"You love it"


Chanyeol bertolak ke rumahnya dalam keadaan geram. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk dan bercampur menjadi satu. Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Bagaimana jika Baekhyun sampai terlibat dalam perseteruan ia dan ayahnya? Semua skenario buruk terus-menerus menghantui sepanjang perjalanan.

"Sial."

Chanyeol mengumpat pelan. Setelah sampai di rumah, ia segera melompat turun dari dalam mobil. Berjalan melewati Sehun dan Jongin yang sedang mencuci mobil di depan rumah mereka.

"Cuci yang benar." Sempat ia dengar intsruksi Kris yang kini tengah bersandar di ambang pintu. Chanyeol langsung menghampirinya.

"Brother, kau sudah kembali. Kenapa lama sekali?" Tanya Kris.

"Aku bertemu ayah."

"Okay." Pernyataan Chanyeol cukup menjelaskan tentang kerutan di dahinya. Kris yang semula bersandar lantas dibuat berdiri. Pertanda bahwa topik yang dibawa Chanyeol sungguh menarik. Ditambah baku hantam mungkin lebih seru. Karena sesuatu yang berhubungan dengan 'ayah' selalu berakhir tak baik.

"Ada berita bagus?"

"Jika berita ayah dan ibu bercerai adalah berita bagus, maka jawabannya ya."

Kris terlihat tidak begitu terkejut. "Oh."

"Kau sudah tahu?"

Kakaknya mengendikkan bahu. "Yang kutahu, ibu sudah pindah ke apartemennnya di selatan kota. Aku belum mendengarnya dari mulut ayah atau ibu. Tapi ya sudahlah, itu urusan mereka."

Chanyeol memilih untuk melangkah masuk ke dalam rumah dengan Kris yang mengekor di belakang. Keadaan di sana sudah lumayan membaik, dengan sampah-sampah yang sudah dibersihkan. Rasanya kembali seperti rumah sebelum pesta semalam diadakan.

Sampai di dapur, Chanyeol kembali menyambung obrolan ia dan kakaknya.

"Ayah tahu soal Baekhyun."

Kris menarik sebuah kursi di samping meja makan, dan berkomentar. "Oh ya?"

"Dia tidak setuju."

"Dan sejak kapan kau mendengarkan ayah?"

Chanyeol diam. Memilih untuk berbalik ke lemari pendingin dan mengambil soda kalengan dari dalam sana.

"Ayah juga tahu tentang aku dan Suho. Dan apakah aku peduli? Tidak." Kris melanjutkan. Chanyeol tahu itu, tapi bukan persetujuan dari sang ayah yang ia permasalahkan. Melainkan imbas daripada ketidaksukaannya itu terhadap Baekhyun.

"Selama kau masih di perusahaan, ayah tidak akan mengganggumu." Ujar Chanyeol kemudian. "Tapi ayah bisa melakukan apapun kepadaku. Pada Baekhyun."

Chanyeol hanya merasa khawatir. Selama ini, ia memang telah menjalankan hidup semaunya dan sang ayah pun masih mentolerir. Tapi entah sampai kapan Park senior akan bersikap seperti itu? Yang Chanyeol takutkan hanyalah bagaimana berikutnya jika sang ayah mulai bertindak lebih jauh.

"Jangan terlalu dipikirkan." Kris memilih untuk tetap menyemangati adiknya. Karena rasa khawatir justru hanya akan memperburuk keadaan. "Sampai saat ini, dia hanya bilang bahwa dia tahu soal Baekhyun kan? Selama dia belum bertindak macam-macam, kita tidak perlu gegabah."

Satu hal yang mempererat hubungan Chanyeol dengan kakaknya adalah fakta bahwa mereka membenci ayah mereka sendiri. Keduanya memiliki agenda yang sama dan menganggap bahwa si tua tersebut adalah musuh terakhir dalam game yang harus dikalahkan. Mereka tidak pernah sejalan dengan ayahnya, apapun selalu saja bertentangan.

"Sebaiknya dia tidak ikut campur karena aku tidak akan segan-segan menghancurkannya jika ia menyentuh Baekhyun."

Kris mengangguk-angguk. "Aku tidak meragukan itu."

Sungguh tidak ada sesuatu hal lainpun di dunia ini yang lebih kuat daripada dua bersaudara yang membenci orang yang sama.

Mengakhiri percakapan, pria yang lebih tua kemudian berjalan menuju kulkas dan mencari-cari sesuatu di sana. "Kesampingkan dulu soal ayah, di mana yoghurt-ku?"

Topik pembicaraan beralih dengan cepat. Dari yang sangat penting, menjadi amat sangat tidak penting.

"Bukan aku." Chanyeol buru-buru menjawab karena tidak ingin disalahkan. Lagipula memang bukan dia pelakunya.

Begitu apa yang dicarinya tidak kunjung ditemukan, Kris segera berlari keluar untuk menjumpai dua bocah yang mungkin tahu sesuatu. Mereka sudah pasti terlibat dalam kasus menghilangnya yoghurt rasa anggur kesukaannya.

"SIAPA DIANTARA KALIAN YANG MEMINUM YOGHURT-KU?"

Tak ingin ketinggalan pertunjukkan, Chanyeol mengikutinya dan berhenti di depan pintu. Melihat Jongin dan Sehun yang (hari ini) selalu disalahkan dalam segala hal, menjadi hiburan tersendiri baginya.

"Bukan kami." Sehun menggeleng pasti. Di sampingnya, Jongin terlihat mengingat-ngingat siapa yang menyerbu isi kulkas semalam.

"Ahh… itu Jongdae." Ujarnya kemudian.

"Kalian tidak berbohong?"

Chanyeol menyahut di belakang Kris. "Mereka tidak akan berani berbohong padamu, Kris."

Tanpa ragu, Kris menarik ponsel dari sakunya. Menelepon si anak bengal yang pastinya masih berada di sekolah siang ini. Dan begitu diangkat, ia tak membuang waktu untuk mengatakan:

"I'll kill you, motherfucker."

(Mari berdo'a untuk Kim Jongdae yang dalam satu hari ini telah mendapat dua ancaman pembunuhan)

Begitu menyelesaikan panggilan, Kris kembali beralih pada dua pemuda yang kini sedang duduk-duduk di teras rumah. "Hey, aku tidak menggaji kalian untuk bersantai-santai!"

Jongin –sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil- menatap Kris dengan wajah memelas. "Ta-tapi kau tidak menggaji kami sama sekali."

"Lagipula mobilnya sudah bersih." Sehun menambahkan.

Kris melihat-lihat mobilnya dengan seksama, kemudian mengangguk-angguk. Setelah dirasa puas, tak lama kemudian ia pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar uang dari sana. Membuat dua pemuda di depannya tersenyum gembira. Mungkin itu merupakan upah yang hendak diberikan dari si Park sulung.

"Asyik—"

"Pergi ke minimarket, belikan aku yoghurt." Ujar Kris.

Sehun dan Jongin sontak memasang wajah sepat. Sambil melirik satu sama lain, mereka saling siku dan berkata "Kau saja!"

"Kenapa tidak kau saja?"

"DUA-DUANYA!"

Jongin menghela napas. Ia pun bangkit dan menarik selembar uang yang diberikan Kris. Dalam hati ia berdo'a semoga Kris mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan tercelanya yang telah menjajah warga sipil dengan sewenang-wenang.

Sambil mendengus, pemuda Kim itu kembali berujar. "Aku ganti baju dulu."

"Tidak usah. Seperti itu saja."

"Tapi bajuku basah, hyung." Jongin menunjuk kaus yang ia kenakan. Basah di sana-sini karena ia baru saja memandikan BMW kesayangan hyungnim kurang ajarnya itu.

"Tidak apa-apa. Kalian hanya akan ke minimarket, bukan pergi konser."

"Kalau mantanku melihat bagaimana?"

"Siapa peduli? Itu 'kan mantanmu, bukan mantanku."

Kedua anak itu hanya menghela napas. Percuma berdebat dengan Kris Park, hanya akan berakhir menguras emosi saja. Daripada semakin panjang, lebih baik segera dilakukan.

"Kalian boleh ambil kembaliannya." Ujar Kris, mencoba bermurah hati.

Sehun mendesah dengan sedihnya. "Hyung, ini uang pas."

Chanyeol yang dari tadi memperhatikan sambil tertawa kecil, lantas menghampir dua pemuda malang tersebut. Kasihan juga dengan nasib mereka hari ini. Jadi ia pun memutuskan untuk beramal guna menambah daftar panjang catatan perbuatan baiknya di dunia.

"Sudah sudah, jangan menangis. Ini, kuberi uang jajan."

Jongin dan Sehun kembali berwajah sumringah. Mereka melewati Kris dan segera menyambar uang pemberian Chanyeol. Masing-masing mendapat dua lembar.

"Bilang apa?"

"Terimakasih Chanyeol hyung yang tampan."

"Bagus bagus." Chanyeol mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar.

Kris menghalau mereka dari belakang. "Heh! Jadi aku tidak tampan?"

"Tidak, kau biasa saja."

"Wah wah, lihat siapa yang ingin kepalanya menghilang..."

"AMPUNI KAMI PADUKA!"

.

.

.

Siang itu, Chanyeol masih setia berbaring di sofa dengan nyaman. Sementara di sisi yang lain, sang kakak tengah asyik memaku pandangannya pada layar televisi. Mereka berdua bertahan dalam posisi tersebut sejak setengah jam yang lalu. Chanyeol sendiri tidak terlalu fokus dengan tontonan, dan memilih untuk saling bertukar pesan dengan Baekhyun yang masih sibuk dengan kelasnya.

Sampai ketika Chanyeol meletakkan ponselnya di meja, barulah Kris membuka suara.

"Kupikir mereka membeli yoghurt ke Korea Utara." Ujar yang lebih tua, masih dengan mata yang tertuju pada tontonan.

"Siapa?"

"SJ."

"Yang bertanya."

Kris meliriknya dengan tatapan tajam nan menghakimi. "Kupikir candaan itu sudah ditinggalkan oleh anak-anak milenial."

Chanyeol mengekeh renyah. Kali ini ia memilih duduk dan mengambil beberapa camilan di meja. "Jangan panggil mereka SJ. Memangnya Super Junior."

Bicara soal Sehun dan Jongin, mereka berdua belum kunjung pulang sejak tugas membeli yoghurt diturunkan. Entah pergi kemana dua anak tersebut, Chanyeol tak mau tahu.

Sambil mengunyah keripik kentangnya, Chanyeol kembali membuka topik yang baru.

"Aku bosan. Ayo berkelahi."

Kris membuang napas dan menatap sang adik dengan sinis. "Otakmu sudah bergeser ke lutut rupanya. Jangan ganggu aku!"

"Ck, di sini sangat membosankan. Ayo kita pergi."

Alih-alih langsung menjawab, Kris justru melempar dompetnya ke wajah sang adik.

"Here's all my money. Go away."

Chanyeol tak membuang kesempatan itu untuk mengambil beberapa lembar uang di dalamnya. "I hate you so much."

"Congratulation because you're NOT the only one."

Chanyeol berdecak kian sebal. Kris jika telah ditawan oleh drama series memang akan sangat sulit untuk diajak bersenang-senang. Sambil mengumpat pelan-pelan, ia pun kembali melempar dompet sang kakak yang telah ia gondol isinya.

Tak lama setelah itu, Suho keluar dari kamarnya setelah sekian lama beristirahat. Tanpa menghiraukan rambutnya yang acak-acakan, ia berjalan ke ruangan tengah dimana Park bersaudara tengah bermalas-malasan kala itu.

"Hoaaaaeeemmm…" Si pemilik rumah meregangkan kedua tangannya tepat di depan televisi.

"Good morning." Kris menyapanya lebih dulu, masih dengan mata tertuju pada layar tv.

"Ini sudah siang!" Suho melotot kesal.

"Baiklah, sekarang duduk di sini denganku." Kris menepuk ruang kosong di sampingnya. Suho tidak menolak. Ia pun duduk di samping Kris seraya menyandarkan kepalanya di pundak pria tersebut.

Chanyeol mendecih, lalu kembali berfokus pada ponselnya. Mengirim beberapa pesan pada Baekhyun dan mengatakan bahwa ia sangat bosan di rumah. Semuanya berjalan baik-baik saja sampai tiba-tiba sebuah bunyi kecipak yang cukup nyaring terdengar. Bukan dari adegan di tv, melainkan langsung dilakukan oleh sepasang kekasih yang tengah asyik berduaan di sofa yang lain.

"Permisi, aku masih ada di sini!" Ujar Chanyeol dengan nada tersinggung.

Hanya Suho yang peduli untuk melepaskan ciuman dan menoleh pada Chanyeol untuk menjawab, "I'm aware."

"I hate it here." Chanyeol melipat kedua tangannya, berikut memasang wajah tidak terima. Andai saja Baekhyun ada di sini sekarang, mungkin ia tak harus iri dan tak hanya akan menjadi penonton dari adegan panas dua orang dewasa ini. Akh! Chanyeol kian sebal. Sekarang ia bahkan menjadi lebih bosan dan rindu dengan Baekhyun-nya.

"Ambilkan aku air. Aku haus." Suho tiba-tiba merengek pada Kris.

Si tinggi berambut pirang spontan melirik pada adiknya. "Kau dengar itu? Ambilkan air."

"Dia menyuruhmu, bajingan."

"Kris…"

"Baiklah." Kris mengangkat tubuhnya dan berdiri. "Selain budak korporat, rupanya akupun diperbudak istriku sendiri." Ia bermonolog seraya berjalan cepat menuju dapur.

Melihat Chanyeol yang asyik berbaring di sofa membuat Suho tergerak untuk mengusiknya. Satu kakinya sengaja ia julurkan ke depan wajah si jangkung.

"Hey, pemalas! Kau tidak ada kegiatan hari ini?"

Chanyeol menatapnya dengan tidak terima. "Tentu saja ada. Jadwalku hari ini adalah mengantar jemput Baekhyun. Aku sangat sibuk."

"Skripsimu bagaimana?"

"Alright. Next question."

Yang lebih tua mendecih. Susah sekali mengajak bicara Chanyeol jika itu mengenai kuliahnya. "Teruslah seperti itu sampai kau lulus bersamaan dengan Jongin dan Sehun."

Chanyeol mengabaikan itu. Terlebih karena atensinya tiba-tiba beralih pada ponsel yang menunjukkan sebuah notifikasi. Terdapat pesan masuk namun sayangnya itu bukan dari Baekhyun. Melainkan ibunya.

"Great. Fucking great." Ia bergumam.

Bagus sekali. Setelah bertemu dengan sang ayah, sekarang ia pun harus berurusan dengan ibunya. Ya ampun, kenapa orang-orang ini senang sekali menambah beban hidupnya? Tidak bisakah ia hidup tenang bahkan sehari?

"Kau dapat pesan dari ibu?"

Kris yang baru bertolak dari dapur bertanya sembari mengulurkan gelas air yang ia bawa untuk Suho. "Ini, yeobo."

"Thanks." Suho menerimanya dengan senang hati.

"Ya." Chanyeol menjawab singkat pertanyaan dari kakaknya. "Kau juga?"

Kris mengangguk sambil memperlihatkan layar ponselnya.

"Kenapa dia seperti sedang menyebar undian berhadiah." Chanyeol mendengus. "Jangan-jangan kau juga dapat, hyung?" ia bertanya pada Suho yang tengah bersantai.

"Yang benar saja. Aku bukan anaknya."

"Tapi kau adalah calon menantunya." Goda Kris.

"Dalam mimpimu."

"Dia meminta kita pergi ke butiknya?" Tanya Chanyeol tak yakin. "Sekarang?"

"Berbaik hatilah padanya. Mungkin beliau sedang patah hati." Ujar Kris.

"Aku tidak percaya kau mengatakannya tapi—wow!"

Kris memutar bola matanya. Heran juga seberapa jauh orang-orang berpikir bahwa dirinya tidak memiliki nurani. Tak ingin membuang waktu, maka ia lantas beralih pada Suho untuk berpamitan. "Yeobo, aku akan pergi keluar sebentar."

"Lama pun tidak apa-apa."

"Haruskah aku ikut?" Chanyeol mendongak pada kakaknya yang telah bersiap-siap.

"Tadi kau bilang bosan dan ingin pergi. Sekaranglah saatnya."

"Tapi menghibur orang patah hati bukan keahlianku."

"Kau pikir itu keahlianku?" Kris memberinya tatapan memicing. "Jangan banyak bicara. Ayo berangkat."

Chanyeol hanya menghela napas. Membuat dirinya bangkit dari sofa empuk yang ia diami selama tiga puluh menit terakhir. Menyebalkan. Sebaiknya ada hal yang benar-benar penting untuk dibahas karena bukan hal yang mudah untuk bangkit dari sofa ini.

"Pakai mobilmu, ya." ujar Kris.

"Kenapa tidak pakai mobilmu saja?"

"Jangan gila. Mobilku baru saja dicuci."

Sambil berdecak sebal, Chanyeol melempar kunci mobilnya pada Kris.

"Kau yang bawa!"

.

.

.

Tidak banyak yang diperbincangkan oleh Nyonya Park ketika dua putra kesayangannya bertandang ke butiknya. Selain mengungkapkan betapa ia sangat merindukan dua jagoannya (hell, beliau betul-betul mengatakan itu—jagoan), juga mengatakan perihal ia dan suaminya yang tak lagi tinggal di rumah yang sama. Lantas untuk proses perceraian, sepertinya itu akan sulit terwujud sebab kakek buyut Chanyeol amat sangat menentangnya. Belum lagi, mereka perlu memikirkan ulang tentang banyaknya aset yang harus dibagi rata. Keduanya masih sama-sama tak ingin banyak kehilangan, banyak berkorban.

Chanyeol sendiri tidak kaget. Tipikal orangtuanya sekali memang. Tapi satu hal yang Chanyeol perhatikan dengan detail adalah bagaimana sang ibu memiliki perubahan di beberapa sisi. Selain fakta bahwa wanita itu terlihat lebih rileks, ia pun tak terlalu banyak menuntut seperti sebelumnya. Bahkan pembicaraan tengan pendidikan Chanyeol pun nyaris tidak tersentuh.

Si jangkung tak ingin terlalu dini menarik kesimpulan. Namun sedikitnya ia pun menaruh harap. Bahwa sang ibu yang selama ini bersekutu dengan ayahnya, akan berbalik memihak Chanyeol melihat keadaan yang sudah tak lagi sama. Yang mana artinya itu merupakan kabar baik tentunya.

"Sering-seringlah datang kemari." Ujar sang ibu.

Setelah sekian lama mengobrol, kedua kakak beradik itu pamit. Berkata bahwa mereka masih banyak urusan penting meski itu hanyalah bualan semata yang mana sang ibu pun tahu.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah punya pacar?" Tanya sang ibu pada Chanyeol. Mereka tengah berdiri di depan pintu ruangan ketika pertanyaan itu dilontarkan.

"Sudah." Kata Chanyeol mantap. Tak berniat untuk menutup-nutupi kekasihnya dari siapapun. "Dia laki-laki."

Normalnya, Nyonya Park akan menyindir tajam dengan pilihan tersebut. Mengingat betapa ia juga cukup menentang hubungan Kris dan Suho di masa-masa lalu. Namun sekarang, wanita itu hanya mendesah dengan bahu terangkat.

"Yah, sepertinya aku memang harus menyerah untuk memiliki menantu perempuan."

Chanyeol meninggikan alisnya. "Apa ini sebuah lampu hijau?"

Wanita tersebut terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya menepuk pundak kedua putranya bersamaan. Ketika itu, Chanyeol seperti baru pertama kali melihat senyuman sang ibu, setelah sekian lama.

"Do whatever you want. You guys deserve it."

Ucapan itu berarti banyak sekali.

"Thanks, Mom." Kris berkata sembari mengecup pipi sang ibu.

"Kami pamit."

Mereka berdua lalu berjalan menjauh. Meninggalkan wanita paruh baya yang barangkali, telah banyak berubah seiring berjalannya waktu.

"Biar aku yang bawa." Putus Chanyeol, mengambil alih kemudi.

Mobil yang Chanyeol kendarai membelah jalanan di waktu sore menjelang malam. Dalam pikirannya, pria itu berdialog. Tentang betapa lucunya apa yang ia alami hari ini. Bertemu dengan kedua orangtuanya di waktu yang berbeda, dan mendapat impact yang saling bertolak belakang. Jika dengan ayahnya ia murka, maka ketika bertemu dengan sang ibu, ia merasa lebih damai.

"Supir Park, ini bukan jalan menuju rumah."

Suara berat Kris membuyarkan lamunanya. Ia hanya mendelik pada kakaknya tersebut dengan jengkel. Mengganggu saja.

"Aku harus menjemput Baekhyun lebih dulu."

Tak lama mobil itu berhenti. Tepat di mana Chanyeol mengantar Baekhyun siang tadi. Chanyeol menurunkan kaca mobilnya guna memerhatikan mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang untuk pulang.

"Untuk seukuran pacar, kau cukup posesif." Kris berkomentar.

"Katakan itu pada seseorang yang selalu menjemput paksa pacarnya dari kantor." Kata Chanyeol, masih dengan mata yang memperhatikan sekitar.

"Pastinya bukan aku." Kris menggeser posisi duduknya yang kurang nyaman. "Pernahkan kau berpikir untuk menjadi seorang Uber driver?"

"Lebih baik kau tutup mulutmu dan pindah ke belakang." Titah Chanyeol ketika matanya menangkap sosok Baekhyun yang tengah berjalan bersama rekannya.

"Astaga, aku tidak percaya ini. Kau tega menggantikan posisiku dengan Baekhyun?" ujar Kris dengan nada se-dramatis mungkin.

Chanyeol memberinya tatapan jahat. "Ya. Kau ada masalah dengan itu?"

"So rude." Kris menggelengkan kepalanya. Tangannya pun bergerak untuk membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Sebelum akhirnya ia kembali masuk, dengan sedikit mengomel yang mana Chanyeol sama sekali tidak ingin peduli apa itu.

"Sudah lama menunggu?" Baekhyun bertanya melalui kaca mobil di sebelah Chanyeol. Kyungsoo berdiri di sampingnya, menyapa Chanyeol dengan mengangkat dagunya singkat.

"Tidak. Aku baru saja datang." Jawab Chanyeol. "Kau ada tumpangan?" ia beralih bertanya pada Kyungsoo.

"Supirku akan menjemput sebentar lagi." Dan tentu saja, setelahnya sebuah mobil berhenti tepat di posisi itu, berdampingan dengan mobil Chanyeol. Kaca mobil diturunkan, lalu nampaklah wajah seorang perempuan dengan rambut blonde yang tak lagi asing bagi mereka.

"Cepat masuk sialan." Perempuan itu Rose, berteriak pada Kyungsoo yang masih asyik berdiri.

"Dia sudah datang." Pemuda itu menepuk pundak Baekhyun. "Aku pulang dulu."

"Hati-hati." Seru Baekhyun pada kedua rekannya yang telah berada di dalam mobil.

"Kau yang hati-hati!" teriak Rose.

Baekhyun hanya tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Selepas kedua rekannya pergi, ia pun masuk ke dalam mobil. "Hari ini cukup melelahkan." Keluhnya.

"Katakan itu padaku."

"JESUS CHRIST!" Baekhyun terkejut ketika mendengar suara yang berasal dari arah belakang tersebut. Saat mendapati bahwa ada sosok yang lain di sana, ia pun memarahinya. "KAU MENGAGETKANKU!"

Ia menatap aneh pada Kris yang tengah duduk santai di kursi belakang. Baekhyun betul-betul baru menyadari bahwa pria itu ternyata telah berada di sana sejak tadi.

"Am I really that scary?" Tanya Kris.

Chanyeol yang mulai menyalakan mesin pun menyahut. "Really, Chris? Is that even a question?"

"It's Ke-ri-seu."

Baekhyun hanya terkikik di tempatnya. Karena tentu saja, Kris dan seram adalah perpaduan kata yang cocok.

"Ngomong-ngomong, kalian habis dari mana?" Tanya Baekhyun pada keduanya. Karena tidak mungkin Kris secara sukarela ikut menjemputnya, lelaki itu masih punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan. Bermesraan dengan Suho misalnya.

"Kami baru saja menemui ibu." Jawab Chanyeol. Tangannya bergerak guna memutar musik untuk mengiringi perjalanan mereka. Dan pilihannya berakhir di lagu Night Changes, yang mengalun dengan rendah menemani obrolan.

"Oh?" Baekhyun kelihatannya cukup terkejut. Ini tidak biasa. "Apa terjadi sesuatu?"

"Dia hanya merindukanku." Kris mencuri jawaban.

"Merindukan kita." Chanyeol mengoreksinya dengan sebal.

"Itu bagus." Baekhyun memberikan komentar jujurnya. Mengingat selama ini, Chanyeol sama sekali tidak pernah menceritakan perihal orangtuanya dengan nada tanpa amarah. Tapi sekarang, rasanya berbeda. Ia hanya bisa menebak mungkin hal baik sedang terjadi.

"Ibuku juga memberitahu bahwa dia sudah tidak tinggal lagi dengan ayahku." Chanyeol melanjutkan. Membuat si manis yang duduk di sebelahnya menatap khawatir. Oh, bukan hal baik ternyata.

"That's… awful."

"Hanya pisah ranjang. Secara hukum, mereka masih sepasang suami istri." Chanyeol menerangkan. "Di luar dugaan, ibuku cukup baik dalam menyikapinya."

"Tetap saja, itu bukan hal yang bisa dilewati dengan mudah."

"Agree." Chanyeol mengangguk setuju. "Sisi baiknya, ia terlihat lebih baik sekarang. Aku tidak tahu entah apa itu, tapi kurasa ia mengambil banyak pelajaran dari peristiwa tersebut."

Baekhyun tersenyum dan menganguk-angguk. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa bangga yang ia rasakan untuk Chanyeol. Tentang bagaimana pria itu bisa berpikiran cukup positif.

"Kau sudah melakukan hal yang baik dengan menemuinya." Puji Baekhyun.

Chanyeol melirik kekasihnya sesaat. Kala itu ia hanya mampu melempar senyum, padahal ingin sekali hatinya mencium. Baekhyun yang marah memanglah hot, tapi Baekhyun yang memujinya dengan senyuman tulus, kelihatan tidak buruk. Ah, justru mungkin kebalikan dari hot itu sendiri, karena saat ia melihat Baekhyun sekarang, hatinya terasa sejuk bukan main.

"Thanks, babe."

.

.

.

"Perlu kuberitahu padamu Oh Sehun! Nanas tidak seharusnya menjadi topping pizza!"

Sebuah teriakan terdengar hingga ke depan pintu masuk rumah. Baekhyun, diikuti Chanyeol dan Kris yang baru saja sampai, tiba-tiba diliputi rasa heran. Mereka lantas memutuskan untuk masuk hingga akhirnya mendapati pemandangan yang sebenarnya cukup biasa di rumah itu. Jongin yang berdiri sambil menunjuk-nunjuk hidung Sehun, Sehun yang berkacak pinggang, dan Suho yang duduk di sofa sambil mengurut kening dengan wajah seakan-akan tengah berpikir bahwa mungkin sesekali ia perlu melarikan diri dari rumah ini.

"Apa yang kulewatkan?"

Chanyeol muncul di tengah keributan tersebut. Tidak bermaksud untuk melerai, lebih tepatnya hanya ingin tahu duduk perkara konyol apa lagi yang diperdebatkan dua bocah yang paling muda tersebut.

"Mereka patungan untuk membeli pizza." Suho secara sukarela memberi ringkasan cerita. "Yang satu ingin hawaiian, satunya lagi ingin pepperoni."

"Kenapa tidak memesan dua-duanya saja?" Kali ini Baekhyun yang bertanya.

"Bold of you to assume they have enough money for that." Ujar Suho.

"Hey hey hey…" Kris tahu-tahu sudah berdiri di tengah kedua bocah yang masih sibuk berselisih. "Di mana yoghurt-ku?"

Tentu saja. Tentu saja ia hanya peduli akan apa yang menjadi prioritasnya.

Jongin, sambil melipat kedua tangan di dada, menjawab singkat. "Sudah di kulkas."

"Bagus." Kris menepuk pundak keduanya dengan bangga. "Silakan lanjutkan."

Pria itu memilih untuk berjalan ke dapur. Meninggalkan perdebatan yang belum usai, serta diiringi tatapan keheranan dari Baekhyun dan Suho.

"Ah, menonton perdebatan ini membuatku lapar. Aku akan pesan jajangmyeon. Babe, kau mau?"

"Pesankan aku satu." Baekhyun yang belum makan malam, mengangguk atas pertanyaan Chanyeol. "Bagaimana denganmu, hyung?" pemuda itu beralih pada Suho.

"Aku sudah makan."

"Woah, kau memasak?" Tanya Chanyeol.

"Apa-apaan wajah kagetmu itu?" Suho merasa tersinggung. "Memasak ramyun tidak akan membuat dapurku meledak."

"Entahlah. Kadang-kadang tanganmu terlihat seperti bom."

"Bicara sekali lagi kutendang selangkanganmu!"

"Jangan!" Chanyeol segera menutupi area selangkangannya. "Ini milik Baekhyun."

Baekhyun yang melihat itu hanya menatap seakan ingin muntah. "Menjijikan."

"No, babe. You love it." Chanyeol meninggikan alisnya. "You looooove it."

Baekhyun tidak ingin menyangkal itu karena—tentu saja!

Tapi orang lain tidak perlu tahu.

"Hyung, beritahu aku kalau situasinya sudah sangat parah." Baekhyun berkata pada Suho, sambil menunjuk dua pemuda yang masih berselisih. Yang lebih tua hanya membalasnya dengan anggukan. Sejauh ini belum ada adegan baku hantam, jadi situasi masih bisa dikatakan agak kondusif.

"I'm going to take a shower." Lanjutnya.

"Cool. Can I join?" Chanyeol mengangkat tangannya.

Baekhyun seketika melotot dan Chanyeol secara otomatis tahu artinya apa.

"No."

Pemuda yang lebih muda itupun beranjak dari ruang tengah guna menaiki tangga menuju kamarnya. Mata Chanyeol masih dengan sabar mengikuti diikuti ekspresi penuh harap. Baekhyun yang menyadarinya hanya menghela napas dan berteriak dari tangga. Oh ayolah!

Dia sialan benar-benar…

"Cepat kemari sebelum aku berubah pikiran!"

Bodoh jika Chanyeol membuang kesempatan tersebut begitu saja. Maka ia pun melompat, meninggalkan Suho yang masih sibuk mengawasi perseteruan Sehun dan Jongin.

"I'm coming, darling!"

.

.

.

Tbc

.

.

.

First of all, Happy Chanbaek Day everyone! Lama banget gak main kesini sampe berdebu :')

Gak banyak yg mau saya sampaikan, intinya makasih buat yg masih setia baca, versi asli atau versi SNS yang ada di twitter. Pokoknya sayang kalian banyak banyak. Dan oh iya, saya juga update ff ini di wattpad, bisa langsung cek akun Vinsmoke_ (tapi yah, isinya tetep sama sih)

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.