun berujar pasrah. Tak lupa sambil melirik kekasihnya yang masih mengumpulkan kesadaran perlahan-lahan.
"—dan mungkin sedikit bantuan dari seseorang." Tambahnya lagi.
Suho menghembuskan napas berat diikuti gelengan di kepala. "I knew it."
Ia membalikkan badan. Menuju kamar adiknya untuk mencari peruntungan. Lagipula, mereka berdua takkan pergi terlalu jauh. Dan sebaiknya mereka memang berada di sana karena Suho tidak ingin menambah hukuman jika kedua bocah itu justru telah kabur.
Dengan pintu yang tidak terkunci, memudahkan Suho untuk memeriksa ke dalam. Namun begitu pintu terbuka, rasanya ia tak perlu repot-repot masuk. Sebab dari sana, ia bisa melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi.
Tiga orang terkapar di tempat tidur. Satu diantaranya adalah seorang perempuan. Dan jangan lupa, ketiganya bertelanjang bulat.
"Ck ck ck… tidak bermoral." Kris yang berdiri di belakangnya mengomentari sambil mengambil gambar melalui smartphone-nya. Siapa tahu bisa ia gunakan sebagai ancaman suatu hari nanti.
Dan Suho? Oh, dia tidak terlalu peduli dengan itu sebab emosinya kini telah memuncak hingga ke ubun-ubun.
"KRIS, GET THE DAMN BROOM!"
"Kembalilah jika kau hamil, kami pastikan satu diantara dua orang idiot itu akan bertanggung jawab."
Kris berkata dengan santai pada gadis yang tidur bersama Jongin dan Sehun sekaligus. Jiwon namanya, memperkenalkan diri sebagai teman kuliah dan mengatakan bahwa semalam adalah sebuah ketidaksengajaan. Meski begitu, mungkin mereka tetap akan menjadi bahan gosip seisi kampus selama satu bulan ke depan.
"Kami menggunakan pengaman." Jiwon menjawab dengan pelan. Dari penampilannya, tanpa bertanyapun orang-orang sudah tahu bahwa ia adalah ayam kampus.
"Pengaman tidak selamanya mengamankan." Ujar Kris, masih dengan kedua kaki bertumpu di meja, sangat kasual.
"Kurasa aku akan pamit sekarang." Jiwon mengambil tas jinjingnya sambil melirik pada Suho. "Aku permisi."
Suho tidak ingin repot-repot menjawab.
Setelah membangunkan tiga manusia itu dengan beberapa pukulan menggunakan sapu, Suho kemudian menunggu di ruang tengah yang masih dalam keadaan kacau. Kris menemani, sambil sesekali berbicara pada si gadis bernama Jiwon, yang kini telah pulang. Suho sendiri tidak peduli dengan urusan ranjang mereka, ia hanya menuntut pertanggungjawaban atas kekacauan di rumah ini.
"It's getting sad." Chanyeol berbisik pada pacarnya, yang hanya direspon dengan bahu terangkat.
Dan jangan lupakan dua pasangan yang juga ikut duduk di sofa ruang tengah. Setidaknya Baekhyun dan Chanyeol ikut dalam pesta dan tahu apa yang terjadi.
"Kau mau tidur lagi, baby?" kembali Chanyeol berbisik pada Baekhyun. Benar-benar tidak bisa membaca situasi dia ini.
"Nanti."
"Tapi aku masih mengantuuukkk…"
Baekhyun mendorong wajah Chanyeol menjauh darinya. "Ya sudah tidur lagi sana."
Begitu Jiwon benar-benar pergi, belum ada lagi yang bersuara. Mereka berempat hanya menunggu kedatangan Jongin dan Sehun yang diberi waktu untuk berpakaian dengan pantas dan mencuci muka –barangkali sambil memikirkan alasan yang bisa menyelamatkan mereka.
"Yeobo," Kris memanggil lembut Suho yang masih berwajah keras. Ia hanya ingin mencairkan suasana. "Dengar, kita semua membuat kesalahan dan menurutku sebuah pesta tidaklah buruk—"
"You can go to hell with that, Chris."
Menyaksikan respon pedas Suho, Chanyeol terkikik dan mengolok-olok Kris tanpa suara.
Kris melemparnya dengan kaleng bekas minuman.
"KIM JONGIN OH SEHUN, CEPAT KEMARI SEBELUM KUPATAHKAN LEHER KALIAN BERDUA!"
Suho merasa lelah, kurang tidur, dan semua elemen yang membuatnya bisa meledak saat itu juga. Harapannya ketika pulang ke rumah dan mencium kasur haruslah sirna bersamaan dengan kondisi rumah yang tak berbentuk. Ya, ia mungkin bisa saja menunda amarahnya untuk nanti. Tapi untuk apa ditunda jika bisa dikeluarkan sekarang?
"Ah, there you go." Baekhyun berujar ketika dua adik manis di rumah ini telah bergabung dengan mereka.
Sejujurnya ia merasa sedikit kasihan juga. Tapi mau bagaimana lagi, mereka yang telah berbuat dan siapa yang tahu kalau Suho justru akan pulang cepat? Maka dari itu, dua anak tersebut harus tetap bertanggung jawab sejak mereka berdua mengumumkan hal itu sebelum pesta dimulai.
Memulai pidato, Suho pun bangkit dari tempat duduknya, berkacak pinggang.
"KALIAN MEMBUATKU KEHABISAN KATA-KATA!"
Dan daripada kehabisan kata, Suho justru memarahi mereka selama dua jam.
"Apa kau betul-betul akan meninggalkanku begitu saja, Byun Baekhyun? Setelah semua hal yang telah kita lewati berdua?"
Baekhyun menatap lawan bicaranya dengan hina. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol Park yang kini sedang berbaring menyamping dengan kepala menyangga tangan, di atas tempat tidur Baekhyun.
"Apa kau sudah selesai?" Baekhyun balas bertanya. Sambil mengeringkan rambut, kini ia berhadapan dengan cermin. Pemuda itu tengah mempersiapkan diri untuk pergi kuliah –dan Chanyeol memutuskan untuk membuatnya terdengar lebih dramatis.
"Apanya?"
"Apa kau sudah selesai dengan kebodohanmu?"
Chanyeol mengekeh pelan. "Bodoh-bodoh begini pun aku tetap menjadi kesayanganmu."
"Seperti aku punya pilihan lain saja." Kelakar Baekhyun.
Chanyeol tiba-tiba bangkit dan bertanya. "Aku penasaran, jika tidak ada aku di sini, siapa yang akan kau pilih sebagai pacar?"
"Hmmm?" Baekhyun berbalik dan mengetuk-ngetuk jemarinya di dagu. "Mungkin Suho hyung?"
"Itu perselingkuhan!"
Baekhyun mulai mempertanyakan apakah mungkin Chanyeol belum sembuh dari mabuknya. Karena ia serasa mengalami déjà vu.
"Sepertinya kau melupakan kata 'jika' itu sendiri." ujar Baekhyun.
"Ah iya, kau benar juga."
Keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan remeh tersebut. Baekhyun sibuk memilih-milih baju, sementara Chanyeol masih setia melihat kekasihnya mondar-mandir dengan pakaian dalam (sambil sesekali menyentil selangkangannya untuk tidak berdiri tegak). Ia tidak punya kesibukan yang berarti untuk hari ini, atau sebenarnya ia hanya sedang menghindar dari acara beres-beres rumah yang disponsori oleh Kim Jongin dan Oh Sehun.
(Padahal ia sendiri terlibat secara tidak langsung, namun dengan santainya, Park Chanyeol hanya menasehati kedua anak tersebut dengan kata-kata bijak. "Laki-laki harus bisa bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.")
Namun sebenarnya (lagi), ada hal lain yang berkeliaran di pikiran Chanyeol. Pikirannya terpecah menjadi beberapa bagian. Hingga ia sendiri kesulitan untuk memilih mana yang lebih penting. Dan Baekhyun, rupanya mampu mendeteksi keganjilan tersebut. Jadi, ia pun bertanya.
"Kenapa?"
Chanyeol menopang dagu. Tidak mungkin menghindari pertanyaan Baekhyun, lantas ia memutuskan untuk berbagi satu dari sedemikian banyaknya pikiran yang mengganggu. "Aku sedang berpikir."
"Oh?" Baekhyun menarik celana jeans-nya hingga ke pinggang. "Tidak tahu ternyata kau mampu melakukannya."
"Ha ha." Chanyeol tertawa hambar. Baekhyun tersenyum jenaka.
"Jadi, apa yang sedang ada dalam pikiranmu, Tuan Tampan?" Kali ini Baekhyun bertanya, masih sedikit menggodanya.
Chanyeol menaikkan bahunya. "Entahlah. Aku hanya berpikir apa kau baik-baik saja? Maksudku, untuk pergi kuliah."
Setelah semua yang terjadi di minggu yang melelahkan ini. Apakah Baekhyun bisa tetap baik-baik saja? Ini bahkan belum satu Minggu sejak mantan sialannya menyerang pemuda itu.
"I am fine."
Baekhyun membalas singkat.
"Fine?"
"Yep. Fine."
"You mean, Fucked up, Insecure, Needy and Emotional?"
Baekhyun menaruh tangannya di dada dan memandang Chanyeol penuh haru. "Honey, you know me so well."
Baekhyun sangat sangat mengapresiasi betapa Chanyeol mengkhawatirkannya sejauh ini. Sejujurnya ia memang masih takut, apalagi untuk pergi ke kampusnya sendiri. Karena orang-orang akan mulai membicarakannya, sedikit banyak. Meski itu hanya akan berlangsung mungkin untuk satu minggu, atau barangkali satu bulan. Hanya saja rasanya tetap saja tidak nyaman.
Tapi ia bisa apa. Selain beradaptasi dengan cepat terhadap keadaan. Lagipula Baekhyun berpikir, dirinya akan segera membaik –secara emosional. Trauma atas kejadian yang menimpanya akan sembuh perlahan-lahan, kemudian menghilang. Semuanya akan kembali baik seperti sedia kala.
Mungkin.
"Babe, aku ingin kau berjanji untuk mengatakan apapun hal yang mengganggumu. Aku serius." Ujar Chanyeol.
Selepas mengenakan kemejanya, Baekhyun duduk berhadapan dengan Chanyeol. Pemuda mungil itu menepuk kedua pipi kekasihnya, dan memegangnya sambil menatap dengan yakin. "Tentu saja."
"Apapun?"
"Apapun."
"Kapanpun?"
"Kapanpun."
"Cium?"
"Cium—hey, kau menjebakku!"
Baekhyun mendorongnya dan Chanyeol tertawa.
"Tapi serius, kurasa aku belum dapat jatah ciuman hari ini." Chanyeol memiringkan kepalanya dengan wajah sendu. "Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup jika seperti ini terus…"
"Setelah kupikir-pikir ternyata kau raja drama." Baekhyun mencibir. "Tidak ada ciuman untukmu karena kau sudah menyusahkanku tadi malam."
Oh, siapa bilang Baekhyun akan melupakan yang semalam?
Chanyeol mendadak berwajah polos. Detailnya terlalu samar, ia sama sekali tidak ingat apa yang telah ia lakukan semalam. Namun yang pasti, itu amat sangat menjengkelkan Baekhyun sampai-sampai kekasihnya membawa kemarahan itu hingga esok harinya, yang mana itu adalah sekarang.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Chanyeol penasaran.
"Mimingnyi iki kinipi?"
Baekhyun justru mengolok-oloknya. Chanyeol berkedip kian polos.
"Ingatkan aku untuk tidak membiarkanmu mabuk berat lagi." Kata Baekhyun. "Dan jika kau sangat penasaran, kurasa Jongdae menyimpan rekaman tingkahmu semalam. Semoga dia belum menyebarkannya di media sosial."
"Kim Jongdae? Keparat itu—" Chanyeol cepat-cepat mengambil ponselnya dan mencari-cari nama si bocah bengal untuk melakukan panggilan.
Di luar sana, Jongdae yang hendak mengajak bicara seorang siswi baru si kelasnya, tiba-tiba terhenti begitu sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Halo, hyung?"
"Jika kau melakukan hal yang aneh-aneh, maka aku akan membunuhmu hari ini juga dan membuatnya terlihat seperti sebuah kecelakaan. Kau mengerti?"
"….?"
"KUTANYA APA KAU MENGERTI?"
"Me-mengerti, hyung…"
Panggilan berakhir dengan cepat. Jongdae yang masih kebingungan mengenai hal apa yang sebenarnya Chanyeol bicarakan hanya mampu melirik ke kanan dan kiri. Sungguh, ia sama sekali tidak paham.
"Mungkin itu artinya aku tidak boleh mengajak berkenalan gadis ini…"
Kim Jongdae yang malang, tidak tahu maksud Chanyeol ternyata bukan yang itu.
Kembali ke tempat di mana Baekhyun dan Chanyeol berdiam.
Chanyeol melemparkan ponsel pintarnya ke tempat tidur, berkacak pinggang sambil membuang napas keras-keras. Di hadapannya, Baekhyun berdiri dengan tatapan menghakimi. Chanyeol menaikkan alis pertanda bertanya dan Baekhyun menjawab ngeri.
"Aku penasaran, kenapa sampai sekarang mereka belum menjebloskanmu ke penjara?"
Chanyeol mengantarkan Baekhyun berangkat kuliah siang itu. Tentu saja, karena mulai dari sekarang dan seterusnya, Baekhyun tidak akan ia biarkan pulang atau pergi sendirian. Mengingat betapa berbahayanya dunia luar ini jika tidak ada sosok Chanyeol yang melindungi.
"Kenapa tidak sekalian kau kurung saja aku di dalam gelembung?" Baekhyun sewot ketika mereka berdua telah berada dalam mobil, bergegas untuk berangkat.
"Percaya padaku sayang, aku sempat memikirkan tentang itu." ujar Chanyeol enteng, namun terdengar sungguh-sungguh.
Baekhyun menghadiahinya sebuah jitakan di kepala.
Berhubung keadaan di dalam rumah belum juga kondusif, yakni masih diisi dengan kegiatan bersih-bersih oleh dua orang asisten rumah tangga dadakan, maka Chanyeol berinisiatif untuk mampir ke drive-thru. Mereka tidak punya waktu lama untuk pergi makan siang, namun Chanyeol tetap bersikukuh bahwa perut Baekhyun tidak boleh kosong. Maka dari itu, kini mereka telah masuk ke antrian untuk memesan.
"Mau pesan apa?" Tanya Chanyeol.
"Apa saja."
"Tidak ada menu apa saja di sini."
Baekhyun menatapnya dengan sebal. "Cheeseburger."
"Siap, Yang Mulia."
Chanyeol tahu bahwa Baekhyun seringkali merasa kesal jika diajak makan. Karena diet inilah, diet itulah, macam-macam. Jadi untuk mengurangi kekesalannya, pria itu kerap kali menggodanya dengan hal-hal kecil.
Begitu selesai di loket pembayaran, mereka pun sampai di loket terakhir untuk mengambil pesanan. "Ini pesanan anda."
"Terimakasih." Chanyeol mengambil pesanannya dan meletakkan ke tengah.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Ahh… ya," Chanyeol melirik Baekhyun yang masih diam. "Tolong katakan pada seseorang di sampingku ini bahwa dia sangat sangat tampan."
Pegawai wanita yang berdiri di dalam sana lantas tersenyum dan beralih pada Baehyun. "Anda terlihat sangat sangat tampan."
Baekhyun hanya mampu membenamkan wajahnya di telapak tangan. Terlalu malu untuk sekedar menanggapi pujian –atau mungkin gombalan—tersebut. Chanyeol dengan ide aneh-anehnya memang selalu membuat Baekhyun kehabisan kata.
"Semoga hari anda menyenangkan!"
Chanyeol mengangguk, selepasnya ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan melirik ke kanan di mana Baekhyun masih berwajah merah dan berseri-seri. Ia lalu bertanya dengan iseng. "Ada apa, Tuan tampan?"
Baekhyun memutar bola mata, dan tersenyum setelahnya. "Diam."
"Kau boleh memakan dua-duanya." Kata Chanyeol sambil melirik dua bungkusan makanan di tengah mereka berdua.
"Tidak, terimakasih. Sebenarnya aku belum lapar."
"Katakan sekali lagi aku tidak dengar."
Baekhyun berdecak sebal. Ia tahu Chanyeol sangat tidak suka jika mereka telah membicarakan ini. Jadi daripada memulai perdebatan, Baekhyun pun memilih untuk meraih burger-nya dan mengambil sebuah gigitan.
"That's my baby." Chanyeol berkata dengan bangga.
Mereka sampai di pelataran parkir beberapa menit kemudian. Suasana siang ini cukup ramai dengan panas nan terik. Membuat Chanyeol ingin segera kembali ke rumah setelah ini selesai. Berenang di kolam kedengarannya menyenangkan.
"Tidak mau mampir dulu?" Goda Baekhyun. Karena barangkali, Chanyeol ingin berjalan-jalan terlebih dahulu di kampus dan mungkin bisa menyapa beberapa dosen. Mengapa dosen? Karena rekan-rekan seangkatannya sudah lulus lebih dulu.
"Aku tidak ingat kuliah di sini." Chanyeol berkelakar. "Habiskan dulu makanmu, baru masuk ke kelas." Ia mengalihkan topik.
"Swudwah hwabiss!" Baekhyun menunjuk mulutnya yang penuh. Ia menyampirkan ransel di punggungnya dan mengambil cola untuk dibawa. "Akan kuhubungi lagi kalau sudah selesai."
Pemuda itu turun dari mobil dan bergegas untuk menapaki gedung kampusnya. Namun belum sempat ia berjalan jauh, Chanyeol berseru dari dalam mobilnya.
"Babe, are you forgetting something?" Tanya Chanyeol dibalik jendela mobil yang diturunkan.
Ahh…
"Right." Tersenyum kecil, Baekhyun menganggukkan kepalanya dan berjalan kembali. Menurunkan wajahnya sehingga ia bisa mencapai jarak yang dekat dengan Chanyeol.
Cup.
Kini, Baekhyun mundur dan berkata penuh semangat. "Sampai jumpa lagi, sayang!"
Setelahnya, merekapun betul-betul berpisah. Masih sempat Chanyeol perhatikan setiap langkah Baekhyun yang perlahan menjauh. Dan ia hanya mampu tersenyum untuk dirinya sendiri. Membayangkan Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki membuat otaknya berlari kesana-kemari.
"Tahan… tahan sampai dia pulang nanti." Ujarnya sambil mengelus selangkangan.
Ketika hendak bertolak ke rumah, Chanyeol dikagetkan dengan sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Beruntung ia belum menyalakan mesin, jadi Chanyeol masih sempat membuka pesan yang dikirim untuknya.
Begitu mendapati nama yang tertera di layar, mood-nya yang semula bagus, langsung berbalik arah menjadi buruk. Betul-betul perubahan yang drastis dalam waktu singkat.
"Ck. Kenapa harus hari ini?" ia merutuk sehabis membaca pesan tersebut.
Tapi apa boleh buat. Lagipula ia tidak punya hal penting yang harus dikerjakan hari ini (walaupun sebenarnya ia lebih ingin bersantai di kolam renang tanpa diganggu siapapun). Tapi mengingat ini jarang terjadi –dan mungkin ia bisa mengorek sedikit informasi, maka ia pun berbesar hati untuk menyetujui ajakan makan siang seseorang di luar sana.
"Awas saja kalau tidak ada hal penting yang ingin dia bicarakan." Ujar Chanyeol sambil menyalakan mesin. Tanpa membuang waktu lagi, iapun memacu kendaraanya keluar dari parkiran dan segera menuju ke titik pertemuan.
Lima belas menit kemudian…
Sebuah restoran keluarga bergaya klasik menjadi tempat pemberhentian Chanyeol berikutnya. Setelah memarkirkan mobil, ia pun masuk dan disambut oleh pelayan restoran yang berdiri di depan pintu utama.
"Tuan Park sudah menunggu kedatangan anda." Salah satu diantara mereka memberitahu ketika Chanyeol sampai. Pria jangkung itu sendiri tidak menjawab. Memilih untuk terus berjalan dengan satu pelayan yang akan mengantarnya ke ruang reservasi.
Sampai di depan sebuah bilik, Chanyeol menarik napas dalam-dalam. Ketika pelayan perempuan menggeser pintu, ia langsung dapat melihat sosok sang ayah yang tengah duduk bersantai sembari menuang minuman dari botol sake.
"Terimakasih." Ujar Chanyeol kepada pelayan yang mengantarnya. Selepas pelayan itu pergi, tinggallah Chanyeol bersama sang ayah, berdua dalam ruangan.
Chanyeol duduk tanpa perlu dipersilakan. Berhadapan langsung dengan Jinyoung Park, yang kini mengalihkan atensi padanya.
"Lihat dirimu, masih seperti gelandangan."
Bagi tuan Park, itu sudah menjadi sapaan paling normal ketika bertemu dengan Chanyeol.
Sang anak tidak langsung sakit hati, ia hanya mengangkat bahu dan membalas dengan santai. "Ayah pun akan terlihat sama jika melepas setelan jas itu."
Chanyeol meraih gelas. Ia memilih untuk menuangkan air mineral guna membasahi kerongkongan. "Jadi, ada apa?"
Enggan berbasa-basi, pria itu bertanya langsung ke titiknya.
"Ayah senang kau bertanya." Park senior menarik senyum. "Keadaan di rumah sedang tidak terlalu baik."
"Oh ya? Apa kakek sekarat?" Chanyeol bertanya asal-asalan.
Tuan Park menggeleng. "Tidak. Belum."
"Lalu?"
"Ibumu mengajukan gugatan cerai."
Wow.
Chanyeol cukup terkejut untuk yang satu ini. Karena sejauh yang ia tahu, ayah dan ibunya adalah perpaduan manis antara dua manusia yang gila harta. Selama ini mereka memiliki visi dan misi yang sama dan tidak mengedepankan cinta. Ah, rasanya bingung untuk menjelaskan situasi sekarang. Entah Chanyeol harus sedih atau senang, yang jelas ia hanya bisa mengekspresikannya dengan tatapan seolah tidak peduli.
"Yah, memang hanya masalah waktu." Chanyeol memberi komentar pertamanya. "Lagipula aku sudah merasa broken home sejak dulu."
Tuan Park mengangguk-angguk dengan senyum kecil.
Jika dulu, Chanyeol dan ayahnya cenderung lebih sering saling teriak saat berkomunikasi. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua sekarang lebih sering melempar satire satu sama lain. Keduanya bosan bertengkar secara membabi buta, dan memilih untuk bertingkah halus meski masih dengan tujuan yang sama; berselisih tanpa menemukan kesepakatan.
"Kau tidak bertanya alasannya apa?"
Chanyeol mendengus. "Ayah membawa selingkuhan ayah ke rumah, dan juga anak hasil hubungan gelap kalian. Oh ya, berapa tahun usianya?"
Ia hanya menebak-nebak, dan setengah bercanda. Tapi siapa tahu itu semua memang benar karena hidupnya selalu dipenuhi hal-hal konyol yang tidak terduga.
"Mendekati benar. Detailnya silakan kau cari tahu sendiri."
"Apa Kris sudah tahu?"
"Belum, belum sempat kuberitahu." Tuan Park mengambil jeda. "Tapi dia akan menyadarinya sendiri. Kau tahu, kakakmu jauh lebih pintar jika dibandingkan dengan dirimu."
Chanyeol tersenyum meledek. "Ya, dan itu membuatmu senang untuk memanfaatkannya."
"I raised him with nothing but respect-"
"Are you kidding me, Father?" Chanyeol tertawa hambar. "Bukan aku orang yang memotong mimpinya menjadi seorang dokter."
"Dia menyelamatkan perusahaan. Jelas sekali ia lebih bertanggung jawab daripada adiknya yang sampai saat ini bahkan belum lulus dari perguruan tinggi."
Park Senior melonggarkan dasinya. Itu menjadi kemenangan tersendiri bagi Chanyeol karena telah berhasil menyulut emosi dan merobohkan pertahanan sarkas sang ayah. Ketegangan menyeruak secara tiba-tiba. Meski terlihat santai, Chanyeol masih mewaspadai sang ayah karena pria ini selalu melakukan hal yang tidak terduga.
"Berhentilah bermain-main."
Dan tentu saja Chanyeol hanya akan mengendikkan bahu dengan wajah pura-pura tidak tahu. "Aku sedang menikmati hidupku."
"Kau belum juga dewasa ternyata."
"Berhenti mengurusi hidupku."
Chanyeol kali ini menatap ayahnya dengan serius. Ia sudah cukup muak karena dipaksa bertemu secara mendadak, dan sekarang ayahnya masih saja berusaha mencampuri kehidupannya.
Tak ingin mengisi jeda dengan berlama-lama, sang ayah memancing kemarahan Chanyeol dengan senjata yang telah ia simpan sejak lama. "Aku tahu soal kau dengan si bocah Byun itu…"
Chanyeol spontan berdiri dengan wajah mengeras. Tangannya mengepal kuat dan sungguh terlihat bahwa ia sedang menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.
"Aku pergi."
Ia sama sekali tidak ingin mendengar komentar apapun dari ayahnya mengenai Baekhyun. Sungguh, orang ini tidak berhak atas hal itu. Memangnya apa yang dia tahu tentang kekasihnya?
"Dia hanya ingin uangmu, Chanyeol."
"Hahahaha… Astaga!" Chanyeol membuang tawanya di udara, tidak habis pikir. "Apa kita serius akan melakukan ini? Setelahnya apa? Kau akan menjodohkanku dengan anak dari temanmu?"
Drama klasik mengenai restu orangtua dan perjodohan adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini. Yang benar saja! Hal itu sudah lama sekali ditinggalkan oleh orang-orang modern.
"Jika kau hanya ingin bermain-main, silakan. Tapi ingat perkataanku, kau tidak akan menghabiskan sisa waktumu dengannya."
"Hah! Watch me!"
Chanyeol justru menantangnya. Karena peduli setan, yang menjalani hidup 'kan dirinya, bukan ayahnya.
Setelah berpikir bahwa ia tidak lagi tahan untuk berada di ruangan yang sama dengan ayahnya, Chanyeol pun bergegas untuk pulang. Meninggalkan ruangan sesak itu dengan sang ayah yang masih duduk diam di balik meja.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia masih sempat untuk memberi salam perpisahan untuk ayahnya tercinta.
"Ini peringatan. Jika kau berani menyentuh Baekhyun, maka kupastikan aku sendiri yang akan menghancurkanmu, Ayah. Ingat itu baik-baik."
.
.
.
Tbc
.
.
.
Ehhh.. I forgot what I was gonna say— nevermind. Thank u for always bein' here and see u in the next chapt.
((Salam hangat buat admin chanbaek base and kelen kelen mutual di twitter. Luv ya))
